BAB IV GAMBARAN UMUM
4.1 Sejarah Kota Banda Aceh
4.1.4 Pasca Kolonial (1945 – sekarang)
Jika masa Tamaddun Islam dan masa kolonial adalah bagian dari masa lalu, maka masa pasca kolonial ada wajah Aceh masa kini. Tatanan wajah Aceh masa kini merupakan buah hasil dari perjalanan panjangnya dengan segala kejadian demi kejadian yang terus terjadi. Seperti yang terlihat saat ini semua bangunan lama yang berada di Kota Banda Aceh menganut gaya Kolonial Belanda, sedangkan bangunan kejayaan Aceh pada masa lampau telah dibumihanguskan oleh Belanda. Baik pada
masa Kolonial maupun Pasca Kolonial yang mencoba beberapa kali membakar Masjid Raya Baiturrahman. Hal ini memicu kemarahan warga Aceh, karena rumah ibadah dan simbol kebanggaan dibakar. Terlebih dari itu Masjid Raya Baiturrahman adalah kebanggaan rakyat Aceh. Lalu berdasarkan kesepakatan bersama antara pemerintah Belanda dan beberapa bangsawan Aceh yang berpengaruh pada saat itu membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman, namun tidaklah sama seperti bangunan pada awal masjid tersebut didirikan.
4.2 Sejarah Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrrahman adalah salah satu masjid peninggalan bersejarah yang telah ada sejak jaman Sultan Iskandar Muda. Namun, masjid yang ada saat ini bukanlah masjid yang dibangun pada masa kesultanan dahulu, namun masjid yang dibangun kembali oleh Belanda karena bangunan yang lama telah dibakar.
Menurut buku Mesjid Bersejarah di Namggroe Aceh jilid I, 2009 (Kanwil Depag Agama), bangunan mula Masjid Baiturrahman pada era Sultan Iskandar Muda bisa dilihat di desain sketsa Peter Mundy, yang merupakan pengelana berkebangsaan Eropa yang singgah di Aceh tahun 1937. Dia menggambar masjid ini berbentuk bangunan persegi yang terbuat dari kayu dan beratap meru, atapnya terdiri dari empat bentuk piramida yang semakin mengecil ke atas. Pada bangunan ini tidak memiliki menera yang ada hanya pagar yang mengelilingi bangunan (Gambar 4.2). Para sejarahwan menjadikan karya sketsa Peter Mundy sebagai referensi untuk mengetahui riwayat Masjid Raya Baiturrahman. Dapat dilihat dari sketsa bahwa bentuk Mesjid
Raya Baiturrahman pada sketsa Peter menyerupai Masjid Tuha di Indrapuri, Aceh Besar pada Gambar 4. 3 – 4. 5.
Gambar 4.3 Sketsa Peter Mundy (1637) menunujukkan bentuk bangunan masjid Sumber :
https://gpswisataindonesia.wordpress.com/2014/12/01/masjid-raya-baiturrahman-banda-aceh-nanggore-aceh-darussalam/
Gambar 4.4 Bentuk denah dan bangunan Masjid Raya Baiturrahman berdasarkan sketsa Peter Mundy
Gambar 4.5 Masjid Tuha Indrapuri, Aceh Besar
Zein (1999) mengatakan bangunan masjid yang dibangun pada era Sultan Iskandar Muda ini telah terbakar dan dibangun kembali pada era Sultanah Nurul
‘Alam Naqiatuddin Syah (1675 – 1678 M). Masjid yang dibangun kembali di masa ini sering digunakan sebagai tempat untuk musyawarah dalam menyusun strategi melawan Belanda pada Gambar 4.6.
Sebagai pusat perlawanan, masjid ini menjadi salah satu sasaran Belanda.
Pada tanggal 10 April 1873 M, tempat ibadah masyarakat Aceh ini berhasil dikuasai oleh Penjajah Belanda dan sebagian besar bangunannya dibakar. Kemudian pada tanggal 14 April 1873, masyarakat Aceh berhasil merebut kembali masjid ini. Dalam pertempuran tersebut Mayor Jenderal J.H.R Kohler ikut terbunuh bersama 400 pasukannya. Akibat dari kekalahan tersebut, pada 6 Januari 1874, Belanda kembali melakukan penyerangan dan berhasil merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman.
Bukan hanya merebut, namun Belanda juga membakar masjid tersebut hingga rata dengan tanah. Hal ini menimbulkan kemarahan rakyat Aceh.
Gambar 4.6 Masjid yang dibangun kembali pada masa Sultanah Nurul ‘Alam Naqiatuddin Syah (1675 – 1678 M)
Sumber : https://gpswisataindonesia.blogspot.co.id/2014/12/masjid-raya-baiturrahman-banda-aceh.html
Untuk meredamkan amarah rakyat Aceh kepada koloni Belanda, Gubernur Jenderal Belanda, J.W. Van Lansberge kemudian datang ke Aceh dan berjanji untuk membangun kembali masjid yang baru untuk mengganti masjid yang telah dibakar.
Pada 9 Oktober 1879, peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan oleh Tengku Malikul Adil dan dihadiri oleh Gubernur Militer Hindia Belanda di Aceh saat itu, G.J. Van der Heijden. Pembangunan masjid ini selesai dan resmi yang dibuka pada 27 Desember 1881 untuk diserahkan kepada rakyat Aceh.
Kreemer (1920) menuliskan tentang pembangunan Masjid Raya Baiturrahman, Belanda berusaha membangun kembali masjid ini untuk memberikan
kesan baik bagi orang Aceh, dan itu tidaklah mudah. Pembangunan masjid ini memiliki beberapa kendala antara lain minimnya tenaga kerja, karena masyarakat Aceh tidak mau bekerja dibawah perintah Belanda, mereka lebih memilih jalan lain yaitu perang. Sehingga akhirnya Belanda harus menggunkan tenaga kerja dari China.
Kendala berikutnya muncul ketika para kontraktor (pemborong) dari Jawa tidak bersedia ikut didalam proyek itu dikarena perang di Aceh masih berlangsung sengit. Hanya satu kontraktor yang berani melakukan penawaran, yaitu Lie A Sie, seorang Letnan Cina di Aceh. Ia menerima anggran sebesar f 200.000 untuk membangun Masjid Raya Baiturrahman. Dengan uang sebesar itu bahan-bahan pada bangunan ini diimpor dari luar negeri. Bahan bangunan yang dipakai didatangkan dari beberapa negara. Batu bata dari Belanda, kayu jati dibawa dari Burma (British-India), marmer dari China, besi untuk jeruji jendela dan pagar teras kubah didatangkan dari Belgia dan Surabaya. Genteng keramik dibawa dari Palembang.
BAB V
PEMBAHASAN DAN HASIL
5.1 Pengaruh Eklektisisme pada Kubah Mesjid Raya Baiturahman
Bangunan masjid berkubah di Aceh pertama kali diperkenalkan oleh Belanda pada Bangunan Masjid Raya Baiturrahman. Sebelum itu, hampir semua bangunan masjid di Aceh berbentuk atap bertingkat dan pola ini masih dapat dilihat pada sejumlah peninggalan masjid-masjid lama di Aceh. Pertama sekali masjid ini selesai dibangun (1881) dengan konstruksi satu kubah. Kemudian tahun 1935, masjid ini diperluas sebelah kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah. Di tahun 1956 kembali mengalami perluasan dengan tambahan dua kubah dan dua menara sebelah utara dan selatan. Dan terakhir terjadi penambahan kubah kembali di tahun 1982, sehingga Masjid Raya Baiturrahman memiliki tujuh kubah dan delapan menara.
Dalam penelitian Wihelmina (1994) berpendapat bahwa bentuk kubah yang digunakan pada Bangunan Mesjid Raya Baiturrahman mengingatkannya akan bangunan yang ada di Alhambra dan Mesjid Cordoba dimana bangunan-bangunan tersebut mewarisi Gaya Moorish/Mughal pada bangunannya. Gaya Moorish merupakan gaya yang dipengaruhi arsitektur Islam, gaya ini berkembang pada abad 8 – 15 M. pada abad ke-7 M, Islam menguasai daerah Kashmir, Persia, Semenanjung Arab, pantai utara Afrika, sebagian besar Spanyol dan Portugal. Pada masa ini banyak peninggalan arsitektur yang berupa bangunan agama dan benteng.
67
Karakter utama dari bangunan bergaya Moorish adalah busur lengkung bentuk tapal kuda. Penggunaan busur yang saling tertimpa dan dekoratif. Kadang dibuat dari bahan yang berbeda, seperti pemakaian bahan bata merah dan batu putih bergantian dapat dilihat pada Gambar 5.1. Sedangkan pada bangunan agama umumnya masjid dibangun relatif rendah dengan bentuk denah segiempat. Bangunan utama dibagi menjadi beberapa baris kolom.
Gambar 5. 1Busur lengkung bentuk tapal kuda
Sumber: https://atpic.wordpress.com/2010/07/26/pengaruh-islam-moor-abad-8-15-m/
Arif (2008) juga mengatakan bahwa arketipe kubah bawang Masjid Baiturrahman tidak hanya mengikuti Taj Mahal di India, tapi juga mengikuti kubah gereja Katolik di Sussex, Inggris dan tempat-tempat lainnya. Pada setiap jenjang, dihias dengan miniatur sebuah gardu atau cungkup yang dihiasi kubah bawang pada
puncaknya. Corak ini menunjukkan adanya pengaruh Arsitektur Mughal yang banyak berkembang di India. Dapat dilihat pada Gambar 5.2.
Gambar 5. 2Kubah Masjid Baiturrahman yang menyerupai Taj Mahal di India Sumber: https://www.eiseverywhere.com/ehome/exchangeindia/393606/
Bentuk kubah dasar bangunan Masjid Raya Baiturrahman tampak seperti tambur yang berbentuk segi delapan. Kubah tersebut dibuat menggunakan struktur kayu dengan satu kolom besar ditengahnya sebagai kolom utama yang berfungsi untuk mendukung membentuk kubah bawangnya. Bagian ini ditutupi oleh papan
kayu yang dipanaskan untuk mendapatkan bentuk yang melengkung. Akhirnya, kubah ditutupi oleh atap sirap kayu yang cukup keras.
Kubah bawang pada bangunan Masjid Baiturrahman dan Taj Mahal hanya berfungsi sebagai arsitektural, tidak berfungsi sebagai elemen struktur. Lain halnya dengan kubah pada Kuil Pantheon Romawi yang berfungsi sebagai ruangan, sehingga dapat menciptakan ruang yang luas dan bebas kolom pada bangunan pada Gambar 5.3. Pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman ruang yang terbentuk di dalam kubah tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal, dan ruang luas yang tercipta bukan disebabkan oleh struktur lengkung atau kubah pada Gambar 5.4.
Gambar 5. 3 Struktur kubah/lengkung pada Kuil Pantheon
Sumber: http://motosuki.blogspot.co.id/2009/04/pantheon-pencapaian-arsitektur-romawi.html
Gambar 5. 4 Struktur kubah/lengkung pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman tidak membentuk ruang
Dari hasil analisa elemen arsitektur kubah pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh, didapati hasil seperti pada Tabel 5.1 berikut:
Tabel 5. 1 Kesimpulan Eklektisisme pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman
Uraian Kubah (Masjid Raya Baiturrahman)
Variabel Arsitektur Islam Arsitektur
Tradisional Aceh Arsitektur Kolonial
Berbentuk
5.2 Pengaruh Eklektisisme pada Dinding Mesjid Raya Baiturahman
Gerbang adalah bagian pertama pada masjid ini yang posisinya menempel dengan unit utama. Setelah melewati gerbang, terlihat serambi yang berbentuk persegi panjang. Pada bagian depan, kiri dan kanan serambi dikelilingi oleh tangga yang berbentuk “U”. Pada ujung tangga depan terdapat tiga bukaan (jendela tanpa pintu) yang terbentuk oleh empat tiang silindris. Pada bagian atas dan sisi pintu gerbang, terdapat hiasan relief lengkung-lengkung menggunakan corak arabesque (motif daun, cabang dan pohon). Di atas ketiga pintu gerbang ini, terdapat semacam tympanum yang berbentuk jenjang seperti penampang sebuah tangga.
Terdapat sebuah jam bundar pada bagian atas gerbang tepat di pintu masuk masjid. Jam ini diapit oleh dua buah mawar yang berkelopak delapan. Posisi bunga mawar dan jam jika ditarik garis lurus akan membentuk segitiga sama sisi. Jam ini berfungsi sebagai pengingat waktu shalat (Gambar 5.5). Untuk masuk ke dalam masjid melewati lima gerbang lengkungan yang tinggi, dengan penempatan tiga di bagian teras depan dan dua lainnya di bagian pintu masuk. Gerbang ini di topang oleh kolom yang dihiasi ornament pada bagian atasnya dan terdapat kaligrafi di atas lengkungan pada kolom tersebut. Di bagian atap masjid pada kubah terdapat delapan lubang angin yang berbentuk lingkaran.
Gambar 5. 5 Jam bundar yang diapit relief dua mawar dan bila ditarik garis lurus membentuk segitiga sama sisi
Ornamen yang terdapat pada dinding gerbang adalah berbentuk flora, yaitu bentuk yang berhubungan dengan tumbuh-tumbuhan dan bunga-bungaan. Pada ukiran yang terdapat pada dinding gerbang tidak diberi warna. Pada bangunan ini dinding bangunan berwarna putih dan ukirannya juga mengikuti warna pada dinding yaitu warna putih. Pemakaian warna putih pada bangunan bersifat netral dan memberikan kesan suci.
Dinding jendelanya terdiri atas dua bagian. Bagian bawah memiliki pola geometrik gabungan bentuk ortogonal. De Bruins lebih memilih pola yang berasal dari Mesir ini tidak menggunakan ornamen arsitektural setempat. Bagian atas jendela dihiasi ornamen berbentuk flora yang simetris. Ada bentuk jambangan pada bagian dasarnya dapat dilihat pada Gambar 5.6.
Gambar 5.6 Pola dari Mesir, terdapat dalam buku Prisse d’Avennes yang dipublikasikan oleh the Libraries de Firmin Didot et Cie Paris tahun 1879 (kiri),
Jendela Masjid Raya Baiturrahman (kanan)
Walaupun dikatakan De Bruins tidak menggunakan pola maupun motif lokal pada bangunan masjid ini, namun pola ragam hias yang ada pada bangunan masjid juga menyerupai ornamen Aceh yang memiliki pola geometris. Pola geometris ini umum dijumpai pada bangunan tradisional Aceh, seperti bentuk lingkaran, segi empat, dan segi enam dapat dilihat pada Gambar 5.7.
Gambar 5.7Pola geometris pada bangunan tradisional Aceh Sumber: Hadjad dkk, 1984
Bagian dalam atau dinding masjid berwarna putih. Namun pada beberapa ukiran dan hiasan pada ornamen hias memiliki warna yang berbeda, yaitu warna hijau tua, kuning emas, coklat, dan merah tua. Relief arabesk mendominasi dinding-dinding bagian dalam mesjid.
Pada bangunan ini bisa dilihat dalam penerapan imitasi elemen-elemen alam, yaitu pada detail ornamen hias bangunan yang menggunakan hiasan bunga. Terdapat hiasan bunga yang berada dikedua sisi kolom pada lungkungan gerbang pintu masuk.
Menurut Rapp (1964), De Bruins mengadopsi dari corak serupa yang terdapat di Masjid Tala’I Ibn Razik yang didirikan pada abad ke-12. Pola itu juga yang terdapat dalam buku Prisse d’Avennes.
Elemen fasade berundak dibuat berulang. Pada fasade bagian tengah terdapat jam dinding dengan kaligrafi Arab yang mengitarinya. Kaligrafi ini adalah dua kalimat syahadat, yang berarti: “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah”. Ukiran pada bagian tengah langit-langit di atas tempat lilin adalah Surat Al-Ikhlas. Arif (2008) menjelaskan bahwa dekorasi pada masjid ini diambil De Bruins dari Alhambra di Granada. Kesamaan dengan Alhambra dalam pola, namun berbeda dengan desain interiornya. Lengkung interiornya diberi ornamentasi flora. Di atas setiap tiang terdapat pilaster persegi panjang yang merupakan tambahan di setiap kepala tiang. Pilaster ini menjadi ukiran motif flora. Ornamen ini pada masa itu belum lazim terdapat pada bangunan masjid di Indonesia. Ornamen ini berasal dari dari Masjid Raya Cordoba di Spanyol. Namun, pilaster Masjid Raya Baiturrahman hanya berupa dekorasi, bukan menjadi elemen struktur seperti pada masjid di
Cordoba. Pada lengkungannya juga memiliki perbedaan, yaitu pada Masjid Raya Baiturrahman lengkungannya berbentuk bawang pada Gambar 5.8 - 5.9.
Gambar 5. 8Pilaster masjid Cordoba di Spanyol dengan lengkung tapal kuda yang digunakan sebagai struktur.
Sumber : https://www.learner.org/courses/globalart/work/224/index.html
Gambar 5. 9 Pilaster Masjid Raya Baiturrahman dengan lengkung bawang yang hanya berfungsi sebagai ornamen.
Busur lengkung yang terdapat pada jendela dan pintu masuk pada bangunan masjid mengadopsi dari bentuk Gereja Romanesque. Namun dalam pengaplikasiannya, bentuk lengkung pada kolom, pintu dan jendela bukan sebagai elemen struktural yang menopang beban bangunan. Selain itu pada arsitektur
Romanesque terdapat tympanum yang berfungsi sebagai pahatan yang berisi penggalan cerita injil (Gambar 5.11). Demikian halnya pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman juga terdapat pahatan kaligrafi pada kuningan yang ditempelkan pada dinding bangunan pada Gambar 5.10.
Gambar 5. 10 Kaligrafi kuningan
Gambar 5. 11 Kolom pada bangunan mesjid
Mesjid Raya Baiturrahman merupakan sebuah bangunan tempat berlangsungnya aktivitas keagamaan bagi umat Muslim. Menurut penelitian yang
telah dilakukan pada bangunan Mesjid Raya Baiturrahman, dikatakan bahwa bangunan ini mendapat pengaruh eklektik, dimana suatu rancangan yang dihasilkan dari berberapa unsur dan desain terbaik dari berbagai negeri, sehingga bangunan mesjid menjadi begitu megah dan indah. Untuk menambah kemegahan dan keindahannya, mesjid ini diposisikan di tengah lapangan yang luas terbuka, sehingga semua bagian bisa terlihat dari kejauhan.
Gambar 5. 12 Bentuk bangunan Mesjid Raya Baiturrahman
Sumber: https://dolanyok.com/keindahan-masjid-raya-baiturrahman-aceh-peta-lokasi-foto/
Bagian pertama masjid adalah gerbang, posisinya menempel dengan unit utama. Setelah gerbang terdapat porch yang berbentuk segiempat panjang. Bagian depan, kiri dan kanan porch dikelilingi dengan tangga yang membentuk huruf “U”.
Pada ujung tangga depan, terdapat tiga bukaan (jendela tanpa pintu) yang dibentuk oleh empat kolom (tiang).
Gerbang Porch; serambi muka
Dari hasil analisa elemen arsitektur dinding pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh, didapati hasil seperti pada tabel 5.2:
Tabel 5.2 Kesimpulan Eklektisisme pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman
Uraian Dinding
Kaligrafi pada dinding Bentuk dari arabesque
5.3 Pengaruh Eklektisisme pada Kaki/Tiang Bangunan Mesjid Raya Baiturahman Bangunan Mesjid Raya Baiturrahman di Kota Banda Aceh mulai di bangun pada tahun 1879 dan selesai di bangun pada tahun 1881. Pada saat selesai dibangun,
terjadi penolakan oleh masyarakat Aceh yang disebabkan denahnya berbentuk cross (Gambar 5.13). Pada bentuk tradisional arsitektur masjid sendiri pada umumnya diperlihatkan dengan bentuk-bentuk denah persegi/bujursangkar, dengan serambi mukanya. Bagian utama adalah bentuk bujursangkar dalam, yang biasanya memiliki empat kolom (sakaguru) untuk mendukung atap. Meski kolom ini sekarang mungkin digantikan dengan elemen lain karena perkembangan teknologi, namun bentuk tradisional masih digunakan pada denah masjid. Esensi dari perulangan tipologi merupakan pengaruh dari eklektisisme.
.
Gambar 5. 13 Denah Mesjid Baiturrahman karya De Bruins yang selesai di bangun tanggal 27 Desember 1881.
Sumber: Arif, 2008
Gambar 5. 14 Perbandingan bentuk denah masjid tradisional Aceh dan denah Masjid Raya Baiturrahman.
Denah awal pada bangunan mesjid memiliki satu ruangan yang luas, yang dimanfaatkan sebagai tempat shalat. Denah itu menyerupai bentuk denah bangunan mesjid tradisional Aceh. Pada bangunan tradisional mesjid Aceh yang pada umumnya memiliki sebuah ruangan saja, yang berfungsi sebagai tempat shalat. Selain itu terdapat mihrab yang berfungsi sebagai tempat imam memimpin shalat berjamaah pada Gambar 5.15.
Kreemer dalam Arif (2008), menjelaskan pola denah yang dirancang oleh arsitek Belanda, De Bruins, berbentuk cross dengan empat tangan yang sama besar.
Pusatnya berukuran 12 x 12 m, sementara panjang tangannya 10 m. Bentuk yang simetri pada bangunan Mesjid Raya Baiturrahman mengadopsi arsitektur kolonial dengan gaya Indische Empire Style yang memang sedang berkembang pada saat itu.
Masih menggunakan empat kolom utama sebagai pendukung atap
Denah utama masih berbentuk bujursangkar dan memiliki serambi di depannya
Gambar 5. 15 Bentuk simetri pada denah bangunan Mesjid Raya Baiturrahman
Setelah bangunan mesjid ini selesai dibangun, masyarakat Aceh menolak keberadaan mesjid ini dikarenakan bentuk denahnya. Dalam upaya menghilangkan denah yang berbentuk cross tersebut, maka ditambahkan dua kubah pada sisi kiri dan kanan bangunan. Sehingga tidak terlihat lagi denah yang berbentuk cross pada bangunan pada Gambar 5.16.
Gambar 5. 16 Perubahan denah pada bangunan Mesjid Raya Baiturrahman Bentuk denah yang simetri
Terdapat central room Terdapat teras, pada bagian
depan banguanan
Penambahan kubah pada Mesjid Raya Baiturrrahman kembali dilakukan pada tahun 1936 oleh Gubernur Van Aken. Perluasan ini dilakukan dengan penambahan dua kubah, yang awalnya tiga kubah menjadi lima kubah serta menambah dua menara di arah utara dan selatan. Perubahan pada bangunan masjid ini hanya melakukan pengulangan dari bentuk bangunan yang sudah sebelumnya.
Di tahun 2014, Masjid Raya Baiturrahman mengalami bencana alam tsunami yang menyebabkan kerusakan di beberapa bagian masjid. Masjid Raya Baiturrahman terus mengalami perbaikan dan renovasi. Dan di tahun 2016, dilakukan renovasi kembali pada lansekap masjid. Renovasi tersebut meliputi penambahan parkiran basement, tempat wudhuk dan paying elektrik di taman masjid.
Dari hasil analisa elemen arsitektur kaki/tiang (denah/kolom) pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh, didapati hasil seperti pada Tabel 5.3
Tabel 5.3 Kesimpulan Eklektisisme pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman
Uraian Kaki/Tiang
Tabel 5.3 (Lanjutan)
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari pembahasan penelitian yang berjudul Pengaruh Eklektisime pada Bangunan Masjid Baiturrahman Kota Banda Aceh, bentukan yang terjadi pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman ini merupakan ekspresi dari eklektisisme. Dari penelitian ini ditemukan adanya unsur-unsur dari berbagai arsitektur yang mempengaruhinya. Pengaruh eklektisisme pada bangunan dapat dilihat pada: bentuk bangunan dan penggunaan ornamen bangunan.
Bentuk-bentuk masa lalu tersebut bisa dilihat dari bentuk kubah yang mengadopsi kubah Mughal bangunan masjid Taj Mahal, Agra. Dimana kubah tersebut merupakan transformasi bentuk kubah dari arsitektur Romawi Kuno.
Selain menggunakan bentuk kubah, bangunan masjid Masjid Raya Baiturrahman memiliki denah yang simetri. Denah simetri lazim terdapat pada bangunan-bangunan sejak dari masa Arsitektur Yunani. Selain denah penggunaan kolom ini merupakan salah satu bentuk eklektik padda bangunan masjid ini.
Walaupun penggunaan kolom pada bangunan ini hanya berfungsi sebagai ornamentasi bukan sebagai struktur.
85
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas maka akan diberikan beberapa saran dan masukan antara lain:
1. Bangunan Masjid Raya Baiturrahman merupakan bangunan bersejarah di Kota Banda Aceh, yang juga berfungsi sebagai ikon Kota Banda Aceh.
Maka diperlukannya keterlibatan setiap masyarakat dalam menjaga dan melestarikan bangunan masjid.
2. Keberadaan bangunan masjid yang sarat akan sejarah, dan juga merupakan salah satu contoh bangunan eklektik dapat berguna dalam bidang ilmu pengetahuan dan menjadi referensi bagi bidang arsitektur khususnya dan bidang keilmuan lain pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arif, K, 2008. Ragam Citra Kota Banda Aceh, Pustaka Bustanullatin : Banda Aceh.
Bagus, Lorenz, 2002. Kamus Filsafat, Gramedia, Jakarta.
Burckhardt, Titus, 2017, Art of Islam: Language and Meaning, World Wisdom, Inc.
Ching, Francis DK, 1987, Architecture : Form, Space and Order, Van Nostrand Reinhald.
Cousin, Victor, 1872, Course of the History of Modern Philosophy. Translated by Gerge Ripley Edinburg: Thomas Clark, dalam Hatcher(1999:123, 125) Eclecticism and Modern Hindu Discourse, Oxford University Press, New York.
Elleh N, 1997, African Architecture, Evolution & Transformation, McGraw-Hill, New York.
Fletcher, SB, 1961, A History of Architecture, on the Comparative Method, 7th Edition, Charles Scribner’s Sons, New York.
Fraic, Adrian Sheppard. Some Thughts Canadian and American Eclecticism in Public Architecture, Montreal, Canada.
Gosden, Chris. 2004. Archaelogy and Colonialism. Cambridge University Press.
Gyetvai-Balogh, Agnes. 2007. Architecture of the 19th century and the Turn of the
Gyetvai-Balogh, Agnes. 2007. Architecture of the 19th century and the Turn of the