ANALISIS KAPASITAS GILING PRODUKSI GULA PASIR
(Studi Kasus Di PT. PG. Candi Baru Sidoarjo, Jawa Timur)
Oleh
BUDIANI FITRIA ENDRAWATI F 34101121
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Budiani Fitria Endrawati. F 34101121. Analisis Kapasitas Giling Produksi Gula Pasir (Studi Kasus Di PT. PG. Candi Baru Sidoarjo, Jawa Timur). Di bawah bimbingan : Sukardi. 2008
RINGKASAN
PT. PG. Candi Baru merupakan salah satu perusahaan swasta di Indonesia yang memproduksi gula pasir dengan menggunakan tebu sebagai bahan baku utama. Oleh karena itu, ketersediaan tebu sangat penting terutama dalam proses penggilingan. Ketersediaan tebu sangat berkaitan dengan ketersediaan lahan. Dalam penyediaan lahan, PT. PG. Candi Baru mengalami masalah. Selain masalah lahan, masalah lain yang dihadapi adalah masalah kapasitas giling yang rendah.
Tujuan penelitian ini adalah untuk : (1) mengetahui kapasitas giling PT. PG. Candi Baru, (2) mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kapasitas giling dan mengetahui kendala-kendala yang terjadi dalam proses penggilingan, (3) menentukan keterkaitan kapasitas giling terhadap produk yang dihasilkan.
Kapasitas giling di PT. PG. Candi Baru ada dua macam yaitu kapasitas giling inclusive dan exclusive. Kapasitas giling inclusive adalah kapasitas giling yang memasukkan jam berhenti giling, sedangkan kapasitas giling exclusive adalah kapasitas giling yang tidak memasukkan jam berhenti giling.
Hasil analisis kapasitas giling akan digunakan sebagai salah satu informasi untuk mengatasi masalah yang terjadi di PT. PG. Candi Baru. Analisis kapasitas berkaitan dengan tebu yang digunakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis mutu tebu. Selain itu, analisis kapasitas giling berhubungan dengan proses penggilingan. Dengan melakukan analisis kapasitas giling maka dapat diketahui apakah PT. PG. Candi Baru dapat memenuhi target yang telah direncanakan atau tidak dan diketahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kapasitas giling serta kendala-kendala yang terjadi di stasiun gilingan terutama terhadap mesin dan alat yang digunakan. Untuk maksud tersebut maka dilakukan analisis % pol ampas di stasiun giling dan analisis keterkaitan antara kapasitas giling terhadap hasil tetes dan gula SHS. Analisis keterkaitan dilakukan dengan menggunakan metode analisis regresi linear.
Dari hasil perhitungan didapatkan hasil bahwa rata-rata kapasitas giling PT. PG. Candi Baru sebesar 1842.39 ton/hari untuk kapasitas giling inclusive dan 1966.98 ton/hari untuk kapasitas giling exclusive. Berdasarkan analisis mutu tebu, didapatkan hasil rata-rata % trash sebesar 4.8 % per hari dan nilai brix NPP sebesar 15.5 % per hari. Hasil rata-rata % pol ampas sebesar 2.37 % per hari.
Dari hasil regresi linear berganda yang dilakukan terhadap hasil tetes dan gula SHS, diketahui bahwa F hitung tetes adalah 57.694 dan F hitung gula SHS adalah 22.426. Nilai F tabel = 3.000. Dari uji t, hasil t hitung tetes inclusive sebesar 4.600 dan exclusive sebesar 1.517. Nilai t hitung gula SHS inclusive sebesar 1.571 dan exclusive sebesar 2.281. Nilai t tabel = 1.960
Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata kapasitas giling, diketahui bahwa PT. PG. Candi Baru belum memenuhi target yang direncanakan. Hal ini disebabkan
adanya faktor yang berpengaruh terhadap kapasitas giling. Faktor-faktor tersebut adalah jam berhenti giling, mesin dan alat yang digunakan. Dari hasil analisis mutu tebu diketahui bahwa tebu yang digiling memenuhi syarat yang telah ditetapkan, yaitu nilai % trashnya tidak lebih dari 5 % dan nilai brix NPP lebih dari 12 %. Nilai % pol ampas berada dalam nilai kisaran yang telah ditetapkan.
Berdasarkan hasil perhitungan regresi linear berganda diketahui bahwa F hitung lebih besar daripada F tabel sehingga model persamaan Y = a + b1X1 + b2X2 dapat digunakan. Kapasitas giling inclusive berpengaruh terhadap tetes, tetapi tidak berpengaruh terhadap gula SHS, sedangkan kapasitas giling exclusive tidak berpengaruh terhadap tetes, tetapi berpengaruh terhadap gula SHS.
Berdasarkan hasil analisis di atas maka dapat disimpulkan bahwa PT. PG. Candi Baru harus meningkatkan upaya pencapaian kapasitas giling sehingga memenuhi target yang telah ditetapkan. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menekan angka jam berhenti giling dan adanya perbaikan mesin dan alat yang digunakan, penggantian mesin dan alat yang sudah tidak layak pakai. Selain itu, perlu dilakukan pengawasan dan pengontrolan terhadap mesin dan alat PT. PG. Candi Baru dan peningkatan terhadap hasil tetes dan gula SHS agar tidak mengalami kerugian.
Budiani Fitria Endrawati. F 34101121. Analysis of Milling Capacity of Sugarcane Production (Case Study at PT. PG. Candi Baru Sidoarjo, Jawa Timur). Supervised by Sukardi. 2008
SUMMARY
PT. PG. Candi Baru is one of the private companies in Indonesian that produces sugar from sugar cane. Therefore the available of sugar cane was importance, especially at the milling process. The availability of the cane is related to the availability of cane areas. PT PG Candi Baru currently faces such as a problem including a low milling capacity.
This research is intended to study the milling capacity of PT PG Candi Baru, to identify the influency factors of the milling capacity and to determine the relationship between the milling capacity and the production.
There are two types of capacity at PT PG Candi Baru, namely inclusive and exclusive milling capacity. The differences of these two types of capacity lies in the down time consideration in that inclusive milling capacity considers down time of the factory.
Analysis of milling capacity is used for solving problem at PT. PG. Candi Baru. This analysis related to the cane that use for and cause of this need a cane quality analysis. A milling capacity analysis have a relationship with a milling process. Analysis of milling capacity to know that PT. PG. Candi Baru can complete the target or not and what is the factor that influence to the milling capacity. Analysis of milling capacity is also to know obstacle happened in mill station according to machine and equipment in use. To know the relationship of milling capacity to result molasse and SHS sugar it is important to analysis procentage pol bagasse in mill station. Analysis of relationship milling capacity and result molasse and SHS sugar using method double linear regression.
The result show that milling capacity average of PT. PG. Candi Baru is 1842.39 ton/day for inclusive milling capacity and 1966.98 ton/day for exclusive milling capacity. Based on cane quality analysis, average result for % trash is 4.8 % a day, brix value NPP is 15.5 % a day and % pol bagasse is 2.37 % a day.
The double linear regression has done for molasse and SHS sugar found a value of F count is 57.694 and 22.426 while the value F table is 3.000. The t test has done for inclusive and exclusive molasse was found a value of 4.600 and 1.517, The t test has done for inclusive and exclusive SHS sugar was found a value of 1.571 and 2.281 while the value t table was 1.960.
According to this results above show that PT. PG. Candi Baru hasn’t reach the planned target cause of influence milling capacity like shut down plan, machine and equipment. The analysis of cane quality show that the cane used in the milling process fit the set standart and a procentage of trash not more that 5 % and NPP brix value more than 12 % and procentage of bagasse is in the acceptable range.
The double linear regression has done show that F count is larger than F table and model equation Y = = a + b1X1 + b2X2 could be used. An inclusive milling capacity influence production of molasse but didn’t influence the
production of SHS sugar in contradictive the exclusive milling capacity didn’t influence production of molasse but influence the production of SHS sugar.
All of analysis above give a conclusion that PT. PG. Candi Baru should increase the effort to reache target milling capacity by minimisation of shut down plan, repair the machine and equipment or replace with the new machine and equipment. PT. PG. Candi Baru was needed supervision and control the machine and equipment for increasing molasse and SHS sugar production.
ANALISIS KAPASITAS GILING PRODUKSI GULA PASIR
(Studi Kasus Di PT. PG. Candi Baru Sidoarjo, Jawa Timur)
Oleh
BUDIANI FITRIA ENDRAWATI F 34101121
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
ANALISIS KAPASITAS GILING PRODUKSI GULA PASIR (Studi Kasus Di PT. PG. Candi Baru Sidoarjo, Jawa Timur)
SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Pada Departemen Teknologi Industri Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh
BUDIANI FITRIA ENDRAWATI F 34101121
Dilahirkan di Surabaya, 5 September 1983 Tanggal Lulus : 19 Maret 2008
Disetujui, Bogor, 19 Mei 2008
Dr. Ir. SUKARDI, MM Dosen Pembimbing Akademik
SURAT PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang berjudul
ANALISIS KAPASITAS GILING PRODUKSI GULA PASIR (Studi Kasus Di PT. PG. Candi Baru Sidoarjo, Jawa Timur)
merupakan hasil karya asli saya sendiri, dengan arahan dosen pembimbing akademik, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya.
Yang membuat Pernyataan
Budiani Fitria Endrawati F 34101121
BIODATA PENULIS
Penulis bernama lengkap Budiani Fitria Endrawati. Merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Penulis dilahirkan di Surabaya tanggal 5 September 1983 dari pasangan Prof. Dr. Ir. H. M. Rachimoellah, Dipl. EST dan Ir. Hj. Endah Mutiara Marhaeni Putri, DEA, MSi.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN Manyar Sabrangan II / 231 Surabaya tahun 1995. Pada tahun 1998 penulis melanjutkan pendidikan di SLTPN 19 Surabaya. Pada tahun 2001, penulis lulus dari SMU Trimurti Surabaya dan pada tahun yang sama diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) pada Departemen Teknologi Industri Pertanian.
