• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

B. Partisipasi Pemilih Pemula

Partisipasi merupakan istilah yang berasal dari bahasa latin yaitu pars atau bagian yang memiliki arti mengambil bagian atau peran pada sebuah aktifitas/kegiatan politik negara. (Suharno, 2004: 26).

Partisipasi adalah mendorong masyarakat atau kelompok yang terkait untuk mengambil inisiatif dan menggunkan kebebasannya untuk melakukan sesuatu. Partisipasi juga dapat diartikan sebagai aktifitas sukarela dari masyarakat untuk mengambil peran tertentu, meski tanpa diminta. Pendapat lain, partisipasi adalah “pemekaan” (membuat peka) dalam artian memberikan kesadaran kepada masyarakat untuk ikut andil dalam sebuah proyek-proyek tertentu. ( Ulva, 2018).

Partisipasi berarti peran serta seseorang atau kelompok masyarakat dalam proses pembangunan baik dalam bentuk pernyataan maupun dalam bentuk kegiatan dengan memberi masukan pikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal dan atau materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil –hasil pembangunan (Sumaryadi, 2010: 46).

Pengertian tentang partisipasi dikemukakan oleh Lasut V.E (2014) dimana partisipasi dapat juga berarti bahwa pembuat keputusan menyarankan kelompok atau masyarakat ikut terlibat dalam bentuk penyampaian saran dan pendapat, barang, keterampilan, bahan dan jasa. Partisipasi dapat juga berarti bahwa kelompok mengenal masalah mereka sendiri, mengkaji pilihan mereka, membuat keputusan, dan memecahkan masalahnya.

Achmad, f. J. (2018) mengungkapkan partisipasi adalah sebagai wujud dari keinginan untuk mengembangkan demokrasi melalui proses desentralisasi dimana diupayakan antara lain perlunya perencanaan dari bawah (bottom-up) dengan mengikutsertakan masyarakat dalam proses perencanaan dan pembangunan masyarakatnya.

Menurut Suharyanto (2016). bahwa partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan individu sampai pada bermacam-macam tingkatan di dalam sistem politik. Hal ini dipertegas dengan pendapat dari Rahman (2017) bahwa dalam partisipasi politik dapat ditinjau sampai sejauh mana dan sampai tingkat apa individu terlibat dalam sistem politik. Partisipasi politik dapat ditinjau dari empat sudut pandang yaitu bentuk partisipasi politik, luas partisipasi politik, orang yang berpartisipasi serta alasan orang-orang berpartisipasi politik.

Menurut Fachrini (2017), mengklasifikasikan partisipasi menjadi 2 (dua) berdasarkan cara keterlibatannya, yaitu :

1. Partisipasi Langsung

Partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat dengan mengambil peran dalam pada kegiatan tertentu dalam proses partisipasi. Sebagai contoh dimana masyarakat memberikan saran atau masukan terhadap pendapat orang lain atau memberikan umpan balik terhadap sanggahan yang diberikan.

2. Partisipasi tidak langsung, partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat dengan memberikan hak suaranya pada orang lain atau mendelegasikan hak suaranya.

Kemudian partisipasi dibedakan menjadi empat jenis yaitu, Partisipasi dalam pengambilan keputusan, Partisipasi dalam pelaksanaan, Partisipasi dalam pemanfaatan dan terakhir partispasi dalam evaluasi.

Penjelasan diatas pertama adalah partisipasi dalam pengambilan keputusan, partisipasi ini merupakan partisipasi yang dilakukan oleh masyarakat dalam menentukan sebuah keputusan secara bersama. Seperti ikut andil dalam memberikan konsep gagasan atau pemikiran, mengikuti rapat atau forum diskusi serta memberikan tanggapan persetujuan dalam penolakan terhadap pembahasan yang sedang berjalan.

Kemudian yang kedua partisipasi dalam pelaksanaan, dimana hal ini merupakan tindak lanjut dari partisipasi sebelumnya dimana ikut serta dalam sebuah program atau pembahasan yang telah disepakati sebelumnya.

Ketiga, partisipasi dalam pemanfaatan ialah hasil akhir dari pelaksanaan program atau pembahasan sebelumnya baik yang bersifat kualitas maupun

kuantitas dan terdapat penilaian tentu dari hasil yang didapatkan seperti kualitas berbicara tentang ouput dan kuantitas menyangkut presentase keberhasilan.

