• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I Pendahuluan

1.5 Definisi Konsep

1.5.1 Partisipasi Masyarakat Desa

Partisipasi masyarakat adalah proses ketika mereka yang berada dalam desa, sebagai individu maupun kelompok sosial dan organisasi, mengambil peran dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan kebijakan-kebijakan yang langsung mempengaruhi kehidupan mereka. Undang-Undang 1945 No.22 pasal 1 ayat 2 dijelaskan pula bahwa partisipasi masyarakat merupakan bagian inherent dalam setiap penyelenggaraan otonomi daerah. Pembangunan yang meliputi segala kehidupan akan berhasil apabila merupakan kegiatan yang melibatkan partisipasi dari seluruh warga masyarakat. Partisipasi masyarakat sebagai salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu pembangunan, di samping faktor-faktor lain seperti biaya stimulan dari pemerintah, informasi, lingkungan sosial, pendidikan, kondisi geografis dan kewenangan yang sah dari pemimpin formal dan non formal.

1.5.2 Musrenbangdes

Musrenbangdes adalah forum musyawarah tahunan desa (bersama dengan pihak yang berkepentingan untuk mengatasi permasalahan desa dan pihak yang akan terkena dampak hasil musyawarah) untuk menyepakati rencana kegiatan tahun anggaran berikutnya. Program pembangunan yang akan dicanangkan mengacu pada RPJMDes Kabupaten dan jumlah APBDes dimana salah satu sumber terbesar dari APBDes tersebut berasal dari bantuan keuangan Kabupaten yang biasa disebut Alokasi Dana Desa. Konsep musyawarah menunjukkan bahwa forum Musrenbangdes bersifat partisipatif dan dialogis. Istilah Musyawarah sebenarnya sudah jelas menggambarkan tentang forum yang di dalamnya ada

perumusan suatu rencana dan berakhir pada pengambilan keputusan secara mufakat bukan sebagai suatu acara seminar atau sosialisasi informasi.

1.5.3 Perencanaan Pembangunan

Menurut Permendagri No 114 tahun 2014 Perencanaan pembangunan desa adalah proses tahapan kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah Desa dengan melibatkan Badan Permusyawaratan Desa dan unsur masyarakat secara partisipatif guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya desa dalam rangka mencapai tujuan pembangunan desa. Perencanaan pembangunan dapat diartikan sebagai proses perumusan alternatif-alternatif yang berdasarkan data-data yang digunakan sebagai bahan untuk melaksanakan suatu kegiatan kemasyarakatan (Riyadi, 2005:7). Perencanaan pembangunan merupakan suatu pengarahan penggunaan sumber sumber pembangunan (termasuk sumber ekonomi) yang terbatas adanya, untuk mencapai tujuan-tujuan keadaan sosial ekonomi yang lebih baik secara lebih efektif dan efisien (Tjokrowinoto, 1981:14).

BAB II Kajian Pustaka

2.1 Tipologi Partisipasi

Banyak ahli memberikan definisi tentang partisipasi tersebut, dalam bahasa inggris participation merupakan proses ikut serta dalam pengambilanbagian. Slamet mengatakan bahwa partisipasi merupakan peran serta seseorang atau kelompok masyarakat secara aktif dalam proses perumusan kebutuhan, perencanaan dan sampai pada tahap pelaksanaan baik melalui pikiran atau secara fisik.

Partisipasi masyarakat menggambarkan bagaimana terjadinya pembagian ulang kekuasaan yang adil (redistribution of power) antara penyedia kegiatan dan kelompok penerima kegiatan. Partisipasi masyarakat tersebut bertingkat, sesuai dengan gradasi, derajat wewenang dan tanggung jawab yang dapat dilihat dalam proses pengambilan keputusan. Gradasi peserta dapat digambarkan dalam Tabel sebagai sebuah tangga dengan delapan tingkatan yang menunjukkan peningkatan partisipasi tersebut (Arnstein 1986 dalam Wicaksono 2010):

Sherry Arnstein adalah yang pertama kali mendefinisikan strategi partisipasi yang didasarkan pada distribusi kekuasaan antara masyarakat (komunitas) dengan badan pemerintah (agency). Dengan pernyataannya bahwa partisipasi masyarakat identik dengan kekuasaan masyarakat (citizen partisipation is citizen power), Arnstein menggunakan metafora tangga partisipasi dimana tiap anak tangga mewakili strategi partisipasi yang berbeda yang didasarkan pada distribusi kekuasaan.