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai staf Departemen Dalam Negeri Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor periode 2002-2003, Forum Bina Islami sebagai Sie Dana Usaha Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor periode 2002-2003. Selain itu, penulis pernah menjadi asisten mata kuliah Menggambar Teknik pada Tahun Ajaran 2005/2006.
Penulis melaksanakan praktek lapangan di PT. PG. Candi Baru Sidoarjo tahun 2004 dengan judul “Manajemen Produksi dan Pengawasan Mutu”. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana, penulis menyusun skripsi yang berjudul Analisis Kapasitas Giling Produksi Gula Pasir (Studi Kasus di PT. PG. Candi Baru Sidoarjo Jawa Timur).
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Analisis Kapasitas Giling Produksi Gula Pasir (Studi Kasus di PT. PG. Candi Baru Sidoarjo) dengan baik.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis mendapatkan banyak bantuan, bimbingan, doa dan support dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. Ir. Sukardi, MM sebagai pembimbing akademik atas saran dan bimbingannya dalam penyelesaian skripsi.
2. Prof. Dr. Ir. Djumali Mangunwidjaja, DEA dan Dr. Ir. Suprihatin, Dipl. Ing sebagai dosen penguji yang telah memberikan masukan, saran dan kritik dalam penyempurnaan skripsi ini.
3. Direksi PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Surabaya yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian.
4. Ir. Bambang Subekti; Ir. Santoso, Ir. Rahman; Ir. Gatot Trihartono; M. Hadi Mahmudi; Ibu Dartiningsih; Bapak Kamto; Mas Yudi; Mas Hartono dan seluruh pegawai PT. PG. Candi Baru Sidoarjo.
5. Prof. Dr. Ir. H. M. Rachimoellah, Dipl. EST; Ir. Hj. Endah Mutiara Marhaeni Putri, DEA, MSi; Aullya Ardhini Rahendawati, ST; Chandra Suryani Rahendaputri dan Adhilla Salsabila yang selalu memberikan doa, support, kasih sayang, perhatian, semangat dan keceriaan kepada penulis.
6. Teman-teman Teknologi Industri Pertanian (TIN) angkatan 38 atas kebersamaan dan persahabatannya selama ini.
7. Keluarga Ratna Iriani Sosiawati (tante Ratna, dik Doni, dik Irfan dan dik Rena) atas perhatiannya kepada penulis.
8. Dr. rer. nat. Irmina Kris Murwani, M.Sc dan Prianti Tuhu Setyo Arianti atas bantuannya.
9. Yuli Handayani; Kurnia Meirina; Novianti Prihatiningsih; Hani; Mildaa Shanty; Wahyu Gumilar; Irawan Suryawijaya; Amoy; Neisya Solaita;
Noviana Wulandari; Ira Ayuthia Herdiani dan Haekal atas kebersamaan dan bantuannya selama ini.
10. Bapak Mulyana Rahmat; Bapak Sugiardi; Bu Egnawati Sari dan seluruh pegawai tata usaha dan laboran Departemen Teknologi Industri Pertanian yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas bantuan dan perhatiannya kepada penulis.
11. All Tiners atas kebersamaannya selama ini.
12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah memberikan kontribusi terhadap penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari banyak kekurangan dan kekhilafan dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saran dan kritik sangatlah penulis harapkan. Semoga skripsi ini dapat memberikan banyak manfaat kepada penulis serta pihak-pihak yang memerlukannya.
Bogor, 19 Maret 2008
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR LAMPIRAN ... vii
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 3
C. Ruang Lingkup ... 3
D. Manfaat Penelitian ... 3
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tanaman Tebu ... 4 B. Kapasitas Giling ... 8 C. Produksi Gula... 10 1. Produksi ... 10 2. Produksi Gula ... 12 D. Gula Pasir ... 13
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Pemikiran ... 18
B. Tata Laksana ... 19
C. Metode Penelitian ... 22
IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Perusahaan ... 26
B. Lokasi Pabrik ... 26
C. Struktur Organisasi ... 27
D. Ketenagakerjaan ... 31
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Proses Produksi ... 32
1. Stasiun Gilingan ... 37
2. Stasiun Pemurnian ... 41
3. Stasiun Penguapan ... 46
4. Stasiun Masakan dan Stasiun Puteran ... 48
5. Stasiun Penyelesaian ... 50
B. Kapasitas Giling ... 51
1. Analisis Mutu Tebu ... 53
2. Analisis % Pol Ampas ... 54
3. Analisis Keterkaitan Kapasitas Giling Inclusive dan Exclusive Terhadap Hasil Tetes PT. PG. Candi Baru ... 55
4. Analisis Keterkaitan Kapasitas Giling Inclusive dan Exclusive Terhadap Hasil Gula SHS PT. PG. Candi Baru ... 57
VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 59
B. Saran ... 60
DAFTAR PUSTAKA... 61
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 1. Jumlah Tebu Masuk PT. PG. Candi Baru (ton per bulan)
Selama bulan Mei sampai dengan bulan November ... 1 Tabel 2. Luas Areal, Produksi Tebu, Rendemen dan Produksi Gula
Dalam Negeri Tahun 1996–2005 ... 12 Tabel 3. Syarat Mutu Gula Pasir (SNI 01-3140-1992) ... 14 Tabel 4. Syarat Mutu Gula Kristal Putih (SNI 01-3140-2001) ... 15 Tabel 5. Perkembangan Jumlah Penduduk, Kebutuhan Industri dan
Konsumsi Gula Tahun 1995–2005 ... 16 Tabel 6. Perhitungan Kumulatif Kapasitas Giling PT. PG. Candi Baru
Pada Periode Bulan Mei sampai dengan bulan November ... 52 Tabel 7. Jumlah Jam Berhenti Giling PT. PG. Candi Baru Pada Periode
Bulan Mei sampai dengan bulan November ... 53 Tabel 8. Mutu Tebu PT. PG. Candi Baru Pada Periode Bulan Mei
sampai dengan bulan November ... 54 Tabel 9. Hasil % Pol Ampas PT. PG. Candi Baru Pada Periode Bulan
Mei sampai dengan bulan November ... 55 Tabel 10. Hasil Tetes PT. PG. Candi Baru Pada Periode Bulan Mei
sampai dengan bulan November ... 56 Tabel 11. Hasil Gula SHS PT. PG. Candi Baru Pada Periode Bulan Mei
sampai dengan bulan November ... 57
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Tanaman Tebu... 04
Gambar 2. Batang Tebu ... 4
Gambar 3. Pohon Industri Tebu ... 5
Gambar 4. Tahapan Penelitian ... 21
Gambar 5. Diagram Alir Kualitatif Proses Pembuatan Gula ... 32
Gambar 6. Diagram Alir Kuantitatif Proses Pembuatan Gula ... 36
Gambar 7. Diagram Alir Kualitatif Stasiun Gilingan ... 37
Gambar 8. Diagram Alir Kuantitatif Stasiun Gilingan ... 40
Gambar 9. Diagram Alir Kualitatif Stasiun Pemurnian ... 41
Gambar 10. Diagram Alir Kuantitatif Stasiun Pemurnian ... 45
Gambar 11. Diagram Alir Kualitatif Stasiun Penguapan ... 46
Gambar 12. Diagram Alir Kuantitatif Stasiun Penguapan ... 48
Gambar 13. Diagram Alir Kualitatif Stasiun Masakan dan Puteran ... 49
Gambar 14. Diagram Alir Kualitatif Stasiun Penyelesaian ... 50
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Peta Situasi PT. PG. Candi Baru ... 65
Lampiran 2. Struktur Organisasi PT. PG. Candi Baru Sidoarjo ... 66
Lampiran 3. Data Tebu Masuk dan Jumlah Hari Giling Bulan Mei ... 67
Lampiran 4. Data Tebu Masuk dan Jumlah Hari Giling Bulan Juni ... 68
Lampiran 5. Data Tebu Masuk dan Jumlah Hari Giling Bulan Juli ... 69
Lampiran 6. Data Tebu Masuk dan Jumlah Hari Giling Bulan Agustus .... 70
Lampiran 7. Data Tebu Masuk dan Jumlah Hari Giling Bulan September 71 Lampiran 8. Data Tebu Masuk dan Jumlah Hari Giling Bulan Oktober ... 72
Lampiran 9. Data Tebu Masuk dan Jumlah Hari Giling Bulan November .. 73
Lampiran 10. Data Kapasitas Giling Inclusive dan Kapasitas Giling Exclusive Setiap Harinya ... 74
Lampiran 11. Data Jumlah Jam Berhenti Giling Dalam Pabrik dan Luar Pabrik Setiap Harinya ... 79
Lampiran 12. Data % Trash, % Brix NPP, % Pol Ampas, Tetes, Gula Setiap Harinya ... 84
Lampiran 13. Keterkaitan Kapasitas Giling Inclusive dan Kapasitas Giling Exclusive Terhadap Hasil Tetes ... 89
Lampiran 14. Keterkaitan Kapasitas Giling Inclusive dan Kapasitas Giling Exclusive Terhadap Hasil Gula SHS ... 90
I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok dan sangat penting untuk ketahanan pangan nasional. Gula juga merupakan komoditi dengan tingkat partisipasi konsumsi yang tinggi dan ragam penggunaan gula yang sangat luas (Kusumaningrum, 2005). Selain itu, gula merupakan komoditas strategis baik sebagai bahan pemanis maupun sebagai sumber kalori. Oleh karena itu keberadaan pabrik gula serta produknya memerlukan suatu perhatian dan penanganan yang serius.
