• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pasar Modal

2.1.2. Pasar Modal Syariah

Kegiatan-kegiatan di pasar modal dapat dikategorikan sebagai kegiatan ekonomi yang termasuk dalam kegiatan muamalah, yaitu suatu kegiatan yang mengatur hubungan perniagaan. Menurut kaidah fiqh, hukum asal dari kegiatan muamalah adalah mubah (boleh), kecuali ada dalil yang jelas melarangnya. Hal ini berarti suatu kegiatan muamalah, seperti pembiayaan dan investasi di pasar modal baru dikenal saat ini, dianggap dapat diterima, kecuali jika terdapat larangan dalam Al-Qur‟an dan hadits yang secara implisit ataupun eksplisit.9

8

Suad Husnan, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Yogyakarta: UPP AMP YKPN, h. 8-9.

Dengan demikian, pasar modal syariah dapat diartikan sebagai kegiatan pasar modal yang memiliki karakteristik khusus. Karakteristik ini terbentuk dari adanya pemenuhan prinsip syariah dalam kegiatan transaksi ekonomi seperti: menciptakan produk, membuat kontrak dalam penerbitan efek syariah, melakukan transaksi perdagangan, serta melakukan aktivitas pasar modal lainnya.10

Pasar modal syariah adalah pasar modal yang seluruh mekanisme kegiatannya terutama mengenai emiten, jenis efek yang diperdagangkan dan mekanisme perdagangannya telah sesuai dengan prinsi-prinsip syariah. Sedangkan yang dimaksud dengan efek syariah adalah efek sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal yang akad, pengelolaan perusahaan, maupun cara penerbitannya memenuhi prinsip-prinsip syariah.11

Prinsip instrumen pasar modal syariah berbeda dengan pasar modal konvensional. Sejumlah instrumen syariah di pasar modal sudah diperkenalkan kepada masyarakat, misal saham yang berprinsipkan syariah dimana kriteria saham syariah adalah saham yang

10 Direktorat Pasar Modal Syariah Otoritas Jasa Keuangan, Roadmap

…, h. 23.

11 Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Jakarta: PT. Kencana Prenada Media Group, 2009, h. 113.

dikeluarkan perusahaan yang melakukan usaha yang sesuai dengan syariah. Sistem mekanisme pasar modal konvensional yang mengandung riba, maysir dan gharar selama ini menimbulkan keraguan adanya pasar modal yang tidak mengandung riba, maysir dan gharar. Hal ini tertuang dalam Fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 40/DSN-MUI/X/2013 tentang pasar modal dan pedoman umum penerapan prinsip syariah di bidang pasar modal. 12 Hal itu mencakup saham syariah, reksana syariah, kontrak investasi kolektif efek beragun aset syariah, dan surat berharga lainnya yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Belakangan ini intrumen keuangan syariah bertambah dengan adanya Fatwa DSN-MUI Nomor: 65/DSN-MUI/III/2008 tentang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) Syariah dan Fatwa DSN-MUI Nomor: 66/DSN-DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.13 Diperbolehkannya transaksi jual-beli efek berlandaskan pada Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) No. 80/DSN-MUI/III/2011 tentang penerapan prinsip syariah dalam mekanisme perdagangan efek bersifat

12 Rifqi Muhammad, Akuntansi Keuangan Syariah: Konsep dan

Implementasi PSAK Syariah, Yogyakarta:P3EI Press, 2010, h. 60.

13 PT. Bursa Efek Indonesia, Sekolah Pasar Modal Syariah, Jakarta: PT. Bursa Efek Indonesia, 2011, h.4.

ekuitas di pasar reguler bursa efek. Hal tersebut diatur dalam ketentuan khusus perdagangan efek yaitu sebagai berikut:

a. Perdagangan Efek di Pasar Reguler Bursa Efek menggunakan akad jual beli (ba‟i).

b. Akad jual beli dinilai sah ketika terjadi kesepakatan pada harga serta jenis volume tertentu antara permintaan beli dan penawaran jual.

c. Pembeli boleh menjual efek setelah akad jual beli dinilai sah, walaupun penyelesaian administrasi transaksi pembeliannya (settlement) dilaksanakan di kemudian hari, berdasarkan prinsip qabdh hukmi.

d. Efek yang dapat dijadikan obyek perdagangan hanya Efek Bersifat Ekuitas Sesuai Prinsip Syariah.

e. Harga dalam jual beli tersebut dapat ditetapkan berdasarkan kesepakatan yang mengacu pada harga pasar wajar melalui mekanisme tawar-menawar yang berkesinambungan (ba‟i almusawamah).

f. Dalam Perdagangan Efek tidak boleh melakukan kegiatan dan/atau tindakan yang tidak sesuai dengan prinsip syariah.14

Hal ini selaras dengan Firman Allah SWT dalam QS.An-Nisa‟ ayat 29 yaitu sebagai berikut:15

َٰٓ ٌَ

َٰٓ بٌََُّٖأ

ٱ

َٰٓ أَتَٰٓ َلََٰٓ ْاٍَُْ٘اَءَٰٓ ٌَِِزَّى

َٰٓ ُ٘يُم

َٰٓ ٍَأَٰٓ ْا

َٰٓ َ٘

َٰٓ ٍَبَٰٓ ٌُنَى

َِٰٓبَٰٓ ٌُنَْ

ٱَٰٓ ى

َٰٓ َب

َٰٓ َّلَِإَٰٓ ِوِط

َٰٓ

ََُٰٓأ

َٰٓ َجِتَٰٓ َُُ٘نَت

َٰٓ ضاَشَتََِٰٓػًَٰٓةَش

َٰٓ

َٰٓ ٌُنٍِّْ

َٰٓ

َٰٓ قَتَٰٓ َلََٗ

َٰٓ ُ٘يُت

َٰٓ ٌُنَسُفَّأَْٰٓا

َٰٓ

َٰٓ َُِّإ

ٱ

ََٰٓمََٰٓ َّللَّ

َٰٓ َُب

َٰٓ ٌُنِب

َٰٓ

َٰٓ ٍَِحَس

َٰٓب

٩٢

ََٰٰٓٓ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Fatwa-fatwa Dewan Syariah Nasional secara lengkap yang berkaitan dengan investasi di pasar modal syariah adalah sebagai berikut:

a. Fatwa No. 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanaan investasi untuk Reksadana Syariah.

b. Fatwa No. 32/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah.

14 Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia, Penerapan

Dewan Syariah Nasional No: 80/DSN-MUI/III/2011, Jakarta: PT. Bursa Efek

Indonesia, 2011, h. 20.

15 Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quran dan Terjemahnya, Semarang: CV. Alwaah, 1995. h. 122.

c. Fatwa No. 33/DSN-MUI/IX/2002 tentang Obligasi Syariah Mudharabah.

d. Fatwa No. 40/DSN-MUI/X/2003 tentang Pasar Modal dan pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.

e. Fatwa No. 41/DSN-MUI/III/2004 tentang Obligasi Syariah Ijarah.

f. Fatwa No. 59/DSN-MUI/IV/2007 tentang Obligasi Syariah Mudharabah konversi.

g. Fatwa No. 65/DSN-MUI/III/2008 tentang Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu syariah (HMETD Syariah).

h. Fatwa No. 66/DSN-MUI/III/2008 tentang Waran Syariah.

i. Fatwa No. 69/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

j. Fatwa No. 70/DSN-MUI/VI/2008 tentang Metode Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara.

k. Fatwa No. 71/DSN-MUI/VI/2008 tentang Sale and Lease Back.

l. Fatwa No. 72/DSN-MUI/VI/2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara Ijarah Sale and Lease Back.

m. Fatwa No. 76/DSN-MUI/VI/2010 tentang SBSN Ijarah Asset To Be Leased.

n. Fatwa No. 80/DSN-MUI/VI/2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat ekuitas di Pasar Reguler Bursa Efek.16

Beberapa larangan dalam kegiatan pembiayaan dan investasi oleh syariah antara lain transaksi yang mengandung riba (sistem bunga). Larangan transaksi riba‟ sangat jelas karena itu transaksi di pasar modal yang di dalamnya terdapat riba‟ tidak diperkenankan oleh syariah. Syariah juga melarang transaksi yang didalamnya terdapat spekulasi dan mengandung gharar atau ketidakjelasan, yaitu transaksi yang didalamnya dimungkinkan terjadinya penipuan (khida‟). Termasuk dalam pengertian ini, adalah melakukan penawaran palsu (najsy), transaksi atas barang yang belum dimiliki (shortselling/bai‟u maa laisa bimamluk), menjual sesuatu yang belum jelas (bai‟ al-ma‟dum), pembelian untuk penimbunan efek (ihtikar), menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan transaksi yang dilarang (insider trading).17

16

Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Yogyakarta: STIE YKPN, 2011, h. 293-294.

Fungsi dari pasar modal syariah menurut MM. Metwally adalah sebagai berikut:

1. Memungkinkan bagi masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan bisnis dengan memperoleh bagian dari kentungan dan risikonya.

2. Memungkinkan bagi pemegang saham menjual sahamnya guna mendapatkan likuiditas.

3. Memungkinkan perusahaan meningkatkan modal dari luar untuk membangun dan mengembangkan lini produksinya.

4. Memisahkan operasi kegiatan bisnis dari fluktuasi jangka pendek pada harga saham.

5. Memungkinkan investasi pada ekonomi itu ditentukan oleh kinerja kegiatan bisnis sebagaimana tercermin pada harga saham.18

Sebagaimana bersumber dari Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari „Ubadah bin Shamit, riwayat Ahmad dari Ibnu „Abbas, dan riwayat Imam Malik Yahya:19

َٰٓ ََُآَٰىَّضَقٌََْٰٓيَسٍََََِْٰٰٓٗٓٔيَػَٰٓ ّاللَّٰٓىَّيَصَٰٓ ّاللََّٰٓهُ٘سَسَٰٓ ََُا

َََٰٰٓٓساَشِض َلَََٗسَشَض َلَ

. 18 Muhammad, Akuntansi …, h. 60.

19 Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia, Penerapan ..., h. 3

Artinya: “Rasulullah S.A.W. menetapkan: Tidak boleh membahayakan/merugikan orang lain dan tidak boleh (pula) membalas bahaya (kerugian yang ditimbulkan oleh orang lain) dengan bahaya (perbuatan yang merugikannya).”

Di Indonesia, perkembangan instrumen syariah di pasar modal sudah terjadi sejak tahun 1997. Diawali dengan lahirnya reksadana syariah yang diprakarsai dana reksa. Selanjutnya, PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) bersama dengan PT Danareksa Investment Management (DIM) meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) yang mencakup 30 jenis saham dari emiten-emiten yang kegiatan usahanya memenuhi ketentuan tentang hukum syariah. Penentuan kriteria dari komponen JII tersebut disusun berdasarkan persetujuan dari Dewan Pengawas Syariah DIM.

Sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam menentukan kriteria saham-saham emien yang menjadi komponen daripada Jakarta Islamic Index tersebut adalah:

a. Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan prinsip hukum syariah dan sudah tercatat lebih dari 3 bulan (kecuali bila termasuk di dalam saham-saham 10 berkapitalisasi besar).

b. Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahunan berakhir yang memiliki kewajiban terhadap aktiva maksimal sebesar 90%.

c. Memilih 60 saham dari susunan diatas berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar selama satu tahun terakhir. d. Memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan

tingkat likuiditas rata-rata nilai perdagangan selama satu tahun terakhir.

Pengkajian ulang akan dilakukan 6 bulan sekali dengan penentuan komponen indeks pada awal bulan juli setiap tahunnya. Sedangkan perubahan pada jenis usaha emiten akan di-monitoring secara terus-menerus berdasarkan data publik yang tersedia.20

Dokumen terkait