Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Dengan luas areal sekitar 350 ribu ha pada periode 2000-2005, industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar 1.3 juta orang. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007).
Gula adalah salah satu bahan pangan yang sangat penting, termasuk sembilan bahan pokok yang pengadaan dan pengaturan harganya langsung ditangani pemerintah (Mubyarto, 1984). Gula merupakan senyawa organik yang penting sebagai bahan makanan karena gula mudah dicerna dalam tubuh sebagai sumber kalori. Disamping sebagai bahan makanan, gula juga dipergunakan antara lain sebagai bahan pengawet makanan, bahan baku alkohol, pencampur obat-obatan dan mentega. Pada umumnya, gula mempunyai rasa manis, tidak berwarna, tidak berbau, dapat mengkristal dan larut dalam air (Goutara dan Wijandi, 1985).
Menurut Ikatan Ahli Gula Indonesia (2005), gula di Indonesia dikategorikan sebagai salah satu komoditas yang sensitif. Status gula yang penting ini terutama disebabkan oleh dua faktor berikut : (1) gula merupakan kebutuhan pokok penduduk. Fakta ini membawa konsekuensi kewajiban pemerintah untuk menjamin ketersediaan gula di pasar domestik pada tingkat harga yang reasonable bagi seluruh kelompok pendapatan masyarakat, (2) industri gula merupakan sumber penghidupan lebih dari satu juta petani di Jawa dan menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari setengah juta buruh tani di pedesaan terutama di Jawa dan Sumatera. Fakta ini membawa konsekuensi bagi pemerintah untuk menjaga keberlangsungannya serta meningkatkan manfaatnya.
Gula pasir mempunyai kedudukan yang penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari karena merupakan sumber pemanis yang sekaligus juga merupakan sumber kalori. Gula pasir tidak seluruhnya dikonsumsikan secara langsung oleh rumah tangga, melainkan dikonsumsi pula secara tidak
langsung melalui makanan dan minuman hasil industri (Winarno dan Birowo, 1988). Syarat Mutu Gula Pasir (SNI 01-3140-1992) dapat dilihat pada Tabel 3 sedangkan Syarat Gula Kristal Putih dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3. Syarat Mutu Gula Pasir (SNI 01-3140-1992)
Persyaratan
No Kriteria Uji Satuan
GKP (SHS) 1. Keadaan
1.1. Bau
1.2. Rasa
2. Warna (nilai remisi yang direduksi) % b/b Min 53
3. Besar jenis butir Mm 0.8-1.2
4. Air % b/b Maks 0.1
5. Sakarosa % b/b Min 99.3
6. Gula pereduksi % b/b Maks 0.1
7. Abu % b/b Maks 0.1
8. Bahan asing tidak larut Derajat Maks 5 9. Bahan tambahan makanan
- Belerang dioksida (SO2) mg / kg Maks 30 10. Cemaran Logam :
10.1. Timbal (Pb) mg / kg Maks 2
10.2. Tembaga (Cu) mg / kg Maks 2
10.3. Raksa (Hg) mg / kg Maks 0.03
10.4. Seng (Zn) mg / kg Maks 40
10.5. Timah (Sn) mg / kg Maks 40
11. Arsen (As) mg / kg Maks 1
Tabel 4. Syarat Mutu Gula Kristal Putih (SNI 01-3140-2001) Persyaratan No Kriteria Uji Satuan
GKP 1 GKP 2 GKP 3 1. Warna
1.1 Warna Kristal % Min. 90 Min. 65 Min. 60 1.2 Warna larutan
(ICUMSA)
lu Maks. 250 Maks. 350 Maks. 450 2. Besar jenis butir Mm 0.8-1.2 0.8-1.2 0.8-1.2 3. Susut pengeringan % b/b Maks. 0.1 Maks. 0.15 Maks. 0.2 4. Polarisasi
(oZ, 20oC)
“Z” Min. 99.6 Min. 99.5 Min. 99.4 5. Gula pereduksi % b/b Maks. 0.1 Maks. 0.15 Maks. 0.2 6. Abu % b/b Maks. 0.1 Maks. 0.15 Maks. 0.2 7. Bahan asing
tidak larut Derajat Maks. 5 Maks. 5 Maks. 5 Bahan tambahan makanan :
8.
Belerang dioksida (SO2)
mg / kg Maks. 30 Maks. 30 Maks. 30 9. Cemaran logam :
9.1. Timbal (Pb) mg / kg Maks. 2 Maks. 2 Maks. 2 9.2. Tembaga (Cu) mg / kg Maks. 2 Maks. 2 Maks. 2 10 Arsen (As) mg / kg Maks. 1 Maks. 1 Maks. 1
Menurut Purwanto (2006), seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk serta semakin berkembangnya industri pengguna gula pasir, mengakibatkan permintaan gula pasir di dalam negeri mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Perkembangan Jumlah Penduduk, Kebutuhan Industri dan Konsumsi Gula Tahun 1995-2005
Tahun Jumlah Penduduk (ribu jiwa)
Pemakaian Gula untuk Industri (ribu ton)
Konsumsi (ribu ton) 1996 198 343 885.71 3 067.48 1997 201 390 1 111.37 3 366.94 1998 204 423 576.51 2 724.95 1999 207 460 586.36 2 889.17 2000 212 698 601.79 2 989.17 2001 213 348 696.32 3 085.82 2002 218 480 731.72 3 190.54 2003 221 777 795.66 3 300.81 2004 225 920 839.76 3 388.81 2005 229 309 916.45 3 439.64
Sumber : Dewan Gula Indonesia dalam Purwanto (2006)
Berdasarkan Tabel 5, terlihat bahwa konsumsi gula di dalam negeri cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan pemakaian gula untuk industri.
Pada awal perkembangan industri gula di Indonesia, tebu untuk pabrik gula ditanam petani atas perintah tanam paksa oleh pemerintah Hindia Belanda. Jadi pemerintahlah yang merupakan pemasok utama dan tunggal dari tebu yang dibutuhkan pabrik (Moerdokusumo, 1993).
Menurut Bakrie (2003) dalam Suparlan (2007), industri gula merupakan industri yang strategis bagi pemerintah baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Perhatian pemerintah terhadap industri gula dari waktu ke waktu relatif besar sehingga industri ini sering disebut sebagai the most regulated
commodity.
Industri gula pasir dewasa ini mengandung berbagai inefisiensi yang terjadi pada setiap sub sistem dalam sistem pergulaan nasional. Dengan demikian upaya memperbaiki efisiensi industri gula pasir tidak dapat dilakukan secara partial hanya dengan memperbaiki salah satu sub sistem yang ada, akan tetapi efisiensi tersebut dapat dicapai bila seluruh sub sistem yang ada secara keseluruhan juga efisien. Kenyataan adanya inefisiensi tidak dapat dilepaskan dari karakteristik industri gula pasir yang ada saat ini yang dicirikan oleh produktivitas yang rendah di tingkat usaha tani tebu dan pabrik (Amang, 1993).
Ketidakmampuan industri gula untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah pertumbuhan produksi gula yang lebih rendah dari kebutuhan (konsumsi) gula dalam negeri, kebijakan pemerintah kurang mendorong tumbuhnya industri gula, serta masalah perdagangan internasional (Tim Pengkaji Manajemen Industri Gula, 2004).
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. KERANGKA PEMIKIRAN
Tanaman tebu merupakan bahan baku utama bagi industri gula. Tanaman ini sudah dikenal dan dibudidayakan secara luas sejak tiga ratus tahun yang lalu (Tim Pengkaji Manajemen Industri Gula, 2004). Daur kehidupan tanaman tebu dimulai dari fase perkecambahan, fase pertunasan, fase pemanjangan batang, fase kemasakan dan diakhiri dengan fase kematian. Fase perkecambahan dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur 1 minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur 5 minggu. Fase pertunasan mulai dari umur 5 minggu sampai umur 3,5 bulan lalu dilanjutkan dengan fase pemanjangan batang, yakni pada umur 3,5 bulan sampai 9 bulan. Fase kemasakan merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini, gula di dalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal dan setelah itu rendemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilah yang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula. Rendemen pada masa optimal, berangsur-angsur turun sampai titik akhir pada fase kematian tanaman. Proses terbentuknya rendemen gula di dalam batang tebu berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada umur ruas. Ruas dibawah (lebih tua) lebih banyak tingkat kandungan gulanya dibandingkan dengan ruas diatasnya (lebih muda), demikian seterusnya sampai ruas bagian pucuk. Oleh karena itu, tebu dikatakan sudah mencapai optimal apabila kadar gula di sepanjang batang telah seragam, kecuali beberapa ruas di bagian pucuk (Supriyadi, 1992)
Tebu yang telah ditanam apabila sudah berumur tua dan sudah masak harus segera ditebang. Penebangan tebu di lahan dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan tenaga manusia. Setelah tebu ditebang, tebu tersebut diangkut dengan menggunakan truk kemudian dibawa ke PT. PG. Candi Baru. Menurut Hafsah (2002), untuk mendapatkan kualitas gula yang baik maka setelah proses penebangan tebu selesai dilakukan, tebu harus segera digiling dan diproses menjadi gula karena jika tidak segera diolah
kadar air gula dalam batang tebu akan semakin menyusut sehingga gula yang dihasilkan akan berkurang. Pengangkutan hasil tebu dari kebun ke pabrik gula harus dilakukan seefisien mungkin.
Analisis kapasitas giling berkaitan erat dengan tebu yang digunakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis terhadap mutu tebu yang meliputi analisis terhadap Trash dan brix nira perahan pertama (NPP) dalam satuan persen (%). Analisis kapasitas giling juga berhubungan dengan proses penggilingan. Dari proses penggilingan, kita dapat mengetahui rata-rata kapasitas giling PT. PG. Candi Baru sehingga diketahui apakah PT. PG. Candi Baru memenuhi target yang telah direncanakan yaitu sebesar 2000 ton cane
day (TCD) yang awalnya sebesar 1800 ton cane day (TCD) atau tidak dan
mengetahui pula faktor-faktor apa yang berpengaruh terhadap kapasitas giling serta kendala-kendala apa yang dihadapi di stasiun gilingan terutama terhadap mesin dan alat yang digunakan.
Selain itu, dilakukan juga analisis % pol ampas dan analisis keterkaitan antara kapasitas giling terhadap produk yang dihasilkan yaitu tetes dan gula SHS. Untuk mengetahui hubungan kapasitas giling terhadap produk yang dihasilkan maka digunakan analisis regresi linear berganda.
B. TATA LAKSANA