Kebetulan tadi saya sebenarnya tidak mau muncul ini tapi kebetulan yang ngomong dari orang PAH I saya mantan PAH I sekarang sudah PAH II, saya kira
sebenarnya rumusan Pasal 2 itu sudah final, itu rumusan Pasal 2 UUD itu sebenarnya sudah menjadi final dari petentangan apakah itu joint session apakah itu sidang gabungan dan semua karena pengertian joint session sidang gabungan itu akan membawa perbedaan didalam tugas Anggota DPR dan Anggota DPD itu sebabnya dengan memasukan kata anggota DPR, MPR terdiri dari Anggota DPR dan Anggota DPD itu menyelesaikan semua persoalan, karena dulu bahasanya adalah MPR terdiri dari DPR dan DPD kalau kalau itu joint session, jadi sebenarnya saya kira kita tidak usah ungkap lagi dan itulah pesan saya sama Saudara Seto yang mengungkit-ungkit itu pada waktu itu, beliau kan ikut disana kita sudah selesaikan dengan baik dan saya kira itulah sudah final, tapi kok ada catatan seperti gini saya juga bingung ini sebenarnya catatan ini bukan disini memang menarik waktu itu diskusi kita tapi atinya saya kira tidak tepat lagi sekarang kita mainkan diskusi ini disini karena sudah kelarkan waktu itu, nanti di DIM 51 kita main lagi untuk melihat lebih tepat barangkali segala argumentasi akan bisa keluar disitu, terima kasih.
KETUA PANJA:
Silahkan Bu Aisyah Aminy.
F.PPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, SH):
Waiau tadi dikemukakan oleh saudara Asnawi bahwa itu gabungan berati dua lembaga padahal UUD sudah mengatakan keanggotaannya itu tidak lembaga, keanggotaanya itu adalah terdiri dari ANggota DPR dan Anggota DPD, jadi jelas bukan gabungan dari dua lembaga tapi menjadi pertanyaan kepada pemerintah adanya SK biasanya Anggota DPR biarpun sudah setahun sudah dia terpilih tapi belum ada SK Presiden dia tidak menerima apa-apa, nah kalau sudah ada SK MPR ini ada konsekwensi logisnya PPP menurut pemerintah bagaimana kira-kira, jadi kami tanyakan kalau tidak ada konsekwensinya lalu apa perlunya mungkin itu dipertanyankan, terima kasih.
KETUA PANJA:
Baik saya kira kalau itu mau dijawab tapii saya ingin mengembalikan posisi Panja ini adalah tidak lagi me anu apa yang sudah diputuskan oleh Pansus sebagai satu diserahkan pada Timus, yang di Panja itu, ini usul DIM 25 usulnya tapi bukan pada substansi ininya, usul berkenaan dengan joint session jadi itu tempatnya tidak disubstansi ini maksudnya karena substansinya sudah selesai di DIM 25 dan DIM ini sudah disetujui masuk ke Timus.
F.KB (DRA. IDA FAUZIAH):
la pak, saya ingin mengulang bahwa kami tidak me, ada satu rumusan menjelaskan bahwa MPR itu joint session ini adalah konsekwensi yang tadi dikatakan bahwa nanti di DIM 51 akan dijelaskan itu, ya memang dijelaskan disana tapi ini kita tidak akan membicarakan MPR itu sudang gabungan tidak pak disini memang saya juga setuju itu, disini adalah sebagai konsekwensi dari bahwa MPR itu sidang gabungan itu, konsekwensinya ada disini kaitannya dengan keanggotaan harus melalui Keppres adanya sumpah atau pengambilan sumpah atau janji, itu konsekwensinya ada disini sehingga menurut saya dalam DIM-nya F.KB tidak menjelaskan bahwa MPR itu joint session sidang gabungan tidak ini konsekwensi dari DIM yang nomor 51 itu dan saya sekali lagi menjawab Pak Aritonang yang diperdebatkan waktu itu Pak Seto pada tanggal 4 Juni kaitannya dengan MPR itu yang F.KB mengusulkan ada kata-kata sidang gabungan itu 4 juni, tanggal 5-nya belalih pada DIM yang nomor 25 Pasal 3 jadi kalau waktu itu Pak Seto diam itu tanggal 4 pak, mengingatkan Pak Aritonang, terima kasih.
