SPV/ KIK
2.4. Rasio Keuangan
2.4.1. Rasio Likuiditas
Likuiditas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi (dalam jangka pendek atau satu tahun terhitunng sejak tanggal neraca dibuat). Kewajiban atau hutang jangka pendek yang ada dalam neraca dapat dipenuhi atau ditutup dari aktiva lancar yang juga berputar dalam jangka pendek. Rasio likuiditas dihitung
menggunakan data neraca perusahaan.62 Fred Weston menyebutkan bahwa rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek. Artinya apabila perusahaan ditagih, maka akan mampu untuk memenuhi utang (membayar) tersebut terutama pada utang yang sudah jatuh tempo.63
Likuiditas merupakan kemampuan untuk mengubah aktiva menjadi kas atau kemampuan untuk memperoleh kas. Jangka pendek secara konvensional dianggap periode hingga satu tahun, meskipun jangka waktu ini dilakukan dengan siklus oprasi normal suatu perusahaan (periode waktu yang mencakup siklus pembelian-produksi-penjualan-penagihan). Likuiditas dinyatakan dalam perbedaan tingkatan. Kurangnya likuiditas menghalangi perusahaan untuk memperoleh keuntungan dari diskon atau kesempatan mendapatkan keuntungan. Juga berarti pembatasan kesempatan dan tindakan manajemen. Masalah likuiditas yang lebih parah mencerminkan ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban lancar. Masalah ini dapat mengarah pada penjualan investasi dan aktiva dengan
62 Budi Rahardjo, Dasar-dasar ..., h. 138. 63 Kasmir, Pengantar ..., h.110.
terpaksa, dan dalam bentuk yang paling parah, mengarah pada insolvensi dan kebangkrutan.
Untuk pemegang saham perusahaan, kurangnya likuiditas sering kali diawali dengan keuntungan yang rendah dan berkurangnya kesempatan. Kurangnya likuiditas dapat mengakibatkan hilangnya pengendalian pemilik atau kerugian investasi modal. Saat pemilik perusahaan memilikikewajiban tak terbatas (pada perusahaan perorangan atau persekutuan), kurangnya likuiditas membahayakan aktiva pribadi mereka. Untuk kreditor perusahaan, kurangnya likuiditas dapat menyebabkan penundaan pembayaran bunga dan pokok pinjaman atau bahkan tidak dapat ditagih sama sekali. Pelanggan dan pemasok produk dan jasa perusahaan juga merasakan masalah likuiditas jangka pendek. Implikasinya antara lain mencakup ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kontrak serta merusak hubungan dengan pelanggan dan pemasok penting.
Hal ini memperlihatkan bahwa ukuran likuiditas sangat penting dalam analisis suatu perusahaan. Jika suatu perusahaan gagal memenuhi kewajiban lancarnya, maka kelangsungan usahanya dipertanyakan. Dipandang dari sisi ini, semua ukuran analisis menjadi kurang penting dibandingkan likuiditas. Meskipun ukuran akuntansi mengasumsikan
kelangsungan hidup perusahaan, analisis perlu selalu menilai keabsahan asumsi ini dengan menggunakan ukuran likuiditas dan solvabilitas.
Modal kerja merupakan ukuran likuiditas yang banyak digunakan. Modal kerja (working capital) adalah selisih aktiva lancar setelah dikurangi kewajiban lancar. Modal kerja merupakan ukuran aktiva lancar yang penting yang mencerminkan pengaman bagi kreditor. Modal kerja juga penting untuk mengukur cadangan likuiditas yang tersedia untuk memenuhi kontinjensi dan ketidakpastian yang terkait dengan keseimbangan antara arus kas masuk dan arus kas keluar perusahaan. 64 Secara singkat pengaturan likuiditas adalah: a. Kemampuan perusahaan untuk menaikkan sejumlah tertentu dan kas yang ada, b. Pada ongkos tertentu, c. Dalam waktu yang singkat dan tepat. Penilaian cukup atau tidaknya likuiditas harus mencakup ketiga batasan tersebut.65
Rasio likuiditas meliputi: rasio lancar (current ratio), rasio cepat (quick ratio), quick test ratio (QTR), net working capital (NWC), dan defensive interval ratio (DIR). Namun, pada penelitian ini penulis memilih
64 John J. Wild, K.R. Subramanyam, dan Robert F. Halsey, Financial
..., h. 186.
65 Veithzal Rivai dan Arviyan Arifin, Islamic Banking Sebuah Teori,
penghitungan menggunakan rasio lancar (current ratio). Rasio lancar (current ratio) yaitu kemampuan aktiva lancar perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang dimiliki. Likuiditas jangka pendek ini penting karena masalah arus kas jangka pendek bisa mengakibatkan perusahaan bankrut. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo. Rasio lancar dapat pula dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat keamanan (margin of safety) suatu perusahaan.66
Hal-hal tersebut terjadi karena sebagian besar aktiva lancar diperkirakan akan dapat ditukar atau diubah menjadi kas dalam tempo satu tahun atau kurang, sementara itu sebagian besar utang lancar adalah kewajiban yang diperkirakan harus dibayar menggunakan kas dalam tempo satu tahun atau kurang.67 Rumus rasio lancar adalah: Aktiva lancar di bagi dengan kewajiban lancar.
Dalam mengukur rasio modal kerja yang penting bukan besar kecilnya perbedaan aktiva lancar dengan utang jangka pendek (modal kerja neto)
66
Kasmir, Pengantar ..., h. 111.
67 S. Munawir, Akuntansi Keuangan dan Manajemen, Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA, 2002, h. 277-278.
melainkan harus dilihat pada hubungannya atau perbandingannya yang mencerminkan kemampuan mengembalikan utang. Current ratio yang tinggi mungkin menunjukkan adanya uang kas yang berlebihan dibanding dengan tingkat kebutuhan atau adanya unsur aktiva lancar yang rendah likuiditasnya seperti persediaan) yang berlebih-lebihan. Current ratio yang tinggi tersebut memang baik dari sudut pandangan kreditur, tetapi dari sudut pandangan pemegang saham kurang menguntungkan. Karena aktiva lancar tidak didayagunakan dengan efektif. Sebaliknya current ratio yang rendah relatif lebih riskan, tetapi menunjukkan bahwa manajemen telah mengoperasikan aktiva lancar secara efektif. Saldo kas dibuat minimum sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perputaran piutang dan persediaan diusahakan maksimum.68
Semakin tinggi rasio lancar seharusnya semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jangka pendek. Tetapi rasio lancar yang terlalu tinggi juga menunjukkan manajemen yang buruk atas sumber likuiditas. Kelebihan dalam aktiva lancar seharusnya digunakan untuk membayar dividen, membayar hutang jangka panjang, atau untuk investasi
68 Jumingan, Analisis Laporan Keuangan, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2014, h. 124.
yang bisa menghasilkan tingkat kembalian lebih.69 Relevansi rasio lancar secara luas digunakan sebagai ukuran likuiditas mencakup kemampuannya untuk mengukur:
1. Kemampuan memenuhi kewajiban lancar. Semakin tinggi perkalian kewajiban lancar terhadap aktiva lancar, semakin besar keyakinan bahwa kewajiban lancar akan dibayar.
2. Penyangga kerugian. Semakin besar penyangga, semakin kecil risikonya. Rasio lancar menunjukkan tingkat keamanan yang tersedia untuk menutup penurunan nilai aktiva lancar nonkas pada saat aktiva tersebut dilepas atau dilikuidasi.
3. Cadangan dana lancar. Rasio lancar merupakan ukuran tingkat keamanan terhadap dan kejutan atas arus kas perusahaan. Ketidakpastian dan kejutan, seperti adanya pemogokan dan kerugian luar biasa, dapat membahayakan arus kas secara sementara dan tidak terduga.70