PT. PG. Candi Baru merupakan salah satu perusahaan swasta di Indonesia yang memproduksi gula. PT. PG. Candi Baru memproduksi gula pasir jenis Superior Hooft Suiker (SHS) IA dengan menggunakan tebu sebagai bahan bakunya.
Menurut Mulyadi (1986) dalam Siregar (2003), bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh dari produk jadi. Bahan baku yang digunakan di PT. PG. Candi Baru berasal dari tebu sendiri, tebu rakyat intensifikasi kredit, tebu rakyat intensifikasi non kredit dan tebu bebas (beli). Jumlah tebu yang masuk ke PT. PG. Candi Baru dapat dilihat pada Tabel 1, sedangkan penerimaan tebu masuk setiap harinya dapat dilihat pada Lampiran 3-9.
Tabel 1. Jumlah Tebu Masuk PT. PG. Candi Baru (ton per bulan) selama bulan Mei sampai dengan bulan November
Bulan Tebu Masuk (Ton)
Mei 17 864.7 Juni 57 298.5 Juli 61 005.4 Agustus 56 884.1 September 61 572.8 Oktober 55 989.7 November 29 179.1 Total 339 794.3
Sumber : PT. PG. Candi Baru
Menurut Kusumaningrum (2005), ketersediaan bahan baku merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses produksi gula sehingga proses penyediaannya perlu direncanakan secara optimal. Tanaman tebu yang digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan gula di pabrik gula (PG) membutuhkan adanya ketersediaan lahan (Tim Pengkaji Manajemen Industri Gula, 2004).
Areal PT. PG. Candi Baru mengalami penurunan karena adanya penyempitan dan pengalihfungsian lahan. Hal ini disebabkan adanya perkembangan industri, penggunaan jalan tol dan perluasan areal perumahan sehingga lahan-lahan yang berpotensi untuk ditanami tebu terdesak oleh perluasan industri tersebut. Lahan yang tersisa merupakan lahan yang kurang produktif. Untuk mengatasi masalah ketersediaan lahan ini, PT. PG. Candi Baru mengadakan kerjasama dengan petani yang mempunyai lahan dimana lahan tersebut memenuhi persyaratan untuk ditanami tebu.
Dalam sejarah pergulaan di Indonesia, penggunaan lahan petani selalu menjadi masalah yang tidak mudah dipecahkan. Hal ini disebabkan karena pabrik gula tidak mempunyai lahan yang cukup. Oleh sebab itu jalan pintas yang ditempuh adalah menyewa lahan petani. Fakta di lapangan mengindikasikan bahwa sebagian besar petani menyewakan lahan pada pabrik gula dengan keterpaksaan (Hafsah, 2002). Menurut Tim Pengkaji Manajemen Industri Gula (2004), lahan untuk perkebunan tebu adalah tanah sawah yang subur dan berpengairan teknis milik rakyat, yang penyediaannya dijamin oleh pengusaha. Petani hanya berfungsi sebagai penyedia faktor produksi yaitu lahan dan tenaga kerja.
Permasalahan lain yang dihadapi PT. PG. Candi Baru adalah kapasitas giling yang rendah. Rendahnya kapasitas giling dipengaruhi oleh beberapa faktor. Analisis kapasitas giling dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kapasitas giling dan kendala-kendala yang terjadi dalam proses penggilingan sehingga dapat dilakukan perbaikan dan permasalahan yang terjadi dapat diatasi.
B. TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui apakah kapasitas giling memenuhi target yang telah ditetapkan.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kapasitas giling. 3. Mengetahui kendala-kendala yang terjadi dalam proses penggilingan di
stasiun gilingan.
4. Menentukan keterkaitan kapasitas giling terhadap produk yang dihasilkan.
C. RUANG LINGKUP
Ruang lingkup penelitian ini adalah keadaan yang berpengaruh terhadap kapasitas giling PT. PG. Candi Baru. Pencapaian kapasitas giling ini apabila PT. PG. Candi Baru memenuhi target yang telah direncanakan. Aspek kapasitas giling pabrik dipengaruhi oleh kualitas tebu yang digunakan, proses penggilingan dan jam berhenti giling.
D. MANFAAT PENELITIAN
Analisis kapasitas giling ini diharapkan dapat memberi manfaat untuk PT. PG. Candi Baru. Dengan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kapasitas giling dan kendala-kendala dalam stasiun gilingan maka PT. PG. Candi Baru dapat melakukan penanganan yang lebih baik dan perbaikan-perbaikan terhadap mesin dan alat yang digunakan sehingga kapasitas giling PT. PG. Candi Baru dapat meningkat. Selain itu, kinerja pabrik berjalan dengan lancar.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. TANAMAN TEBU
Tanaman tebu (Saccharum officinarum L) merupakan salah satu tanaman penting sebagai penghasil gula. Lebih dari setengah produksi gula dunia berasal dari tebu. Klasifikasi botani tanaman tebu adalah sebagai berikut (Sudiatso, 1982) : Kelas : Monokotiledon Ordo : Glumaceae Famili : Gramineae Kelompok : Andropogoneae Genus : Saccharum
Gambar 1. Tanaman Tebu
Tanaman tebu merupakan tanaman perkebunan semusim yang mempunyai sifat tersendiri sebab di dalam batangnya terdapat zat gula (Supriyadi, 1992). Di dalam batang tebu terkandung 20% cairan gula (Reginawanti, 1999).
Gambar 2. Batang Tebu
Menurut Sudiatso (1982), batang tebu merupakan bagian terpenting dalam produksi gula karena mengandung nira. Batang tanaman tebu beruas-ruas dari bagian pangkal sampai pertengahan, beruas-ruasnya panjang-panjang sedangkan di bagian pucuk ruasnya pendek (Supriyadi, 1992). Untuk pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin pemeras (mesin press) di pabrik gula. Sesudah itu, nira atau air perasan tebu tersebut disaring, dimasak dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal (Anonim, 2007).
Tebu mempunyai peranan penting dalam menggerakkan perekonomian suatu wilayah. Hal ini terkait dengan posisinya sebagai bahan baku utama industri gula (Hafsah, 2002). Tebu selain dapat digunakan sebagai bahan baku industri gula juga memiliki manfaat lain. Dari pucuk dan daun tebu dapat dimanfaatkan sebagai makanan untuk ternak, dari nira dihasilkan gula, molase dan blotong sedangkan dari ampas dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar, makanan ternak dan sebagainya. Kegunaan tebu lebih lengkap, dapat dilihat di pohon industri pada Gambar 3.
Gambar 3. Pohon Industri Tebu (Sumber : http://ikah.depperin.go.id, 2007)
Tanaman tebu hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatera (Anonim, 2007). Tanaman tebu cukup banyak didapati mulai dari dataran rendah sampai pada daerah dataran tinggi yang tingginya tidak lebih dari 1300 meter dari permukaan laut (Hafsah, 2002). Di tempat yang lebih tinggi pertumbuhan tanaman tebu agak terhambat. Menurut Reginawanti (1999), ketinggian tempat yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah 5–500 meter dari permukaan laut.
Tanaman tebu tumbuh baik pada daerah beriklim panas dan lembab. Kelembaban yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini adalah lebih dari tujuh puluh persen (Reginawanti, 1999). Suhu optimum untuk pertumbuhan tanaman tebu berkisar antara 24-300C (Indriani dan Sumiarsih, 1992). Hujan yang merata diperlukan setelah tanaman berumur delapan bulan dan kebutuhan ini berkurang sampai menjelang panen. Jenis tebu yang akan ditanam adalah jenis tebu yang hasil produksinya tinggi dan sesuai dengan jenis tanah kebun (Sutardjo, 2002). Menurut Reginawanti (1999), tanah yang terbaik adalah tanah subur dan cukup air tetapi tidak tergenang.
Masa kemasakan tebu adalah suatu gejala bahwa pada akhir dari pertumbuhannya terdapat timbunan sakarosa di dalam batang tebu. Pada tebu yang masih muda, kadar sakarosa tertinggi berada di dalam ruas-ruas bawah dan kadar sakarosa di ruas-ruas di atasnya hampir sama tingginya. Sakarosa adalah bahan baku yang terpenting (Sutardjo, 2002).
Tingkat kemasakan tebu merupakan faktor pertimbangan utama dalam menentukan jadwal tebang selain mempertimbangkan keadaan fisik tebu di lapang dan kapasitas giling pabrik. Penebangan tebu dilakukan berdasarkan tingkat kemasakan tebu dan analisa pendahuluan. Analisa pendahuluan dilakukan untuk menentukan apakah tanaman dalam satu areal tertentu sudah waktunya ditebang atau belum (Siregar, 2003). Di PT. PG. Candi Baru, tebu yang layak untuk ditebang adalah tebu yang umurnya tidak kurang dari 10 bulan dan harus pada kondisi tebu tersebut tua atau sudah masak.
Menurut Supriyadi (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi rendemen adalah sebagai berikut :
1. Varietas Tebu
Setiap pabrik gula menanam varietas tebu yang tidak sama dengan pabrik gula yang lainnya. Varietas tersebut memiliki tingkat kemasakan yang berbeda sehingga rendemen yang dihasilkan juga berbeda.
2. Daerah penanaman dan sinar matahari
Tebu yang ditanam di dataran tinggi, masa hidupnya akan lebih lama dibandingkan dengan tebu yang ditanam di dataran rendah. Tebu yang ditanam di dataran tinggi akan mendapat sinar matahari lebih lama daripada di dataran rendah, oleh karena itu kemasakan optimal dicapai pada masa yang lebih lama.