25
KETUA PANJA:
Saya kira yang pertama bahwa penjelasan BU Aisyah Aminy tadi mengatakan bahwa keanggotaan MPR itu terdiri dari Anggota DPR dan Anggota DPD memecahkan pengetian tidak ada lagi pengetian itu sidang gabungan dari lembaga DPR dan DPD, jadi keanggotaannya bukan lembaga DPR dan DPD tetapi Anggota DPR dan Anggota DPD menjadi anggota MPR dan itulah yang memecahkan bukan lagi sebagai sidang gabungan, nah jadi ini pengetiannya penjelasannya Bu Aisyah Aminy sepeti itu, jadi kalau mau sekarang diperdebatkan mengenai pengetian sidang gabungan joint session dan sebagainya rasa-rasanya memang tempatnya tidak dirumusan ini, rumusan ini berkenaan dengan soal peresmian sebagainya yang itu konsekwensi administratif dari keanggotaan MPR, nah barangkali yang dimaksudkan apakah keputusan Presiden itu namanya nanti itu anggota DPR garis miring anggota MPR anggota DPR sendiri SK-nya duan dan sebagainya saya tidak tahu itu soal yang sifatnya administratif kami tanyakan saja kepada Pemerintah.
PEMERINTAH:
Terima kasih dan khususnya kepada lbu Aisyah Aminy yang kami hormati, jadi berawal daripada ketentuan Pasal 2 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sampai disitu kita sudah tidak perlu memperdebatkan.
Kemudian berjalan lagi kepada Pasal 3 dan Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3) UUD disana MPR mempunyai tugas yang berbeda memiliki kewernangan yang berbeda dengan apa yang menjadi kewenangan DPD maupun DPR, nah oleh karena itu dia merupakan suatu lembaga yang memiliki tugas, fungsi, wewenang, hak yang berbeda pula dari hal keterumusan ini maka memiliki konsekwensi-konsekwensi urutan selanjutnya apalagi didalam UUD'45 itu tidak memposisikan lagi MPR sebagai lembaga tetinggi, jadi atas dasar itu maka pemerintah dalam hal ini Presiden secara resmi secara administratif mengeluarkan surat keputusan agar MPR dengan anggota-anggota yang terdiri dari dua lembaga itu dari Anggota DPR maupun DPD itu bisa melaksanakan tugas dan fungsinya inilah mengenai keanggotaan MPR supaya bisa melaksanakan tugas dan fungsinya diterbitkanlah surat keputusan Presiden sebagai suatu persyaratan pengesahan secara administratif. Disisi lain sebagai konsekwensi karena memiliki tugas sendiiri, memiliki wewenang sendiri memiliki hak yang berbeda dengan lembaga-lembaga lain maka ada konsekwensi keuangan itu administrasi itu sudah jelas didalam persida11gan-persidangan kita tidak bisa mencampur adukan antara sidangnya DPR maupun DPD sehingga perlu ada satu keputusan Presiden atur sediri karena merupakan lembaga tersendiri dia mempunyai pimpinan tersendiri, perkara pimpinannya itu nanti digabung ataupun dipilih tersendiri oleh Anggota-anggota MPR itu, itu persoalan lain tetapi yang jelas lembaga itu punya pimpinan yang pimpinan itu juga memiliki konsekwensi-konsekwensi karena tugas dan kewajiban, itulah diperlukannya ada suatu keputusannya Presiden, terima kasih.