Tabel 2.1

Tangga Partisipasi Menurut Arnstein (1969)

Sumber : Arnstein (1969:217) dalam Wicaksono (2010)

Tangga terbawah merepresentasikan kondisi tanpa partisipasi (non participation), meliputi yang pertama ialah manipulasi (manipulation) dan yang kedua terapi (therapy). Kemudian diikuti dengan tangga ketiga menginformasikan (informing), kemudian tangga keempat konsultasi (consultation), dan tangga kelima penentraman (placation), dimana ketiga tangga itu digambarkan sebagai

Tangga /Tingkat

Therapy (Terapi) Sekedar agar masyarakat tidak marah/sosiali sasi

tingkatan tokenisme (degree of tokenism). Tokenisme dapat diartikan sebagai kebijakan sekadarnya, berupa upaya superfisial (dangkal, pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan. Jadi sekadar menggugurkan kewajiban belaka dan bukannya usaha sungguh-sungguh untuk melibatkan masyarakat secara bermakna. Tangga selanjutnya adalah tangga keenam yaitu kemitraan (partnership), kemudian atangga ketujuh yaitu pendelegasian wewenang / kekuasaan (delegated power), dantangga yang terakhir adalah tangga kedelapan yaitu pengendalian masyarakat (citizen control). Tiga tangga terakhir ini menggambarkan keseimbangan kekuasaan yang oleh Arnstein dianggap sebagai bentuk sesungguhnya dari partisipasi masyarakat. Berikut Beberapa Pengertian mengenai tipologi dari tangga partisipasi menurut Arnstein :

1. Manipulasi (manipulation). Pada tangga partisipasi ini bisa diartikan relatif tidak ada komunikasi apalagi dialog; tujuan sebenarnya bukan untuk melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program tapi untuk mendidik atau ”menyembuhkan” partisipan (masyarakat tidak tahu sama sekali terhadap tujuan, tapi hadir dalam forum).

2. Terapi (therapy). Pada level ini telah ada komunikasi namun bersifat terbatas. Inisiatif datang dari pemerintah dan hanya satu arah.

Tangga ketiga, keempat dan kelima dikategorikan sebagai derajat tokenisme dimana peran serta masyarakat diberikan kesempatan untuk berpendapat dan didengar pendapatnya, tapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan. Peran serta pada jenjang ini

memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat.

3. Informasi (information). Pada jenjang ini komunikasi sudah mulai banyak terjadi tapi masih bersifat satu arah dan tidak ada sarana timbal balik.

Informasi telah diberikan kepada masyarakat tetapi masyarakat tidak diberikan kesempatan melakukan tangapan balik (feed back).

4. Konsultasi (consultation). Pada tangga partisipasi ini komunikasi telah bersifat dua arah, tapi masih bersifat partisipasi yang ritual. Sudah ada penjaringan aspirasi, telah ada aturan pengajuan usulan, telah ada harapan bahwa aspirasi masyarakat akan didengarkan, tapi belum ada jaminan apakah aspirasi tersebut akan dilaksanakan ataupun perubahan akan terjadi.

5. Penentraman (placation). Pada level ini komunikasi telah berjalan baik dan sudah ada negosiasi antara masyarakat dan pemerintah. Masyarakat dipersilahkan untuk memberikan saran atau merencanakan usulan kegiatan. Namun pemerintah tetap menahan kewenangan untuk menilai kelayakan dan keberadaan usulan tersebut.

Tiga tangga berikutnya dikategorikan sebagai bentuk yang sesungguhnya dari partisipasi dimana masyarakat memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan.