3. Curah Hujan
Curah hujan yang tinggi pada waktu tanaman tebu mencapai umur masak akan menyebabkan pembentukan gula rendah, sebab sinar matahari terhalang oleh awan sehingga proses fotosintesis terhambat sekaligus proses pembentukan gula terhambat, terbentuknya rendemen rendah dan tebu mencapai masak optimal terlambat pula.
4. Adanya serangan hama atau penyakit
Serangan hama dan penyakit pada tanaman tebu sangat menghambat proses pembentukan gula. Apabila serangan hama atau penyakit itu hebat, maka pembentukan gula pun sedikit bahkan bisa terhenti sama sekali, karena gangguan hama atau penyakit, tebu tidak bisa mencapai masak optimal pada waktunya.
5. Kerobohan tanaman
Tebu yang roboh terkena angin akan berakibat proses kemasakannya terhambat. Tebu yang roboh akan tumbuh sogolan/tunas baru maka kandungan gula di dalam batang tebu akan diuraikan kembali untuk proses pertunasan dan seluruh energi tercurah untuk berdirinya kembali. Oleh karena itu, kalau tanaman tebu roboh misalnya terkena angin maka tanaman tebu tersebut harus segera didirikan lagi dan diikat.
6. Saat sebelum penebangan
Perlu dijaga agar tanaman tebu tidak terbakar. Jika sampai terbakar dan tanaman tidak segera ditebang, rendemen di dalam batang tebu akan hilang.
7. Waktu penebangan
Usahakan agar tanaman tebu bisa ditebang saat rendemen pada posisi optimal. Umumnya disekitar bulan Agustus, tetapi kadang-kadang juga tergantung dari jenis tebu.
8. Saat penebangan
Pada saat tebu ditebang, harus diusahakan agar tebu bersih dari pucukan dan daduk. Pucukan dan daduk dapat menurunkan rendemen. 9. Mesin giling
Banyak dan sedikitnya mesin giling juga mempengaruhi perolehan rendemen. Mesin giling yang banyak akan mendapat rendemen tebu yang lebih banyak pula.
B. KAPASITAS GILING
Kapasitas adalah hasil produksi (output) maksimal dari sistem pada periode tertentu. Kapasitas biasanya dinyatakan dalam jumlah per satuan waktu. Ukuran kapasitasnya merupakan jumlah maksimal unit yang dapat diproduksi pada jangka waktu tertentu (Render dan Jay, 1997). Menurut Gaspersz (2000), kapasitas adalah tingkat output maksimum dari suatu proses. Karakteristik ini diukur dalam unit output per unit waktu.
Kapasitas giling adalah jumlah tebu yang dapat digiling dalam satuan waktu, umumnya menggunakan satuan ton tebu per jam (t.c.h). Di Amerika sering menggunakan satuan ton tebu per hari. Menurut Hugot dan Jenkins (1972), faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kapasitas giling :
1. Kandungan Serat Tebu
Ketahanan tebu terhadap roda penggiling kurang lebih memiliki ukuran yang proportional terhadap serat. Ketika masuk kedalam gerinda kembar (tandem) yang terakhir, kuantitas bahan yang diterima hampir memiliki ukuran yang proportional terhadap serat. Ketebalan lapisan
ampas tebu yang dipadatkan akan keluar di bagian roda penerimaan, akan memiliki proportional dengan serat.
2. Ukuran dan Kecepatan Roda Penggiling
Dengan menaikkan kecepatan roda penggiling akan meningkatkan pula luas permukaan yang berhubungan dengan tebu per satuan waktu sehingga akan dapat meningkatkan pula jumlah tebu yang digiling. Luas permukaan ini dipengaruhi oleh panjang dan diameter roda penggiling. 3. Jumlah Roda Penggiling
Faktor yang kurang berpengaruh nyata, tapi penting adalah jumlah roda penggiling. Awalnya mungkin tidak terlihat hubungan yang logis antara jumlah roda dengan kapasitas mesin. Pada tandem yang pendek, ketebalan lapisan ampas tebu harus dikurangi untuk mendapatkan hasil ekstraksi yang optimal. Sementara itu, pada tandem yang panjang, ketebalan lapisan ampas tebu harus ditingkatkan untuk hasil ekstraksi yang optimal.
4. Pisau dan Alat-alat Persiapan
Pisau dan parutan dapat meningkatkan kapasitas. Selain pisau dan parutan, sejumlah alat-alat lain juga ikut berperan penting terhadap ampas tebu.
5. Air Imbibisi
Semakin banyak jumlah air imbibisi yang digunakan, semakin sulit memasukkan bahan kedalam mesin penggiling. Terutama ketika air panas digunakan sebagai imbibisi. Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian terhadap penggunaan air imbibisi.
6. Alur
Bentuk permukaan dan kedalaman alur pada roda logam memiliki dampak pada kekuatan cengkeraman antar penggiling. Alur ekstraksi tebu berperan penting terutama pada kecepatan roda.
7. Tekanan Hidraulik
Mesin penggiling akan dapat memproses tebu lebih cepat jika menerima beban yang lebih ringan. Bila mesin penggiling menerima beban yang berat maka tebu diproses agak lambat.
8. Penggunaan Alat Pengumpan
Roda pengumpan, alat penekan bagian atas dan bawah dapat meningkatkan hasil ekstraksi.
9. Disain
Mesin penggiling yang baru dapat meningkatkan kapasitas. Kerusakan alur terhadap roda penggiling, terutama pada sistem hidraulik dapat merugikan operasi yang baik terhadap giling.
10. Pekerja
Kualitas sumberdaya manusia ikut bertanggung jawab dalam penyesuaian dan pemeliharaan mesin penggiling. Kualitas sumber daya manusia merupakan faktor yang tak terduga tetapi merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan.
C. PRODUKSI GULA 1. Produksi
Produksi yaitu proses kombinasi dan koordinasi material-material dan kekuatan-kekuatan (input, faktor, sumber daya atau jasa-jasa produksi) dalam pembuatan suatu barang atau jasa (output atau produk) (Beattie dan Taylor, 1985). Menurut Gaspersz (2000), produksi dapat dikatakan sebagai suatu aktivitas dalam perusahaan industri berupa penciptaan nilai tambah dari input menjadi output secara efektif dan efisien sehingga produk sebagai output dari proses penciptaan nilai tambah itu dapat dijual dengan harga yang kompetitif di pasar global.
Proses produksi dapat diartikan sebagai cara, metode dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan-bahan dan dana) yang ada (Assauri, 1980).
Menurut Mubyarto (1994), fungsi produksi adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara hasil produksi fisik (output) dengan faktor-faktor produksi (input). Dalam bentuk matematika sederhana, fungsi produksi ini dituliskan sebagai berikut :
Y = f (x1, x2 ….. xn)
dimana : Y = hasil produksi fisik x1, x2 ….. xn = faktor-faktor produksi
Untuk melaksanakan fungsi-fungsi produksi dengan baik, maka diperlukan rangkaian kegiatan yang akan membentuk suatu sistem produksi. Sistem produksi merupakan kumpulan dari sub sistem-sub sistem yang saling berinteraksi dengan tujuan mentransformasi input produksi menjadi output produksi (Nasution, 2003).
Sistem produksi merupakan sistem integral yang mempunyai komponen struktural dan fungsional. Di dalam sistem produksi modern terjadi suatu proses transformasi nilai tambah yang mengubah input menjadi output yang dapat dijual dengan harga kompetitif di pasar. Komponen atau elemen struktural yang membentuk sistem produksi terdiri dari bahan, mesin dan peralatan, tenaga kerja, modal, energi, informasi, tanah, dan lain-lain, sedangkan komponen atau elemen fungsional terdiri dari supervisi, perencanaan, pengendalian, koordinasi dan kepemimpinan (Gaspersz, 2000).
Perencanaan produksi merupakan tindakan antisipasi dimasa mendatang sesuai dengan periode waktu yang direncanakan. Tujuan dari perencanaan produksi adalah untuk menentukan arah awal dari tindakan-tindakan yang harus dilakukan di masa mendatang, apa yang harus dilakukan, berapa banyak melakukannya dan kapan harus melakukan (Nasution, 2003).
Pengendalian produksi adalah tindakan yang menjamin bahwa semua kegiatan yang dilaksanakan dalam perencanaan telah dilakukan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Rencana produksi yang telah disusun tidak akan dapat dilaksanakan tanpa adanya pengendalian terhadap pelaksanaan rencana tersebut. Hal ini disebabkan karena rencana tersebut dibuat berdasarkan perkiraan yang bisa saja melesat (Nasution, 2003).
2. Produksi Gula
Perkembangan produksi gula Indonesia tidak terlepas dari perkembangan luas areal, produksi tebu dan rendemen (Purwanto, 2006). Perkembangan luas areal, produksi tebu dan rendemen dalam negeri disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Luas Areal, Produksi Tebu, Rendemen dan Produksi Gula Dalam Negeri Selama Periode Tahun 1996-2005
Tahun Luas Areal (Ha) Produksi Tebu (Ton) Rendemen (%) Produksi Gula (Ton) 1996 403 266.30 28 603.53 7.32 2 094.20 1997 385 669.00 27 953.84 7.83 2 189.97 1998 378 293.10 27 177.77 5.49 1 491.55 1999 340 800.10 21 401.83 6.96 1 488.60 2000 340 660.20 24 031.36 7.04 1 690.67 2001 344 441.30 25 186.25 6.85 1 725.47 2002 350 722.90 25 533.43 6.88 1 755.43 2003 335 724.60 22 631.11 7.21 1 631.92 2004 344 793.40 26 743.18 7.67 2 051.64 2005 381 785.80 31 139.27 7.20 2 241.74
Sumber : Dewan Gula Indonesia dalam Purwanto (2006)
Dari Tabel 2, dapat dilihat bahwa luas areal terbesar dicapai pada tahun 1996 yaitu 403266.3 Ha dan terendah pada tahun 2003 yaitu 335724.6 Ha. Produksi tebu terbanyak dicapai pada tahun 2005 yaitu sebanyak 31139.27 ton, sedangkan rendemen terbesar dicapai pada tahun 1997 yaitu sebesar 7.83 % dan terendah sebesar 5.49 % pada tahun 1998. Produksi gula terbanyak dicapai pada tahun 2005 sebesar 2241.74 ton. Tahun 1999, produksi tebu dan produksi gula merupakan produksi terendah bila dibandingkan tahun-tahun yang lainnya. Produksi tebu yang dicapai hanya sebanyak 21401.83 ton, sedangkan produksi gula hanya sebesar 1488.60 ton.
D. GULA PASIR
Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Dengan luas areal sekitar 350 ribu ha pada periode 2000-2005, industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai sekitar 1.3 juta orang. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2007).
Gula adalah salah satu bahan pangan yang sangat penting, termasuk sembilan bahan pokok yang pengadaan dan pengaturan harganya langsung ditangani pemerintah (Mubyarto, 1984). Gula merupakan senyawa organik yang penting sebagai bahan makanan karena gula mudah dicerna dalam tubuh sebagai sumber kalori. Disamping sebagai bahan makanan, gula juga dipergunakan antara lain sebagai bahan pengawet makanan, bahan baku alkohol, pencampur obat-obatan dan mentega. Pada umumnya, gula mempunyai rasa manis, tidak berwarna, tidak berbau, dapat mengkristal dan larut dalam air (Goutara dan Wijandi, 1985).
Menurut Ikatan Ahli Gula Indonesia (2005), gula di Indonesia dikategorikan sebagai salah satu komoditas yang sensitif. Status gula yang penting ini terutama disebabkan oleh dua faktor berikut : (1) gula merupakan kebutuhan pokok penduduk. Fakta ini membawa konsekuensi kewajiban pemerintah untuk menjamin ketersediaan gula di pasar domestik pada tingkat harga yang reasonable bagi seluruh kelompok pendapatan masyarakat, (2) industri gula merupakan sumber penghidupan lebih dari satu juta petani di Jawa dan menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari setengah juta buruh tani di pedesaan terutama di Jawa dan Sumatera. Fakta ini membawa konsekuensi bagi pemerintah untuk menjaga keberlangsungannya serta meningkatkan manfaatnya.
Gula pasir mempunyai kedudukan yang penting dalam kehidupan masyarakat sehari-hari karena merupakan sumber pemanis yang sekaligus juga merupakan sumber kalori. Gula pasir tidak seluruhnya dikonsumsikan secara langsung oleh rumah tangga, melainkan dikonsumsi pula secara tidak
langsung melalui makanan dan minuman hasil industri (Winarno dan Birowo, 1988). Syarat Mutu Gula Pasir (SNI 01-3140-1992) dapat dilihat pada Tabel 3 sedangkan Syarat Gula Kristal Putih dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3. Syarat Mutu Gula Pasir (SNI 01-3140-1992)
Persyaratan
No Kriteria Uji Satuan
GKP (SHS) 1. Keadaan
1.1. Bau
1.2. Rasa
2. Warna (nilai remisi yang direduksi) % b/b Min 53
3. Besar jenis butir Mm 0.8-1.2
4. Air % b/b Maks 0.1
5. Sakarosa % b/b Min 99.3
6. Gula pereduksi % b/b Maks 0.1
7. Abu % b/b Maks 0.1
8. Bahan asing tidak larut Derajat Maks 5 9. Bahan tambahan makanan
- Belerang dioksida (SO2) mg / kg Maks 30 10. Cemaran Logam :
10.1. Timbal (Pb) mg / kg Maks 2
10.2. Tembaga (Cu) mg / kg Maks 2
10.3. Raksa (Hg) mg / kg Maks 0.03
10.4. Seng (Zn) mg / kg Maks 40
10.5. Timah (Sn) mg / kg Maks 40
11. Arsen (As) mg / kg Maks 1
Tabel 4. Syarat Mutu Gula Kristal Putih (SNI 01-3140-2001) Persyaratan No Kriteria Uji Satuan
GKP 1 GKP 2 GKP 3 1. Warna
1.1 Warna Kristal % Min. 90 Min. 65 Min. 60 1.2 Warna larutan
(ICUMSA)
lu Maks. 250 Maks. 350 Maks. 450 2. Besar jenis butir Mm 0.8-1.2 0.8-1.2 0.8-1.2 3. Susut pengeringan % b/b Maks. 0.1 Maks. 0.15 Maks. 0.2 4. Polarisasi
(oZ, 20oC)
“Z” Min. 99.6 Min. 99.5 Min. 99.4 5. Gula pereduksi % b/b Maks. 0.1 Maks. 0.15 Maks. 0.2 6. Abu % b/b Maks. 0.1 Maks. 0.15 Maks. 0.2 7. Bahan asing
tidak larut Derajat Maks. 5 Maks. 5 Maks. 5 Bahan tambahan makanan :
8.
Belerang dioksida (SO2)
mg / kg Maks. 30 Maks. 30 Maks. 30 9. Cemaran logam :
9.1. Timbal (Pb) mg / kg Maks. 2 Maks. 2 Maks. 2 9.2. Tembaga (Cu) mg / kg Maks. 2 Maks. 2 Maks. 2 10 Arsen (As) mg / kg Maks. 1 Maks. 1 Maks. 1
Menurut Purwanto (2006), seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk serta semakin berkembangnya industri pengguna gula pasir, mengakibatkan permintaan gula pasir di dalam negeri mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Perkembangan Jumlah Penduduk, Kebutuhan Industri dan Konsumsi Gula Tahun 1995-2005
Tahun Jumlah Penduduk (ribu jiwa)
Pemakaian Gula untuk Industri (ribu ton)
Konsumsi (ribu ton) 1996 198 343 885.71 3 067.48 1997 201 390 1 111.37 3 366.94 1998 204 423 576.51 2 724.95 1999 207 460 586.36 2 889.17 2000 212 698 601.79 2 989.17 2001 213 348 696.32 3 085.82 2002 218 480 731.72 3 190.54 2003 221 777 795.66 3 300.81 2004 225 920 839.76 3 388.81 2005 229 309 916.45 3 439.64
Sumber : Dewan Gula Indonesia dalam Purwanto (2006)
Berdasarkan Tabel 5, terlihat bahwa konsumsi gula di dalam negeri cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan pemakaian gula untuk industri.
Pada awal perkembangan industri gula di Indonesia, tebu untuk pabrik gula ditanam petani atas perintah tanam paksa oleh pemerintah Hindia Belanda. Jadi pemerintahlah yang merupakan pemasok utama dan tunggal dari tebu yang dibutuhkan pabrik (Moerdokusumo, 1993).
Menurut Bakrie (2003) dalam Suparlan (2007), industri gula merupakan industri yang strategis bagi pemerintah baik secara sosial, ekonomi maupun politik. Perhatian pemerintah terhadap industri gula dari waktu ke waktu relatif besar sehingga industri ini sering disebut sebagai the most regulated
commodity.
Industri gula pasir dewasa ini mengandung berbagai inefisiensi yang terjadi pada setiap sub sistem dalam sistem pergulaan nasional. Dengan demikian upaya memperbaiki efisiensi industri gula pasir tidak dapat dilakukan secara partial hanya dengan memperbaiki salah satu sub sistem yang ada, akan tetapi efisiensi tersebut dapat dicapai bila seluruh sub sistem yang ada secara keseluruhan juga efisien. Kenyataan adanya inefisiensi tidak dapat dilepaskan dari karakteristik industri gula pasir yang ada saat ini yang dicirikan oleh produktivitas yang rendah di tingkat usaha tani tebu dan pabrik (Amang, 1993).
Ketidakmampuan industri gula untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah pertumbuhan produksi gula yang lebih rendah dari kebutuhan (konsumsi) gula dalam negeri, kebijakan pemerintah kurang mendorong tumbuhnya industri gula, serta masalah perdagangan internasional (Tim Pengkaji Manajemen Industri Gula, 2004).
III. METODOLOGI PENELITIAN
A. KERANGKA PEMIKIRAN
Tanaman tebu merupakan bahan baku utama bagi industri gula. Tanaman ini sudah dikenal dan dibudidayakan secara luas sejak tiga ratus tahun yang lalu (Tim Pengkaji Manajemen Industri Gula, 2004). Daur kehidupan tanaman tebu dimulai dari fase perkecambahan, fase pertunasan, fase pemanjangan batang, fase kemasakan dan diakhiri dengan fase kematian. Fase perkecambahan dimulai dengan pembentukan taji pendek dan akar stek pada umur 1 minggu dan diakhiri pada fase kecambah pada umur 5 minggu. Fase pertunasan mulai dari umur 5 minggu sampai umur 3,5 bulan lalu dilanjutkan dengan fase pemanjangan batang, yakni pada umur 3,5 bulan sampai 9 bulan. Fase kemasakan merupakan fase yang terjadi setelah pertumbuhan vegetatif menurun dan sebelum batang tebu mati. Pada fase ini, gula di dalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal dan setelah itu rendemennya berangsur-angsur menurun. Tahap pemasakan inilah yang disebut dengan tahap penimbunan rendemen gula. Rendemen pada masa optimal, berangsur-angsur turun sampai titik akhir pada fase kematian tanaman. Proses terbentuknya rendemen gula di dalam batang tebu berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat kemasakannya tergantung pada umur ruas. Ruas dibawah (lebih tua) lebih banyak tingkat kandungan gulanya dibandingkan dengan ruas diatasnya (lebih muda), demikian seterusnya sampai ruas bagian pucuk. Oleh karena itu, tebu dikatakan sudah mencapai optimal apabila kadar gula di sepanjang batang telah seragam, kecuali beberapa ruas di bagian pucuk (Supriyadi, 1992)
Tebu yang telah ditanam apabila sudah berumur tua dan sudah masak harus segera ditebang. Penebangan tebu di lahan dilakukan secara manual yaitu dengan menggunakan tenaga manusia. Setelah tebu ditebang, tebu tersebut diangkut dengan menggunakan truk kemudian dibawa ke PT. PG. Candi Baru. Menurut Hafsah (2002), untuk mendapatkan kualitas gula yang baik maka setelah proses penebangan tebu selesai dilakukan, tebu harus segera digiling dan diproses menjadi gula karena jika tidak segera diolah
kadar air gula dalam batang tebu akan semakin menyusut sehingga gula yang dihasilkan akan berkurang. Pengangkutan hasil tebu dari kebun ke pabrik gula harus dilakukan seefisien mungkin.
Analisis kapasitas giling berkaitan erat dengan tebu yang digunakan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis terhadap mutu tebu yang meliputi analisis terhadap Trash dan brix nira perahan pertama (NPP) dalam satuan persen (%). Analisis kapasitas giling juga berhubungan dengan proses penggilingan. Dari proses penggilingan, kita dapat mengetahui rata-rata kapasitas giling PT. PG. Candi Baru sehingga diketahui apakah PT. PG. Candi Baru memenuhi target yang telah direncanakan yaitu sebesar 2000 ton cane
day (TCD) yang awalnya sebesar 1800 ton cane day (TCD) atau tidak dan
mengetahui pula faktor-faktor apa yang berpengaruh terhadap kapasitas giling serta kendala-kendala apa yang dihadapi di stasiun gilingan terutama terhadap mesin dan alat yang digunakan.
Selain itu, dilakukan juga analisis % pol ampas dan analisis keterkaitan antara kapasitas giling terhadap produk yang dihasilkan yaitu tetes dan gula SHS. Untuk mengetahui hubungan kapasitas giling terhadap produk yang dihasilkan maka digunakan analisis regresi linear berganda.
B. TATA LAKSANA 1. Observasi Lapang
Langkah ini merupakan suatu pengenalan awal dari perusahaan yang menjadi tempat penelitian. Observasi lapang ini dilakukan di PT. PG. Candi Baru Sidoarjo, Jawa Timur. Dengan observasi lapang maka dapat diketahui beberapa masalah yang terjadi di perusahaan sesuai dengan topik penelitian yang diteliti.
3. Perumusan Masalah
Dari beberapa masalah yang timbul di perusahaan, dapat diidentifikasi suatu masalah pokok yang menjadi pertimbangan untuk perumusan masalah penelitian. Dalam penelitian ini, perumusan masalahnya adalah hasil kapasitas giling PT. PG. Candi Baru yang tidak optimal.
4. Identifikasi Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini, variabel yang diidentifikasi adalah kapasitas giling inclusive dan kapasitas giling exclusive. Selain kapasitas giling, mengidentifikasi jumlah jam berhenti giling, mutu tebu, % pol ampas, tetes dan gula SHS.
5. Pengambilan Data
Pengambilan data dilakukan di PT. PG. Candi Baru dalam masa giling yaitu bulan Mei sampai dengan bulan November. Data diperoleh dari wawancara langsung dengan asisten chemiker, para pekerja pabrik dan kebun, pengamatan secara langsung dan data sekunder.
6. Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan dengan dua cara. Dua cara tersebut adalah cara perhitungan manual dan dengan bantuan software yaitu program SPSS 13.
7. Analisis Data
Hasil dari pengolahan data perlu dianalisis untuk mengetahui solusi masalah yang telah diperoleh. Analisis yang dilakukan adalah analisis kapasitas giling, analisis mutu tebu, analisis % pol ampas dan analisis regresi linear berganda.
8. Pembahasan
Data yang telah diolah dan dianalisis dilakukan pembahasan. Pembahasan meliputi pencapaian tujuan penelitian dan hasil yang telah diperoleh.
9. Kesimpulan dan Saran
Dari hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, ditarik beberapa kesimpulan penelitian. Setelah itu, disampaikan beberapa saran yang berguna untuk perusahaan agar dilakukan perbaikan seperlunya terhadap hal-hal yang berkaitan dengan topik penelitian.
Uraian tahap-tahap penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4. Tahapan Penelitian Identifikasi Variabel Penelitian
Observasi Lapang Perumusan Masalah Pengumpulan Data Mulai Sesuai Pengolahan Data Analisis Data Tidak Ya
Kesimpulan dan Saran
Selesai Pembahasan
C. METODE PENELITIAN
1. Perhitungan Kapasitas Giling
Kapasitas giling inclusive sama dengan jumlah tebu yang digiling. Berat tebu yang digiling dapat dihitung seperti berikut :
Sisa tebu hari kemarin ... ton Tebu yang masuk hari ini ... ton Jumlah ... ton
Sisa tebu hari ini ... ton Berat tebu yang digiling ... ton
Perhitungan kapasitas giling exclusive tiap harinya menggunakan rumus sebagai berikut :
Kapasitas giling exclusive = tebu digiling x ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜ ⎝ ⎛ giling berhenti jam -jam 24 jam 24
2. Analisis Mutu Tebu a. Trash
Yang dimaksud dengan trash adalah kotoran tebu yang terdiri dari pucukan, sogolan dan daduk. Pucukan adalah ujung tebu yang ikut daunnya, umumnya berwarna hijau, sogolan adalah anakan tebu yang panjangnya kurang dari 1 ½ m dan daduk adalah daun tebu yang kering. Berat Kotor : Pucuk ... ton Sogolan ... ton Daduk ... ton Jumlah ... ton Berat Bersih ... ton
+ –
+
Setelah berat pucukan, sogolan dan daduk ditimbang masing-masing maka untuk mengetahui berapa % trash yang didapat, dihitung dari rumus sebagai berikut :
% Trash = x 100% Kotor
Berat Bersih Berat
b. Brix Nira Perahan Pertama (NPP)
Nira dimasukkan kedalam tabung sampai jenuh dan didiamkan sebentar hingga kotoran mengendap. Brix Weighter dimasukkan dalam tabung. Skala diamati setelah keadaan stabil (brix belum terkoreksi).
Brix Weighter diangkat dan suhu nira dibaca. Dari skala Brix belum
terkoreksi dan suhu nira didapat, dicari serta dikoreksi dari tabel brix
3. Analisis % Pol Ampas
Ampas ditimbang sebanyak satu kg dan dimasukkan dalam alat ekstraksi ampas dan diratakan kemudian ditambahkan sepuluh liter air untuk merendam ampas. Setelah itu dimasak selama satu jam. Selesai dimasak, didinginkan sebentar. Sebanyak seratus ml dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml kemudian ditambahkan Al2(SO4)3 dan aquadest sampai tanda baca. Filtratnya disaring dan dimasukkan dalam tabung polarisasi sehingga didapatkan skala polarisasi. Dari tabel polarisasi, didapatkan nilai polarisasi.
4. Analisis Regresi
Regresi merupakan suatu alat ukur yang juga digunakan untuk mengukur ada atau tidaknya korelasi antar variabel (Hasan, 2003). Analisis regresi berguna untuk memprediksi seberapa jauh pengaruh satu atau beberapa variabel bebas terhadap variabel bergantung (Pratisto, 2004). Persamaan regresi adalah persamaan matematik yang memungkinkan kita meramalkan nilai-nilai suatu peubah tak bebas dari nilai-nilai satu atau lebih peubah bebas (Walpole, 1995).
Regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linear berganda. Menurut Pratisto (2004), regresi linear berganda adalah hubungan antara satu variabel dependent dengan beberapa variabel
independent dan mempunyai bentuk umum :
Y = a + b1X1 + b2X2 + ... + bnXn dimana :
Y = variabel bergantung (dependent variable) X = variabel bebas (independent variable) a = sebagai konstanta regresi
b = kemiringan garis regresi
Variabel terikat (dependent variable) adalah variabel yang nilai-nilainya bergantung pada variabel lainnya, biasanya disimbolkan dengan Y sedangkan variabel bebas (independent variable) adalah variabel yang nilai-nilainya tidak bergantung pada variabel lainnya, biasanya disimbolkan dengan X (Hasan, 2003).
Menurut Walpole (1995), nilai dugaan a, b1 dan b2 dapat diperoleh dengan memecahkan persamaan linear simultan sebagai berikut :
n a + b1
∑
= n 1 n 1 X + b2∑
= n 1 n 2 X =∑
= n 1 n Y a∑
= n 1 n 1 X + b1∑
= n 1 n 2 1 X + b2∑
= n 1 n 2 1X X =∑
= n 1 n 1Y X a∑
= n 1 n 2 X + b1∑
= n 1 n 2 1X X + b2∑
= n 1 n 2 2 X =∑
= n 1 n 2Y Xdan a dapat diperoleh dari persamaan a = y – b1 X – b1 2 X 2
Uji yang dilakukan adalah uji F dan uji t. Uji F berguna untuk menentukan apakah model persamaan yang digunakan sudah tepat atau tidak. Jika Fhitung > Ftabel maka dapat disimpulkan bahwa model persamaan sudah tepat dan dapat digunakan. Nilai α = 0.05. Uji t berguna untuk menguji apakah variabel independent (X) berpengaruh secara nyata atau
tidak. Uji t yang dilakukan adalah uji dua arah, maka yang dibaca adalah t1/2 (0.05) atau t0.025
a. Hipotesis :
H0 = variabel independent (X) tidak berpengaruh nyata H1 = variabel independent (X) berpengaruh nyata b. Pengambilan Keputusan :
Jika –ttabel < thitung < ttabel maka H0 diterima dan jika thitung < –ttabel atau thitung > ttabel maka H0 ditolak.
IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. SEJARAH PERUSAHAAN
PT. PG. Candi Baru Sidoarjo berlokasi di desa Bligo, kecamatan Candi, kabupaten Sidoarjo yang didirikan pada tahun 1832 oleh keluarga The Goen Tjing dengan nama NV. Suiker Fabriek Tjandi. Kepemilikannya kemudian beralih pada keluarga Kapten Tjoa yang disahkan oleh Badan Hukum Panitia Pengadilan Negeri Surabaya No. 12 tanggal 31 Oktober 1911.
Tahun 1941-1950, pabrik sempat ditutup dan dioperasionalkan kembali oleh orang Belanda pada tahun 1951. Pada tanggal 8 Februari 1962, pabrik dinasionalisasi dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Kemudian disahkan dengan surat keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia No. Y. A. 5 / 122 / 1 tanggal 14 Oktober 1962.
Tahun 1972 seluruh saham PT. Pabrik Gula Tjandi dibeli oleh H. Wirantono Bakrie. Sejak tahun 1991, manajemen PT. Pabrik Gula Tjandi ditangani PT. Rajawali Nusantara Indonesia (PT. RNI). Kemudian tahun 1992, PT. Rajawali Nusantara Indonesia memutuskan untuk mengambil alih saham sebesar 55 % dari H. Wirantono Bakrie dan mulai masa giling tahun 1993 namanya berubah menjadi PT. PG. Candi Baru.
B. LOKASI PABRIK
PT. PG. Candi Baru terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Sidoarjo. Berada di tepi jalan raya Surabaya – Malang yang jaraknya + 30 km dari Surabaya. Batas-batas lokasi pabrik adalah sebagai berikut :
Sebelah Barat : Jalan Raya Surabaya – Malang Sebelah Timur : Perumahan Penduduk
Sebelah Utara : Sungai Kedung Uling dan Perumahan PT. PG. Candi Baru Sebelah Selatan : Emplasemen penimbunan lori tebu
Wilayah operasional perkebunan tebu PT. PG. Candi Baru Sidoarjo mencakup lima (5) kabupaten yaitu : kabupaten Sidoarjo, kabupaten Pasuruan, kabupaten Mojokerto, kabupaten Lumajang dan kabupaten Malang.
C. STRUKTUR ORGANISASI
PT. PG. Candi Baru adalah suatu perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas yang dipegang oleh seorang General Manager. Dalam melaksanakan tugasnya, General Manager dibantu oleh beberapa kepala bagian yaitu : Kepala Bagian Tata Usaha Keuangan, Kepala Bagian Tanaman, Kepala Bagian Instalasi dan Kepala Bagian Pabrikasi.
Tanggung jawab masing-masing bagian yang ada di PT. PG. Candi Baru Sidoarjo adalah sebagai berikut :
1. General Manager
Mengelola perusahaan secara keseluruhan. Menjalankan perusahaan sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan. Bertanggung jawab kepada Direksi.
2. Kepala Bagian Tata Usaha Keuangan
Melaksanakan ketentuan General Manager dibidang personalia dan umum, keuangan dan anggaran serta akuntansi.
a. Kepala Sub Bagian Personalia dan Umum
Membantu kepala bagian tata keuangan. Melaksanakan kebijaksanaan Direksi dalam bidang sumber daya manusia dan umum. (1) Bagian Sekretariat
Membantu General Manager dalam hal yang berhubungan dengan sekretariat. Selain itu membantu dalam hal-hal administrasi perusahaan.
(2) Bagian Poliklinik
Membantu kepala tata usaha keuangan untuk melaksanakan kebijaksanaan Direksi dalam bidang kesehatan. Memberikan pelayanan medis karyawan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan serta melaksanakan administrasi pemakaian obat-obatan dan administrasi mengenai penderita.
(3) Bagian Keamanan
Melakukan pengamanan perusahaan dan harta perusahaan. Membina kerjasama dengan instansi lain yang berkaitan dengan bidang keamanan.
b. Kepala Sub Bagian Keuangan dan Anggaran
Melaksanakan kebijaksanaan dan ketentuan-ketentuan dalam bidang keuangan seperti pemasukan dan pengeluaran dana perusahaan. Membantu dalam bidang anggaran serta penyimpanan barang.
(1) Bagian Gudang Material
Membantu dalam melaksanakan penerimaan dan pengeluaran barang perusahaan. Mengawasi penyimpanan barang-barang material keperluan perusahaan.
(2) Bagian Gudang Gula
Melayani pengeluaran dan penjagaan kondisi gula, tetes dan produk lainnya yang disimpan di gudang. Membantu dalam hal mengawasi penyimpanan gudang.
(3) Bagian Kasir
Membantu dalam melaksanakan penerimaan dan pembayaran sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Mengambil dan menyetor uang dari/ke bank dan melaksanakan administrasi penerimaan dan pembayaran melalui kasir.
c. Kepala Sub Bagian Akuntansi
Melaksanakan pembukuan perusahaan sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Membantu kepala bagian TUK untuk melaksanakan kebijaksanaan Direksi dalam bidang akuntansi.
(1) Bagian A. T. R
Membantu dalam melaksanakan pencatatan tebu rakyat dan rendemen. Melakukan pencatatan terhadap hak-hak dan kewajiban petani tebu.
(2) Bagian Timbangan
Membantu dalam melaksanakan penimbangan tebu yang akan digiling, hasil produksi dan barang lain yang dikeluarkan dari perusahaan, barang pemasok yang akan diterima oleh perusahaan. Melaksanakan administrasi timbangan.
3. Kepala Bagian Tanaman
Membantu General Manager yang berkaitan dalam bidang tanaman. Mengawasi dalam hal penyediaan bahan baku tebu.
a. Kepala Sub Bagian Bina Sarana Tani
Membina petani pabrik dan petani murni. Memberikan sarana pelayanan kebutuhan bibit dan pupuk serta distribusinya kepada petani. (1) Bagian Mekanisasi
Memberikan pelayanan kebutuhan kepada petani pabrik gula dan petani murni. Mengawasi pelaksanaan pemberian bibit dan pupuk kepada petani.
(2) Bagian Bibit dan Percobaan
Membuat perencanaan komposisi dan kebutuhan bibit secara keseluruhan. Membantu dalam melengkapi penyediaan sarana yang diperlukan seperti bibit, pupuk, herbisida, pestisida, rodentisida kepada petani.
b. Kepala Sub Bagian Tebang dan Angkut
Melaksanakan tebang dan angkut yang sesuai dengan aturan dan standart manajemen serta baku teknis perusahaan pabrik gula. Mengawasi dalam melaksanakan pengangkutan tebu. Memelihara
railban dan peralatannya.
c. Kepala Sub Bagian Sinder Kepala Kebun (SKK)
Membantu dalam hal penyediaan bahan baku. Melaksanakan pembudidayaan tebu.
(1) Bagian Sinder Kebun Wilayah (SKW)
Memberikan penyuluhan dan bimbingan teknis kepada petani. Mencari bahan baku di wilayah kecamatan yang dikuasai.
4. Kepala Bagian Instalasi
Membantu General Manager dalam hal yang berkaitan dengan instalasi pabrik. Melakukan pemeliharaan dan reparasi mesin serta instalasi pabrik, lori dan loko, kendaraan, traktor, pompa, bangunan. Bertanggung jawab dalam hal penyediaan listrik.
a. Kepala Sub Bagian Ketel
Menyiapkan instalasi ketelan agar siap untuk penggilingan. Mengendalikan ketelan agar berjalan dengan lancar.
b. Kepala Sub Bagian Gilingan
Menyiapkan stasiun gilingan. Mengendalikan stasiun gilingan agar berjalan lancar.
c. Kepala Sub Bagian Remise
Memelihara alat dan mesin yang digunakan dalam pabrik. Melakukan perbaikan terhadap alat dan mesin yang rusak dan macet. d. Kepala Sub Bagian Listrik
Menyiapkan instalasi listrik yang akan digunakan dalam pabrik. e. Kepala Sub Bagian Bangunan
Memelihara bangunan pabrik dan bangunan lainnya. Membantu dalam hal perbaikan bangunan.
5. Kepala Bagian Pabrikasi
Membantu General Manager dalam hal yang berkaitan dengan pabrikasi. Melaksanakan tugas-tugas pabrikasi sesuai kebijaksanaan perusahaan yang telah ditetapkan.
a. Kepala Sub Bagian Pabrik Tengah (meliputi Pemurnian, Penguapan dan Kristalisasi) dan Water Treatment Plant (WTP).
Mengawasi stasiun pemurnian, stasiun penguapan dan stasiun kristalisasi. Serta WTP secara keseluruhan.
b. Kepala Sub Bagian Pabrik Belakang (meliputi Puteran dan Penyelesaian).
Mengawasi stasiun puteran dan stasiun penyelesaian secara keseluruhan. Bertanggung jawab dalam hal pengolahan dan pembungkusan gula.
c. Kepala Sub Bagian Laboratorium dan Limbah
Melakukan analisa laboratorium. Mengawasi pengolahan limbah pabrik secara keseluruhan.
D. KETENAGAKERJAAN
Karyawan yang bekerja di PT. PG. Candi Baru, umumnya merupakan penduduk sekitar pabrik. Karyawan dibedakan berdasarkan 2 jenis yaitu karyawan tidak tetap dan karyawan tetap. Karyawan tidak tetap adalah karyawan yang mempunyai hubungan kerja dengan perusahaan selama masa giling, sedangkan karyawan tetap adalah karyawan yang bekerja baik dalam masa giling maupun diluar masa giling untuk jangka waktu yang cukup lama.
Pada masa giling, pabrik beroperasi selama 24 jam sehingga waktu kerja untuk karyawan tidak tetap, dibagi dalam 3 shift, yaitu :
1. Shift Pagi : mulai pukul 06.00 – 14.00 WIB 2. Shift Siang : mulai pukul 14.00 – 22.00 WIB 3. Shift Malam : mulai pukul 22.00 – 06.00 WIB Karyawan tetap bekerja mulai pukul 06.30 – 15.00 WIB.
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. PROSES PRODUKSI
Proses pembuatan gula di PT. PG. Candi Baru dimulai dari stasiun gilingan dan berakhir di stasiun penyelesaian. Hasil yang diproduksi adalah gula jenis Superior Hooft Suiker (SHS) IA. Diagram alir kualitatif proses pembuatan gula dapat dilihat pada Gambar 5.
Gambar 5. Diagram Alir Kualitatif Proses Pembuatan Gula (Sumber : PT. PG. Candi Baru)
Stasiun Gilingan
Stasiun Pemurnian Blotong Ampas Nira Mentah
Stasiun Penguapan Kondensat Nira Jernih Stasiun Masakan Nira Kental Stasiun Puteran Stasiun Penyelesaian Masakan Gula SHS Tetes Air Imbibisi SO2 Flokulan Ca(OH)2 Kondensat H3PO4 Tebu Masuk 32
Perhitungan Neraca Massa :
a. Masa giling PT. PG. Candi Baru dimulai dari tgl 19 Mei – 19 November. Jumlah hari operasi giling = 185 hari.
b. Jumlah tebu yang masuk =
hari 185
ton 339794.3
= 1836.73 ton/hari
c. Air imbibisi yang digunakan = 25% dari jumlah tebu yang masuk
= x 1836.73
100 25
ton/hari = 459.18 ton/hari
d. Ampas yang dikeluarkan = 35% dari jumlah tebu masuk
= x 1836.73
100 35
ton/hari = 642.86 ton/hari
e. Nira mentah yg dihasilkan = jumlah tebu masuk + air imbibisi – ampas
= 1836.73 ton/hari + 459.18 ton/hari – 642.86 ton/hari
= 1653.05 ton/hari
f. Berat H3PO4 = 0.01 ton per 100 ton tebu x jumlah tebu masuk
= x 1836.73 ton 100 ton 0.01 ton/hari = 0.19 ton/hari
g. Berat CaO = 0.12 ton per 100 ton tebu x jumlah tebu masuk
= x 1836.73 ton 100 ton 0.12 ton/hari = 2.204 ton = 2204 kg/hari 33
h. Reaksi : CaO + H2O Æ Ca(OH)2 CaO = mol kg kg 56 kg/hari 2204 = 39.36 kg mol/hari
mol Ca(OH)2 ≈ mol CaO = 39.36 kg mol/hari Berat Ca(OH)2 = 39.36 kg mol hari x
mol kg kg 74 = 2912.64 kg/hari = 2.91 ton/hari
i. Berat belerang = 0.055 ton per 100 ton tebu x jumlah tebu masuk
= x 1836.73 ton 100 ton 0.055 ton/hari = 1.01 ton/hari j. Reaksi : S + O2 Æ SO2 S = mol kg kg 32 kg/hari 1010 = 31.56 kg mol/hari
mol SO2 ≈ mol S = 31.56 kg mol/hari Berat SO2 = 31.56 kg mol/hari x mol kg kg 64 = 2019.84 kg/hari = 2.02 ton/hari
k. Berat flokulan = 3.25 ppm tebu masuk
= x 1836.73 ton 1000000 ton 3.25 ton/hari = 0.00597 ton/hari
l. Berat blotong = 3 % x tebu masuk = 100 3 x 1836.73 ton/hari = 55.1 ton/hari 34
m. Nira jernih = nira mentah + H3PO4 + Ca(OH)2 + SO2 + flokulan – blotong = (1653.05 + 0.19 + 2.91 + 2.02 + 0.00597) ton/hari – 55.1 ton/hari = 1658.18 ton/hari – 55.1 ton/hari
= 1603.08 ton/hari
n. Kondensat yang keluar dari stasiun penguapan = x 90 70 nira jernih = x 90 70 1603.08 ton/hari = 1246.84 ton/hari o. Nira kental = nira jernih – kondensat
= 1603.08 ton/hari – 1246.84 ton/hari = 356.24 ton/hari
p. Kondensat yang keluar dari stasiun masakan = x 20 8 nira kental = x 20 8 356.24 ton/hari = 142.5 ton/hari q. Masakan = nira kental – kondensat
= 356.2 ton/hari – 142.50 ton/hari
= 213.70 ton/hari
r. Tetes yang dihasilkan = x 12 5 masakan = x 12 5 213.70 ton/hari = 89.04 ton/hari
s. Gula yang dihasilkan = Masakan – Tetes
= 213.72 ton/hari – 89.04 ton/hari = 124.68 ton/hari
Perhitungan kuantitatif yang telah dihitung, ditunjukkan pada Gambar 6.
Gambar 6. Diagram Alir Kuantitatif Proses Pembuatan Gula (Sumber : PT. PG. Candi Baru)
Stasiun Gilingan
Stasiun Pemurnian Blotong
(55.1 ton/hari) Ampas (642.86 ton/hari) Nira Mentah
(1653.05 ton/hari)
Stasiun Penguapan Kondensat
(1246.84 ton/hari) Nira Jernih (1603.08 ton/hari) Stasiun Masakan Nira Kental (356.24 ton/hari) Stasiun Puteran Stasiun Penyelesaian Masakan (213.70 ton/hari) Tetes 89.04 ton/hari Air Imbibisi (459.18 ton/hari) Kondensat (142.50 ton/hari) Gula SHS (124.68 ton/hari) SO2 = 2.02 ton/hari Flokulan = 0.00597 ton/hari Ca(OH)2 = 2.91 ton/hari H3PO4 = 0.19 ton/hari Tebu Masuk (1836.73 ton/hari) 36
1. STASIUN GILINGAN
Tujuan dari stasiun gilingan ini adalah untuk mendapatkan nira sebanyak mungkin dan mengusahakan agar nira yang tertinggal di ampas sekecil mungkin. Diagram alir kualitatif stasiun gilingan dapat dilihat pada Gambar 7.
Gambar 7. Diagram Alir Kualitatif Stasiun Gilingan (Sumber : PT. PG. Candi Baru)
Tebu Masuk Ampas Gilingan 1 Gilingan 1 Gilingan 2 Ampas Gilingan 2 Gilingan 3 Ampas Gilingan 3 Air Imbibisi Gilingan 4 Ampas Gilingan 4 Nira Gilingan 4 Nira Gilingan 1 Nira Gilingan 2 Nira Gilingan 3 Nira Mentah 37
Tebu masuk gilingan 1. Ampas yang keluar dari gilingan 1 dicampur dengan nira yang berasal dari gilingan 3 sebelum masuk ke gilingan 2. Ampas dari gilingan 2 dicampur dengan nira gilingan 4 sebelum masuk ke gilingan 3, sedangkan ampas yang keluar dari gilingan 3 ditambahkan air imbibisi sebelum masuk ke gilingan 4. Hasil gilingan 4 adalah ampas gilingan 4 dan nira gilingan 4. Ampas gilingan 4 diangkut dengan bagasse carrier menuju ketel lama dan ketel Cheng Chen serta FCB untuk bahan bakar.
Sebelum masuk ketel Cheng Chen serta FCB, ampas disaring dalam
rotary bagasse thumbler dengan tujuan untuk memisahkan ampas kasar dan
ampas halus. Ampas kasar masuk ketel Cheng Chen sedangkan ampas halus dibawa ke unit vacuum filter.
Perhitungan :
a. Jumlah tebu yang masuk =
hari 185
ton 339794.3
= 1836.73 ton/hari
b. Berat nira mentah = 90 % dari jumlah tebu masuk
= x 1836.73
100 90
ton/hari = 1653.05 ton/hari c. Berat nira gilingan 1
= berat nira mentah x
2 gilingan nira brix % -1 gilingan nira brix % 2 gilingan nira brix % -mentah nira brix % = 1653.05 ton/hari x 9.19 -14.92 9.19 -12.2 = 876.12 ton/hari
d. Berat ampas gilingan 1 = berat tebu masuk – berat nira gilingan 1 = 1836.73 ton/hari – 876.12 ton/hari = 960.61 ton/hari
e. Berat nira gilingan 2 = berat nira mentah – berat nira gilingan 1 = 1653.05 ton/hari – 876.12 ton/hari = 776.93 ton/hari
f. Berat nira gilingan 3 = berat nira gilingan 2 x
3 gilingan nira brix % -1 gilingan nira brix % 2 gilingan nira brix % -1 gilingan nira brix % = 776.93 ton/hari x 6.42 -14.92 9.19 -14.92 = 520.54 ton/hari
g. Berat ampas gilingan 2
= berat ampas gilingan 1 + berat nira gilingan 3 – berat nira gilingan 2 = 960.61 ton/hari + 520.54 ton/hari – 776.93 ton/hari
= 704.22 ton/hari h. Berat nira gilingan 4
= berat nira gilingan 3 x
4 gilingan nira brix % -1 gilingan nira brix % 3 gilingan nira brix % -1 gilingan nira brix % = 520.24 ton/hari x 3.48 -14.92 6.42 -14.92 = 384.98 ton/hari
i. Berat ampas gilingan 3
= berat ampas gilingan 2 + berat nira gilingan 4 – berat nira gilingan 3 = 704.22 ton/hari + 384.98 ton/hari – 520.54 ton/hari
= 568.66 ton/hari j. Berat ampas gilingan 4
= berat ampas gilingan 3 + imbibisi – berat nira gilingan 4 = 568.66 ton/hari + 459.18 ton/hari – 384.98 ton/hari = 642.86 ton/hari