mbusan angin pagi yang menyegarkan hati. Suara riak ombak kecil memecah pagi. Matahari pagi mulai naik dengan sinarnnya yang terang.
Sesampainya di gubuk Kakek Samu, Mereka pun meminta izin kepada kakek tua itu untuk kembali pulang.
Sebelum pulang mereka mempersiapkan segala sesuatu untuk melakukan petualangan ini. Doru membuka peta yang diberikan kakek itu dan petunjuk pertama mengatakan mereka harus menuju pulau Saronde.
“Teman-teman, sekarang kita akan menuju Pulau Saronde.” Kata Doru.
“Tapi, bagaimana caranya menuju pulau itu?” Rio bersuara.
156
“Kakek akan mengantar kalian sampai ke pulau itu dengan perahu.”
Setelah selesai bersiap. Kakek dibantu Doru, Rio dan Arif menarik perahu yang ada di pantai ke laut.
Mereka pun berangkat pagi itu mengarungi lautan. Kakek yang mengemudi perahu itu, sedangkan Doru, Rio danArif sekali-kali membantu mendayung.
“Wah, ini seperti cerita-cerita petualangan ya.” Nina.
“Memang betul, Nina. Kita sekarang kan memang sedang berpetualang.”Kata Doru
“Yeeaaaaaa…kita anak petualang!” Teriak Rio. “Ha..ha..ha…ha” Mereka semua tertawa. Kakek bahagia melihat mereka tidak sedih lagi.
Untuk menuju Pulau Saronde, mereka akan melewati beberapa gugusan pulau di daerah itu. Beberapa saat perjalanan Doru melihat sebuah pulau. “Kek,itu pulau apa?”
“Oh, itu Pulau Raja, Doru.”
157
Beberapa saat kemudian. Rio berteriak lagi. “Kakek, itu pulau kecil yang berdekatan dengan Pulau Raja apa kek?” Rio menunjuk dua pulau kecil.
“Iya, Kek. Itu pulau apa?” Arif menambahkan. “Itu pulau Lampu dan Pulau Popaya.”
“Pulau Popaya? Kenapa disebut Pulau Popaya, Kek?” Tanya Arif penasaran.
“Coba kalian lihat bentuknya. Seperti buah pepaya kan!” Kakek Samu tersenyum.
“Oh iya, betul juga.” Arif manggut-manggut. Setelah beberapa saat jam mengarungi lautan, tiba-tiba langit mulai menghitam. Kakek Samu melihat tanda-tanda datangnnya badai.
“Anak-anak, sepertinya akan datang badai besar! Kita harus bersiap menghadapinya.” Kata kakek.
Yanti dan Nina mulai ketakutan lagi.
“Tenang, semoga kita bbisa melewatinya,” kata Doru menenangkan kedua temannya itu.
158
Tak lama kemudian, badai besar menghantam lautan. Ombak berkecamuk. Perahu mereka mulai terombang ambing oleh kuatnya empasan ombak.
“Anak-anak, berpeganglah erat-erat.” Kakek memberi petunjuk.
Kemudian kakek berdoa kepada Allah SWT agar segera menyudahi badai itu. Anak-anak pun ikut berdoa.
Doa mereka dikabulkan oleh Allah Swt. Badai pun berhenti dan suasana kembali seperti biasa.
Alhamdulillahirabbilalamin,” Ucap mereka semua.
“Huuuuahhhh…hampir copot jantungku,” kata Arif.
“Iya, tapi asyik juga. Kita kan sedang berpetualang. Hehehehe.” Rio mulai lagi dengan tingkahnya.
“Kamu ini Rio, ada-ada saja, masih ada saja lelucon di saat genting seperti ini.” Kata Nina
“Sudah…sudah. Yang penting sekarang kita sudah selamat dari badai.” Kata Doru
159
Perjalanan pun mereka lanjutkan. Dari kejauhan telah tampak sebuah pulau.
“Teman-teman coba lihat di depan kita.”Doru berseru. Kakek, kalau itu pulau apa itu kek?” Tanya Doru beralih ke Kakek Samu.
“Inilah pulau tujuan kita di peta itu. Pulau Saronde.”
Doru dan kawan-kawannya berlayar ke Pulau Saronde.
“Waaaaoooowww. Pulau Saronde. Indah sekali pantai ini. Pasirnya putih. Air lautnya bening.” Kata Nina.
Pulau Saronde berpasir putih, seperti pulau yang asing dan belum pernah didatangi orang sama
160
sekali. Jika wisatawan mancanegara mengenal tempat ini, mereka akan suka datang ke sini. Begitu yang ada di pikiran Doru. Ia sedikit bersyukur tersesat di lorong waktu itu. Mereka jadi bisa ke tempat seindah ini.
“Anak-anak. Kakek hanya bisa mengantarkan kalian sampai di sini. Kakek harus kembali untuk menjaga keasrian pulau Diyonumo. Anak-anak penyu kitu membutuhkan kakek untuk menjaga mereka.” Kata Kakek Samu.
“Terima kasih atas kebaikannya, Kek.” Kata Doru. “Sama-sama, Nak. Berhati-hatilah.” Kakek Samu kemudian berbalik arah, memutar perahunya.
“Oh iya, ingat pesan Kakek, kalian harus berbuat baik dan tetap bersatu selama perjalanan, karena hanya dengan berbuat baik dan kompak kalian akan menemukan kembali pintu masuk lorong waktu itu. Percayalah, kalian akan mendapatkan bantuan dari orang lain jika berbuat baik.”
“Iya, Kek. Kami akan mengingat pesan Kakek.” Kata Doru.
161
“Kakek pulang dulu. Semoga berhasil anak-anak. Kalian anak-anak yang berani. ”
Kemudian, mereka bersalaman dan kakek pun kembali. Mereka berlima mengelilingi Pulau Saronde. Pulau itu benar-benar sebuah pulau yang cantik nan alami. Cuaca cerah berpadu dengan jernihnya air laut dan hamparan pasir putih menambah pesonanya.
Sejenak Doru dan teman-temannya menikmati keindahaan pulau Saronde. Hari beranjak siang. Perut mereka sudah mulai keroncongan.
Sementara bermain-main di bibir pantai, Doru melihat seseorang sedang memungut sampah-sampah di tepi pantai. Sampah-sampah-sampah yang ditinggalkan mungkin oleh orang-orang yang datang sebelumnya.
“Teman-teman, coba lihat. Ada orang di pinggir pantai.” Tunjuk Doru ke arah tepi pantai.
“Iya. Ayo kita ke sana.” Ajak Rio.
“Ayo. Siapa tahu dia bisa membantu kita.” Arif melanjutkan.
162
Mereka pun menghampiri laki-laki itu. Ternyata ia adalah seorang pemuda pecinta alam yang sedang membersihkan pantai dari sampah-sampah plastik.
“Assalamua’laikum.” Mereka menyalami pemuda itu.
“Waalaikumsalam, Dek. Kalian ini siapa? Ada yangbisa kakak bantu?”
“Iya, Kak. Kami tersesat.”
“Oh iya, Dek. Sebentar ya. Kakak bersih-bersih pantai dulu.” Kata pemuda itu.
“Boleh kami bantu Kakak?” Kata Arif.
“Wah, betul kalian mau membantu kakak?” Tanya pemuda itu.
“Iya, Kak. Kami bantu bersih-bersih pantai biar cepat selesai.” Jawab Yanti.
Mereka pun mulai membersihkan pantai dari sampah-sampah plastik yang berserakan.
“Kak, siapa yang membuang sampah sembarangan di pantai ini? Tempat ini kan sangat indah. Kenapa harus dicemari dengan sampah?” Tanya Doru.
163
“Ini sampah orang-orang yang tidak mencintai lingkungan. Mereka tidak sadar telah merusak ciptaan Tuhan.” Jawab pemuda itu.
“Sayang ya. Pulau sebagus ini harus dicemari. Kasihan ikan-ikan kecil di laut nanti terganggu dengan sampah.” Kata Yanti.
“Jadi kakak adalah penjaga pantai di sini? Nama kakak siapa?” Tanya Rio.
“Bukan, Kakak hanya suka kemari. Kakak tinggal di Pulau Ponelo sebelah pulau ini, kalian bisa panggil saya Kak Rudi.”Jawab pemuda itu.
“Wah…Kak Rudi sangat baik ya, dengan sukarela membersihkan pantai.” Kata Doru memuji.
“Kalau bukan kita, siapa lagi yang menjaga tempat ini, betul kan?” Kata Kak Rudi.
“Iya,.betul, Kak.”Jawab Arif.
“Nah, pantainya sudah bersih dari sampah, sudah indah kembali, terima kasih kalian sudah membantu Kakak, kalian anak-anak yang baik.” Pemuda itu mengucap terima kasih.
