TOYONGO PUTRI RAJA & CERITA LAINNYA (Sayembara Bahan Bacaan Tahun 2018)
Irfandi Ontalu
Muhlisa Nurkamiden
Munawir Patilima
KANTOR BAHASA GORONTALO
BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN BAHASA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
ii
TOYONGO PUTRI RAJA & CERITA LAINNYA
(Sayembara Bahan Bacaan Tahun 2018)
Penyunting
Sukardi Gau dan Darmawati M.R
Penata Letak
Siti Rahmatia Ntou
Sampul
Wisnu Wijanarko
Penerbit
Kantor Bahasa Gorontalo
Alamat Redaksi
KANTOR BAHASA GORONTALO
Jalan Dokter Zainal Umar Sidiki, Tunggulo, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo Telepon/Faksimile (0435)831336
Pos-el: [email protected] ISBN: 978-602-53283-1-2
Hak cipta dilindungi oleh undang-undang
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dengan cara dan bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit
iii
DAFTAR ISI
Daftar Isi ... iii
Kata Pengantar Kantor Bahasa Gorontalo ... v
Bagian 1
1. Toyongo Putri Raja ... 32. Mo Potoolo Pa’I ... 9
3. Pa’ Iya Hungo Lo Poli ... 15
4. Molonthalo ... 21
5. Bontho ... 27
6. Molone’o dan Modu’oto ... 33
7. Momuhuto ... 39
8. Walimomo yang Indah ... 45
9. Hari Bahagia ... 49
10. Pernikahan Saripa dan lamaran Raja ... 57
Bagian 2
1. Tiga anak Bunggo ... 632. Membuat Bunggo ... 67
3. Eksperimen ... 77
iv 5. Awuta ... 93 6. Malam Ramadan ... 99 7. Kemenangan ... 105
Bagian 3
1. Mitos Otajin ... 119 2. Pintu Rahasia ... 127 3. Pulau Diyonumo dan penangkaran Penyu ... 143 4. Pasir putih pulau Saronde dan5. Rumput Laut Ponelo ... 155 6. Benteng Orantje jalan kembali ... 169
v
KATA PENGANTAR KEPALA KANTOR BAHASA GORONTALO
Cerita rakyat adalah rekaman cara berpikir dan berperilaku masyarakat. Mutiara yang semakin digosok akan semakin berkilau. Demikian halnya harapan kami dengan buku antologi hasil sayembara bahan bacaan Kantor Bahasa Gorontalo Tahun 2018 yang berada di tangan Anda.
Cerita pertama, Saripa dan Putri Raja, adalah cerita persahabatan seorang putri raja dengan seorang anak abdi kerajaan. Meskipun generasi kita sudah mewujud menjadi generasi milenial, cerita-ceirta persahabatan seperti ini tetap diperlukan. Cerita ini dikisahkan Irfandi Ontalu dengan alur yang renyah dan bahasa yang indah, dibumbui adat istiadat Gorontalo sehingga pembaca dapat mengenal daerah yang juga dikenal dengan “Kota Seribu Bentor” ini.
Lalu, ada cerita Muhlisa Nurkamiden, Tiga Anak
Bunggo. Cerita ini juga kaya akan nilai-nilai
persahabatan. Selain itu, ada nilai-nilai persaingan sehat, kreativitas dan pandai memanfaatkan waktu yang diselipkan penulis dalam bertutur mengenai keseharian Ato, Tune, dan Nune, si Tiga Anak Bunggo dalam cerita ini. Bunggo, adalah meriam dari bambu yang biasa dimainkan oleh anak-anak Gorontalo pada malam bulan Ramadan. Dalam cerita ini juga akan pembaca jumpai bebeberapa makanan khas Gorontalo.
vi
Cerita ketiga, Otajin, dikisahkan oleh Munawir Patilima, adalah cerita diilhami dari mitos yang berkembang di masyarakat tentang obyek wisata purbakala “Otajin” atau Batu Jin yang berada di desa Kotajin Kecamatan Atinggola. Naskah ini ditulisnya dalam rangka memperkenalkan obyek-obyek wisata di Gorontalo khususnya di Gorontalo Utara yang dituangkan dalam latar-latar cerita.
Tiga cerita, tiga pengisah, tiga peristiwa. Buku antologi ini hadir sebagai upaya mengatasi kekurangan bahan bacaan dan cerita rakyat mengenai daerah yang mendapat julukan Bumi Serambi Madinah ini, sekaligus sebagai upaya menggalakkan daya baca dan tulis di kalangan masyarakat Gorontalo.
Gorontalo, November 2018 Dr. Sukardi Gau, M. Hum.
Bagian Satu
Cerita Irfandi Ontalu
Terbaik I Sayembara Bahan Bacaan Tahun 20182
Dalam cerita ini ada:
1. Toyongo Putri Raja 2. Mo Potoolo Pa’i 3. Pa ‘Iya Hungo Lo Poli 4. Molonthalo
5. Bontho
6. Molone’o dan Modu’oto 7. Momuhuto
8. Walimomo yang Indah 9. Hari Bahagia
3
1
Toyongo Putri Raja
endung menggantung. Angin bertiup sejuk. Dungo lolangge (daun-daun pohon nangka) bergoyang ke kiri dan ke kanan. Sejak siang tadi, langit terus kelabu. Tetapi, benarlah kata sang bijak, mendung tak berarti hujan.
Tersebutlah, di Tanah Tombelo, seorang raja memerintah dengan adil dan bijaksana. Raja Palowa namanya. Ia memiliki seorang gadis rupawan nan jelita. Gadis itu tumbuh remaja seperti gadis
4
seumurannya yang manis dan periang. Anak-anak kecil, remaja, orang dewasa memanggil ia dengan sebutan Putri Rawe. Ia hidup dalam kecukupan, kelimpahan, serta kasih sayang ratu dan raja negeri Boalemo. Mereka hidup aman dan damai di tanah Tambelo, pusat Kerajaan Boalemo.
Namun sore itu, Putri Rawe tampak murung. “Wahai putri, sejak tadi saya melihat raut wajah putri tampak sendu, ada apa?” Tanya Ka Pende, seorang abdi setengah menunduk.
“Iya, Ka Pende. Hujan tak turun-turun, sudah lama saya ingin mandi di bawah hujan yang lebat.” Putri Rawe memandang langit.
Abdi kerajaan itu sangat mengerti perasaan sang putri. Memang, beberapa bulan ini tanah kering. Langit meriang. Tak ada satu titik air jatuh ke bumi. Sekali mendung, hujan yang dinanti tak kunjung turun.
“Mungkin ini sudah takdir Lo Eya (Tuhan), kita manusia hanya bersabar dan berdoa.” Ucap Ka Pende
5
sambil memikirkan apa yang bisa ia lakukan menyenangkan hati Putri Rawe.
Bukan abdi kerajaan yang bijak bila Ka Pende tak bisa merebut kesedihan anak sang raja.
“Bagaimana kalau Tuan Putri bermain Toyongo. Anak perempuan saya akan mengajarkan putri cara membuatnya. Ia dan teman-temannya suka bermain di bawah pohon langge.”
“Toyongo?”
“Iya. Anak-anak dan remaja perempuan di kampung ini suka sekali memainkannya.”
“Iya, saya mau, Ka Pende. Tolong ajarkan saya cara membuat dan memainkannya.” Putri Rawe girang.
“Putri Rawe tidak keberatan bermain bersama rakyat biasa?” Tanya Abdi itu meyakinkan.
“Tentu tidak, Ka Pende. Saya bebas bermain dengan siapa saja.”
“Baik, Tuan Putri.”
6
Pinang kering itu disebut Luhuto Meme. Buah pinang yang sudah tua itu dibelah dengan hati-hati. Butuh tangan piawai agar bizinya tidak rusak. Biasanya hanya jemari perempuan jelata yang biasa melakukannya, bukan tangan putri kerajaan. Biji pinang yang bulat kemudian diserut agar bagian bawahnya lancip.
Putri Rawe memperhatikan anak perempuan Ka Pende sangat cekatan meruncinkan sepotong lidi dengan pisau. Setelah jadi, lidi yang menyerupai tusuk sate ditancapkan ke bagian atas biji pinang sampai tembus. Setelah jadi, lidi yang menyerupai tusuk sate ditancapkan ke bagian atas biji pinang sampai tembus kebawah, tonjolan lidi bagian bawah lebih pendek dari bagian atas.
Untuk memperindah, badan biji pinang diukir dengan ujung pisau hingga membentuk mozaik khas yang cantik.
Putri Rawe merasa gembira, ketika Toyongo putri Raja itu diserahkan.
7
“Mari kita coba memainkannya, Tuan Putri,” kata anak perempuan Ka Pende yang bernama Saripa. Sambil menjepit tangkai lidi dengan kedua tangannya Saripa mulai menggesek tangkai Toyongo miliknya. Saripa mencontohkan pada Putri Rawe. Putri Rawe mencoba. Saripa lebih dulu melepas Toyongo di tangannya dan berputar.
Putri Rawe tak mau ketinggalan. Ia lepas Toyongo miliknya. Toyongo mereka beradu, menanti siapa lebih lama berputar.
Saripa merasa senang melihat Putri Rawe bertepuk gembira. Ia berharap Toyongo miliknya yang jatuh lebih dulu. Itu berarti Putri Rawe pemenangnya. Tawa dan senyum putri Rawe baginya seumpama mentari yang menyinari bumi. Bagi mereka, rakyat jelata, kebahagiaan sang putri Raja adalah kedamaian di tanah Tambelo.
Toyongo adalah permainan yang hanya
dilakukan kaum perempuan. Sementara para remaja laki-laki bermain gasing atau pa’i. Saripa tak hanya menyenangkan hati Putri Rawe dengan bermain
8
Toyongo. Setelah puas bermain, Saripa mengajak Putri Rawe dan gadis-gadis lain melihat permainan
pa’i yang dilombakan anak laki-laki di balai kampung.
Sore itu di bawah pohon langge, Putri Rawe benar-benar bahagia. Ia melupakan kesedihannya. Bersama gadis-gadis lain yang seumuran bahkan lebih muda darinya, Putri Rawe tidak membeda-bedakan. Meski ia anak seorang Raja, putri bangsawan, dan hidup di lingkungan bersih, Putri Rawe sama sekali tidak peduli dirinya kotor dan berdebu. Ia adalah putri raja yang periang dan sayang kepada teman-temannya. Ia berteman baik dengan mereka meski mereka rakyat jelata.
9
2
Mo Potoolo Pa’i
emaja laki-laki Tambelo telah banyak berkumpul di balai kampung. Mereka berkerumun sambil bersorak-sorai dan bersemangat. Rupanya sedang diadakan perlombaan pa’i yang pesertanya berasal dari beberapa kampung. Pa’i adalah permainan memutar gasing yang dilakukan satu orang, tetapi perlombaan itu mengadu tiga remaja laki-laki. Perlombaan memutar gasing itu dinamakan mo potoolo pa’i.
Pa’i terbuat dari potongan kayu keras. Bisa jenis kayu apa saja untuk membentuk gasing yang kuat dan tahan lama. Tapi, biasanya batang pinus atau jati paling diminati anak-anak karena dinilai lebih perkasa. Tak sekadar hanya melihat pa’i siapa paling lama berputar dalam perlombaan itu. Ada pula yang
10
dinamakan saling memecahkan pa’i. Lomba itu dinamai mopo huwango pa’i.
Putri Rawe, ditemani Saripa, berbaur bersama anak perempuan lain menyaksikan perlombaan berbagai jenih permainan pa’i. Tak ada yang sadar jika di antara mereka ada putri raja. Tak jauh dari situ, beberapa remaja laki-laki lain juga tengah sibuk membelah kayu, membentuknya menjadi bulatan dengan ujung runcing berpenampang segitiga. Selesai dibentuk, sebagian yang lain memperhalus agar menjadi licin. Di bagian ujung penampang itu ditancapkan kepala paku. Pa’i yang sudah jadi itu lalu di jual dengan harga beberapan sen saja. Banyak yang membeli sekadar bisa mengikuti lomba.
Putri Rawe baru sekali ini memperhatikan cara bermain pa’i. Seorang anak laki-laki berbadan kurus melilitkan serat batang pisang kering yang dijadikan tali untuk memutar pa’i. Tali pa’i itu dinamakan lindu. Panjangnya satu meter.
Laki-laki itu melingkarkan lindu ke penampang segitiga sampai membalut badan pa’i. Kemudian, sisa
11
ujung lindu dilingkari pada jari kelingking. Badan pa’i dicengkram menggunakan jari telunjuk, jari tengah dan ibu jari. Anak itu mengambil posisi sedia, tangannya ia ayunkan ke samping, serta merta ayunan tangannya melesat ke depan sekaligus melepas cengkraman pa’i. Si bulat kecil licin itu meluncur dari tali. Berputar seperti pusaran angin di atas ujung paku yang ditancapkan.
Permainan gasing begitu populer sampai-sampai pa’i yang memenangi lomba dihargai mahal. Ya, pa’i yang selalu menarik perhatian penonton harganya Tetapi, kebanyakan mereka tidak menjualnya. Mereka lebih suka menjuarai setiap lomba. Tak ayal, pemuda-pemuda yang selalu juara lebih suka menarik perhatian para gadis di kampung dari pada mendapat uang.
Sune, salah satunya. Melihat keelokan dan kecantikan gadis-gadis Tambelo semangatnya melambung. Tak habis gaya ia menunjukan kepiawaiannya bermain Pa’i. Ia baru saja memenangi permainan mopo huwango pa’i, ia berhasil memecahkan Pa’i. Tak ada yang bisa mengalahkan laki-laki itu. Setiap
12
lomba pasti Sune juaranya. Itulah yang membuat para petarung pa’i lainnya tak berharap banyak ketika Sune ikut bertanding.
Seperti kali ini, Sune kembali bertingkah dengan aksinya yang memukau. Ia mengangkat pa’i yang berputar dengan menggunakan lindu ke atas tangannya. Permainan itu namanya mopootoolo pa’i to
paladu ulu’u. Beberapa orang berdecak kagum. Tak
sedikit bertepuk tangan dan meneriaki namanya. Sune di atas angin. Ia bangga namanya dielukan dan terdengar ke telinga para gadis. Dan betul, gadis-gadis memuji Sune. Usaha Sune sukses besar. Termasuk Saripa. Ia kagum pada lelaki dari kampung tetangga itu. Sementara Putri Rawe tetap maruahnya sebagai putri. Hari itu benar-benar tak ada yang mengenalinya sebagai anak raja Boalemo.
“Putri, besok akan ada acara remaja di ladang. Kami mengadakan pesta syair. Maukah Putri Rawe ikut?” Saripa memandang Putri Rawe usai melihat perlombaan pa’i.
13
“Benar, Putri. Kami sangat senang bila Putri bisa ikut bersyair bersama kami.” Gadis lain disamping Saripa menyahut.
“Baiklah, aku akan izin pada ayahku dulu.” “Tapi, tolong putri. Jangan katakan pada raja kami yang mengajak. Kami takut akan dihukum.” Saripa memelas.
“Tidak, Saripa. Kalian tidak akan dihukum. Aku juga tidak akan mengatakan ini dari kalian.” Senyum sang Putri.
Mentari mulai memasuki ketiak malam. Senja telah datang dan kebahagian malam pun bersinar. Hujan benar-benar tak turun hari itu. Tapi besok malam akan menjadi kebahagiaan baru bagi yang yakin ketetapan Lo Eya. Hujan, panas, kemarau semua datang dari Allah. Eya, Tuhan Semesta Alam.
15
3
Pa ‘Iya Hungo Lo Poli
Wan putih menggelayut. Hembusan angin berhembus dari utara ke selatan, dari selatan ke utara. Sore itu, pemuda dan pemudi mengerumuni ladang kering dan masing-masing mulai duduk melingkar. Remaja gadis di sisi utara, dan para bujang duduk di sisi selatan. Mereka saling berhadapan. Sune membuka acara itu dengan dada berdegup. Sesekali ia bicara gugup. Ia melihat gadis-gadis yang kemarin memujinya ikut hadir dan bersiap bermain syair.
16
Masyarakat Gorontalo menamainya pa ‘iya
hungo lo poli yang artinya saling melempar pantun.
Bisa juga berarti berbalas pantun. Remaja laki-laki biasanya lebih dulu. Syair berirama akan dilempar kepada kaum perempuan, dan siap-siap untuk memberi balasan. Siapa tak dapat membalas akan disoraki. Suasana lebih menarik karena diiringi alat musik antu-antunga. Amboi, tak lengkap memang bersyair tak ada iringan irama musik.
Sune telah sedia dengan antu-antunga hasil buatannya sendiri. Alat musik itu terbuat dari seruas bambu dari jenisbambu air yang disebut wawohu. Tali antu-antunga hanya terdiri dari tiga utas, tersusun dari kulit permukaan bambu; diangkat dengan cara mencungkilnya dengan pisau.
Agar keluar bunyi, salah satu penampang bambu itu dilubangi. Tali antu-antunga ditinggikan dengan potongan bambu kecil disebut kam, setelah diperhalus dengan pisau agar tidak melukai kulit. Kam dipasang pada ujung-ujung tali agar mudah dipetik.
17
Bunyi khas antu-antunga menyeringai menambah keseruan sore itu. Seorang pria berbadan gempal berdiri dan mulai bersyair. Sune mengiringi dengan irama:
wa’u ode Timbuwalo
(aku mau ke Timbuwalo)
lo hepito to Monggolito
(singgah di Monggolito)
bolo u ma’apuwolo
(mohon dimaafkan)
ma tilala lo hulito
(sudah salah mengucapkan)
Kalimat terakhir itu diulang dua kali dan mendapat tepukan meriah dari para remaja laki-laki. Kini giliran satu perempuan maju dan membalas:
delowa mayi bilobola
18
uwito uyilo tapu
(hanya itu yang didapat)
dulo ito mo karaja
(mari kita bekerja)
mo po’o lamahu lipu
(untuk memajukan negeri).
Keseruan makin menggema ketika Sune yang memetik antu-antunga mengambil bagian. Tidak lengkap rasanya bila kemahiran Sune bersyair tak dilantunkan:
taluhu tolo tolohu
(air yang mengalir)
tilapila’u sabongi
(kujatuhkan sabun)
wa’u ma lolo-lolohu
19
ta oyilo to putongi
(yang mempunyai tahi lalat di pipi).
Teriakan para remaja membahana. Sorak-sorai saling menggema di antara pemuda dan pemudi. Saripa yang merasa punya tahi lalat di pipi langsung balas menyerang,
potubu mayi bilobola
(masaklah bubur)
delo’u ode datahu
(kubawa kedataran)
ito tawu lo Eya
(kita manusia ciptaan Tuhan)
dila he potilantahu
(jangan berpacar-pacaran)
Sune tercekat. Harapannya pupus. Ia kembali memetik antu-antunga dan tenggelam dalam syair-syair yang terus dilantunkan para remaja. Semua larut dalam kegembiraan bermain pantun.
21
4
Molonthalo
utri Rawe telah menganggap Saripa lebih dari sahabat. Pun sebaliknya anak abdi kerajaan itu menganggap Putri Rawe seperti saudaranya sendiri. Tidak hanya Saripa, gadis-gadis biasa di sekitar kerajaan juga sangat menyenangi sikap sang putri. Putri Rawe sama sekali tidak membatasi diri dengan rakyat jelata. Ia senang berbaur dengan siapa saja.
Hari itu Saripa mengajak Putri Rawe ke rumah saudaranya tidak jauh dari kerajaan. Ada acara
molonthalo yang ingin ia perlihatkan kepada Putri
Rawe. Kelak, ketika Putri Rawe telah menikah, hal serupa akan dilakukan. Putri Rawe telah menginjak remaja, tentu beberapa tahun ke depan akan ada laki-laki yang mempersuntingnya. Putri Rawe antusias menghadiri itu.
22
Molonthalo adalah acara adat Gorontalo meraba
perut (raba puru) bagi sang istri yang telah hamil tujuh bulan anak pertama. Ada istilah dalam tahapan adat Gorontalo bagi ibu hamil. Bulan pertama diistilahkan ma tiloyonga. Bulan ketiga disebut ma molone’o. Ketika kehamilan memasuki bulan enam disebut ma modu’oto. Rasa syukur atas proses ini diiringi dengan ngadi salawati atau bersalawat untuk nabi Muhammad saw.
Saripa pernah bertanya kepada ayahnya apa hakikat dari pelaksanaan molonthalo.
Sang Ayah menjelaskan, “hakikatnya adalah adat ini merupakan maklumat dari sang suami bahwa harapan kelahiran anak pertama mereka telah terpenuhi. Hal ini juga merupakan maklumat kepada kedua belah pihak bahwa sang istri masih suci, dan menjadi dorongan bagi gadis lain untuk menjaga kehormatan. Terakhir, hal itu juga sebagai persiapan bagi si suami dan sang istri untuk menyiapkan lahir dan batin menyambut sang bayi, dan terus berkasih
23
sayang yang dilambangkan dengan saling suap menyuapi dalam acara molonthalo.”
Antara lain yang harus hadir adalah kerabat pihak suami. Yang kedua, hulango atau bidan kampung yang beragama Islam, tahu seluk beluk umur kandungan, dan urutan lafal-lafal doa leluhur ia hafal. Harus dihadiri pula oleh hatibi atau imam yang menguasai doa mo’odelo. Tak kalah lengkap adalah kehadiran dua orang anak yang kira-kira berumur tujuh sampai sembilan tahun. Satu anak perempuan dan satu anak laki-laki yang dikenal istilah payu lo
limutu wau payu lo Hulonthalo. Terakhir yang harus
hadir juga adalah dua orang perempuan dewasa yang dianggap sakinah.
Atribut adat telah terhampar. Saripa memperhatikan yang harus disediakan dalam acara itu adalah hulante yang berbentuk seperangkat bahan di atas baki yang terdiri dari beras tiga liter yang di atasnya terletak tujuh buah pala, tujuh buah cangkeh,
24
tujuh buah telur, tujuh buah limu tutu (lemon), tujuh buah mata uang bernilai Rp100.
Seperangkat bahan dupa di atas baki yang terdiri dari satu buah polutube (pedupaan), satu buah baskom tetabu (dupa) dan segelas air masak yang ditutup.
Satu hal yang tak pernah ketinggalan adalah seperangkat botu pongi’ila (batu gosok) untuk mengikis kunyit yang dicampur sedikit kapur dan air dingin yang disebut alawahu tilihi. Juga mesti tersedia seperangkat pomama: tempat sirih dan pinang, tambalude atau hukede.
Toyopo satu buah juga ada, yakni seperangkat
makanan yang terbuat dari janur daun kelapa muda yang berisi nasi kuning, telur rebus, ayam goreng dan pisang masak. Pisang raja atau pisang gapi yang disebut lutu tahulumito dipilih sebagai jamuan. Tak lupa tersedia pula aneka kue seperti wapili,
kolombengi dan apangi.
Tersusun makanan di atas baki yang terdiri dari sepiring bilinti, sejenis nasi goreng dicampur hati
25
ayam. Sepiring lagi ayam goreng yang masih utuh, yang di dalam perutnya dimasukan sebuah telur rebus. Dua buah baskom tempat cuci tangan dan gelas berisi air masak.
Atribut lainnya adalah daun silar yang disebut
tiladu berkeping tiga seukuran perut ibu hamil. Bulewe atau upik pinang. Satu buah tempurung tak
bermata yang disebut buawu huli. Seperangkat tikar putih atau amongo peya-peya yang terbungkus. Tikar itu terpancang di depan pintu, sehingga sang ibu hamil dapat mendengar pertanyaan dari sang Hatibi, kemudian diteruskan kepada hulango. Biasanya pertanyaan yang disampaikan adalah ma ngolo hula, artinya sudah berapa bulan. Lalu akan dijawab oleh anak-anak seperti instruksi sang Hulango.
Atribut terakhir adalah pale yilulo atau
tilondawu yakni beras berwarna merah, kuning, hijau,
hitam dan putih. Kemudian keris bersarung. Semua atribut itu benar-benar mesti tersedia sebelum prosesi molonthalo digelar.
27
5
Bontho
angan hulango itu maju mundur di atas batu pongi’ila untuk meracik alawahu tilihi (kunyit, kapur) yang akan dicampur air hingga berubah merah di atas batu gosok itu. Merah bermakna harapan untuk mengubah tingkah laku. Sejatinya begitu arti bontho. alawahu tilihi yang sudah jadi kemudian diambil dengan telunjuk dan disematkan pada dahi, leher, bagian bawah tenggorokan, bahu, lekukan tangan dan bagian atas telapak kaki. Bontho adalah memberikan tanda di area tubuh sang ibu hamil, dengan makna bahwa sang ibu akan meninggalkan sifat-sifat tercela dan siap mendidik anak dalam kebaikan.
Selanjutnya Hulango meminta sang ibu berbaring di atas tikar putih. Bagian kepala sang ibu menghadap ke timur dan kakinya menghadap ke barat. Dua orang ibu mendekat lalu mengambil posisi
28
masing-masing. Satu orang ibu memegang bantal di kepala, yang lain memegang lutut sang ibu hamil yang ditekuk ke atas. Itu dilakukan sesuai instruksi hulango.
Serta merta hatibi mulai bertanya dibalik tirai, “Ma ngolo hula?” Tanya hatibi dengan nada sedang. Ia bertanya sudah berapa bulan kehamilan sang ibu.
Pertanyaan diteruskan seorang ibu dibalik tirai putih pemegang lalante bula kepada hulango. Hulango menjawab, “Oyinta oluwo….” Dengan suara keras ibu di balik tirai tadi meneruskan.
Acara yang dinanti dari molonthalo segera dimulai. Sang suami dengan balutan baju adat bo’o
takowa kiki dan payungo tilabataliya, dengan
selempang dan keris terselip dipinggang mulai melangkahi perut sang istri tiga kali. Kemudian, dengan sigap ia menghunus keris lalu memotong ikatan anyaman silar yang melilit di perut sang istri. Itu bermakna bahwa jabang bayi telah terikat oleh adat atau buwatulo towulongo. Maka sang ayah
29
memotong silar itu sebagai tanda bahwa sang anak kelak akan mengamalkan isi syariat dan membela kebenaran serta keadilan.
