• Tidak ada hasil yang ditemukan

PASAL DEMI PASAL

Dalam dokumen J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat (Halaman 22-37)

Pasal 1 Cukup j elas Pasal 2 Ayat (1)

Kej aksaan adalah sat u-sat unya lembaga pemerint ahan pelaksana kekuasaan negara yang mempunyai t ugas dan wewenang di bidang penunt ut an dalam penegakan hukum dan keadilan di lingkungan peradilan umum.

Ayat (2)

Yang dimaksud dengan "Kej aksaan adalah sat u dan t idak t erpisah-pisahkan" adalah sat u landasan dalam pelaksanaan t ugas dan wewenangnya di bidang penunt ut an yang bert uj uan memelihara kesat uan kebij akan di bidang penunt ut an sehingga dapat menampilkan ciri khas yang menyat u dalam t at a pikir,

t at a laku, dan t at a kerj a kej aksaan.

Oleh karena it u kegiat an penunt ut an di pengadilan oleh kej aksaan t idak akan berhent i hanya karena j aksa yang semula bert ugas berhalangan. Dalam hal demikian t ugas penunt ut an oleh kej aksaan akan t et ap berlangsung sekalipun unt uk it u dilakukan oleh j aksa lainnya sebagai penggant i.

Pasal 3 Cukup j elas Pasal 4 Ayat (1) Cukup j el as Ayat (2)

Kej aksaan Tinggi Daerah Khusus Ibukot a Jakart a berkedudukan di Jakart a. Ayat (3) Cukup j el as. Pasal 5 Cukup j el as Pasal 6 Ayat (1)

Susunan organisasi kej aksaan pada dasarnya sama dengan susunan organisasi pemerint ahan lainnya yang t erdiri dari unsur pimpinan, pembant u pimpinan, pelaksana operasional, dan pengawasan, yang membedakannya hanya ciri khusus dalam t ugas dan wewenang kej aksaan.

Ayat (2) Cukup j el as Pasal 7

Ayat (1)

Pembent ukan Cabang Kej aksaan Negeri dalam sat u daerah hukum Kej aksaan Negeri dilakukan apabila dipandang perlu dalam rangka memberikan pelayanan hukum dan keadilan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat . Hal ini didasarkan at as pert imbangan perkembangan dan luas wilayah sert a pert ambahan penduduk.

Ayat (2)

Perset uj uan t ersebut diberikan secara t ert ulis oleh Ment eri yang bet anggung j awab di bidang aparat ur negara.

Pasal 8 Ayat (1)

Jabat an Jaksa sebagai j abat an f ungsional, t erkait dengan f ungsi yang secara khusus dij alankan oleh j aksa dalam bidang penunt ut an sehingga memungkinkan organisasi kej aksaan menj alankan t ugas pokoknya.

Ayat (2)

Dalam melaksanakan j abat an f ungsional di bidang penunt ut an, j aksa bert indak sebagai wakil negara dengan t et ap memperhat ikan kepent ingan masyarakat dan pemerint ah. Oleh karena it u pelaksanaan penunt ut an harus berdasarkan hukum dan senant iasa mengindahkan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat dengan memperhat ikan kebij akan pemerint ah dalam penanganan perkara pidana.

Dalam melaksanakan t ugas yang diembannya, j aksa bert anggung j awab kepada pej abat kej aksaan yang secara organisat oris menj adi at asan langsung j aksa t ersebut . Dalam hubungan ini Kepala Cabang Kej aksaan Negeri bert anggung j awab kepada Kepala Kej aksaan Negeri, Kepala Kej aksaan Negeri bert anggung j awab kepada Kepala Kej aksaan Tinggi, dan Kepala Kej aksaan Tinggi bert anggung j awab kepada Jaksa Agung. Ayat (3) Cukup j el as Ayat (4) Cukup j el as Pasal 9

Penilaian t erhadap pemenuhan syarat -syarat yang dicant umkan dalam huruf h Pasal ini, diberikan oleh pej abat yang berwenang menurut perat uran perundang-udangan dalam bidang kepegawaian.

Pasal 10 Ayat (1)

Cukup j el as Ayat (2)

Apabila Jaksa Agung berhalangan, pengucapan sumpah at au j anj i dapat dilakukan di hadapan pej abat lain yang dit unj uknya.

