Pola Partisipasi dalam Pengelolaan Hutan Rakyat
Partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat dalam penelitian ini diidentifikasi dalam 3 tahapan kegiatan, yaitu tahap perencanaan hutan rakyat, tahap pelaksanaan hutan rakyat dan tahap pemanfaatan hasil hutan rakyat. Pada tahap perencanaan, partisipasi yang diukur adalah keterlibatan petani dalam penentuan waktu pertemuan, peran petani dalam penentuan materi pertemuan, peran petani dalam penentuan pengurus kelompok tani, peran petani dalam memberikan pendapat dan peran petani dalam pendanaan KTHR. Pada tahap pelaksanaan, partisipasi yang dikaji adalah keterlibatan petani (apakah dikerjakan sendiri atau diupahkan) dalam persiapan lahan, penanaman dan pemeliharaan (pemupukan, penyiangan, pemangkasan dan penjarangan). Adapun pada tahap pemanfaatan hasil hutan rakyat, partisipasi yang diukur adalah keterlibatan petani dalam pemanenan, transaksi penjualan dan penggunaan kayu hasil hutan rakyat. Tabel 3 Partisipasi pada tahap perencanaan
Partisipasi dalam tahap perencanaan Cikeusal Kananga Tidak pernah Kadang-kadang Selalu Tidak pernah Kadang-kadang Selalu Σ % Σ % Σ % Σ % Σ % Σ % Penentuan waktu pertemuan 28 40.6 30 43.5 11 15.9 38 84.4 3 6.7 4 8.9 Penentuan materi 54 78.3 11 15.9 4 5.8 40 88.9 3 6.7 2 4.4 Penentuan pengurus 12 17.4 19 27.5 38 55.1 32 71.1 7 15.6 6 13.3 Memberi pendapat 17 24.6 47 68.1 5 7.3 31 68.9 11 24.4 3 6.7 Pendanaan KTHR 69 100.0 0 0.0 0 0.0 45 100.0 0 0.0 0 0.0
Tabel 3 menunjukkan bahwa partisipasi petani pada tahap perencanaan hutan rakyat, pola keterlibatan petani sedikit berbeda di kedua desa lokasi penelitian. Petani hutan rakyat di Desa Cikeusal teridentifikasi lebih bervariasi dalam kadar keikutsertaannya pada tahap perencanaan. Mayoritas petani di Desa Cikeusal minim terlibat dalam penentuan waktu pertemuan dan menyampaikan pendapat. Pada saat penentuan materi pertemuan dan pendanaan KTHR tidak terjadi partisipasi petani. Partisipasi petani pada proses penentuan pengurus kelompok tani relatif baik. Partisipasi petani di Desa Kananga tergolong rendah di semua kegiatan perencanaan pengelolaan hutan rakyat. Secara keseluruhan, partisipasi petani dilokasi penelitian cenderung rendah. Perbedaan tingkat partisipasi demikian disebabkan oleh dinamika faktor-faktor internal dan eksternal yang terjadi dalam masyarakat serta modal sosial yang dimilikinya.
Tabel 4 Partisipasi pada tahap pelaksanaan Kemandirian dalam kegiatan pelaksanaan Cikeusal Kananga Tidak pernah Kadang-kadang Selalu Tidak pernah Kadang-kadang Selalu Σ % Σ % Σ % Σ % Σ % Σ % Pembukaan/ Lahan 6 8.7 42 60.9 21 30.4 2 4.4 36 80.0 7 15.6 Penanaman 4 5.8 43 62.3 22 31.9 2 4.4 35 77.8 8 17.8 Pemupukan 3 4.3 24 34.8 42 60.9 3 6.7 15 33.3 27 60.0 Pemangkasan 5 7.2 28 40.6 36 52.2 4 8.9 6 13.3 35 77.8 Penjarangan 28 40.6 23 33.3 18 26.1 14 31.1 5 11.1 26 57.8
Partisipasi petani pada tahap pelaksanaan, sebagian besar petani di kedua desa banyak melakukan kegiatan hutan rakyat secara mandiri. Jikapun pekerjaan hutan rakyat diupahkan, maka petani melakukan pengawasan langsung terhadap buruh tani yang bekerja di kebunnya. Keterlibatan petani secara langsung memiliki pola yang sama antara kedua desa, dimana pada pembukaan/ pembersihan lahan dan penanaman cenderung berintensitas sedang (mayoritas hanya kadang-kadang melakukan persiapan lahan sendiri) dan keterlibatan petani dalam kegiatan pemeliharaan cenderung berintensitas lebih tinggi (mayoritas selalu melakukan pemupukan dan pemangkasan sendiri) (Tabel 4).