Selanjutnya, sang istri bangun dari pembaringan menuju pintu depan lalante bula dan sang suami keluar berputar mengelilingi rumah satu kali, sambil membuang potongan silar itu jauh-jauh sebagai tanda agar bayi mereka kelak lahir dengan selamat dan mencari tiga jalur ikatan adat, syara’ dan baala tersebut, yang akan menjadi pedoman kelak saat hidup bermasyarakat.
Usai berkeliling sepasang suami istri kembali duduk bersama, saling berhadapan. Di depan mereka telah tersedia seperangkat makanan di atas baki, diantaranya nasi bilinthi dan ayam goreng. Mereka akan saling menyuapi sebagai tanda kasih sayang. Namun, sebelum sang suami menyuapi kekasih hatinya itu, terlebih dulu si suami mengeluarkan telur rebus dari dalam perut ayam goreng. Hal ini bermakna kemudahan sang istri kelak melahirkan si
30
jabang bayi. Harapannya, bayi sehat tak kurang apapun setelah lahir.
Prosesi acara ditutup dengan doa salawati. Sang hatibi membaca doa dan diamini yang hadir. Sebelum pulang sang suami memberi sedekah atau disebut
pala’u kepada semua yang terlibat dalam acara itu.
Tentu sesuai kerelaan masing-masing.
Saripa mengamini setiap doa yang dilantunkan Hatibi. Begitupun Putri Rawe, ia terbayang kelak akan berumah tangga. Tentu anak yang diharapkan adalah anak yang taat kepada Tuhan dan orang tua. Dan tentu anak yang baik, pun berasal dari benih suami yang baik pula. Ah, ia belum terlalu berpikir mencari calon suami.
Saripa tak sekadar memperhatikan prosesi adat tapi juga jenis pakaian mereka. Baginya, memakai baju adat sesuatu yang istimewa. Perempuan memakai walimomo konde yang disertai sunthi. Tingkatanya pun berbeda-beda. Bila sang ibu hamil berasal dari kalangan masyarakat bawah, kondenya berhiaskan satu tusuk sunthi. Tiga sampai lima sunthi
31
untuk istri kepala kampung. Sementara itu, bila yang hamil adalah istri raja, tujuh sunthi akan menghiasi konde di kepalanya.
Dua orang anak perempuan dalam proses molonthalo juga memakai baju yang disebut galenggo
walimomo, kepala mereka berhias penutup baya lo bo’ute. Sementara itu, kaum ibu sakinah dalam tirai
memakai busana lo mango tiilo. Semua pakaian adalah khas budaya Gorontalo. Kecantikan serta kepribadian perempuan Gorontalo tersimpan dalam balutan busana adat.
Putri Rawe yang tengah beranjak remaja telah banyak belajar dari beragam adat Gorontalo. Ia pun akan mengalami masa saat perempuan akan memasuki fase dewasa. Dan dalam budaya Gorontalo setiap tahap akan digelar beragam budaya acara adat.
33
6
Molone’o dan Modu’oto
agi-pagi sekali Saripa sudah berhias sambil membawa hadiah untuk saudaranya yang baru melaksanakan prosesi molonthalo. Banyak hal yang ingin ia tanyakan pada calon ibu itu, sebagai bekal kelak ketika ia berumah tangga.
“Sebelum prosesi molonthalo, upacara apa yang biasa dilakukan?” Tanya Saripa kepada saudara perempuannya.
Saudara perempuannya itu menjelaskan, “ketika pertama diketahui hamil, maka hulango akan diundang untuk melakukan adat molone’o. Molone’o adalah mengetahui keadaan perut ibu hamil dan berapa usia jabang bayinya. Hitungannya biasa saat awal berhenti haid, atau Tiloyonga. Hitungannya sampai satu bulan.”
“Lalu cara mengetahuinya bagaimana?”
34
“Bidan kampung atau hulango akan mengurut perut sang ibu dengan jari tengah. Lalu prosesi itu ditandai sambil mongadi salawati di hari Jum’at oleh hatibi.
“Kemudian adat apalagi yang biasa dilakukan setelah molone’o?”
Saripa memperbaiki letak duduknya sambil mendengar setiap penjelasan saudara perempuannya itu.
“Namanya modu’oto.” “Modu’oto seperti apa?”
“Modu’oto lanjutan dari upacara Molone’o, ketika umur kehamilan telah berusia tiga bulan. Cara Hulango mengurut perut menggunakan telapak tangan disetiap sisi perut. Tentu dengan lembut dan sangat hati-hati. Hulango sudah sangat paham bahkan dalam memperbaiki posisi jabang bayi dalam perut ibu”.
Saripa mendengarkan dengan seksama, rupanya adat modu’oto persiapannya lebih banyak dari sekadar upacara molone’o. Selain tetap mongadi salawati atau
35
membaca salawat setiap hari Jum’at, pihak keluarga sang calon ibu harus menyiapkan beberapa atribut adat yang tak kalah lengkap seperti dalam prosesi Raba Puru atau acara tujuh bulanan. Perhatikan saja yang harus disediakan keluarga, yakni Polutube atau tempat bara api, dupa, dan segelas air yang tertutup. Hulante tetap menjadi atribut inti. Seperangkatbaki bulat itu berisi satu setengah liter beras, yang di atasnya terdapat tiga butir telur. Tiga buah lemon suanggi, dan tiga keping uang bernilai Rp100 yang dilengkapi dengan pijar tuhetutu ditengahnya.
Yang membedakan molonthalo dan upacara modu’oto adalah molonthalo biasanya sang ibu dibaringkan didalam kamar. Sementara itu, modu’oto pelaksanannya dilakukan di ruang tengah rumah atau
duleduhu. Seperti biasa, sang ibu tetap dibaringkan di
atas tikar putih yang telah dipersiapkan.
Hal menarik dalam adat modu’oto adalah waktu pelaksanaannya yakni saat mentari putih baru muncul, pagi-pagi sekali sebelum embun jatuh ke tanah. Konon, hulango memprediksi bahwa saat pagi
36
hari itulah sang jabang bayi berada dalam posisi terbaik. Hal ini juga memudahkannya dalam mengurut perut sang ibu karena pagi hari keadaan perut masih sangat lembut.
Upacara modu’oto bukan hanya dilakukan pada usia kehamilan tiga bulan. Setidaknya selama kehamilan calon ibu melakukan prosesi ini sebanyak dua kali, saat usia tiga bulan dan enam bulan. Undangannya pun hanya seputar kerabat dekat dan tidak seramai saat melaksanakan molonthalo. Busana yang dipakai pun tidaklah baju adat, hanya busana biasa yang santun.
Sampai matahari berada tepat di atas ubun-ubun, Saripa berbincang bersama saudaranya. Ia juga bertanya beberapa hal mengenai adat usai kelahiran si jabang bayi. Rupanya ia banyak mendengar istilah baru dalam upacara adat Gorontalo. Hal yang akan ia lakukan adalah menceritakan apa yang telah didengarnya kepada putri Rawe. Putri Rawe pasti akan senang mendengarkan cerita Saripa.
37
Di situ sudah ada beberapa anak laki-laki yang bermain pa’i. Mereka berusaha menunjukan kemahiran di depan sang putri. Namun, sang putri itu lebih tertarik mendengar cerita Saripa. Dari jauh Ka Pende memperhatikan anaknya telah begitu akrab berkawan dengan sang putri. Ia berharap sang putri dapat memetik manfaat dari pertemanan itu. Bagaimanapun Saripa adalah anak abdi kerajaan. Tugasnya adalah mengawasi dan menghibur hati sang putri.
39
7
Momuhuto
iang dan malam berganti sesuai takdir Lo Eya. Umur manusia juga terus bertambah, sejak remaja sampai dewasa. Begitu pula yang dirasakan Putri Rawe. Ia bukan lagi anak-anak, tetapi gadis remaja yang memasuki fase dewasa. Dan setiap fase kedewasaan, bagi gadis kerajaan, pun gadis biasa harus dilewati dengan prosesi adat. Mentari baru saja naik searah lemparan tombak. Masih pagi-pagi sekali, tapi Putri Rawe telah mengurai rambutnya yang panjang dan ranum. Kulitnya anyar. Tubuhnya dililit batte khas nou lo Hulondhalo (gadis Gorontalo) berwarna terang. Ia terlihat cantik dan menawan, memutar-mutar badannya di depan cermin.
40
Hari itu adalah hari bersejarah bagi sang putri. Ia akan melakukan ritual membasahi tubuh dengan air mayang pinang. Prosesi itu disebut momuhuto. Upacara adat ini biasa dilakukan gadis Gorontalo dua kali. Kali pertama saat masih balita. Kali kedua saat sang gadis telah haid. Mandi lemon merupakan adat penyucian diri bagi para gadis di bumi Gorontalo.
Kulitnya mesti mewangi oleh ramuan. Putri Rawe menuruti saja perintah bidan kampung atau hulango yang sejak tadi sibuk di kamar, melumat
huwali lo wadaka, campuran rempah di atas batu
kasar. Sebelum dibasahi air mayang pinang, Putri Rawe mesti melumuri seluruh tubuhnya dengan ramuan buah tangan sang Hulango.
Tangan hulango berurat memainkan tangannya di atas batu kasar botu pongi’ila. Perempuan tua itu kini melumat ramuan totapo talangngilala (kulit kayu telur), antayi, pale yilahumo (beras yang direndam air), biji buah pala, kunyit, dan kencur yang dicampur segenggam air. Hulango begitu piawai melakukan tugasnya hari itu.
41
Ramuan telah menjadi halus. Dengan lembut, hulango melumuri tubuh sang putri dengan bada’a (bedak lulur) yang sudah diracik. Tubuh Putri Rawe menguning oleh bedak yang baunya tak sedap dan lengket. Putri Rawe tetap sabar melewati prosesinya. Konon, ia bisa melihat siapa jodohnya dalam prosesi selanjutnya. Putri Rawe penasaran.
Tubuh Putri Rawe sedikit kaku karena ramuan itu telah mengeras. Seluruh muka, tangan, kaki, punggung dipenuhi oleh bedak. Selanjutnya, hulango kembali melumat campuran kuning, kapur dan air pada batu kasar. Campuran itu kini berwarna kental.
“Selanjutnya adalah prosesi momonto,” ucap hulango sambil membawa ramuan di depan Putri Rawe. Momonto adalah pemberian tanda suci kepada seorang gadis yang akan di be’at. Tujuannya, agar sang gadis akan meninggalkan sifat-sifat muzmunah (tercela) selamanya. Dari cerita hulango, biasanya pemberian tanda suci ini menggunakan darah ayam. Namun, hulango tak ingin kulit Putri Rawe menjadi
42
rusak. Darah ayam bisa memberi bekas kutil pada kulit, begitu kata hulango.
Momuhoto akan di gelar. Dengan batte yang masih melingkar di badannya, Putri Rawe didudukkan pada kukuran kepala atau yang disebut dudangata. Ia dihadapkan ke timur sambil di atasnya digantungkan
bulewe –mayang pinang-yang sudah mekar. Punggung
Putri Rawe disandarkan tumula atau tumbuhan tebu, juga pisang masak yang dipegang. Siraman air kemudian dicucurkan pada celah-celah mayang pinang sehingga membasahi seluruh tubuh sang putri. Kali pertama yang menyiramkan air adalah sang ratu, kemudian dilanjutkan oleh Hulango atau bidan kampung.
Yang dinanti-nanti sang putri pun tiba. Acara memecah telur yang dilakukan oleh tetua adat atau bisa juga Hulango. Tangan putri Rawe menengadah ke atas seperti orang berdoa. Telur pecah. Kuning telur tumpah di tangan sang putri. Selanjutnya sesuai isyarat tetua adat, kuning telur itu dipindahkan bergantian ke telapak tangan. Dari kanan ke kiri, dari
43
kiri ke kanan. Hulango tersenyum. Mata telur sedikit menjauh ke pinggir. Itu bermakna jodoh sang putri kelak adalah orang jauh dari kerajaan. Bisa jadi adalah pangeran tampan dari kerajaan sebelah.
Begitulah makna adat dan keyakinan dalam Momuhuto. Namun, bagi Putri Rawe siapapun jodohnya adalah kehendak lo Eya. Ia menyerahkan sepenuhnya kepada yang mahakuasa. Tuhan telah menuliskan takdir hidupnya. Siapa saja jodohnya, orang kerajaan atau rakyat biasa, orang dekat atau orang jauh, ia hanya adalah menerima. Yang ia harapkan adalah laki-laki yang baik, seperti sang ayahanda, yang kelak dapat memimpin rumah tangganya dan kerajaannya dengan baik pula.
Putri Rawe hanya berharap dirinya akan menjadi gadis kerajaan Tambelo yang dapat memberi kebaikan kepada rakyatnya. Dengan bertambahnya umur, kedewasaan dalam bersikap adalah paling utama. Soal jodoh, ia telah serahkan semua kepada sang raja. Ayahnya tentu paling tahu siapa paling baik
44
ahlak dan sikapnya dalam memimpin kerajaan Boalemo kelak.
45
8
Walimomo yang Indah
pacara momuhuto itu belum usai. Setelah Putri Rawe menelan telur di tangannya, upacara kembali dilanjutkan. Sang putri memasuki kamar huwali lo wadaka untuk berhias dengan balutan walimomo yang indah. Busana itu dipakai usai upacara mandi mayang kembang. Warnanya terang. Dengan balutan Walimomo yang indah, Putri Rawe tampak anggun dan cantik. Ia seperti bidadari yang turun dari langit. Semua mata terpukau memandang.
Di jemput imam dan hulango, Putri Rawe dipersilakan menempati kursi pengantin atau disebut
pu’ade. Iring-iringan tuja’i (syair) yang penuh nasihat
bertalu-talu di hadapan para tamu dan undangan. Putri Rawe digiring doa melewati lantai beralas kain putih yang berderet piring-piring bertuah berjumlah tujuh. Juga baki yang diatur serupa berjumlah tujuh.
46
Alahai, sebelum menuju kursi pu’ade, Putri Rawe mesti menginjakan kaki ke piring-piring itu sebanyak tiga kali. Dengan tempo teratur dan berirama.
Diperhatikannya masing-masing piring itu. Satu piring berisi segenggam tanah dan rumput po’otoheto. Satu piring berisi jagung, satu piring diisi beras, satu piring uang logam beragam nilainya, satu piring berisi daun polohungo, satu piring bako hati lo umonu (ramuan harum), satu piring bulewe (tangkai mayang pinang), satu baki berisi cikal bakal kelapa, satu baki
hulante satu baki lampu lilin yang ditancap pada gelas
berisi beras. Satu baki tangkai Bulewa, satu baki tujuh buah bako hati lo umonu, dan satu baki tujuh potong tebu. Semuanya harus ia lewati satu persatu. Tak ada yang dilewati.
Hati sang putri mekar ketika semua piring-piring di atas kain putih itu telah ia lewati. Putri Rawe melempar pandang ke arah Saripa yang tersenyum padanya. Tanpa berlama-lama saatnya sang imam kerajaan membacakan petuah dan nasehat serta doa
47
teruntuk sang putri. Doa dipanjatkan kepada Tuhan yang mahakuasa, agar sang putri diberi umur yang panjang, penuh keberkahan dan selalu diselimuti kebajikan. Putri Rawe tampak berkaca-kaca di atas pu’ade mendengar doa dan petuah sang Imam. Saat ini, ia duduk dikursi pengantin itu seorang diri. Dalam hati ia berbisik, kelak setelah ia bertemu kekasih hatinya, ia tak lagi duduk sendirian di kursi itu. Akan ada yang menemaninya, bersama-sama menghiasi kehidupannya.
49
9
Hari Bahagia
esibukan di dalam kerajaan sudah tampak seminggu sebelum acara pernikahan. Namun bukanlah anak raja yang akan menikah. Putri Rawe belum bersegera membangun rumah tangga. Ayahnya yang seorang raja juga belum bicara soal kapan ia akan menikah. Meski beberapa pangeran telah ada yang datang meminang, namun Putri Rawe belum bersedia. Hari itu adalah persiapan pernikahan anak abdi kerajaan, Saripa, putri tunggal Ka Pende.
Tentu hari itu juga adalah hari bahagia bagi Putri Rawe. Saripa lebih dari seorang sahabat. Mereka telah bertahun-tahun berkawan. Dahulu bersama-sama di bawah pohon langge keduanya bermain Toyongo. Saripa pun yang banyak mengajari Putri Rawe banyak hal tentang adat Gorontalo. Kini bertahun-tahun itu telah lewat. Umur Saripa dan Putri
50
Rawe sudah layak berumah tangga. Namun, siapa sangka Saripa lebih dulu menemukan jodohnya.
Dan lelaki beruntung itu adalah Sune. Lelaki yang piawai bermain pa’i, yang pandai memetik antu-antunga dan suka menggoda Saripa lewat syair. Dialah akhirnya yang bisa meluluhkan hati anak seorang abdi kerajaan. Sune tampak bahagia. Namun siang itu, ia tak dibolehkan mendatangi rumah calon mempelai wanita. Keluarga Sune dari kampung seberang datang beramai-ramai ke kediaman Saripa untuk mengantar seserahan. Upacara hantaran itu disebut tolobalango.
Jauh sebelum pelaksanaan tolobalango, keluarga Sune telah datang kepada calon mempelai wanita terlebih dahulu dalam acara mopoloduwo rahasia. Maksudnya adalah pihak keluarga laki-laki mendatangi keluarga Saripa untuk bicara soal peminangan. Bila telah memperoleh persetujuan maka tanggal danwaktu pernikahan segera ditentukan. Tolobalango pun digelar, ini merupakan upacara resmi peminangan.
51
Terpancar wajah bahagia dari kedua belah pihak keluarga yang saling menyambut dengan suka cita. Para tetua adat dari kerajaan pun turut hadir. Juru bicara dari pihak mempelai laki-laki atau Lundhu Dulango Layio melantunkan pantun-pantun yang indah. Tak mau kalah jurubicara dari pihak perempuan yang disebut lundhu dulango walato membalas dengan syair-syair penuh makna.
Setelah menggelar adat Tolobalango dari pihak keluarga laki-laki, maka upacara berikut adalah hantaran seserahan atau disebut upacara dutu atau
modutu.
Inilah upacara sakral sebelum hari pernikahan yakni Depito dutu (mengantar seserahan). Saripa tampak berdebar-debar mendengar iring-iringan keluarga Sune mendatangi kediamannya. Iring-iringan itu membahana dengan tabuhan rebana oleh anggota keluarga dan kerabat pihak laki-laki. Syair-syair yang dilantunkan berisi sanjungan, doa serta harapan kebahagiaan agar kelak rumah tangga membawa kebaikan dunia dan akhirat.
52
Saripa tersipu malu di dalam kamar pengantin dengan berhias bak putri kerajaan. Putri Rawe sengaja menemani Saripa di dalam kamar dan menguatkan agar tetap semangat hingga hari perkawinan. Saripa melihat seserahan yang dipersembahkan keluarga Sune padanya. Beberapa busana indah berwarna terang. Perhiasan gelang yang indah. Juga buah-buah beraneka rupa. Bermacam aneka seserahan ituditempatkan pada wadah menyerupai perahu. Wadah itu dikenal dengan istilah Kola-kola.
***
Malam pertunangan itu dinamai mopotilandahu. Makna dari upacara ini adalah mempertemukan Saripa dan Sune dalam adat suci yang dimulai dengan lantunan ayat-ayat suci Alqur’an yang dikenal mo
khatam Alqur’an. Saripa dengan suara jelas dan jernih
membaca ayat-ayat pilihan yang biasanya dimulai dari Surah Ad-dhuha sampai Al-lahab. Sambil basah pipinya Saripa membawakan ayat-ayat suci di depan tetua adat dan keluarga yang hadir.
53
Setelah Saripa mengkhawatam bacaan Qur’an. Acara dilanjutkan dengan adat Molapi Saronde. Rebana kembali bertabuh. Suka cita dan senyuman seakan tak ada habisnya dari wajah calon mempelai pria. Ya, Tarian ini dilakukan oleh Sune sang calon pangantin. Bersama wali atau kerabat dekat Sune mesti menari di depan tamu yang hadir serta di depan calon istrinya, Saripa. Senyuman mengukir di setiap ketukan rebana yang membahana.
Saripa telah mengakui Sune adalah lelaki yang bisa merebut hati para perawan. Pandai ia bermain Pa’i. Piawai pula dirinya bermain pantun. Kini di depan khalayak Sune memperlihatkan kemampuan menari. Lekukan badan serta gerakan tangannya terlihat Sune adalah seorang seniman. Ia begitu terampil dalam menggerak-gerakan badan. Seiring tabuhan rebana yang bertalu-talu Sune tersipu-sipu di depan sang pujaan hati.
Tarian Saronde tak lepas dari selendang yang dipakai sang penari. Begitupun yang dilakukan Sune. Dengan kedua tangannya ia membentang selendang
54
yang tadinya melingkar dipundaknya. Syair-syair
tulunani didendangkan para tetua mengiringi langkah
Sune yang berputar-putar di depan kamar Saripa. Amboi, begitulah makna digelarnya upacara
mopotilandahu. Sang penari pria dapat mencuri-curi
pandang ke dalam kamar calon pengantin wanita sambil mencari siapa orang yang akan ditarik ke tengah ruangan untuk menari bersama. Memerah pipi Saripa melihat tingkah Sune meliuk-liuk di depan kamarnya.
Sune menyelesaikan tariannya dengan apik. Suka cita kembali membahana ketika Saripa mesti melakukan tarian di depan khalayak. Tarian itu dinamai Tidi atau Tidi Daa, biasa juga disebut Tidi Loilodiya. Tarian ini bermakna keberanian serta keyakinan calon mempelai wanita dalam berumah tangga. Bersama Putri Rawe, Saripa dengan anggun memperlihatkan kemampuan tarian mereka di depan tamu undangan. Saripa sengaja memilih Putri Rawe sebagai pendampingnya dalam membawakan Tidi Daa. Mereka telah berlatih lama untuk hari bahagia
55
itu. Saripa berharap, ketika kelak Putri Rawe akan melangsungkan pernikahan, dirinyalah yang akan dijadikan pendamping saat upacara motilandahu. Siapa jodoh sang putri kelak? Semoga dia adalah seorang pangeran.
57
10
Pernikahan Saripa dan
Lamaran Raja
esibukan keluarga Saripa sama besarnya dengan keluarga Sune yang telah sedia mengantarkan anak bujang mereka ke kediaman kerajaan. Sang raja memilih akad nikah dilangsungkan di dalam kediaman sang Raja. Hal itu merupakan penghormatan kepada Ka Pende yang lama mengabdi dan menjadi orang paling dipercaya Raja Palowa di dalam kerajaan. Sune telah
58
lengkap dengan pakaian adat khas yang disebut
makuta.
Kepala Sune telah berhias tudung menyerupai bulu unggas, menjulang ke atas dan ujungnya terkulai ke bawah. Penutup kepala itu biasa disebut laapia
bantali sibii dengan makna filosofi bahwa seorang
pria harus memiliki kemuliaan yang tinggi namun tetap bersikap tunduk dan lembut dalam menjalani kehidupan.
Dengan bibir bergetar Sune menggenggam tangan Ka Pende siap menjawab pertanyaan sakral dalam upacara akad nikah. Sementara itu, di dalam kamar, Saripa tampak tegang menanti jawaban apa yang akan diberikan calon suaminya itu. Tentu yang ia harapkan adalah jawaban yang tegas tanpa harus diulang oleh kedua orang saksi.
Putri Rawe tampak menenangkan Saripa dengan duduk di sampingnya dengan dada berdebar. Seolah ia sendiri yang sedang melangsungkan pernikahan. Di luar suara sang ayah sedang mengucapkan kalimat suci yang dirindukan setiap gadis yang telah
59
menemukan belahan jiwanya. Akhirnya, dari luar kamar suara membahana berucap “sah.” Gemuruh kalimat syukur ke hadirat Tuhan yang mahakuasa beriringan dengan rasa haru dalam hati Saripa. Tak terasa air mata Saripa menetes di pipi. Putri Rawe mengucapkan selamat kepada Saripa. Tiba-tiba, Sang Ratu memanggil Putri Rawe keluar kamar. Ada yang ingin disampaikannya pada putri kesayangannya itu.
“Anakku Putri Rawe, seorang utusan Kerajaan Suwawa telah datang hari ini. Kau dilamar Raja Mooduto,” terang Sang ibunda tercinta dengan lembut.
Hati Putri Rawe kaget bukang kepalang. Namun, tanpa diketahui sang ratu hatinya menyibak kegembiraan tiada tara.
“Raja Mooduto?” Ulang Putri Rawe meyakinkan. “Benar, Putriku. Kau dahulu pernah menghadiri acara pemakaman ayahanda Raja Mooduto. Diam-diam di situ ia menyimpan perasaan padamu. Saripa telah lebih dulu menemukan jodohnya. Apakah kau tak ingin mengikutinya”
60
Putri Rawe tak dapat menahan kebahagiaan yang membuncah dalam lubuk hatinya. Ia telah mengenal Raja Mooduto. Ia pun sudah banyak mengetahui kebaikan dan kebijaksanaan sang raja. Putri Rawe menahan keharuan dengan memeluk Saripa. Terkenang awal mula mereka berkawan, bermain Toyongo di bawah langge. Keduanya berbahagia. Sungguh, cinta dan persahabatan tak mengenal batas kasta. Cinta selamanya akan terus bersemayam di hati hamba-hamba lo Eya, tak peduli ia anak raja atau bukan.
61
Bagian Dua
Cerita Muhlisa Nurkamiden
62
Dalam cerita ini ada:
1. Tiga Anak Bunggo
2. Membuat Bunggo 3. Eksperimen 4. Apang Colo 5. Awuta 6. Malam Ramadan 7. Kemenangan
63
1
Tiga Anak Bunggo
1iga sahabat itu berlari tanpa alas kaki menuju sungai Bone2. Di sana, di hulu
sungai Bone, mereka biasanya mengambil bambu. Sangat riang gembira hingga terik yang semakin meninggi tidak mereka hiraukan. Gemerisik alunan daun bambu yang tertiup angin menemani langkah lincah mereka. Angin sepoi berembus membelai tubuh kurus tiga anak itu.
Mereka adalah Tune, Ato dan Nune, tiga anak berusia tiga belas tahun yang sudah bersahabat sejak kecil. Mereka adalah anak-anak kampung yang tidak pernah merasa kekurangan dalam keterbatasan orang tua. Anak-anak kampung yang tidak kehilangan kepercayaan diri dalam kesederhanaan. Anak-anak
1Bunggo adalah meriam yang terbuat dari bambu 2Bone adalah nama salah satu sungai besar di Gorontalo
64
kampung yang berusaha mandiri karena mengerti akan kondisi orang tua.
Sekilas pandang, ketiganya adalah anak-anak biasa, namun mereka adalah anak-anak istimewa dengan prestasi yang diperhitungkan. Meskipun dengan keterbatasan yang ada pada orang tua, tapi tidak membatasi keinginan mereka untuk menjadi orang hebat di masa depan. Mereka gigih belajar, karena mereka tahu cita-cita tidak hanya milik anak dengan sejuta koleksi buku pribadi, atau anak yang belajar bermediakan komputer lengkap dengan jaringan internet. Cita-cita milik semua orang, dan siapa yang bersungguh-sungguh itulah yang akan mendapatkannya.
Canda riang ketiganya semakin menjadi saat mereka mendapati air sungai tidak lagi deras. Sudah dua hari mereka tidak bisa menyeberang dan pulang dengan hati kecewa karena tidak mendapatkan bambu yang mereka inginkan. Hari ini senyum ketiganya begitu lebar. Mereka menyeberangi sungai sambil saling memercikkaan air kemudian berkejaran
65
menghentakkan kaki ke dalam suangi. Tertawa saat air membasahi tubuh mereka.
Ini sudah hari ketiga ramadan. Seperti ramadan-ramadan kemarin, ketiga anak ini akan sangat sibuk memilih bambu untuk dibuat Bunggo. Bunggo, sebuah permainan masyarakat Gorontalo ketika memasuki bulan puasa ramadan. Permainan sejenis meriam dengan dentuman khas untuk membangunkan orang sahur dan memberi tanda buka puasa. Masyarakat Gorontalo terutama anak-anak sangat bersukacita membuat bunggo.
Tidak hanya mahir di kelas, ketiga sahabat ini juga mahir dalam berniaga. Berawal dari keinginan untuk membantu orang tua dan niat untuk tidak terlalu membebani orang tua. Jiwa dagang ketiganya perlahan terasah baik. Jika di bulan-bulan lain mereka sibuk membuat mainan-mainan anak seperti mobil dari bambu untuk dijual pada teman-teman, di bulan ramadan mereka membuat bunggo. Ada banyak pesanan bunggo dari teman-teman. Mereka sangat bergembira membuatnya. Bunggo-bunggo buatan tiga
66
sahabat ini sudah terkenal sekecamatan. Julukan “tiga anak bunggo” pun disematkan pada mereka
67
2
Membuat Bunggo
ari keempat ramadan. Salat subuh baru saja usai. Tradisi jalan pagi pun dimulai. Kebiasaan orang kampung ini belum hilang. Jalan-jalan lepas salat subuh di bulan ramadan seolah wajib dilakukan terutama dihari-hari pertama ramadan. Tua muda, miskin kaya, kecil besar, semuaya meramaikan jalan. Mereka akan kembali ke rumah saat matahari bersinar.
Tiga sahabat ikut berjalan dalam rombongan anak seusia mereka. Banyak kawan-kawan satu sekolah yang ikut. Jalan pagi dengan suasana riang cukup mengobati rasa rindu akan kawan-kawan karena libur sekolah sebulan penuh. Dalam keseruan mereka, seorang teman menawarkan ide untuk pergi memancing di sungai.
“Bagaimana kalau kita pergi memancing di sungai kawan?” seru Cunu, seorang anak dari
68
keluarga berada di desa mereka. Teman-teman yang lain mengiyakan dengan senang, namun Tiga Anak Bunggo hanya saling melirik. Mereka teringat bambu-bambu yang mereka cari dengan susah payah kemarin. Hari ini mereka harus membuat tiga pesanan bunggo.
“Maaf kawan, kami tidak bisa ikut,” jawab Ato. “Ada apa? Memancing akan sangat menyenangkan.” Cunu berkomentar.
“Kami akan membuat bunggo pagi ini.” Tune menjawab.
“Ah…kalian bisa membuatnya besok atau lepas memancing nanti. Ikutlah bersama kami.” Cunu masih berusaha membujuk.
Cunu adalah anak orang berada. Ia berwatak keras. Ia punya sikap dominan di antara teman-teman sekelas. Dengan sikapnya itu, ia mudah memengaruhi teman-teman untuk mengikuti keinginannya. Kadang ia bersikap memandang remeh teman sekelas. Namun, mereka sudah terbiasa dengan sikapnya dan kadang tidak mengacuhkannya.
69
“Maaf kawan, minggu depan kami akan ikut lomba di kecamatan. Kami tidak punya uang untuk membeli sepatu baru, jadi kami harus segera membuat bunggo-bunggo itu agar bisa segera diantar pada pemiliknya dan lekas dibayar.” Nune bersikeras.
“Benarkah? Apakah kalian tetap akan ikut lomba itu?” tanya Cunu dengan senyum tidak yakin.
“Iya kawan. Insyaallah kami bersedia ikut.” Nune menjawab tegas.
Sejenak rombongan mereka hening. Antara ikut memancing dan membuat bunggo, itu yang ada di pikiran kawan-kawan yang lain. Sedangkan tiga sahabat, setelah ikut meramaikan jalan selama lima belas menit, mereka memisahkan diri. Mereka berlari ke arah rumah Tune, tempat bambu-bambu mereka disimpan.
Tune menyiapkan alat-alat yang akan mereka gunakan. Ato dan Nune membersihkan kembali sisa-sisa miang pada bambu dengan sabut kelapa. Betapa bahagianya mereka saat bapu3 Tune meluangkan
70
waktu untuk membantu mereka. Ia memang sering membantu mereka, bahkan sejak mereka kecil. Laki-laki tua itu pula yang mengajari mereka membuat mainan-mainan dari bambu, dari kaleng-kaleng bekas atau membuat mainan-mainan lain.
Satu warisan ilmu Bapu Tune yang sangat berguna adalah mobil-mobilan dari botol bekas oli. Rodanya terbuat dari potongan bambu. Sejak dua tahun lalu, mereka membuat mobil-mobilan seperti itu untuk dijual pada anak-anak lain. hasilnya sangat lumayan untuk membeli keperluan sekolah atau untuk jajan. Bunggo ini juga hasil ilmu yang diturunkan sang kakek. Berbeda dengan orang-orang yang menjuluki mereka dengan “tiga anak bunggo,” bapu lebih suka memanggil mereka dengan sebutan
tiga dinggota4. Dinggota adalah burung sawah yang
selalu ramai saat padi mulai menguning. Dinggota adalah burung kecil yang sangat lincah, juga hilai mencari makanan di semak-semak padi seperti ketiga anak ini, kecil dan lincah.
71
Tiga sahabat itu semakin sibuk dengan bambu-bambu mereka setelah bambu-bambu selesai dibersihkan. Mereka mulai melubangi ruas-ruas bambu. Tiba-tiba suara dari arah depan rumah terdengar memanggil nama Tune. Cunu dan kawan-kawan lain ternyata datang.
“Tidakkah kalian pergi memancing kawan?” tanya Ato menyambut kedatangan kawan-kawan mereka.
“Kami tidak pergi memancing. Kami bertemu dengan ti5 pak guru Hasan tadi. Dia menyuruh kami
untuk menemui kalian,” jawab Utu, salah satu dari mereka.
5Ti adalah kata tunjuk untuk laki-laki di Gorontalo
72
“Ada apa kawan?” Sejenak tiga sahabat itu berhenti dari pekerjaan mereka. Pak guru Hasan adalah guru yang membimbing mereka untuk mengikuti lomba kreatifitas siswa.
“Kalian diminta ke sekolah besok pagi Beliau akan menunggu kalian jam 09.00.” Cunu menjawab.
“Adakah pesannya yang lain?” tanya Nune melirik pada kawan-kawannya.
“Tidak.” Cunu menjawab singkat, matanya terpaku pada bambu-bambu yang mereka pegang.
“Terima kasih kawan. Bisakah kami bekerja kembali?” Tune menghargai kehadiran kawan-kawannya.
“Kami sudah disini, bisakah kami ikut membuat bunggo bersama kalian? Kami tidak bisa membuatnya sendiri, kami ingin belajar pada kalian dan Bapu.” Cunu setengah memohon pada Nune, Ato dan Tune. Mereka saling bertatapan, kemudian menatap sang
bapu hingga kata “boleh” terdengar dari Tune.
Sikap yang tidak biasa dari seorang Cunu, namun mereka menghargai itu. Biasanya Ia tidak
73
tertarik membuat mainan-mainan seperti ini. Apalagi ingin belajar membuatnya dari tiga anak bunggo. Sedikit aneh tapi mereka mengiyakan permintaannya. “Ajari kami cara membuatnya kawan.” Cunu serius bertanya. Di tangannya satu potongan bambu siap untuk dikerjakan. Kawan-kawan yang lain berdiri di sampingnya untuk membantu.
Nune yang paling mahir membuat bunggo di antara mereka menjelaskan pada Cunu dan kawan-kawan cara membuat bunggo.
1. Pertama kalian harus perhatikan bambu yang akan dibuat bunggo. Bambu yang dipakai adalah bambu yang besar dan keras juga tebal agar tidak mudah pecah seperti bambu-bambu ini.
2. Tentukan ruas untuk dijadikan pangkal. Pangkal bunggo adalah ruas yang lebih besar dari semua ruas.
74
3. Lubangi sekat-sekat ruas dengan menggunakan bambu yang sudah diruncing atau linggis hingga yang tersisa adalah ruas pada pangkal.
4. Buatlah lubang pemicu dentuman pada permukaan bambu dengan jarak kurang lebih 7 atau 8 CM dari ruas pangkal.
“Itulah cara membuatnya.” Tune menjelaskan tahap-tahap pembuatan bunggo. Sebenarnya membuat bungo sangat mudah, namun sebagian dari mereka enggan membuatnya sendiri. Zaman memang sudah berbeda. Dulu, para orang tua berlomba-lomba membuatnya sendiri, berlomba-lomba membuat bunggo dengan dentuman paling keras. Namun, saat ini anak-anak tidak mau bersusah payah membuat sendiri. Pergi mengambil bambu ke hulu sungai, kemudian membersihkan miang-miang bambu menciutkan nyali mereka dan membuat mereka tidak bersemangat. Terlebih lagi ada kawan-kawan yang menjualnya seperti tiga sahabat ini. Memiliki bunggo tanpa bertarung dengan miang tidak perlu lagi. Cukup
75
menyimpan uang jajan seminggu, mereka sudah bisa membeli bunggo.
77
3
Eksperimen
ang tang ting ting tang tang ting, Ato, Tune
dan Nune memainkan polopalo. Polopalo adalah alat musik tradisional dari Gorontalo. Mereka memukulkan polopalo pada lutut mereka yang sudah dilapisi karet. Mereka berusaha menciptakan nada sendiri yang enak didengar. Saat salah satunya keliru, mereka menghentikan pukulan sambil tertawa. Beginilah cara ketiga sahabat ini menghibur diri, atau memanfaatkan waktu. Seperti saat ini, mereka sedang menunggu pak guru Hasan yang belum juga datang.
Hari ini, kabarnya akan ada bimbingan untuk lomba program kreatifitas siswa yang akan mereka ikuti. Ada tiga kelompok yang akan diutus dari sekolah mereka. Kelompok satu adalah anak-anak kelas IX, kelompok dua anak-anak kelas VIII dan
78
kelompok tiga adalah mereka, anak-anak dari kelas VII.
Mereka sudah punya ide yang akan disampaikan pada sang guru. Bahkan, mereka sudah mulai merangkai karya yang akan mereka bawa nanti, namun masih banyak kendala yang mereka hadapi. Mereka juga butuh bimbingan untuk membuat makalah ilmiahnya.
Pak Hasan sudah tiba. Tiga sahabat meletakkan
polopalo mereka. Mereka adalah anak-anak yang
menghargai guru dalam setiap situasi. Meskipun hari ini hari libur dan pertemuan mereka tidak dalam kelas formal, namun mereka tidak lupa menjaga sikap sopan santun. Sopan pada guru adalah ciri-ciri anak yang serius akan cita-citanya, anak-anak yang ingin mempunyai masa depan cerah.
79
“Waalaikumsalam Pak Guru.” Ketiganya menjawab bersemangat.
“Bagaimana puasa kalian nak?” tanya Pak Hasan menatap mereka sembari tersenyum.
“Alhamdulillah lancer, Pak Guru.” Kompak ketiganya menjawab.
“Sudah berapa pesanan bunggo yang selesai kalian buat uti6?” Pertanyaan basa basi pak Guru yang
membuat mereka merasa pekerjaan mereka begitu berharga.
Baru tiga pak guru,” jawab Tune. Ato dan Nune ikut tertawa malu.
“Alhamdulillah, jangan sampai sibuk membuat bunggo kemudian lupa salat dan mengaji uti.” Pak Guru mengingatkan.
“Iya, Pak Guru,” serentak ketiganya menjawab. “Oh ya, bagaimana dengan karya kalian? Apakah kalian sudah mempunyai ide?” tanya Pak Hasan serius.
80
Tiga sahabat itu tersenyum. Ato, sang mekanik mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik berwarna hitam. Itu adalah sebuah mobil yang terbuat dari botol bekas oli. Rodanya terbuat dari bambu. Ada kabel-kabel kecil yang melilit teralinya.
“Kami menawarkan karya ini, Pak.” Ato meletakkan mobil itu di atas meja.
“Kami sudah menyimak pedoman penulisan yang Pak Guru jelaskan kemarin. Karya yang kami buat adalah karya ramah lingkungan. Memanfaatkan sampah-sampah bekas menjadi barang bernial jual. Karya itu minimal membawa perubahan pada lingkungan kita sendiri. Kampung kita punya tiga bengkel yang memiliki banyak botol bekas oli. Selain itu, kita memanfaatkan salah satu kekayaan desa kita, Pak, yakni bambu. Karya ini adalah perpaduan antara pemanfaatan sampah bekas dan kekayaan desa sekaligus pelestarian mainan lokal sederhana.” Nune menjelaskan penuh semangat, sembari memegang mobil yang diletakkan di atas meja.
81
Kata-kata yang ia sampaikan adalah kata-kata yang ia dapatkan saat bercerita dan meminta saran dari kak Mirna, kakak sepupunya yang sedang kuliah.
“Ide yang bagus anak-anak. Lalu kabel-kebal kecil itu untuk apa?” Pak guru mengerutkan dahi. Matanya terpaku pada kabel yang melilit bagian pada bagian bawah mobil.
“Awalnya kami ingin menjadikan mainan lokal ini berkelas modern dengan menjadikannya mobil yang bisa berjalan sendiri. Kami mencoba menggunakan dinamo mainan mobil bekas yang sudah rusak, namun kami belum berhasil merangkainya.” Ato menjelaskan sambil tersenyum malu.
82
“Ide kalian sangat brilian anak-anak. Pak Guru sangat setuju dengan karya ini. Kita akan merangkai mesinnya bersama-sama.” Kata-kata Pak Guru seolah angin segar yang membelai ketiganya. Mereka sangat senang Pak Hasan antusias menerima ide mereka. Pak Hasan dengan senang hati akan membantu mereka merangkai mobil seperti yang mereka inginkan.
“Coba perlihatkan bagaimana kalian merangkai mobil ini dan memasang dinamo.” Pak guru meminta mereka untuk mempraktikkan cara mereka merangkai mesin mobil.
Tune sang mekanik mengambil alih pekerjaan itu. Tangannya bergerak pelan merangkai kabel dinamo dan potongan kabel kecil yang sudah dililit isulasi pada baterai. Pak Guru memperhatikan dengan saksama. Namun setelah kabel saling dikaitkan, mobil itu masih tidak bergerak. Tune kembali mengulangnya, hasilnya masih sama, mobil itu tetap diam. Ia menyerah.
83
Tune mengangkat wajahnya. Ada isyarat tanya “Apa yang salah?” dari raut wajah polos itu. Pak guru tersenyum sembari semakin mendekat padanya.
“Mobil ini tidak akan bisa bergerak jika dinamonya tidak tersambung ke roda mobil uti.” Senyum Pak Hasan semakin merekah.
Ketiga anak itu ikut tersenyum. Tune menepuk jidat. Ia menyadari kekeliruannya. Dengan gerak cepat dan bersemangat ia berlari keluar kelas. Sesaat kemudian ia kembali dengan membawa sedotan bekas dan gelang karet. Ia kembali ke tempatnya, kali ini ia bekerja sambil berdiri. Sedotan ia lilit dengan selotip. Kemudian kabel kecil dari dinamo Ia hubungkan ke sedotan. Karet tadi ia pasang di permukaan sedotan dan dikaitkan pada roda mobil. Selanjutnya, ia mencoba mengikatkan kembali kabel dari dinamo dan kabel pada baterai. Mobil itu pun bergerak. Beruntung sejak kelas lima SD ia sering membantu Kak Rusu bekerja di bengkel. Ia ternyata menyimak dengan baik apa yang dikerjakan Kak Rusu. Kadang ia turun tangan langsung dengan