Ayat (1) Huruf a

Cukup j el as Huruf b

Yang dimaksud dengan penasihat hukum t ermasuk j uga konsult an hukum. Huruf c Cukup j el as Ayat (2) Cukup j el as Pasal 12

Yang dimaksud dengan "j abat annya" dalam Pasal ini ialah j abat an f ungsional.

Huruf a

Cukup j el as Huruf b

Yang dimaksud dengan "sakit j asmani at au rohani t erus menerus" ialah sakit yang menyebabkan si penderit a t idak mampu lagi melakukan t ugas kewaj ibannya dengan baik sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

Huruf c

Bat as usia pensiun j aksa dapat diubah oleh at au berdasarkan Undang-undang t ent ang Kepegawaian.

Huruf d

Yang dimaksud dengan "t idak cakap" ialah misalnya yang bersangkut an banyak melakukan kesalahan besar dalam menj alankan t ugasnya.

Huruf c Cukup j elas.

Pasal 13

Ayat (1) Huruf a

Yang dimaksud dengan "dipidana" ialah dij at uhi pidana penj ara sekurang-kurangnya 3 (t iga) bulan.

Huruf b

Yang dimaksud dengan "t erus-menerus melalaikan kewaj ibakan t ugas pekerj aan"ialah apabila dalam j angka wakt u t ert ent u sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku, yang bersangkut an t idak menyelesaikan t ugas yang dibebankan kepadanya t anpa suat u alasan yang sah.

Huruf c

Cukup j el as Huruf d

Cukup j el as Huruf e

Yang dimaksud dengan "perbuat an t ercela" ialah sikap, perbuat an, dan t indakan j aksa yang bersangkut an baik pada

saat bert ugas maupun t idak bert ugas merendahkan mart abat j aksa at au kej aksaan.

Ayat (2) Cukup j el as Ayat (3) Cukup j el as Pasal 14 Ayat (1)

Dalam hal keput usan pemberhent ian sebagai j aksa dengan kualif ikasi dengan hormat , maka yang bersangkut an diberhent ikan st at usnya sebagai j aksa. Pemberhent ian t ersebut t idak menut up kemungkinan diambilnya t indakan susulan dalam bent uk pemberhent ian sebagai pegawai negeri.

Dalam hal keput usan pemberhent ian sebagai j aksa dengan kualif ikasi t idak dengan hormat , maka j aksa yang bersangkut an diberhent ikan pula sebagai pegawai negeri, sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

Ayat (2)

Yang dimaksud dengan "pemberhent ian sement ara" ialah t indakan memberhent ikan sement ara wakt u sebagai j aksa, sampai adanya keput usan def init if dari Jaksa Agung berdasarkan put usan pengadilan yang t elah mempunyai kekuat an hukum t et ap at au keput usan Maj elis Kehormat an Jaksa at as kesalahan j aksa yang bersangkut an.

Ayat (3)

Pasal 15 Ayat (1)

Dengan adanya surat perint ah penangkapan dan penahanan oleh pihak yang berwenang, maka Jaksa Agung segera menyusuli dengan surat keput usan pemberhent ian sement ara.

Ayat (2)

Pasal 21 ayat (4) huruf b Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 t ent ang Hukum Acara Pidana menet apkan t indak pidana t ert ent u yang memberi wewenang kepada penyidik, penunt ut umum at au pengadilan unt uk melakukan t indakan penahanan at as pelaku t indak pidana t ersebut . Dalam hal seorang Jaksa dit unt ut di muka pengadilan karena melakukan salah sat u t indak pidana t ersebut , walaupun yang bersangkut an t idak dit ahan, ia dapat dikenakan t indakan pemberhent ian sement ara.

Pasal 16 Cukup j el as Pasal 17 Cukup j el as Pasal 18 Ayat (1)

Mengingat Jaksa Agung adalah pimpinan dan penanggung j awab t ert inggi kej aksaan yang mengendalikan pelaksanaan t ugas dan wewenang kej aksaan, maka Jaksa Agung adalah j uga pimpinan dan penanggung j awab t ert inggi dalam bidang

penunt ut an. Ayat (2)

Cukup j el as Ayat (3)

Yang dimaksud dengan "kesat uan unsur pimpinan" ialah wuj ud ket erpaduan dan kebersamaan ant ara Jaksa Agung dan Wakil Jaksa Agung dalam melaksanakan kebij akan yang dit et apkan oleh Jaksa Agung.

Ayat (4) Cukup j el as Pasal 19 Cukup j el as Pasal 20 Ayat (1)

Adanya j abat an Wakil Jaksa Agung akan sangat membant u Jaksa Agung khususnya dalam pembinaan administ rasi

sehari-hari dan segi-segi t eknis operasional lainnya. Karena sif at t ugasnya t ersebut , maka j abat an Wakil Jaksa Agung merupakan j abat an karier dalam lingkungan kej aksaan.

Pengusulan pencalonan oleh Jaksa Agung harus memperhat ikan pembinaan karier di lingkungan kej aksaan.

Ayat (2) Cukup j el as Ayat (3)

Cukup j el as Pasal 21

Ayat (1) Cukup j el as Ayat (2)

Yang dimaksud dengan "j abat an yang dipersamakan dengan j abat an Kepala Kej aksaan Tinggi" adalah j abat an Kepala Direkt orat , Kepala Biro, at au j abat an lainnya yang set ingkat . Ayat (3)

Pada dasarnya j abat an Jaksa Agung Muda adalah j abat an karier. Ket ent uan dalam ayat ini memberikan kemungkinan pengangkat an seorang Jaksa Agung Muda dari luar lingkungan kej aksaan. Sif at nya sangat selekt if dan berdasarkan kebut uhan sert a pej abat t ersebut mempunyai keahlian t ert ent u yang bermanf aat bagi pelaksanaan t ugas dan wewenang kej aksaan. Ayat (4)

Lihat penj elasan Pasal 12 huruf b, c, dan d. Pasal 22 Ayat (1) Cukup j el as Ayat (2) Cukup j el as Pasal 23 Ayat (1) Cukup j el as Ayat (2) Cukup j el as

Pasal 24 Ayat (1)

Cukup j el as Ayat (2)

Yang dimaksud dengan "unsur pembant u pimpinan" dalam Pasal ini adalah Kepala Seksi at au pej abat yang set ingkat , sedangkan unsur pelaksana adalah j aksa sesuai dengan t ugas dan wewenangnya. Ayat (3) Cukup j el as Ayat (4) Cukup j el as Pasal 25 Cukup j el as Pasal 26 Ayat (1)

Dalam kedudukan sebagai pegawai negeri, kepadanya diberlakukan ket ent uan mengenai pangkat , penghasilan, hak sert a kewaj iban lainnya sebagaimana diat ur dalam perat uran perundang-undangan mengenai pegawai negeri.

Ayat (2)

Yang dimaksud dengan "t enaga ahli" ialah ahli-ahli dalam berbagai disiplin ilmu dan t idak dimaksudkan unt uk memberikan "ket erangan ahli" dalam suat u persidangan, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 but ir 28 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 t ent ang Hukum Acara Pidana.

Ayat (1) Huruf a

Cukup j el as Huruf b

Dalam melaksanakan put usan pengadilan dan penet apan hakim, kej aksaan memperhat ikan nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat dan peri kemanusiaan berdasarkan Pancasila t anpa menyampingkan ket egasan dalam bersikap dan bert indak.

Melaksanakan put usan pengadilan t ermasuk j uga melaksanakan t ugas dan wewenang mengendalikan pelaksanaan hukuman mat i dan put usan pengadilan t erhadap barang rampasan yang t elah dan akan disit a unt uk selanj ut nya dij ual lelang.

Huruf c

Yang dimaksud dengan "keput usan lepas bersyarat " adalah keput usan yang dikeluarkan oleh Ment eri Kehakiman.

Huruf d

Unt uk melengkapi berkas perkara, pemeriksaan t ambahan dilakukan dengan memperhat ikan hal-hal sebagai berikut : 1) t idak dilakukan t erhadap t ersangka;

2) hanya t erhadap perkara-perkara yang sulit pembukt iannya, dan/ at au dapat meresahkan masyarakat , dan/ at au yang dapat membayakan keselamat an Negara;

3) harus dapat diselesaikan dalam wakt u 14 (empat belas) hari set elah dilaksanakan ket ent uan Pasal 110 dan Pasal 138 ayat (2) Kit ab Undang-undang Hukum Acara Pidana;

Ayat (2) Cukup j el as Ayat (3)

Tugas dan wewenang kej aksaan dalam ayat ini bersif at prevent if dan/ at au edukat if sesuai dengan perat uran perundang-undangan yang belaku.

Yang dimaksud dengan "t urut menyelenggarakan" adalah mencakup kegiat an-kegiat an membant u, t urut sert a, dan bekerj a sama.

