3.4. Program Partisipasi Rutin
3.4.2 Partisipasi Petani melalui Dana Desa
Pengembangan program percepatan peningkatan tata guna air irigasi dilakukan untuk mendukung kedaulatan pangan nasional dan mendukung kemandirian ekonomi domestik dan daerah. Salah satu sumber pendanaan dan pembiayaan program yang dilakukan oleh pemerintah yaitu APBN, untuk pemerintah tingkat pusat maupun daerah, termasuk tingkat desa sebagai penyelenggara dan pelaksana di lapangan secara langsung. Dana APBN disalurkan ke daerah melalui dana desa sebagai sumber pendapatan desa yang ditransfer melalui APBD kabupaten/kota untuk mendanai penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan, pembinaan masyarakat, dan pemberdayaan masyarakat.
Menurut UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, pasal 78 tentang pembangunan desa menyatakan bahwa proses pembangunan desa merupakan wujud kebersamaan dan gotong royong dari warga desa dengan memprioritaskan aspirasi mayoritas masyarakat. Penggunaan dana desa untuk kegiatan pengembangan dan pengelolaan irigasi dimungkinkan karena berdasarkan prinsip pada UU No. 6 Tahun 2018 tentang Desa dan Peraturan Menteri Desa Tertinggal dan Transmigrasi No. 16 Tahun 2018 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa yang diperbaharui menjadi Peraturan Menteri DTT No. 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa, dimana pada pasal 9 memberikan arahan yaitu: 1) membiayai pelaksanaan bidang pembangunan yang terkait dengan bidang pembinaan dan pemberdayaan masyarakat desa; 2) membiayai kegiatan lintas bidang; dan 3) memberi manfaat seluasnya bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup.
Program kegiatan desa ini dihasilkan berdasarkan pada musyawarah desa melalui tahapan berbagai musyawarah yang terdiri dari 7 tahapan musyawarah yang dimulai dengan musyawarah kelompok. Gambaran utuh mengenai tahapan musyawarah desa tersebut terjadi pada Gambar 4.
Gambar 4. Bagan Tahapan Musyawarah Desa
Penentuan kegiatan partisipatif diawali dengan musyawarah kelompok hingga musyawarah desa. Masyarakat terlibat mulai dari musyawarah kelompok hingga terbentuk RPJMDesa untuk menentukan prioritas program yang akan dilakukan oleh desa. Selain dalam musyawarah, masyarakat terlibat dalam program yang dilaksanakan, seperti peserta pelatihan, tenaga kerja pembangunan, dan lain lain.
Program prioritas yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa (petani) meliputi: 1) pengembangan produk unggulan desa/kawasan perdesaan; 2) pembangunan dan pengembangan embung dan/atau penampungan air kecil lainnya; 3) pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana olahraga desa; dan 4) pembentukan dan pengembangan Badan Usaha Milik Desa dan/atau Badan Usaha Milik Desa Bersama. Prioritas penggunaan dana desa berdasarkan pada prinsip: 1) kebutuhan prioritas; 2) keadilan; 3) kewenangan desa; 4) fokus; 5) partisipatif; 6) swakelola; dan 7) berbasis sumber daya desa. Dari pasal 8 ayat 1 (b) tersebut dinyatakan bahwa prioritas penggunaan dana desa dapat digunakan untuk pembangunan dan pengembangan embung desa/atau penampungan air kecil. Dengan prinsip dan prioritas tersebut, maka alokasi dana desa yang diperuntukkan untuk pembangunan pengelolaan jaringan irigasi memang tidak ada secara eksplisit. Namun sudah muncul dalam lampiran daftar kegiatan prioritas bidang pembangunan desa. Penentuan program prioritas irigasi desa melalui musyawarah desa cukup relevan untuk dilakukan masyarakat yang wilayahnya berada pada jaringan irigasi dan areal sawah. Salah satu contoh pelaksanaan kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi menggunakan dana desa dapat ditemui di DI Renggung kewenangan provinsi, di Kabupaten Lombok Barat, NTB.
Menurut Permendes No. 11 Tahun 2019 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa 2020, pemanfaatan dan penggunaan dana desa wajib berdasarkan daftar kewenangan desa skala desa melalui identifikasi dan inventarisasi oleh Pemda Kabupaten/Kota dengan melibatkan desa. Di tingkat desa, besarnya dana desa yang diterima tergantung pada hasil identifikasi dan evaluasi pemerintah kabupaten/kota sesuai prioritas penggunaan dana desa. Secara lengkap, prosedur pengelolaan dana desa yang diawali dengan usulan desa diatur melalui PMK No. 305 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Dana Desa, prosedur tersebut ditetapkan dengan landasan akuntabilitas sehingga pemerintah kabupaten/kota mempunyai kontrol dalam pelaksanaan dana
desa. Gambaran proses pengajuan dana desa hingga disetujui dan bahkan sampai penyaluran dana desa dapat ditunjukkan pada Gambar 5.
Gambar 5. Prosedur Tahapan Pengajuan Dana Desa (Kemendesa 2020)
Penyaluran dana desa dilaksanakan dari pemerintah pada kabupaten dilaksanakan melalui cara pemindahan buku dari RKUN ke RKUD. Selanjutnya, dana yang ada diberikan pada pemerintah kabupaten ke desa. Penyaluran dana desa dijalankan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut
Masyarakat berhak berpartisipasi dalam penentuan prioritas penggunaan dana desa untuk mewujudkan peningkatan kualitas hidup manusia, peningkatan kesejahteraan masyarakat desa dan penanggulangan kemiskinan. Masyarakat juga dapat berpartisipasi dalam perencanaan dan pembangunan, pemberdayaan masyarakat, pengawasan dan pemantauan yang disepakati dalam musyawarah desa. Kegiatan yang masuk ke dalam daftar kegiatan prioritas bidang pembangunan desa adalah pengadaan, pembangunan, pengembangan dan pemeliharaan sarana prasarana produksi dan pengolahan hasil usaha pertanian dan/atau perikanan untuk ketahanan pangan dan usaha pertanian berskala produktif yang difokuskan kepada pembentukan dan pengembangan produk unggulan desa dan/atau produk unggulan kawasan perdesaan seperti irigasi desa dan perbaikan dan penataan sistem irigasi/drainase hemat air sebagai mitigasi perubahan iklim. Kegiatan ini dapat menyerap tenaga kerja/padat karya dalam jumlah besar.
Untuk mendukung ketahanan pangan dan peningkatan pendapatan petani, dana desa dapat dimanfaatkan untuk pelaksanaan pelatihan terkait pertanian, termasuk kegiatan pendukung lain yang bekerja-sama dengan berbagai pihak seperti paguyuban pedagang/hasil pertanian, BUMDes, supermarket untuk pemasaran, dan lain lain. Kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi yang dilaksanakan pemerintah desa dilaksanakan
di tingkat jaringan irigasi tersier, jaringan irigasi desa atau juga untuk pembangunan bendungan berskala kecil, embung desa, kolam mata air, plesengan sungai, dan lain lain.
Anggaran dana desa untuk Tahun Anggaran 2020 sebesar Rp 72 triliun, meningkat dibandingkan pada TA 2019 sebesar Rp 70 triliun yang dimaksudkan untuk pemberdayaan masyarakat desa dan pengembangan potensi ekonomi desa. Dampak positif dari pajak yang dibayarkan oleh masyarakat sebagai sumber pendapatan negara adalah adanya kegiatan pembangunan melalui dana desa. Agar pengelolaan dana desa dapat berjalan sesuai rencana, dilakukan pengawasan yang dilakukan oleh Kemendagri, yang dapat ditunjukkan pada Gambar 6.
Gambar 6. Pola Pengawasan dan Pengelolaan Dana Desa (Kemendagri 2020)
Dana desa harus diinformasikan kepada masyarakat dalam ruang terbuka dan mudah diakses. pengawasan dana desa dapat dilakukan secara vertikal dan horizontal. salah satu pengawasan dana desa secara vertikal dilakukan oleh pemerintah daerah provinsi dan kab/kota hingga dikelola dan dikembangkan oleh desa melalui Bumdes. Peran bupati/walikota dalam pengawasan dana desa yaitu: 1) melakukan verifikasi data desa; 2) menetapkan perda tentang rincian dana desa per desa; 3) verifikasi dokumen persyaratan penyaluran; 4) menetapkan pedoman teknis pelaksanaan kegiatan yang didanai oleh dana desa; 5) evaluasi perdes terkait anggaran pendapatan belanja desa; 6) pendampingan atas penggunaan dana desa; 7) monev pelaksanaan dana desa, sisa dana desa di rekening kas desa dan capaian keluaran dana desa. Sementara camat bertanggungjawab untuk: 1) memastikan ketepatan waktu atas penyampaian persyaratan; 2) memastikan ketepatan waktu penyampaian perdes mengenai APBDes; 3) melakukan evaluasi rancangan perdes mengenai APBDes dan belanja desa; 4) pendampingan atas penggunaan dana desa.
Pengelolaan dana desa harus sesuai dengan kriteria usulan dan persyaratan penggunaan dana desa. Dana desa dapat digunakan sebagai usaha layanan, perdagangan dan jasa, dan layanan keuangan. Keberhasilan dan akuntabilitas penggunaan/pengelolaan dana desa ini didukung dengan SDM dan SISDUR yang memadai, sehingga pengelolaan keuangan desa menjadi efektif, efisien, dan tepat waktu.
Pada praktiknya, banyak risiko dalam pengelolaan dana desa mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, hingga pertanggungjawaban keuangan desa. Agar keuangan desa menjadi efektif, maka dilakukan pengawasan keuangan desa mulai dari input SDM dan SISDUR, bagi hasil pajak kab/kota, ADD, bantuan keuangan lain yang diperoleh sebagai dana desa seperti bantuan keuangan, hibah, sumbangan, dan pendapatan desa lain yang sah. Sehingga pelaporan dan pertanggungjawaban menjadi jelas.
Penyaluran dana desa dilakukan dengan cara pemindahbukuan dari RKUN (KPPN setempat) ke RKUD secara bertahap. Kemudian Dana Desa tersebut disalurkan oleh kabupaten/kota kepada Desa dengan dengan cara pemindahbukuan dari RKUD ke RKD (Rekening Kas Desa) . Dengan mekanisme tersebut, diharapkan Dana Desa akan lebih cepat diterima oleh desa, pengendapan Dana Desa di RKUD tidak akan terjadi, serta tetap tercatat dalam APBD Kabupaten/Kota. Dalam hal ini, Kemendagri selaku pihak yang memfasilitasi upaya pencegahan, pengawasan dan penanganan permasalahan dana desa pada tingkat pusat serta ikut dalam memfasilitasi kerjasama para pihak di daerah. Selain itu dalam pengelolaan keuangan desa terdapat sistem yang mengatur dana desa. Terdapat SISKEUDES dan SISWASKEUDES yang juga memiliki peran penting dalam pengelolaan keuangan desa, dimana keduanya harus memastikan dana yang telah diproses dan diterima sesuai dengan kriteria yang diajukan sehingga dapat menghasilkan output yang akuntabel.
Pada pelaksanaan pemberdayaan masyarakat, partisipasi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya serta pendapatan/ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan tenaga kerja setempat secara swakelola. Dana desa harus dialokasikan sebesar minimum 30% dari dana desa untuk upah tenaga kerja. Besarnya upah tenaga kerja untuk pekerjaan irigasi yaitu sebesar 40%. Besarnya upah tenaga kerja swakelola dari seluruh kegiatan dana desa ditentukan menurut satuan standar harga yang berlaku. Salah satu contoh pelaksanaan penyelenggaraan pemerintah desa menggunakan dana desa yaitu di Desa Krasak, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Dasar aturan yang digunakan dalam penyelenggaraan dana desa ini ditunjukan pada Gambar 7.
Gambar 7: Bagan Tahapan dan Proses Penyelenggaraan Dana Desa Krasak, Kabupaten Wonosobo
Penyusunan dan desa harus mengikuti regulasi dan peraturan yang ada mulai dari tingkat pusat, pemprov, pemkab/kota, hingga pemdes. Peraturan yang digunakan untuk menyusun APBDes yaitu:
1) Tingkat pusat : PMK 305/2019, Permendes 11/2019, Permendagri
2) Tingkat provinsi (studi Provinsi Jawa Tengah): Pergub prov.Jateng 7/2019 dan 6/2019
3) Tingkat kab/kota (studi Kab.Wonosobo): Perbup Kab 49 dan 50/2019
Dengan mengikuti regulasi yang ada, pemerintah desa melakukan musyawarah desa musyawarah desa bersama perangkat desa dan perwakilan desa untuk membahas kebutuhan dan prioritas kegiatan yang akan dilakukan untuk diusulkan ke kabupaten sesuai dengan persyaratan usulan yang telah ditetapkan. Kemudian usulan yang sudah diterima diterbitkan dalam RPJMNDesa yang menyebutkan rincian dana desa dan belanja desa.
Di dalam Perbup No. 49 Tahun 2019 tentang Pedoman Pelaksanaan dan Transfer ke Desa Tahun 2020, tidak disebutkan kegiatan penyelenggaran terkait pembangunan/rehab jaringan irigasi maupun OP jaringan irigasi untuk mendukung pertanian. Meskipun tidak disebutkan besaran/nilai partisipasi masyarakat desa, telah disebutkan tujuan dari dana transfer ke daerah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Pelaksanaan partisipasi ini lebih bersifat umum dan tergantung pada program prioritas desa yang dilakukan. Pembagian dan alokasi anggaran APBDesa tersebut dapat digambarkan pada Gambar 8.
Gambar 8: Grafik Alokasi Belanja Desa (Pemdes Krasak, Jawa Tengah 2020)
Total APBDes Desa Krasak TA 2020 yaitu sebesar Rp 1.373.069.222,- dimana kegiatan irigasi yang dilaksanakan berupa pembangunan sender irigasi sawah/Sungai Toblo (lanjutan) yang masuk kedalam kegiatan pemberdayaan masyarakat desa. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan ini ada sebagai pelaksana kegiatan penyelesaian pekerjaan yang sudah dilakukan pada tahun 2019 dengan anggaran sebesar Rp 11.500.000,-. Anggaran ini dinilai kecil karena bersifat penyelesaian pekerjaan.
Kegiatan partisipasi petani dalam rehabilitasi jaringan irigasi dengan dana desa tidak dilaksanakan melalui kerja sama tertulis atau kontrak kerja dengan P3A/GP3A, tetapi hanya melibatkan petani secara individu yang menjadi penduduk dari desa yang menerima dana desa tersebut. Poktan/Gapoktan dan masyarakat hanya berperan sebagai pengusul kegiatan dan melakukan pengawasan dalam pelaksanaan kegiatan konstruksinya sebagai tenaga kerja. Besarnya persentase keterlibatan masyarakat/petani di desa tidak ditentukan secara eksplisit. Pelaksanaan kegiatan dilakukan oleh Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) dari Desa. Sehingga pola kegiatan partisipasi petani pada pelaksanaan pengembangan dan pengelolaan jaringan irigasi dari dana desa tidak dapat digolongkan sebagai pola yang dapat memperkuat kelembagaan petani/Poktan/P3A/GP3A.
IV. ANALISIS
Pada era demokratisasi, aspek partisipasi mutlak dijalankan. Dengan berkaca pada negara maju, peran pemerintah sebagai regulator lebih mendominasi sehingga harus mendorong partisipasi masyarakat dalam implementasi kegiatan. Dorongan, kebutuhan, tuntutan, dan keharusan pendekatan partisipasi dapat ditunjukkan pada Gambar 9.
Gambar 9: Bagan Era Pemerintahan Dalam Pelaksanaan Partisipasi
Pelaksanaan pendekatan partisipasi petani perlu didukung oleh kapasitas kelembagaan yang baik sehingga memerlukan pemberdayaan yang lebih komprehensif. Selain itu, sumber pendanaan dan pembiayaan kegiatan partisipasi juga diperlukan untuk memastikan kegiatan partisipasi dapat berkelanjutan dengan diiringi regulasi yang dapat memberikan aturan yang jelas untuk memberikan kewajiban kepada pemerintah dalam rangka melibatkan petani pada kegiatan partisipasi pengembangan dan pengelolaan irigasi.
4.1 Kelembagaan P3A/GP3A
Pelaksanaan pendekatan partisipasi dalam kegiatan rehabilitasi merupakan suatu upaya untuk memberdayakan petani Poktan/P3A/GP3A dalam pengelolaan irigasi di wilayah kerja masing-masing. Keberadaan dan kinerja dari P3A/GP3A sangat menentukan keberhasilan pendekatan partisipasi yang dilaksanakan dalam kegiatan rehabilitasi dan kegiatan OP jaringan irigasi. Akan tetapi, dari hasil pemantauan partisipasi yang dilaksanakan oleh beberapa instansi pemerintah yang mempunyai kewenangan dalam pemberdayaan P3A/GP3A, ternyata kinerja P3A/GP3A secara fungsional belum seperti yang diharapkan. Dari faktor kebijakan tentang pemberdayaan P3A sejak tahun 1984 pemerintah telah mengeluarkan peraturan berupa Instruksi Presiden No. 2 Tahun 1984 tentang Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Inpres tersebut mengatur peningkatan kinerja sistem irigasi di Indonesia dimana petani pemakai air perlu mengorganisasi diri menjadi P3A pada tingkat jaringan irigasi tersier dan irigasi desa. Kemudian salah satu
sasaran dari pembentukan dan pemberdayaan P3A yaitu menjadi P3A sebagai organisasi yang mandiri yang mempunyai kapasitas yang baik pada 3 (tiga) kemampuan utama yaitu (1) kemampuan kelembagaan/organisasi; (2) kemampuan teknis, baik teknis irigasi dan teknis budidaya tanaman; dan (3) kemampuan finansial.
Selanjutnya dalam perkembangannya, pemerintah mengeluarkan peraturan pelaksana tentang pemberdayaan P3A, yaitu Peraturan Menteri PU No. 33 Tahun 2007 tentang Pemberdayaan P3A, Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 50 Tahun 2001, dan Peraturan Menteri Pertanian No. 79 Tahun 2017. Namun, ketiga peraturan tersebut lebih fokus melakukan pengaturan pada pembentukan organisasi dan pada aspek legalitas badan hukum. Pemberdayaan P3A/GP3A dilaksanakan sebagai upaya dalam menjadikan petani sebagai pelaku utama dalam pelaksanaan kegiatan partisipasi dalam kegiatan rehabilitasi dan kegiatan OP jaringan irigasi. Akan tetapi, pada pelaksanaan di beberapa proyek tertentu tidak dilakukan persiapan terhadap beberapa syarat untuk pembekalan atau pelatihan kepada P3A/GP3A. Misalnya pelatihan teknik rehabilitasi, pelatihan manajemen proyek rehabilitasi jaringan irigasi, pelatihan pengelolaan keuangan, dan pelatihan administrasi proyek serta pelatihan pelaporan. Akibatnya, dalam pelaksanaan kegiatan partisipasi dalam kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi, terkesan dilaksanakan tergesa-gesa dan kemudian terkesan bahwa petani/P3A/GP3A tidak siap dalam pelaksanaan kegiatan partisipasi petani dalam rehabilitasi jaringan irigasi.
Dalam pengembangan teknologi, kapasitas kelembagaan petani dan kualitas partisipasi petani dalam pengelolaan sistem irigasi sangat dibutuhkan, sehingga pemberdayaan petani Poktan/P3A dinilai penting untuk menunjang peningkatan kapasitas kelembagaan terutama seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi. Upaya pemanfaatan teknologi ini dilakukan dalam pengelolaan irigasi melalui sistem informasi pelaporan OP Irigasi seperti Sistem Manajemen Operasi Dan Pemeliharaan Irigasi (SMOPI), dan elektronik Pengelolaan Aset Irigasi dan Indeks Kinerja Irigasi (e-PAKSI). Peningkatan kapasitas kelembagaan Poktan/P3A, diharapkan P3A/GP3A/IP3A dapat ikut terlibat dan berpartisipasi dalam pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan di lapangan, termasuk informasi kerusakan jaringan irigasi secarareal time. Partisipasi petani dalam pelaporan kerusakan jaringan ini telah dicoba oleh Bappenas melalui program Leveraging ICT For Irrigated Agricultural Extension (Grant ADB) di Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Pasaman Barat.
Peningkatan partisipasi masyarakat petani akan meningkatkan ownership atau rasa memiliki sehingga petani ikut menjaga aset infrastruktur irigasi. Pada tahap lanjut, kondisi tersebut membuka peluang bagi petani melalui organisasi P3A/GP3A yang dapat direkrut secara profesional sebagai tenaga OP jaringan irigasi terutama untuk petugas pintu air (PPA) dengan memprioritaskan tenaga P3A yang dekat dengan lokasi bangunan operasional. Selain itu, adanya pemanfaatan aset teknologi seperti telemetri dan sensor yang dipasang pada area sekitar daerah irigasi pada level dasar minimal membutuhkan pengamanan yang dapat memanfaatkan petani, sehingga akan lebih terjamin jika adanya rasa memiliki yang muncul dari partisipasi petani.