• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DESKRIPSI SINGKAT OBJEK PENELITIAN

C. Profil Desa Pohan Tonga

C.5 Struktur Organisasi Pemerintahan Desa Pohan Tonga

Bagan 1

Struktur Pemerintahan Desa Pohan Tonga

Kepala Desa Kampung Walben Siahaan Sekretaris Desa Desri Siahaan Kaur Pemerintahan Torang Tampubolon Kaur Pembangunan Oji Sihombing Kaur Pemuda/olahraga Mandostahi Hutagalung

Adapun sususan Badan Pemusyawaratan Desa Pohan Tonga adalah Bagan 2

Susunan Kepengurusan Badan Permusyawaratan Desa Ketua Saut Pasaribu Sekretaris Muktar Sianipar Wakil Ketua Pargaulan Hutagaol Anggota 1. Arta br.Purba 2. Morris Silalahi 3. Poltak Siahaan 4. Tohom Torang Silalahi 5. Paijo Siahaan 6. Parningotan Sianipar

BAB II

DESKRIPSI SINGKAT OBJEK PENELITIAN

A. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

A.1 Kabupaten Tapanuli Utara

Secara geografis Kabupaten Tapanuli Utara terletak pada koordinat 1º20'00" - 2º41'00" Lintang Utara (LU) dan 98 05"-99 16" Bujur Timur (BT). Berada pada ketinggian 150-1700 meter diatas permukaan laut. Tapanuli Utara memiliki luas daratan sekitar 3.793,71 dan luas perairan datanau toba 6,60 . Terdiri dari 15 kecamatan, 241 desa dan 4 kelurahan23.

Kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Garoga yaitu 567,58 dan kecamatan yang paling kecil luasnya adalah Kecamatan Muara sekitar 79,75 Tapanuli Utara memiliki jumlah penduduk sebanyak 285.070 jiwa (lk: 140.830 jiwa dan pr:144.240 jiwa) dimana kecamatan yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Siborongborong, dengan jumlah penduduk sebanyak 45.088 jiwa dan yang paling sedikit penduduknya adalah Kecamatan Purbatua dengan jumlah penduduk 7.313 jiwa.

Secara administratif Kabupaten Tapanuli Utara berbatasan dengan 5 (lima) kabupaten tetangga. Adapun batas-batas tersebut adalah sebagai berikut :

Sebelah Barat : Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Humbang Hasundutan

23

Dinar Butarbutar, Dkk. Tapanuli Utara Dalam Angka 2013: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara, hal.3

Sebelah Timur : Kabupaten Labuhan Batu Sebelah Utara : Kabupaten Toba Samosir Sebelah Selatan : Kabupaten Tapanuli Selatan

Dalam menopang perekonomian di Tapanuli Utara sektor pendapatan yang sangat berperan adalah sektor pertanian. Kontribusi pertanian dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tahun 2012 mencapai 52,28 % dari total PDRB yang dihasilkan. Pertanian tersebut terdiri dari sub sektor tanaman bahan makanan, perkebunan, peternakan dan kehutanan dan perikanan.

Tanaman bahan makanan didalamnya terdiri dari padi, palawija, hortikultura. Padi menjadi tanaman dominan di Tapanuli Utara yang tersebar di sawah seluas total 28.000 Ha, dan cabai seluas 937 Ha. Perkebunan didominasi kemenyan dan kopi arabika dengan kemenyan seluas 16.181,50 Ha. Sedangkan peternakan difokuskan pada kerbau babi dan ayam, dan untuk perikanan masih berupa budi daya rumah tangga sebanyak 2.596 dengan penangkapan sebanyak 937 rumah tangga yang total penangkapannya sebanyak 1.774 ton.

Pemerintahan Tapanuli Utara saat ini berada pada masa periode bupati Drs. Nikson Nababan dan wakilnya Drs. Mauliate Simorangkir, M.Si. Banyaknya kursi anggota DPRD di Tapanuli Utara hanya 35 kursi dengan 5 daerah pemilihan.

Gambar 2.1. Peta Tapanuli Utara Sumber: BPS Tapanuli Utara

A.2 Sejarah Singkat Kabupaten Tapanuli Utara

A.2.1 Masa Hindia Belanda dan Jepang

Pada masa Hindia Belanda, Kabupaten Tapanuli Utara termasuk Kabupaten Dairi dan Toba Samosir yang sekarang termasuk dalam keresidenan Tapanuli yang dipimpin seorang Residen Bangsa Belanda yang berkedudukan di

Sibolga. Keresidenan Tapanuli yang dulu disebut Residentie Tapanuli terdiri dari 4 Afdeling (Kabupaten) yaitu Afdeling Batak Landen, Afdeling Padang Sidempuan, Afdeling Sibolga dan Afdeling Nias. Afdeling Batak Landen dipimpin seorang Asisten Residen yang ibukotanya Tarutung yang terdiri 5 Onder Afdeling (Wilayah) yaitu24:

 Onder Afdeling Silindung (Wilayah Silindung) ibukotanya Tarutung.

 Onder Afdeling Hoovlakte Van Toba (Wilayah Humbang) ibukotanya Siborongborong.

 Onder Afdeling Toba (Wilayah Toba) ibukotanya Balige.

 Onder Afdeling Samosir (Wilayah Samosir) ibukotanya Pangururan.

 Onder Afdeling Dairi Landen (Kabupaten Dairi sekarang) ibukotanya Sidikalang.

Tiap-tiap Onder Afdeling mempuyai satu Distrik (Kewedanaan) dipimpin seorang Distrikchoolfd bangsa Indonesia yang disebut Demang dan membawahi beberapa Onder Distrikten (Kecamatan) yang dipimpin oleh seorang Asisten Demang.

Menjelang Perang Dunia II, distrik-distrik di seluruh keresidenan Tapanuli dihapuskan dan beberapa Demang yang mengepalai distrik-distrik sebelumnya diperbantukan ke kantor Controleur masing-masing dan disebut namanya Demang Terbeschingking. Dengan penghapusan ini para Asisten Demang yang ada di

kantor Demang itu ditetapkan menjadi Asisten Demang di Onder Distrik bersangkutan.

Kemudian tiap Onder Distrik membawahi beberapa negeri yang dipimpin oleh seorang kepala Negeri yang disebut Negeri Hoofd. Pada waktu berikutnya diubah dan dilaksanakan pemilihan, tetapi tetap memperhatikan asal usulnya.

Negeri-negeri ini terdiri dari beberapa kampung, yang dipimpin seorang kepala kampung yang disebut Kampung Hoafd dan juga diangkat serupa dengan pengangkatan Negeri Hoofd. Negeri dan Kampung Hoofd statusnya bukan pegawai negeri, tetapi pejabat-pejabat yang berdiri sendiri di negeri/kampungnya. Mereka tidak menerima gaji dari pemerintah tetapi dari upah pungut pajak dan khusus Negeri Hoofd menerima tiap-tiap tahun upah yang disebut Yoarliykse Begroting.

Tugas utama Negeri dan Kampung Hoofd ialah memelihara keamanan dan ketertiban, memungut pajak/blasting/rodi dari penduduk Negeri/Kampung masing-masing. Blasting/rodi ditetapkan tiap-tiap tahun oleh Kontraleur sesudah panen padi.

Pada waktu pendudukan tentara Jepang Tahun 1942-1945 struktur pemerintahan di Tapanuli Utara hampir tidak berubah, hanya namanya yang berubah seperti:

 Asistent Resident diganti dengan nama Gunseibu dan menguasai seluruh tanah batak dan disebut Tanah Batak Sityotyo.

 Demang-demang Terbeschiking menjadi Guntyome memimpin masing- masing wilayah yang disebut Gunyakusyo.

 Asisten Demang tetap berada di posnya masing-masing dengan nama Huku Guntyo dan kecamatannya diganti dengan nama Huku Gunyakusyo.

 Negeri dan Kampung Hoofd tetap memimpin Negeri/Kampungnya masing-masing dengan mengubah namanya menjadi Kepala Negeri dan Kepala kampung.

A.2.2 Masa Pemerintahan Republik Indonesia

Sesudah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan tanggal 17 Agustus1945, pemerintah mulailah membentuk struktur pemerintahan baik di pusat dan di daerah. Dengan diangkatnya Dr. Ferdinand Lumbantobing sebagai Residen Tapanuli, disusunlah struktur pemerintahan dalam negeri di Tapanuli khususnya di Tapanuli Utara sebagai berikut :

 Nama Afdeling Batak Landen diganti menjadi Luhak Tanah batak dan sebagai luhak pertama diangkat Cornelis Sihombing.

 Nama Budrafdeling diganti menjadi Urung dipimpin Kepala Urung, Para Demang memimpin Onder Afdeling sebagai Kepala Urung.

 Onder Distrik diganti menjadi Urung kecil dan dipimpin Kepala Urung Kecil yang dulu disebut Asisten Demang.

Selanjutnya dalam waktu tidak begitu lama terjadi perubahan, nama Luhak diganti menjadi kabupaten yang dipimpin Bupati, Urung menjadi Wilayah yang dipimpin Demang, serta Urung Kecil menjadi Kecamatan yang dipimpin oleh Asisten Demang.

Pada tahun 1946 Kabupaten Tanah Batak terdiri dari 5 (lima) wilayah yaitu Wilayah Silindung, Wilayah Humbang, Wilayah Toba, Wilayah Samosir dan Wilayah Dairi yang masing-masing dipimpin oleh seorang Demang. Kecamatan-kecamatan tetap seperti yang ditinggalkan Jepang.

Pada Tahun 1947 terjadi Agresi I oleh Belanda dimana Belanda mulai menduduki daerah Sumatera Timur maka berdasarkan pertimbangan- pertimbangan strategis dan untuk memperkuat pemerintahan dan pertahanan, Kabupaten Tanah Batak dibagi menjadi 4 (empat) kabupaten. Wilayah menjadi kabupaten dan memperbanyak kecamatan.

Pada tahun 1948 terjadi Agresi II oleh Belanda, untuk mempermudah hubungan sipil dan Tentara Republik, maka pejabat-pejabat Pemerintahan Sipil dimiliterkan dengan jabatan Bupati Militer, Wedana Militer dan Camat Militer. Untuk mempercepat hubungan dengan rakyat, kewedanaan dihapuskan dan para camat langsung secara administratip ke Bupati.

Setelah Belanda meninggalkan Indonesia pada pengesahan kedaulatan, pada permulaan tahun 1950 di Tapanuli di bentuk Kabupaten baru yaitu

Kabupaten Tapanuli Utara (dulu Kabupaten Batak), Kabupaten Tapanuli Selatan (dulu Kabupaten Padang Sidempuan), Kabupaten Tapanuli Tengah (dulu Kabupaten Sibolga) dan Kabupaten Nias (dulu Kabupaten Nias). Dengan terbentuknya Kabupaten ini, maka kabupaten-kabupaten yang dibentuk pada tahun 1947 dibubarkan. Disamping itu ditiap kabupaten dibentuk badan legislatif Dewan Perwakilan Rakyat Sementara yang anggotanya dari anggota partai politik setempat.

Mengingat luasnya wilayah Kabupaten Tapanuli Utara meliputi Dairi pada waktu itu, maka untuk meningkatkan daya guna pemerintahan, pada tahun 1956 dibentuk Kabupaten Dairi yang terpisah dari Kabupaten Tapanuli Utara. Salah satu upaya untuk mempercepat laju pembangunan ditinjau dari aspek pertumbuhan ekonomi daerah, pemerataan hasil-hasil pembangunan dan stabilitas keamanan adalah dengan jalan pemekaran wilayah. Pada tahun 1998 Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan menjadi dua Kabupaten yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Toba Samosir sesuai dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 1998 tentang Pembentukan Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Mandailing Natal.

Kemudian pada tahun 2003 Kabupaten Tapanuli Utara dimekarkan kembali menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan sesuai dengan Undang-undang No. 9 Tahun 2003 tentang

pembentukan Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Pakpak Bharat dan Kabupaten Humbang Hasundutan.

Setelah Kabupaten Tapanuli Utara berpisah dengan Kabupaten Humbang Hasundutan jumlah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara menjadi 15 kecamatan. Kecamatan yang masih tetap dalam Kabupaten Tapanuli Utara yaitu Kecamatan Parmonangan, Kecamatan Adiankoting, Kecamatan Sipoholon, Kecamatan Tarutung, Kecamatan Siatas Barita, Kecamatan Pahae Jae, Kecamatan Purbatua, Kecamatan Simangumban, Kecamatan Pahae Julu, Kecamatan Pangaribuan, Kecamatan Garoga, Kecamatan Sipahutar, Kecamatan Siborongborong, Kecamatan Pagaran, Kecamatan Muara.

Kabupaten Tapanuli Utara merupakan daerah yang cukup terkenal di kawasan Nusantara, terutama karena potensi alam dan sumber daya manusianya. Potensi alam antara lain luasnya lahan kering untuk dijadikan persawahan baru dengan membangun irigasi. Sebahagian perairan Danau Toba yang dimiliki dan sungai yang cukup banyak untuk dimanfaatkan potensinya untuk irigasi, pengembangan perikanan maupun pembangkit tenaga listrik. Keindahan alam dengan panorama khususnya Pulau Sibandang di kawasan Danau Toba di Kecamatan Muara, dan Wisata Rohani Salib Kasih. Kekayaan seni budaya asli merupakan potensi daerah dalam upaya mengembangkan kepariwisataan Nasional. Potensi lain terdapat berbagai jenis mineral seperti Kaolin, Batu gamping, Belerang, Batu besi, Mika, Batubara, Panas bumi dan sebagainya.

A.3 Kecamatan Siborongborong

Secara geografis kecamatan siborongborong terletak pada koordinat

02º07’ - 02º16’ Lintang Utara (LU) dan 98º51’ - 99º09’ Bujur Timur (BT). Berada pada ketinggian 1.365 Meter diatas permukaan laut. Ibukota Kecamatan Siborongborong adalah Kelurahan Pasar Siborongborong.

Kecamatan Siborongborong berbatasan dengan 5 kecamatan dan 2 Kabupaten, batas-batas tersebut adalah:

Sebelah utara : Kecamatan Lintong Nihuta (Kab. Humbahas), Paranginan dan Kabupaten Toba Samosir

Sebelah Selatan : Kecamatan Sipoholon Sebelah Barat : Kecamatan Pagaran

Sebelah Timur : Kecamatan Sipahutar dan Kabupaten Toba Samosir.

Kecamatan Siborongborong terdiri dari 20 desa dan 1 kelurahan. Desa- desa tersebut adalah: Desa Bahal Batu I, Desa Bahal Batu II, DesaBahal Batu III, DesaHutabulu, DesaLobu Siregar I, DesaLobu Siregar II,DesaLumban Tonga- Tonga, DesaPaniaran, DesaParik Sabungan,DesaPohan Jae, DesaPohan Julu, DesaPohan Tonga, DesaSiaro, DesaSiborongborong I, DesaSiborongborong II, DesaSigumbang, DesaSilait-Lait, DesaSitabo-Tabo, DesaSitabo-Tabo Toruan, dan Desa Sitampurung dan Kelurahan Pasar Siborongborong.

Kecamatan Siborongborong memiliki luas 279,91 , yang terdiri dari 27,01 sawah, 221,27 tanah kering, 4,46 bangunan dan 27,17 untuk penggunaan lainnya. Penggunaan tanah di Kecamatan Siborongborong lebih dioptimalkan pada pertanian, perkebunan dan peternakan. Tanaman padi menjadi dominan dengan luas 3.477 Ha dan dapat menghasilkan 15.649,04 ton, jagung dengan luas 880 Ha, sebanyak 4.204,64 ton, kacang tanah seluas 200 Ha sebanyak 359 ton, ubi kayu 390 Ha sebanyak 6871,8 ton, ubi rambat seluas 233 sebanyak 2.469,8 ton, sayuran seluas 1.294 Ha, buah-buahan seluas 249,3 Ha dan hortikultura seluas 3.034,65 Ha. Kecamatan Siborongborong selain berfokus pada pertanian juga pada peternakan, yangmana Kecamatan Siborongborong memiliki 81 ekor sapi, 2792 ekor kerbau, 82 ekor kuda, 478 kambing, 10.497 ekor babi dan 81.006 ekor ayam.

Jumlah penduduk di Kecamatan Siborongborong adalah 45.088 jiwa. Jika di klasifikasikan berdasarkan jenis kelamin maka Kecamatan Siborongborong didominasi oleh laki-laki dengan jumlah 22.657 jiwa, lebih banyak 226 jiwa dari perempuan. Sebagai kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak di Tapanuli Utara, Kecamatan Siborongborong menjadi salah satu kecamatan yang memiliki sekolah terbanyak di Tapanuli Utara. Sekolah tersebut terdiri dari 44 Sekolah dasar, 10 SMP, 4 SMA dan 3 SMK.

B. DESA DAN PEMERINTAHAN DESA

B.1 Desa

Desa merupakan kesatuan masyarakat hukum yang pemerintahannya langsung bersinggungan dengan para penduduk yang ada di wilayah desa. Desa secara administratif merupakan daerah dibawah kecamatan yang dibentuk oleh pemerintah kabupaten/kota. Dalam menjalankan desa maka dibentuk pemerintahan desa yang terdiri dari pemerintah desa dan badan permusyawaratan desa. Dalam fungsinya pemerintahan desa dapat dikategorikan sebagai aktor birokrasi di tingkat desa, dimana para perangkat desa melaksanakan program- program pembangunan, pelayanan administatif kepada masyarakat ataupun ikut serta dalam menjalankan daftar tugas kenegaraan.

Selain menjadi aktor birokrasi pemerintah desa juga menjadi aktor politik yang dapat menjalankan pemerintahan yang dengan kebijakan-kebijakan yang ditentukan langsung oleh sebuah desa. Dekatnya arena politik antara masyarakat dengan pemimpinnya ini dapat memberi efek yang baik terhadap pengembangan partisipasi masyarakat dalam menjalankan proses pemerintahan dan pembangunan desa. Beberapa stimulus yang sudah sangat sering terjadi di desa adalah terlihat dari partisipasi masyarakat dalam melakukan musyawarah di desa ataupun ikut serta dalam pelaksanaan gotongroyong di desa.

Pengembangan potensi masyarakat desa terjadi karena intensitas pertemuan serta keleluasaan para masyarakat desa dalam memberi pendapat

terhadap pemerintahan desa. Hal ini juga ditunjang oleh tidak adanya batasan antara pemerintah desa dengan masyarakat. Karena perangkat desa berada dalam cakupan desa yang juga merupakan kerabat serta tetangga yang tidak memiliki protokoler. Tugas sebagai birokrasi dalam rangka pemberian pelayanan biasanya ditangani langsung oleh perangkat desa tanpa orang kelas bawah yang menjadi perantara dengan pemimpinnya. Hal ini seolah memberi efek yang menjadikan masyarakat tidak sungkan dalam melakukan suatu hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan demi kelangsungan pemerintahan desa.

Pergeseran sistem pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi sebagai akibat dari pergantian kekuasaan dari pemerintahan orde baru menjadi reformasi, memberi perubahan yang sangat signifikan terhadap demokrasi indonesia serta pemerintahan desa. Adanya badan legislatif pada tingkat nasional maupun daerah kemudian diikuti oleh desa. Kehadiran badan perwakilan desa sebagai pengawas tugas kepala desa yang kemudian berganti menjadi badan permusyawaratan desa yang merupakan mitra kerja pemerintah desa memberi tambahan optimalisasi efektifitas dan efisiensi kerja pemerintahan desa.

Undang undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintahan daerah sebagai dampak dari perubahan sistem pemerintahan yang termasuk dalam tuntutan yang disampaikan oleh para aktivis dalam meruntuhkan orde baru sebagai bagian dari tugas pemerintah reformasi. Undang undang ini mengatur tentang desa yaitu bab XI pasal 93 sampai dengan pasal 111. Seiring kebutuhan negara dalam upaya memaksimalkan kinerja serta pembagian tugas pemerintah

maka undang undang tentang pemerintahan daerah kemudian di revisi kembali melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 serta diubah kembali menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Pemerintahan Daerah.

Berdasarkan UU No 32 Tahun 2004 dan PP No 72 Tahun 2005, urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan desa mencakup :

a. Urusan pemerintahan yang sudah ada berdasarkan hak asal usul desa; b. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota yang

diserahkan pengaturannya kepada desa;

c. Tugas pembantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi dan/atau pemerintah kabupaten/kota;

d. Urusan pemerintahan lainya yang oleh peraturan perundang undangan diserahkan kepada desa.

Sebagai bagian dari pelaksanaan otonomi terhadap desa, dimana desa berhak mengatur dan mengelola wilayahnya sendiri dalam upaya memaksimalkan potensi desa maka pemerintah mengeluarkan peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 30 tahun 2006 tentang tata cara penyerahan urusan pemerintah Kabupaten/Kota kepada Desa dalam peraturan ini dijelaskan bahwa urusan pemerintah kabupaten/kota yang dapat diserahkan kepada desa antara lain25 :

1. Bidang pertanian dan ketahanan pangan;

2. Bidang pertambangan dan energi serta sumber daya mineral;

3. Bidang kehutanan dan perkebunan; 4. Bidang perindustrian dan perdangan; 5. Bidang koperasi dan usaha kecil menengah; 6. Bidang penanaman modal;

7. Bidang tenaga kerja dan transmigrasi; 8. Bidang kesehatan;

9. Bidang pendidikan dan kebudayaan; 10.Bidang sosial;

11.Bidang penaataan ruang;

12.Bidang pemukiman/perumahan; 13.Bidang pekerjaan umum; 14.Bidang perhubungan; 15.Bidang lingkungan hidup;

16.Bidang politik dalam negeri dan administrasi publik; 17.Bidang otonomi desa;

18.Bidang perimbangan keuangan; 19.Bidang tugas pembantuan; 20.Bidang pariwisata;

21.Bidang pertanahan;

22.Bidang kependudukan dan catatan sipil;

23.Bidang kesatuan bangsa dan perlindungan masyarakat dan pemerintahan umum;

24.Bidang perencanaan;

25.Bidang penerangan informasi dan komunikasi;

26.Bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; 27.Bidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera;

28.Bidang pemuda dan olahraga;

29.Bidang pemberdayaan masyarakat desa; 30.Bidang arsip dan perpustakaan.

B.2 Penyelenggaraan Pemerintahan Desa

Pemerintahan desa merupakan lembaga perpanjangan pemerintah pusat. Pemerintahan desa memiliki peran yang strategis dalam pengaturan masyarakat desa/kelurahan dan keberhasilan pembangunan nasional. Karena perannya yang besar, maka perlu adanya Peraturan atau Undang-Undang yang berkaitan dengan pemerintahan desa yang mengatur tentang pemerintahan desa, sehingga roda pemerintahan berjalan dengan baik.

Penyelenggaran pemerintah desa dilakukan oleh pemerintah desa dan badan permusyarawatan desa (BPD). Pemerintah desa adalah organisasi pemerintah desa yang terdiri atas:

a. Unsur pimpinan, yaitu kepala desa

Kepala desa adalah adalah pemimpin sebuah kesatuan wilayah terkecil di Indonesia. Kepala Desa merupakan pimpinan dari pemerintah desa. Masa jabatan Kepala Desa adalah 6 (enam) tahun, dan dapat diperpanjang lagi untuk

satu kali masa jabatan berikutnya. Semenjak diberlakukannya UU no 32 tahun 2004 memberikan otonomi kepada desa, namun otonomi yang diberlakukan kepada desa bukan berasal dan sebagai dampak dari peraturan perundang undangan, namun berasal dari asal usul dan adat istiadat desa sendiri yang dikembangakan dan dipelihara oleh penduduk desa.

b. Unsur pembantu kepala desa yang terdiri atas

1. Sekretariat desa yaitu unsur staf atau pelayanan yang diketuai oleh sekretaris desa;

2. Unsur pelaksana teknis yaitu unsur pembantu kepala desa yang melaksanakan urusan teknis di lapangan seperti urusan pengairan, keagamaan dan lain lain;

3. Unsur kewilayahan yaitu pembantu kepala desa di wilayah kerjanya seperti kepala dusun.

Tugas utama yang harus diemban pemerintahan desa adalah bagaimana menciptakan kehidupan demokratik, memberikan pelayanan sosial yang baik, sehingga dapat membawa warganya pada kehidupan yang sejahtera, rasa tentram dan rasa keadilan26. Dalam mengemban tugas tersebut kepala desa mempunyai wewenang yaitu27 :

a. Memimpin penyelenggaraan pemerintah desa; b. Menyusun rancangan APB Desa;

