PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH
II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1
Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Ayat (1)
Ketentuan ini memberikan penegasan bahwa Peraturan Daerah merupakan subordinasi dari peraturan perundang-undangan nasional, sehingga tidak bisa memuat substansi yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi hierarkhinya.
Namun demikian, mengingat daerah memiliki potensi dan kekhasan yang berbeda satu sama lain, maka substansi Peraturan Daerah dapat memuat kondisi kekhasan Daerah, sepanjang sesuai dengan kewenangan.
Ayat (2) Huruf a
Yang dimaksud dengan "memberikan beban kepada masyarakat" misalnya membebankan pembayaran Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Huruf b
Yang dimaksud dengan "mengurangi kebebasan masyarakat" misalnya kaidah pelarangan bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas tertentu.
Huruf c
Yang dimaksud dengan "membatasi hak masyarakat" misalnya pembatasan kebebasan untuk mengekspresikan hak yang dimilikinya, karena adanya pertimbangan sosial.
Huruf d
Yang dimaksud dengan "melindungi masyarakat dan memberikan jaminan kepastian hukum," menegaskan bahwa Peraturan Daerah merupakan subsistem dari hukum nasional, sehingga peran dan fungsi Peraturan Daerah antara lain yaitu memberikan perlindungan dan jaminan kepastian hukum kepada masyarakat.
Huruf e
Yang dimaksud dengan "hal-hal yang merupakan atribusi atau delegasi dari Peraturan Daerah lain atau peraturan perundang-undangan yang herarkhinya lebih tinggi," yaitu bahwa dalam substansi Peraturan Daerah, terdapat restriksi yang tidak boleh dilanggar, yaitu tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, karena Peraturan Daerah sendiri merupakan atribusi atau delegasi dari Peraturan Daerah lain atau peraturan perundang-undangan yang herarkhinya lebih tinggi.
Huruf f
Yang dimaksud dengan "penetapan pembiayaan Daerah" misalnya Peraturan Daerah tentang APBD.
Huruf g
Yang dimaksud dengan "pembentukan OPD" misalnya Peraturan Daerah tentang Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Garut.
Huruf h
Yang dimaksud dengan "pengaturan kondisi khusus Daerah" yaitu Peraturan Daerah yang mengatur tentang potensi dan kekhasan Daerah dalam rangka daya saing Daerah. Huruf i
Yang dimaksud dengan "aspirasi masyarakat Daerah" yaitu Peraturan Daerah yang memuat aspirasi masyarakat sebagai bagian dari demokratisasi penetapan kebijakan, sesuai dengan kewenangan Daerah.
Huruf j
Yang dimaksud dengan "kebutuhan Daerah sesuai dengan kewenangan dan kemampuan Daerah" yaitu Peraturan Daerah yang substansinya mengatur kebutuhan lokal Daerah, dengan mempertimbangkan kemampuan Daerah sesuai kewenangan. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. Pasal 6 Cukup jelas. Pasal 7 Cukup jelas. Pasal 8
Penyusunan Prolegda dikoordinasikan oleh DPRD mempertegas bahwa fungsi legislasi berada pada DPRD. Pasal 9
Bentuk implementasi dari ketentuan ini berupa matriks yang memuat judul Rancangan Peraturan Daerah, dasar hukum, latar belakang, tujuan, sasaran, pokok pikiran, ruang lingkup, objek, serta jangkauan dan arah pengaturan.
Pasal 10
Pembentukan Peraturan Daerah memiliki tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap sistem pembentukan perundang-undangan secara nasional. Terjadinya disharmonisasi, inkonsistensi dan disorientasi peraturan perundang-undangan berakibat langsung pada Prolegda, sehingga perencanaan Prolegda tidak bisa ditetapkan untuk jangka menengah dan jangka panjang.
Pasal 11 Ayat (1)
Penetapan Prolegda dalam Keputusan DPRD menunjukkan bahwa fungsi legislasi berada pada DPRD.
Ayat (2)
Cukup jelas. Pasal 12
Ayat (1)
Skala prioritas penyusunan Prolegda merupakan upaya yang berkesinambungan dan terpadu sebagai pedoman bersama dalam pembentukan Peraturan Daerah. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 13 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas.
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan "pengkajian dan penyelarasan" adalah proses untuk mengetahui keterkaitan materi yang akan diatur dengan Peraturan Perundang-undangan lainnya yang vertikal atau horizontal sehingga dapat mencegah tumpang tindih pengaturan atau kewenangan. Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 15 Ayat (1)
Hal ini berkaitan dengan fungsi Badan Legislasi Daerah sebagai alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi.
Ayat (2)
Hal ini berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi Biro Hukum dan HAM dalam menyelenggarakan perumusan bahan kebijakan umum dan evaluasi di bidang perundangundangan.
Ayat (3)
Cukup jelas. Ayat (4)
Tata cara penyusunan Prolegda di lingkungan DPRD ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD.
Ayat (5)
Tata cara penyusunan Prolegda di lingkungan Pemerintah Daerah ditetapkan dalam Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Daerah tentang Pembentukan Peraturan Daerah.
Pasal 16
Cukup jelas. Pasal 17
Ayat (1) Huruf a
Yang dimaksud dengan "putusan Mahkamah Agung," yaitu putusan hasil uji materil (judicial review) terhadap Peraturan Daerah untuk menguji kesahihan Peraturan Daerah. Huruf b Cukup jelas. Huruf c Cukup jelas. Huruf d Cukup jelas. Ayat (2) Huruf a
Keadaan luar biasa, keadaan konflik, atau bencana alam harus disikapi secara responsif sehingga tidak dimungkinkan untuk memberlakukan prosedur yang berlaku secara umum. Dalam hal kegentingan yang memaksa, pembentukan Rancangan Peraturan Daerah dimungkinkan tanpa melalui Prolegda, yang dimaksudkan untuk
menghindari kerugian atau dampak yang lebih luas.
Huruf b
Dalam hal-hal tertentu, kerjasama Daerah harus ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah. Dalam hal ini, maka pembentukannya dapat ditetapkan di luar Prolegda.
Ayat (3) Huruf a Cukup jelas. Huruf b Cukup jelas. Huruf c
Dalam hal-hal tertentu, Badan Legislasi Daerah bersama dengan Biro Hukum dan HAM dapat menyepakati dibentuknya Peraturan Daerah di luar Prolegda, dengan pertimbangan tingkat urgensi permasalahan dan kondisi yang dihadapi.
Pasal 18 Cukup jelas. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2)
Pada prinsipnya, keterangan yang memuat pokok pikiran dan materi muatan yang akan diatur merupakan bagian dari Naskah Akademik, sehingga dokumen Naskah Akademik induk dengan keterangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan.
Pasal 20
Cukup jelas. Pasal 21
Ayat (1)
Pada prinsipnya, Naskah Akademik yang disusun merupakan naskah hasil penelitian atau pengkajian di bidang hukum. Dalam hal-hal tertentu, Naskah Akademik bidang hukum dapat dilengkapi dengan hasil penelitian lainnya terhadap suatu masalah tertentu.
Ayat (2)
Cukup jelas. Ayat (3)
Naskah Akademik merupakan naskah hasil penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, sehingga sistematika, tata cara penuangan dan substansinya harus disusun berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah. Namun demikian, penyusunan Naskah Akademik bukan hanya merupakan domain Perguruan Tinggi. Dalam hal ini, tenaga ahli, pakar, praktisi, atau akademisi dapat membantu sebagai narasumber. Pasal 22
Naskah Akademik dapat disusun oleh instansi Pemerintah atau Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian, konsultan ataupun lembaga lainnya yang memiliki kompetensi sesuai dengan substansi yang diatur dalam Rancangan Peraturan Daerah.
Pasal 23 Ayat (1)
Naskah Akademik dari SKPD Pemrakarsa merupakan pelengkap dari Naskah Akademik bidang hukum.
Ayat (2)
Cukup jelas. Pasal 24
Ayat (1)
Hal ini sesuai dengan fungsi Badan Legislasi Daerah sebagai alat kelengkapan DPRD yang khusus menangani bidang legislasi.
Ayat (2) Cukup jelas. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3)
Tata cara mempersiapkan Rancangan Peraturan Daerah ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD.
Pasal 26
Cukup jelas. Pasal 27
Ketentuan ini makin menegaskan bahwa fungsi legislasi berada pada DPRD.
Pasal 28 Cukup jelas. Pasal 29 Cukup jelas. Pasal 30 Cukup jelas. Pasal 31 Cukup jelas. Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3)
Tata cara penarikan kembali Rancangan Peraturan Daerah ditetapkan dalam Peraturan tentang Tata Tertib DPRD. Pasal 33 Cukup jelas. Pasal 34 Cukup jelas. Pasal 35 Ayat (1)
Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah oleh Pemerintah bertujuan untuk tercapainya keserasian antara kebijakan Daerah dan kebijakan
Nasional, keserasian antara kepentingan publik dengan kepentingan aparatur, serta untuk meneliti sejauhmana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, serta Rencana Tata Ruang Kabupaten dan Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Kabupaten tidak bertentangan dengan kepentingan umum, peraturan yang lebih tinggi, dan Peraturan Daerah lainnya. Yang dimaksud dengan "Evaluasi" adalah pengkajian dan penilaian terhadap Rancangan Peraturan Daerah untuk mengetahui apakah Rancangan Peraturan Daerah dimaksud bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Ayat (2)
Yang dimaksud dengan "difasilitasi" adalah pemberian pedoman dan petunjuk teknis, arahan, bimbingan teknis, supervisi, asistensi dan kerja sama serta monitoring dan evaluasi terhadap penyusunan dan pelaksanaan peraturan daerah tentang OPD.
Ayat (3)
Dalam klarifikasi, terhadap Peraturan Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, dapat dibatalkan sesuai mekanisme yang berlaku. Yang dimaksud dengan "Klarifikasi" adalah pengkajian dan penilaian terhadap Peraturan Daerah untuk mengetahui apakah Peraturan Daerah dimaksud bertentangan dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundangundangan yang lebih tinggi.
Pasal 36 Ayat (1)
Ayat (2)
Cukup jelas. Ayat (3)
Penyempurnaan atas Rancangan Peraturan Daerah dilakukan oleh Bupati bersama dengan Badan Anggaran. Pasal 37 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3)
Penyempurnaan atas Rancangan Peraturan Daerah dilakukan oleh Bupati bersama dengan Badan Legislasi Daerah. Pasal 38 Ayat (1) Cukup jelas. Ayat (2) Cukup jelas. Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4)
Penyempurnaan atas Rancangan Peraturan Daerah dilakukan oleh Bupati bersama dengan Badan Legislasi Daerah.
Pasal 39
Pasal 40 Ayat (1)
Pembahasan hasil evaluasi Menteri Dalam Negeri dilakukan oleh Panitia Anggaran DPRD bersama dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Ayat (2)
Pembahasan hasil evaluasi Menteri Dalam Negeri dilakukan oleh Badan Anggaran bersama dengan Tim Asistensi. Pasal 40 Cukup jelas. Pasal 41 Cukup jelas. Pasal 42 Cukup jelas. Pasal 43 Cukup jelas. Pasal 44 Ayat (1)
Hal ini berkenaan dengan dianutnya fictie hukum atau stelsel positif dalam pengundangan, dimana semua orang harus dianggap tahu tentang berlakunya suatu ketentuan yang diatur dalam Peraturan Daerah.
Ayat (2)
Ayat (3)
Pengundangan Peraturan Daerah tidak bisa didelegasikan atau disubdelegasikan kepada pejabat di bawah Sekretaris Daerah.
Pasal 45
Dalam hal-hal tertentu, Peraturan Daerah atau sebagian substansi Peraturan Daerah berlaku dalam jangka waktu yang ditentukan dalam Peraturan Daerah yang bersangkutan. Pasal 46 Cukup jelas. Pasal 47 Cukup jelas. Pasal 48 Ayat (1)
Yang dimaksud dengan "penyebarluasan" adalah kegiatan menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai Prolegda yang sedang disusun dan dibahas agar masyarakat dapat memberikan masukan atau tanggapan terhadap Prolegda tersebut. Penyebarluasan misalnya, melalui media tatap muka, media elektronik dan/atau media cetak.
Ayat (2)
Cukup jelas. Pasal 49
Ayat (1)
Penyebarluasan Prolegda dikoordinasikan oleh Badan Legislasi Daerah sebagai konsekuensi logis dari fungsi legislasi DPRD.
Ayat (2)
Cukup jelas. Pasal 50
Ayat (1)
Penyebarluasan Rancangan Peraturan Daerah yang berasal dari DPRD dilaksanakan oleh Badan Legislasi Daerah sebagai konsekuensi logis dari fungsi legislasi DPRD.
Ayat (2)
Penyebarluasan Rancangan Peraturan Daerah harus diupayakan seoptimal mungkin agar mudah diakses oleh masyarakat, sehingga Peraturan Daerah bernilai aspiratif, mengakomodasikan kebutuhan masyarakat, serta menempatkan masyarakat tidak hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek Peraturan Daerah.
Pasal 51
Cukup jelas. Pasal 52
Ketentuan ini dimaksudkan untuk menjamin autentifikasi dari Peraturan Daerah, sehingga naskah Peraturan Daerah di luar yang telah diundangkan seyogyanya tidak menyebar, namun merupakan dokumen yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah. Pasal 53
Ayat (1)
Cukup jelas. Ayat (2)
Ayat (3)
Tata cara penulisan Lembaran Daerah, yaitu dengan membubuhkan tahun, nomor dan seri Peraturan Daerah.
Pasal 54 Ayat (1)
Cukup jelas. Ayat (2)
Pengajuan keberatan atas pembatalan Peraturan Daerah dilakukan dalam konteks hak uji material (judicial review). Dalam hal ini, Mahkamah Agung merupakan lembaga negara yang berwenang untuk melakukan hak uji material (judicial review) peraturan perundangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang-undang-undang.
Pasal 55
Cukup jelas. Pasal 56
Ayat (1)
Masyarakat wajib diberikan ruang yang cukup untuk menyampaikan aspirasinya dan mengekspresikan keinginannya, dalam rangka menjamin kehidupan demokrasi yang sehat. Keleluasaan bagi masyarakat dilakukan dalam seluruh tahapan perecanaan, penyusunan, pembahasan, pelaksanaan dan pengendalian. Ayat (2)
Cukup jelas. Ayat (3)
Ayat (4) Cukup jelas. Pasal 57 Cukup jelas. Pasal 58 Cukup jelas. Pasal 59
Ketentuan ini dimaksudkan agar tidak terjadi permasalahan dalam implementasi Peraturan Daerah. Dengan adanya ketentuan bahwa petunjuk pelaksanaan harus ditetapkan paling lambat 6 (enam) bulan terhitung sejak berlakunya Peraturan Daerah, maka tidak terjadi rentang waktu yang cukup lama antara ditetapkannya Peraturan Daerah dengan petunjuk pelaksanaannya.
Pasal 60
Cukup jelas.
TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT