Politik dan Patriarki
S
tudi ini memperkuat studi Burns, Schlozman, Verba (2001) bahwa ketidaksetaraan gender melekat dalam institusi non-politik dalam hal ini adalah organisasi sukarela. Dalam studi ini faktor tersebut dipengaruhi oleh sosialisasi dalam keluarga. Demikian juga studi ini menunjukan kecenderungan yang serupa dengan Desposato dan Norrander di negera-negara Amerika Latin (2008) bahwa kesenjangan gender dalam partisipasi politik masih kuat. Studi ini memperkuat studi-studi tentang keterbatasan politik perempuan di Indonesia sebagaimana dinyatakan Seda (2002), Nurland (2002), Soecipto (2005), Rustanto (2008) dan Fatmariza (2012).Melalui survey dan wawancara mendalam, penelitian ini memberikan bukti tentang kesenjangan gender yang masih sangat kuat dalam aktifitas politik oposisi dan partisipasi politik di kampus. Dalam aktifitas partisipasi politik oposisi yang didefinisikan dalam bentuk protes seperti demonstrasi, tanda tangan petisi, boykot, mogok, terdapat selisih sampai 3-15% untuk partisipasi dalam aktifitas tersebut. Demikian juga dengan partisipasi politik di kampus yang dilihat seleksi kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa dan dari aktifitas dalam BEM, kesenjangan gender masih
tinggi. Akan tetapi selain menunjukan fakta kesenjangan gender sebagai bentuk dari kultur patriarki dalam politik, juga terjadi fenomena refleksifitas mahasiswa perempuan yang memungkinkan mereka untuk berpartisipasi secara aktif dalam partisipasi politik oposisi maupun dalam partisipasi politik di kampus sebagaimana akan dibahas dalam bab 6, refleksi teoritis.
Munculnya refleksifitas tersebut, bisa dihubungkan dengan pengaruh sosialisasi politik sekunder. Dari hasil path analysis, kesimpulan secara umum dari studi ini memperkuat studi sebelumnya seperti yang dilakukan Mujani (2003) dan Lussier (2011), karena hasilnya menunjukan bahwa organisasi sukarela memiliki pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik mahasiswa. Akan tetapi, dengan menggunakan bantuan software LISREL 8.7 Student, meskipun organisasi mahasiswa dan gender merupakan faktor yang selalu signifikan berpengaruh terhadap partisipasi politik mahasiswa dalam setiap model, frekuensi mengekspresikan pendapat melalui internet memiliki kontribusi lebih penting. Demikian juga, dari 3 jenis organisasi sukarela yang diuji, jenis organisasi sukarela yang tetap signifikan dalam tiga model adalah organisasi mahasiswa. Sedangkan organisasi agama memiliki korelasi positif dengan organisasi mahasiswa, tetapi memiliki t hitung<t-tabel ketika dimasukan faktor frekuensi mengekspresikan pendapat melalui internet. Organisasi komunitas dan hobi tidak signifikan dalam semua model. Demikian juga sosialisasi primer dalam keluarga tidak memiliki pengaruh langsung tetapi memiliki pengaruh tidak langsung melalui organisasi sukarela. Status sosial ekonomi (SSE) dan tingkat pendidikan tidak memiliki pengaruh signifikan. Dengan kata lain, temuan ini menunjukan pentingnya sosialisasi sekunder melalui organisasi sukarela dan internet dalam partisipasi politik mahasiswa dibandingkan dengan sosialisasi primer.
mahasiswa dalam mendorong partisipasi politik dan demokrasi (Aspinal, 1993., Jackson, 2005., Lussier, 2011). Pengaruh yang signifikan dari organisasi mahasiswa terhadap dependen variabel diperkuat dengan hasil wawancara mendalam juga menunjukan bahwa penelitian ini memperkuat Swank (2012) dan Taylor & Clerkin (2011) yang menguji teori mobilisasi struktur (mobilizing structure) dan kerangka berfikir aksi kolektif (collective action frame). Memiliki teman yang berfikir positif tentang politik akan mempengaruhi tingkat partisipasi politik seseorang.
Akan tetapi, penelitian ini tidak memberikan cukup bukti apakah motivasi untuk melayani masyarakat (publik service motivation) sebagai faktor yang sangat berpengaruh terhadap aktifitas partisipasi politik mahasiswa. Meskipun melalui wawancara mendalam terdapat kepercayaan yang tinggi dari informan tentang pentingnya aktifitas oposisi mahasiswa untuk kepentingan umum, tetapi data dalam penelitian ini juga menunjukan bergesernya aktifitas partisipasi politik mahasiswa yang tidak semata-mata sebagai aksi untuk menyalurkan aspirasi masyarakat
Melalui wawancara mendalam, studi ini memberikan data tentang mahasiswa sebagai kelompok yang dekat dengan perubahan masih mengalami hambatan dalam partisipasi politik. Dengan berdasarkan hasil wawancara mendalam maka konsep kondisi struktur (structural conditioning) dan kondisi kultur (cultural conditioning) yang yang diperkenalkan Archer (2010) menunjukan dominasi laki-laki dalam politik sangat kuat. Argumen-argumen yang muncul dalam beberapa wawancara dengan beberapa informan menunjukan bahwa laki-laki memiliki otoritas lebih dalam struktur keluarga maupun struktur organisasi mahasiswa.
“…Dalam hal memimpin, apalagi disini kan ayah sebagai pemimpin hidup keluarga. Perempuan perlu di bimbing untuk menjalani hidupnya..” (Wawancara dengan R, 25 Juni 2014)
“…Hakikat perempuan yang berasal dari biologis dia. Mengandung, melahirkan, membesarkan anak, melayani suami. Saya fikir perempuan
tetap harus melayani suami, mengurusi anak-anaknya walaupun dia wanita karir…” (Wawancara dengan Am, 24 Juni 2014).
“….Biasanya di masyarakat anak perempuan itu lebih dibatasi, ruang geraknya. Kaya waktu dulu sekolah, waktu SMP, SMA kan sering ada pelantikan apa, dimana. Kaya gitu ga boleh. Katanya perempuan jangan sering pulang malem-malem. Bahkan saya SMA jam 3 sore di telpon suruh pulang. Jadi, menurut saya faktor lingkungan keluarga atau orang tua mempengaruhi menurut saya…” (Wawancara dengan N, 4 Juli 2014). “…..Ketika perempuan terjun ke politik tidak masalah, karena perempuan kan lebih pintar dalam melobi, seperti dalam berbicara kan lebih bias perempuan daripada laki-laki dan yang saya alami di LDK ya sama kaya peminjaman tempat ya tetep perempuan yang melobi. Kalau hanya terjun di politik ya tidak masalah yang penting tidak jadi ketua….” (Wawancara dengan M, 4 Juli 2014).
Pemikiran bahwa perempuan perlu dibimbing dan pengalaman seorang informan bahwa dia tidak boleh ikut kegiatan ekstrakurikuler karena kegiatan tersebut dianggap sebagai kegiatan laki-laki merupakan bentuk manifestasi dari kultur yang patriarki juga dituturkan oleh seorang informan:
“…Ada hambatan buat perempuan untuk aktif di kampus, kaya seperti kalau aktifis pulang malam apalagi seorang perempuan mungkin tidak terlalu dianggap positif. Tapi kalau saya sendiri, selama saya jaga sikap dan bersifat positif, kalau pulang malam diantar dengan perempuan di temani laki-laki di motor lain hanya sifatnya menjaga takut ada apa-apa. Dan harus mempertimbangkan waktu jangan pulang terlalu malam. Sedangkan kalau laki-laki kan bebas-bebas saja…” (Wawancara dengan R, 25 Juni 2014) “…Kalau di kampung saya kalau perempuan pulang malam, jangankan sama tetangga, sama nenek saya saja saya sering ditegur, dinasehati perempuan gak boleh ini gak boleh itu….” (Wawancara dengan A, 25 Juni 2014)
Sementara aktifitas politik meskipun politik kampus adalah aktifitas yang lebih banyak diatur dengan cara-cara yang maskulin.
“…Kalau mau aktif di organisasi memang kita pulangnya malam, karena kalau pagi kuliah ngurusi masalah kampus. Kalau acara organisasi, seperti ketemu orang, ketemu senior, biasanya habis maghrib sekitar jam 19.00- 01.00. Jadi pulang malam buat saya bukan masalah….”(Wawancara dengan Am, 25 Juni 2014)
“….Rapat organisasi pasti malam. Teman-teman laki-laki yang membuatnya seperti itu. Alasannya karena siang kuliah, jadi baru malam bisa dilakukan. Itu kan menghambat teman-teman perempuan yang tinggal di asrama, atau kostan tutup….” (Wawancara dengan A, 24 Juni, 2014).
Misalnya mahasiswa yang tidak aktif dalam organisasi ekstra cenderung mempertahankan kondisi yang sudah ada.
“…Perempuan aktif di politik kampus ya ga apa-apa, cuman kalau saya sendiri engga tertarik, temen-temen dan background keluarga juga ga ada yang kaya gitu si, ya gak ada pemikiran buat kesitu-situ…” (Wawancara dengan F, 4 Juli 2014).
“…Ya, setau saya Islam gak mendorong perempuan untuk aktif politik, karena kodrat perempuan ga kaya gitu, ga yang aktif-aktif banget. Keluarga saya sendiri rata-rata ya ibu rumah tangga, paling mentok pekerja kantoran kaya kerja di bank…” (Wawancara dengan F, 4 Juli 2014).
Dengan demikian, terdapat beberapa hambatan
mahasiswa perempuan. Faktor pertama adalah keluarga
sebagai agen sosialisasi primer cenderung mensosialisasikan peran laki-laki dan perempuan secara berbeda. Sejak lahir anak perempuan dan anak laki-laki diperlakukan secara berbeda. Anak perempuan diharapkan untuk bersikap feminim dan tidak agresif dan aktif seperti anak laki-laki. (Scanzoni & Scanzoni, 1981 hal 17 & 55). Dalam sebuah wawancara seorang informan menyatakan, “Saya orang kampung, dan nenek saya kolot sekali. Apa-apa gak boleh, nanti dosa, perempuan gak boleh pulang malam-malam.” Juga pengalaman merasakan kehawatiran orang tua yang berbeda terhadap anak perempuan sebagaimana diungkapkan oleh informan lain, “Orang tua saya pasti hawatir dengan aktifitas saya di organisasi yang mengharuskan saya pulang malam, dan kalau tahu ya resikonya diomelin, gak usah begitu banget jadi mahasiswa yang wajar-wajar saja. Ikut kegiatan yang normal-normal saja, paling malam jam 09.00 lah...”
Kedua, pengetahuan, sikap dan kepentingan untuk
mempertahankan kondisi yang menguntungkan laki-laki menjadi suatu keyakinan antara lain ditanamkan melalui institusi pendidikan seperti Pesantren dan Madrasah Aliyah.
“….Waktu di pesantren kan saya mendapatkan pelajaran pokoknya buat perempuan orientasinya harus berbakti sama suami, pokoknya suamilah yang selalu jadi tujuan utama untuk perempuan. Tetapi ketika saya sudah kuliah di UIN saya merasa berubah. Ada Aisyah, ada Khadijah yang juga ikut perang membela Islam. Sebagai perempuan, mereka sudah berperan banyak. Dari situ saya merasa saya banyak berubah dalam memahami agama…” (Wawancara dengan L, 30 Juni 2014)
Demikian juga informan lain yang mendapatkan pendidikan di Madrasah Aliyah non-pesantren sebelum masuk ke perguruan tinggi menyatakan, “Ya, setahu saya Islam gak mendorong perempuan untuk aktif politik, karena kodrat perempuan ga kaya gitu, ga yang aktif-aktif banget.” Pernyataan informan tersebut tentu bukan hal yang baru karena doktrin peran gender seperti apa yang diajarkan dalam pesantren atau institusi pendidikan lainnya sangat tergantung dari perspektif gender yang difahami oleh pimpinan pondok pesantren. Meskipun dalam studi lain (Misalnya Afiah, 2014) pesantren berperan menjad factor enabling bagi kesetaraan gender, namun dalam wawancara mendalam ini informan mendapatkan pendidikan dari pesantren yang lebih berorientasi peran gender tradisional.
Kehawatiran mahasiswa perempuan jika aktif dalam organisasi mahasiswa akan membuat prestasi akademik mereka menurun juga menghambat perempuan untuk aktif dalam partisipasi politik. Jika mahasiswa laki-laki pada umumnya merasa tidak terlalu masalah dalam hal masa studi yang cukup lama, maka mahasiswa perempuan pada umumnya menganggap aktifitas partisipasi politik sebagai hal yang tidak bermanfaat.
“….Kemarin waktu jadi kandidat BEM Fakultas yang meminta juga teman laki-laki. Kalau teman-teman perempuan malah bilang buat apa sih.. ntar alah ganggu kuliah…” (Wawancara dengan A, tanggal 25 Juni 2014).
Seorang informan menyatakan bahwa meskipun awalnya dia ingin mencalonkan diri sebagai ketua cabang sebuah organisasi
sebenernya bukan tidak mau aktif. Tapi karena semester yang sudah segini, maka saya tidak mau mempunyai jabatan yang menumpukkan tanggung jawab yang terlalu besar.” Sebaliknya bagi informan laki-laki, meskipun dia berada pada semester yang lebih tinggi, dia merasa bahwa amanah untuk menjabat sebagai ketua dalam organisasi adalah sebuah bentuk pengabdian, yang ia yakini sebagai suatu pengalaman yang sangat bermanfaat baginya. Demikian juga ketika perempuan dihadapkan pada pilihan prestasi akademik dan kesempatan menjadi pemimpin organisasi maka pilihan mahasiswa perempuan adalah untuk lebih fokus pada prestasi akademik. Karena dunia akademik merupakan “zona aman”, menghindari konflik, dan bersitegang dengan teman.
Pengalaman perempuan dalam posisi kepemimpinan juga berbeda dengan pemimpin laki-laki dimana mereka mendapatkan tantangan yang cukup serius dari mitra kerjanya yang laki-laki. Sebagaimana disampaikan oleh informan ketua BEM sebuah fakultas,
“….Kalau saya merasa meskipun saya ketua BEM tapi teman-teman tidak terlalu mau mendengarkan saya. Aku sulit menggerakan teman-teman ahirnya saya kerja sendiri. Kalau dibandingkan dengan ketua komisariat yang laki-laki itu kerasa sekali bedanya. Kayaknya teman-teman lebih cenderung aktif di komisariat daripada di BEM…”(Wawancara dengan S, 25 Juni 2014).
Demikian juga pengalaman merasa tidak dihargai sebagai ketua dirasakan oleh informan lain. Ada kecenderungan laki-laki yang menjadi mitra kerjanya untuk tidak mau berkordinasi dan tidak mau menjalankan prosedur organisasi. Pemimpin perempuan seringkali dianggap tidak mampu, harus bekerja lebih keras karena sering mengalami kesulitan untuk mengordinir mitra kerjanya, dan seringkali dianggap emosional.
“….Dulu jadi pernah ada permasalahan waktu ada seseorang yang menyelewengkan uang dan dia tidak mau membuat laporan pertanggungjawaban. Dia mengorganisir seminar tapi tidak melibatkan struktur dan akhirnya saya menegur. Dan saya bilang silahkan saja kegiatan
dilaksanakan tapi tolonglah pertanggung jawabannya jangan setengah-setengah jadi udah dapet uang tapi tidak bertanggungjawab. Akhirnya dia nyerang balik dan dia tidak terima saya tegur. Dan saya terus nangis. Tapi di sini saya nangis bukan karena saya merasa tidak mampu, tapi karena saya harus mendobrak ini, kita harus mendobrak laki-laki itu. Ya dia engga bisa sembarangan gitu, dilihat lah saya perempuan-perempuan tapi saya pemimpinnya…” (Wawancara dengan Sa, 1 Juli 2014).
Dalam partisipasi politik yang bertujuan untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah hambatan bagi perempuan untuk berpartisipasi secara efektif lebih kuat. Mahasiswa perempuan cenderung pasif dalam aktifitas oposisi karena kegiatan tersebut dianggap tidak pantas buat perempuan.
“…Kalo menurut saya si terkadang perempuan itu mementingkan penampilan jadi misalkan ikut demo, kan panas, trus mau ke tempat demo kan bukannya kita pake mobil AC tapi pake motromini, desek-desekkan, juga yang dilarang orang tua, karena perempuan katanya harus feminim. Ngapain si demo-demo, terus ada juga yang diblangin sama orang tua kalo kamu di kuliahin itu buat belajar, jadi perempuan kan kebanyakan lebih manut. Ada juga yang temanen dengan temen kurang mendukung karena dia ada di komunitas orang-orang yang kurang suka akan hal-hal kaya gitu, padahal dia suka tapi karena pengaruh temen-temen jadinya dia ikut kurang suka…” (Wawancara dengan Sa, 1 Juli 2014).
“…Keterlibatan temen-temen perempuan selama ini menurut saya nilai-nilainya sudah sedikit bergeser,ikut demo itu ya ikut happy-happy aja. Narsis-narsis aja, ya ikut-ikut saja…” (Wawancara dengan J, 1 Juli 2014).
Mengurangi budaya patriarki dalam partisipasi politik mahasiswa bermakna adaptasi terhadap nilai-nilai politik yang maskulin.
“…Kata orang kan politik itu jahat dan saya sendiri juga percaya karena sudah mengalami politik kecil-kecilan di kampus. Jadi waktu pemilihan raya (PEMIRA) ketua BEMF dan BMJ dulu kan sempat terjadi pengepungan bahkan penyerangan dari kubu lawan menggunakan senjata tajam sampai polisi datang. Mafianya ada, yang bergerak di bawah tanah ada. Kalo mafia sendiri itu kan orang yang kalo didepan ga keliatan padahal dia ikut bergerak di belakangnya, trus perekrutan-perekrutan…” (Wawancara dengan Sa, I Juli 2014).
itu ngomonginnya politik melulu, mau politik kampus lah.. politik apa….. lahh… Perempuan, mereka lebih kaya menghindari itu. Mungkin yang pas bagi sebagian kecil, karena banyak konflik di dalamnya, konfliknya sendiri dari sikut sana sikut sini, kalo khususnya di kampus itu kaya menyita waktu, terus kalo biasanya aktif di kampus kan kalo udah selesai kuliah kumpul dulu atau ada kegiatan apa. Tapi perempuan biasanya ya enakan pulang karena udah cape ya mending pulang, ngapain lagi….” (Wawancara dengan Sa, I Juli 2014)..
Dalam wawancara mendalam, selain pengakuan informan tentang kesadaran pentingnya peran mahasiswa sebagai pengontrol pemerintah, mereka juga menyatakan persoalan serius yang mencederai peran mahasiswa tersebut. Munculnya “demonstrasi bayaran” menjadi kendala baik bagi mahasiswa laki-laki maupun mahasiswa perempuan yang idealis. Bahkan seorang informan laki-laki menyatakan jika mahasiswa melakukan demonstarsi untuk dibayar, lebih baik demonstrasi dilarang buat mahasiswa (Wawancara dengan I, 1 Juli 2014). Munculnya demonstrasi bayaran tidak banyak dibahas dalam studi sebelumya (Jackson, 2005; Aspinal, 1993), meskipun gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik telah dibahas dalam studi Hasibuan (2010).
Pengalaman buruk informan perempuan dalam politik kampus menyebabkan ia tidak ingin lagi menekuni karir politik.
“…Waktu awal kuliah saya fikir jadi anggota legislatif itu keren, tapi sekarang saya lebih tertarik jadi pengamat politik. Jadi politisi gak perlu pintar, tapi kalau jadi pengamat kan harus pinter…” (Wawancara dengan A, 25 Juni 2014).
Kondisi struktur dan kultur yang belum sepenuhnya memberi ruang bagi perempuan tersebut, sejalan dengan studi Adamson (1999) yang menyatakan bahwa Orde Reformasi masih belum memberikan pengaruh yang signifikan bagi perempuan. Demikian juga studi ini memiliki kecenderungan yang sama dengan kondisi di Sumatera Barat di mana prasyarat sosial bagi kehadiran perempuan belum terpenuhi sehingga perempuan mengalami keterbatasan dalam mengartikulasikan kepentingannya (Rustanto, 2008).Selain itu, kondisi kultur dan struktur yang dialami oleh mahasiswa
perempuan tidak jauh berbeda dengan hambatan yang dialami oleh perempuan di Minangkabau sehingga mereka mengalami kesulitan ketika hendak mengisi peran dalam kebijakan kembali ke Nagari dalam studi Fatmariza (2012).
Refleksifitas dan Munculnya Habitus Baru
Habitus dan tradisi baru sangat mungkin terjadi karena adanya program pemerintah, komunikasi internasional, pemahaman agama yang semakin beragam (ramification for religion), teknologi, dan ideologi politik. Demikian juga komitmen bersama, antusiasme (kemampuan untuk mengajari atau kemauan untuk berpartisipasi) merupakan faktor yang mendorong perubahan kultur dan struktur (morphogenesis).
Dalam studi ini, program pemerintah dan komunikasi internasional tidak banyak didiskusikan secara mendalam. Sebaliknya terdapat banyak bukti yang menunjukan munculnya pemahaman agama yang semakin beragam, terutama dalam hal kepemimpinan dan peran publik perempuan di kalangan mahasiswa perempuan. Dengan latar belakang kehidupan di desa yang sangat kental dengan budaya patriarki, beberapa informan menyatakan perubahan yang sangat signifikan setelah mengalami kuliah di UIN Jakarta dan aktif di organisasi mahasiswa. Dengan demikian, meskipun agen dan struktur/kultur saling terkait tetapi keduanya beroperasi secara diakronis dalam sistem waktu yang berbeda. Kondisi struktur dan kultur yang ada sebelum tindakan, dan menghambat partisipasi politik mahasiswa perempuandirefleksikan sedemikian rupa karena agen sebagaimana dinyatakan Archer (2010, 2013),selalu mentransformasi struktur tersebutsehingga selalu terjadi elaborasi struktur dan kultur dalam setiap tindakan agen.
“…Saya mengalami suatu perubahan pandangan yang sangat signifikan. Saya orang kampung, dan nenek saya kolot sekali. Apa-apa gak boleh,
membedakan saya dengan laki-laki ya keimanan dan ketakwaan, bukan karena saya perempuan. Yang membedakan saya dengan teman laki-laki saya karena beda alat reproduksi saja. Sedangkan yang lain peran saya dalam kehidupan sosial sama…” (Wawancara dengan A, 25 Juni 2014).
Salah satu aspek di mana mahasiswa perempuan melakukan refleksifitas terhadap kondisi stuktur keluarga adalah tentang peran domestik perempuan. Meskipun pada umumnya informan menyepakati pentingnya perempuan untuk tidak meninggalkan posisi sebagai ibu rumah tangga, tetap memberikan prioritas peran perempuan dalam pengasuhan anak, mereka memberikan porsi yang penting bagi perempuan untuk memiliki peran publik dan peran politik.
“…..Menurut saya goal dari kesetaraan itu bukan menolak peran domestik perempuan. Menjalani peran domestik pun, jika itu dilakukan dengan kesadaran saya kira itu bagian dari peran perempuan yang terhormat. Itu pilihan hidup mau jadi politisi, mau jadi dosen semua adalah bagian dari menjalani ketakwaan itu. Ibu rumah tangga tidak lebih bertakwa dari politisi dan sebaliknya. Tetapi kalau perempuan dipaksa menjadi ibu rumahtangga saja, itu menghambat potensi perempuan, dan merupakan pembodohan buat perempuan…” (Wawancara dengan A, 25 Juni 2014). “….Saya kira pantas-pantas saja perempuan menjadi politisi. Tentu saja tidak semua perempuan harus menjadi politikus. Banyak juga bidang lain yang bisa dikuasai perempuan, tetapi ketika perempuan milih menjadi politikus ya pas saja karena perempuan pasti membutuhkan kebijakan yang berfihak kepada perempuan. Kalau bukan perempuan sendiri yang turun siapa lagi yang mengerti…” (Wawancara dengan Am, 24 Juni 2014).
Seiring dengan waktu, informan menyatakan perubahan yang mereka alami. Sebagaimana dalam kutipan wawancara sebelumnya, pada saat mereka tinggal di lingkungan keluarganya dan pada saat mereka tinggal di pesantren, mereka merasa perbedaan peran sosial perempuan dan laki-laki sangat kuat. Tetapi seiring dengan waktu dan pengetahuan yang bertambah, pemahaman tetang peran domestik dan publik perempuan pun berubah. Pada mahasiswa aktivis kecenderungan aktor untuk melakukan refleksi terhadap kultur dan struktur lebih intensif dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak aktif. Hal ini sejalan dengan temuan dari analisis
kuantitatif inferensial dengan menggunakan path analysis bahwa keaktifan dalam organisasi mahasiswa merupakan faktor yang sangat signifikan mempengaruhi partisipasi politik mahasiswa. Dalam wawancara mendalam ditemukan beberapa sikap dan tindakan sebagai hasil interaksi aktor dengan struktur dan kultur patriarki. Ketidaksetujuan terhadap dominasi laki-laki di ruang publik dan tradisi yang menempatkan perempuan di ranah domestik saja juga diekspresikan oleh mahasiswa yang memilih tidak aktif dalam organisasi ekstra dan maupun oganisasi intra kampus.
“…Saya nggak setuju kalau perempuan cuma jadi ibu rumah tangga saja. Sebagai perempuan, dia juga perlu untuk mandiri, kalau tiba-tiba nanti terjadi sesuatu sama keluarganya trus dia ga punya backingan ga bisa ngapa-ngapain…” (Wawancara dengan F, 4 Juni 2014).
Di satu sisi kesenjangan gender tradisional yang masih sangat kuat sebagaimana muncul dalam data deskriptif, memperkuat studi masyarakat Kabyle oleh Bourdieu yang menegaskan kembali bahwa perbedaan gender adalah perbedaan jenis kelamin. Studi Bourdieu tersebut membenarkan bahwa tempat laki-laki dan perempuan memang berbeda. Laki-laki berada pada wilayah di luar “rumah” dan selalu mendominasi aktifitas publik, sementara perempuan berada di wilayah “domestik”. Namun di sisi lain wawancara mendalam memberi bukti terhadap pemikiran Archer bahwa perilaku manusia tidak bisa dibatasi oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat.