BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Pasien Ibu Hamil Berdasarkan Kelompok Usia
Berdasarkan 333 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RS Royal Prima Medan tahun 2016 menunjukan pasien ibu hamil berdasarkan kelompok usia yaitu kelompok usia dibawah 21 tahun berjumlah 2 pasien (0,60%), kelompok usia 21-25 tahun berjumlah 66 pasien (19,82%), kelompok usia 26-30 tahun berjumlah 175 pasien (52,55%), kelompok usia diatas 30 tahun berjumlah 90 pasien (27,02%). Data dapat dilihat pada Tabel 4.1
Tabel 4.1 Pasien ibu hamil berdasarkan kelompok usia
Usia Jumlah Pasien Persentase (%)
<21 Tahun
Berdasarkan Tabel 4.1 di atas diperoleh bahwa mayoritas pasien ibu hamil di Rumah Sakit Royal Prima adalahusia 26-30 tahun dengsan jumlah 175 pasien ibu hamil (52,55%). Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ginting (2015) pasien terbanyak dengan usia 26-30 tahun.
Usia menjadi salah satu penentu status kesehatan ibu hamil. Kehamilan yang terjadi pada usia di bawah 20 tahun, dapat menyebabkan kehamilan lebih mudah
mengalami perdarahan serta komplikasi dibandingkan kehamilan dan persalinan pada usia reproduksi sehat yaitu 20-30 tahun. Hal ini disebabkan organ-organ reproduksi belum berfungsi dengan sempurna (Kusumawati, 2006).
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator kesehatan masyarakat yang juga ditetapkan sebagai salah satu indikator Millenium Development Goals (MDG’s) AKI juga merupakan indikator Sustainable Development Goals (SDG’s) 2016-2030 ke-3 yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di segala usia. Target 3.1 SDG’s pada tahun 2030 yaitu mengurangi rasio kematian ibu global menjadi kurang dari 70 per 100.000 kelahiran hidup. Berdasarkan angka Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI di Indonesia naik menjadi 359 per 100.000 kelahiran hidup dari tahun 2007 yang sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. AKI dari hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2015 sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup.Peningkatan AKI ini merupakan tantangan bagi pemerintah untuk mencapai sasaran RPJMN tahun 2015-2019 yang sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup. (BPS, 2016)
Upaya menurunkan AKI di Indonesia salah satunya dilakukan dengan pengendalian tingkat fertilitas, yaitu mengendalikan persalinan pada ibu usia remaja. Hal ini disebabkan sistem reproduksi ibu belum sempurna sehingga memperbesar risiko kematian. Upaya ini direalisasikan dengan berbagai program di bidang keluarga berencana dan peningkatan kesehatan ibu. Perhatian terhadap kesehatan ibu khususnya pada saat hamil dan pasca melahirkan menjadi penting bukan hanya untuk menurunkan angka kematian ibu, tetapi juga angka kematian bayi. (BPS, 2016)
Risiko kematian seorang ibu meningkat pada saat mengandung dan melahirkan. Risiko ini semakin besar saat ibu hamil pada usia muda. Hal ini disebabkan pada usia ini sistem reproduksi belum sempurna untuk melakukan persalinan sehingga dapat mengakibatkan pendarahan dan komplikasi kehamilan lainnya. Rata-rata ibu mengandung anak pertamanya di Indoensia pada usia 21,4 tahun. Usia hamil pertama ibu di perdesaan relatif lebih muda (20,69 tahun) dibandingkan dengan di perkotaan (22,14 tahun). (BPS, 2016)
Kehamilan di usia 30 tahun keatas sering disebut sebagai kehamilan beresiko tinggi karena pada usia di atas 30-an, biasanya penyakit-penyakit degenerative seperti tekanan darah tinggi atau diabetes sudah sering muncul.
Selain itu kehamilan di usia 30-40 tahun meningkatkan resiko terbentuknya bayi down sindrom, masalah kehamilan dengan penyakit diabetes dan tekanan darah tinggi, serta persalinan yang sulit dan lama atau dengan bedah Caesar (Muskibin, 2005).
4.2 Pasien Ibu Hamil Berdasarkan Paritas di Rumah Sakit Royal Prima Medan
Berdasarkan 333 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Royal Prima Medan tahun 2016, maka diperoleh mayoritas pasien ibu hamil berdasarkan paritas yaitu pada kehamilan primigravida (kehamilann anak pertama) sebanyak 130 pasien (39,04%), kehamilan secubdagravida sebanyak 122 pasien (36,64%) dan kehamilan multigravida (kehamilan anak lebih dari dua kali) sebanyak 81 pasien (24,32%). Data dapat dilihat pada Tabel 4.2
Tabel 4.2 Jumlah pasien ibu hamil berdasarkan paritas
Paritas Jumlah Pasien Persentase (%)
Primigravida Thamrin Medan periode Januari – Desember 2015 yaitu secundagravida (kehamilan anak kedua) sebanyak 135 pasien (40,05%), diikuti kehamilhan primigravida (kehamilan anak pertama) sebanyak 126 pasien (37,38%) dan kehamilan multigravida (kehamilan lebih dari dua kali) yakni sebanyak 76 pasien (22,55%).
Kecemasan yang dialami oleh pasien primigravida didasarkan pada ketidaktahuan dalam mengatasi kecemasan menjelang persalinan pertamanya, mulai dari kecemasan akan perkembangan janin dalam rahim, cemas jika bayi lahir premature, cemas terhadap kematian bayinya, cemas jika bayinya lahir cacat, cemas akan proses persalinan, cemas terhadap kemungkinan komplikasi saat persalinan, cemas terhadap nyeri yang timbul saat persalinan (Kusumawati, 2010)
4.3 Usia Pasien Ibu Hamil Berdasarkan Paritas di Rumah Sakit Royal Prima Medan
Berdasarkan 333 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RS Royal Prima Medan tahun 2016 didapatkan usia pasien ibu hamil di bawah 21 tahun merupakan pasien primigravida sebesar 2 pasien (100%). Sebanyak 66 pasien ibu hamil yang berusia 21-25 tahun, pada primigravida berjumlah 64 pasien (96,97%), secundagravida 1 pasien (1,52%) dan
multigravida 1 pasien (1,52%). Pasien ibu hamil berusia 26-30 tahun berjumlah 175 pasien, pada pasien primigravida 62 pasien (35,43%), secundagravida 95 pasien (54,29%), multigravida 18 pasien (10,28%). Pada pasien ibu hamil berusia lebih dari 30 tahun berjumlah 90 pasien dimana pada primigravida 2 psien (2,22%), secundagravida 26 pasien (28,89%) dan multigravida 62 pasien (68,89%). Data dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Usia pasien ibu hamil berdasarkan paritas
Usia Paritas
Primigravida Secundagravida Multigravida
<21 tahun menerima tanggung jawab sebagai seorang ibu sehingga kualitas sumber daya manusia akan semakin meningkat. Begitu juga kehamilan di usia tua akan menimbulkan kecemasan terhadap kehamilan dan persalinan serta alat-alat reproduksi ibu terlalu tua untuk hamil (Prawirohardjo, 2010).
Usia 20-30 tahun adalah usia yang tergolong reproduktif baik dari segi fisik maupun dari segi psikologis serta dijumpai adanya kematangan dalam berfikir dan mengambil suatu keputusan, hal ini disebabkan karena adanya kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap oebuhan dan masalah kehidupan dan mengontrol emosi dalam mengambil keputusan (Hayes dan Kee, 1996).
Hasil yang didapatkan dapat dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan di RSU Bunda Thamrin Medan pada tahun 2015, pada pasien di bawah 21 tahun diperoleh 6 pasien primigravida (100%), pada pasien umur 21-25 pasien
primigravida sebanyak 55 pasien (83,33%), pasien usia 26-30 tahun kelompok secundagravida merupakan kelompok tertinggi yaitu 74 pasien (51,74%) dan pada pasien usia lebih dari 30 tahun diperoleh 57 pasien (41,91%) untuk kelompok multigravida.
4.4 Jumlah Kunjungan Pasien Ibu Hamil Berdasarkan Usia Kehamilan di Rumah Sakit Royal Prima Medan
Berdasarkan 355 kunjungan pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Royal Prima Medan pada tahun 2016 didapatkan jumlah pasien yang berkunjung memeriksa kehamilan pada trisemester pertama sebanyak 57 kunjungan (16,06%), pada usia kehamilan trisemester kedua sebanyak 220 kunjungan (61,97%) dan sebanyak 78 kunjungan (21,97%) pasien usia kehamilan trisemester ketiga. Data dapat dilihat pada Tabel 4.4.
Tabel 4.4 Kunjungan pasien ibu hamil berdasarkan usia kehamilan
Usia Kehamilan Jumlah Persentase (%)
Trisemester Pertama sebesar 1,07 kunjungan, yang diperoleh dari rasio jumlah kunjungan pasien yakni sebesar 355 kunjungan dengan jumlah 333 rekam medik pasien. Hasil penelitian yang diperoleh menujukkan bahwa pasien ibu hamil dengan usia kehamilan trisemester kedua adalah pasien yang paling banyak jumlah kunjungan.
Kehamilan adalah satu fenomena fisiologis yang dimulai sejak konsepsi dan diakhiri dengan proses persalinan. Tiga periode berdasarkan lamanya
II : (12 – 28 minggu ), kehamilan trisemster III : (28 – 40 minggu) (Hayes dan Kee, 1996).
Asuhan antenatal (Antenatal Care) meliputi pengawasan terhadap kehamilan untuk mendapatkan informasi mengenai kesehatan umum, menegakkan secara dini penyakit yang menyertai kehamilan, menegakkan secara dini komplikasi kehamilan, dan menetapkan risiko kehamilan (risiko tinggi, risiko meragukan atau risiko rendah). Asuhan antenatal juga untuk menyiapkan persalinan menuju kelahiran bayi yang baik (well born baby) dan kesahatan ibu yang baik (well health mother), mempersiapkan pemeliharan bayi dan laktasi, memfasilitasi pulihnya kesehatan ibu yang optimal pada saat akhir nifas (Manuaba, 2008).
Kunjungan pemeriksaan kehamilan atau antenatal care yang dianjurkan kepada ibu hamil minimal 4 kali selama hamil antara lain : kehamilan trisemester I (<14 minggu) satu kali kunjungan, kehamilan trisemester II (14-28 minggu) satu kali kunjungan, dan trisemester III (28-40 minggu) dua kali kunjungan. Walaupun demikian disarankan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya dengan jadwal sebagai berikut : sampai kehamilan 28 minggu periksalah empat minggu sekali, kehamilan 28-36 minggu perlu pemeriksaan dua minggu sekali, kehamilan 36-40 minggu setiap satu minggu sekali dan apabila terdapat keluhan-keluhan tertentu (Pantikawati, 2010).
Kehamilan pada trisemester II akan memperlihatkan secara jelas bentuk perubahan tubuh wanita, dikarenakan ukuran perut yang lebih membesar dibandingkan sebelumnya. Trisemester kedua dianggap sebagai masa kehamilan yang terbaik.Ibu hamil merasa lebih nyaman saat ini karena perut belum terlalu besar sehingga masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari (Suririnah, 2008).
4.5 Jumlah Jenis Obat Yang Diresepkan Selama Kehamilan di Rumah Sakit Royal Prima Medan
Berdasarkan 333 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Royal Prima Medan pada tahun 2016 diperoleh bahwa mayoritas pemberian obat terhadap ibu hamil sebanyak 2 jenis obat yaitu 155 pasien (46,55%), disusul oleh pasien ibu hamil yang diberikan 1 jenis obat sebanyak 131 pasien (39,34%), pasien ibu hamil yang diberikan 3 jenis obat sebanyak pasien 33 pasien (9,91%) dan dikuti dengan empat dan lima jenis obat yaitu 13 pasien (3,90%) dan 1 pasien (0,3%). Rata-rata penggunaan obat per pasien adalah 1,79 jenis obat selama kehamilan. Data dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Jumlah jenis obat yang diresepkan selama kehamilan Jumlah Macam Obat Jumlah Pasien Persentase (%)
1
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan hasil yang berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ginting (2015) di RSU Bunda Thamrin Medan Tahun 2015 mayoritaspasien ibu hamil menerima 1 jenis obat selama kehamilan sebanyak 123 pasien (36,49%), diikuti dengan 2 dan 3 jenis obat yaitu 104 pasien (30,86%) dan 53 pasien (15,72%) serta 57 pasien menerima lebih dari 3 jenis obat.
Penggunaan obat pada masa kehamilan cenderung membuat ibu lebih berhati-hati serta lebih selektif, namun penggunaan obat tidak dapat dihindarkan
hipertensi. Pada sebuah penelitian didapatkan kesimpulan banyak wanita menghentikan atau mengurangi pengobatan asma saat merekam hamil sehingga diperlukan strategi dan control keamanan asma saat hamil (Woude, 2012).
4.6 Penggunaan Obat Berdasarkan Paritas di Rumah Sakit Royal Prima Medan
Berdasarkan 333 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Royal Prima Medan pada tahun 2016 didapatkan rata-rata jumlah penggunaan obat yang diresepkan pada ibu hamil berdasarkan paritas yaitupada pasien primigravida rata-rata penggunaan obat adalah 1,84 obat perpasien, pasien secundagravida rata-rata penggunaan obat adalah 1,78 obat perpasien dan pada pasien multigravida rata-rata penggunaan obat adalah 1,74 obat per pasien. Data dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Jumlah peggunaan obat berdasarkan paritas Paritas Jumlah
Berdasarkan hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa rata-rata jumlah penggunaan obat berdasarkan paritas yang paling tinggi adalah pada pasien primigravida (kehamilan anak pertama) dengan rata – rata 1,84 obat, pada secundagravida (kehamilan anak kedua) dengan rata-rata 1,78 obat dan pada multigravida dengan rata-rata 1,74 obat. Rata-rata keseluhuran penggunaan obat berdasarkan paritas adalah 1,79 obat
Hasil penelitian yang di lakukan oleh Ginting (2015) diperoleh rata-rata jumlah penggunaan obat yang diresepkan pada tiap ibu hamil berdasarkan paritas yaitu 2,66 obat dengan mayoritas pasien multigravida dengan rata-rata penggunaan 2,85 obat.
Hasil survei The World Health Organization (WHO) penggunaan obat selama kehamilan sebanyak 12.009 (86%) ibu hamil yang menebus obat didapatkan rata-rata sebesar 2,9 (rentang 1-15) yang menggunakan resep. Tujuh puluh sembilan persen wanita menerima rata-rata 3,3 obat (Briggs, 2002).
4.7 Golongan Obat Yang Diresepkan Selama Kehamilan
Berdasarkan 333 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Royal Prima Medan didapatkan golongan obat yang paling sering diresepkan pada ibu hamil yaitu golongan vitamin sebanyak 386 obat (64,66%), obat anti anemia 118 obat (19,76%) dan gastrointestinal 21 obat (3,52%). Data dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Golongan obat yang diresepkan selama kehamilan
No Jenis Obat Kategori Jumlah Persentase (%) Tabel 4.7 Golongan obat yang diresepkan selama kehamilan (lanjutan)
2 Anti Anemia 118 19,76
Kardiovaskular 4 0,67
Nifedipine C 4 0,67
Gastrointestinal 21 3,52
Omeprazol
Hasil penelitian tidak jauh berbeda dengan penelitian Ginting (2015) yang menggunakan obat vitamin sebanyak 446 (49,66%), obat anti fungi sebanyak 85 (9,46%) dan obat anti anemia sebanyak 72 (8,02%).
Selama kehamilan vitamin merupakan faktor utama dalam mempertahankan kesehatan dan bermanfaat untuk melahirkan janin yang sehat.
Ibu hamil membutuhkan vitamin A untuk pertumbuhan, vitamin B12, vitamin B2, untuk menghasilkan energi. Vitamin B6 berguna untuk mengatur penggunaan protein oleh tubuh dan vitamin B12, serta asam folat berguna untuk pembentukan sel-sel lain. Selain itu juga, ibu hamil membutuhkan vitamin C dan vitamin D (Muskibin, 2005).
Pemberian zat besi pada ibu hamil merupakan salah satu syarat pelayanan kesehatan K4 pada ibu hamil. Cakupan K4 adalah jumlah ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar paling sedikit empat kali sesuai jadwal yang dianjurkan. Dimana jumlah suplemen zat besi yang diberikan selama kehamilan ialah sebanyak 90 tablet (Fe3+). Zat besi merupakan mineral yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain digunakan untuk pembentukan sel darah merah, zat besi juga berperan sebagai salah satu komponen dalam membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot), kolagen (protein yang terdapat pada tulang, tulang rawan, dan jaringan penyambung), serta enzim. Zat besi juga berfungsi dalam sistem pertahanan tubuh. (Depkes RI, 2014).
4.8 Kategori Obat Berdasarkan Risiko Terhadap Janin
Berdasarkan 333 kartu rekam medis pasien ibu hamil di Poliklinik Obstetri
obat diperoleh bahwa kategori tertinggi obat berdasarkan resiko terhadap janin adalah kategori A dengan jumlah 504 obat (84,42%), kategori B dengan jumlah 64 obat (10,72%) dan kategori C dengan jumlah 26 obat (4,36%). Berikut ini tabel data pasien ibu hamil berdasarkan kategori resiko terhadap janin.
Tabel 4.8 Kategori obat berdasarkan kategori resiko terhadap janin
Kategori Jumlah Obat Persentase (%)
A
Penelitian yang di lakukan oleh Ginting (2015),kategori tertinggi di instalasi rawat jalan RSU Bunda Thamrin Medan adalah kategori A dengan jumlah 469 obat (52,28%), kategori B dengan jumlah 249 obat (27,75%) dan kategori C dengan jumlah 177 obat (17,73%).
Indonesia masih mengacu pada sistem klasifikasi yang telah ditetapkan oleh FDA. Beberapa monograf obat di Indonesia masih menggunakan klasifikasi A,B,C,D dan X, dimana kategori A dianggap sebagai obat yang paling aman untuk wanita hamil, sedangkan X adalah yang paling tidak aman dan tidak dianjurkan untuk digunakan pada kehamilan (Christianty,2012).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 333 kartu rekam medis psien ibu hamil di Poliklinik Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Royal Prima Medan tahun 2016 dapat disimpulkan bahwa jumlah penggunaan obat pada pasien ibu hamil dengan rata-rata 1,79 obat selama masa kehamilan, golongan obat yang paling banyak digunakan pada pasien ibu hamil adalah golongan vitamin dengan jumlah 386 obat (64,66%) dan penggunaan obat yang paling banyak digunakan menurut kategori FDA adalah kategori A dengan jumlah 504 obat (84,42%).
5.2 Saran
Berdasarkan pelaksanaan dan hasil penelitian di Rumah Sakit Royal Prima disarankan perlu dilakukan penelitian mengenai penggunaan obat oleh ibu menyusui.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal.100.
Almatsier S, Susirah S, Moesijanti S. (2011). Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Hal. 159-195.
Aritonang, E. (2010). Kebutuhan Gizi Ibu Hamil. Bogor: IPB Press. Hal. 89 As’ad, S. (2002). Gizi Kesehatan Ibu dan Anak. Makassar : Proyek Peningkatan
Penelitian Pendidikan Tinggi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depertemen Pendidikan Nasional. Hal. 3-11
Badan Pusat Statistik (BPS). (2016). Profil Kesehatan Ibu dan Anak 2015. Hal.
65-67.
Barasi, M. (2009). At a Glance Ilmu Gizi. Jakarta: Penerbit Erlangga. Hal. 80-81 Briggs G., Freeman R.K., Yaffe S.J,. (2002). Drugs in Pregnacy and Lactation
sixth edition, Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins. Hal. 10 Christianty, F.M. (2012).Penggunaan Obat Selama Kehamilan Tinjauan dari
Aspek Risk and Benefit Ratio. Jurnal. Jember Fakultas Farmasi Universitas Jember, Jember. Hal. 4.
Departemen Kesehatan RI. (2006). Pedoman Pelayanan Farmasi Untuk Ibu Hamil dan Keluarga Berencana. Hal. 27.
Departemen Kesehatan RI. (2014). Profil Kesehatan Indonesia 2014. Hal 80 Ginting, P.A. (2016). Profil Penggunaan Obat Pada Pasien Ibu Hamil di Instalasi
Rawat Jalan Rumah Sakit Umum Bunda Thamrin Medan Periode Januari 2015- Desember 2015.Skripsi. Medan: Fakultas Farmasi Utara. Hal 25,34-36.
Hauser, A.R.(2007). Antibiotic Basic For Clinicans : Choosing The Right Antibacterial Agent. London: Lippincott Wilkins. Hal. 24,32.
Hayes, E., dan Kee, J. (1996). Farmaskologi Pendekatan Proses Keperawatan.Cetakan Pertama. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 606.
Kusumawati, E. (2010).Hubungan Pengetahuan Primigravida Tentang Kehamilan Dengan Kecemasan Dalam Menghadapi Kehamilan Trisemester 1 di Bps
Fathonah Wn. Skripsi. Surakarta : Program Studi DIV Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Hal. 18-19.
Kusumawati, Y. (2006). Faktor-faktor Resiko Yang Berpengaruh Terhadap Persalinan Dengan Tindakan (Studi Kasus di RS dr. Moerwadi Surakarta.
Tesis. Surakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang. Hal. 22.
Lacy, C.F., Armstrong, L.L., Goldman, M.P., Lance, L.L. (2008). Drug Information Handbook A Comprehensive Resource for All Clinicians and Healthcare Professionals 17th edition. USA: Lexi-Comp. Hal. 198-203 Manuaba, I.A., Ester M., (2008). Gawat Darurat Obstetri Ginekologi Dan
Obstetri Ginekologi Sosial Untuk Profesi Bidan. Jakarta: EGC. Hal 96 Medidata. (2015). MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi. Edisi 15. Jakarta: PT.
Buana Ilmu Populer. Hal. 53
Muskibin, I. (2005) Ibu Hamil dan Melahirkan.Cetakan Pertama. Yogyakarta:
Mitra Pustaka. Hal. 224.
Notoatmodjo, S. (2010).Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rikena Cipta.
Hal. 27.
Nugrahini, D. (2009). Evaluasi Penggunaan Obat Pada Pasien Ibu Hamil DI Poliklinik Obstetri dan Ginekologi RSUD Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2008.Skiripsi. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah, Surakarta. Hal. 14
Nursalam. (2009). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis Dan Instrumen Keperawatan.
Edisi II. Jakarta: Salemba Medika. Hal. 80-89.
Pantikawati, I. (2010). Asuhan Kebidanan 1 (kehamilan). Yogyakarta : Tuya Medika. Hal. 8-9.
Prawirohardjo, S. (2010).Ilmu Kebidanan. Jakarta: YSB-SP. Hal. 279.
Pudjiadi, S. (2001). Ilmu Gizi Klinis pad Anak. Edisi Keempat. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Hal. 58
Rukiyah, Yulianti, Maemunah, Susilawati. (2011) Asuhan Kebidanan (kehamilan), Trans Info Media. Jakarta. Hal. 67
Saifudin, A. (2001). Buku Acuan Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta. Hal. 88
Sartono. (2005). Obat dan Wanita. Bandung: Penerbit ITB. Hal 6.
Sukandar, E.Y., Andrajati R., Sigit I.J., Adnyana .I.k., Adji A.P.S., dan Kusnandar. (2013). ISo Farmakoterapi. Edisi Kedua. Penerbit: PT.ISFI Penerbitan-Jakarta. Hal. 375
Suririnah. (2008). Buku Pintar Kehamilan Dan Persalinan.Jakarta: Penerbit PT.
Gramedia Pustaka Utama. Hal. 92-93.
Zeztra Van der woude, PA, Vroegop, S.Bos,J. DeJong- Van den Berg,LT (2012).
A Population Analysis of Prescription For Asthma Medication During Pregnancy. American Academy of Allergy, Asthma and Immunology.131 (3): 711.
Lampiran 1. Surat Ethical Clearence
Lampiran 2. Surat Izin Penelitian
Lampiran 3. Surat Keterangan Selesai Penelitian
Lampiran 4. Data pasien ibu hamil di poliklinik obstetrik dan ginekologi Rumah Sakit Royal Prima Medan tahun 2016
No No. Rekam Medis usia pasien (tahun ) Usia Kehamilan
(minggu) Paritas Obat Dosis
9 004069 29 30--32
20 007709 28 27--29
32 008200 34 35--36
32--33
54 012754 26 26--27
65 015647 28 26--27
75
84
94 020004t 26 14--15
106
Primigravida Promavit Ossoral
1x1
116 021193 33 23--24 Multigravida Promavit 1x1 BPJS
126 022000 27 28--29 Multigravida Folamil Genio 1x1 BPJS
136
Primigravida Promavit Ossoral
1x1
147 023201 29 10--11
157 023504 26 22--23 Primigravida Etabion 1x1 BPJS
169 024264 35 19--20
Multigravida Etabion Promavit
1x1
179 024653 26 14--15
190 025274 26 6--7
199 025561 29 6--7
Secundagravida Promavit Etabion
1x1
208 026075 33 16--18
Multigravida Promavit Etabion
1x1
218 026433 24 14--15 Primigravida Promavit 1x1 BPJS
1x1
244 028597 24 23--24 Primigravida Piridoxin Hcl 1x1 BPJS
258
268 035220 30 4--5 Secundagravida Folamil Genio 1x1 Umum
276 036498 29 36--37 Secundagravida Folamil Genio 1x1 Asuransi
277 036545 33 16--18 Secundagravida folamil genio 1x1 Umum
ondansetron 2x1
Primigravida Becom C Promavit
1x1
291 037941 39 37--38 Multigravida Promavit 1x1 BPJS
302 040538 39 26--28 Multigravida Promavit 1x1 BPJS
317 044092 35 28--30 Multigravida Folamil Genio 1x1 Umum
AsamTraneksamat ondansetron
Promavit
3x1 1x1
2x1
330 045218 29 34--36 Secundagravida Folamil genio 1x1 Umum
331 045220 35 36--37 Multigravida Folamil genio 1x1 BPJS
332 045339 21 6--8 Primigravida Folamil genio 1x1 Umum
333 045779 29 30--32
Secundagravida
calcifar plus Promavit
1x1
1x1 BPJS