6. Kemitraan (partnership). Pada tangga partisipasi ini, pemerintah dan masyarakat merupakan mitra sejajar. Kekuasaan telah diberikan dan telah ada negosiasi antara masyarakat dan pemegang kekuasaan, baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan, maupun monitoring dan evaluasi. Kepada

masyarakat yang selama ini tidak memiliki akses untuk proses pengambilan keputusan diberikan kesempatan untuk bernegosiasiai dan melakukan kesepakatan.

7. Pendelegasian kekuasaan (delegated power). Ini berarti bahwa pemerintah memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk mengurus sendiri beberapa kepentingannya, mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, sehingga masyarakat memiliki kekuasaan yang jelas dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keberhasilan program.

8. Pengendalian warga (citizen control). Dalam tangga partisipasi ini, masyarakat sepenuhnya mengelola berbagai kegiatan untuk kepentingannya sendiri, yang disepakati bersama, dan tanpa campur tangan pemerintah.

2.2 Musyawarah Rencana Pembangunan Desa (Musrenbangdes)

Musrenbangdes adalah forum multi-pihak terbuka yang secara bersama mengindentifikasi dan menentukan prioritas kebijakan tingkat pembangunan masyarakat desa. Kegiatan ini berfungsi sebagai proses negosiasi, rekonsiliasi, dan harmonisasi perbedaan antara pemerintah dan masyarakat desa, sekaligus mencapai konsensus bersama mengenai prioritas kegiatan pembangunan berikut anggarannya.

Permendagri 114 Tahun 2014 tentang Perencanaan Desa memuat definisi tentang Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa dalam ketentuan Pasal 1 angka 7 yang berbunyi: “Musrenbangdes adalah musyawarah antara Badan Permusyawaratan Desa, Pemerintah Desa, dan unsur masyarakat yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa untuk menetapkan prioritas, program,

kegiatan, dan kebutuhan Pembangunan Desa yang didanai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa, swadaya masyarakat Desa, dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota”.

Dari definisinya Musrenbangdes memilik pokok pikiran yang diurai.

Forum musyawarah, merupakan forum diskusi dengan mekanisme pelaksanannya dilakukan secara terbuka untuk bersepakat dengan bulat serta mufakat menetukan sesuatu pilihan yang ditetapkan dan dilaksanakan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Selain itu, kalimat partisipatif yang menjadi salah satu cara untuk mendapatkan kebulatan keputusan yang dimana dilibatkan seluruh masyarakat dan stakeholder penyelenggaraan pemerintahan desa sehingga dapat lebih manghayati dan responsif terhadap kebutuhan dan perkembangan yang terjadi di desa, Hasil Musrenbangdes ini dimuat dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa). Musrenbangdes sebagai salah satu tugas dan kewengan desa selaku unit otonom, merupakan proses yang penting bagi desa untuk membangun desanya sendiri. Musrenbangdes jangan sampai dipersempit artinya menjadi kegiatan rutin hanya untuk mengisi formulir daftar usulan kegiatan yang akan dibawa ke musrenbang kecamatan. Musrenbangdes yang diharapkan adalah sebagai sebuah forum publik yang benar-benar menjadi bagian dari berjalanya otonomi desa

Musrenbangdes diperuntukkan kepada masyarakat supaya bisa memberi ruang untuk berpatispasi, yaitu menggunakan pndekatan Bawah-Atas.

Pemberdayaan masyarakat dan badan pemerintahan desa mengatur anggaran secara partisipatif pada level desa, sebagai media untuk masyarakat untuk memberitahu kebutuhan dan aspirasinya (Suwondo, 2000)

Musrenbngdes merupakan forum tahunan para pemangku kepentingan dalam rangka merencanakan pembangunan tahunan desa. Berikut beberapa tujuan Musrenbngdes yang harus diketahui yaitu :

