LANDASAN TEORI
2. Paru dan Lingkungan Kerja
Manusia hidup dalam lingkungan makro (masyarakat luas) dan lingkungan mikro (tempat kerja). Rerata waktu yang dihabiskan di tempat kerja adalah ±8 jam/hari, dimana selama ini akan dihirup ± 3500 liter udara, termasuk partikel debu atau bahan pencemar lain yang terdapat di dalamnya (Winariani, 2010).
commit to user
xi a. Noksa
Ialah bahan yang bisa merusak struktur anatomis organ atau tubuh dan sekaligus menyebabkan perubahan faal. Dalam lingkungan kerja, para pekerja terpapar dan menghirup noksa yang dapat berasal dari bahan baku, hasil produksi, produk sampingan, atau dari limbah (Winariani, 2010). Secara umum noksa di lingkungan kerja dibagi menjadi:
1) Debu organik : nabati, hewani.
2) Debu inorganik : pertambangan, industri logam, keramik. 3) Gas iritan : industri petrokimia, farmasi.
(Winariani, 2010)
b. Mekanisme pengendapan noksa di dalam paru 1) Inertia (kelambanan)
Ukuran partikel 2 – 100 µ. Karena ukuran partikel relatif besar, partikel sulit mengikuti aliran udara yang berkelok-kelok, sehingga mudah kontak dengan selaput lendir dan terperangkap di percabangan bronkus besar.
a) Sedimentasi (gravitasi)
Ukuran partikel 0,5 – 2 µ. Partikel umumnya akan mengendap di percabangan bronkus dan bronkioli. Gravitasi pengendapan partikel kemungkinan karena kecepatan aliran udara cukup lamban.
commit to user
xi b) Gerakan Brown (proses difusi)
Ukuran partikel ± 1 µ. Akibat gerakan Brown ini, maka partikel akan kontak dengan permukaan alveoli dan mengendap. c) Intersepsi
Panjang/diameter 3 : 1. Karena bentuknya serat, maka mudah tertahan di mukosa saluran nafas.
d) Elektrostatik
Daya tarik antara partikel – mukosa saluran nafas juga berperan dalam pengendapan mukosa.
(Winariani, 2010)
c. Mekanisme pertahanan paru 1) Anatomi saluran nafas
Bentuk dan struktur saluran nafas yang berbeda-beda merupakan saringan mekanik terhadap udara yang dihirup mulai dari hidung, nasofaring, laring, dan percabangan trakheobronkial. Iritasi mekanik atau kimiawi merangsang reseptor di saluran nafas sehingga terjadi bronkokonstriksi, bersin, atau batuk yang mampu mengurangi penetrasi debu dan gas toksik ke dalam saluran nafas.
2) Lapisan cairan dan silia yang melapisi saluran nafas
Lapisan ini mampu menangkap debu dan mengeluarkannya
commit to user
xi
samping itu juga mengandung zat-zat yang dapat melakukan detoksifikasi, dan bersifat bakterisid.
3) Mekanisme pertahanan spesifik
Yaitu sistem imunitas di paru yang berperan terhadap partikel aktif biokimiawi yang tertumpuk di saluran nafas. Sistem ini terdiri dari sistem humoral dan sistem seluler.
(Winariani, 2010)
d. Kelainan paru akibat noksa
Reaksi jaringan paru terhadap noksa berbeda-beda menurut aktifitas biologi noksa tersebut. Reaksi jaringan dapat berupa: 1) Iritasi mukosa saluran nafas yang dapat berakibat sembab
mukosa dan produksi lendir yang belebihan.
2) Peningkatan reaktivitas bronkus dengan akibat saluran nafas menjadi lebih peka terhadap rangsangan.
3) Spasme bronkus dengan akibat peningkatan obstruksi saluran nafas.
4) Pembentukan jaringan radang granuler yang biasanya difus pada parenkim paru.
5) Pembentukan jaringan fibrosis.
commit to user
xi e. Perubahan faal paru
1) Kelainan ventilasi, antara lain : restriksi, obstruksi, campuran 2) Kelainan difusi
3) Kelainan perfusi 4) Gabungan ketiganya
Kelainan anatomis maupun kelainan faal paru yang terjadi dapat bersifat reversibel atau menetap.
(Winariani, 2010)
3. Spirometri
Pemeriksaan spirometri adalah pengukuran volume paru statik dan dinamik menggunakan spirometer. Pemeriksaan dilakukan dengan: penderita berdiri tegak atau duduk, kemudian menghisap udara
semaksimal mungkin dan meniupkannya melalui mouthpiece yang
dimasukkan ke dalam mulut, dengan sekuat mungkin dan secepat mungkin sampai semua udara keluar maksimal. Pemeriksaan dilakukan sampai diperoleh tiga nilai yang dapat diterima dan diambil nilai yang terbaik (Suyono, et. al. , 2009). Ada dua macam volume paru:
a. Volume paru statis
1) Volume Tidal (VT) adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi setiap kali orang bernafas normal, besarnya kira-kira 500 ml pada rata-rata orang dewasa (Guyton & Hall, 2006).
commit to user
xi
2) Volume Cadangan Inspirasi (VCI) adalah volume udara ekstra yang dapat diinspirasi setelah volume tidal normal, dan biasanya mencapai 3000 ml (Guyton & Hall, 2006).
