• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETUA RAPAT:

F- PD (WILLEM WANDIK, S.Sos.): Iya, iya oke

Yang berikut, status 27 rekomendasi senilai Rp10.958.574.042.000,- di mana sebanyak 22 rekomendasi telah ditindaklanjuti atau senilai Rp764.993.832.000,- dan dalam proses...(rekaman suara kurang jelas) 5 rekomendasi namun nilainya masih cukup besar yaitu Rp10.193.685.210.000,-. Nah di sini kejadian aset tetap sebanyak atau barang milik negara itu berupa 93 unit rumah yang dikuasai oleh pensiunan dan pihak ketiga senilai 9 10,16 miliar di BMKG ini dengan kasus seperti ini sering terjadi di sejumlah kementerian dan lembaga lain, karena itu harus segera diselesaikan agar tidak berlarut yang nantinya dapat merugikan negara.

Yang berikut kami berharap semoga BMKG tahun 2020 tetap mempertahankan predikat WTP untuk 5 tahun periode pertama Presiden ke-7 R.I. Bapak Haji Ir. H. Joko Widodo di tahun 2015 sampai 2019 kemarin.

Yang kedua, terkait refocusing dan penajaman program tahun anggaran 2021. Pagu awal DIPA BMKG Tahun 2021 sebesar Tiga Triliun Dua Ratus Tujuh Puluh Empat dilakukan refocusing atau penghematan sebesar 181 miliar, sehingga anggaran BMKG Tahun Anggaran 2021 sebesar Tiga Triliun Sembilan Puluh Dua. Dan yang kedua kita berharap progress penyerapan anggaran BMKG pada akhir tahun 2021 nanti dapat di, semoga dapat di atas 95% atau mendekati 100%.

Dan analisis...(rekaman suara kurang jelas) perubahan iklim terhadap kejadian cuaca ekstrim, di mana seperti yang dikatakan tadi oleh Ibu Kepala BMKG di mana adanya penyusutan Gunung Es di Tanah Papua di Puncak Jaya, di mana sejak periode lalu 2020 Februari lalu tahun 2021 ini telah mencapai 23,26 mili. Mungkin yang perlu diperhatikan disampaikan oleh BMKG apa dampak penyusutan es ini terhadap dampak iklim dan cuaca bagi warga kawasan pengunungan Puncak di Tanah Papua pada umumnya serta memberikan edukasi kepada warga di sekitar.

Dan yang berikut BASARNAS, hasil pemeriksaan BPK semester pertama tahun 2020 kemarin, di mana temuan pemeriksaan sampai dengan Semester I Tahun 2020 sebanyak 100 temuan dengan 265 rekomendasi, hasil tindak lanjut rekomendasi tersebut antara lain 245 rekomendasi telah ditindaklanjuti sesuai dengan rekomendasi BPK RI dan 1 rekomendasi...(rekaman suara kurang jelas) tidak dapat ditindaklanjuti dengan alasan yang sah dan kemudian 17 rekomendasi masih dalam proses tindak lanjut di mana nilainya masih cukup besar yaitu Rp.3.798.370.400.000,-.

Dan yang kedua, kenapa masih ada temuan pemeriksaan tahun 2011 dan 2012? Nah ini terkait apa temuannya dan apa ada kesulitan sehingga selama sehingga begitu lama diselesaikan oleh BASARNAS? Yang ketiga, semoga BASARNAS tahun 2020 tetap mendapatkan predikat WTP seperti tahun sebelumnya.

Yang berikut...(rekaman suara kurang jelas) ya. Yang berikut terkait refocusing, Pagu awal DIPA BASARNAS 2021 sebesar Dua Triliun Dua Ratus Sembilan Puluh Tujuh dilakukan refocusing sehingga menjadi 102 miliar sehingga anggaran BASARNAS Tahun Anggaran 2021 sebesar Rp2,195 triliun.

Yang berikut kami berharap penyerapan anggaran BASARNAS pada akhir tahun 2021 nanti dapat di atas 95% atau mendekati 100%.

Pak Ketua dan juga Bapak Ibu Anggota Komisi V.

Sebagai penutup kami juga memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada BMKG serta seluruh jajarannya, BASARNAS dan seluruh jajarannya yang terbukti dapat diandalkan dalam mendukung atas setiap kejadian bencana dan cuaca ekstrim di seluruh wilayah nusantara ini dan dapat diikuti dengan baik.

Sekian, terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih Kakak.

Sayangnya Kakak tidak lihat kita. Tersinggung kita ini Kakak. Terima kasih. Yang itu terakhir tadi dari Anggota.

Selanjutnya ke meja Pimpinan mungkin kami persilakan ke Pak Syarif dulu, Pak Lasarus mungkin belakangan Pak.

Silakan Pak.

WAKIL KETUA KOMISI V DPR RI (H. SYARIF ABDULLAH ALKADRIE, S.H., M.H.):

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat sore dan salam sejahtera bagi kita semua. Yang saya hormati Ketua Komisi dan Wakil Ketua, Teman-teman Anggota Komisi V,

Yang saya hormati Kepala BNPP (BASARNAS), Kepala BMKG dan beserta seluruh jajaran.

Mungkin yang pertama, rapat dengan BASARNAS ya atau...(rekaman suara kurang jelas) baru saya yang pertama setelah dilantik, ya Pak selamat Pak. Pertama berkaitan dengan BASARNAS, saya kira ini juga laporan dari BPK hasil evaluasi BPK pemeriksaan BPK WTP. Ya cuma memang yang menjadi perhatian selalu semuanya saya kira termasuk BMKG, termasuk semuanya berkaitan dengan masalah internal ini ya, saya lihat persoalannya sama-sama saja itu ya. Mungkin ini perlu menjadi evaluasi sehingga di

tahun-tahun yang akan datang itu tidak terjadi lagi hal-hal yang sebenarnya kan seperti kesalahan administrasi ya, kemudian kelebihan. Nah hal-hal ini seharusnya kan bisa bisa dilakukan, apalagi sekarang dengan segalanya ada ya secara teknologi juga bisa terpenuhi, sehingga tidak setiap tahun kita malah berkisar persoalan-persoalan itu saja.

Yang kedua, berkaitan dengan BASARNAS, saya kira saya akan mempertegas kembali Pak yang lalu-lalu juga tapi belum terealisasi. Pertama waktu itu saya memintakan untuk dibangunkan Pos BASARNAS di Kabupaten Kubu Raya itu, bahkan tanahnya sudah disiapkan Bupati dan ini tahun ini saja sudah empat kali kejadian di wilayah itu di Kecamatan Kakap itu. Ada kecelakaan di situ dan korban meninggal, baru-baru ini terjadi lagi. Nah ini tapi sampai saat ini itu belum terwujud gitu sudah cukup lama. Ini perlu menjadi perhatian.

Yang kedua, BASARNAS saya kira perlu juga dikembalikan lagi seperti yang lalu-lalu dulu zaman saya masih kuliah gitu ya, kebetulan saya juga dulu ini aktif di Pramuka, kita banyak dilatih oleh BASARNAS kita dalam kegiatan SAR dan sebagainya itu dalam rangka untuk pertolongan pertama, tapi kemudian itu sekarang itu sudah hilang itu Pak. Itu kalau bisa kan dalam rangka untuk memberikan juga pelatihan untuk meningkat apa anak-anak kita, terutama yang memang senang di dalam bidang itu gitu, untuk memberikan keterampilan. Kalau di Kalimantan Barat tidak ada masalah kalau mau kerja sama dengan saya, kebetulan saya Ketua...(rekaman suara kurang jelas) di daerahnya.

Ini mungkin yang perlu saya kira perlu dilakukan BASARNAS dalam rangka memberikan pendidikan pada generasi muda kita dalam rangka untuk melakukan terhadap pertolongan pertama pada saat bencana. Karena mau diakui sekarang negara Indonesia ini sudah pada fase sebagai negara bencana sudah ya. Makanya memang beberapa waktu yang lalu berkaitan dengan itu termasuk desain pembangunan kita sudah harus mengarah ke sana, karena di mana-mana sekarang selalu terjadi saja. Saya kira ini tentu merupakan tantangan kita bagi kita tapi kita tentu itu tidak menjadi hal yang pesimis, tapi bagaimana kita untuk mendeteksi awal itu berkaitan dengan itu ya tentu ada kaitannya dengan BMKG ya. Kalau di Jepang itu kan sudah bisa ketahuan Pak dalam waktu sekian terdeteksi gitu sehingga bisa meminimalkan korban dan sekarang itu semuanya kan bisa sudah kita lakukan. Nah berkaitan dengan itu saya kira inilah beberapa hal kemudian yang harus menjadi perhatian.

Yang kedua, BMKG ya apa yang dikatakan tadi cukup banyak ini kita kaitkan temuan berkaitan dengan PPH ya, kemudian PPN dan sebagainya itu ya seharusnya kan pembayaran ini saya ulangi lagi seharusnya kan ini tidak perlu terjadi Bu yang hal-hal ini. Nah ini karena ini faktor kecermatan, tapi itu menjadi laporan ya, cuma memang standarnya mungkin BPK itu semuanya WTP ya lakukan WTP, karena tidak masuk. Sebenarnya kalau sudah ada temuan begini seharusnya kan tidak WTP, seharusnya, tapi mungkin standarnya tidak termasuk hal-hal seperti ini sehingga apa yang berkaitan dengan temuan-temuan itu dianggap WTP oleh BPK, itu.

Kemudian terakhir ini kok kurang ya informasi, apakah saya yang tidak mengakses terhadap informasi yang BMKG ini. Ya jadi paling tidak kita kan bisa mendeteksi awal juga ya, kenapa itu tidak semua sistem nomor ya? Harus ada kita sama seharusnya kan bisa tidak dibuat semua orang walaupun tidak ini, siapa yang pemegang HP nomor apapun ketika itu informasi itu semuanya masuk ya, jangan cuma HP ini digunakan untuk membuat hoax saja Bu. Jadi tapi ya supaya orang secara keseluruhan tahu. Nah jadi saya kira mungkin ini. Kalau perkiraan cuaca itu kan perkiraan, saya sering juga buka radar itu, tapi jam 11.00 WIB hujan diperkirakan hujan, tapi tidak hujan terang, tapi kalau sudah deteksi BMKG kan cepat informasi BMKG bahwa akan terjadi ini kan sudah kelihatan itu. Nah cuma berarti kalau HP saya yang ganti saja tidak masuk, berarti kan apa sistemnya yang salah. Seharusnya kan semua nomor ketika mereka diregisterasi artinya sudah konek gitu ke BMKG, sehingga masyarakat sudah mengetahui hal-hal itu, termasuk untuk perjalanan dan sebagainya ya sudah dimengerti.

Saya kira itu mungkin dari saya Pak Pimpinan Rapat. Atas perhatian saya ucapkan terima kasih.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Syarif.

Selanjutnya dari Pak Ketua saya persilakan Pak Ketua. KETUA KOMISI V DPR RI (LASARUS, S.Sos., M.Si./F-PDIP):

Baik, terima kasih Pak Iwan.

Assalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua. Pimpinan dan Teman-teman Anggota yang saya hormati,

Pak Kepala BASARNAS dan Kepala BMKG beserta seluruh jajaran yang saya hormati.

Agenda kita hari ini adalah soal pemeriksaan BPK yang mendapat banyak sorotan dari teman-teman. Sebetulnya Pak Kepala BASARNAS dan BMKG kami di Komisi ini dalam konteks pengawasan itu sebetulnya menerapkan standar yang sangat minimal sebetulnya ya Pak Hamka ya? Sangat minimal sebetulnya. Kami belum pernah mengejar temuan-temuan yang disampaikan oleh BPK itu sampai ke lapangan. Itu baru kita selesaikan di meja rapat saja.

Oleh karenanya nanti pesan saya kepada Kepala BASARNAS dan BMKG tolong nanti di rapat ini ditindaklanjuti dengan laporan tertulis kepada

kami Bu, sejauh mana langkah-langkah yang sudah diambil terhadap temuan-temuan tadi, sampaikan nanti kepada kami sampai itu betul-betul tuntas, kalau tuntas. Jika tidak tuntas sampaikan juga kendalanya apa gituloh supaya dengan pola yang kami Pimpinan sekarang sepakati sekarang hasil pemeriksaan BPK dalam konteks pengawasan merupakan salah satu fungsi kami sebagai Anggota DPR itu dengan kita rapat seperti ini ya bisa kita selesaikan. Manakala nanti mungkin perkembangannya temuan itu tidak bisa dituntaskan bisa saja kami ke lapangan nanti ya, cek apa sih masalahnya di lapangan sehingga temuan ini tidak bisa diselesaikan. Apa lagi misalnya temuan itu muncul lagi pada laporan BPK tahun berikutnya atau semester berikutnya gituloh seperti yang tadi Pak Hamka sampaikan, saya dengar tadi Pak Hamka menyampaikan akan hal itu, itu terkait dengan temuan BPK.

Jadi saya rasa kami masih memberi kesempatan seluas-luasnya kepada BASARNAS dan BMKG untuk mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu dalam rangka menyelesaikan hasil temuan BPK itu gituloh.

DPR itu Bu menurut undang-undang, kami boleh melakukan misalnya ya Pak Hamka ya kita bisa menyurati BPK untuk melakukan audit investigatif Pak terhadap masalah-masalah yang menurut kami ya perlu kami tindaklanjuti secara detail. Nah sampai sebatas ini kan kami belum mengambil langkah-langkah seperti itu terhadap temuan-temuan yang ada. Nanti kalau kami usulkan audit investigatif Bu bisa jadi muncul temuan baru lagi di temuan yang sama.

Oleh karenanya kami beri kesempatan kepada mitra untuk memperbaiki ini secara seksama dengan dalil-dalil atau kaidah-kaidah sistem pelaporan keuangan yang sudah menjadi standar sebetulnya di Pemerintah. Nanti disampaikan kepada kami di rapat berikutnya tentu dalam konteks rapat pengawasan akan kita pertanyakan lagi. Sehingga hasil pemeriksaan BPK yang selalu disampaikan kepada di DPR itu BPK itu kan lembaga teknis Bu, lembaga negara tapi teknis dan kami DPR ini lembaga negara itu politis di sini. Nah dari sisi politis ini kami bisa juga melihat sisi teknisnya, apakah sisi teknisnya benar atau tidak begitu. Sejauhmana penanganan penggunaan keuangan negara di masing-masing kementerian lembaga mitra kerja Komisi ini dilaksanakan secara baik sesuai dengan standar akuntabilitas keuangan negara yang sudah kita sepakati. Itu yang pertama.

Yang kedua terkait refocusing, saya turut prihatin Bu ya baik dengan BMKG maupun dengan BASARNAS itu ya. Kami sendiri melihat memang dua tahun ini semenjak Covid ya. Kalau dulu kita untuk penanganan Covid dalam artian dampak dari Covid itu sendiri sekarang kan kita dipotong untuk pembelian vaksin. Ini vaksinnya perlu berapa dengan harga berapa rigid sudah makanya dipotong tidak bisa goyang, akhirnya Ibu harus dipotong sekian nanti dari Pak apa anggaran di BMKG dipotong sekian, anggaran BASARNAS dipotong sekian. Kita turut prihatin Bu.

Dan kami juga mendorong mudah-mudahan nanti ini kan ada Banggar di sini Pak Hamka, ada Pak Syarif di sini juga di Banggar ya, ada Andi Iwan, Ade Irwan ini Pak Irwan ada Banggar juga. Mungkin di asumsi kali Pak Hamka

itu di betul-betul anulah cermatlah supaya pagu indikatif yang disampaikan itu tidak asal-asal gituloh Pak, disampaikan sekian jarak berapa bulan lalu nanti dipotong lagi tinggal sekian, defisit pula. Ini kalau nambah tidak apa-apa Pak misalnya pagu indikatifnya sekian ditambah lagi sekian misalnya enak pasti backlock-nya kan pasti ada. Nah tinggal program yang sudah siap itu dikeluarkan, tapi kalau yang sudah siap ini dipotong, kan bingung lagi Bapak menentukan skala prioritasnya atau kementerian lembaga menentukan skala prioritas.

Nah saya rasa juga dari pada kita ambisius tapi duitnya tidak ada kan gitu Pak Hamka ya lebih bagus kita objektif, jadi kita kerjanya enak, kita pun tidak kerja dua kali Pak. Kita di Komisi ini pun jadi kaya poco-poco juga maju mundur-maju mundur kita. Sudah dikasih duit sekian ya, belum sempat program ini diapa-apakan sudah dipotong lagi refocusing sudah hampir sudah berapa tahun kita begini ini ya kasih tarik lagi.

Jadi saya rasa ini nanti teman-teman di Banggar ya dikiritisilah ini karena Pimpinan kan tidak di sana kita, kita menerima saja. Saya rasa itu barangkali ya tambahan dari saya untuk rapat kita pada hari ini Pak Iwan ya, saya kembalikan.

Wassalaamu'alaikum Warrahmatullaahi Wabarakatuh, Selamat siang dan salam sejahtera bagi kita semua. KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Ketua.

Dari apa yang pendalaman yang dilakukan oleh Anggota dan Pimpinan tadi, mungkin ada beberapa hal saya pribadi ingin menambahkan Bapak Ibu. Kalau tadi Pak Syarif selalu berharap ada SMS dari Ibu Kepala BMKG, saya tidak berharap ada SMS Bu, supaya nggak ada lagi yang namanya ketakutan gempa bumi di mana aduh ngeri juga SMS BMKG...(rekaman suara kurang jelas), berharap BASARNAS tidak terlalu banyak kerja berarti tidak terlalu banyak, tidak terlalu banyak kejadian-kejadian.

Pada hari ini saya secara pribadi mengapresiasi kinerja Ibu Kepala BMKG maupun Kepala BNPP atas pencapaian WTP, khususnya BMKG yang sudah 5 tahun berturut-turut, namun ada beberapa catatan yang seperti halnya disampaikan oleh teman-teman Anggota tadi bahwa rekomendasi-rekomendasi yang pada dasarnya sudah ada sejak tahun 2011 ditindaklanjuti tapi tidak tuntas, kita berharap bahwa Ibu lebih prioritas bagaimana Kepala BNPP juga yang 2011 tadi masih ada temuan-temuan rekomendasi tadi itu bisa menjadi prioritas buat Bapak Ibu untuk diselesaikan secara tuntas seperti apa yang disampaikan oleh Pak Ketua maupun Pak Hamka tadi. Jadi tidak berulang-ulang muncul setiap kali di tiap tahun ada pemeriksaan BPK muncul lagi muncul lagi Bu.

Kemudian terlepas dari pada itu tentunya kita juga mengharapkan optimalisasi kinerja pengawasan internal dari baik itu dari BNPP maupun dari BMKG sendiri, agar supaya hal-hal dalam ke depannya penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terdapat kelalaian atau ketidaksengajaan itu bisa diminimalisir dan kemudian tidak lagi menjadi temuan daripada BPK. Kita berharap bahwa ada pembinaan di internal Ibu sendiri yang sifatnya bisa kemudian meminimalisir temuan-temuan BPK yang akan muncul. Apalagi kita melihat bahwa banyak temuan tersebut atau rekomendasi tersebut yang berulang-ulang.

Selanjutnya kemudian kita juga berharap dalam realokasi refocusing ini Bu, sudah 2 tahun kita mendapatkan masalah yang sama, mulai dari tahun 2019-2020 terdapat maaf 2020 dan 2021 ini realokasi refocusing sudah dilaksanakan. Dengan adanya pandemi Covid kita berharap bahwa 2020 nanti semua kegiatan-kegiatan yang belum sempat terlaksanakan atau ter-pending dengan adanya realokasi tersebut di 2020 nanti Ibu bisa menyusun perencanaan yang lebih matang lagi dengan lebih memperhatikan kegiatan atau kebutuhan kita yang sebelumnya belum dapat dilaksanakan. Mungkin itu yang dari saya pribadi.

Selanjutnya saya akan memberikan kesempatan kepada Bapak Kepala BNPP dan Ibu Kepala BMKG untuk memberikan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan-pertanyaan dari Pimpinan maupun Anggota Komisi V. Kesempatan pertama kami serahkan kepada Ibu Kepala BMKG.

Terima kasih, silakan Bu.

KEPALA BMKG (Prof.Ir. DWIKORITA KARNAWATI, M.Sc.,Ph.D.):

Terima kasih sekali Pimpinan Komisi V dan Anggota Komisi V atas masukan dan arahannya.

Namun di sini ada beberapa hal yang dipertanyakan dan mohon izin kami menyampaikan bahwa memang benar apa yang disampaikan oleh Bapak-bapak bahwa temuan-temuan itu sejak dalam laporan kami sejak tahun 2015 itu adalah itu-itu saja. Jadi terulang-ulang lagi. Nah secara umum ini yang sampai hari ini belum tuntas tadi dipertanyakan juga ada yang tuntas, tetapi dalam laporan BPK belum tuntas.

Nah yang sudah kami katakan tuntas karena penyelesaiannya per Januari, misalnya tadi tentang pembayaran kelebihan itu baru saja diselesaikan di bulan Januari atau Februari, sehingga memang belum dilaporkan belum diperiksa ulang oleh BPK. Namun memang benar ada yang belum tuntas misalnya terkait dengan rumah dinas. Nah itu belum tuntas meskipun ada perkembangan. Jadi di sini ada perkembangan 17 unit rumah dinas itu berhasil dikembalikan tapi masih ada yang belum dikembalikan. Jadi itulah yang apa yang kami maksud masih dalam proses semacam itu dan untuk mengatasi hal tersebut, seperti arahan Pimpinan Komisi V kami saat ini karena melihat terulang-ulang kami segera menerapkan sistem yang secara otomatis akan

mencegah keterlambatan pengembalian rumah dinas itu saat memproses pensiun.

Jadi dengan upaya itu dengan sistem e-governance kami berharap kejadian itu kan sudah sejak lama tahun 2015 misalnya. Nah ini diharapkan dengan e-governance hal tersebut tidak akan terulang lagi dan juga yang belum tuntas antara lain tentang tanah, kesalahan umum itu adalah pada sertifikat kesalahan mengetik tidak menyebutkan c.q. Pemerintah RI eh maaf atas nama Pemerintah RI c.q. BMKG. Jadi ada kesalahan ketik itu yang harus segera diperbaiki. Artinya ini kami juga harus melakukan pembinaan internal agar jangan sampai lengah dari kesalahan ketik itu kan dampaknya akan sangat luas. Nah ini sudah ada yang mulai tuntas tetapi masih tersisa ada yang belum tuntas.

Jadi betul sekali Bapak Hamka ada beberapa yang memang belum tuntas dan kami akan terus memonitor dan memperbaiki sistem internal serta mengingatkan terus ke para Deputi sampai ke bawah melalui sistem yang ada dan terima kasih atas arahan tersebut.

Dan juga tadi ada pertanyaan terkait dengan tadi Bapak Pimpinan tentang informasi dari BMKG apakah tidak bisa secara otomatis disampaikan ke seluruh Anggota masyarakat. Sebetulnya kami bekerjasama dengan Kominfo hal itu kami sampaikan secara otomatis seperti halnya yang di Jepang, apabila ada gempa bumi dari Kominfo otomatis akan memberikan SMS tetap ya...(rekaman suara kurang jelas) tetapi dibatasi. Ya ini karena juga kapasitasnya ya hanya 4 kabupaten atau 4 wilayah yang terkena dampak. Jadi yang jauh dari lokasi tidak akan mendapatkan SMS itu, hanya masih terbatas wilayah yang terkena dampak. Nah itu SMS secara otomatis.

Kemudian mohon juga kami bisa memberikan secara otomatis apabila meng-instal aplikasi info BMKG, ini gratis dapat di-instal dari Playstore atau Applestore. Apapun peringatan dininya baik hujan lebat ataupun iklim kering ataupun info gempa bumi dan peringatan dini tsunami akan secara otomatis mendapatkan notifikasi tersebut, tetapi mohon meng-instal aplikasi tersebut dan kami masih belum puas, masih akan terus meningkatkan kapasitas diseminasi informasi tersebut.

Dan yang terakhir terkait juga dengan apa cuaca ekstrim tadi dari Bapak Willem menyampaikan bagaimana dampak dari es yang hilang di Puncak Jayawijaya. Dampaknya antara lain adalah berkurangnya keanekaragaman hayati yang ada di wilayah Papua dan tentunya hilangnya keanekaragaman

Dokumen terkait