Tabel 5 Partisipasi pada tahap pemanfaatan Kemandirian dalam kegiatan pemanfaatan Cikeusal Kananga Tidak pernah Kadang-kadang Selalu Tidak pernah Kadang-kadang Selalu Σ % Σ % Σ % Σ % Σ % Σ % Pemanenan kayu 44 63.8 23 33.3 2 2.9 38 84.4 4 8.9 3 6.7 Pemanenan hasil pertanian 14 20.3 45 65.2 10 14.5 12 26.7 25 55.5 8 17.8 Penjualan hasil kayu 31 44.9 17 24.6 21 30.4 32 71.1 4 8.9 9 20.0 Penggunaan kayu sendiri 21 30.4 44 63.8 4 5.8 30 66.7 8 17.8 7 15.5 Transaksi 26 37.7 20 30.0 23 33.3 32 71.1 7 15.6 6 13.3
Tabel 5 menunjukkan bahwa partisipasi petani pada tahap pemanfaatan, baik di Desa Cikeusal maupun di Desa Kananga, pada umumnya petani tidak melakukan pemanenan dan penjualan kayu sendiri. Petani menjual kayu rakyat melalui tengkulak dengan pertimbangan kemudahan dan kepraktisan. Dengan demikian maka posisi tawar petani masih rendah, dimana tengkulak membeli dengan harga yang dikendalikan sendiri. Teknik estimasi potensi kayu juga belum tepat, dimana tengkulak mengukur diameter batang setinggi jangkauan tangan, bukan setinggi dada (1.30 m), sehingga hasil taksiran volumenya menjadi lebih rendah. Dalam pelaksanaannya jual beli kayu rakyat, baik penjual dan pembeli tidak membuat surat perijinan. Selain itu, dalam proses legalisasi kayu di Desa Cikeusal maupun Kananga belum ada penerbit SKAU.
Jika mengacu pada tipe partisipasi Blackburn et al. (1997), bahwa partisipasi petani hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga tergolong partisipasi pasif. Petani berpartisipasi dengan diberitahu apa yang akan terjadi atau telah terjadi dan merupakan pengumuman sepihak oleh administrasi atau manajemen proyek tanpa mendengarkan tanggapan masyarakat. Partisipasi hutan rakyat di lokasi penelitian didorong oleh pemberitahuan pihak tertentu (pemerintah dan pemberi proyek) akan adanya SVLK. Berdasarkan informasi tersebut, petani memperoleh arahan tertentu dari pemerintah dan pemberi proyek kemudian mengatur sedemikian rupa untuk mencapai target proyek. Aji et al.
(2011) menyatakan bahwa partisipasi yang hanya melibatkan tokoh-tokoh atau elit desa untuk menjalankan program disebut sebagai partisipasi bersifat pragmatis.
Selain itu, jika ditelaah melalui pandangan paradigma partisipasi menurut Suhardjito (2000), ternyata partisipasi petani hutan rakyat di lokasi penelitian dapat diklasifikasikan dalam pendekatan topdown. Adapun ciri-ciri pendekatan
topdown adalah sebagai berikut.
1. Tujuannya adalah peningkatan keterampilan, pencapaian target produktivitas. 2. Faktor dan orientasi mencakup output pencapaian target dan kondisi fisik
hutan.
3. Diawali oleh perencanaan program oleh pemerintah atau lembaga eksternal lainnya.
4. Materi bersifat seragam, ditentukan penyusun kebijakan, lembaga eksternal. 5. Metode yang digunakan ceramah, diskusi tapi masih didominasi pihak atau
orang tertentu.
6. Komunikasi satu arah.
7. Peran penyuluh sebagai guru.
8. Kompetensi penyuluh dominan kompetensi teknis.
9. Kelembagaan masyarakat dibentuk sesuai kepentingan pemerintah atau lembaga eksternal lainnya.
10.Kepemimpinan bersifat otoriter, peran pemimpin formal lebih menonjol. 11.Kelembagaan pendukung bekerja sesuai visi, misi dan tujuan masing-masing. 12. Perilaku masyarakat umumnya pesimis, selalu bergantung pada inisiatif dan
bantuan pihak luar.
Jika dikomparasikan dengan hutan rakyat di daerah lain, hasil penelitian ini relatif tidak banyak berbeda. Suprayitno et al. (2011) melaporkan rendahnya tingkat partisipasi petani sekitar hutan dalam pengelolaan hutan kemiri di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Rendahnya partisipasi ditunjukkan pada semua tahapan partisipasi yaitu dalam perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan, maupun pengawasan. Sementara Fauzi (2009) mencatat bahwa partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Kecamatan Kertanegara Kabupaten Purbalingga berada pada kategori sedang, partisipasi dalam perencanaan berada pada kategori tinggi, partisipasi dalam pelaksanaan termasuk dalam kategori sedang dan partisipasi dalam pemanfaatan hasil termasuk kategori sedang. Adapun pada kasus partisipasi masyarakat dalam program KBR di Kota Bajarbaru cukup rendah (Hapsari et al. 2012).
Partisipasi dalam konteks pembangunan, merupakan sebuah perubahan paradigma dari sentralistik menjadi desentralistik yang mengutamakan keterlibatan masyarakat secara langsung dalam seluruh proses pembangunan.
Konsep ini menempatkan masyarakat pada titik yang sangat sentral dalam spektrum pembangunan. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan sebagai ikut sertanya masyarakat dalam pembangunan, ikut dalam kegiatan-kegiatan pembangunan dan ikut memanfaatkan serta menikmati hasil-hasil pembangunan (Slamet 2003). Dalam konteks ini, partisipasi masyarakat di Desa Cikeusal dan Desa Kananga terlihat tidak secara disengaja untuk melibatkan diri dalam proses pembangunan kehutanan. Pada awalnya partisipasi masyarakat dalam hutan rakyat di lokasi penelitian ditujukan untuk memenuhi kebutuhan subsistensi dan tabungan jangka panjangnya. Namun ketika ada program SVLK dan kelompok tani ini terpilih, maka mereka melakukan penyesuaian.
Sejalan dengan konsep partisipasi dalam pembangunan, konsep pemberdayaan juga dipandang merupakan konsep dan strategi yang potensial dalam meningkatkan ekonomi, sosial dan transformasi budaya. Proses ini pada akhirnya akan dapat menciptakan pembangunan yang lebih berpusat pada rakyat (Hikmat 2004). Dalam kasus di Desa Cikeusal dan Desa Kananga, proses pemberdayaan tersebut belum terlihat dijalankan oleh pemerintah daerah, terbukti dengan rendahnya frekuensi penyuluhan dan pembinaan. Sehingga tujuan utama pemberdayaan dan partisipasi masyarakat untuk pemberdayaan ekonomi kerakyatan sebagai salah satu solusi pemecahan masalah kesejahteraan belum tercapai (Sumodiningrat 2004).
Sebagai sebuah proses, partisipasi masyarakat pada hutan rakyat yang terjadi pada berbagai tahapan (perencanaan, pelaksanaan dan pemanfaatan) telah terlihat secara lengkap di lokasi penelitian, walaupun dalam kadar yang relatif rendah. Dalam hubungannya dengan hasil yang diperoleh dari proses partisipasi, Slamet (2003) yang membagi partisipasi masyarakat dalam pembangunan menjadi lima jenis, yaitu: (1) ikut memberi input proses pembangunan, menerima imbalan atas input tersebut dan ikut menikmati hasilnya, (2) ikut memberi input dan menikmati hasilnya, (3) ikut memberi input dan menerima imbalan tanpa ikut menikmati hasil pembangunan secara langsung, (4) menikmati/memanfaatkan hasil pembangunan tanpa ikut memberi input dan (5) memberi input tanpa menerima imbalan dan tidak menikmati hasilnya. Jika diklasifikasikan berdasarkan pembagian tersebut, maka partisipasi petani hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Kananga termasuk kategori 1, yaitu terlibat memberi input (partisipasi), menerima imbalan (upah dan bibit hutan rakyat) serta menikmati hasilnya (sebagian telah menebang hutan rakyat). Tapi jika dikaitkan dengan SVLK yang salah satu tujuannya adalah mendapatkan harga premium, maka partisipasi petani di lokasi penelitian termasuk kategori 3, karena sertifikasi SVLK hingga saat ini belum memberikan harga premium bagi petani.