1. Mengurutkan beberapa proposal penting yang dibuat oleh desa.

2. Menentukan prioritas pendanaan bagi aktivitas masyarakat desa yang berasal dari pendanan lokal.

3. Menentukan prioritas desa yang akan kembali dibicarakan pada tingkat kecamatan.

2.3 Pembangunan Berpusat Pada Masyarakat

Di era post-industri harus menghadapi perbedaan yang sangat nyata dari era industri dimana di era post-industri harus memberikan potensi baru penting untuk meningkakan pertumbuhan kualitas manusia, keadilan, dan keberlanjutan bagi pembangunan berpusat pada rakyat. Tapi untuk merealisaikan tindakan pembangunan yang dibentuk era post-industri harus dipandu oleh paradigma baru, yang berlandaskan pada ide-ide, nilai-nilai, teknik sosial dan teknologi.

Ada beberapa alasan untuk mempercayai bahwa paradigma yang ada sekarang ini harus dari proses global yang berasal dari temuan sosial yang bersifat kolektif. Logika yang sangat terlihat dari paradigma ini yaitu keinginan untuk perwujudan ketentraman dan kesejahteraan bagi seluruh manusia. Selain itu adanya inisiatif serta tujuan dominannya yaitu untuk pertumbuhan kualitas manusia yang menegaskan bahwa potensi kamanusiaan terbaik semakin nyata.

Seperti yang dikatakan Gran (1983), paradigma ini menegaskan bahwa individu bukan hanya berperan sebagai subjek tetapi juga sebagai aktor yang menentukan

tujuan, pengendalian pada sumber kehidupan, dan secara langsung mempengaruhi kehidupan individu tersebut. Pembangunan Berpusat Pada Masyarakat meletakkan nilai penting pada inisiatif lokal dan keberagaman. Dengan demikian paradigma tersebut akan mendukung sistem pengembangan diri yang dikembangkan di sekeliling unit organisasi dan komunitas.

Secara teknis Pembangunan Berpusat Pada Masyarakat sudah jelas dan terbukti. Paradigma ini membentuk pengembangan diri yang menyoroti dari peran individu dalam proses pengambilan keputusan dan meletakkan nilai-nilai kemanusiaan untuk dipakai dalam proses pengambilan keputusan. Paradigma ini dibangun berdasarkan pembelajaran terhadap konsep-konsep dan metode sosial yang ada serta kerangka kerja dari ekologi manusia untuk menganalisis pilihan kebijakan.

Untuk mencapai tujuan dari Pembangunan Berpusat Pada Masyarakat harus meletakkan hal-hal yang penting dari desentralisasi pada proses pengambilan keputusan. Berdasarkan gaya dan metode dari pengambilan keputusan harus juga berubah, contohnya yaitu ketika para ahli mendominasi maka akan terbentuk kesepakatan berpihak yang tidak berdampak pada kepentingan masyarakat.

Pengambilan keputusan harus benar-benar dikembalikan pada rakyat, dimana rakyat memiliki kapasitas dan hak untuk masuk pada proses mewujudkan kebutuhan dirinya sendiri.

2.4 Ketidakberdayaan Dalam Perspektif Sosiologis

Gaventa (1980) meneliti bagaimana kepasifan dalam proses mufakat yang semu dan menganalisis mengapa terjadi penghalangan untuk ikut serta dalam

konsensus. Gaventa berusaha memahami kenapa dalam kondisi yang sulit tekanan dan diskriminasi memunculkan perlawanan kepada peraturan yang dibuat oleh para elit sosial. Gaventa menemukan bahwa para elit sosial tersebut menggunakan kekuasaan untuk mencegah rintangan di daerah kekuasaanya, dan juga sebagai cara untuk menciptakan kondisi sosial yang pasif. Dengan kata lain situasi nyata dari hilangnya konflik sosial diidentifikasi sebagai tanda dan konsekuensi dari penggunaan mekanisme kekuasaan secara sadar.

Tujuan dari kekuasaan ialah untuk mencegah kelompok sosial lain untuk ikut serta pada proses pengambilan keputusan. Dan juga untuk mendapatkan mufakat yang pasif. Hal tersebut adalah bukanlah mencerminkan dari ketidakinginan untuk ikut serta tetapi itu merupakan sebuah kepasrahan dari sebuah kondisi. Sebab jika tindakan untuk merespon kekuasaan itu terjadi maka dianggap sebagai sebuah pelanggaran dan dikategorikan sebagai tindakan pemberontakan. Walaupun hanya sekedar permintaan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Atau bentuk dari tanggapan lainnya seperti ketidaksetujuan . Gaventa mendasarkan model pemahaman “Quisence And Rebelion” pada 3 dimensi dari kekuasaan. Hal ini akan menjadi sebuah kesempatan untuk memperdalam keterpaksaan pada dimensi tersebut. Dan untuk memahami bagaimana dimensi tersebut menghubungkan yang berkuasa dan tidak punya kuasa.

Kekuasaan sering sekali dilabelkan sebagai cara institusi ataupun perorangan untuk mendominasi atau mengontrol orang lain (Pantaziou, 2012).

Sebagai alternatif dari label tersebut, ada beberapa analisis ekspresi positif kekuasaan sebagai langkah positif yang membagi kekuasaan dalam 3 bentuk yaitu

1. Power To berarti bisa untuk bertindak secara individual . Ini bisa dimulai dengan kesadaran yang memungkinkan untuk bertindak dan mampu berkembang pada proses untuk mengambil sebuah tindakan, mengembangkan kemampuan dan kapasitas serta menyadari berdampak pada perubahan.

2. Power with berarti menerangkan tindakan kolektif atau agen dan termasuk kekuasaan politik dan psikologi supaya bisa bersatu untuk bersma-sama bertindak. Power With sering digunakan untuk mengambarkan bahwa kekuasaan bisa dipakai pada situasi sembunyi-sembunyi, terbuka dengan cara berbaur dengan yang lain, membangun toleransi dalam mengambil tindakan kolektif

3. Power Within ekspresi kekuasaan ini bersumber dari psikis seseorang, ekspresinya berupa pemahaman pada diri untuk menyadari kapasitas dirinya untuk bekerja bertindak dengan kemampuan sendiri dan bekerja sama secara kolektif.

4. Dan Powe Over,, merupakan bentuk kekuasaan yang sangat kental dimana orang ataupun institusi dengan sangat nyata mendominasi segala sesuatu bidang yang bisa dikerjakan oleh orang lain, tidak hanya itu kekuasaan itu juga mempengaruhi bagaimana cara berfikir seseorang.

Ruang, Tempat dan Bentuk Dinamika Kekuasaan

Ada banyak pendekatan untuk menganalisis dan memahami kekuasaan sama dengan banyaknya perdebatan dari makna kekuasaan. Banyak sekali pendekatan yang bisa digunakan untuk menjelaskan kekuasaan tersebut. Di sini,penulis fokus pada satu

pendekatan yang dikenal sebagai “powercube”. Pendekatan ini telah dikembangkan beberapa tahun terakhir melalui kerja oleh anggota tim peneliti Power, Participation dan Social Change (PPSC) beserta kolega lainnya. Powercube adalah kerangka kerja untuk menganalisis tingkat, ruang dan bentuk dari kekuasaan, dan keterkaitan anatara ketiga hal tersebut. Powercube sangat berguna untuk membantu kita mengerti berbagai aspek kekuasaan dan bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain. Sehingga memungkinkan kita memetakan segala sesuatu yang ada di dalam diri kita, aktor-aktor lain, hubungan dan kekuatan, serta dengan powercube kita bisa melihat kemungkinan untuk pergerakan, mobilisasi dan perubahan. Selain itupowercube memungkinkan orang untuk merencanakan advokasi dan menemukan titik masuk untuk bertindak.

Gambar 1 Power Cube

Untuk dimensi bentuk menjelaskan tentang cara-cara kekuasaan memanifestasikan dirinya, termasuk bentuknya yang terlihat, tersembunyi, dan tak terlihat. Kemudian Dimensi ruang dari powercube menjelaskan arena potensial untuk melakukan partisipasi dan aksi dalam pengambilan keputusan, diantaranya disebut sebagai ruang tertutup, diundang, dan diklaim. Sedangkan Dimensi level dari powercube menjelaskan tentang berbagai lapisan pengambilan keputusan yang melibatkan otoritas yang ada pada skala vertikal, yaitu lokal, nasional dan global.

Powercube juga dapat digunakan untuk mempelajari lebih lanjut lebih lanjut 'ekspresi kekuasaan': power over, power to , power with , dan power within. Inipada awalnya sebagai cara untuk mempelajari bagaimana aktor yang kuat mengendalikan sesuatu diatas actor lain yang tidak berdaya dengan merubah dan membangun kesadaran dan tindakan baru mereka yang diletakkan pada mereka. Powercube juga dapat digunakan untuk memikirkan tentang fondasi awal bagaimana level, dan strategi yang harus dipersiapkan untuk memperkuat kekuasaan.

Ada tiga dimensi ruang kekuasan seperti, closed spaces, invited spaces dan created spaces. Berikut masing-masing penejelasan dari dimensi tersebut:

1. Closed Spaces, Dalam proses pengambilan keputusan hanya dibuat oleh sejumlah actor yang berkuasa, dimensi ruang ini menjelaskan bahawa kekuasaan tidak menggunakan keterlibatan yang lebih luas dari akror lainnya, dengan kata lain Closed Space ini dikontrol oleh sejumlah pihak.

2. Invited Spaces, Merupakan bentuk partisipasi yang sangat luas, dimensi ruang ini dibuat dengan mengundang actor lain untuk terlibat dalam pengambilan keputusan serta menjadi pihak yang memberikan masukan kepada pembuat kebijakan.

3. Claimed Spaces, Ruang kekuasaan ini menjelaskan bagaimana banyak pihak selain penguasa bisa ikut terlibat dalam pengambilan keputusan tanpa adanya

hegemoni dari penguasa. Para actor yang bisa berkumpul dan berbicara bersama- sama untuk memperdebatkan kebijakan yang akan diciptakan.

Kemudian dimensi level, merupakan dimensi vertical ini juga harus dilihat sebagai sesuatu yang bisa berubah, bukan sebagai seperangkat alat yang kaku. Seperti dalam jenis dimensi ruang, hubunganya dengan dimensi tempat untuk membahas keterkaitan antara kedua dimensi tersebut yang dimana besarnya ruang partisipasi dan tingginya tempat tersebut disesuaikan atau dibentuk oleh organisasi dan intervensi masyarakat sipil yang memiliki kekuasaan. Sebagai contoh yaitu dimensi kekuasaan yang ada di Kolombia, ada delapan macam dimensi tempat yang dibuat oleh masyarakat disana, yang dimana masing-masing dimensi tempat memiliki tipe ruangnya sendiri, termasuk juga tingkat internasional, nasional, departemen, regional / provinsi, kota, komunal dan lingkungan (Pearce dan Vela 2005). Dan semuanya tergantung pada kerangka kerja yang digunakan administrasi pemerintahan, sehingga memberikan perbedaan dimesnis ruang dan tempat kekuasaan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan, namun sekarang semakin banyak, tingkat lokal mulai tumbuh sebagai pusat kekuasaan dan pengambilan keputusan.

Ketika membahas ruang partisipasi tentunya hal tersebut akan berhadapan dengan dinamika kekuasaan “power” yang bisa menciptakan keterlibatan masyarakat. Berikut beberapa bentuk ataupun wujud bagaimana kekuasaan itu bermain dalam pengambilan keputusan yang ada di dalam masyarakat.

1. Visible power

Bentuk kekuasaan ini bisa diamati proses pengambilan keputusannya.

Level ini rupakan kekuasaan yang terlihat dan dapat didefinisikanseperti bentuk aturan formal, struktur, otoritas, institusi, dan prosedur pengambilan keputusan ...

Strategi yang digunakan dalam bentuk kekuasaan ini biasanya mencoba mengatur

'siapa, bagaimana dan apa saja yang akan dilakukan pada proses' pembuatan kebijakan sehingga proses pengambilan keputusan terasa lebih demokratis dan akuntabel, serta melayani kebutuhan dan hak-hak orang.

2.Hidden power:

Dalam bentuk kekuasaan ini ada agenda politik kepentingan. Dalam bentuk kekuasaan ini orang-orang dan lembaga-lembaga yang menggunakan bentuk kekuasaan ini memiliki tujuan untuk mempertahankan pengaruhnya dengan mengendalikan siapa yang masuk ke meja pengambilan keputusan dan apa yang saja yang dibicarakan dalam agenda pengambilan keputusan. Fenomena kekuasaan ini beroperasi pada banyak tingkatan untuk mengurangi representasi kelompok-kelompok yang kurang kuat lainny.

3. Invisible power:

Adanya internalisasi mengenai mengenai hal yang bisa diterima dan dibicarakan ketika proses pengambilan keputusan. Mungkin bentuk kekuasaan ini yang paling mengerikan dari tiga dimensi kekuasaan, invisible Power membentuk sekat psikologis dan ideologis kepada partisipan dan secara sadar diterima.

Invisble Power tujuanya bukan hanya menjauhkan partispan dari meja pengambilan keputusan, tetapi juga mempengaruhi partisipan jauh dari kesadaran terhadap posisi dirinya memandang kebutuhan kelompok dan cara menghadapai masalaha yang dihadapainya Dengan mempengaruhi cara orang berpikir tentang hidup dalam komunitas mereka, bentuk power ini telah membentuk kepercayaan dan penerimaan orang terhadap kondisi mereka sebagai bentuk manipulasi. Secara

social dan budaya melanggengkan pengucilan jika ada pemberontakan, invisible power memiliki ketentuan tersendiri yang terinternalisasi dalam diri masyarakat.

2.5 Genealogi Kekuasaan

Dalam seluruh kehidupan manusia, tidak telepas dari pengaruh kekuasaan sehingga dalam setiap proses kehidupan baik dalam lingkungan komunitas dan lembaga senantiasa ditemukan dominasi dan resistensi terhadap penguasa. Dalam dominasi kekuasaan seringkali ditemukan jaringan-jaringan kekuasaan yang berperan sebagai kendaraan untuk menjalankan kekuasaan tersebut, jaringan kekuasaan menyediakan ruang untuk dipengaruhi oleh pemilik kekuasaan sehingga pemilik kekuasaan akan bisa leluasa untuk mengatur.

Genealogi Kekuasaan merupakan serangkaian analisis kekuasaan yang tidak terlepasa dari hubungan antara kekuasaan dan ilmu pengetahuan dalam sebuah wacana kekuasaan. Pada umumnya kekuasaan ini ditemukan pada institusi yang ada dalam masyarakat. Dalam Genealogi Kekuasaan pengetahuan memiliki hubungan erat dengan kekuasaan karena diantara dua hal tersebut saling memilki pengaruh satu sama lain. Adapun pernyataan Foucault terkait dengan hubungan antara kekuasaan dengan pengetahuan tersebut yaitu:

“ Subjek yang mengetahui perilahal objek dan pengetahuan tentang itu maka akan mendapat sangat banyak efek yang sangat fundamental tentang terkait dengan kekuasaan dan pengetahuan serta bisa melakukan transformasi. Singkatnya ini bukan tentang Kekuasaan dan pengetahuan yang dimilki oleh Pemilik kekuasaan tetapi dengan ini bisa menciptakan banyak badan ilmu pengetahuan dan berguna dalam berkuasa. Tetapi untuk mendapatkan itu harus melalui perjuangan yang berat dalam ranah ilmu pengetahuan” (Foucault:

1991)

Dalam beberapa tulisan Foucault lebih berfokus pada menghubungkan koneksifitas antara kekuasaan dan pengetahuan. Dia menggambarkan bahwa

Dalam beberapa tulisan Foucault lebih berfokus pada menghubungkan koneksifitas antara kekuasaan dan pengetahuan. Dia menggambarkan bahwa