BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Setiap penelitian membutuhkan suatu cara ataupun metode untuk mencapai hasil yang sistematis dan terarah. Metode menurut Subagyo (2004: 1) adalah cara atau jalan, yang selanjutnya metode merupakan jalan yang berkaitan dengan cara kerja dalam mencapai sasaran yang diperlukan bagi penggunanya, sehingga dapat memahami obyek sasaran yang dikehendaki dalam upaya mencapai sasaran atau tujuan pemecahan masalah. Kemudian, metode penelitian menurut Subagyo (2004: 2) merupakan suatu cara atau jalan untuk memperoleh kembali pemecahan terhadap segala permasalahan.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), yaitu penelitian yang mengambil data dari Masjid RayaBaiturrahman Banda Aceh dengan menggunakan metode deskriptif yakni suatu metode yang menggunakan, mengumpulkan, atau menguraikan berbagai data-data atau teori yang ada (Mukhtar, 2009: 202).
Berdasarkan dengan tempat, waktu, dan hasil yang akan diteliti, maka metodologi yang akan digunakan adalah pengamatan/observasi, wawancara dan dokumentasi.
3.1. Lokasi Penelitian
Penelitian lapangan ini akan dilakukan di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Masjid ini berada di Jl. Mohd. Jam no.1, Kec. Baiturrahman, Kotamadya Banda Aceh, Provinsi Aceh.
3.2.Waktu Penelitian
3.3.Populasi dan Sampel
Dalam bukunya yang berjudulProsedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktik, Arikunto (2010: 173) mendefinisikan populasi sebagai berikut:
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.
Berdasarkan definisi di atas, peneliti akan melakukan penelitian terhadap ornamen yang terdapat pada Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.
Selanjutnya Arikunto (1998: 174) juga mendefinisikan sampel dalam bukunya yang sama di atas sebagai berikut:
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dinamakan penelitian sampel apabila kita bermaksud untuk menggeneralisasikan hasil penelitian sampel. Yang dimaksud menggenralisasikan adalah mengangkat kesimpulan penelitian sebagai suatu yang berlaku bagi populasi.
Berdasarkan definisi di atas, peneliti akan menggunakan ornamen pada Masjid Raya Baiturrahman yang memiliki tanda denotatif dan konotatif (kajian semiotika) sebagai sampel penelitian ini.
3.4.Metode Penelitian
Metode menurut Subagyo (2004: 1) adalah cara atau jalan, yang selanjutnya metode merupakan jalan yang berkaitan dengan cara kerja dalam mencapai sasaran yang diperlukan bagi penggunanya, sehingga dapat memahami obyek sasaran yang dikehendaki dalam upaya mencapai sasaran atau tujuan pemecahan masalah. Kemudian, metode penelitian menurut Subagyo (2004: 2) merupakan suatu cara atau jalan untuk memperoleh kembali pemecahan terhadap segala permasalahan.
Wawancara yang telah peneliti lakukan adalah mewawancarai narasumber yang masih berkaiatan dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Wawancara dilakukan di dalam ruang kesekretariatan masjid dengan narasumber imam besar masjid yaitu Bapak Dr. H. Azman Ismail, MA. Narasumber menceritakan sejarah berkaitan dengan masjid tersebut, mengenai latar belakang pembangunan hingga keadaan masjid yang sedang direnovasi. Akan tetapi perihal yang berkaitan dengan ornamen yang ada pada masjid ini, beliau hanya memberikan sedikit informasi dan rujukan selanjutnya. Sehingga dalam penelitian ini peneliti mengalami kesulitan minimnya narasumber dan rujukan. Daftar wawancara dapat dilihat pada lampiran I.
3.5. Alat dan Teknik Pengumpulan Data
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Sejarah Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pertama kali dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1614 M. Bentuk Masjid Raya Baiturrahman pada awalnya empat persegiyang terbuat dari kayu berstruktur Indonesia dengan atap bertingkat tiga. Pertama kali masjid ini diberi nama Masjid Raya Koetaraja, Koetaraja diambil dari nama kota Banda Aceh pada masa itu (wawancara langsung dengan Bapak Drs. Nurdin AR, M.Hum.).
Dalam sejarah panjangnya Masjid Raya Baiturrahman pernah terbakar beberapa kali. Bangunan pertama yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda telah hilang terbakar pada masa Sultanah Nurul Alam Naqiyatuddin Syah (1675-1678), ketika terjadi pergolakan antara kaum Wujudiyyah yang menilai kerajaan yang dipimpin oleh perempuan tidak sah dan berakhir pada kepanikan yang mengakibatkan istana dan Masjid musnah terbakar.Dalam kebakaran tersebut tidak hanya istana dan masjid yang musnah, tetapi juga perpustakaan masjid yang memiliki berbagai kitab dalam jumlah yang sangat besar (Alamsyah Banta, dkk., 2004: 5-13).
BangunanMasjid Raya Baiturrahman yang dibangun pasca kebakaran terakhir dipugar secara luar biasa dengan gotong royong masyarakat di bawah pimpinan Habib Abdurrahman Az-Zahir, tokoh yang dikagumi dan disegani banyak orang. Ia menjabat Mangkubumi Kesultanan Aceh Darussalam menjelang perang Belanda di Aceh. Pada permulaan perang Belanda di Acehantara 9 Desember 1873 M hingga 6 Januari 1874 M (Sumalyo, 2006:483)pada tanggal 8 Safar 1290 H pada pukul 08.00 WIB bangunan Masjid Raya Baiturrahman sekali lagi musnah terbakar terkena peluru meriam api yang dilepaskan pasukanBelanda ke kampung Meuraksa (Alamsyah Banta, dkk., 2004: 13-15).
bentuk bangunan batu bergaya Moor, sebagaimana terlihat sekarang hasil rancangan ArsitekDe Bruen. Hadirnya bangunan Masjid Raya Baiturrahman dari bahan batu dan bergaya Moor tersebut, telah mengubah gaya dan bentuknya yang berciri Melayu Nusantara kepada bentuk dan ciri bangunan masjid-masjid di Negara-negara Islam lainnya, sebagai corak baru yang gemilang dalam sejarah seni bangunannya, seperti Syro-Egyptostyle, Hispano-Moresque style, Persian style, Ottoman style, atau Indian style (Alamsyah Banta, dkk., 2004: 16).
4.2 Deskripsi Bangunan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Bangunan Masjid Raya Baiturrahman terletak di tengah-tengah kota Banda Aceh, di jalanMohammad Jam No. 1, Kecamatan Baiturrahman, Kotamadya Banda Aceh. Bangunan Masjid Raya Baiturrahman terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
4.2.1Pagar dan Gerbang
Pagar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah yang digunakan untuk membatasi (mengelilingi, menyekat) pekarangan, tanah, rumah, kebun, dan sebagainya 2016).Adapun gerbang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah pintu masuk Masjid Raya Baiturrahman dibangun mengelilingi seluruh lahan masjid dengan bentuk memanjang Timur-Barat dengan luas lahan +31.000 m2. Pagar tersebut memiliki 4 (empat) gerbang di ke-empat sisinya sebagai pintu masuk ke pekarangan masjid, gerbang utama terletak di sisi Timur dengan membentuk relung antar tiang dan direlief dengan pola-pola geometri. Di dalam pekarangan masjid terdapat 1 (satu) gerbang, yang mana gerbang ini merupakan pintu masuk utama sebelum dilakukan perluasan kawasan pekarangan masjid pada tahun 1990 (Alamsyah Banta, dkk., 2004: 109).
Gambar 13: Gerbang Masjid Raya Baiturrahman (sumber: Dok. Pribadi 17/12/2015)
4.2.2Bangunan Induk
Bangunaninduk atau bangunan utama masjid menghadap kearah kiblat dan memiliki 7(tujuh) kubah, serta 4(empat) menara yang melekat pada bangunan masjid. Tampak depan bangunan masjid cenderung dihiasi sulur-sulur yang dominan pada relung antar kolom dengan relief pada bidang dindingnya. Bagian barat dari bangunan masjid terdiri dari dua lantai dengan fungsi sebagai fasilitas pengelola dan pelayanan. Bangunan induk terdiri atas Serambi dan Ruang Utama, untuk memasuki serambi pada bangunan induk melalui anak tangga dengan 10 (sepuluh) anak tangga yang terletak di setiap pintu masuk masjid. Pada anak tangga paling bawah terdapat parit yang mengalir untuk mencuci kaki sebelum masuk ke masjid.
4.2.3 Serambi
merupakan serambi yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1879. Selanjutnya pada tahun 1933-1936 Belanda melakukan perluasan masjid sehingga menambah 2 (dua)serambi lagi yang berada di samping kiri dan kanan serambi utama, serambi kiri dan kanan memiliki ukuran yang lebih kecil dari serambi utama (Alamsyah Banta, dkk., 2004:104).
Gambar 14: Serambi Utama Masjid Raya Baiturrahman (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
4.2.4Ruang Utama
Ruang utama masjid dengan luas lantai + 3.500 m2 digunakan untuk shalat, lantai terbuat dari marmer (wawancara langsung dengan Bapak Dr. Azman Ismail, MA.). Dinding ruang utama terbuat dari tembok dengan 7 (tujuh) buah pintu masuk pada ke-tiga sisi ruang utama dengan lengkungan Persia di bagian atasnya dan pintu dari besi kerawang yang berpola geometris dan floralis. Bagian Barat dari ruang shalat merupakan bangunan perluasan dengan jarak antar kolom lebih lebar dan adanya relung-relung antar kolom yang mendominasi ruang. Pada sisi timur, utara dan selatan terdapat 20 jendela kaca berbentuk lengkungan dengan terali besi yang berpola geometris.
Raya Baiturrahman ini memiliki 193 buah tiang (wawancara langsung dengan Bapak Dr. Azman Ismail, MA.).
4.2.5Mihrab
Mihrab dalam Kamus Bahasa Indonesia (2008:931) adalah ruang kecil yang menjorok keluar dari dinding mesjid (langgar) yang mengarah ke Kabah, tempat imam memimpin sembahyang.
Mihrabmerupakan bagian dari masjid yang biasanya berbentuk relung dan menyatu dengan dinding sebelah kiblat. Mihrab merupakan titik sentral dan aksentuasi dari masjid yang sering dihiasi baik kaligrafi ataupun bentuk polygonal, dan pada langit-langitnya dibuat hiasan yang karakteristik (Alamsyah Banta, dkk., 2004:112).
Mihrab pada masjid Raya Baiturrahman terletak pada sisi barat ruang utama. Mihrab berbentuk relung dengan bentuk ruang 1/2 (setengah) lingkaran. Dinding mihrab menggunakan batu hitam yang dihiasi dengan Qiswah (selimut berornamen kaligrafi pada Ka’bah) dan dibuat diatas kuningan serta dipadukan dengan ragam hias Aceh. Warna kekuningan dari latar mihrab cenderung memantulkan sinar atau cahaya lampu, sehingga memberikan penekanan yang lebih kuat sebagai pusat orientasi(Alamsyah Banta, dkk., 2004:112-114).
4.2.6Mimbar
Mimbar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 975) adalah panggung kecil tempat berkhotbah (berpidato). Mimbar masjid Raya Baiturrahman terletak di sebelah barat, tepatnya di sisi kiri mihrab.Mimbar terbuat dari kayu yang dicat dengan warna coklat. Mimbar tidak memiliki atap, bagian puncak mimbar berbentuk lengkungan yang ditopang oleh dua tiang di sisi kiri dan kanan yang di atasnya dihiasi dengan kubah kecil berwarna kuning keemasan. Bagian dalam di diukir dengan ornamen floralis (bunga, dedaunan dan bulatan). Dalam bulatan ditulis lafaz La ilaha illaallah. Di bawah ukiran daun-dedaunan terdapat lafaz yang lebih lengkap La ilaha illaallah Muhammad rasulullah.
Bagian depan mimbar dikelilingi ukiran ornamen Aceh yang di sebut taloe meuputa, di bagian dalam diukir dengan bentuk lengkungan ditopang oleh dua tiang, pada bagian tengah lengkungan terdapat 1 (satu) ukiran berbentuk neraca gantung berwarna kuning emas. Di sisi kiri dan kanan lengkungan terdapat ukiran bulan dan bintang berwarna kuning emas serta terdapat ukiran dedaunan. Tepat di bawah ukiran neraca terdapat ukiran sulur-sulur.
Gambar 16: Mimbar Masjid Raya Baiturrahman (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
4.2.7Tempat Wudhu
Raya Baiturrahman memanfaatkan 2 (dua) sumber air yang pertama dari PDAM dan satu lagi dari sumur dalam. Untuk penampungan air tersebut telah disediakan tangki air sebanyak dua buah, satu pada halaman bagian selatan dan satu lagi pada teras bagian barat di bawah tangga. Bangunan tangki air dibuat dari plat beton bertulang dan dilengkapi pompa serta bak penampung air di atas bangunan pengelola dengan kapasitas 8m3 sebelum dialirkan melalui kran-kran yang ada (Alamsyah Banta, dkk., 2004:122-123).
Gambar 17: Tempat Wudhu Masjid Raya Baiturrahman (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
4.2.8 Menara
Menara adalah bangunan yang tinggi (seperti di masjid, gereja); bagian bangunan yang dibuat jauh lebih tinggi daripada bangunan induknya
diharapkan merupakan massa bangunan tertinggi dalam Kotamadya Aceh (Alamsyah Banta, dkk., 2004 :120-121).
Gambar 18: Menara Masjid Raya Baiturrahman (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
4.3 Analisis Semiotika Pada Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh memiliki beberapa bagian yaitu pagar, gerbang, bangunan induk, ruang utama, mihrab, mimbar, tempat wudhu dan menara. Semua bagian tersebut dihiasi oleh ornamen (hiasan). Hampir seluruh ornamen yang ada bermotif goemetris dan floralis. Yang dimaksud dengan geometris adalah garis, lengkung, segitiga hingga segi banyak dan lain-lain ada dalam ilmu ukur, bagian-bagiannya termasuk sudut dan luasnya dapat diukur (Sumalyo, 2006: 13).
disebut juga Arabeisque. Ornamen Arabeisque banyak juga terdapat di masjid, seperti di gerbang, gerbang dalam halaman masjid, bagian depan serambi masjid, tiang ruang utama, dinding lengkungan ruang utama masjid, plafon ruang utama, pintu, jendela dan mihrab masjid.
Selain ornamen geometris dan Arabeisque terdapat juga ornamen Aceh di beberapa bagian masjid, seperti ornamen pada pintu, plafon, tiang, mimbar dan mihrab masjid.
4.3.1 Analisis Jenis dan Bantuk Ornamen Masjid Raya Baiturrahman Banda
Aceh
Ornamen Arab yang dijumpai di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh sebanyak 27 buah, berikut uraiannya berdasarkan jenis dan bentuknya:
1. Ornamen Arab Berbentuk Tumbuhan/Floralis Pada Bagian Atas Lengkungan Masjid
Gambar 19: OrnamenFloralis Pada Bagian Atas Lengkungan Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen yang terletak pada Bagian Atas Lengkungan Masjid tersebut merupakan ornamen Arab berupa bentuk ornamen floralis dengan bentuk dasar segitiga.
Gambar 20 : Ornamen Floralis Pada Bagian Depan Serambi Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab berbentuk floralis dengan bentuk bunga mawar tunggal. Ornamen tersebut terdapat pada bagian atas serambi masjid. Pada serambi tengahterdapat dua ornamen bunga tunggal, sedangkan pada serambi kanan dan kiri masing-masing terdapat tiga ornamen bunga tunggal.
3. Ornamen Arab Berbentuk Geometris Pada Bagian Plafon Ruang Utama Masjid
Gambar 21: Ornamen Geometris Pada Bagian Plafon Ruang Utama Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
4. Ornamen Arab Berbentuk Geometris Pada Lengkungan Dinding Masjid
Gambar 22: Ornamen Geometris Pada Lengkungan Dinding Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen dengan bentuk geometris yaitu ornamen berbentuk persegi yang di dalamnya dihiasi dengan ornamen bentuk floralis. Lengkungan tersebut diapit oleh empat tiang sehingga membentuk tiga lengkungan menyerupai lengkungan Persia. Ornamen geometris tersebut terletak pada seluruh lengkungan dinding masjid.
5. Ornamen Arab Berbentuk Geometris Pada Dinding Sisi Kanan dan Kiri Mihrab Masjid
Gambar 23: Ornamen Geometris Pada Dinding Sisi Kanan dan Kiri Mihrab Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk geometris. Perpaduan antara bentuk persegi delapan dan bintang membuat ornamen yang terjalin sangat tegas dan indah. Ornamen ini terletak pada dinding bagian depan ruang utama masjid, tepatnya pada dinding sisi kanan dan kiri mihrab.
Gambar 24: Ornamen Geometris Pada Plafon Ruang Utama di Bagian Depan Mihrab Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk berupa ornamen geometris yaitu persegi delapan dengan lukisan-lukisan indah menghiasi sisi dalam persegi delapan.
7. Ornamen Arab Berbentuk Geometris Pada Jendela Ruang Utama Masjid
Gambar 25: Ornamen Geometris Pada Jendela Ruang Utama Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
8. Ornamen Arab Berbentuk Geometris Pada Dinding Depan Ruang Utama Masjid
Gambar 26: Ornamen Geometris Pada Dinding Depan Ruang Utama Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk ornamen geometris. Ornamen tersebut terletak pada dinding depan ruang utama masjid.
9. Ornamen Arab Berbentuk Geometris Pada Dinding Gerbang Masjid
Gambar 27: Ornamen Geometris Pada Dinding Gerbang Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Diketahui dengan jelas bahwa ornamen yang termasuk ornamen Arab di atas merupakan ornamen geometris karena mengandung unsur persegi. Ornamen ini terdapat pada setiap dinding bagian luar masjid dan di setiap dinding gerbang masjid.
10. Ornamen Arab Berbentuk Geometris Pada Plafon Ruang Utama Masjid
Ornamen di atas merupakan ornamen dengan bentuk geometris karena memiliki bentuk segi delapan dibagian tengah dan adanya bentuk lingkaran dengan hiasan kaligrafi yang mengelilingi segi delapan . Ornamen ini terdapat pada plafon di bagian yang menjorok ke atas sebagai penopang kubah masjid yang pertama kali di bangun oleh Belanda. Ornamen dibuat pada bagian tengah plafon sebagai hiasan untuk tempat lampu hias yang digantung tepat di bawah ornamen tersebut
11. Ornamen Arab Berbentuk Geometris Pada Plafon Ruang Utama Masjid
Gambar 29: Ornamen Geometris Pada Plafon Ruang Utama Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen dengan bentuk geometris dengan pola dasar berbentuk persegi dua belas. Ornamen ini terdapat pada plafon di bagian yang menjorok ke atas sebagai penopang kubah masjid yang kedua dan ketiga. Ornamen tersebut dibuat pada bagian tengah plafon sebagai hiasan untuk tempat lampu hias yang digantung tepat di bawah ornamen tersebut.
12. Ornamen Arab Berbentuk Geometris Pada Dinding Atas Plafon
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk ornamen geometris yaitu berbentuk lingkaran dengan hiasan-hiasan ornamen floralis didalamnya.Ornamen dengan bentuk lingkaran ini terdapat pada dinding yang menjorok ke atas sebagai dinding penopang kubah masjid.
13. Ornamen Arab Berbentuk Geometris dan Floralis Pada Pintu Masuk ke Ruang Utama Masjid
Gambar 31: Ornamen Geometris Pada Pintu Masuk ke Ruang Utama Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk dasar geometris dan dihiasi dengan bentuk ornamen floralis didalamnya. Ornamen ini dibuat dari besi kerawang yang digunakan sebagai pintu yang dibuka dengan cara dilipat ke sisi samping kiri dan kanan.
14. Ornamen bernama “Puta Taloe” Yang Terdapat Pada Dinding Depan Ruang Utama Masjid
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab bernama Puta taloe yang artinya pintalan tali. Ornamen dengan bentuk dua tali yang dipintal tersebut terletak pada bagian dinding depan ruang utama masjid. Terdapat 28 (dua puluh delapan) ornamen dari bahan fiber glass dengan warna hijau tosca dan 8 (delapan) ornamen dari bahan kayu berwarna coklat. Ornamen ini dibuat dengan teknik ukir. 15. Ornamen bernama “Puta Taloe” Pada Mihrab Masjid
Gambar 33: Ornamen “Puta Taloe” Pada Mihrab Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk ornamen floralis. Ornamen tersebut berbentuk dua pintalan tali yang diakhiri dengan sulur-sulur dari ornamen bernamaAwan meusingklet. Ornamen ini dibuat dengan bentuk melengkung mengikuti bentuk mihrab yang berbentuk setengah lingkaran dan dibuat dari lempengan besi berwarna coklat keemasan.
16. Ornamen bernama “Awan Si On” Yang Terdapat Pada Jendela Masjid
Gambar 34: Ornamen “Awan si on” Pada Jendela Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
17. Ornamen bernama “Rante” Yang Terdapat Pada Dinding Depan Ruang Utama Masjid
Gambar 35: Ornamen “Rante” Pada Dinding Depan Ruang Utama Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk geometris bangun datar belah ketupat yang bersusun ke bawah, pada bagian dalamnya diukir ornamen bentuk floralis bernama Bungong meulu. Ornamen diatas terletak pada dinding depan ruang utama, tepatnya di atas tiang dengan jumlah keseluruhan 18 ornamen.
18. Ornamen bernama Pada “Pucok Reubong” Yang Terdapat Pada Leher Kubah Masjid.
Gambar 36: Ornamen “Pucok reubong” Pada Leher Kubah Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
19. Ornamen bernama “Pucok Reubong” Yang Terdapat Pada Bagian Bawah Atap Masjid
Gambar37: Ornamen “Pucok reubong” Pada Bagian Bawah Atap Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk berupa ornamen floralis yang terletak pada bagian bawah atap. Ornamen ini dibuat tersusun dan mengitari seluruh bagian pinggir bawah atap masjid.
20. Ornamen bernama “Pucok Reubong” Yang Terdapat Pada Tabir Masjid
Gambar 38: Ornamen “Pucok reubong” Pada Tabir Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk ornamen floralis. Ornamen tersebut terletak pada tabir masjid sebagai pembatas antar shaf laki-laki dan perempuan. Ornamen tersebut dibuat dengan bentuk kerawang dari bahan kayu.
21. Ornamen bernama “Pucok Reubong” Yang Terdapat Pada Tiang Masjid
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk berupa ornamen floralis. Ornamen Pucok reubong tersebut dibuat satu persatu di atas ornamen bernama Bungong reune leue mengelilingi lingkaran tiang. Ornamen ini dibuat di atas lempengan besi yang direkatkan pada tiang masjid.Ornamen ini terletak pada seluruh tiang masjid bangunan baru yang dibangun oleh pemerintah Aceh sebagai bentuk renovasi untuk pelebaran masjid.
22. Ornamen bernama “Awan Meusingklet” Yang Terdapat Pada Pintu Masuk Ruang Utama Masjid
Gambar 40: Ornamen “Awan Meucanek” Pada Pintu Masuk Ruang Utama Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk ornamen floralis yang dibuat dalam pola geometris persegi panjang. Ornamen tersebut dibuat pada lengkungan dengan hiasan kerawang dari besi. Pintu kerawang dari besi ini dibuka dengan cara di lipat. Ornamen ini terletak pada seluruh 7(tujuh) pintu masuk ruang utama masjid.
23. Ornamen bernama “Bungong ajoe-ajoe” Yang Terdapat Pada Tiang Masjid
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk berupa ornamen floralis yang dibuat dengan bentuk dasar segitiga. Ornamen ini terletak pada seluruh tiang masjid yang dibangun oleh Belanda. Ornamen ini dibuat di atas lempengan besi yang direkatkan pada tiang masjid.
24. Ornamen bernama Pada “Bungong Meulu” Yang Terdapat Pada Tiang Masjid
Gambar 42: Ornamen “Bungong meulu” Pada Tiang Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk berupa ornamen floralis, yang terdapat pada tiang masjid. Ornamen ini dibuat dengan teknik diukir. Ornamen Bungong meulu diukir pada bagian tengah dan diapit oleh ornamen lain yang diadaptasi dari ornamen Arab bentuk floralis lainnya seperti ornamen dheuen dan awan meucanek.
25. Ornamen bernama “Bungong Meusingklet” Yang Terdapat Pada Mihrab Masjid
Gambar 43: Ornamen “Bungong Meusingklet” Yang Terdapat Pada Mihrab Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
yang terletak pada atas mihrab ini dibuat dengan bentuk setengah lingkaran mengikuti bentuk mihrab masjid.
26. Ornamen “Bulen Bintang” Yang Terdapat Pada Mimbar Masjid
Gambar 44: Ornamen “Bulen Bintang” Pada Mimbar Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen ini merupakan ornamen Arab yang disebut Bulen bintang dalam bahasa Aceh. Ornamen dengan bentuk Arabesque ini terletak pada bagian depan mimbar, tepatnya di sisi kanan dan kiri mimbar.
27. Ornamen “Awan Meucanek” Yang Terdapat Pada Mimbar Masjid
Gambar 45: Ornamen “Awan meucanek” Pada Mimbar Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Ornamen di atas merupakan ornamen Arab dengan bentuk ornamen floralis yang terdapat mimbar masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Ornamen ini bersusun berurutan mengitari seluruh sisi mimbar menyerupai bingkai bagi ornamen lainnya.
4.3.2. Analisis Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Masjid Raya
Baiturrahman Banda Aceh
4.3.2.1Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab
1. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Bagian Atas Lengkungan Masjid
Gambar 46: OrnamenFloralis Pada Bagian Atas Lengkungan Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen floralis ini menggambarkan motif sulur-suluran yang berada di sisi kiri dan kanan lengkungan masjid yang berbentuk segitiga.
Secara konotatif, ornamen floralis yang terdapat pada bagian atas lengkungan masjid ini memiliki bentuk dasar segitiga yang memiliki pemaknaan yaitu “Symbol of human, consciousness and the principle of harmony” (Pancawaty dan Faqih, 2012:2) yang artinya “Lambang dari manusia, tentang kesadaran dan dasar-dasar keselarasan”. Dalam ornamen bentuk segitiga terdapat 3 (tiga) sisi yang sejajar dan saling terhubung menjelaskan karakteristik manusia, yang seimbang saling terhubung antara Tuhan, lingkungan dan manusia.
2. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Bagian Atas Serambi Masjid
Secara denotatif, ornamen yang terletak pada bagian atas serambi masjid ini merupakan ornamen floralis dengan bentuk dasar pola segi delapan. Ornamen ini diukir tiga buah bersusun membentuk segitiga pada dinding atas serambi. Ornamen floralis ini menjadi pusat perhatian pada ornamen geometris persegi atau segi empat yang bersusun memenuhi seluruh dinding.
Secara konotatif, ornamen yang berbentuk dasar segi delapan ini memiliki makna “Symbol of God light, spreading the Islamic Faith”(Pancawaty dan Faqih, 2012:2) yang artinya adalah “Lambang cahaya Allah, yang menyebarkan Iman Islam. Ornamen bentuk segi delapan ini menunjukkan cahaya ketuhanan memiliki 8(delapan) sisi segitiga sama sisi dengan makna nikmat Tuhan yang adil dan merahmati siapapun. Seperti bintang 8 (delapan), menggambarkan empat sudut ruang yaitu delapan garis mewakili simbolis Utara, Selatan, Timur, Barat, dan empat sudut yang berada diantaranya. Hal ini menunjukkan bahwa Islam itu agama rahmatan lil ‘alamin. Islam juga sebagai agama yang dapat dirasakan oleh semua makhluk yang tersebar di alam semesta ini.
3. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Bagian Plafon Ruang Utama Masjid
Gambar 48: Ornamen Geometris Pada Bagian Plafon Ruang Utama Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara konotatif, ornamen geometris ini memiliki bentuk dasar segi enam yang memiliki makna “Symbol of heaven” (Pancawaty dan Faqih, 2012:2) yang artinya adalah “Lambang Surga”. Segi enam disebut sebagai simbol utopia, yaitu negeri yang sempurna. Ornamen ini melambangkan kesuburan dengan 6 (enam) segi yang menopang kehidupan muslim, lambang kesempurnaan juga dapat diartikan sesuatu yang bersifat khayalan. Segi enam juga diibaratkan rukun iman yang apabila dijalani dengan baik akan mendapatkan balasan surga.
4. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Lengkungan Dinding Masjid
Gambar 49: Ornamen Geometris Pada Lengkungan Dinding Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen di atas merupakan ornamen geometris dengan bentuk dasar segi empat persegi. Pada bagian dalam persegi, untuk mengisi kekosongan dan menambah keindahan ornamen tersebut dihiasi dengan ukiran ornamen floralis. Ornamen ini terletak pada lengkungan dinding masjid.
spiritualitas melambangkan urutan alam semesta, seperti: utara, selatan, timur dan barat.
5. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Dinding Sisi Kanan dan Kiri Mihrab Masjid
Gambar 50: Ornamen Geometris Pada Dinding Sisi Kanan dan Kiri Mihrab Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terletak pada dinding bagian depan ruang utama masjid, tepatnya pada dinding sisi kanan dan kiri mihrab ini merupakan ornamen geometris dengan bentuk persegi delapan yang tidak putus-putus sehingga terbentuk pola bintang-bintang membuat ornamen ini terjalin sangat tegas dan indah.
6. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Plafon Ruang Utama di Bagian Depan Mihrab Masjid
Gambar 51: Ornamen Geometris Pada Plafon Ruang Utama di Bagian Depan Mihrab Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada plafon ruang utama di bagian depan mihrab masjid ini memiliki bentuk dasar segi delapan dengan motif-motif floralis di dalamnya sehingga membuat ornamen ini menjadi sangat indah. Ornamen ini dibuat dengan ukiran dari kaca patri yang berfungsi sebagai penerangan buatan dari sisi atas dan dapat memberikan efek panas pada ruang di bawahnya.
Secara konotatif, ornamen yang berbentuk dasar segi delapan ini memiliki makna“Symbol of God light, spreading the Islamic Faith”(Pancawaty dan Faqih, 2012:2) yang artinya adalah “Lambang cahaya Allah, yang menyebarkan Iman Islam. Ornamen bentuk segi delapan ini menunjukkan cahaya ketuhanan memiliki 8(delapan) sisi segitiga sama sisi dengan makna nikmat Tuhan yang adil dan merahmati siapapun. Seperti bintang 8 (delapan), menggambarkan empat sudut ruang yaitu delapan garis mewakili simbolis Utara, Selatan, Timur, Barat, dan empat sudut yang berada diantaranya. Hal ini menunjukkan bahwa Islam itu agama rahmatan lil ‘alamin. Islam juga sebagai agama yang dapat dirasakan oleh semua makhluk yang tersebar di alam semesta ini.
Gambar 52: Ornamen Geometris Pada Jendela Ruang Utama Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada jendela masjid ini memiliki bentuk dasar segi delapan. Ornamen yang berwarna biru muda ini dibuat dari besi jenis kerawang guna untuk memberikan efek gelap terang, agar cahaya dapat masuk ke dalam masjid. Ornamen ini berukiran persegi delapan dengan garis-garis teratur di dalamnya yang menyerupai gambaran bintang.
8. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Dinding Depan Ruang Utama Masjid
Gambar 53: Ornamen Geometris Pada Dinding Depan Ruang Utama Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terletak pada dinding depan ruang utama masjid ini merupakan ornamen geometris dengan bentuk menyerupai segitiga terbalik dengan sisi kanan dan kirinya seperti bentuk segi yang patah bersusun yang ukurannya semakin kebawah semakin kecil. Pada bagian atas diisi dengan ukiran lingkaran yang bersusun berurutan ke arah samping. Ornamen ini diukir dari bahan kayu berwarna coklat.
Secara konotatif, ornamen geometris dengan bentuk dasar segitiga ini memiliki makna “Symbol of human, consciousness and the principle of harmony” (Pancawaty dan Faqih, 2012:2) yang artinya “Lambang dari manusia, tentang kesadaran dan dasar-dasar keselarasan”. Dalam ornamen bentuk segitiga terdapat 3 (tiga) sisi yang sejajar dan saling terhubung menjelaskan karakteristik manusia, yang seimbang saling terhubung antara Tuhan, lingkungan dan manusia.
9. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Dinding Gerbang Masjid
Gambar 54 : Ornamen Geometris Pada Dinding Gerbang Masjid
Secara denotatif, ornamen di atas merupakan ornamen geometris dengan bentuk dasar persegi atau segi empat. Ornamen persegi ini bersusun rapi memenuhi dinding gerbang masjid.
Secara konotatif, ornamen geometris tersebut memiliki bentuk dasar persegi atau segi empat, memiliki makna “Symbol of physical experience and the physical world of materiality” (Pancawaty dan Faqih, 2012:12)yang artinya “Lambang dari pengalaman fisik ( sesuatu yang dirasakan secara fisik) dan yang bersifat nyata”. Makna dari ornamen bentuk persegi dengan keempat sisi yaitu menunjukkan simbol fondasi, saling menyokong dan terhubung yang melambangkan inspirasi(fondasi dasar), keseimbangan, kesiagaan dan spiritualitas melambangkan urutan alam semesta, seperti: utara, selatan, timur dan barat.
10. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Plafon Ruang Utama Masjid
Gambar 55 : Ornamen Geometris Pada Plafon Ruang Utama Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara konotatif, ornamen di atas memiliki dua bentuk pola ornamen yaitu pola lingkaran dan pola segi delapan. Pola lingkaran memiliki pemaknaanSymbol of eternity, perfect expression of justice(Pancawaty dan Faqih, 2012:2). “Lambang keabadian, ungkapan yang sempurna untuk keadilan”. Makna dari ornamen bentuk lingkaran ini memiliki arti keabadian tanpa ujung tanpa akhir, bahwa Tuhan tidak berawal dan berakhir. Sedangkan pola segi delapan memiliki pemaknaan “Symbol of God light, spreading the Islamic Faith”(Pancawaty dan Faqih, 2012:2) yang artinya adalah “Lambang cahaya Allah, yang menyebarkan Iman Islam. Ornamen bentuk segi delapan ini menunjukkan cahaya ketuhanan memiliki 8(delapan) sisi segitiga sama sisi dengan makna nikmat Tuhan yang adil dan merahmati siapapun. Seperti bintang 8 (delapan), menggambarkan empat sudut ruang yaitu delapan garis mewakili simbolis Utara, Selatan, Timur, Barat, dan empat sudut yang berada diantaranya. Hal ini menunjukkan bahwa Islam itu agama rahmatan lil ‘alamin. Islam juga sebagai agama yang dapat dirasakan oleh semua makhluk yang tersebar di alam semesta ini.
11. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Plafon Ruang Utama Masjid
Gambar 56: Ornamen Geometris Pada Plafon Ruang Utama Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
digantungnya lampu masjid ini diukir dengan sangat indah, dengan garis-garis yang terlihat seperti bentuk bunga.
Secara konotatif, ornamen geometris di atas memiliki bentuk dasar lingkaran, sehingga pemaknaannya yaitu “Symbol of God light, spreading the Islamic Faith”(Pancawaty dan Faqih, 2012:2) yang artinya adalah “Lambang cahaya Allah, yang menyebarkan Iman Islam. Ornamen bentuk segi delapan ini menunjukkan cahaya ketuhanan memiliki 8(delapan) sisi segitiga sama sisi dengan makna nikmat Tuhan yang adil dan merahmati siapapun. Seperti bintang 8 (delapan), menggambarkan empat sudut ruang yaitu delapan garis mewakili simbolis Utara, Selatan, Timur, Barat, dan empat sudut yang berada diantaranya. Hal ini menunjukkan bahwa Islam itu agama rahmatan lil ‘alamin. Islam juga sebagai agama yang dapat dirasakan oleh semua makhluk yang tersebar di alam semesta ini.
12. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Dinding Atas Plafon
Gambar 57 : Ornamen Geometris Pada Dinding Atas Plafon (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
sebagai hiasan untuk menambahan keindahan pada ornamen geometris tersebut.
Secara konotatif, ornamen geometris di atas memiliki bentuk dasar lingkaran, sehingga pemaknaannya yaituSymbol of eternity, perfect expression of justice(Pancawaty dan Faqih, 2012:2). “Lambang keabadian, ungkapan yang sempurna untuk keadilan”. Makna dari ornamen bentuk lingkaran ini memiliki arti keabadian tanpa ujung tanpa akhir, bahwa Tuhan tidak berawal dan berakhir.
13. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Arab Yang Terdapat Pada Pintu Masuk ke Ruang Utama Masjid
Gambar 58 : Ornamen Geometris dan Floralis Pada Pintu Masuk ke Ruang Utama Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen di atas merupakan ornamen geometris dengan bentuk dasar persegi panjang dan dihiasi dengan bentuk ornamen floralis didalamnya sebagai hiasan untuk menambahan keindahan pada ornamen geometris tersebut. Ornamen ini dibuat pada pintu dari besi dengan bentuk kerawang yang dapat memberikan efek gelap terang dari komposisi geometri.
dan terhubung yang melambangkan inspirasi(fondasi dasar), keseimbangan, kesiagaan dan spiritualitas melambangkan urutan alam semesta, seperti: utara, selatan, timur dan barat.Lambang pengalaman yang nyata dan kebendaaan di dunia nyata”.
14.Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen “Puta Taloe” Yang Terdapat Pada Dinding Depan Ruang Utama Masjid
Gambar 59: Ornamen “Puta Taloe” Pada Dinding Depan Ruang Utama Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada dinding depan ruang utama masjid ini termasuk ornamen floralis yang menggambarkan bentuk dua tali yang dipintal sebagai sisi pinggir menyerupai bingkai dengan hiasan ornamen floralis berbentuk sulur-sulur di dalamnya. Ornamen yang dibuat dengan teknik ukir tersebut dibuat dari bahan fiber glass dengan warna hijau tosca dari bahan kayu berwarna coklat.
Secara konotatif, ornaen “Puta Taloe” di atas memiliki makna tentang simbol ikatan persaudaraan yang kuat bagi masyarakat suku bangsa Aceh. 15. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen “Puta Taloe” Yang Terdapat
Pada Mihrab Masjid
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada mimbar masjid di atas merupakan ornamen Aceh dengan bentuk ornamen floralis. Ornamen tersebut berbentuk dua pintalan tali yang diakhiri dengan sulur-sulur dari ornamen Aceh Awan meusingklet. Ornamen ini dibuat dengan bentuk melengkung mengikuti bentuk mihrab yang berbentuk setengah lingkaran dan dibuat dari lempengan besi berwarna coklat keemasan.
Secara konotatif, ornamen “Puta Taloe” di atas memiliki makna tentang simbol ikatan persaudaraan yang kuat bagi masyarakat suku bangsa Aceh. 16. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen “Awan Si On” Yang Terdapat
Pada Jendela Masjid
Gambar 61: Ornamen “Awan Si On” Yang Terdapat Pada Jendela Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada jendela masjid ini
merupakan ornamenfloralis yang diukir dengan bentuk menyerupai sebatang pohon dengan ranting yang menjalar berbentuk sulur-suluran. Ornamen ini dibuat dari besi jenis kerawang.
Secara konotatif, ornamen “Awan si on” di atas hanya memiliki makna untuk menambah keindahan semata.
Gambar62: Ornamen “Rante” Pada Dinding Depan Ruang Utama Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada dinding depan ruang utama masjid Raya Baiturrahman ini merupakan ornamen geometris dengan bentuk bangun datar belah ketupat yang bersusun ke bawah, pada bagian dalamnya diukir ornamen bentuk floralis bernama Bungong meulu. Ornamen yang dibuat dengan teknik ukir ini dibuat dari bahan fiber glass dengan warna hijau tosca.
Secara konotatif, ornamen “Rante” di atas belum memiliki makna secara simbol, hanya untuk menambah keindahan suatu bangunan.
18. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Pada “Pucok Reubong” Yang Terdapat Pada Leher Kubah Masjid
Gambar 63: Ornamen “Pucok Reubong” Pada Leher Kubah Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara konotatif, ornamen “Pucok reubong” di atas memiliki makna tentang simbol kesuburan (Syamsuddin, 1993:31). Dapat juga di artikan berproses. Pucok reubongadalah tunas bambu yang diibaratkan sebagai awal mula kehidupan mengalami proses tumbuh besar ( helloacehku.com/kenali-motif-khas-rumoh-aceh-di-desa-lubok-sukon/ diakses 30 Oktober 2016). 19. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen “Pucok Reubong” Yang
Terdapat Pada Bagian Bawah Atap Masjid
Gambar 64 : Ornamen “Pucok Reubong” Pada Bagian Bawah Atap Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada bagian bawah atap masjid ini merupakan ornamen floralis berbentuk tunas bambu yang baru tumbuh. Ornamen ini terbuat dari bahan kayu yang diukir berbentuk tunas bambu yang terbalik sehingga bentuknya seperti menggantung di bawah atap. Ornamen ini terdapat di seluruh bawah atap masjid.
Secara konotatif, ornamen “Pucok reubong” di atas memiliki makna tentang simbol kesuburan (Syamsuddin, 1993:31). Dapat juga di artikan berproses. Pucok reubongadalah tunas bambu yang diibaratkan sebagai awal mula kehidupan mengalami proses tumbuh besar ( helloacehku.com/kenali-motif-khas-rumoh-aceh-di-desa-lubok-sukon/ diakses 30 Oktober 2016). 20. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Pada “Pucok Reubong” Yang
Terdapat Pada Tabir Masjid
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada tabir masjid di atas merupakan ornamen floralis berbentuk tunas bambu yang baru tumbuh yang diukir dengan ornamen motif simetris, ornamen ini dibuat dari bahan kayu bentuknya seperti pagar.
Secara konotatif, ornamen “Pucok reubong” di atas memiliki makna tentang simbol berproses. Pucok reubongadalah tunas bambu yang diibaratkan sebagai awal mula kehidupan mengalami proses tumbuh besar. Sedangkan motif simetris memiliki makna yang melambangkan keseimbangan (helloacehku.com/kenali-motif-khas-rumoh-aceh-di-desa-lubok-sukon/ diakses 30 Oktober 2016).
21. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen “Pucok Reubong” Yang Terdapat Pada Pangkal Tiang Masjid
Gambar 66 : Ornamen “Pucok Reubong” Pada Pangkal Tiang Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada pangkal tiang bangunan baru masjid Raya Baiturrahman ini memiliki bentuk ornamen floralis yaitu tunas bambu yang baru tumbuh secara terbalik, sehingga menghasilkan seolah-olah ornamen pucok reubong yang digantung mengitari seluruh sisi tiang.
mula kehidupan mengalami proses tumbuh besar ( helloacehku.com/kenali-motif-khas-rumoh-aceh-di-desa-lubok-sukon/ diakses 30 Oktober 2016). 22. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen “Awan Meucanek” Yang
Terdapat Pada Pintu Masuk Ruang Utama Masjid
Gambar 67 : Ornamen “Awan Meucanek” Pada Pintu Masuk Ruang Utama Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada pintu besi kerawang masjid Raya Baiturrahman ini merupakan ornamen floralis dengan bentuk sulur-suluran berhadapan.
Secara konotatif, ornamen si atas memiliki makna simbolis tentang lambang kesuburan.
23. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen “Bungong ajoe-ajoe” Yang Terdapat Pada Pangkal Tiang Masjid
Gambar 68: Ornamen “Bungong ajoe-ajoe” Pada Pangkal Tiang Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara konotatif, ornamen “Bungong Ajoe-ajoe” di atas memiliki makna keindahan saja.
24. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen Pada “Bungong Meulu” Yang Terdapat Pada Tiang Masjid
Gambar 69: Ornamen “Bungong Meulu” Yang Terdapat Pada Tiang Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen di atas merupakan ornamen dengan bentuk berupa floralis, yang terdapat pada tiang masjid. Ornamen ini dibuat dengan teknik diukir. Ornamen Bungong meulu diukir pada bagian tengah dan diapit oleh ornament yang diadaptasi dari ornamen Arab bentuk floralis lainnya seperti ornamen dheuen dan awan meucanek.
Secara konotatif, ornamen “Bungong meulu” di atas mengandung makna simbol yang melambangkan kesederhanaan. Ini terlihat dari sosok tanaman melati yang sederhana, tumbuh meliar dan mempunyai bunga yang kecil seakan melambangkan kesederhanaan. Warnyanya yang putih bersih serta tidak mencolok melambangkan kesucian dan keelokan budi
25. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen “Bungong Meusingklet” Yang Terdapat Pada Mihrab Masjid
(sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen di atas merupakan ornamen dengan bentuk floralis. yang dibuat dari lempengan besi berwarna emas. Ornamen yang terletak pada atas mihrab ini dibuat dengan bentuk setengah lingkaran mengikuti bentuk mihrab masjid.
Secara konotatif, ornamen “Bungong Meusingklet” ini memiliki makna simbol keindahan.
26. Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen “Bulan Bintang” Yang Terdapat Pada Mimbar Masjid
Gambar61: Ornamen “Bulan Bintang” Pada Mimbar Masjid (sumber: Dok.Pribadi 17/12/2015)
Secara denotatif, ornamen yang terdapat pada mimbar masjid ini memiliki bentuk dasar bulan sabit dan bintang, terdapat empat bintang dengan ukuran kecil memenuhi sisi bulan sabit dan satu bintang dengan ukuran besar didepannya menyelaraskan bentuk ornamen tersebut. Ornamen ini diukir di atas mimbar dari bahan kayu.
Secara konotatif, ornamen “Bulan Bintang” di atas mengandung makna simbolis tentang keislaman.
27.Tanda Denotatif dan Konotatif Ornamen “Awan Meucanek” Yang Terdapat Pada Mimbar Masjid
Secara denotatif, ornamen di atas merupakan ornamen floralis dengan bentuk seperti huruf S miring yang bersusun kearah samping. Ornamen ini dibuat memenuhi seluruh sisi pinggir mimbar masjid menyerupai bingkai bagi ornamen lainnya.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat 27 ornamen Arab pada Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh hampir seluruh ornamen tersebut memiliki pola geometris dan floralis.
2. Peneliti menemukan 11 buah ornamen dengan bentuk pola geometris, merupakan pola dasar ornamen Arab. Terdapat 15 buah ornamen dengan bentuk pola floralis.
3. Ornamen-ornamen pada Masjid Raya Baiturrahaman yang telah diteliti memiliki pamaknaan secara denotatif dan juga konotatif yang diuraikan sebagai berikut:
• Ornamen pada gerbang Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh terdapat 1(satu) buah, yaitu ornamen Arab dengan pola geometris memiliki makna semiotika dari segi denotatif dan juga konotatif.
• Ornamen pada serambi Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh terdapat 1(satu) buah, yaitu ornamen Arab dengan pola floralis di bagian depan serambi masjid memiliki makna semiotika dari segi denotatif dan juga konotatif.
utama, sebuah ornamen Arab dengan pola geometris dan floralis pada pintu masuk ke ruang utama masjid, sebuah ornamen Arab dengan pola geometris pada dinding sisi kanan dan kiri mihrab, sebuah ornamen Arab dengan pola geometris pada plafon ruang utama di bagian depan mihrab, empat buah ornamen dengan pola floralis bernama “Pucok Reubong”, dua buah ornamen dengan pola floralis bernama “Puta Taloe”, sebuah ornamen dengan pola floralis bernama “Awan Si On”, sebuah ornamen dengan pola floralis bernama “Awan Meusingklet”, sebuah ornamen dengan pola floralis bernama “ Bungong Ajoe-ajoe”, sebuah ornamen dengan pola floralis bernama “Bungong Meulu”, sebuah ornamen dengan pola geometris bernama “Rante”, sebuah ornamen dengan pola floralis bernama “Bungong Meusingklet”.
• Ornamen pada mimbar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh terdapat 2(dua) buah, yaitu ornamen dengan pola Arabesque bernama “Bulen Bintang” dan ornamen dengan pola floralis bernama “Awan Meucanek”.
5.2 Saran
Meneliti ornamen Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh memiliki banyak manfaat, namun sangat sulit mendapatkan narasumber yang kompeten dibidang ornamen khususnya ornamen Aceh. Peneliti berharap nantinya banyak narasumber yang akan muncul di bidang ornamen, ornamen Aceh khususnya agar penelitian selanjutnya dapat mudah mendapatkan informasi tentang ornamen yang merupakan salah satu kesenian yang patut dilestarikan.