Dalam t urut menyelenggarakan t ersebut , kej aksaan senant iasa memperhat ikan koordinasi dengan inst ansi t erkait .

Pasal 28 Cukup j elas Pasal 29

Cukup j elas Pasal 30

Adalah menj adi kewaj iban bagi set iap badan negara t erut ama dalam bidang penegakan hukum dan keadilan unt uk melaksanakan dan membina kerj a sama yang dilandasi semangat ket erbukaan, kebersamaan, dan ket erpaduan dalam suasana keakraban guna mewuj udkan sist em peradilan pidana t erpadu. Hubungan kerj a sama ini dilakukan melalui koordinasi horizont al

dan vert ikal secara berkala dan berkesinambungan dengan t et ap menghormat i f ungsi, t ugas, dan wewenang masing-masing. Kerj a sama ant ara kej aksaan dengan inst ansi penegak hukum lainnya dimaksudkan unt uk memperlancar upaya penegakan hukum sesuai dengan asas cepat , sederhana dan biaya ringan sert a bebas, j uj ur, dan t idak memihak dalam penyelesaian perkara.

Pasal 31 Cukup j elas Pasal 32 Huruf a Cukup j el as Huruf b

1) Yang dimaksud dengan "perkara pidana t ert ent u" adalah perkara-perkara pidana yang dapat meresahkan masyarakat luas, dan/ at au dapat membahayakan keselamat an negara, dan/ at au dapat merugikan perekonomian negara;

2) Yang dimaksud dengan "inst ansi t erkait " adalah inst ansi yang secara f ungsional t erkait dengan penangan perkara pidana t et ent u, baik badan penegak hukum maupun inst ansi pemerint ah lainnya, dalam hal ini t idak t ermasuk badan peradilan;

3) Penet apan oleh Presiden t ent ang pelaksanaan koordinasi sama sekali t idak mengurangi asas kekuasaan kehakiman yang merdeka sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 1970 dan t et ap memperhat ikan asas-asas hukum yang berlaku demi kepast ian hukum.

Huruf c

Yang dimaksud dengan "kepent ingan umum" adalah kepent ingan bangsa dan negara dan/ at au kepent ingan masyarakat luas.

Menyampingkan perkara sebagaimana dimaksud dalam ket ent uan ini merupakan pelaksanaan asas oport unit as, hanya dapat dilakukan oleh Jaksa Agung set elah memperhat ikan saran dan

pendapat dari badan-badan kekuasan negara yang mempunyai hubungan dengan masalah t ersebut .

Sesuai dengan sif at dan bobot perkara yang disampingkan t ersebut , Jaksa Agung dapat melaporkan t erlebih dahulu rencana penyampingan perkara kepada Presiden, unt uk mendapat kan pet unj uk.

Huruf d

Pengaj uan kasasi demi kepent ingan hukum ini adalah sesuai dengan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 t ent ang Hukum Acara Pidana dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1985 t ent ang Mahkamah Agung. Huruf e

Cukup j el as Huruf f

Pert imbangan Jaksa Agung kepada Presiden melalui Mahkamah Agung sesuai dengan ket ent uan yang diat ur dalam Pasal 8 ayat ( 6) Undang-undang Nomor 3 Tahun 1950 t ent ang Permohonan Grasi.

Huruf g

Tugas dan wewenang yang diat ur dalam ayat ini semat a-mat a dalam perkara pidana. Mengingat pelaksanaan wewenang t ersebut berkait an dengan inst ansi lainnya sepert i keimigrasian, maka harus dikoordinasikan dengan inst ansi yang bersangkut an. Pasal 33

Ayat (1)

Unt uk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat ini, t ersangka at au t erdakwa at au keluarganya mengaj ukan

permohonan secara t ert ulis kepada Jaksa Agung at au pej abat yang dit unj uk sesuai dengan keput usan Jaksa Agung. Yang dimaksud dengan "t ersangka at au t erdakwa" adalah t ersangka at au t erdakwa yang berada dalam t anggung j awab kej aksaan. Ayat (2) Cukup j el as Ayat (3) Cukup j el as Pasal 34 Cukup j elas Pasal 35 Cukup j elas Pasal 36 Cukup j elas

Dalam dokumen J.D.I.H. - Dewan Perwakilan Rakyat (Halaman 22-37)

Dokumen terkait