26

Opcit, AAGN, Ari Dwipayana, hal.22

27

c. Menetapkan peraturan desa setelah dimusyawarahkan bersama dengan BPD;

d. Merencanakan pembangunan desa; e. Memfasilitas kehidupan masyarakat desa;

f. Mengembangkan usaha ekonomi masyarakat dan perekonomian desa; g. Mengkoordinasikan pembangunan desa secara partisipatif;

h. Mengembangkan teknologi tepat guna;

i. Mewakili desa di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang- undangan; dan

j. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya kepala desa mempunyai kewajiban a. Memegang teguh dan mengamalkan pancasila, melaksanakan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta mempertahankan dan memelihara keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia;

b. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

c. Memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat; d. Melaksanakan kehidupan demokrasi;

e. Melaksanakan prinsip tata pemerintahan desa yang bersih dan bebas dari kolusi, korupsi dan nepotisme;

f. Menjalalin hubungan kerja dengan seluruh mitra kerja pemerintah dan desa ;

g. Menaati dan menegakkan seluruh peraturan perundang undangan; h. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan desa yang baik;

i. Melakasanakan dan mepertanggungjawabkan pengelolaan keunagan desa;

j. Melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan desa; k. Mendamaikan perselisihan masyarakat di desa;

l. Mengembangkan pendapatan masyarakat dan desa;

m. Membina, mengayomi dan melestarikan nilai nilai sosial budaya dan adat istiadat;

n. Memberdayakan masyarakat dan kelembagaan di desa dan

o. Mengembangkan potensi sumber daya alam dan melestarikan lingkungan hidup.

Badan Permusyaratan Desa berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintah desa jadi dalam menyelenggarakan pemerintahan desa terdapat dua lembaga pemerintah desa dan BPD. Pemerintah berfungsi menyelenggrakan kebijakan pemerintah atasnya dan kebijakan desa,. Sedangkan fungsi dari BPD adalah menetapkan Peraturan Desa bersama Kepala Desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, oleh karenanya BPD disamping menjalankan

fungsinya sebagai jembatan penghubung antara Kepala Desa dengan masyarakat desa, juga harus menjalankan fungsi utamanya, yakni fungsi representasi28.

Keanggotaan BPD ditetapkan dalam Undang- Undang Nomor 32 tahun 2004 Pasal 210, yang berbunyi:

1. Anggota BPD adalah wakil dari penduduk desa bersangkutan yang ditetapkan dengan cara musyawarah dan mufakat;

2. Pimpinan BPD dipilih dari dan oleh anggota BPD;

3. Masa jabatan BPD adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih lagi untuk 1 (satu) masa jabatan berikutnya;

4. Syarat dan tata cara penetapan anggota dan pimpinan BPD diatur dalam peraturan Daerah (Perda) yang berpedoman pada Peraturan Pemerintah (PP).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Pasal 29, menyebutkan BPD berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan Pemerintahan Desa dan mempunyai kewajiban sebagai berikut29:

1. Mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang- Undang Dasar 1945 dan mantaati segala peraturan perundang- undangan;

2. Melakanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintah desa;

28

Sadu Wasistono &MS. M.Irawan Tahir.2007. Prospek Pengembangan Desa. Bandung : CV Fokus Media.hal.35

3. Mempertahankan dan memelihara hukum Nasional serta keutuhan Negara kesatuan Republik Indonesia;

4. Menyerap, menampung, menghimpun dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat;

5. Memproses pemilihan kepala desa;

6. Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok dan golongan;

7. Menghormati nilai- nilai sosial budaya dan adat istiadat setempat; 8. Menjaga norma dan etika dalam hubungan kerja dengan masyarakat.

Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 Pasal 35, menyatakan bahwa BPD mempunyai wewenang sebagai berikut:

1. Membahas rancangan peraturan desa bersama kepala desa;

2. Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan peraturan kepala desa;

3. Mengusulkan pengangkatan kepala desa dan pemberhentian kepala desa; 4. Membentuk panitia pemilihan kepala desa;

5. Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan

Dokumen terkait