164
Mereka membantu membersihkan pantai dari sampah
“Yuk. kita ke pondok.” Kebetulan kakak membawa bekal agak banyak. Kita makan dulu, kalian pasti lapar.”
Mereka berlima berpandang-pandangan. Mereka mengucap syukur dalam hati. Mereka memang sudah sangtat lapar.
Dengan lahapnya mereka makan bekal nasi dan ikan asin yang dibawa pemuda itu.
Selesai makan, pemuda itu bertanya kepada mereka. “Nah, sekarang apa yang bisa Kakak bantu, Dek? Kenapa kalian bisa sampai di pulau ini?” Tanya kak Rudi.
165
Doru pun menceritakan kisah mereka sampai akhirnya sampai di Pulau Saronde. Ia kemudian mengambil peta dan membukanya.
“Sesuai petunjuk peta ini, kami harus ke benteng Orantje.” Doru sambil menunjuk peta.
“Benteng Orantje? Kakak tahu tempat itu. Itu adalah benteng peninggalan bangsa Portugis.Tapi, besok kalian baru bisa ke sana. Ini sudah sore.” Kak Rudi menjelaskan.
“Ternyata mereka sudah mengobrol lama sekali. Kak Rudi lalu mengajak anak-anak itu untuk menginap dulu di rumahnnya yang ada di desa seberang.
“Terima kasih, Kak, sudah mau menolong kami. Pemuda itu hanya tersenyum.
Mereka pun menuju ke Pulau Ponelo dengan perahu Kak Rudi. Mereka pun menikmati perjalanan mereka kembali menuju pulau yang belum pernah mereka datangi.
166
Tiga puluh menit perjalanan, sampailah mereka di dermaga pulau Ponelo. Sebuah pulau yang sudah berpenghuni.
Di dermaga, banyak nelayan yang baru sampai melaut. Mereka pun turun dan langsung menuju rumah Kak Rudi yang ternyata tak jauh dari dermaga. Rudi adalah anak kepala desa, ia sangat disegani teman-teman sebayanya. Ternyata, dia adalah seorang pemuda yang memang suka menolong. Semua orang di desa itu segera menyapa begitu melihatnya.
Malam pun tiba. Malam itu tepat jumat. Seperti biasanya, pengajian di masjid dilaksanakan oleh anak-anak dan pemuda, Kak Rudi yang merupakan Ketua Karang Taruna di desa itu. Ia mengajak Doru dan teman-temannya ke masjid untuk mengaji bersama.
Indahnya suasana saat itu, kental dengan kerbersamaan, kekeluargaan dibalut nuansa keagamaan.
Setelah selesai pengajian. Mereka pun kembali ke rumah Kak Rudi dan beristrahat.
167
Kukuruyukkkkk…kukuruyukkk.
Suara itu menandakan datangnya pagi. Rudi, Doru dan teman-temannya yang sedari tadi bangun, selesai salat Subuh duduk di teras rumah. Ibu Rudi menyiapkan sarapan teh dan kue, serta kerupuk rumput laut khas tempat itu.
“Anak-anak, coba silahkan cicipi kerupuk khas Pulau Ponelo. Kalian pasti belum pernah merasakannya.” Kata Ibu Rudi kemudian kembali ke belakang.
“Wah, pasti enak ini.” Kata Rio.
“Um, enak. Ini betul terbuat dari rumput laut, Kak Rudi?” TanyaYanti.
“Iya, betul. Ini kerupuk khas Pulau Ponelo. Desa kami ini terkenal dengan budidaya rumput laut. Kakak ingat, pagi ini kakak harus memanen rumput laut. Apakah kita bisa ke Benteng Orantje setelah itu? Nanti kakak antar.”
“Kami akan senang sekali, Kak. Kami bantu ya. Teman-teman pasti ingin melihat rumput laut juga.
168
Iya kan teman-teman?”Doru meminta persetujuan teman-temannya.
“Iya, Kak..! Kami ingin melihat rumput laut! Setelah itu baru kita melanjutkan perjalanan kita ke Benteng Orantje.” Kata Arif.
“Baiklah, ayo kita ke sana sekarang!”
Mereka pun menuju ke tempat budidaya rumput laut. Di sana, telah banyak petani rumput laut yang sedang memanen. Mereka pun memulai memanen rumput laut kak Rudi dengan senang hati.
Selesai memanen rumput laut, mereka pun kembali ke rumah. Kemudian, mereka bersiap menuju Benteng Orantje kata Kakek Samu dan sesuai dengan apa yang mereka baca dip eta, di sanalah pintu masuk mereka kembali.