• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH EKLEKTISISME PADA BANGUNAN MESJID (STUDI KASUS: MESJID RAYA BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH) TESIS OLEH RENA MAULIDA /AR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH EKLEKTISISME PADA BANGUNAN MESJID (STUDI KASUS: MESJID RAYA BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH) TESIS OLEH RENA MAULIDA /AR"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS OLEH

RENA MAULIDA 137020011/AR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik Dalam Program Studi Teknik Arsitektur Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara

OLEH

RENA MAULIDA 137020011/AR

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(3)

PENGARUH EKLEKTISISME PADA BANGUNAN MESJID

(STUDI KASUS: MESJID RAYA BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH)

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 2019

( Rena Maulida )

(4)
(5)

Panitia Penguji Tesis

Ketua Komisi Penguji : Dr. Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl,TP,M.Arch Anggota Komisi Penguji : 1. Dr. Imam Faisal Pane, ST, MT,IPM

2. Dr. Ir. Dwira Nirfalini Aulia, M.Sc,IPM 3. Amy Marisa, ST, M.Sc, PhD

(6)

Pada masa kolonial Belanda, Aceh mengalami pergeseran kejayaanya, di mana Belanda membumihanguskan kerajaan Aceh dan kemudian membangun kembali Aceh yang baru. Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh saat ini merupakan hasil karya arsitektur di masa kolonial Belanda. Dari hasil penelitian sebelumnya, para ahli menyebutkan bahwa bangunan Masjid Raya Baiturrahman bergaya arsitektur eklektik, yaitu percampuran unsur-unsur terbaik dari berbagai gaya arsitektur. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pengaruh eklektisisme pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman. Dengan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif-komparatif yaitu dengan mendeskripsikan elemen-elemen visual bangunan kemudian membandingkan dengan pendekatan teori arsitektur kolonial, teori arsitektur tradisional Aceh dan teori arsitektur Islam. Dari hasil analisis elemen visual pada bangunan tersebut ditemukan gaya arsitektur Islam dominan mempengaruhi masjid, pengaruh gaya arsitektur tradisional Aceh tampak pada ornamen dinding, dan pengaruh gaya arsitektur kolonial terlihat pada bentuk denah yang simetris. Maka dapat disimpulkan bahwa perpaduan unsur-unsur gaya arsitektur tersebut merupakan eklektisisme yang mempengaruhi bangunan Masjid Raya Baiturrahman.

Kata Kunci : eklektik, eklektisisme, bangunan masjid

i

(7)

ii

Baturrahman, Banda Aceh, was the architectural performance of Dutch Colonialist.

The result of the previous study revealed that its building is an eclectic style mixed with the best elements of various architectural styles. The objective of the research was to find out the influence of” eclecticism in the construction of the Mosque. The research used descriptive qualitative –comparative method by describing building visual elements and comparing them with colonial architectural theory, Acehnese traditional architectural theory, and Islamic architectural theory. The result of visual element analysis in the building showed that the Islamic architectural style was dominantly influenced the mosque, the influence of Acehnese traditional architectural style was on its wall ornaments, the influence colonial architectural style was seen in the form of symmetrical floor plan. The conclusion was that the combination of the architectural styles was the eclecticism which influenced the building of Masjid Raya Baiturrahman.

Keywords: Eclectic, Eclecticism, Mosque Building

(8)

iii

sumber kekuatan, inspirasi dan ridhaNya selama berlangsungnya pengerjaan Tesis ini. Tesis ini mengambil judul Pengaruh Eklektisisme Pada Bangunan Mesjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh. Tesis ini merupakan syarat yang di wajibkan bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar Magister Teknik.

Tesis ini tersusun dari kumpulan data-data serta yang dicari berbagai sumber yang penulis dapatkan dari hasil studi literatur, studi banding, studi kasus dan observasi ke lapangan

Pada kesempatan ini, dengan tulus dan kerendahan hati, penulis menyampaikan rasa hormat dan terimakasih penulis tujukan kepada komisi pembimbing bapak Dr. Ir. Nelson M. Siahaan, Dipl.TP,M.Arch dan bapak Dr. Imam Faisal Pane,ST.MT.IPM Sebagai pembimbing tesis, atas kesediaannnya membimbing, memotivasi, pengarahan dan waktu beliau kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Terima kasih dari hati terdalam saya haturkan kepada suami, Zulfhazli, ST.MT dan anak Muhammad El-Faeyza Nafil atas upaya dan dukungan yang selalu diberikan sepanjang masa studi saya. Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan kesehatan, rahmat dan rezeki-Nya kepada Ayah dan Mama, serta adik-adik serta

(9)

iv

membuat masa studi lebih berwarna, kepada Kak Novi atas informasi dan bantuan yang diberikan selama perkuliahan, serta teman-teman di luar lingkungan kampus yang memberi kontribusi penting dalam pengerjaan tesis ini.

Pada akhirnya, penulis berharap agar Tesis ini dapat berguna bagi pembaca dan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi ilmu arsitektur nantinya.

Medan, 2019

Penulis,

Rena Maulida-NIM 137020011

(10)

v Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Alamat : Jl. Kenari No. 125A Komplek Panggoi Indah Kec. Muara Dua Kota Lhokseumawe - Aceh

DAFTAR PENDIDIKAN

1991 – 1997 : Taman Muda 3, Lhokseumawe 1997 – 2000 : Taman Dewasa 2, Lhokseumawe 2000 – 2003 : SMA S YAPENA Lhokseumawe 2003 – 2009 : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik

Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

(11)

vi

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 4

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

1.5 Kerangka Berpikir ... 5

BAB II KAJIAN LITERATUR ... 6

2.1 Arsitektur Eklektik ... 6

2.1.1 Perkembangan arsitektur eklektik ... 6

2.1.2 Fenomena perkembangan arsitektur eklektik ... 8

2.2 Perkembangan Arsitektur Islam ... 10

2.2.1 Denah ... 11

2.2.2 Kubah ... 12

(12)

vii

2.2.4.1 Arabesque ... 20

2.2.4.2 Kaligrafi ... 21

2.2.4.3 Mashrabiya ... 22

2.2.4.4 Kubah ... 22

2.2.4.5 Lengkung tapal kuda ... 23

2.2.4.6 Muqarnas ... 24

2.3 Perkembangan Arsitektur Tradisional Aceh 27 2.3.1 Bangunan rumah tinggal ... 27

2.3.2 Bangunan tempat ibadah ... 35

2.3.2.1 Konstruksi/struktur mesjid tradisional Aceh ... 39 2.3.2.2 Ragam hias (ornamen mesjid tradisional Aceh) ... 41

2.4 Perkembangan Arsitektur Kolonial ... 44

2.4.1 Indische Empire Style (Abad 18- 19) ... 44

2.4.2 Arsitektur Transisi ... 45

2.4.3 Arsitektur Kolonial Modern ... 45

2.5 Penelitian Sejenis 47 2.5.1 Architecture and the Politics of Identity in Indonesia; a Study of the Cultural History of Aceh (Izziah, 2009) ... 47

2.5.2 The Great Mosque of Banda Aceh : Its History Architecture and Relationship of The Development of Islam un Nothern Sumatra (Wilhelmina Remke Raap, 1994) ... 48

2.5.3 Karakteristik Masjid Berbasis Budaya Lokal di Kalimantan Selatan (Naimatul Ulfa) ... 48

2.5.4 Konsep Semiotik Charles Jencks Dalam Arsitektur Post-Modern (Dwi Murdiati) ... 48

(13)

viii

3.2 Variabel Penelitian ... 52

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 53

3.3.1 Data sekunder ... 54

3.3.2 Data sekunder ... 55

3.4 Metode Analisa Data ... 55

BAB IV GAMBARAN UMUM ... 57

4.1 Sejarah Kota Banda Aceh ... 69

4.1.1 Masa Pra-Islam (sebelum 1205) ... 59

4.1.2 Masa Tamaddun Islam (1205-1873) ... 60

4.1.3 Masa Kolonial (1873-1945) ... 61

4.1.4 Pasca Kolonial (1945 – sekarang) ... 61

4.2 Jenis Penelitian ... 62

BAB V PEMBAHASAN DAN HASIL ... 67

5.1 Pengaruh Eklektisisme pada Kubah Mesjid Raya Baiturahman ... 67 5.2 Pengaruh Eklektisisme pada Dinding Mesjid Raya Baiturahman 72 5.3 Pengaruh Eklektisisme pada Kaki/Tiang Bangunan Mesjid Raya Baiturahman ……… 79 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ... 85

6.1 Kesimpulan ... 85

(14)

ix

(15)

x

No Judul Halaman

1. 1 Kerangka Berpikir ………... 5

2. 1 Pola eklektisisme dalam arsitektur menurut Emerson ……... 9

2. 2 Tema-tema dan konsep eklektisisme dalam arsitektur ……... 10

2. 3 Perkembangan denah masjid …………..……….. 12

2. 4 Masjid Quba, Jerussalem. Atapnya berbentuk rangkaian atap pelana. Kubah diposisikan pada pengimaman ……….….…… 13

2. 5 Dome of the Rock, Jerussalem. Kubahnya tersusun dua lapis... 14

2. 6 Kubah Tuluni, Mesir. Dasar kubahnya didukung podium berjenjang membentuk transisi ritmik dari persegi ke lingkaran dengan bentukan segi delapan ……….. 16

2. 7 Masjid Salimiyah Utsmani. Berat dan besarnya gaya yang ditimbulkan kubah utama ditanggulangi oleh pilar-pilar ganda, penyangga utama kubah dan kubah-kubah turutan di sekelilingnya ………. 17

2. 8 Taj Mahal, India. Memiliki bentuk kubah seperti bawang …... 19

(16)

xi

2. 10 Arabesque ……….. 21

2. 11 Kaligrafi ……….………..………. 21

2. 12 Mashrabiya ………..……….………. 22

2. 13 Kubah ……….………..………. 23

2. 14 Lengkung tapal kuda ……….……..….. 23

2. 15 Muqarnas ……….………..……… 24

2. 16 Tampilan baku masjid ……….…………..… 25

2. 17 Denah rumah tradisional dengan 24 tiang ……….…… 28

2. 18 Denah rumah tradisional dengan 16 tiang ……….…… 29

2. 19 Pintu rumah tradisional Aceh …………..……….. 31

2. 20 Jendela rumah tradisional Aceh ……… 31

2. 21 Motif ornamen keagamaan ………... 33

2. 22 Motif ornament flora ………..….……….. 34

2. 23 Motif ornament fauna ………...………. 34

2. 24 Masjid Indrapuri ………...………. 37

(17)

xii

2. 26 Denah Mesjid Tradisional Aceh ………..………. 38 2. 27 Tampak Mesjid Tradisional Aceh ……….………... 39 2. 28 Konstruksi Mesjid Tradisional Aceh ……..…….………. 40 2. 29 Ornament pintalan tali di Mesjid Tradisional Aceh ……..….... 41 2. 30 Pola geometris pada Mesjid Tradisional Aceh …..…………... 42 2. 31 Kerangka berpikir teori ….………..……….. 49 4. 1 Lokasi Kota Banda Aceh …….………..…………... 57 4. 2 (a) Lokasi bangunan Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda

Aceh; (b) Masjid Raya Baiturrahman saat ini; (c) Masjid Raya

Baiturrahman tempo dulu ………..………..……….. 58 4. 3 Sketsa Peter Mundy (1637) menunujukkan bentuk bangunan

masjid …... 63 4. 4 Bentuk denah dan bangunan Masjid Raya Baiturrahman

berdasarkan sketsa Peter Mundy ……….………..… 63 4. 5 Masjid Tuha Indrapuri, Aceh Besar ……….……..……... 64 4. 6 Masjid yang dibangun kembali pada masa Sultanah Nurul

‘Alam Naqiatuddin Syah (1675 – 1678 M) ……..….………... 65 5. 1 Busur lengkung bentuk tapal kuda ………...………. 68

(18)

xiii

5. 3 Struktur kubah/lengkung pada Kuil Pantheon ………….…... 70 5. 4 Struktur kubah/lengkung pada bangunan Masjid Raya

Baiturrahman tidak membentuk ruang ….………...…….. 71 5. 5 Jam bundar yang diapit relief dua mawar dan bila ditarik garis

lurus …... 73 5. 6 Pola dari Mesir, terdapat dalam buku Prisse d’Avennes yang

dipublikasikan oleh the Libraries de Firmin Didot et Cie Paris tahun 1879 (kiri), Jendela Masjid Raya Baiturrahman

(kanan) ……….. 74

5. 7 Pola geometris pada bangunan tradisional Aceh…..……..…... 74 5. 8 Pilaster masjid Cordoba di Spanyol dengan lengkung tapal

kuda yang digunakan sebagai struktur ………….………. 76 5. 9 Pilaster Masjid Raya Baiturrahman dengan lengkung bawang

yang hanya berfungsi sebagai ornament ………..………. 76 5. 10 Kaligrafi kuningan ………...………. 77 5. 11 Kolom pada bangunan masjid ………...……… 77 5. 12 Bentuk bangunan Mesjid Raya Baiturrahman ……..……….... 78 5. 13 Denah Mesjid Baiturrahman karya De Bruins yang selesai di

bangun tanggal 27 Desember 1881……….………... 80 5. 14 Perbandingan bentuk denah masjid tradisional Aceh dan

denah Masjid Raya Baiturrahman …...……….. 81

(19)

xiv

5. 16 Perubahan denah pada bangunan Mesjid Raya Baiturrahman... 83

(20)

xv

2. 1 Kronologi Arsitektur Klasik di Eropa menurut Sumalyo …..…. 6

2. 2 Karakteristik Arsitektur Islam ………….……….... 25

2. 3 Kesan Warna pada Bangunan Tradisional Aceh (Hadjad, 1984)……….... 32

2. 4 Karakteristik Arsitektur Tradisional Aceh ……….………..…... 42

2. 5 Karakteristik Arsitektur Kolonial …..……….. 46

3. 1 Langkah Penelitian ………...………... 51

3. 2 Variabel Penelitian ………...………... 52

3. 3 Data yang harus tersedia ………...……….. 54

3. 4 Metode Pengumpulan Data ………...……….. 55

5. 1 Kesimpulan Eklektisisme pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman ……….. 71

5. 2 Kesimpulan Eklektisisme pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman ……….. 79

5. 3 Kesimpulan Eklektisisme pada bangunan Masjid Raya Baiturrahman ……….. 83

(21)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Sebelum tahun 1205, dimana masa pra Islam memulai peradaban di Aceh.

Sebelum mengenal Islam (820 M), para pedagang dari Cina dan Hindia telah membawa pengaruh agama Hindu dan Budha pada masyarakat Aceh. Masa keemasan Aceh dimulai pada masa Tamaddun Islam. Masa ini juga menjadikan Aceh daerah dengan julukan ‘Seuramoe Mekkah’ (Serambi Mekkah) yang masih melekat sampai saat ini. Pada masa perang Kolonial Belanda (1873-1904) Aceh juga mengalami penurunan masa keemasan. Pasukan Belanda melakukan politik bumi hangus untuk menghilangkan tatanan sosial budaya yang ada di Aceh saat itu. Berbagai artefak budaya bernilai sejarah di hancurkan termasuk salah satunya Masjid Raya Baiturrahman.

Mesjid Raya Baiturrahman berada di kawasan pusat kota dan merupakan bangunan bersejarah yang penting. Masjid ini dikenal dengan bentuk bangunan yang berbeda pada masa itu yang dikenal dengan gaya arsitektur Mughal. Bangunan ini dirancang memiliki bentuk kubah berbingkai kayu dan dilapisi dengan atap sirap kayu berwarna hitam kontras dengan dinding masjid yang bercat putih, kemudian elemen-elemen Mughal ini kemudian dihiasi dengan sentuhan Moor, seperti

(22)

lengkungan berbentuk air mata dengan intrap parabola dan cetakan pilaster arabesque yang belum pernah ada sebelumnya, hingga menjadi landmark Kota Banda Aceh.

Tanudjaya (1998) menjelaskan bahwa percampuran langgam Eropa dan langgam tradisional setempat menimbulkan kebangkitan langgam Eropa hamper di seluruh daerah jajahan Belanda di Indonesia. Bangunan bergaya Eropa pun banyak berkembang di periode ini (1970-1980an) yang tersebar di kota besar di Indonesia.

Dalam perkembangan gaya-gaya arsitektur tersebut menjadi saling mempengaruhi dan menimbulkan unsur-unsur gaya yang baru.

Handinoto (1996), menjelaskan perkembangan elemen ornamen yang digunakan bangunan kolonial dapat menjelaskan karakteristik perkembangan arsitektur Kolonial Belanda berdasarkan periodesasinya.pada tahun 1800-1900 karakteristik arsitektur Belanda yang berkembang memiliki ciri-ciri: bentuk denah yang sama dikedua belah bahagiannya/simetris, memiliki satu jumlah lantai dan menggunakan atap berbentuk perisai. Pilar atau kolom pada serambi yang bergaya Yunani, memiliki bentuk menjulang ke atas dan pada mahkotanya terdapat gevel yang berada di atas serambi depan dan belakang yang merupakan karakteristik lainnya dari gaya arsitektur Kolonial Belanda.

Eklektisisme merupakan sebagai sikap memilik gagasan (konsep, keyakinan, doktrin) dari berbagai macam pikiran dalam proses menyusun sistem kita sendiri (B Loren, 1996). Arsitektur vernakular yang masih menggunakan prinsip-prinsip di masa yang akan datang dihubungkan dengan menggunakan prinsip eklektisisme pada

(23)

bangunan. Perkembangan arsitektur eklektik sendiri memberikan pengaruh terhadap perkembangan kota yang tersebar di Indonesia.

Bangunan-bangunan ibadah yang masuk dan berkembang melalui ajaran agama termasuk bangunan eklektik, dimana terdapat percampuran gaya baik itu pengaruh keagamaan, budaya lokal bangunan tersebut berasal dan berkembang, serta bagaimana menyesuaikan dengan unsur lokalnya.

Melalui tesis ini, akan diteliti mengenai “Pengaruh Eklektisisme pada Bangunan Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh”. Objek ini dipilih berdasarkan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan. Dimana menurut para ahli telah melakukan penelitian mengenai Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh, menyebutkan bahwa masjid ini bergaya eklektik, percampuran unsur-unsur terbaik dari berbagai negara.

1.2. Perumusan Masalah

Eklektisisme merupakan proses yang untuk memilih unsur-unsur yang baik atau memanfaatkan berbagai macam sumber ide, eklektisisme juga berarti mengulang elemen-elemen terbaik di masa lampau dan ada gaya yang dominan. Dari beberapa penelitian tentang Masjid Baiturrahman dinyatakan bahwa masjid ini bergaya eklektik, merupakan percampuran arsitektur dari berbagai negara. Adapun permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana wujud arsitektur eklektik “Masjid Raya Baiturrahman di Kota Banda Aceh”.

(24)

1.3. Tujuan Penelitian

Pada penelitian ini, tujuan yang ingin dicapai adalah menemukan wujud arsitektur eklektiksisme “Masjid Raya Baiturrahman di Kota Banda Aceh”.

1.4. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang ingin dicapai pada penelitaian ini adalah:

a. Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang dapat menjadi sumber ilmu pengetahuan dalam usaha untuk membantu terciptanya ciri khas nusantara, yang bersumber dari budaya-budaya yang ada di Indonesia. Arsitektur nusantara ini juga dapat diperkaya dengan eklektisisme dalam arsitektur regional dan arsitektur kolonial Hindia Belanda. Maka diharapkan hasilnya dapat menjadi pedoman bagi akademisi, peneliti dan perancang dalam merencanakan sebuah karya arsitektur pada bangunan di Kota Banda Aceh khususnya, dan di Nanggroe Aceh Darussalam umumnya.

b. Diharapkan juga manfaat yang dapat diambil adalah eklektisisme di dalam arsitektur dapat berubah cara pandang terhadap karya arsitektur, sehingga masyarakat dapat mengetahui eklektisisme dalam arsitektur dapat mempengaruhi perkembangan arsitektur secara menyeluruh.

(25)

1.5. Kerangka Berpikir

Kerangka berpikir penelitian Pengaruh Eklektisisme pada Bangunan Mesjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 Kerangka Berpikir

(26)

6 BAB II

KAJIAN LITERATUR

2.1 Arsitektur Eklektik

2.1.1 Perkembangan arsitektur eklektik

Pandangan mengenai latar belakang munculnya pemikiran-pemikiran eklektisisme tersebut pada abad ke-14 sampai abad ke-15 SM. Sumalyo (2003), menjelaskan perkembangan arsitektur eklektik di negara bagian Eropa terjadi pada abad ke-18 M bersamaan Neo-Klasikisme yang melanda seluruh Eropa, bahkan kadang-kadang eklektisisme ini dijadikan satu aliran dengan Neo-Klasikisme.

Perkembangan arsitektur klasik termasuk eklektik dapat dilihat pada tabel 2.1.

Tabel 2. 1 Kronologi Arsitektur Klasik di Eropa

Sumber: Sumalyo, 2003

(27)

Selanjutnya Sumalyo (2003) juga memaparkan lebih lanjut pada dasarnya terdapat perbedaan antara Eklektisisme dengan Neo-Klasikisme. Pada sebuah bangunan atau kompleks bangunan, terdapat penggabungan pada beberapa elemen- elemen yang terbaik dari masa lampau yang merupakan karakteristik dari eklektisisme. Dalam eklektisisme juga terjadi pengulangan elemen masa lampau yang merupakan karateristik dari Neo-klasisisme. Neo-Klasikisme selalu diikuti oleh istilah alirannya seperti Neo-Klasikisme-Yunani, Neo-Klasikisme-Romawi, dan seterusnya tergantung aliran yang diulang. Pengulangan ini termasuk bahan, sistem konstruksi, dan dimensinya. Ini berarti pengulangan elemen-elemen yang terjadi pada Neo-Klasik dan Eklektik dilakukan melalui berbagai carabukan sekedar bentuk elemen-elemennya digabungkan.

Menurut Tanudjaya (1993), sebenarnya muncul arsitektur eklektik ini dilatarbelakangi oleh usaha untuk mencari arsitektur baru yang sumbernya digali dari wujud-wujud kedaerahan sehingga memunculkan arsitektur baru, tanpa nama.

Wujud-wujud tersebut tersebut dipergunakan kembali dalam wujud yang baru, baik secara utuh maupun perujuk-silangan antar unsur-unsurnya.

Di Indonesia, keinginan untuk melestarikan arsitektur tradisional biasanya dengan memasukkan unsur tradisional ke dalam bangunan modern. Salah satu contoh yang sering diterapkan pada bangunan-bangunan pemerintahan adalah dengan menggunakan atap rumah tradisional pada bangunannya. Maka dapat dilihat hampir semua Kantor Gubernur misalnya menggunakan langgam-langgam daerahnya masing-masing melalui atap. Di sisi lain, terdapat pula kecenderungan penggunaan

(28)

elemen-elemen dari luar. Kolom-kolom Yunani, Romawi atau gaya-gaya tertentu seperti mediteranian semarak menghiasi rumah-rumah di Indonesia.

2.1.2 Fenomena Perkembangan Arsitektur Eklektik

Eklektik menurut “Webster’s New World Dictionary and Thesaurus” (1998) merupakan proses seleksi dari berbagai sistem dan ide. Berdasarkan Illustrated Dictionary of Architecture, gaya eklektik dalam bidang arsitektur desain-desain ornamen yang arsitektural yang didapat dari elemen-elemen gaya yang berbeda (Burden, 1998). Definisi berdasarkan Encyclopedia of American Architecture, eklektisisme pada merupakan pergerakan gaya arsitektur yang menggunakan proses pemilihan detail-detail gaya arsitektur yang mengambil dari beberapa bentuk-bentuk bangunan di masa lalu. Namun ada juga yang mengambil bentuk dan detail yang dipilih lebih dari satu gaya atau bangunan yang ada di masa lalu kemudian dikombinasikan menjadi sebuah desain bangunan (Dudley, 1980). Meskipun diikuti dengan kata arsitektur, tetap memiliki pengertian yang sama dengan Ensiklopedia Amerika, yitu memilih atau menyeleksi bentuk dan detail dari berbagai gaya sehingga menjadi kombinasi di dalam satu gaya bangunan.

Harisah (2007) menjelaskan perbandingan istilah eklektik dan arsitektur eklektik. Eklektik merupakan berbagai sistem, doktrin-doktrin, sumber-sumber yang berbeda dari beragam orang, perlengkapan perseorangan, menolak sesuatu yang bersifat acak maupun diskriminatif, menyeleksi unsur-unsur yang terbaik pada satu gaya arsitektur di periode yang sama. Prosesnya melakukan penyelesaian, selektif meengombinasi dan mengulang. Arsitektur eklektik menginterpretasikan sebuah

(29)

sistem, doktrin, opini dari sebuah gaya. Arsitektur eklektik bersumber dari bentuk- bentuk dan unsur-unsur ornamen dari lebih dari satu gaya-gaya bangunan.

Kebutuhan dan kebiasaan, mempertimbangkan iklim, tanah, waktu dan keinginan-keinginan orang yang memerlukannya merupakan cara Harisah (2007) dalam menginterpretasi keindahan yang diciptakan melalui karya arsitektur. Emerson jga menjelaskan bahwa karya seni yang diciptakan tetap mengutamakan pentingnya studi sejarah dan tradisi dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2. 1 Pola Eklektisisme dalam Arsitektur menurut Emerson Sumber: Harisah, Sastrosasmito & Hatmoko, 2007

Arsitektur eklektisisme merupakan sebuah metode yang dimaknai hasil dari penyeleksian dari pola pikir, prinsip dan unsur-unsur masa lalu dari sebuah arsitektur yang dimodifikasi sehingga menjadi bagian pemikiran, kemudian prinsip dan unsur- unsur tersebut menjadi sebuah komposisi yang menciptakan pemikiran baru meskipun gaya dan prinsip tersebut belum memiliki nama dapat dilihat pada Gambar 2.2.

Faktor iklim, tanah, waktu, keinginan,

kebiasaan, sejarah, tradisi

& kebutuhan.

Bentuk-bentuk organik

STUDI Karya baru yang memiliki jiwa

(30)

Gambar 2. 2 Tema-tema dan Konsep Eklektisisme dalam Arsitektur Sumber: Harisah, Sastrosasmito & Hatmoko, 2007

2.2 Perkembangan Arsitektur Islam

Dalam membentuk budayanya, Arsitektur Islam dilandasi oleh dua ciri utama, yaitu asimilasi dan toleransi. (Lewis, 1988). Sedangkan dalam budaya arsitektur, Lewis John D. Hoag, mencontohkan Islam bagaimana berlangsungnya proses pembentukan arsitektur. Seperti yang dipaparkan didalam buku Islamic Architecture, menjelaskan proses para arsitektur Muslim melakukan perpaduan unsur-unsur menjadi sebuah perpaduan corak yang baru, yang memiliki perbedaan dengan corak- corak darimana elemen-elemen lama tersebut meminjam dari corak-corak yang berasal dari Eropa (Byzantium), Afrika (Mesir), Mesopotamia (Persia), maupun India dan bentuk baru yang muncul meiliki perbedaan dibandingkan bentuk asalnya, yaitu menekankan karakter ruang luas pada bagian dalam bangunan (Hoag, 1987).

Bangunan masjid, istana dan makam merupakan bagian terbesar dari perkembangan arsitektur Islam. Perkembangan bangunan masjid di awal mula menghadirkan tampilan bangunan Islami, seperti mesjid dengan tampilan sangat

(31)

sederhana, seiring dengan tumbuhnya peradaban Islam penampilan arsitektur masjid berkembang sangat mencolok. Setelah melewati masa dua abad dan melalui berbagai pengalaman dalam memperluas wilayahnya dan membangun pada setiap wilayah yang disinggahi dengan menggunakan dan mempelajari kelebihan dari berbagai bangsa, baik itu dari para seniman, tukang, maupun ahli bangunan. Wilayah yang disinggahi antara lain Mesir, Syiria, Romawi Timur, Persia, Armenia maupun India.

2.2.1 Denah

Di awal kondisinya, denah Mesjid Nabawi memiliki bentuk bujur sangkar dan menjadi prototype bangi pembangunan masjid-mesjid sejenisnya. Bentuk ini kemudian mendapat pengaruh dari budaya setempat, sehingga denah tersebut menjadi pola baku yang berbentuk bujur sangkar dengan kedua sisinya melebar dan memanjang mengikuti arah kiblat.

Fanani (2009), mengatakan ada beberapa pola denah pada bangunan masjid, yaitu: pola denah baku yang berbentuk bujur sangkar, pola denah memanjang dan melebar di kedua sisi ke arah kiblat, dan pola denah khusus yang berbentuk segi delapan. Dari Gambar 2. 3 dapat dilihat perkembangan awal denah yang berbentuk bujur sangkar (1) yang mengambil denah pada Mesjid Nabawi sebagai sumber utamanya dan seringnya denah ini disebut “tipologi Madinah”. Kemudian ada “denah Damaskus” (2) dimana terdapat perkembangan tipe/bentuk dengan pola persegi panjang yang tegak lurus dengan arah kiblat, disebut dengan tipologi Arab. Yang terakhir adalah denah Mesjid Agung Samana (3) tipologi denahnya memanjang

(32)

mengikuti poros arah kiblat, denah ini sering disebut dengan tipologi Persia dapat dilihat pada Gambar 2.3.

Gambar 2. 3 Perkembangan denah masjid.

Sumber: Fanani, 2009

2.2.2 Kubah

Bentuk atap pada bangunan masjid di awal pembangunannya tidak berbentuk kubah, melainkan berbentuk atap pelana. Penambanhan kubah dilakukan oleh kaum Muslimin karena dirasa perlu untuk menempatkan sesuatu yang penting pada bangunan masjid. Diawali dengan pemasangan mihrab pada dinding sebagai tanda tempat imam berdiri menjadi ruang maksura. Maka dipilihkan kubah sebagai tempat penanda mihrab tersebut. Bentuk kubah merupakan peninggalan arsitektur Romawi.

Penempatan kubah pertama sekali dibubuhkan pada bagian atap di posisi imam yang bertujuan untuk membedakan bagian atap bangunan lainnya. Bentuk kubah ini terus dipertahankan dari waktu ke waktu sehingga resmi terpasang di masjid Nabawi pada Gambar 2.4.

(33)

Gambar 2. 4 Masjid Quba, Jerussalem. Pada atap berbentuk rangkaian atap pelana. Kubah berada pada posisi imam.

Sumber: Fanani 2009

Salah satu ciri khas pada sebuah masjid saat ini adalah kubah. Dalam perjalanan waktunya, bentuk kubah ikut mengalami perubahan. Ada bentuk kubah yang mengalami perluasan sesuai dengan tempat ibadah dibawahnya. Namun di daerah India dan Pakistan kebanyakan menggunakan kubah dengan bentuk setengah bulat dan biasanya disebut kubah bawang. Dalam sebuah penjelasan “A Review of Mosque Architecture, Foundation for Science Technology Civilisation (FSTC)”

menjelaskan tentang fungsi kubah pada bangunan arsitektur Islam memiliki pengertian secara simbolik, yaitu sebagai symbol kekuasaan dan kebesaran Tuhan dan mempresentasikan keberadaan surga.

Dalam sejarahnya, dimasa Rasulullah SAW, bentuk menara dan kubah belum dikenal. Seorang ahli arsitektur terkemuka, Prof. K Creswell dalam “Early Muslim Architecture” menjelaskan ketika pertama sekali dibangun bangunan mesjid di

(34)

Madinah tidak mengenal bentuk kubah. Creswell menjelaskan bahwa masjid yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW memiliki konstruksi yang sangat sederhana.

Pada konstruksi bangunan awal masjid yang dibangun olekh Nabi Muhammad SAW memiliki bentuk persegi dengan dinding sebagai pembatas sekelilingnya. Terdapat serambi disepanjang bagian dinding tersebut, yang langsung menuju lapangan terbuka ditengahnya. Dengan perkembangan teknologi arsitektur, maka terjadi banyak perubahan pada konstruksi bangunan masjid dan salah satunya adalah konstruksi kubah muncul sebagai penutup bangunan masjid.

Dalam arsitektur Islam tidak mengenal bentuk kubah, dikarenakan dalam ajaran Islam sendiri tidak membawa tradisi budaya fisik atau tidak mengajarkan secara konkrit pola bentuk arsitektur. Secara sejarah dan arkeologis, bentuk kubah dalam arsitektur Islam ditemukan pada bangunan masjid Dome of The Rock di Yerusalem, yang dibangun pada tahun 685 M sampai 691 M dapat dilihat pada Gambar 2.5.

Gambar 2.5Dome of the Rock, Jerussalem. Kubahnya tersusun dua lapis.

Sumber: Fanani 2009

(35)

Arabesk, hiasan berbentuk geometris, menghiasi interior Dome of the Rock dengan bentuk tanaman rambatan dan ornament kaligrafi. Di abad ke-7 M, kaligrafi menjadi ornamen yang menghias ornamen masjid dan hiasan ini merupakan unsur hiasan yang menjadi ciri khas arsitektur Islam.

Ada 3 gaya yang mempengaruhi bentuk kubah dalam arsitektur Islam, yaitu:

2.2.2.1 Kubah Persiani

Kubah model Persiani memiliki model seperti kepala gasing dengan bentuk runcing di puncaknya. Pada bagian leher kubah terdapat bidang tegak pendukung kubah. Secara bentukan, kubah Persiani memiliki bentuk yang unik, yaitu terdapat konstruksi menyerupai sarang tawon yang berada pada ruang dalam kubah, konstruksi seperti ini dinamai muqarnas. Pada bagian eksterior diberikan hiasan kepingan mozaik keramik yang berpola floral dengan berwarna kebiruan. Sedangkan konstruksi bangunannya menggunakan berbahan batu bakar yang disusun, konstruksi ini sudah diwarisi sejak jaman Babylonia.

Kubah pada wilayah Mesir memiliki gayanya tersendiri. Gaya pada kubah Persiani dipengaruhi oleh kubah Mesopotamia. Bangunan yang menggunakan kubah Persiani antara lain adalah: “Masjid Al-Azhar Kairo, kompleks makam Barba’i, kompleks Masjid Sultan Hasan, dan juga Masjid ibn Tulun”. Bentuknya mirip kepala gasing dengan leher kubah lebih jenjang. Pada tampilan kubah, terdapat proses perpindahan detail dari dinding bujur sangkar ke dasar lingkar kubah yang ditransformasikan melewati bentuk persegi delapan secara berjenjang dapat dilihat pada Gambar 2.6.

(36)

Gambar 2.6 Kubah Tuluni, Mesir. Dasar kubahnya didukung podium berjenjang membentuk transisi ritmik dari persegi ke lingkaran dengan

bentukan segi delapan.

Sumber: Fanani, 2009

2.2.2.2 Kubah Utsmani

Ketika masa kekuasaan Turki Utsmani di wilayah Anatolia berhasil menaklukkan Konstantinopel sebagai pusat pemerintahan Byzantium, salah satu hasil penaklukkan ini adalah mengadopsi bentuk kubah yang berada di kota Konstantinopel. Bentuk kubah pada Gereja Hagia Sofia memberikan ide kepada Sinan, arsitek Kerajaan Utsmani Turki, menjadikannya model dan mengembangkan gubahan bentuknya menjadi bentuk baku dari sebuah atap masjid.

Kubah Utsmani memiliki ciri-ciri komposisinya yang majemuk dan berbentuk cendawan. Penyusunan kubah disusun secara herarkis. Pada atap masjid memiliki satu kubah induk yang terbesar berada di tengah, kemudian diikuti dengan dua kubah yang berurutan pada salah satu porosnya di masing-masing sisi bangunan. Bentuk kubah yang lebih kecil ini biasanya berada pada posisi lebih rendah dari kubah utama dan berbentuk setengah lingkaran. Kemudian pada posisi lebih rendah lagi, di apit

(37)

lagi dengan dua kubah pada masing-masing anak kubahnya. Terdapat empat pilar yang mendukung kubah utama. Dan diantar pilar-pilar tersebut berjejer tiang-tiang.

Bentuk ini yang menjadi model awal susunan Kubah Utsmani dapat dilihat pada Gambar 2.7.

Gambar 2.7 Masjid Salimiyah Utsmani. Pilar-pilar ganda mendukung besarya gaya yang ditimbulkan oleh kubah utama, berfunsi penyangga utama kubah

dan kubah-kubah turutan di sekelilingnya.

Sumber: Fanani, 2009

2.2.2.3 Kubah Indo - Persiani

Bentuk bawang, yang sering disebut model Indo-Persiani, berkembang di wilayah kekuasaan bangsa Mughal di India. Bangunan yang terkenal menggunakan bentuk kubah ini adalah bangunan Taj Mahal. Pengalaman panjang diawali sejak abad ke-8 yang memepertemukan dua komunitas Hindu dan Islam, hingga masa keemasan dinasti Mughal sepanjang abad ke-17, sekaligus mempertemukan dua kontras dasar kebudayaannya. Abad ke-8 perkembangan budaya arsitektur Islam berpusat di Damaskus, Iskandariyah, Baghdad dan Cordoba. Selama hampir dua abad

(38)

masa pemerintahannya, awal abad ke-16 sampai abad ke-18, arsitektur Islam telah menemukan pola bakunya.

Peninggalan budaya Arsitektur Islam Indo-Persiani berpusat di Delhi, Agra dan Jaipur. Slah satu hasil peninggalan budayanya adalah tembikar, dikarenakan wilayah tersebut kaya akan material tanah dan bebatuan. Dalam perjalanan budayanya, kawasan tersebut mencapai puncak kejayaannya. Pertemuan dengan arsitektur Hindu menampilkan bangunan dengan rongga besar yang dibungkus dan dilapisi oleh dinding massif yang kaya akan ornamen indah.

Ciri budaya pada kawasan Asia Tengah, ditinggali oleh Bangsa Mughal yang memiliki asal-usul Timur Lenk, memiliki ciri budaya arsitektur yang kuat akan pengaruh Persiani. Corak khas elemen Arsitektur Mughal (Gambar 2.8) ditandai dengan elemen kubah. Elemen kubah tersebut bisa dilihat pada bangunan masjid, istana dan astana (makam). Tiga kubah sejajar menjadi ciri khas pada arsitektur masjid. Sedangkan untuk bangunan astana ditandai dengan penempatan beberapa kubah yang mengelilingi satu kubah utama. Pada yang memiliki anjungan terbuka dan berdiri sendiri, bentuk kubah dikombinasikan dengan teras yang mengelilingi pada keempat sisinya. Bentuk seperti ini juga diperlakukan di bagian anak-anak kubah yang ditempatkan berkeliling sepanjang langkan atap, di sekitar kubah utama.

(39)

Gambar 2.8 Taj Mahal, India. Memiliki bentuk kubah seperti bawang.

Sumber: Fanani, 2009

2.2.3 Mihrab

Pada dinding tempat pengimaman yang mengalami perubahan ada penambahan ceruk kecil di dalamnya. Bagian ceruk kecil inilah yang kemudian menjadi Mihrab. Mihrab ini sendiri terlihat pertama sekali di Masjid Nabawi saat Khalifah Al-Walid merekonstruksi ulang masjid ini di antara tahun 707-709 Masehi dapat dilihat pada Gambar 2.9.

Pada waktu ke waktu, mihrab mengalami perubahan bentuk, akan tetapi perkembangan fungsinya tidak berubah. Awalnya mihrab pada bangunan masjid hanya berfungsi sebagai dekorasi pada dinding kiblat, kemudian berkembang menjadi ruang tempat imam berdiri yang dikenal sebagai maqsura.

(40)

Gambar 2.9 Mihrab Pertama, bentuknya menempel pada dinding datar dan memiliki corak sederhana.

Sumber: Fanani, 2009

2.2.4 Prinsip tampilan arsitektur Islam

Berikut ini terdapat elemen-elemen desain yang menjadi ciri Arsitektur Islam yang diterapkan pada desain tampilan Arsitektur Islam, yaitu:

2.2.4.1 Arabesque

Dalam ajaran Islam, motif hewan dan manusia dilarang untuk digunakan.

Sehingga Penggunaan motif geometris dan motif flora (tumbuhan) sering digunakan oleh seniman Muslim dalam setipa karyanya, termasuk interior bangunan, yang sering disebut arabesque pada Gambar 2.10.

(41)

Gambar 2.10 Arabesque Sumber : Burckhart, 2009

2.2.4.2 Kaligrafi

Kaligrafi atau kesenian melukis huruf Arab sangat sering dipakai oleh seniman serta arsitek Muslim. Penggunaan kaligrafi, kaligrafi juga memiliki tujuan sebagai penambah keindahan pada suatu bangunan, dan juga berfungsi untuk pengingat ayat-ayat Al-Quran dapat dilihat pada Gambar 2.11.

Gambar 2.11 Kaligrafi Sumber : Burckhart, 2009

(42)

2.2.4.3 Mashrabiya

Setengah dari sebagian besar negara Muslim berlokasi di daerah gurun, sehingga sering memakai kisi-kisi pada jendelalnya, yang sering disebut mashrabiya.

Penggunaan kisi-kisi berfungsi untuk membuat penghuni nyaman serta terjaga privasinya, selain itu kisi-kisi juga berfungsi untuk menghalau panasnya sina matahari untuk masuk ke dalam ruangan. Untuk motifnya mashrabiya ini memiliki bentuk geometris untuk membuat bentuk bangunan menjadi lebih indah dapat dilihat pada Gambar 2.12.

Gambar 2.12 Mashrabiya Sumber: Burckhart, 2009

2.2.4.4 Kubah

Dalam Arsitektur Islam, salah satu yang dominan terlihat dan menonjol adalah kubah. Kubah yang sering dipakai umumnya mempunyai bentuk seperti umbi bawang khas Timur Tengah. Pada sisi luar kubah biasanya dihiasi dengan motif-motif geometris, namun selain itu bagian dalam kubah biasanya juga dihiasi dengan motif- motif geometris dapat dilihat pada Gambar 2.13.

(43)

Gambar 2.13 Kubah Sumber : Burckhart, 2009

2.2.4.5 Lengkung Tapal Kuda

Bentuk pertemuan antar dua pilar memiliki gayanya sendiri pada masing- masing arsitekturnya. Sedangkan dalam Arsitektur Islam sering dikenal dengan bentuk lancip (pointed arch) dan lengkung bentuk tapal kuda dapat dilihat pada Gambar 2.14.

Gambar 2.14 Lengkung Tapal Kuda Sumber : Burckhart, 2009

(44)

2.2.4.6 Muqarnas

Dalam Arsitektur Islam juga dikenal dengan ornamen tiga dimensi seperti sarang lebah dan tempatkan dilangit-langit bangunan, disebut juga muqarnas.

Arsitektur sering menyebutnya dengan stalaktit. Muqarnas biasanya digunakan pada portal (pintu masuk), mihrab, interior kubah, hingga minaret, yang membuat bentuk tersebut jadi lebih indah dapat dilihat pada Gambar 2.15.

Gambar 2.15 Muqarnas Sumber: Burckhart, 2009

Arah kiblat, posisi imam serta makmum merupakan hal penting yang ada, selain hal lainnya seperti: tempat wudhu, minaret, mimbar, adalah pelengkap sekunder yang tidak harus disediakan (Gambar 2.16).

(45)

Gambar 2.16 Tampilan Baku Masjid.

Sumber: Fanani, 2009

Mihrab pada arsitektur masjid diambil dari tradisi Koptik. Sedangkan menara, kubah, bentuk-bentuk tiang, portal, dan kelengkungannya diwarisi dari tradisi Latin (Yunani dan Romawi), Byzantium dan Persia. Bentuk basilica diwarisi dari arsitektur Romawi melalui pengalaman tradisi Nasrani.

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan karakteristik arsitektur Islam melalui tabel 2.2.

Tabel 2. 2 Karakteristik Arsitektur Islam Parameter Elemen

Arsitektur Arsitektur Islam Gambar

Atap a. Kubah Persiani

(46)

Tabel 2.2 (Lanjutan) Parameter Elemen

Arsitektur Arsitektur Islam Gambar

b. Kubah Utsmani

c. Kubah Indo- Persiani

Ornamen a. Arabesque

b. Kaligrafi

c. Mashrabiya

d. Muqarnas

Kolom Lengkung tapal kuda

(47)

Tabel 2.2 (Lanjutan) Parameter Elemen

Arsitektur Arsitektur Islam Gambar

Denah a. Tipologi Arab

b. Tipologi Madinah c. Tipologi Persia

2.3 Perkembangan Arsitektur Tradisional Aceh 2.3.1 Bangunan rumah tinggal

Perkembangan agama Hindu dan Budha menjadi puncak kejayaan arsitektur tradisional di Indonesia. Pengaruh dari pedagang Cina, India, Arab dan Eropa yang singgah ke Indonesia banyak mempengaruhi perkembangan arsitektur tradisional, menurut Hasbi (2012), “Arsitektur Indonesia banyak dipengaruhi oleh arsitektur dari luar wilayah Indonesia seperti arsitektur Hindu, Budha, Islam dan Kolonial”.

Pengaruh-pengaruh ini memberikan nilai positif dan negatif pada arsitektur kuno di Indonesia.

Menurut Sahriyadi (2012), mayoritas kepercayaan masyarakat Aceh yang beragama Islam turut mempengaruhi arsitektur tradisional Aceh. Keberagaman kehidupan beragama di masyarakat kampung yang ada Aceh juga di dukung dengan adanya tempat-tempat ibadah, seperti meunasah (surau/langgar) dan meuseujid

(48)

(masjid). Bangunan-bangunan ibadah tersebut merupakan bangunan tradisional. Dan hampir sebagian besar masyarakat Aceh saat ini masih terdapat bangunan tradisonal.

Menurut Hadjad (1984), jenis bangunan tradisional Aceh dibagi menurut memiliki fungsi seperti bangunan rumah tinggal, tempat ibadah dan beberapa bangunan lainnya.

Ching (1987) menjelaskan bahwa gabungan dari teknik dan keindahan menjadikannya sebauah bentuk. Titik, garis, bidang dan ruang merupakan unsur utama pembentuk sebuah bangunan. Sedangkan struktur landasan awal dari perujudan bentuk dasar seperti, persegi, segitiga dan lengkungan. Bentuk-bentuk tersebut kemudian divariasikan menjadi bentuk tampak yang indah dapat dilihat pada Gambar 2.17 dan Gambar 2.18.

Gambar 2.17 Denah Rumah Tradisional dengan 24 tiang Sumber: Sabila dkk, 2014

(49)

Gambar 2.18 Denah Rumah Tradisional dengan 16 tiang Sumber: Sabila dkk, 2014

Hadjad dkk (1984) menjelaskan denah pada bangunan tradisional Aceh biasanya berbentuk persegi maupun persegi panjang dan pada lantainya terbagi atas tiga jalur memanjajng yang sejajar atap.untuk bangian jalur tengah pada lantai, biasanya ditinggikan 25-40 cm dibandingkan kedua jalur lainnya. Uuntuk ruang an, terdapat tiga atau lima ruang pada denah Rumoh Aceh. Untuk denah yang memiliki tiga ruang ditopang oleh 16 kolom (Gambar 2.17), sedangkan pada denah yang memiliki lima ruang ditopang oleh 24 kolom/tiang bangunan (Gambar 2.18). Pada denah Rumoh Aceh juga terdapat pembagian ruang, biasanya pada jalur lantai yang terdepan digunakan sebagai serambi oleh suami dan biasanya juga untuk menerima tamu laki-laki, sedangkan pada jalur belakang biasanya digunakan oleh ibu atau anak perempuan. Untuk memisahkan serambi depan (bersifat umum) dan serambi belakang (bersifat privasi) terdapat dinding pemisah atau yang disebut seketeng.

Rumah Tradisional Aceh berbentuk panggung yang didirikan di atas tinag kayu atau

(50)

bamboo dengan ketinggian 2,5-3 meter. Hal ini juga berfungsi untuk menghindarkan diri dari banjir maupun serangan binatang buas.

Tampak pada bangunan biasanya terdiri dari beberapa elemen, yaitu:

1. Atap pada bangunan Rumoh Aceh berbentuk atap pelana yang sekedar memakai satu bubung dan menggunakan bahan penutup atap dari rumbia.

Penutup atap berbahan rumbia ini memiliki bobot yayng ringan sehingga dapat mengurangi beban bangunan dan tidak mudah roboh pada saat terjadi gempa.

2. Dinding bangunan Rumoh Aceh terbuat dari material kayu dan bilah bambu tua. Bahan yang digunakan ini bermanfaat terhadap penghawaan dan mengalirkan udara dari dan keluar bangunan dengan baik.

3. Pintu dan jendela. Dinding bangunan di sebelah depan langsung berhadapan menuju halaman rumah. Pada dinding tersebut memiliki pintu masuk dengan ukuran 0,8 meter dan tinggi 1,8 meter. Pintu ini biasanya juga terpat pada sebelah kanan serambi depan (Hadjad dkk, 1984) dapat dilihat pada Gambar 2.19. Untuk dinding di sebelah kiri dan kanan terdapat jendela dengan ukuran 0,6 x 1 meter, jendela ini juga disebut tingkap dan jendela ini juga terdapat di dinding dekat pintu depan bangunan (Hadjad, 1984) dapat dilihat pada Gambar 2.20.

(51)

Gambar 2.19 Pintu Rumah Tradisional Aceh Sumber: Hadjad dkk, 1984

Gambar 2.20 Jendela Rumah Tradisional Aceh Sumber: Hadjad dkk, 1984

4. Warna pada bangunan tradisional Aceh yang sering digunakan adalah kuning, krem, merah, oranye dan hitam. Biasanya warna tersebut juga dikombinasikan dengan warna putih. Akibat dari pengeruh masa kini, saat ini banyak warna-warna lain yang terdapat pada bangunan tradisional Aceh (Hadjad, 1984) dapat dilihat pada Tabel 2.3.

(52)

Tabel 2.3 Kesan Warna pada Bangunan Tradisional Aceh (Hadjad, 1984)

Warna Kesan

Merah Emosi yang berubah-ubah, naik turun, hidup, menggairahkan dan menyenangkan, menumbuhkan semangat.

Kuning Memiliki karakter kuat, hangat, dan memberi nuansa cerah. Menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan.

Putih Bersifat netral, tanpa perasaan dan memiliki kesan suci.

Oranye Menunjukkan kehangatan, kesehatan pikiran dan kegembiraan.

Hitam Melambangkan perlindungan.

5. Ragam hias (ornamen) bangunan tradisional Aceh. Masyarakat Aceh merupakan suku bangsa yang menyukai seni dan bangunan tradisional Aceh sendiri pada umumnya memiliki banyak ukiran-ukiran. Contohnya bangunan tempat ibadah seperti meuseujid (mesjid) dan meunasah (surau) juga banyak dijumpai corak ornamen dengan berbagai macam motif dan ragam hias. Corak yang digunakan biasanya adalah motif yang berhubungan dengan alam, seperti: tumbuh-tumbuhan, binatang, benda- benda langit (awan, bintang dan bulan). Corak ragam hias tersebut hanya berfungsi sebagai hiasan dan tidak memiliki arti maupun maksud tertentu.

Namun ada juga beberapa motif yang menunjukkan simbol keislaman, seperti motif bulan dan bintang, motif awan berarak (awan meucanek) yang melambang kesuburan, dan motif tali berpintal (taloe meuputa) yang

(53)

menunjukkan ikatan persaudaraan yang kuat bagi masyarakat Aceh (Hadjad dkk, 1984).

Ada beberapa motif hiasan ornamen yang biasa dipakai pada bangunan tradisional Aceh menurut Hadjad dkk (1984) adalah:

a. Motif keagamaan. Motif kaligrafi dari ayat-ayat Al-Quran merupakan ragam hias yang bercorak keagamaan pada bangunan tradisional Aceh dapat dilihat pada Gambar 2.21.

Gambar 2.21 Motif Ornamen Keagamaan Sumber : Hadjad dkk, 1984

b. Motif flora. Bentuk daun, akar, batang maupun bunga-bungaan merupakan sterilisasi dari motif flora. Biasanya motif flora ini tidah diberi warna, dan bila ada menggunakan warna biasanya ynag digunakan adalah warna merah dan hitam. Corak ini biasanya menggunakan motif flora/tumbuh-tumbuhan yang dapat ditemukan pada tangga (rinyeuen), dinding, tulak angen, kindang, balok pada bagian penutup, dan jendela rumah dapat dilihat pada Gambar 2.22.

(54)

Gambar 2.22 Motif Ornamen Flora Sumber : Hadjad dkk, 1984

c. Motif fauna. Unggas, seperti merpati, balam dan perkutut merupakan motif fauna yang sering digunakan pada bangunan tradisional Aceh.

Motif fauna yang biasa sering dipakai adalah jenis binatang yang sering dijumpai dan disukai. Dapat dilihat pada Gambar 2.23

Gambar 2. 23 Motif Ornamen Fauna Sumber : Hadjad dkk, 1984

d. Motif alam, yang sering dipakai pada bangunan tradisional antara lain: bentuk awan pada langit, bulan dan bintang, dan panorama laut.

e. Motif lainnya, seperti rantee, lidah, dan lain sebagainya.

(55)

2.3.2 Bangunan tempat ibadah

Masjid Indrapuri yang berlokasi di Kabupaten Aceh Besar diyakini bangunan masjid tertua di Aceh. Diyakini bentuk Masjid Raya Baiturrahman yang pertama sekali dibangun pada masa Kerajaan Aceh, sebelum dibakar dan dibangun kembali oleh Belanda, memiliki bentuk yang sama dengan Masjid Indrapuri.

Pada masa sebelum masyarakat Aceh mengenal Islam, Masjid Indrapuri ini dulunya berfungsi sebagai candi Hindu milik kerajaan Lamuri dan oleh Marcopolo disebut Lambri. Kemudian pada masa Sultan Iskandar Muda, bangunan candi ini difungsikan sebagai masjid. Masa kesultanan Sultan Iskandar Muda (1607-1637) merupakan puncak kejayaan Kerajaan. Politik maupun ekonomi juga berkembang pada masa kejayaan Aceh pada saat itu. Selain itu tempat ibadah umat Islam juga berkembang, hal itu terlihat dari banyaknya masjid-mesjid yang dibangun pada masa itu. Perluasan wilayah juga dilakukan sampai ke negara-negara tetangga. Di sepanjang pantai sekutar Selat Malaka dan di pantai bagian utara Pulau Sumatera telah berhasil ditaklukkan oleh Sulta Iskandar Muda tahun 1612-1621. Sepulangnya dari menaklukkan Kerajaan Malaka, Sultan Iskandar Muda membangun masjid Indrapuri diatas reruntuhan candi yang telah ada sebelumnya. Pondasi Candi yang bertingkat dirobohkan hingga tingkatan ke empat. Di tingkat ke empat inilah tiang- tiang masjid didirikan.

Untuk mengetahui bentuk Masjid Raya Baiturrahman, Muhammad Said dalam Adhi Surjana mengatakan dengan menggunakan data dari gambar pelukis Belanda tentang Kota Banda Aceh pada abad ke-17, di mana di dalamnya terlihat

(56)

suatu bangunan berdenah persegi empat dengan bentuk atap tumpang tiga yang dipuncaknya terdapat semacam kemuncak atau mustaka berujung runcing (Anonim, 2006).

Tim monitoring Situs atau Benda Cagar Budaya di Wilayah Aceh Besar (Mei, 2019) telah mendeskripsikan bentuk arsitektur dari masjid kuno yang ada di Aceh Besar adalah sebagai berikut:

1) Bangunan induk bujur sangkar, dibangun lebih tinggi dari sekitarnya.

Bangunan Masjid Indrapuri berdiri di atas tanah dengan luas 4.447 m2, sedangkan bangunan masjidnya berukuran 18,8 m x 18,8 m dengan ketinggian 11,65 m dan denahnya berbetuk bujur sangkar (Anonim, 2011). Dapat dilihat pada Gambar 2.24. Pada areal bangunan ini diletakkanlah 36 umpak (kaki-kaki tiang) yang terbuat dari batu kali, dan diatasnya tiang-tiang kayu sebagai penyangga atap. Jumlah tiang sebagai penyangga atap terdiri dari 36 tiang yang masing-masing berdiameter 0,28 meter dan bersegi delapan, 4 buah tiang utama (soko guru) yang berada di bagian sentral (tengah) masjid dan 32 buah tiang penampil (pendamping/

keliling) yang berfungsi sebagai penyangga kerangka atap. Dapat dilihat pada Gambar 2.25. Posisi bangunan masjid berada di atas bangunan yang berundak empat, pada undak/ tingkat keempat itulah bangunan masjid didirikan. Bangunan berundak inilah diyakini masyarakat dulunya merupakan candi warisan dari kerajaan Poli/ Puri yang kemudian sering

(57)

dikatakan Lamuri oleh orang Arab dan Lamri oleh Marcopolo (Jalil, 2011).

Gambar 2. 24 Masjid Indrapuri

Gambar 2. 25 Bentuk tiang pada Masjid Kuno Indrapuri, Aceh Besar

(58)

2) Serambi (bila ada) dibangun di sisi timur ruang utama. Masjid Indrapuri tidak memiliki serambi, hai ini meungkin disebabkan oleh karena masjid ini tergolong masjid tua di Indonesia yang umumnya tidak memiliki serambi.

3) Mihrab pada Masjid Indrapuri seperti pada masjid lainnya terletak pada dinding sebelah barat, disamping berfungsi sebagai tempat imam berdiri untuk memimpin shalat berjamaah, selain itu berfungsi untuk menunjuk kiblat. Pada masjid ini, mihrab dibuat menjorok ke dalam pada sisi dinding sebelah barat.

Hadjad,dkk mengatakan bahwa bentuk mesjid tradisional Aceh umumnya hampir sama yang memiliki sebuah ruangan saja, yaitu ruang tempat salat. Ruangan tersebut merupakan sebuah ruangan berbentuk bujur sangkar. Dapat dilihat pada Gambar 2.26.

Gambar 2.26 Denah Mesjid Tradisional Aceh Sumber : portalsatu.com

(59)

2.3.2.1 Konstruksi/struktur mesjid tradisional Aceh

Susunan bangunan pada masjid tradisional Aceh ditumpu oleh empat buah tiang utama yang bersegi delapan yang di sebut tameh teungoh. Keempat buah tiang utama itu tepat di tengah-tengah bangunan mesjid tradisional Aceh dan menjadi tumpuan pokok atap lapisan atas yang berbentuk limas. Selain empat buah tiang pokok yang terdapat di tengah-tengah bangunan mesjid tradisional Aceh, pada bagian keempat sisi bangunan juga terdapat tiang-tiang pendek yang juga bersegi delapan yang disebut tameuh ungka yang jumlahnya dua belas buah. Fungsi dari tiang-tiang ini adalah sebagai penunjang atap lapisan bawah mesjid tradisional Aceh (Hadjad dkk, 1984). Dapat dilihat pada Gambar 2.27.

Gambar 2.27 Tampak Mesjid Tradisional Aceh Sumber : portalsatu.com

Dinding pada mesjid tradisional Aceh menggunakan dinding setengah terbuka/ setengah permanen karena dikelilingi oleh dinding tembok yang tingginya satu setengah meter. Lantai ruangan terbuat dari semen. Pada sisi sebelah timur (sisi

(60)

depan) terdapat tangga dari beton setinggi dinding beton yang berfungsi sebagai jalan untuk masuk ke dalam ruangan mesjid tradisional Aceh (Hadjad dkk, 1984). Dapat dilihat pada Gambar 2.28.

Gambar 2.28 Konstruksi Mesjid Tradisional Aceh Sumber : Hadjad dkk, 1984

Pada masjid tradisional Aceh tidak ditemui bentuk kubah seperti yang sering didapati pada masjid jaman sekarang. Atap pada masjid tradisional Aceh berbentuk atap tumpang yang terbagi atas dua lapisan, yaitu lapisan atas dan lapisan bawah dan pada atap bagian lapisan atas limas. Namun saat ini ada beberapa masjid tradisional yang telah mengalami perubahan pada atapnya, yaitu pada atap lapisan atas sudah diubah dengan menggunakan bentuk kubah. Bangunan meuseujid posisinya menyesuaikan dengan arah kiblat, yaitu bangunannya selalu menghadap ke timur dan sisi belakangnya berada di sebelah Barat (Hadjad, 1984).

(61)

2.3.2.2 Ragam hias (ornamen mesjid tradisional Aceh)

Biasanya ornamen pada bangunan masjid tradisional Aceh memiliki jenis ornamen yang sama dengan rumah tradisional Aceh, yaitu: ragam hias/ornamen bermotif flora, fauna, alam dan keagamaan. Selain itu pada bangunan masjid tradisional Aceh terdapat juga ragam hias/ornamen yang lain seperti:

a. Ragam hias/ornamen berbentuk pintalan tali disebut juga taloe meuputa, karena ragam ini menyerupai pintalan tali. Dapat dilihat pada Gambar 2.29.

Gambar 2.29 Ornamen pintalan tali di Mesjid Tradisional Aceh Sumber: Hadjad dkk, 1984

b. Ragam hias/ ornamen geometris. Termasuk ke dalam ornamen keagamaan sebagai pendukung ornamen kaligrafi. Pada bangunan mesjid tradisional Aceh biasanya diaplikasikan di bagian dinding saja. Pola-pola geometris yang digunakan pada mesjid tradisional Aceh umumnya berbentuk lingkaran, segitiga, persegi, dan segi enam. Dapat dilihat pada Gambar 2.30.

(62)

Gambar 2.30 Pola Geometris pada Mesjid Tradisional Aceh Sumber: Hadjad dkk, 1984

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat diambil karakteristik arsitektur Tradisional Aceh dapat disimpulkan pada tabel 2.4 berikut ini.

Tabel 2.4 Karakteristik Arsitektur Tradisional Aceh Parameter Elemen

Arsitektur

Arsitektur Tradisional

Aceh Gambar

Atap Limas/ tumpang dua lapis

Dinding

 Jendela

 Mihrab

 Ornamen

Dinding pada mesjid tradisional Aceh

menggunakan dinding semi permanen.

Ornament yang digunakan bermotif keagamaan, motif flora dan tidak

menggunakan motif manusia maupun fauna.

(63)

Tabel 2.4 (Lanjutan) Parameter Elemen

Arsitektur

Arsitektur Tradisional

Aceh Gambar

Kaki

 Kolom Tiang berdiameter 0,28 meter bersegi delapan

Denah Bangunan berbentuk bujur

sangkar dan terdiri atas 36 tiang

2.4 Perkembangan Arsitektur Kolonial

Gaya kolonial (Dutch Colonial) menurut Wardani (2009) adalah gaya desain yang cukup populer di Belanda pada tahun 1924-1820. Orang Eropa ingin menciptakan daerah jajahan seperti negara mereka bersal sehingga muncullah gaya desain kolonial ini. Namun, perbedaan iklim di negara jajahan membuat desain bangunan tidak dapat direalisasikan dengan bentuk aslinya, selain itu ketersediaan bahan material dan perbedaan teknik di negara jajahan menjadi faktor perbedaan gaya desain. Perbedaan itu akhirnya menghasilkan bentuk modifikasi gaya desain baru yang juga memiliki bentuk yang serupa yang di negara mereka.

(64)

Handinoto (2012), membagi gaya Arsitektur Kolonial menjadi tiga berdasarkan perkembangannya, yaitu: Indische Empire Style (abad 18-19), Arsitektur Transisi (1890-1915) dan Arsitektur Kolonial Modern (1915-1940), dapat dijelaskan sebagai berikut:

2.4.1 Indische Empire Style (Abad 18 – 19)

Handinoto (2008) menjelaskan gaya arsitektur Indische Empire Style diperkenalkan oleh Herman Willen Daendels saat dia bertugas sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811). Indische Empire Style (gaya Imperial) adalah suatu gaya arsitektur yang berkembang pada pertengahan abad ke-18. Gaya arsitektur ini pada mulanya muncul dii pinggiran kota Batavia (Jakarta), munculnya gaya ini akibat dari suatu kebudayaan Indische Culture yang berkembang di Hindia Belanda.

Milano dalam Handinoto (2012), menjelaskan bahwa kebudayaan Indische merupakan percampuran kebudayaan Eropa, Indonesia dan sedikit kebudayaan China. Dijelaskan ciri-ciri arsitektur Indische Empire Style antara lain: denahnya berbentuk simetris penuh, ditengah terdapat “central room” yang terdiri dari kamar tidur utama dan kamar tidur lainnya. Ruangan tersebut berhubungan langsung dengan teras depan maupun teras belakang (voor galerij dan achter galerij). Teras tersebut biasanya sangat luas dan diujungnya terdapat barisan kolom yang bergaya Yunani (doric, ionic, corinthian).

Arsitektur Indische Empire Style (abad 18-19) menurut Handinoto (2006), memiliki karakter konstruksi atap perisai dengan penutup atap genting, bahan bangunan konstruksi utamanya adalah batu bata (baik kolom maupun tembok),

(65)

pemakaian kayu terutama pada kuda-kudanya, kosen maupun pintunya dan pemakaian bahan kaca belum banyak dipakai.

2.4.2 Arsitektur Transisi (1890 – 1915)

Menurut Handinoto (2012), arsitektur transisi di Indonesia berlangsung sangat singkat yang berlangsung pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20 antara 1890 – 1915. Peralihan gaya arsitektur ini disebabkan perubahan pada masyarakat Eropa pada masa itu. Modernisasi dengan penemuan baru dalam bidang teknologi dan perubahan sosial akibat perubahan kebijakan politik pada saat itu mengakibatkan perubahan bentuk dan gaya dalam bidang arsitektur.

Ciri-ciri arsitektur ini menurut Handinoto (2012), antara lain: denah masih mengikuti gaya “Indische Empire”, simetri penuh, pemakaian teras keliling pada denahnya masih dipakai dan ada usaha untuk menghilangkan kolom gaya Yunani pada tampaknya. Gevel-gevel pada arsitektur Belanda yang terletak ditepi sungai muncul kembali, ada usaha untuk memberikan kesan romantis pada tampak dan ada usaha untuk membuat menara (tower) pada pintu masuk utama, seperti yang terdapat pada banyak gereja Calvinist di Belanda. Bentuk atap pelana dan perisai dengan penutup genting masih banyak dipakai dan ada usaha untuk memakai konstruksi tambahan sebagai ventilasi pada atap (dormer).

2.4.3 Arsitektur Kolonial Modern (1915 – 1940)

Menurut Handinoto (1993), arsitektur modern merupakan sebuah protes yang dilontarkan arsitek-arsitek Belanda sesudah tahun 1900 atas gaya Indische Empire.

(66)

Arsitek Belanda yang berpendidikan akademis mulai berdatangan ke Hindia Belanda, mereka mendapatkan suatu gaya arsitektur yang cukup asing.

Arsitektur modern memiliki ciri-ciri denah lebih bervariasi, sesuai dengan anjuran kreativitas dalam arsitektur modern. Bentuk simetri banyak dihindari, pemakaian teras keliling bangunan sudah tidak dipakai lagi, sebagai gantinya sering dipakai elemen penahan sinar. Berusaha untuk menghilangkan kesan tampak arsitektur gaya “Indische Empire” (tampak tidak simetri lagi), tampak bangunan lebih mencerminkan “Form Follow Function” atau “Clean Design”. Bentuk atap masih didominasi oleh atap pelana atau perisai, dengan penutup atap genting atau sirap.

Sebagaian bangunan dengan konstruksi beton, memakai atap datar dari bahan beton yang belum pernah ada pada jaman sebelumnya.

Menurut Fajarwati (2011), karakter dari sebuah objek arsitektur merupakan keberagaman atau kekhasan yang tersusun menjadi ciri-ciri objek arsitektural atau susunan elemen dasar yang terangkai sehingga membuat objek tersebut mempunyai kualitas atau kekhasan dengan objek lainnya.

Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat diambil karakteristik arsitektur kolonial dapat disimpulkan pada tabel 2.5.

Tabel 2.5 Karakteristik Arsitektur Kolonial Parameter Elemen

Arsitektur

Arsitektur Kolonial (Indische Empire Style)

Gambar Atap Konstruksi atap perisai dengan

penutup atap genteng.

(67)

Table 2. 5 (Lanjutan) Parameter Elemen

Arsitektur

Arsitektur Kolonial

(Indische Empire Style) Gambar Dinding Dimensi kolom gaya Yunani

Ada teras depan (voor galerij) Ada teras belakang

Tampak simetri

Gedung Museum Seni Rupa (1870). Teras depan

dengan deretan kolom gaya Doric Denah Berbentuk simetri penuh,

ditengah terdapat central room dan berhubungan langsung dengan teras depan/belakang.

2.5 Penelitian Sejenis

Beberapa penelitian dengan tema “Eklektisisme” dan “Bangunan Mesjid”

telah pernah dilakukan. Di dalam rentang waktu kurang dari 10 tahun terakhir, beberapa penelitian yang telah pernah dilakukan antara lain adalah:

2.5.1 Architecture and the politics of identity in Indonesia; a study of the cultural history of Aceh (Izziah, 2009)

Masjid Raya Baiturrahman bergaya Mughal, merupakan genre yang berkembang di India. Bangunan ini juga dipengaruhi oleh gaya Eropa yang muncul dalam bentuk corak, ukiran dan penggunaan material batu bata dan juga konstruksi beton.

(68)

2.5.2 The great mosque of Banda Aceh : its history architecture and relationship of The development of Islam un nothern Sumatra (Wilhelmina Remke Raap, 1994)

Masjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh memiliki akar international.

Adanya unsur delapan lubang cahaya berbentuk bulat yang sering digunakan pada gereja Gothic yang berkembang di Perancis pada abd ke- 13 hingga abad ke-16.

Masjid Raya Baiturrahman juga mewarisi gaya Moorish yang muncul di Alhambra dan Masjid Cordoba. Istilah Moorish merujuk pada bangsa Moor dari Afrika yang kemudian menguasai Spanyol sebelum runtuh kejayaan Islam di sana.

2.5.3 Karakteristik masjid berbasis budaya lokal di Kalimantan Selatan (Naimatul Ulfa)

Penggalian karakteristik masjid berdasarkan nilai budaya suku Banjar.

Rasionalistik kualitatif deskriptif. Masjid tradisional Kalimantan memiliki karakteristik yang dipengaruhi oleh budaya suku Banjar, dimana yang paling mempengaruhi pembentukan karakteristik masjid tradisional Kalimantan Selatan meliputi sistem pohon simbol hayat dan burung enggang, serta organisasi suku Banjar yang menempatkan Ulama/Kyai pada strata tertinggi dalam masyarakat yang bermpak pada bangunan masjid.

2.5.4 Konsep semiotik Charles Jencks dalam arsitektur Post-Modern (Dwi Murdiati)

Pemikiran Jencks tentang arsitektur post-modern tidak bisa dilepaskan dari kritikan atas arsitektur modern atau modern akhir, baik menyangkut teknologi, penataan, bentuk murni, pemaknaan dan kesadaran estetis. Bagi Jencks arsitektur modern mewakili sebuah semiotika single coding, seragam, simetris, universal.

(69)

Sementara arsitektur post-modern mewakili sebuah semiotika double-coding, plural lokal. Semiotika arsitektur yang dikembangkan oleh Jencks sangat dipengaruhi oleh dikotomi semiotika aussuran dan trikotomi semiotika Piercean, dikotomi penanda- petanda, konotasi-denotasi, langue-parole, sintagmatik-paradigmatik ikut membentuk pemikiran semiotika Jencks. Pengaruh paling jelas berada dalam kerangka indeks, ikon, dan symbol, di samping semantic, sintaktik, dan pragmatik.

2.6 Kerangka Teori

Kerangka teori yang digunakan pada penelitian Pengaruh Eklektisisme pada Bangunan Mesjid Raya Baiturrahman Kota Banda Aceh dapat dilihat pada Gambar 2.31.

Gambar 2. 31 Kerangka berpikir teori EKLEKTISISME PADA BANGUNAN MASJID

(STUDI KASUS: MASJID RAYA BAITURRAHMAN KOTA BANDA ACEH)

Parameter Elemen Arsitektur

 Atap

 Dinding

 Kaki / Tiang

 Arsitektur Tradisional Aceh

 Arsitektur Kolonial

 Arsitektur Islam Eklektisisme menggabungkan

elemen-elemen yang terbaik dari masa lampau dalam satu bangunan atau dalam satu kompleks bangunan

(Handinoto, 2003)

(70)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analis dan metode komparatif.

Berdasarkan penjelasan Sugiono (2009), metode analitis deskriptif merupakan metode yang menggambarkan suatu objek yang diteliti dengan mengumpulkan data- data maupun sampel-sampel tanpa melakukan analisa, yaitu menggambarkan obyek seperti apaadanya. Sedangkan metode komparatif dilakukan dengan rekaman obyek penelitian di lapangan, dengan mengaitkan kemungkinan pengaruh gaya arsitektur yang ada di sekitar obyek penelitian. Metode deskriptif analitis dipakai sebagai alat untuk melihat bangunan Mesjid Raya Baiturrahman di Kota Banda Aceh dari aspek elemen tampilan, dengan parameter analisanya adalah atap, badan dan kaki bangunan, dengan mensejajarkan/ mengomparasinya dengan bantuan di lingkungan sebagai sumber tampilan bentukan. Baik atap, badan dan kaki bangunan ditinjau dari teori eklektisisme menurut Harisah, Sastrosasmito & Hatmoko (2007). Metode deskriptif analitis ini pada prinsipnya sama dengan metode komparatif, hanya pendekatannya bukan ke obyek lapangan tetapi berdasarkan pendekatan teori arsitektur Islam, teori arsitektur tradisional Aceh dan teori arsitektur kolonial.

Di dalam proses pelaksanaan suatu penelitian, hendaknya penelitian dilakukan secara sistematis atau mengikuti langkah yang teratur. Penelitian yang dilakukan dengan mengikuti langkah yang teratur, diharapkan mampu menjawab permasalahan

50

Referensi

Dokumen terkait