DARI PATRIARKI MENUJU
POLITIK KESETARAAN
Studi Refleksifitas & Partisipasi Politik Mahasiswi
Dari Patriarki Menuju Politik Kesetaraan Studi Refleksifitas & Partisipasi Politik Mahasiswi Dr. Dzuriyatun Toyibah, M. Si, M. A.
© LKiS, 2020
xii + 184 halaman; 14,5 x 21 cm ISBN: 978-623-7177- Editor: Ahmala Arifin
Rancang Sampul : Il Kamilano Penata Isi : Tim Redaksi Penerbit:
LKiS
Salakan Baru No. 1 Sewon Bantul Jl. Parangtritis Km. 4,4 Yogyakarta Telp.: (0274) 387194 Faks.: (0274) 379430 http://www.lkis.co.id e-mail: [email protected] Anggota IKAPI Cetakan : 2020 Percetakan: LKiS
Salakan Baru No. 3 Sewon Bantul Jl. Parangtritis Km. 4,4 Yogyakarta Telp.: (0274) 387194
KATA PENGANTAR
B
uku ini mendiskusikan upaya-upaya yang dilakukan oleh mahasiswa perempuan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta agar bisa berpartisipasi dalam politik, baik di kampus maupun di luar kampus. UIN Jakarta yang dijuluki sebagai kampus pembaharu menjadi lembaga pendidikan yang sangat kondusif untuk berkembangnya pemikiran dan tindakan progresif. Akan tetapi, dengan latar belakang keluarga yang pada umumnya masih memegang prinsip pembagian peran antara laki-laki dan perempuan secara ketat, mahasiswa perempuan yang aktif dalam oranisasi kemahasiswaan harus berani mengambil pilihan untuk berbeda dengan kebiasaan awal yang disosialisasikan oleh keluarga mereka dan juga oleh lembaga pendidikan.Buku yang berjudul Dari Patriarki Menuju Politik Kesetaraan: Studi Refleksifitas & Partisipasi Politik Mahasiswi memberikan gambaran tentang habitus mahasiswi yang pada umumnya tidak mendukung mereka untuk aktif dalam politik. Dengan melalui proses pendidikan dan juga keterlibatan dalam organiganisasi mahasiswa mereka mendapatkan kekuatan untuk berubah dengan melalui refleksifitas terhadap doktrin-doktrin agama dan juga skill yang mereka dapatkan dalam organisasi-organisasi mahasiswa dan organisasi lain di mana mereka terlibat. Dengan kata lain
pendidikan yang didapatkan dari universitas dan juga engagement dengan organisasi sukarela membuat mahasiswa memiliki kekuatan powerful sehingga agency untuk mengubah budaya patriarki menjadi politik berkesetaraan dimungkinkan.
Meskipun demikian, refleksifitas yang terjadi bersifat evolutif sehingga perlu terus dijaga agar patriarki terus terkikis dan kesetaraan terus menguat demi terwujudnya politik yang demokratis dan berkeadilan.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ~ v DAFTAR ISI ~ vii DAFTAR TABEL ~ ix DAFTAR GAMBAR ~ xi
BAB 1 PENDAHULUAN ~ 1
Mendefinisikan Partisipasi Politik ~ 1 Gender, Mahasiswa & Partisipasi Politik ~ 8 Pengaruh Budaya Patriarki ~ 18
Habitus dan Politik Patriarchy ~ 23
BAB 2 PARTISIPASI POLITIK MAHASISWA INDONESIA ~ 29 Partisipasi Mahasiswa dalam Perubahan Politik ~ 29
BAB 3 PARTISIPASI POLITIK MAHASISWA DI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA ~ 39
Indikator Untuk Melihat Partisipasi Politik Mahasiswa ~ 44 Aspek Demografi ~ 51
Perbandingan Tempat Tinggal Berdasarkan Jenis Kelamin ~ 56 Potret Kesenjangan Gender Dalam Partisipasi Mahasiswa ~ 58 Kesenjangan Gender dalam Partisipasi Politik Mahasiswa ~ 58 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi Politik Mahasiswa dengan Path Analysis ~ 86
BAB 4 PATRIARKI DALAM POLITIK DAN REFLEKSIFITAS MAHASISWI ~ 97
Politik dan Patriarki ~ 97
Refleksifitas dan Munculnya Habitus Baru ~ 106 Pengaruh Organisasi Sukarela ~ 113
Pengaruh Status Sosial Ekonomi (SSE) dan Sosialisasi Keluarga ~ 131
BAB 5 AGENCY MAHASISWA & POLITIK KESETARAAN ~ 141 Partisipasi Politik Perempuan: Habitus dan Refleksifitas ~ 141 Kemunculan Hal Yang Baru (The Emergent Entity) ~ 151
Partisipasi Politik Perempuan, Lembaga Pendidikan Islam, dan Perubahan Sosial ~ 161
Kesimpulan & Rekomendasi ~ 163
DAFTAR REFERENSI ~ 171
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Sampel Penelitian Berdasarkan Fakultas ~ 42 Tabel.3.2. Program Studi Agama dan Non-Agama ~ 43 Tabel 3.3 Matriks Instrumen Penelitian ~ 49
Tabel 3.4. Tabel Silang Pendapatan Ayah dalam Se Bulan ~ 52 Tabel 3.5. Tabel Silang Pendapatan Ibu dalam Se Bulan ~ 53 Tabel 3.6. Penghasilan Orang Tua ~ 54
Tabel 3.7. Semester Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ~ 58 Tabel 3.8. Partisipasi Mahasiswa dalam Politik Oposisi ~ 66 Tabel 3.9. Partisipasi Politik di Kampus ~ 68
Tabel 3.10. Partisipasi dalam Organisasi Keagamaan ~ 70 Tabel 3.11. Kedekatan Dengan Organisasi Agama ~ 71
Tabel 3.12.Partisipasi dalam Kepengurusan Organisasi Agama ~ 72 Tabel 3.13. Partisipasi dalam Organisasi Komunitas dan Hobi ~ 75 Tabel 3.14. Partisipasi dalam Organisasi Mahasiswa ~ 76
Tabel 3.15. Frekuensi Berdiskusi Politik Dengan Ayah ~ 83 Tabel 3.16. Frekuensi Berdiskusi Politik Dengan Ibu ~ 84
Tabel 3.17. Dukungan Ayah Terhadap Aktifitas Berorganisasi ~ 85 Tabel 3.18. Dukungan Ibu Terhadap Aktifitas Berorganisasi ~ 86 Tabel 3.19. Pengujian Individual ~ 88
Tabel 3.21. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Gender terhadap Partisipasi Politik Mahasiswa ~ 91
Tabel 3.22. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung PartisipasiOrganisasi Mahasiswa Terhadap Partisipasi Politik Mahasiswa ~ 91
Tabel 3.23. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Internet terhadap Partisipasi Politik Mahasiswa ~ 91
Tabel 3.24. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Gender terhadap Partisipasi Politik Mahasiswa ~ 95
Tabel 3.25. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Internet terhadap Partisipasi Politik Mahasiswa ~ 95
Tabel 3.26. Pengaruh Langsung dan Tidak LangsungPartisipasi Organisasi Sukarela terhadap Partisipasi Politik Mahasiswa ~ 95 Tabel 4.1 Korelasi Organisasi Agama dan Organisasi Mahasiswa ~ 119 Tabel 4.2. Alasan terlibat dalam Organisasi Mahasiswa ~ 126 Table 5.1. Partisipasi Politik Oposisi ~ 147
Tabel 5.2. Uji Beda Partisipasi Politik Mahasiswa Berdasarkan Pengalaman Tinggal di Pesantren ~ 163
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Populasi Berdasarkan Jenis Kelamin ~ 40 Gambar 3.2 Populasi Berdasarkan Fakultas ~ 40
Gambar 3.3 Jumlah & Prosentase Sampel Penelitian ~ 42 Gambar 3.4 Sampel Berdasarkan Program Studi ~ 51 Gambar 3.5 Jenis Pekerjaan Ibu ~ 55
Gambar 3.6 Pengeluaran Perbulan Responden ~ 56
Gambar 3.7 Perbandingan Tempat Tinggal Berdasar Jenis Kelamin ~ 57 Gambar 3.8 Perbandingan Partisipasi dalam Demonstrasi ~ 60 Gambar 3.9 Alasan Berpartisipasi dalam Demonstrasi ~ 62
Gambar 3.10. Alasan Berpartisipasi dalam Organisasi Keagamaan ~ 73 Gambar 3.11 Partisipasi dalam Organisasi Komunitas ~ 74
Gambar 3.12. Perbandingan Jumlah Pengurus BEM Berdasarkan Jenis Kelamin Periode Tahun 2012 ~ 80
Gambar 3.13. Path Analysis 1 ~ 87 Gambar 3.14. Path Analysis 2 ~ 88 Gambar 3.15.Path Analysis 3 ~ 90 Gambar 3.16.Path Analysis 4 ~ 90 Gambar 3.17. Path Analysis 5 ~ 92 Gambar 3.18. Path Analysis 6 ~ 92
Gambar 3.19 . Path Analysis 7 ~ 93 Gambar 3.20. Path Analysis 8 ~ 94 Gambar 3.21 . Path Analysis 9 ~ 96 Gambar 4.1. Path Analysis 10 ~ 119 Gambar 4.2. Path Analysis 11 ~ 120 Gambar 4.3. Path Analysis 12 ~ 122 Gambar 4.4. Path Analysis 13 ~ 121 Gambar 4.5. Path Analysis 14 ~ 121 Gambar 4.6. Path Analysis 15 ~ 122 Gambar 4.7. Path Analysis 16 ~ 137 Gambar 5.1. Siklus Morphogenesis ~ 142 Gambar 5.2. Siklus Morphostatis ~ 146
BAB 1
PENDAHULUAN
Mendefinisikan Partisipasi Politik
P
emikiran bahwa setiap warganegara memiliki hak untuk berkontribusi dalam politik semakin mendapatkan tempat pada era demokrasi. Lebih dari itu, partisipasi politik merupakan suatu kondisi yang sangat diperlukan dalam demokrasi, meskipun tidak ada kesepakatan dalam hal level partisipasi yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi ideal. Pengertian dasar dari partisipasi politik seperti dinyatakan Huntington (1984, 5) adalah kegiatan warganegara biasa (private citizenship) yang bertujuan untuk mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pemerintah. Lussier (2011) dan Mujani (2003) mengacu pada Huntington (1984),mendefinisikan partisipasi politik sebagai tindakan warganegara biasa untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah lokal maupun nasional.Burns et.al (2001) mengartikan partisipasi politik sebagai beragam bentuk aktifitas yang memiliki tujuan atau konsekuensi mempengaruhi tindakan pemerintah baik secara langsung, seperti mempengaruhi pembuatan atau implementasi kebijakan publik, atau memberi pengaruh secara tidak langsung dengan mempengaruhi proses seleksi pejabat publik. Aktifitas yang paling penting berkaitan dengan terbentuknya pemerintah yang
bersifat akuntabel adalah memberikan suara dalam pemilihan (voting). Upaya lain yang bisa mempengaruhi terpilihnya pejabat publik adalah melakukan kerja-kerja atau memberikan kontribusi terhadap aktifitas kampanye. Bentuk-bentuk kegiatan yang memiliki pengaruh langsung terhadap tindakan pembuat kebijakan publik adalah: menghubungi mereka secara langsung, menghadiri protes, melakukan relly, berdemonstrasi, berpartisipasi dalam organisasi yang memiliki konsern/perhatian terhadap isu politik, berpartisipasi dalam upaya-upaya informal untuk menyelesaikan masalah komunitas, atau melakukan tindakan sukarela dalam lembaga pemerintah seperti pada institusi sekolah (hal.21).