3) Volume Cadangan Ekspirasi (VCE) adalah jumlah udara ekstra yang dapat diekspirasi kuat pada akhir ekspirasi tidal normal, jumlah normalnya adalah sekitar 1100 ml (Guyton & Hall, 2006).
4) Volume Residu (VR) yaitu volume udara yang masih tetap berada dalam paru setelah ekspirasi paling kuat. Volume ini besarnya kira-kira 1200 ml (Guyton & Hall, 2006).
b.Volume dinamis
1) Volume Ekspiratori Paksa (VEP1) adalah volume ekspirasi yang kuat dalam 1 detik (Rahmawati & Azikin, 2004).
2) Maximal Voluntary Ventilation (MVV) adalah volume udara
maksimal saat inspirasi dan ekspirasi selama 1 menit (Mosby, 2009).
c. Kapasitas Paru
1) Kapasitas Inspirasi ialah volume tidal ditambah volume cadangan inspirasi. Ini adalah jumlah udaranya (kira-kira 3500 ml) yang dapat dihirup seseorang, dimulai pada tingkat ekspirasi normal dan pengembangan paru sampai jumlah maksimum (Guyton & Hall, 2006).
commit to user
xi
2) Kapasitas Residu Fungsional (KRF) / Functional Residual Capacity
(FRC) ialah volume cadangan ekspirasi ditambah volume residu. Ini adalah jumlah udara yang tersisa dalam paru pada akhir ekspirasi normal kira-kira 2300 ml (Guyton & Hall, 2006).
3) Kapasitas Vital (KV)/ Vital Capacity (VC) ialah volume cadangan inspirasi ditambah volume tidal dan volume cadangan ekspirasi. Ini adalah jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan seseorang dari paru, setelah terlebih dahulu mengisi paru secara maksimum dan mengeluarkan sebanyak-banyaknya kira-kira 4600 ml (Guyton & Hall, 2006).
4) Kapasitas Paru Total (KPT)/ Total Lung Volume (TLV) adalah
volume maksimum di mana paru dapat dikembangkan sebesar mungkin dengan inspirasi paksa kira-kira 5800 ml. Jumlah ini sama dengan kapasitas vital ditambah volume residu (Rahmawati & Azikin, 2004) (Guyton & Hall, 2006).
5) Kapasitas Vital Paksa (KVP)/Forced Vital Capacity (FVC) ialah volume ekspirasi yang kuat dan secepat mungkin setelah inspirasi maksimal (Rahmawati & Azikin, 2004).
Dalam pemeriksaan spirometri terdapat indikasi dan kontraindikasi pemeriksaan, yaitu:
1) Indikasi
commit to user
xi
b) Kelainan fisik: dinding dada abnormal, sianosis, penurunan suara nafas, finger clubbing.
c) Hasil laboratorium: gas darah, radiografi toraks.
d) Progesifitas penyakit kronis: PPOK, hipertensi pulmonal, fibrosis kistik, sarcoidosis, penyakit jantung, penyakit neuromuscular, sklerosis amiotrofik lateral, Guillain-Barré syndrome, multiple
sclerosis, myasthenia gravis.
e) Stratifikasi resiko pada orang dengan tindakan pembedahan f) Evaluasi disabilitas tubuh
(Barrerio & Perillo, 2004)
2) Kontraindikasi
a) Jika sebelum pemeriksaan mengalami vomitus, nausea, dan vertigo b) Hemoptisis
c) Pneumotoraks
d) Baru saja mendapat tindakan embedahan toraks atau abdominal e) Baru saja mendapat tindakan pembedahan mata (tekanan
intraokular dapat meningkat selama pemeriksaan spirometri) f) Baru saja mengalami infark miokard atau unstable angina
g) Aneurisma toraks (berisiko timbulnya ruptur karena peningkatan tekanan toraks)
commit to user
xi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan spirometri, antara lain:
1) Umur
Hubungan umur dengan spirometri bervariasi, Ada 3 fase pada faal spirometri :
a) Fase pertumbuhan pada anak
b) Fase matur. Dimulai sejak pertumbuhan sampai umur 20 tahun
pada wanita dan 25 tahun pada laki-laki. Faal paru berkorelasi secara positif sesuai umur dan tinggi badan.
c) Fase penurunan. Faal spirometri menurun pada umur > 20 tahun pada wanita dan > 25 tahun pada laki-laki.
(Rahmawati & Azikin, 2004) (Guyton & Hall, 2006)