• Tidak ada hasil yang ditemukan

PASAR ORO-ORO DOWO KOTA MALANG

Profil

Nama : Pasar Oro-Oro Dowo

Alamat : Jalan Guntur

Kelas : II

Luas pasar : 1.920 m²

Jumlah pedagang : 120 pedagang

Jumlah bedak/kios : 40 unit

Jumlah los/emper : 209 unit

Tanggal wawancara : 26 Mei 2014

Komoditas

1. Sayur 2. Buah 3. Sembako

4. Peralatan Rumah Tangga 5. Jajanan Pasar

6. Pakaian Wanita/Pria 7. Perancangan

8. Daging, Ikan, Ayam, Bebek, dll

Fasilitas Umum

1. Jumlah MCK : 1 Lokasi 2. Jumlah Mushola : 1 Unit 3. Jumlah TPS : - Unit

Inventaris Barang

1. Alat Pemadam : 1 Unit 2. Gerobak Sampah : 2 Unit 3. Meja dan Kursi : 3/3 Unit 4. Almari : - Unit

5. Mesin Tik : - Unit

6. Armada Kebersihan : - Unit 7. Alat Pembuatan Kompos : 1 Unit

8. RPA ( Rumah Pemotongan Ayam) : 1 Unit

Narasumber

I. Endang Sri Sundari (Kepala Pasar Oro-Oro Dowo) II. CP: 087859995402

Pasar Oro-Oro Dowo dibangun tahun 1920. Pasar Oro-Oro Dowo merupakan satu-satunya pasar tradisional pada masa penjajahan Belanda yang masih lestari hingga saat ini. Hal ini terbukti dan terlihat dari bangunan dan arsitektur berupa bedak dan kios yang masih asli bangunan masa kolonial dan tidak boleh dilakukan renovasi terhadapnya. Pasar ini merupakan pasar tradisional pertama di Kota Malang yang dibangun oleh Pemerintah Kolonial Belanda dengan nama Pasar Oro- Oro Dowo dan tidak mengalami perubahan hingga saat ini. Pasar Oro-Oro Dowo termasuk cagar budaya karena bentuk asli bangunan depan pasar tidak mengalami renovasi. Selain itu, selokan dan gorong-gorong juga masih asli peninggalan Kolonial Belanda.

2. Jumlah pedagang

Pada Pasar Oro-Oro Dowo terdapat 120 pedagang dengan jumlah unit atau bangunan yang terbagi tiga, antara lain adalah bedak yang berada di depan, los yang merupakan bangunan yang tersusun dari batu bata yang berbentuk meja-meja yang terbuk (tidak ada penutup), dan emper yakni bangunan semi permanen dengan jumlah keseluruhan 251 unit.

3. Produk yang diperjualbelikan

Produk yang menjadi komoditas pasar cukup lengkap. Berbeda dengan pasar tradisional lainnya di Kota Malang, produk-produk yang diperdagangkan di pasar ini dikemas secara berbeda. Mutu serta kualitasnya juga berbeda dengan pasar lainnya. Dengan demikian, harganya pun juga berbeda, yakni sedikit lebih mahal dibandingkan dengan pasar tradisional lainnya karena jenis sayur, ikan,daging juga dijual dalam keadaan segar. Seperti misalnya, ayam potong yang diperjualbelikan berupa ayam yang masih dalam keadaan hidup. Pembeli dapat memilih ayam mana yang hendak dibeli kemudian oleh pedagang disembelih di tempat dan dipotong di tempat karena di dalam pasar terdapat Rumah Pemotongan Ayam (RPA). Hal tersebut dilakukan karena pedagang sudah memiliki konsumen tetap dengan mayoritas masyarakat kelas menengah ke atas sehingga pedagang tertarik untuk menjaga kualitas dagangan mereka dan megemas barang seperti di pasar-pasar modern atau supermarket agar tidak kalah bersaing.

4. Kebersihan dan kenyamanan

Kebersihan dan kenyamanan di pasar ini tidak dapat diragukan lagi. Kondisi pasar sangat bersih dan sangat nyaman. Ketika masuk ke pasar tidak tercium bau yang tidak sedap seperti pasar-pasar tradisional lain. Hal ini diperkuat lagi dengan

diperolehnya juara pasar tradisional tingkat naional dalam hal kebersihan yang disabet oleh pasar oro-oro dowo sejak 4 tahun terakhir. Keadaan di pasar pun sangat kondusif karena pedagang disegmentasi berdasarkan jenis komoditas yang

diperjualbelikan. Segmentasi pasar tersebut lahir secara bertahap yang dipimpin langsung oleh Kepala Pasar dengan langkah utama yakni mengadakan sosialisasi dengan para pedagang. Dengan sosialisasi ini setiap kendala yang ada di pasar dapat teratasi dengan baik. Pedagang yang berjualan di pasar ini pada umumnya memiliki tingkat pendidikan yang baik sehingga komunikasi yang terbangun antara pihak kantor pasar dengan pedagang tidak menemui kendala yang berarti. Hal ini juga yang mampu mendorong berjalannya sosialisasi. Namun ketika terjadi pelanggaran, pihak kantor pasar tetap mengenakan sanksi misalnya perlambatan penerbitan surat izin. Adanya konsumen tetap dari kalangan kelas menengah ke atas juga menjadi salah satu alasan pedagang di Pasar Oro-Oro Dowo untuk tetap memiliki kesadaran yang tinggi dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan.

5. Masalah utama yang sering terjadi

Pada intinya sama dengan pasar lainnya, yaitu masalah kesadaran menjaga kebersihan oleh pedagang yang berbeda karakter. Meskipun secara umum Pasar Oro-Oro Dowo memiliki citra yang sangat baik di mata nasional, namun berbagai macam karakter pedagang juga menjadi alasan ketidaksempurnaan dalam menjaga kebersihan.

Adanya retribusi kebersihan yang dipungut seetiap harinya terkadang membuat pedagang membuat sampah sembarangan karena sudah merasa bahwa kebersihan itu adalah tanggungjawab petugas kebersihan. Tetapi kepala pasar tetap aktif dalam memberikan contoh kepada pedagang untk tidak hanya menunggu petugas untuk membersihkan kawasan pasar. Kepala pasar juga ikut menegur, memberikan pemahaman dan pengertian tentang kebersihan dan kenyamanan. Pedagang juga tidak mengeluh dengan adanya tarikan atau iuran retribusi pasar per hari karena sudah menyadari bahwa iuran tersebut adalah kewajibannya.

6. Keberadaan pasar tradisional dengan semakin berkembangnya pasar modern Menurut kepala pasar, keberadaan pasar modern sangat mematikan pasar tradisional. Narasumber tidak setuju dengan semakin berkembangnya pasar modern seperti indomaret dan alfamart. Narasumber juga ajtif mengiuti rapat dengan pemerintah kota Malang untuk menekan angka perkembangan pasar-pasar modern. Narasumber juga memberikan saran untuk menekan penerbitan surat ijin untuk pendirian pasar modern. Harus ada peninjuan ulang mengenai pasar modern

utamanya terkait radiusnya. Selain itu, pasar tradisional harus terus diperbaiki dari fasilitas, sara umum, petugas, pedagang, hingga kebersihan agar tidak kalah bersaing dengan pasar-pasar modern.

7. Upaya pemerintah kota terkait pasar tradisional

Narasumber di sini ingin agar fasilitas dan infrastruktur di pasar oro-oro dowo supaya lebih baik lagi namun semua terkait anggaran (APBD) terkendala dengan sumber keuangan.

III. Bapak Sampun (Ketua Paguyuban Pasar Oro-Oro Dowo) CP: 081805085168

1. Sejarah pasar

Narasumber kurang mengetahui tentang sejarah pasar. 2. Kebersihan dan kenyamanan

Narasumber merasa pasar sudah bersih dan nyaman, tidak ada masalah untuk itu. 3. Keamanan

Sistem keamanan yang dijalankan berjalan dengan baik. Untuk keamanan pasar ini diatur oleh paguyuban sendiri dan sejauh ini cukup aman dan tertib.

4. Masalah utama yang sering terjadi di pasar

Tidak ada masalah yang berarti, karena jumlah pedagang sedikit sehingga koordinasi dan komunikasi tidak mengalami kendala. Selain itu, rasa persaudaraan serta kegotongroyongan antarpedagang juga terjalin dengan kuat sehingga tidak ada yang namanya bersaing harga. Terkait masalah iuran dan retribusi, pedagang juga tidak merasa keberatan terhadap hal tersebut.

5. Keberadaan pasar tradisional dengan semakin berkembangnya pasar modern Narasumber selaku pedangang merasa tidak takut dengan semakin

berkembangnya pasar modern karena narasumber yakin pedagang di Pasar Oro-Oro Dowo mampu bersaing dengan pasar modern. Kualitas barang yang

diperjualbelikan sama bahkan lebih bagus jika dibanding dengan supermarket (utamanya pada buah dan sayur). Bahkan terkadang dari pihak supermarket mengambil beberapa barag dagangan dari pasar ini.

Dokumen terkait