Partisipasi politik dianggap penting karena pejabat publik terpilih dalam sistem demokrasi akan merepresantikan kelompok yang memiliki representasi politik yang tinggi. Levine (2008, dalam Evan 2009) menunjukan bahwa selama kurun waktu 1969-2003 di Amerika Serikat terjadi pemotongan 57% anggaran untuk isu kesejahteraan setiap keluarga. Hal ini sejalan dengan tingkat partisipasi politik yang rendah dari mereka yang setuju dengan kebijakan welfare state, dimana hanya 56,1 % dari mereka yang menyatakan ikut pemilu. Sedangkan 100% dari mereka yang mendapatkan pinjaman (loan) menyatakan ikut pemilu. Dengan demikian bisa dijelaskan bahwa munculnya kebijakan yang lebih memprioritaskan efesiensi anggaran karena pejabat yang terpilih adalah representasi dari mereka yang memiliki sikap dan pemikiran efesiensi anggaran, sedangkan mereka yang berfikir pentingnya kebijakan welfare state tidak memiliki wakil yang cukup. Demikian mereka yang berincome dan berpendidikan tinggi memiliki tingkat partisipasi 2-5 kali lipat dalam pemilu, menyumbangkan uang untuk calon wakil rakyat, bekerja untuk menyelesaikan masalah komunitas, terlibat dalam aktifitas politik dan non-politik, dan menjadi anggota organisasi politik dan non-politik.
kerjasama antar warga secara sukarela, baik untuk tujuan politik maupun non politik, bisa mengembangkan nilai-nilai demokrasi dan ketrampilan berdemokrasi seperti kepercayaan secara sosial (social trust), kerjasama timbal balik (reciprocity), dan juga kemampuan untuk mengkonsepsikan kepentingan bersama (common good). Jika terdapat semakin banyak keterlibatan secara sukarela dan juga dasar-dasar pengelompokan yang kuat dalam masyarakat maka akan mempermudah komunitas untuk terlibat dalam aktivitas bersama untuk menciptakan kebaikan bersama. Komunitas yang memiliki tingkat kesukarelaan yang tinggi merupakan komunitas yang paling memiliki kualitas yang paling baik untuk hidup karena level kesukarelaan berkaitan dengan kondisi institusi pendidikan yang lebih baik dan rendahnya angka kriminalitas. Adanya jaminan terhadap aktifitas sukarela juga bisa mengurangi potensi kekuasaan negara dan juga untuk menjamin kehidupan yang bebas (Burns et.al, 2001,23).
Studi yang menggunakan teori institusi (institutional theory) mengasumsikan ada hubungan yang signifikan antara institusi-institusi sosial seperti institusi-institusi keagamaan dan pendidikan dengan partisipasi politik. Teori institusi merupakan teori yang memberikan alternatif baru terhadap pemikiran tentang pentingnya SSE (Status Sosial Ekonomi) dalam partisipasi politik. Organisasi sukarela dianggap membantu pengembangan keterampilan tentang kewarganegaraan (civic skill) dan membantu proses rekrutmen politik. Organisasi sukarela seperti organisasi agama memiliki hubungan dengan politik dalam banyak hal. Salah satunya adalah memfasilitasi untuk terjadinya kontak sosial sehingga tercipta sebuah jaringan. Selain itu, organisasi sukarela bisa memfasilitasi terjadinya komunikasi dengan pejabat pemerintah/politik dan terjadinya pembicaraan politik (Scholzman, 2002; Evan, 2009). Pemikiran tersebut didukung oleh Almond dan Verba (1963), Putnam (2000), Mujani (2003), Lussier (2011).
Partisipasi dalam jaringan masyarakat sipil (networks of civic engagement) dianggap penting dalam demokrasi karena hal tersebut akan membantu individu-individu untuk mendapatkan informasi tentang kebijakan dan tindakan yang akan mempengaruhi kehidupan bersama. Selain itu, akan membantu individu untuk saling berinteraksi dan membuat individu bisa dimobilisasi oleh kelompok/organisasi atau pemimpin (Mujani, 2003, 142). Hal ini sejalan dengan pemikiran Verba et.al (1993, dalam Stout 2008) yang menyatakan bahwa organisasi sukarela memainkan peran penting dalam menyediakan resource yang sangat penting dalam partisipasi politik.
Keterlibatan dalam organisasi sukarela, kepentingan khusus atau pun kelompok non politik, akan mengaktifkan individu-individu secara politik (Olsen, dalam Mujani, 2003, 295). Ada beberapa alasan mengapa partisipasi tersebut dapat meningkatkan individu secara politik. (1) Partisipasi dalam masyarakat sipil akan memperluas wilayah kepentingan dan perhatian, sehingga isu-isu kepentingan umum akan menjadi penting baginya.(2) Aktifitas tersebut akan membuat individu melakukan kontak dengan semakin banyak orang sehingga menghasilkan keterkaitannya dengan masalah publik dan aktifitas politik. (3) Hal itu juga meningkatkan informasi seseorang, melatih seseorang untuk terampil dalam interaksi sosial dan kepemimpinan, dan menyediakan sumberdaya lainnya yang dibutuhkan untuk kegiatan politik yang efektif.
Verba (1995 dalam Stout, 2008) menyatakan partisipasi dalam organisasi sukarela yang memiliki tiga hal yang sangat penting. Pertama, partisipasi dalam organisasi sukarela non politis menyediakan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan berorganisasi dan keterampilan berkomunikasi. Kedua, partisipasi dalam organisasi sukarela akan membuat individu terlibat dalam isu-isu publik. Ketiga, terjadi proses rekrutmen dan mengarah
sukarela bisa membuat seorang individu untuk mendapatkan resource yang relevan adalah status keanggotaan, jenis organisasi sukarela, dan sejauh mana keterlibatan dalam struktur organisasi organisasi sukarela. Mereka yang terlibat dalam aktifitas organisasi sehari-hari akan mendapatkan resource yang lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang hanya terlibat dalam kegiatan satu tahun sekali.
Demikian juga Stout (2008) menyatakan bahwa keterlibatan organisasi sukarela merupakan salah satu aspek yang biasa digunakan untuk mengobservasi social capital. Penelitian Stout (2008) sendiri membuktikan bahwa status sosial ekonomi memiliki pengaruh positif terhadap partisipasi dalam orgnaisasi sukarela sedangkan etnisitas berpengaruh secara negatif. Dengan kata lain, teori institusi tidak menjadi alternatif bagi SSE karena keduanya saling berkaitan.
Partisipasi dalam organisasi sukarela menurut Stout (2008) merupakan variable laten terdiri dari dari tiga hal yaitu: (a) jumlah keanggotaan dalam organisasi sukarela; (b) menduduki pengurus dalam organisasi sukarela; (c) keanggotaan dalam organisasi yang melakukan reformasi sosial. Jumlah keanggotaan dalam organisasi sukarela merupakan variabel berskala interval (0-14). Ada 14 type organisasi sukarela (skor 1 untuk setiap keanggotaan dalam satu organisasi) meliputi: (1) kelompok olahraga, (2) organisasi pemuda, (3) organisasi orang tua/wali murid, (4) kelompok veteran, (5) organisasi ketetanggaan, (6) grup senior, (7) kelompok yang bergerak pada dana sosial, (8) kelompok/organisasi profesional, perdagangan, pertanian, (9) organisasi keluarga, (10) kelompok seni, (11) kelompok hoby, (12) organisasi bantuan (self help program), (13) kelompok yang ditemui dalam internet, (14) organisasi lainnya. Aspek menduduki jabatan dalam organisasi merupakan variable dummy yang diukur dengan jawaban ya (1) dan tidak (0). Demikian juga keanggotaan dalam organisasi yang melakukan reformasi sosial diukur dengan jawaban ya (1) dan tidak (0) untuk pertanyaan:
apakah anda terlibat dalam organisasi yang selama 12 tahun terahir membuat suatu aksi untuk melakukan reformasi sosial dan politik?
Berdasarkan pemikiran bahwa bentuk partisipasi politik yang berbeda akan berdampak pada penyebab dan tingkat frekuensi partisipasi yang berbeda, Persson (2012, 205) membagi 13 bentuk partisipasi politik dalam tiga kategori. Pertama, partisipasi politik tradisional, meliputi keanggotaan dalam partai, melakukan kontak (menghubungi) perwakilan politik, menulis surat dan mendukung kandidat dari partai politik (candidating for a political party). Kedua, partisipasi non-parlemen meliputi boykot, menggunakan atribut politik tertentu, menandatangani petisi, dan demonstrasi. Ketiga, partisipasi yang bersifat tidak legal (illegal participation index) meliputi merusak fasilitas publik, membuat coretan yang menunjukan protes di tempat umum, atau menduduki gedung.
Taylor dan Clerkin (2011), dengan berdasarkan studi Clagett dan Pollock (2006), mengklasifikasikan partisipasi politik dalam empat jenis yaitu: aktifitas kampanye, memberi sumbangan (contributing), aktifitas dalam komunitas (communal activity), dan wacana politik (political discourse). Keempat jenis aktifitas tersebut diuraikan dalam kegiatan dalam kurun waktu 3-4 terahir sebagai indikator mengukur partisipasi politik. Kegiatan kampanye dilihat dari aktifitas kampanye, seperti hadir dalam pertemuan politik, menggunakan atribut politik, hadir dalam relly (pertemuan massal untuk mendukung partai tertentu), dan melakukan aktifitas untuk mendukung partai atau kandidat tertentu. Memberi sumbangan uang untuk kegiatan politik seperti sumbangan terhadap partai politik, sumbangan terhadap kandidat, sumbangan terhadap kelompok yang mendukung atau menentang kandidat tertentu. Aktifitas komunitas meliputi melakukan kegiatan yang terkait dengan masalah kemasyarakatan, menghubungi seseorang yang mewakili pemerintah (pejabat pemerintah) untuk mengemukakan pendapat
yang terkait dengan problem keluarga, menghadiri pertemuan yang membahas masalah kemasyarakatan atau masalah yang berkaitan dengan pendidikan (sekolah), dan membentuk atau mendirikan kelompok (organisasi) untuk mengatasi masalah di dalam masyarakat. Partisipasi dalam wacana politik meliputi diskusi politik, diskusi maslah-masalah nasional, diskusi tentang masalah local dan masalah komunitas.
Partisipasi politik menurut Clagett dan Pollock (2006, dalam Taylor dan Clerkin (2011) juga meliputi kerjasama yang bersifat pasif, meliputi anggota sebuah kelompok yang memiliki program untuk mempengaruhi pemerintah, atau anggota dari kelompok dalam masyarakat yang melakukan perlawanan. Memiliki kontak husus yakni bisa berhubungan secara langsung dengan pejabat publik, atau menggunakan perantara untuk menghubungi pejabat pemerintah. Demikian juga partisipasi yang bersifat samar (ambigious) seperti meyakinkan orang lain untuk memilih kandidat tertentu, masuk dalam organisasi yang mendukung isu seperti aborsi, kelompok politik, isu lingkungan, ras, etnis, gender, atau kelompok yang terkait dengan orientasi seksual.
Penelitian Swank (2012) lebih husus melihat partisipasi politik yang berorientasi perubahan sosial sebagai mandat dari keberadaan program pekerja sosial. Aktifitas politik sebagai bagian dari partisipasi politik yang dimaksud meliputi: menandatangani petisi, menulis surat (yang berkaitan dengan opini masalah kemasyarakatan), menunjukan identitas/symbol politik, memberikan bantuan bagi kegiatan politik, memberikan sumbangan finansial terhadap kandidat untuk menduduki jabatan politis, aktifitas pemilihan, menghadiri demonstrasi, berpartisipasi dalam pembangkangan sipil, dan aktifitas protes.
McFarland dan Thomas (2006) mengacu pada studi sebelumnya, seperti Verba et.al (1995) dan Burns et.al (2001), hanya melihat partisipasi politik dari tiga aktifitas utama: ikut
dalam pemilihan umum, kampanye dan aktifitas dalam kegiatan komunitas. Dengan menggunakan data sekunder, McFarland dan Thomas (2006) menggunakan pertanyaan yang ada dalam NELS (National Education Longitudinal Survey) dan National Longitudinal Study of Adolescent Health meliputi: status dalam pendaftaran sebagai pemilih, partisipasi dalam pemilihan presiden, menjadi relawan dalam organisasi komunitas, ikut berkampanye, dan keanggotaan dalam partisipasi politik. Temuan penting selain faktor keterlibatan dalam organisasi ekstrakurikuler (dibahas dalam sub bagian selanjutnya) terkait dengan faktor yang berpengaruh adalah status sosisal ekonomi (SSE). Mereka menemukan faktor seperti pendidikan orang tua dan pendapatan keluarga (family income), sebagai faktor yang berpengaruh signifikan dalam semua model. Sedangkan prestis pekerjaan orang tua hanya berpengaruh pada model ke 2 (melihat pengaruh organisasi sukarela dan latar belakang demografi sosial) dan model ke 3 (melihat pengaruh organisasi sukarela, latar belakang demografi sosial, dan SSE). Pada model ke 4 ketika diuji dengan variabel aktifitas siswa dengan peer group, faktor prestise pekerjaan orang tua tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap partisipasi politik responden. Gender, Mahasiswa & Partisipasi Politik
Mahasiswa adalah bagian terpenting dari bangsa Indonesia untuk melakukan perubahan sosial. Sejarah Indonesia menunjukan bahwa mahasiswa memiliki peran yang sangat penting dalam setiap perubahan peristiwa seperti perjuangan kemerdekaan dan tumbangnya kekuasaan Soekarno (Orde Lama) menuju Orde Baru. Demikian juga mahasiswa dianggap memainkan peran yang penting dalam tumbangnya Orde Baru menuju Orde Reformasi di Indonesia (Hasibuan, 2010, Aspinall 1993, Jackson, 2005).
Namun, kajian tentang gerakan mahasiswa pada umumnya tidak melihat keterkaitannya dengan masalah gender. Beberapa
Prasetya, 2004). Kajian tentang partisipasi politik mahasiswa yang cukup komprehensif banyak ditemukan di luar Indonesia seperti di Amerika Serikat. Swank (2012) menguji prediktor untuk partisipasi politik mahasiswa program studi pekerja social (social work), baik faktor-faktor demografi seperti status sosial ekonomi (SSE), gender, maupun faktor yang relatif baru seperti mobilisasi struktur dan keberfihakan terhadap kerangka berfikir koleksi sosial (collective action frame). Demikian juga Taylor dan Clerkin (2011) menguji faktor demografi dan motivasi PSM (public service motivation/ motivasi untuk melayani masyarakat). Simmons dan Lily (2010) membandingkan keterlibatan mahasiswa di Universitas Wiscosin Oshkosh dengan Mahasiswa pada level nasional dan menguji pengaruh proses belajar di universitas terhadap keterlibatan politik mereka. Mc.Farland dan Thomas (2006) menguji teori dari Alexis D Tocquevile dan Robert Putnam tentang pengaruh organisasi sukarela di kalangan siswa terhadap partisipasi politik pada saat dewasa. Evan (2006) membandingkan partisipasi politik generasi muda Amerika antara mahasiswa dan non-mahasiswa. Dia menguji apakah faktor-faktor seperti status ekonomi, pekerjaan, dan pendidikan, teori institusi, siklus hidup dan sosialisasi politik berpengaruh terhadap partisipasi politik kelompok muda dengan membedakan kelompok mahasiswa an non-mahasiswa.
Studi Evan (2009) membandingkan mahasiswa non mahasiswa mengukur SSE dengan status pekerjaan: bekerja paruh waktu (part time job) atau bekerja secara penuh (full time job). Sedangkan pendidikan diukur dari tingkat pendidikan tertinggi untuk responden non-mahasiswa dan dengan melihat tahun berapa dalam masa belajar dan status kemahasiswaan. Dia menemukan bahwa korelasi SSE dan partisipasi politik hanya signifikan untuk kelompok muda yang bukan mahasiswa, sedangkan faktor pekerjaan baik pekerja penuh atau paruh waktu memiliki pengaruh yang siginifikan. Faktor pendidikan hanya signifikan untuk partisipasi politik terdaftar sebagai pemilih tetapi tidak signifikan
untuk aktifitas seperti pemilihan, relly dan demonstrasi. Dengan demikian, menyimpulkan bahwa kelompok pemuda memiliki pola yang lebih kompleks dalam partisipasi politik dibanding dengan kelompok lain yang sudah diteliti sebelumnya.
Studi yang melihat hubungan yang kuat antara SSE dengan partisipasi politik yang berkembang pesat tahun 1960-1970n juga mengasumsikan adanya hubungan antara partisipasi politik dengan sosialisasi politik dalam keluarga. Beck dan Jenningen (1982) menunjukan bahwa SSE kelompok muda yang hanya bisa diukur dengan tingkat pendidikan saja terbukti berpengaruh terhadap partisipasi politik dan orientasi kewarganegaraan mereka (dibentuk dari variable efikasi politik, pengetahuan tentang politik, dan ketertarikan terhadap politik). Sedangkan SSE orang tua tidak berpengaruh langsung terhadap partisipasi politik dan orientasi kewarganegaraan kelompok muda/dewasa (young adult civic orientation). SSE orang tua berpengaruh terhadap orientasi kewarganegaraan kelompok remaja (youth civic orientation) yang kemudian berpengaruh terhadap orientasi kewarganegaraan untuk usia muda menjelang dewasa.
Pemikiran tentang pentingnya sosialisasi dalam keluarga mengasumsikan bahwa karakteristik orang tua mempengaruhi partisipasi anak. Seperti dinyatakan Verba (2005, lihat Evan, 2009) level pendidikan orang tua dan aktifitas dan keaktifan orang tua sebagai warganegara (civic activity), memberi pengaruh yang sangat kuat terhadap partisipasi anak. Status pernikahan orang tua yang masih menikah membuat anak lebih aktif dalam politik, sebalik perceraian orang tua mebuat kemungkinan untuk tidak ikut memilih tinggi.
Evan (2009) menemukan sosialisasi politik dalam keluarga memberi pengaruh yang berbeda bagi kelompok muda yang melanjutkan studi di pertguruan tinggi dengan pemuda yang
dengan keluarga memberi faktor yang siginifikan untuk bentuk partisipasi politik terdaftar sebagai pemilih dan berpartisipasi dalam pemilihan/voting), juga menjadi prediktor yang signifikan untuk kemungkinan responden terdaftar dan memilih untuk pemilihan periode berikutnya. Menurutnya, keluarga berfungsi seperti jaringan sosial (social network), sehingga diskusi politik dengan keluarga akan meningkatkan partisipasi politik seseorang. Semakin sering dia berdiskusi semakin tinggi tingkat partisipasi politiknya. Pengaruh diskusi pada waktu makan malam (dinner table discussion) meningkatkan kemungkinan partisipasi politik sampai 25%. Akan tetapi diskusi dengan orag tua cenderung lebih berpengaruh untuk kalangan pemuda yang bukan mahasiswa dan tidak signifikan untuk kelompok mahasiswa. Demikian juga ketertarikan orang tua terhadap politik hanya berpengaruh pada responden non mahasiswa.
Perbedaan politik dengan orang tua juga merupakan prediktor yang signifikan untuk kelompok muda berpartisipasi lebih aktif. Dengan mengutip Huckfeldt et al (2004), perbedaan dengan orang tua dalam politik menunjukan kecenderungan kelompok muda untuk menguji dan mempertimbangkan kembali pembenaran (justification) terhadap posisi mereka. Adapun berasal dari keluarga yang memiliki penghasilan tinggi atas atau penghasilan rendah tidak berdampak pada partisipasi politik dalam semua model, tetapi memiliki efek yang signifikan untuk aktifitas donasi dan petisi untuk kelompok mahasiswa. Orang tua yang memiliki level pendidikan di perguruan tinggi juga merupakan faktor yang signifikan.
Temuan Evan (2009) menunjukan situasi yang berbeda dengan penelitian sebelumnya seperti yang ditunjukan oleh Beck dan Jenningen (1982). Berbeda dengan SSE, orientasi kewarganegaraan orang tua (parent civic orientation) menurut Beck dan Jenningen (1982) memberikan pengaruh langsung terhadap partisipasi politik kelompok muda/dewasa, juga memberi pengaruh langsung terhadap orientasi politik remaja dan orientasi politik kelompk muda/dewasa.
Demikian juga partisipasi politik orang tua berpengaruh langsung terhadap partisipasi politik muda/dewasa tetapi tidak berpengaruh terhadap orientasi kewarganegaraan kelompok muda/dewasa. Hal ini menunjukan bahwa sosialisasi politik melalui orang tua masih berpengaruh beberapa dekade sebelum tahun 2000, tetapi saat ini pengaruhnya semakin berkurang.
Penelitian tentang partisipasi politik di kalangan mahasiswa yang terbaru seperti Swank (2012), Taylor dan Clerkin (2011), selain menguji faktor yang sudah diuji oleh penelitian sebelumnya juga melihat independen variable baru seperti PSM (public service motivation/motivasi untuk melayani masyarakat) dan faktor mobilisasi struktur (mobilizing structure) dan pengaruh kerangka berfikir aksi kolektif (collective action frame). Kedua penelitian tersebut menunjukan bahwa faktor-faktor baru yang mereka uji terbukti lebih signifikan.
Kajian Swank (2012) tentang prediktor terhadap aktifitas politik mahasiswa program pekerja sosial (social worker student) sangat relevan untuk direview dalam penelitian ini. Keberadaan program studi pekerja sosial secara konseptual adalah untuk melakukan perubahan social sehingga sangat wajar jika program ini erat dengan aktifitas politik. Penelitian Swank (2012) melihat bagaimana tingkat keaktifan mahasiswa S1 program pekerja sosial dalam politik dan faktor-faktor apa yang membuat mereka memiliki tingkat partisipasi politik yang tinggi.
Terkait dengan partisipasi politik mahasiswa, Swank (2012) menyatakan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap partisipasi mahasiswa program studi pekerja social adalah mobilisasi struktur (mobilizing structure) dan collective action frame (memiliki kerangka berfikir aksi kolektif). Konsep mobilisasi struktur dioperasionalisaskan dalam skala likert yakni respon responden yang menyatakan persetujuan terhadap pernyataan
merupakan hal yang positif” atau “memiliki teman yang pernah mengajak untuk pergi dalam acara/even politik”.
Memiliki kerangka berfikir aksi kolektif diukur dengan skala likert sikap terhadap pernyataan seperti: “sejauh mana tanda tangan petisi, demonstrasi bisa membantu membuat gerakan sosial mencapai tujuannya”. Identitas aktivis dilihat dari sejauh mana seseorang merasa berkewajiban untuk protes dengan menjawab pertanyaan “saya melihat diri saya sebagai seseorang yang terlibat dalam mempromosikan keadilan sosial”. Juga pernyataan yang menunjukan secara moral memiliki kewajiban untuk berjuang bagi keadilan sosial seperti “saya merasa bersalah ketika aktif dalam politik”; “saya harus aktif secara politik karena pada umumnya orang lain tidak berpolitik”; dan pernyataan “saya berusaha menginisiasi pembicaraan politik.”
Taylor dan Clerkin (2011) menyatakan bahwa PSM, memiliki rasa komunitas yang tinggi dan tanggung jawab sosial merupakan faktor yang signifikan untuk partisipasi politik. Teori ini dikembangkan dari pemikiran Housten (2009) yang menyatakan bahwa sebuah etika yang rasa empati terhadap penderitaan orang lain, komitmen terhadap kepentingan bersama, dan kemauan untuk berkorban merupakan sikap yang akan mempengaruhi perilaku seseorang sebagai warga komuntas sipil. Juga dikembangkan dari Perry dan Wise (1990) bahwa PSM adalah sebuah bangunan yang bersifat multidimensi yang terdiri dari tiga tingkat yang memotivasi seseorang untuk mendorong jasa layanan public yang bersifat rasional (objektif), memiliki ikatan emosi terhadap komunitas dan rasa tanggung jawab atau keinginan berkontribusi di dalam masyarakat. Variabel ini diukur dengan sikap responden terhadap pertanyaan-pertanyan yang disusun untuk menjelaskan indikator-indikator seperti ketertarikan terhadap kebijakan publik yang memiliki komitmen terhadap kepentingan umum, memilik rasa empati terhadap penderitaan orang lain, dan mau berkorban, memiliki rasa tanggung jawab sebagai warganegara.
Studi sebelumnya, Mc. Farland dan Thomas (2006) yang mengacu pada studi Putnam (1993), membahas tentang civic engagement dan bekerjanya demokrasi. Penelitian Mc.Farland dan Thomas (2006) membuktikan tiga hal: (1) Apakah keterlibatan pemuda dalam organisasi pemuda (asosiasi sukarela) mendorong partisipasi politik di masa depan? (2) Apakah keanggotaan ini mengaktifkan pengalaman dan sumberdaya yang dimiliki oleh latar belakang arena dalam keluarga. (3) Apakah keanggotaan dalam organisasi pemuda mendorong motivasi, kapasitas, modal simbolik (symbolic capital) untuk partisipasi politik saat dewasa? Dengan analisis terhadap data longitudinal di tingkat nasional mereka membuktikan bahwa tingkat partisipasi politik ditentukan oleh aktifitas ekstra kurikuler (keterlibatan dalam asosiasi sukarela).
Dalam analisis statistik dengan menggunakan National Educational Longitudinal Study (NELS) dan National Longitudinal Study of Adolescent Health menunjukan bahwa keterlibatan dalam kegiatan ekstra kurikuler seperti perwakilan siswa (student council), kelompok drama, kelompok musik, kelompok/organisasi agama memiliki hubungan yang positif dengan partisipasi politik. Sedangkan ketidakterlibatan sama sekali dalam aktifitas tersebut memiliki hubungan negatif dengan partisipasi politik.
Meskipun terdapat beberapa jenis aktifitas ekstrakurikuler yang sangat mempengaruhi partisipasi politik, beberapa kegiatan ekstra sekolah juga dianggap tidak memiliki pengaruh. Sebagai contoh, kegiatan olahraga dinyatakan tidak signifikan mempengaruhi partisipasi politik. Demikian juga aktifitas dalam kampanye sukarela karena kegiatan tersebut dianggap bersifat sporadis. Sedangkan kegiatan pengabdian masyarakat (community service) dibuktikan memiliki korelasi positif dengan partisipasi politik karena kegiatannya bersifat konsisten dan berorientasi jangka panjang. Di antara kelompok belajar yang bersifat akademis yang
ilmu seperti matematika, sejarah, bahasa asing, sains, komputer dan lainnya tidak memiliki pengaruh.
Penambahan faktor latar belakang sosial dan pola pengasuhan anak oleh orang tua (parenting practices) dalam model analisis menunjukan fenomena partisipasi politik juga merupakan fenomena yang memperkuat teori reproduksi sosial. Dengan kata lain latar belakang kelas sosial dan pengalaman dalam keluarga memiliki korelasi positif dengan partisipasi politik. Orang tua dan anak sering melakukan kontak sehingga membuat pengalaman dan sumberdaya yang melekat dalam keluarga menjadi aktif. Pada saat orang tua mengantar anak-anak mereka, di kendaraan maupun pada saat makan bersama, akan terjad diskusi yang membuat proses sosialisasi orang tua kepada anak terjadi.
Dengan menggunakan teori reproduksi kelas dari Bourdieu, McFarland menyatakan bahwa reproduksi kelas terjadi jika aktor memasuki arena yang bermacam-macam dengan pengalaman (habitus) dan sumberdaya (resources) yang berbeda juga. Seseorang yang memiliki pengalaman dan sumberdaya yang lebih banyak akan memenangkan perebutan kekuasaan dan memanfaatkan sumberdaya dan pengalaman untuk mendapatkan legitimasi dalam arena. Dengan demikian pemuda yang berasal dari latar belakang ekonomi dan sosial (SSE) yang lebih tinggi akan mendapatkan manfa’at yang lebih banyak (dalam konteks partisipasi politik) dibandingkan dengan mereka yang berasal dari kelas sosial yang lebih rendah.
Terkait dengan sosialisasi politik dengan berdasarkan pada pemikiran tersebut, McFarland dan Thomas (2006) berpendapat bahwa pemuda yang berasal dari kalangan yang lebih kaya akan memiliki sumberdaya dan pengalaman yang memungkinkan mereka untuk memasuki berbagai organisasi pemuda yang kemudian membuat mereka menjadi aktif secara politik. Ketika anak muda berdiskusi dengan orang tuanya tetang berbagai topik politik, mereka juga belajar tentang politik. Ketika orang tua mereka secara
politik juga aktif maka mereka juga akan mendapatkan pengaruh dan motivasi dari aktifitas orang tua.Demikian juga menurut mereka sekolah memungkinkan anak muda untuk masuk dalam berbagai keanggotaan organisasi yang meliputi aktifitas dan pengalaman-pengalaman yang dekat dengan aktifitas politik.
Selain melihat partisipasi politik sebagai suatu fenemona reproduksi sosial di mana pengaruh keterlibatan dalam organisasi sukarela (dalam kegiatan ekstrakurikuler) dan SSE sangat signifikan, pengaruh kegiatan yang dilakukan pada saat sekolah dan juga pengalaman yang didapatkan pada saat sekolah juga terbukti sangat signifikan. Aktifitas dan pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman yang terkait dengan peningkatan kepercayaan diri, pengalaman kepemimpinan, nilai yang dicapai pada saat sekolah, harapan terhadap proses pendidikan, dan anggapan pentingnya masa depan.
Terkait dengan pengaruh gender dalam partisipasi politik mahasiswa terdapat temuan-temuan yang beragam. Swank (2012) menyatakan bahwa faktor gender merupakan faktor yang berpengaruh signifikan secara negatif dalam aktifitas politik yang berkaitan dengan protes, terutama pada mahasiswa perempuan yang berideologi konservatif. Walaupun Persson (2012) serta Taylor dan Clerkin (2011) tidak memberi penjelasan yang cukup komprehensif tentang pengaruh gender, tetapi hasil regresi yang mereka lakukan menunjukan bahwa faktor gender tersebut tidak berpengaruh. Persson (2012) melihat partisipasi politik dan jenis pendidikan (vokasi dan non vokasi), sedangkan Taylor dan Clerkin (2011) menguji faktor partisipasi politik dengan faktor motivasi dalam pelayanan public (public service motivation). Dalam studi Persson (2012), faktor jenis kelamin hanya signifikan untuk mahasiswa baru, dan ketika diuji satu tahun kemudian faktor jenis kelamin menjadi tidak signifikan lagi. Sebaliknya, Simmons dan Lily
variable dengan keaktifan belajar (active collaborative learning) dan keaktifan dalam intensitas pengalaman pendidikan (enriching educational experience) terhadap dependent variable partisipasi politik.
Kesenjangan gender dalam partisipasi politik dan partisipasi dalam aktifitas keagamaan (gereja) juga dinyatakan oleh Robnet dan Bany (2011). Menurut mereka, ketika teori institusi menunjukan bahwa partisipasi politik dipengaruhi oleh partisipasi dalam institusi sosial, aspek gender juga menjadi penting dalam dua hal tersebut. Insitusi sosial seperti gereja cenderung lebih memfasilitasi laki-laki untuk memiliki partisipasi politik yang lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan.
Dengan keterbatasan studi tentang gender dan partisipasi politik mahasiswa di Indonesia, maka topik tersebut penting untuk dibahas agar terdapat data yang cukup komprehasif yang menggambarkan tingkat kesenjangan gender dalam partisipasi politik mahasiswa, pengaruh faktor gender dalam partisipasi politik mahasiswa, faktor-faktor apa saja yang mempegaruhi partisipasi politik mahasiswa baik secara langsung atau tidak langsung.
Pembahasan topik tersebut dalam buku ini bertujuan untuk melihat bagaimana proses terjadinya kesenjangan gender tradisional terutama untuk melihat apakah hal tersebut masih disosialisasikan di keluarga. Dengan demikian pembahasan topik ini akan dihubungkan dengan konsep habitus Bourdieu, sejauh mana situasi sosial baik dari keluarga, maupun dari institusi sosial lainnya membentuk pilihan mahasiswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam politik atau memilih menghindarinya.
Keluarga sebagai agen sosialisasi primer cenderung mensosialisasikan peran laki-laki dan perempuan secara berbeda. Sejak lahir anak perempuan dan anak laki-laki diperlakukan secara berbeda. Anak perempuan diharapkan untuk bersikap feminim dan tidak agresif dan aktif seperti anak laki-laki. Orang tua cenderung
memilihkan warna baju merah muda kepada anak perempuan dan warna yang lebih maskulin untuk anak laki-laki.
Bourdieu mengakui bahwa tindakan manusia dipengaruhi oleh disposisi tertentu sehingga memungkinkan untuk terjadi tanpa pertimbangan pemikiran (deliberation) yang bersifat refleksif. Menurut Bourdieu habitus tercipta dari kondisi sosial yang mendorong manusia untuk berperilaku yang mengulangi praktek-praktek sosial yang telah ada (berlaku) yang telah menciptakan dan mempertahankan struktur masyarakat. Disposisi tersebut seperti bagaimana gerak tingkah laku tubuh manusia (gesture), seperti bagaimana gerakan mulut dan aksen ketika berbicara. Dengan kata lain, struktur sosial melalui berbagai macam proses sosialisasi terinternalisasi dan menjadi disposisi yang dilakukan secara berulang sehingga terjadi reproduksi struktur sosial (Mouzelis, 2008, 131). Meskipun demikian, Bourdieu juga mengakui bahwa pemikiran rational choice bisa menghilangkan tindakan yang tidak didasarkan pada refleksifitas (Vas, 2007b, 327-329).
Pengaruh Budaya Patriarki
Perempuan dalam politik umumnya masih dilihat dalam kerangka pemikiran patriarki dan peran gender tradisional. Politik merupakan salah satu aspek dari kehidupan sosial yang diatur dengan nilai-nilai maskulin seperti agresif, kompetisi, berkaitan dengan kehidupan publik, dan pembuatan keputusan yang dianggap lebih pantas untuk laki-laki. Meskipun Inglehart dan Norris (2000, 2003) menyatakan kesenjangan gender tradisional mulai berkurang akan tetapi hal tersebut hanya terjadi di negara-negara industri dan post industri. Di negara-negara yang tidak termasuk dalam kelompok negara industri dan post industri tersebut, perempuan masih tidak berdaya untuk menentang dominasi dan kontrol laki-laki dalam institusi sosial dan institusi kekuasaan. Pada masyarakat pra-industri, tujuan utama hidup perempuan adalah berkaitan
utama perempuan dan merupakan sumber kepuasan dan status sosial. Pada masyarakat petani perempuan biasanya bekerja di rumah berkaitan dengan memproduksi dan menyiapkan makan. Sedangkan di negara post industri, karakter keluarga mengalami perubahan, dimana angka usia pernikahan lebih tinggi, perempuan lebih banyak berpartisipasi dalam dunia kerja dan lebih mendukung nilai-nilai kesetaraan (Inglehart & Norris, 2003).
Relasi laki-laki dan perempuan pada umumnya diatur oleh budaya patriarki,yaitu suatu tatanan masyarakat di mana kekuasaan ada di tangan laki-laki. Struktur sosial yang hirarkis membuat budaya ini terus bertahan dan perempuan sebagai agen yang tidak memiliki kekuatan untuk merubahnya. Dalam struktur sosial yang hirarkis ini, institusi sosial dan relasi sosial menentukan individu-individu tertentu akan menempati posisi kepemimpinan, sedangkan individu lainnya berada pada posisi pengikut. Dalam ideologi patriarki, perempuan secara politik, hukum, dan sosial berada pada posisi “di bawah” laki-laki. Definisi patriarki sebagaimana dinyatakan oleh Walby (1989, 227 dalam Alexander & Walzer (2011) adalah sebagai berikut:
Patriarchy is the systematic subordination of women to men. This subordination has structural and cultural facets. The structural facet is evident in organizational patterns that enforce female subordination. The cultural facet is manifest in values that legitimize female subordination (cf. Walby 1989:227)
(Patriarki merupakan subordinasi laki-laki terhadap perempuan yang bersifat sistematik baik pada aspek kultural maupun struktural. Aspak struktur terdapat pada organisasi sosial yang menerapkan subordinasi terhadap perempuan. Sedangkan pada aspek kultural patriarki terwujud dalam nilai-nilai yang membenarkan subordinasi terhadap perempuan).
Segregasi gender dan pengabaian terhadap isu perempuan yang cukup lama menurut Chuan Ma (2003) membuat perempuan tereksklusi secara sistematis dari kehidupan politik. Hal ini mulai terjadi dari sistem patriarki dalam kehidupan privat di mana perempuan mengalami kontrol yang ketat sehingga tereksklusi dari
wilayah publik. Sistem keluarga terkait dengan peran suami/istri dan keterikatan membuat sistem patriarki menjadi tersosialisasi sedemikian rupa.
Elemen dasar dari patriarki adalah kepasrahan terhadap otoritas dan tradisi. Menurut Weber (1946) budaya patriarki sangat berakar dan dominan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya:
The woman is dependent because of the normal superiority of the physical and intelectual energies of the male, and the child because of his objective helplessness, the grown up because of habituation, the persistent influence of education and the effect of firmly rooted memories from childhood and adolescence, and the servant because from childhood on the facts of life have taught him that he lacks protection outside the master’s power sphere and that he must submit to him to gain that protection.
(Ketergantungan perempuan dan anak-anak terjadi karena laki-laki dianggap lebih superior secara fisik, dan superior secara intelektual, sedangkan perempuan dan anak dianggap obyek yang membutuhkan bantuan, dan perkembangannya karena proses pembiasaan, sebagai dampak proses pendidikan dan telah berakar dalam ingatan sejak keci dan remaja. Sebagaimana juga ketergantungan pada pembantu/pekerja terhadap majikannya karena tidak ada perlindungan terhadap mereka dan mereka yang memiliki ketegantungan, menyerahkan diri untuk mendapatkan perlindungan).
Salah satu teori yang membahas tentang kesenjangan gender yaitu gender inequality and stratification seperti yang dikemukakan Collin, Blumberg dan Chafet (dalam Turner, 1998) yang menunjukan pengaruh faktor makro terutama faktor ekonomi sebagai faktor yang menentukan kuat atau lemahnya peran dan posisi perempuan. Collin (dalam Turner, 1998) menganalisis sebab-sebab stratifikasi gender pada masa awal terdiri dari kekuatan fisik, material, simbolik.
Rae Lesser Blumberg sebagaimana dijelaskan Turner (1998) juga membangun teori didasarkan pada teori Marxis. Teorinya berkaitan dengan penjelasan posisi perempuan dalam kaitannya dengan laki-laki dalam semua tipe masyarakat, dari masyarakat
pada ahir abad 20. Stratifikasi berdasarkan jenis kelamin menurut Blumberg didorong oleh tingkat pengendalian jenis kelamin terhadap alat-alat produksi, alokasi surplus produksi atau surplus value (nilai lebih). Kontrol tersebut memberikan kekuatan secara ekonomi, dan selanjutnya mempengaruhi tingkat kekuatan politik, prestis, dan sumber-sumber stratifikasi lainnya. Adapun ketidaksetaraan secara seksual terdapat dalam berbagai level: dalam rumah tangga, komunitas lokal, masyarakat, dan negara.
Tanpa kekuatan ekonomi, perempuan akan kehilangan kehormatan dan prestis. Mereka akan kehilangan hak-hak dasar dalam hak-hak reproduksi (kapan dan berapa anak yang diinginkan perempuan), kehilangan hak dalam pernikahan (kapan dan siapa pilihan pasangannya), hak perempuan untuk bercerai, akses terhadap pendidikan. Sebaliknya dengan kekuatan ekonomi, tingkat ketidaksetaraan gender akan berkurang.Dengan demikian menurut Blumberg, tingkat stratifikasi berdasarkan gender dipengaruhi oleh tingkat kekuatan ekonomi yang yang bisa dimobilisasi perempuan. Dengan demikian semakin rendah kekuatan ekonomi perempuan semakin besar kemungkinan mereka untuk diopresi secara fisik, politik dan ideologi.
Dengan demikian semakin tinggi kekuatan ekonomi, semakin besar kemampuan perempuan untuk mengendalikan kehidupannya dalam hal: hak-hak reproduksi, pernikahan dan perceraian, aktifitas seksual sebelum menikah, pada saat hidup rumah tangga, dan kehidupan menjanda, tugas-tugas dan otoritas dalam rumah tangga, capaian pendidikan mereka, dan kemerdekaan untuk mendapatkan peluang yang beragam. Semakin besar kekuatan ekonomi dan semakin besar kemampuan mengontrol kehidupannya, semakin besar akses perempuan terhadap sumber-sumber nilai dalam sistem sosial hususnya pada hal-hal yang terkait dengan kehormatan, kekuatan politik dan ideologi yang mendukung hak-haknya.
Kesenjangan gender dalam partisipasi politik dinyatakan oleh Burns, Schlozman, Verba (2001) dan Desposate dan Norrander (2003). Ketidaksetaraan dalam institusi non politik, seperti dalam pembagian pekerjaan dalam keluarga, merupakan faktor yang membuat perempuan dan laki-laki memiliki partisipasi politik yang berbeda. Sedangkan kesenjangan gender dalam partisipasi politik konvensional menurut Desposate dan Norrander (2003) dipengaruhi oleh faktor umur, pendidikan, pekerjaan. Dalam penelitian tersebut umur terbukti sebagai faktor yang memberikan pengaruh yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan karena faktor sejarah dimana perempuan mengalami sosialisasi politik masa otoritarian yang mengeksklusikan politik perempuan. Penelitian tersebut juga menyatakan bahwa pekerjaan memiliki pengaruh berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Bagi perempuan pekerjaan merupakan faktor yang berpengaruh karena dalam penelitian sebelumnya bekerja merupakan pengalaman yang bisa membuat transformasi pengalaman, memobilisai dan membebaskan perempuan dari peran-peran tradisional dan memberdayakan mereka sebagai agen/ kekuatan ekonomi dan politik. Meskipun jika dihubungkan dengan pola pekerjaan berdasarkan gender di Amerika Latin memungkinkan pekerjaan memiliki pengaruh yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Meskipun dalam penelitian sebelumnya pendidikan memberi efek yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan tetapi dalam penelitian Desposate dan Norrander (2003) pendidikan merupakan faktor yang berpengaruh yang sama bagi laki-laki dan perempuan.
Dalam partisipasi politik non-konvensional, umur merupakan faktor yang mengurangi kesenjangan gender karena aktifitas protes justru merupakan aktifitas yang melibatkan laki-laki dan perempuan secara seimbang. Hal ini diartikan juga oleh Desposate dan Norrander (2003) sebagai pengaruh dari kondisi politik di Amerika Latin yang membuat baik perempuan dan laki-laki memiliki
aktifitas protes. Bagi perempuan partisipasi politik dipengaruhi oleh faktor pekerjaan karena partisipasi perempuan dalam dunia kerja telah membuka jaringan komunikasi, membuat perempuan terlibat dalam organisasi sosial,dan membuat perempuan memiliki resource ekonomi yang mandiri. Keberagamaan merupakan faktor yang berpengaruh secara negatif karena menurut Desposate dan Norrander (2003) meskipun agama memberi kesempatan untuk terlibat dalam organisasi sosial tetapi kepercayaan terhadap agama dan kehadiran secara rutin di gereja ternyata mengurangi keinginan responden untuk melakukan protes.
Habitus dan Politik Patriarchy
Studi Bourdieu (1990) menyatakan bahwa relasi laki-laki yang tidak setara tercermin dalam habitus, yakni sesuatu yang sudah berurat akar dalam keluarga dalam masyarakat. Kesenjangan gender yang terwujud dalam relasi laki-laki dan perempuan bahkan telah menjelma menjadi kekerasan simbolik (symbolic violence). Jika dihubungkan dengan teori sosialisasi sosial dari Berger dan Luckman (1967) setiap individu mengalami proses sosialisasi primer yaitu sosialisasi yang terjadi dalam lingkungan sejak masa kecil. Sosialisasi primer dari masa kecil di dalam keluarga menanamkan norma, nilai, kebiasaan dan perspektif tentang realitas sosial. Setelah lingkungan keluarga, tindakan sosial seseorang dipengaruhi oleh
sosialisasi sekunder, baik melaui institusi formal maupun informal.
Di beberapa negara Barat, budaya patriarki yang menyebabkan dominasi laki-laki dalam politik dan kesenjangan gender tradisional dalam partisipasi politik,menurut Inglehart dan Norris (2000) telah berkurang secara signifikan seiring dengan muculnya masyarakat modern yang ditandai oleh perubahan nilai-nilai dan transformasi peran gender tradisional.
Munculnya kapitalisme dan revolusi industri telah mengubah nilai-nilai tradisional. Demikian juga munculnya negara kesejahteraan (welfare state) dimana negara memberikan jaminan
terhadap layanan kesehatan, pensiun dan keberadaan lembaga negara dan pihak swasta yang menyediakan layanan perawatan untuk orang tua telah membuat isu tentang kualitas hidup menjadi prioritas. Hal tersebut karena masyarakat di negara-negara maju secara umum tidak lagi memiliki persoalan yang sangat serius dalam hal lapangan pekerjaan, pelayanan kesehatan dan perumahan. Salah satu persoalan kualitas hidup adalah kebebasan individu dan ekspresi diri, isu lingkungan, dan partisipasi langsung dalam keputusan politik melalui petisi, protes dan demonstrasi dan juga kesetaraan gender dalam rumah (keluarga), tempat kerja, atau dalam public sphere (Inglehart & Norris, 2000, 16).
Industrialisasi telah membuat perempuan masuk dalam dunia kerja dan telah mengurangi fungsi reproduksi perempuan. Perempuan memiliki tingkat pendidikan dan tingkat melek huruf (literacy) yang tinggi, mulai berpartisipasi dalam perwakilan pemerintah tetapi masih memiliki tingkat kesenjangan yang tinggi dibandingkan dengan partisipasi laki-laki. Tahap post industrialisasi telah meningkatkan kesetaran gender secara lebih signifikan karena perempuan sudah berada dalam posisi manajemen dan memiliki profesi dan bisa mempengaruhi lembaga-lembaga di pemerintahan.
Dengan melihat kecenderungan yang sama bahwa kesenjangan gender tradisional semakin berkurang di Australia, Bean (1991) juga membuat kesimpulan yang sama bahwa modernisasi merupakan faktor yang dianggap membuat kesenjangan gender tradisional berkurang, dan kecenderungan tersebut terjadi di negara-negara maju. Dominasi partisipasi politik laki-laki sangat kuat terjadi pada kohort yang paling tua, sedangkan untuk kohort yang paling muda menunjukan perubahan semakin rendahnya kesenjangan gender dalam partisipasi politik. Bean juga menunjukan bahwa kohort pertengahan tidak memiliki pola yang sama.
kelamin hanya signifikan untuk mahasiswa baru, dan ketika diuji satu tahun kemudian faktor jenis kelamin menjadi tidak signifikan lagi. Persson (2012) serta Taylor dan Clerkin (2011) menyatakan dominasi laki-laki dalam partisipasi politik mahasiswa sudah mulai berkurang dengan hasil regresi yang menunjukan faktor jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan. Meskipun Swank (2012) menemukan faktor jenis kelamin merupakan faktor yang signifikan bagi partisipasi politik mahasiswa, namun kondisi tersebut hanya pada mahasiswa perempuan yang berideologi konservatif. Demikian juga penelitian Simmons dan Lily (2010)menemukan bahwa faktor jenis kelamin berpengaruh ketika diregresikan sebagai independent variable dengan keaktifan belajar (active collaborative learning) dan keaktifan dalam intensitas pengalaman pendidikan (enriching educational experience) terhadap dependent variable partisipasi politik.
Temuan-temuan tentang semakin berkurangnya kesenjangan gender dan menguatnya partisipasi politik perempuan di negara-negara maju sebagai dampak dari modernisasi menunjukan bahwa proses industrialisasi telah membuat struktur dan kultur yang didominasi laki-laki telah berubah. Dengan kata lain, telah muncul habitus baru yang lebih kondusif untuk partisipasi politik perempuan sejalan dengan proses modernisasi dan industrialisasi terbut. Dari temuan tersebut menunjukan bahwa kehidupan manusia tidak lagi cukup memadai hanya dijelaskan dengan pemikiran tentang tindakan rutin dan proses reproduksi yang cenderung menekankan kondisi kehidupan sosial yang memiliki pola yang sama dan tidak mengalami perubahan.
Secara umum, dengan berdasarkan data dari Inglehart dan Noris (2003) bisa disimpulkan bahwa proses refleksifitas terhadap budaya patriarki yang berdampak pada berkurangnya kesenjangan gender tradisional lebih intensif terjadi di negara-negara industri dan post-industri. Menurut mereka, proses sekulerisasi yang terjadi secara gradual dan terjadi bersamaan dengan proses modernisasi
dalam masyarakat membuat melemahnya keberagamaan. Demikian juga di negara post-industri telah mengalami proses liberalisasi dalam sikap terhadap seksualitas. Agama terus memberi pengaruh yang kuat dalam norma sosial yang berhubungan dengan pembagian kerja secara seksual dalam keluarga, pekerjaan, dan dalam kehidupan public (public sphere) terutama di negara agraris. Meskipun demikian masing-masing agama memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap perempuan. Islam, bagi Inglehart dan Noris (2003, 29), merupakan agama yang paling kuat yang tidak mendukung munculnya kesetaraan gender.
Sebaliknya di Indonesia dominasi laki-laki dalam partisipasi politik di Indonesia masih sangat jelas sebagaimana ditunjukan oleh pengaruh jenis kelamin yang siginifikan dalam partisipasi politik (Mujani, 2003; Lussier, 2011). Mujani (2003,116) juga menunjukan realitas kuatnya fakta diskriminasi terhadap hak-hak perempuan meskipun dalam beberapa hal mengalami perubahan. Responden yang menyatakan bahwa perempuan boleh bepergian tanpa muhrim (pendamping) hanya sekitar 12% tahun 2001 dan meningkat menjadi 30% pada tahun 2002. Sebaliknya responden yang menyatakan laki-laki lebih superior dibandingkan dengan perempuan mencapai 90% di tahun 2001 dan menurun menjadi 86% di tahun 2002. Baik dalam survey tahun 2001 maupun survey tahun 2002 prosentase yang menyatakan perempuan memiliki hak menjadi wakil rakyat hanya berkisar 50%. Pandangan bahwa perempuan lemah untuk dijadikan hakim meningkat dari 57% di tahun 2001 dan 60% di tahun 2002. Demikian juga, terdapat penurunan dalam hal sikap terhadap hak waris, tahun 2001 terdapat 27% dari responden setuju hak waris perempuan dibedakan dari laki-laki, meningkat menjadi 32% di tahun 2002.
Dominasi laki-laki dalam partisipasi politik di Indonesia terjadi pada masyarakat umum. Studi tersebut belum memberikan
Studi ini akan memberi gambaran apakah di kalangan mahasiswa juga terjadi kecenderungan yang sama atau kecenderungan yang berbeda.
Menurut Burns et.al (2001) aktifitas politik akan semakin meningkat karena setidaknya tiga faktor: sumberdaya (resource), proses rekrutmen dan orientasi politik. Individu yang memiliki sumberdaya seperti uang, ketrampilan sebagai warganegara (civic skill), kemampuan organisasi dan komunikasi sehingga mempermudah mereka untuk terlibat secara aktif dalam politik. Aktifitas politik juga didorong oleh ajakan dari keluarga, teman kerja, teman dari gereja, atau ajakan untuk makan malam. Orientasi politik yang bersifat psikologis juga mendorong partisipasi politik yang lebih aktif, seperti karena memiliki ketertarikan terhadap politik dan karena memiliki informasi dan efikasi sehingga bisa membuat keterkaitan antara perhatian mereka dengan tindakan pemerintah. Menurut Burns et.al (2001) institusi non-politik dalam kehidupan sehari-hari seperti keluarga, sekolah, tempat kerja, organisasi sukarela non-politik dan gereja menunjukan situasi ketidaksetaraan. Laki-laki memiliki akses yang lebih terbuka dalam hal resource, proses rekrutmen dan orientasi politik yang bisa membuat mereka berpartisipasi dalam politik secara lebih aktif.
Dengan demikian buku ini akan melihat tingkat kesenjangan gender dalam partisipasi politik mahasiswa dan dinamika yang terjadi pada pada mahasiswa perempuan. Sejauh mana pengaruh habitus di mana budaya patriarki masih berurat akar dalam kehidupan masyarakat bisa dijelaskan dalam partisipasi politik mahasiswa. Demikian juga buku ini akam menjelaskan dinamika kehidupan mahasiswa dan gejala-gejala baru yang membentuk habitus baru yang memungkinkan mahasiswa untuk berpartisipasi politik secara lebih aktif.
BAB 2
PARTISIPASI POLITIK MAHASISWA
INDONESIA
Partisipasi Mahasiswa dalam Perubahan Politik
S
ebagaimana dijelaskan sebelumnya, studi-studi di negara post industri seperti Amerika dengan melihat aktifitas pada saat menjalani proses pendidikan di sekolah memberi pengaruh pada partisipasi politik, maka di Indonesia studi partisipasi politik lebih dilihat dari aspek keterlibatan mahasiswa sebagai aktor yang tak terpisahkan dari peristiwa penting dalam politik. Aspinall (1993), mencatat bahwa sejarah nasional Indonesia telah menempatkan mahasiswa sebagai salah satu actor politik yang penting dimulai dengan pergerakan Budi Utomo dan pergerakan nasional Indonesia melawan penjajahan Belanda. Demikian juga Jackson (2005,88) memberi perhatian serupa bahwa mahasiswa selalu menjadi aktor terdepan yang menandai munculnya sejarah baru. Ketidakpuasan terhadap pemerintah Sukarno, menjadikan mahasiswa sebagai faktor penting tumbangnya pemerintahan Orde Lama dan berganti menjadi Orde Baru melalui oganisasi seperti Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Indonesia (KAPI).Topik demonstrasi mahasiswa tahun tersebut berkaitan dengan gerakan anti komunis, Partai Komunis Indonesia (PKI), dan pentingnya pembangunan dan stabilitas ekonomi yang berujung
pada lahirnya Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat). Protes mahasiswa dianggap sebagai gerakan moral yang bertentangan dengan gerakan politik yang berorientasi pada jabatan dan kekuasaan.
Sejak tahun 1970 mahasiswa mulai memprotes pemerintah Orde Baru yang mulai dianggap korup seperti pada kasus korupsi pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), mismanajemen dalam pembangunan ekonomi, dan juga masalah pemilu 1971. Pada tahun 1973-74 protes yang dilakukan oleh mahasiswa semakin mengkristal karena pemerintah dianggap mengabaikan nasib masyarakat miskin. Protes ini mencapai titik kulminasi pada peristiwa Malari 15 Januari 1974 ditandai dengan protes mahasiswa terhadap kunjungan Perdana Mentri Jepang Tanaka ke Jakarta menimbulkan korban 8 orang mahasiswa meninggal dan 800 orang ditahan. Paska peristiwa Malari tersebut diberlakukan kebijakan yang melarang mahasiswa memiliki aktifitas politik yang dikenal dengan kebijakan NKK/BKK dengan diberlakukannya sistem SKS agar mahasiswa tidak terlalu banyak memiliki waktu luang untuk berpolitik. Namun demikian, masih tetap terjadi juga protes-protes yang marak pada 1977-1978 karena pemerintah Orde Baru dianggap terlalu militeristik untuk melindungi kepentingan bisnis yang dilakukan oleh birokrat bekerja sama dengan cukong China, eksploitasi negara oleh modal luar negeri dan tuntutan agar pembangunan lebih berorientasi keadilan sosial. Tema anti korupsi dan tuntutan agar hukum menjadi dasar dalam sistem politik menjadi topik yang sering muncul dalam aksi demonstrasi (Aspinall,1993, hal. 1-5).
Aspinall (1993) dengan mengutip Denny (1990) menyatakan pada era 1980n aktifitas politik mahasiswa merupakan gerakan yang cukup marginal. Organisasi ekstra mahasiswa seperti HMI, GMNI, PMKRI secara umum tidak popular dan hanya menarik mahasiswa yang memiliki kualitas rendah. Pada era 1980n mahasiswa identik
Tahun ini ditandai dengan munculnya NGO sebagai kekuatan untuk melakukan kontrol terhadap pemerintah. Aspinall mencatat bahwa aksi mahasiswa kembali marak pada tahun 1987-1989 dengan isu meliputi: (1) Isu-isu internal kampus (seperti SPP, fasilitas kampus, kualitas pengajar, manajemen universitas, korupsi dalam kampus tuntutan untuk system yang demokratis), (2) Konflik tanah yang pada umumnya merupakan konfrontasi antara petani miskin dan pengembang (3) Isu hak asasi manusia karena pemerintah melakukan tindakan represif dengan menangkap dan menahan mahasiswa aktifis. Pada tahun 1990, juga mucul isu seperti kenaikan harga listrik, bantuan luar negeri, relokasi PKL, eksploitasi perempuan, upah rendah, kekerasan seksual dan perempuan pekerja pabrik. Isu protes yang dilakukan oleh mahasiswa secara umum berkaitan dengan hak-hak masyarakat miskin dan isu keadilan sosial. Demikian juga pada isu perempuan berkaitan dengan perempuan miskin dan problem mereka.
Jackson (2005 (hal. 145) juga mencatat bahwa mahasiswa tidak pernah menjadi kehilangan kekuatan/ powerless. Mahasiswa memiliki kata kunci yang sangat penting yang berfungsi sebagai wacana kritis (critical discourse) terhadap pemerintah. Kata kunci tersebut misalnya kontrol sosial, politik, rakyat, intelektual yang biasa digunakan untuk mengekspresikan ide-ide mahasiswa serta peran mereka dalam politik. Kata kunci yang paling penting adalah kekuatan mahasiswa sebagai kontrol sosial (social control) untuk melakukan koreksi dan kritik dan juga mendefinisikan peran dan identitasnya. Kata tersebut di dalam sosiologi berasal dari pemikiran tentang kontrol dari masyarkat untuk memastikan dipertahankan norma-norma yang dianggap benar. Dalam konteks gerakan mahasiswa Indonesia kontrol sosial lebih ditujukan kepada kontrol terhadap politik dan kekuasaan yang perlu dilakukan oleh mahasiswa ketika mereka merasa terjadi ketidakberesan, ketidakadilan, ketimpangan. Demikian juga mahasiwa banyak menggunakan istilah-istilah yang memiliki konotasi politik yang
berasal dari Barat seperti protest, lobbying, pressure group, petition, resolution dan statement(resolusi dan pernyataan sikap). Istilah-istilah tersebut lebih bersifat aktif dan setara, tidak mengakui adanya hirarki karena pemerintah harus dihormati.
Jackson (2005 hal 158)) juga menjelaskan istilah lain yang sering digunakan untuk mengekspresikan peran mahasiswa sangat sangat powerful dalam politik yakni ‘kekuatan moral.” Kata tersebut menunjukan bahwa mahasiswa memiliki karakteristik seperti idealisme, kepekaan, berjuang untuk menegakan keadilan dan kebenaran tanpa marih, tanpa pilih bulu tidak menghiraukan sikap pemerintah (Orde Baru) yang selalu curiga dan menganggap gerakan mahasiswa ditunggangi. Demikian juga mahasiswa menggunakan kata “rakyat” seperti dalam ungkapan penyalur aspirasi rakyat, pembawa suara hati nurani rakyat, pembela rakyat jelata, juru bicara perasaan rakyat untuk menunjukan kekuatannya. Hal ini sama dengan slogan yang digunakan Sukarno yang menganggap dirinya sebagai penyambung lidah rakyat dan penggunaan rakyat dalam Dewan Perwakilan Rakyat/DPR (Jackson, 2005 hal. 161). Juga istilah intelektual sebagaimana didefinisikan Julien Benda, bahwa seorang intelektual tidak dibenarkan untuk melakukan aliansi dengan kelompok politik atau sosial tertentu tetapi harus mendedikasikan diri untuk pencarian kebenaran dan keadilan yang bersifat universal seperti yang diperankan oleh seorang resi (Jackson, 2005 hal 166).
Strategi yang digunakan oleh mahasiswa dalam periode pertengahan tahun 1970-1990 paska penerapan kebijakan NKK/ BKK lebih menggunakan aksi yang bersifat pasif, seperti melakukan kritik dan protes dengan menggunakan koran kampus, majalah mahasiswa dan juga melalui kartun. Pada periode keterbukaan tahun 1988-1994, hingga tumbangnya Orde Baru 21 Mei 1998, mahasiswa mempopulerkan kata-kata seperti perubahan, reformasi,
mahasiswa tahun1980-1990 an menunjukan karakter yang berbeda dibandingkan dengan periode sebelumnya, lebih bersifat radikal dan populis sebagai dampak dari keterlibatan mahasiswa dalam LSM dan kelompok-kelompok diskusi (Jackson, 2005; Aspinall, 1993).
Secara eksplisit, Hasibuan (2010) menyebut partisipasi politik mahasiswa Indonesia pada masa pemerintahan BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid sebagai gerakan politik mahasiswa. Gerakan politik mahasiswa didefinisikan oleh Hasibuan sebagai gerakan mahasiswa ekstra universiter yang terdiri dari HMI, KAMMI, FORKOT, FKSMJ dan intra univesiter (BEMI dan BEMSI). Gerakan politik mahasiswa yang digambarkan dalam disertasi Hasibuan tersebut diawali dengan pendudukan gedung MPR/DPR mulai tanggal 18 mei 1998 oleh FORKOT (Forum Kota) dan disempurnakan oleh kelompok FKSMJ tanggal 19 mei 1998. Gerakan mahasiswa tersebut memiliki pluralitas yang tinggi dan berujung pada polarisasi gerakan mahasiswa karena garis perjuangan dan agenda yang berbeda serta masuknya kepentingan elit politik melalui berbagai bentuk dukungan. Gerakan mahasiswa menunjukan komitmen bersama dan persatuan yang sangat kuat hanya sampai pada saat berahirnya pemerintahan Soeharto. Gerakan mahasiswa mulai terfragmentasi dengan naiknya BJ Habibie sebagai pengganti Soeharto yang didukung oleh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dengan tokohnya Anas Urbaningrum dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) dengan tokohnya Fachri Hamzah, dan menolak BJ Habibie yang dipelopori oleh FORKOT (Forum Kota) dengan tokohnya Eli Salomo (ISTN) dan Adian Napitulu (UKI), FKMSJ (Forum Komunikasi Mahasiswa se Jakarta) dengan tokohnya Sarbini (UNTAG). Demikian juga masing-masing elemen gerakan mahasiswa memiliki sikap yang berbeda terhadap peristiwa naiknya Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI menggantikan BJ Habibie. Kelompok yang menentang adalah BEMSI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia) yang dikordinatori
oleh Sigit Prasetyo (ITB), ALFONSO (Aliansi Lembaga Formal Kemahasiswaaan Se-Indonesia) dengan juru bicara Burhanudin Muhtadi (IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta) yang muncul sebagai pecahan BEMSI. Kelompok pendukung Abdurrahman Wahid adalah BEMI (Badan Eksekutif Mahasiswa Indonesia), jaringan organisasi mahasiswa yang juga muncul sebagai tandingan dari BEMSI dengan kordinatornya Arif Rahman (Universitas Tarumanegara Jakarta).
Hasibuan (2010,17) mengidentifikasi elit-elit politik yang mendukung BEMSI yang menginginkan kejatuhan Abdurrahman Wahid seperti Amien Rais, Akbar Tanjung, Fuad Bawazier, dan Bachtiar Chamsjah. Sedangkan elit-elit yang mendukung BEMI yang pro Abdurrahman Wahid menurutnya seperti Muhaimin Iskandar, Muhyidin Arubusman, Effendy Choiry, Adhie Massardi. Dengan kata lain Hasibuan (2010,20) menegaskan bahwa konflik gerakan mahasiswa merupakan miniatur konflik elit politik sebagai kerjasama elit politik di partai politik dengan aktifis mahasiswa di kampus. Kemunculan BEMSI difasilitasi oleh KAMMI, mahasiswa ekstra universiter yang dekat dengan PK (Partai Keadilan), karena itu keputusan Abdurrahman Wahid memberhentikan Nur Mahmudi Ismail dari jabatan menteri mengakibatkan menguatnya aksi-aksi demonstrasi menentang Abdurrahman Wahid. Hal ini direspon dengan kemunculan BEMI yang memiliki basis di UI, Trisakti, UNJ, IPB dan memperluas basis di perguruan tinggi di luar Jakarta melalu PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Polarisasi gerakan mahasiswa sebagai gerakan politik menurut Hasibuan (2010, 22) juga didasarkan pada ideologi seperti BEMSI didasarkan pada ideologi Islam, dan BEMI didasarkan pada ideologi sekuler dan nasionalis.
Hasibuan (2010, 244) berpendapat bahwa elit politik dalam era reformasi berusaha menggalang gerakan mahasiswa. Setelah mundurnya Soeharto sebagai presiden, gerakan mahasiswa