BAB III RELASI ANTARA KEPALA DESA DENGAN BADAN
B. Applikasi Tata Kelola Pemeritahan Yang Baik Di Desa Pohan Tonga
B.3 Partisispasi Dalam Penerapan Good Governance
Desentralisasi sebagai bagian dari perpindahan arah keputusan yang dimulai dari level pemeritahan paling kecil menyiratkan bahwa keputusan yang dibuat dari desa adalah keputusan bersama. Artinya keputusan yang ada di desa adalah hasil dari diskusi antara masyarakat dan pemerintahan desa. Wujud dari upaya akumulasi pembuatan keputusan ini dilaksanakan dalam musrembangdes.
Musrembangdes merupakan kegiatan bersama dalam rangka bermusyawarah antara masyarakat dan penyelenggara pemerintah. Musrembangdes yang diusulkan oleh pemerintah menjadikan pemerintah sebagai kunci dalam membuka kran partisipasi masyarakat. Artinya jika pemerintah tidak memfasilitasi dan mengundang masyarakat untuk melakukan musyawarah maka
dapat dipastikan bahwa proses pengambilan keputusan hanya akan dilakoni oleh para elit desa dan bahkan masyarakat akan menjadi semakin apatis terhadap pemerintahan.
Partisipasi memberi ruang gerak kepada masyarakat yang menjadikan masyarakat dari yang sekedar peduli terhadap penerima derma menuju kepedulian dengan pelbagai bentuk keikutsertaan warga dalam pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan di berbagai gelanggang kunci yang mempengaruhi kehidupan mereka. Partisipasi juga merupakan kunci cerminan keaktifan masyarakat dalam perbaikan pemerintahan. Artinya saat partisipasi telah berjalan maka masyarakat otomatis akan sadar terhadap segala hak dan kewajibannya sehingga masyarakat akan memaksa pemerintah daerah untuk melakukan yang terbaik, dengan kata lain msayarakat dapat berperan sebagai kontrol terhadap pemerintah.
Praktek partisipasi yang dilakukan di Desa Pohan Tonga tergolong menarik, karena masyarakat dipaksa untuk hadir dengan cara yang berbeda. Keputusan kepala desa beserta perangkat desa yang mengharuskan masyarakat yang ingin dusunnya mendapat pembangunan harus datang ke musrembang dan memenangkan perencanaan pembangunan. Jika dusun satu ingin alokasi pembangunan dilakukan di dusun mereka, maka mereka harus datang dengan jumlah yang banyak. Hal ini dikarenakan perencanaan pembangunan di Desa Pohan Tonga adalah dengan hasil pengumpulan suara terbanyak dengan tentunya melihat prioritas terpenting. Dalam prakteknya sesuai dengan yang diutarakan
oleh bapak Lambok yang mengatakan “jika ingin mendapat bangunan maka masyarakat akan sangat antusias untuk melakukan musrembang, namun ada kalanya saat masyarakat tidak mendesak maka disatu sisi perwakilan dusun bisa
tidak hadir di rapat musrembang”42
. Hal ini menjadi fenomena menarik dalam peningkatan partisipasi masyarakat dimana masyarakat dituntut untuk terlebih dahulu bersama kemudian masyarakat dapat menerima alokasi pembangunan. Pada saat ada perebutan antara dua atau tiga dusun yang memerlukan pembangunan, maka dengan terbatasnya dana dusun-dusun akan mendapat dukungan dari dusun lain yang akan mempertimbangkan dusun mana yang lebih layak untuk mendapat bantuan tersebut. Seperti pernyataan bapak Torang Silalahi
yang mengatakan “ di desa kami ini masih bisa ditemui toleransi sesama masyarakat, seperti contoh pada sebuah musrembang kami melihat dusun 5 (pargompulan) layak mendapat pembangunan akibat riskannya tali air di susun mereka maka kami dusun 6 membantu dengan memberikan suara agar alokasi dana diberikan untuk pembangunan di dusun 5 tersebut”43.
Hal ini cukup bagus menurut penilaian para masyarakat dan seluruh narasumber yang sepakat bahwa dengan cara yang dibuat oleh kepala desa dalam setiap musrenbang mengalami peningkatan partisipasi dalam masyarakat. Tidak hanya akan menjadi bagian yang hanya sekedar datang untuk melihat namun partisipasi yang tentunya didasari oleh toleransi dapat memperat hubungan antara masyarakat desa. Artinya dengan dilakukannya vooting terhadap penempatan
42
Opcit, Bapak Lambok Silalahi
43
pembangunan maka masyarakat menjadi tahu dan terkadang melihat ke tempat yang akan dijadikan sebagai alokasi bantuan. Disamping itu masyarakat bisa memberikan dukungan kepada pembangunan di daerah yang paling membutuhkan.
Pada kesempatan pembagian bantuan seperti raskin maka masyarakat desa yang memenuhi kuota layak mendapat raskin adalah hanya sebanyak 186 KK, namun dalam pembagiannya kepada masyarakat menjadi sekitar 300 KK. Hal ini dilakukan oleh pemerintah desa karena melihat para masyarakatnya yang memang tergolong dapat dikatakan harus dibantu dalam kehidupannya. Hal ini bisa terwujud karena telah dilakukannya musyawarah kepada masyarakat dan memunculkan keputusan yang berisi bahwa seluruh masyarakat diluar PNS dapat menerima raskin. Pengumuman mengenai pengambilan raskin diumumkan dalam acara ibadah di gereja – gereja. Administrasi raskin tersebut adalah membawa fotokopi kartu keluarga, yang kemudian mendapat kritik dari masyarakat dan kemudian diakomodir oleh BPD dan disampaikan kepada pemerintah desa. Solusi yang ambil adalah bahwa mereka yang hanya membawa KTP akan diberikan raskin dengan catatan harus sabar menunggu sampai seluruh masyarakat yang membawa fotokopi KK sudah selesai.
Hal ini dianggap ampuh oleh pemerintahan desa sebagai bagian dalam memberikan masyarakat arti pentingnya surat-surat dalam pencatatan sipil. Dan kemudian ditanggapi oleh masyarakat dengan keinginan untuk membuat surat- surat tersebut. Terbukti bahwa masyarakat Desa Pohan Tonga sudah hampir 85%
memiliki akte nikah dan akte lahir bagi anak-anaknya. Hal ini sesuai dengan apa
yang diutarakan oleh bapak torang yang berkata “ada hikmah dari apa yang dibuat oleh kades baru ini, terlihat dari kesediaan masyarakat dalam membuat surat-surat ke capil di kabupaten, yang kalau disurvei sudah 85% masyarakat memiliki akte
lahir dan kawin”44 .
Dalam dinamika organisasi desa ini lebih menonjolkan pada PKK yang tergolong baik. Buktinya PKK dapat bertahan dalam organisasi desa yang sampai saat ini sudah ada 7 kelompok PKK. Organisasi lainnya adalah kelompok lansia yang memiliki agenda seperti koperasi, cek kesehatan setiap bulannya. Organisasi kepemudaan adalah organisasi POPTA (persatuan olahraga pemuda pohan tonga) yang berada dibawah naungan Karang Taruna. Namun yang aktif hanya PKK yang bekerjasama dan membantu pelaksanaan kegiatan lansia dan posyandu. Disamping itu dalam setiap karnaval pertanian, Desa Pohan Tonga selalu memberikan sumbangsihnya dari hasil alam yang ada di Desa Pohan Tonga tersebut.
C. Pelaksanaan Pemerintahan Desa Dalam Masyarakat Batak Di Desa