Dinamika partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan sangat mutlak diperlukan, sebab pada akhirnya masyarakatlah yang melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan, rakyat banyak memegang peranan sekaligus sebagai objek dan subjek pembangunan (Khairuddin 1992). Demikian juga dalam pengelolaan hutan rakyat, Kartasubrata (2003) menegaskan bahwa untuk melaksanakan pengelolaan hutan secara baik diperlukan dukungan dan partisipasi masyarakat, terutama penduduk di sekitar hutan.
Partisipasi dan Peran Gender dalam Pengelolaan Hutan Rakyat Representasi Gender
Petani hutan rakyat menurut jenis kelamin mencerminkan adanya keterlibatan petani perempuan di kedua desa, yaitu sebanyak 36 orang (31.6%) dari total petani hutan rakyat. Dengan adanya keterlibatan tersebut telah mencerminkan adanya keterwakilan atau representasi gender. Keterwakilan petani perempuan pada pengelolaan hutan rakyat terlihat lebih tinggi di Desa Cikeusal (33.3%) dibanding di Desa Kananga (28.9%). Hal ini disebabkan di Cikeusal rumah tangga petani banyak yang dikepalai oleh perempuan (janda), disamping itu kepemilikan lahan hutan rakyat berdasarkan SPPT banyak dimiliki kaum perempuan di Desa Cikeusal daripada Desa Kananga (Tabel 6).
Tabel 6 Keragaan petani hutan rakyat menurut jenis kelamin
Desa Jumlah (orang) Persentase
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Cikeusal 46 23 66.7 33.3
Kananga 32 13 71.1 28.9
Total 78 36 68.4 31.6
Menurut prinsip keterwakilan atau representasi antara laki-laki dan perempuan dapat dikatakan bahwa pengelolaan hutan rakyat di Desa Cikeusal dan Kananga sudah memadai. Keterwakilan gender membantu rumah tangga petani untuk melindungi mata pencahariannya serta meningkatkan pendapatan atau mengurangi beban kemiskinan (Rochmayanto et al. 2013). Tidak adanya keterwakilan memungkinkan terjadinya ketidaksetaraan dan kecemburuan sosial (Sari et al. 2013) yang mengganggu stabilitas sosial ekonomi masyarakat. Selain itu, keterwakilan gender ini sangat menentukan karena ketika masyarakat merupakan komunitas yang heterogen, sehingga penting adanya keterwakilan dalam suatu program atau kegiatan. Salah satu bentuk heterogenitas masyarakat adalah perbedaan gender. Dalam bentuk heterogenitas masyarakat ini, keterwakilan akan membantu mengeliminir adanya kelompok yang termarginalkan memperoleh tempat dan keterlibatan yang semestinya dalam kegiatan atau program, yang dalam hal ini hutan rakyat. Sebagai contoh, perempuan yang menjadi kepala rumah tangga (karena dia janda) tetap diperlakukan adil dan setara dengan rumah tangga lain yang dikepalai oleh laki-laki.
Namun demikian, apakah keterwakilan tersebut sudah memperlihatkan pembagian peran secara seimbang dan tidak terjadi marjinalisasi, pembebanan ganda, stereotype dan isu ketidakadilan gender lainnya (Fakih 1997). Analisis partisipasi hutan rakyat menurut gender dilakukan pada empat tahapan kegiatan hutan rakyat, yaitu: persiapan dan pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan dan pemasaran hasil. Berdasarkan hasil survey diketahui bahwa laki-laki dan perempuan telah menunjukkan representasinya pada setiap kegiatan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengelolaan hutan rakyat di lokasi penelitian tidak terjadi dominasi tunggal salah satu pihak, walaupun representasi perempuan lebih kecil dibanding laki-laki.
Tabel 7 Partisipasi gender pada pengelolaan hutan rakyat Kegiatan hutan rakyat Gender Cikeusal Kananga Jumlah % Jumlah % Persiapan dan pembukaan lahan Laki-laki 40 58.0 40 88.9 Perempuan 3 4.3 1 2.2 Bersama-sama 26 37.7 4 8.9 Penanaman Laki-laki 28 40.6 28 62.2 Perempuan 3 4.3 1 2.2 Bersama-sama 38 55.1 16 35.6 Pemeliharaan Laki-laki 43 62.3 29 64.4 Perempuan 3 4.4 1 2.2 Bersama-sama 23 33.3 15 33.3 Pemasaran hasil Laki-laki 23 33.3 9 20.0 Perempuan 2 2.9 1 2.2 Bersama-sama 6 8.7 4 8.9 Tidak ada pemanenan 38 55.1 31 68.9
Tabel 7 menujukkan bahwa ada tiga pola partisipasi gender dalam pengelolaan hutan rakyat, yaitu:
1. Pekerjaan dilakukan oleh laki-laki saja tanpa keterlibatan perempuan. Pola demikian misalnya terjadi pada kegiatan persiapan dan pembukaan lahan baik di Desa Cikeusal maupun Desa Kananga (masing-masing 58% dan 88.9%), atau pada kegiatan penanaman sebanyak 40.6% di Cikeusal dan 62.2% di Kananga. Peran perempuan ada, namun bertindak untuk membantu penyediaan konsumsi bagi laki-laki di lokasi hutan rakyat.
2. Pekerjaan dilakukan oleh perempuan saja tanpa keterlibatan laki-laki. Pola demikian terjadi di semua tahapan kegiatan, walaupun jumlahnya relatif sedikit (berkisar 2.2%-4.4%). Situasi demikian terjadi pada rumah tangga yang anggotanya perempuan atau kepala keluarganya perempuan (misalnya karena janda).
3. Pekerjaan dilakukan bersama-sama antara laki-laki dan perempuan, dengan jumlah yang relatif banyak. Pola demikian terjadi pada rumah tangga normal (dengan kepala keluarga laki-laki) dimana perempuan (istri) juga turut melakukan pekerjaan membantu suaminya di kebun. Pola lain adalah rumah tangga yang dikepalai perempuan (janda) namun ketika melakukan pekerjaan di lapangan dia dibantu oleh anak laki-laki atau saudara laki-laki.
Jika dibandingkan dengan partisipasi gender dalam kegiatan produktif non hutan rakyat, terutama pada kegiatan bertani dan berkebun (kegiatan yang berbasis pada lahan), terlihat bahwa kecenderungannya dilakukan bersama-sama antara laki-laki dan perempuan. Hal demikian menunjukkan adanya kedekatan hubungan antara laki-laki dan perempuan dengan sumberdaya lahan. Adapun pada kegiatan non hutan rakyat lain (buruh tani dan beternak), terlihat sangat bervariasi dimana laki-laki bisa muncul sebagai pihak yang dominan (misalnya pada sektor jasa) atau perempuan sebagai pihak yang lebih dominan (misalnya berdagang) (Tabel 8).
Tabel 8 Partisipasi gender dalam kegiatan non hutan rakyat
Kegiatan Gender Cikeusal Kananga
Jumlah % Jumlah % Beternak Laki-laki 5 7.2 2 4.4 Perempuan 2 2.9 1 2.2 Bersama-sama 4 5.8 3 6.7 Bukan peternak 58 84.1 39 86.7 Bertani Laki-laki 4 5.8 3 6.7 Perempuan 6 8.7 3 6.7 Bersama-sama 35 50.7 38 84.4 Tidak bertani 24 34.8 1 2.2
Buruh tani Laki-laki 11 15.9 6 13.3
Perempuan 2 2.9 4 8.9
Bersama-sama 9 13.0 5 11.1
Bukan buruh tani 47 68.1 30 66.7
Berdagang Laki-laki 4 5.8 1 2.2 Perempuan 7 10.1 2 4.4 Bersama-sama 2 2.9 0 0.0 Bukan pedagang 56 81.2 42 93.3 Berkebun Laki-laki 3 4.4 2 4.4 Perempuan 2 2.9 1 2.2 Bersama-sama 4 5.8 4 8.9 Bukan pekebun 60 86.9 38 84.4 Jasa Laki-laki 12 17.4 1 2.2 Perempuan 1 1.4 0 0.0 Bersama-sama 2 2.9 0 0.0
Bukan pelaku jasa 54 78.3 44 63.8
Keterlibatan perempuan pada kegiatan hutan rakyat dan kegiatan produktif lainnya menjelaskan bahwa hutan rakyat sangat mungkin dilakukan oleh peserta atau anggota kelompok tani perempuan. Sehingga tidak boleh ada alasan perempuan dianggap tidak mampu mengelola hutan rakyat dan terabaikan dalam keanggotaan kelompok. Dalam kaitannya dengan aspek budaya, dapat dilihat bahwa secara kultural di lokasi penelitian tidak ada hambatan budaya tertentu dalam pembagian tugas tertentu yang mengkhususkan laki-laki atau perempuan dalam kegiatan hutan rakyat. Perempuan tidak dianggap tabu melakukan kegiatan hutan rakyat dan pekerjaan tani lainnya.