Dan yang keempat partisipasi dalam evaluasi yaitu kembali mengamati program atau pembahasan sebelumnya yang telah disepakati, apakah pelaksanaanya sesuai dengan rencana atau tidak, sehingga ketercapaiannya dapa di ketahui.

Kemudian menurut Suherman (2018), Partispasi dapat di bedakan menjadi partisiapsi fisik dan Partisipasi non fisik.

1. Partisipasi fisik

Partisipasi fisik adalah bagian dari partispasi masyarakat khususnya orang dewasa dalam memlaksanakan suatu kegiatan atau usaha-usaha seperti penyelenggaraan pendidikan, membangun organisasi dan lain-lain.

2. Partisipasi non fisik

Partisipasi non fisik merupakan salah satu partisipasi dimana masyarakat ikut serta menciptakan paradigma dan arah dari sebuah kegiatan atau usaha-usaha yang telah ada sebelumnya seperti menentut ilmu pendidikan dan ikut serta dalam sebuah organisasi.

Sedangkan pengertian pemilih pemula, untuk pemilih di Indonesia terbagi atas 3 (tiga) kategori yang pertama yaitu pemilih rasional, kedua pemilih emosional dan yang ketiga pemilih pemula. Pemilih rasional adalah tipe pemilih yang telah terpelajar atau melalui analisis dan perthitungan sebelumnya.

Kemudian pemilih emosional adalah pemilih yang memiliki jiwa idealis dan tidak ingin diatur, terkadang mengikuti kata hatinya. Dan pemilih pemula merupakan

pemilih yang baru pertama kali mengikuti pemilihan umum karena baru memenuhi kriteria atau syarat menjadi peserta pemilu, (Fenyapwain, 2013).

Kelompok pemilih pemula merupakan mereka yang masih duduk dibangku sekolah, yang masih kuliah atau para pekerja muda. Pemilih pemula dalam sebuah proses demokrasi masih memerlukan pendidikan politik atau perlu mengikuti sosialisasi politik, sehingga seringkali pemilih pemula menjadi objek pembinaan sehingga mereka dapat tumbuh dan aktif berpartisipasi dalam ranah politik, (Dani, 2010: 77).

Dari definisi diatas dapat di simpulkan bahwa ciri-ciri pemilih pemula yaitu : 1. Wargan Negara Indonesia yang pada hari pemilihan umum telah memasuki

usia tujuh belas tahun atau sudah/pernah menikah.

2. Pemilih yang baru pertama kali ikut serta dalam pemilu dalam hal ini baru pertamakali memberikan hak suara selama proses pemiluh yang di adakan di Indonesia.

3. Mempunyai hak memilih dalam penyelenggaraan pemilu (Dani, 2010: 77).

Sedangkan menurut Shiawin Ratu Ajeng (2014: 45) ini yang dimaksud dengan partisipasi politik pemilih pemula berdasarkan UU No 10 tahun 2008 adalah menjadi partisipan dalam pemilihan umum, partisipasi dalam diskusi politik informal, partisipasi dalam rapat umum dan ikut kampanye.

Menurut M. Rosit (2014) selaku peneliti The political literacy institute Jakarta dan merupakan dosen Public Relations Politic di Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) menyatakan bahwa “Karakteristik pemilih pemula masih cenderung apatis dam labil dimana pengetahuan politiknya masih minim dan

masih mengikuti teman atau keluarga dan mereka baru mengikuti pemilihan umum”.

Sehingga dapat diketahui bahwa karakteristik yang umum ditemui pada pemilih pemula antara lain: belum pernah memilih pada pemilihan umum sebelumnya, masih memiliki antusiasme yang tinggi untuk memilih, belum berpengalaman dalam memilih, latar belakang atau motivasi memilihnya masih kurang rasional yang kebanyakan karena rasa ingin tahu serta masih dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya.

Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa partisipasi pemilih pemula adalah keterlibatan pemilih pemula yang baru pertamakali mengikuti pemilihan umum yang masih memerlukan bimbingan politik dalam menyampaikan aspirasinya sehingga ini menjadi tanggung jawab bersama dalam memberikan pemahaman kepada mereka agar tidak apatis dan labil dalam berpolitik guna menciptakan pemilih yang berkualitas dimasa depan.

Dokumen terkait