Lain halnya dengan kegiatan reproduktif, terlihat ada beberapa kegiatan yang memperlihatkan domain laki-laki tertentu atau domain perempuan tertentu, yang secara budaya atau secara umum kelazimannya demikian yang terjadi di masyarakat. Berdasarkan Tabel 9 dapat dibedakan ada 4 pola partisipasi gender yang jelas dalam kegiatan reproduktif domestik, yaitu:
- Domain laki-laki (dilakukan 100% oleh laki-laki), misalnya memperbaiki rumah.
- Sebagian besar dilakukan laki-laki, misalnya mencari kayu bakar.
- Sebagian besar dilakukan perempuan: mencuci pakaian, mengasuh anak, membersihkan rumah dan mengantar anak ke sekolah.
Tabel 9 Partisipasi gender pada kegiatan reproduktif
Kegiatan Gender Cikeusal Kananga
Jumlah % Jumlah %
Memasak Laki-laki 0 0.0 0 0.0
Perempuan 69 100.0 45 100.0
Bersama-sama 0 0.0 0 0.0
Mencari kayu bakar Laki-laki 28 40.6 29 64.4
Perempuan 4 5.8 7 15.6
Bersama-sama 2 2.9 4 8.9
Mencuci pakaian Laki-laki 5 1.6 6 2.8
Perempuan 64 98.4 39 97.2
Bersama-sama 0 0.0 0 0.0
Mengasuh anak Laki-laki 0 0.0 0 0.0
Perempuan 6 8.7 4 8.9
Bersama-sama 2 2.9 3 6.7
Memperbaiki rumah Laki-laki 69 100.0 45 100.0
Perempuan 0 0.0 0 0.0
Bersama-sama 0 0.0 0 0.0
Membersihkan rumah Laki-laki 10 14.5 7 15.6
Perempuan 56 81.2 36 80.0 Bersama-sama 3 4.3 2 4.4 Mengantar anak ke sekolah Laki-laki 6 8.7 2 4.4 Perempuan 7 10.2 7 15.6 Bersama-sama 0 0.0 0 0.0
Namun sebenarnya, secara kultural masyarakat telah memisahkan peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Urusan produktif untuk menghasilkan pendapatan rumah tangga adalah tanggung jawab laki-laki, sedangkan urusan domestik reproduktif (pekerjaan rumah tangga sehari-hari) menjadi tanggung jawab perempuan. Hal demikian sejalan dengan hasil studi Leimona et al. (2013) pada pengelolaan hutan di Singkarak (Sumatera Barat), Sumberjaya (Lampung) dan Sesaot (Nusa Tenggara Barat).
Keterlibatan perempuan dalam urusan produktif (baik dalam pengelolaan hutan rakyat maupun non hutan rakyat) bersifat pilihan, sukarela, untuk membantu suami. Tapi dalam derajat perekonomian yang rendah, peran perempuan untuk menopang ekonomi rumah tangga menjadi suatu beban moral dan menjadi tuntutan kebutuhan. Demikian juga dengan urusan reproduktif, keterlibatan laki-laki dalam urusan domestik reproduktif bersifat membantu perempuan. Pada tipe pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar atau keterampilan maskulin seperti memperbaiki genteng, pagar dan perbaikan rumah lainnya, dimana pekerjaan tersebut diserahkan kepada laki-laki. Namun secara umum, pekerjaan domestik berada dalam kontrol perempuan.
Dalam proses pengambilan keputusan (baik keputusan dalam urusan produktif, reproduktif dan urusan hubungan sosial kemasyarakatan), hasil survey
di kedua desa teridentifikasi memiliki 5 pola pelibatan gender, yaitu: didominasi laki-laki, didominasi perempuan, laki-laki dan perempuan berperan setara, kontrol laki-laki dengan melibatkan perempuan, kontrol perempuan dengan melibatkan laki-laki. Kelima pola tersebut teridentifikasi di lokasi penelitian dengan gradasi yang berbeda-beda.
Tabel 10 Proporsi peran gender dalam pengambilan keputusan di Desa Cikeusal
Keputusan dalam hal
Persentase (%) L P L & P Setara L melibatkan P P melibatkan L
Pemilihan jenis tanaman hutan rakyat 40.6 2.9 44.9 4.3 7.2
Pemilihan jenis tanaman pertanian 20.8 2.1 70.8 0.0 6.3
Pengaturan jadwal kerja keluarga 19.1 29.4 51.5 0.0 0.0
Pemeliharaan ternak 7.2 2.9 5.8 0.0 0.0
Pemanenan hutan rakyat 33.3 2.9 8.7 2.6 7.9
Pemanenan jenis pertanian 20.0 8.0 66.0 0.0 6.0
Membelanjakan uang keluarga 2.9 67.6 26.5 0.0 2.9
Meminjam uang untuk keluarga 50.0 25.0 25.0 0.0 0.0
Belanja alat rumah tangga 0.0 58.0 36.2 2.9 2.9
Menghadiri pertemuan 70.0 10.0 4.3 10.0 5.7
Melanjutkan pendidikan anak 17.1 0.0 74.3 0.0 8.6
Menghadiri undangan sekolah 8.7 10.2 0.0 0.0 0.0
Membeli menu makanan 1.5 79.7 7.2 2.9 8.7
Tabel 11 Proporsi peran gender dalam pengambilan keputusan di Desa Kananga
Keputusan dalam hal
Persentase (%) L P L & P setara L melibatkan P P melibatkan L
Pemilihan jenis tanaman hutan rakyat 15.6 0.0 4.4 73.3 6.7
Pemilihan jenis tanaman pertanian 6.7 0.0 73.3 15.6 4.4
Pengaturan jadwal kerja keluarga 6.7 8.9 71.1 11.1 2.2
Pemeliharaan ternak 4.4 2.2 6.7 0.0 0.0
Pemanenan hutan rakyat 20.0 2.2 8.9 0.0 10.0
Pemanenan jenis pertanian 8.9 0.0 75.6 11.1 4.4
Membelanjakan uang keluarga 11.1 6.7 42.2 6.7 33.3
Meminjam uang untuk keluarga 66.7 0.0 0.0 33.3 0.0
Belanja alat rumah tangga 6.7 44.4 15.6 4.4 28.9
Menghadiri pertemuan kelompok 15.6 2.2 2.2 68.9 11.1
Melanjutkan pendidikan anak 26.7 20.0 11.1 17.8 24.4
Menghadiri undangan sekolah 4.4 15.6 0.0 0.0 0.0
Dengan membaca Tabel 10 dan 11, terlihat bahwa kecenderungan umum di lokasi penelitian menempatkan laki-laki dan perempuan lebih setara dan sedikit dominasi laki-laki pada proses pengambilan keputusan terkait urusan produktif, baik pada hutan rakyat maupun non hutan rakyat. Dalam urusan domestik reproduktif, pembagian peran gender relatif tidak memiliki pola yang jelas, tersebar secara acak antara dominasi laki-laki, dominasi perempuan, setara, maupun kontrol dengan pelibatan pasangannya. Adapun dalam urusan sosial kemasyarakatan terbagi dua pola, yaitu: dominasi laki-laki dan kontrol laki-laki terjadi pada pilihan keputusan menghadiri pertemuan kelompok, meminjam uang untuk keperluan keluarga, sementara dominasi perempuan terjadi pada pilihan menghadiri undangan sekolah anak.
Jika dicermati pada masing-masing desa, pola partisipasi gender dalam proses pengambilan keputusan relatif berbeda. Di Cikeusal, peran laki-laki dan perempuan lebih setara dalam semua urusan produktif, yaitu: pemilihan jenis tanaman hutan rakyat, pemilihan jenis tanaman pertanian, pemanenan hasil pertanian. Adapun pemanenan hutan rakyat berada dalam kontrol laki-laki dengan melibatkan perempuan. Sedangkan di Desa Kananga, peran setara antara laki-laki dan perempuan terjadi pada proses pengambilan keputusan untuk penentuan jenis tanaman pertanian dan pemanenan hasil pertanian. Sementara pengambilan keputusan pemilihan jenis tanaman hutan rakyat merupakan kontrol laki-laki dengan melibatkan perempuan.
Pada proses pengambilan keputusan urusan domestik di Desa Cikeusal dan Desa Kananga memiliki perbedaan. Di Desa Cikeusal, belanja keluarga, belanja alat rumah tangga dan pemilihan menu makanan menjadi domain perempuan, sementara di Desa Kananga bervariasi dimana belanja keluarga setara, sedangkan belanja alat rumah tangga dan membeli menu makanan menjadi domain perempuan. Adapun pendidikan anak merupakan pilihan yang diputuskan bersama antara laki-laki dan perempuan secara setara di Desa Cikeusal dan domain laki-laki di Desa Kananga. Adapun urusan sosial kemasyarakatan, di Desa Cikeusal terjadi dominasi laki-laki dalam memutuskan kehadiran dalam pertemuan kelompok dan meminjam uang untuk keperluan keluarga serta dominasi perempuan dalam keputusan menghadiri undangan sekolah. Sedikit berbeda di Desa Kananga, keputusan menghadiri pertemuan kelompok merupakan kontrol laki-laki melibatkan perempuan, sementara keputusan meminjam uang untuk kepentingan keluarga ada pada kontrol laki-laki, sedangkan menghadiri undangan sekolah merupakan dominasi perempuan.
Tabel 12 Rata-rata curahan waktu kerja pada pengelolaan hutan rakyat
Tahapan Hutan Rakyat
Desa Cikeusal (jam/hari) Desa Kananga (jam/hari) Rata-rata per kegiatan (jam/hari) L P L P L P
Persiapan dan pembersihan lahan 6.3 4.8 6.7 6.0 6.5 5.4
Penanaman 4.2 3.7 6.9 4.0 5.5 3.8
Pemeliharaan 5.3 5.2 7.0 7.4 6.1 6.3
Pemasaran hasil 1.1 1.0 0.9 1.0 1.0 1.0
Perbandingan curahan waktu kerja laki-laki dan perempuan dalam pengelolaan hutan rakyat menjelaskan bahwa alokasi waktu kerja antara laki-laki dan perempuan relatif berbeda pada kedua desa. Di Desa Cikeusal, rata-rata waktu kerja laki-laki lebih banyak dibanding waktu kerja perempuan ketika berpartisipasi pada hutan rakyat pada seluruh tahapan kegiatan. Rata-rata waktu kerja hampir relatif sama terjadi pada kegiatan pemeliharaan dan pemasaran hasil. Namun di Desa Kananga, rata-rata waktu kerja perempuan relatif lebih tinggi pada kegiatan pemeliharaan dan pemasaran hasil. Sementara pada persiapan lahan dan penanaman, alokasi waktu kerja laki-laki lebih tinggi (Tabel 12).
Alokasi curahan waktu kerja gender di kedua desa memperlihatkan bahwa laki-laki memberikan alokasi lebih tinggi dari pada perempuan pada kegiatan persiapan/pembersihan lahan dan kegiatan penanaman. Pada kegiatan pemeliharaan alokasi waktu kerja perempuan lebih tinggi dari laki-laki (6.3 jam/ hari untuk perempuan dan 6.1 jam/hari untuk laki-laki) dan pada kegiatan pemasaran hasil alokasi waktu kerjanya berimbang (1.1 jam/hari). Fenomena demikian menunjukkan bahwa perempuan dapat intensif berpartisipasi pada kegiatan hutan rakyat yang tidak memerlukan tenaga besar seperti pemeliharaan