KETUA PANJA:
Silahkan pak,
F.PG (DRS. H. BAHARUDDIN ARITONANG):
Sebenarnya waktu itu juga pemerintah sudah menjelaskan hal ini tetapi memang barangkali Bu Aisyah ingin memperdalam lagi bagus sekali dijelaskan oleh dari pihak pemerintah, kemudian kedua petanyaan saya sidang ini sampai pukul berapa? Oh sampai pukul 17, kemudian seingat saya walaupun saya suka ngantuk Bu Ida tidakn ada sidang tanggal 4 juni keputusan pembahasan kita itu adalah 5 juni, jadi waktu itu karena lbu Ida juga mentetawai saya tapi kali itu saya tidak ada sidang tanggal 4, 5 juni itu semua dan itu tadi persidangan sepeti
yang dijelaskan Pak Yahya memimpin sidang waktu itu, sebenarnya dengan ketawa lbu Ida ini sudah selesai persoalannya ini Pasal 3 ini juga Cuma rumusannya saja yang mungkin yang perlu kita selesaikan, terima kasih.
KETUA PANJA:
Jadi tentu Panja tidak akan keluar dari apa yang sudah dititipak kepada Pansus dan penugasannya itu sudah ya jadi kecuali salah ketik, jadi saya kira yang DIM 25, 26 bunyi-bunyiannya, substansinya itu masuk kepada Timus bisa disepakati.
F.KB {ORA. IDA FAUZIAH):
Sebentar Pak Ketua, ini juga tidak keluar dari Pansus karena keputusan Pansus itu menyatakan bahwa usul F.KB DIM 25 sampai 30 dis'erahkan kepada Panja itu tidak keluar dari Pansus Pak Ketua, jadi saya kemudian mengambil jalan yang enak saja, saya kira ini pasal karena terkait juga dengan DIM sesudahnya nanti DIM 50 mengandung konsekwensi itu kita biarkan disini dulu kita akan lihat bagaimana DIM 50 dan ada satu catatan lagi kalau ada perbedaan pendapat ini sama-sama anggota PAH antara Pak Hobbes, Pak Asnawi saya kira memang perlu dilihat risalah rapat biiar tidap persepsi masing-masing orang sehingga apa yang berkembang PAH I itu maslah rapatnya seperti apa, saya mengusulkan itu, jadi sekali lagi yang saya sampaikan ini tidak keluar dari Pansus dan kalau misalnya dianggap ini terlalu lama kita berputar disini saya kira ini kita akan lihat bagaimana DIM nomor 50 nantinya karena ini ada konsekwensi dari pasal akibat atau konsekwensi dari DIM sesudah ini, terima kasih ketua.
KETUA PANJA:
Jadi saya pahami dari F.KB meng1anggap bahwa DIM Nomor 25 sampai 30 itu terkait dengan lembaga MPR dalam pandangannya hanya joint session Anggota DPR dan Anggota DPD sehingga berpendapat bahwa sumpahnya cukup dianggota DPR saja sumpah itu sekaligus menjadi anggota MPR, sumpah anggota DPD itu sekaligus sumpah menjadi anggota MPR, nah hal itu oleh pemerintah waktu itu dijelaskan bahwa persidangannya itu berbeda kelembagaannya fungsi dan tugas antara DPD dan DPR dengan lembaga MPR, jadi memang sumpah pada waktu anggota DPR dalam persidangan DPR, sumpah anggota DPD dalam persidangan DPD, sumpah rnenjadi anggota MPR dalam persidangan MPR itu penjelasam1ya kira-kira sepeti itu, jadi masing-masing memang merangkap tetapi tidak bisa pada waktu sidang DPD itu otomatis dia persidangan MPR, dia sidang DPR, dia sidang MPR, sidangnya MPR apabila anggota-anggota DPR dan anggota-anggota DPD bersarna-sama dalam satu persidangan yang namanya sidang MPR sehingga ketika mengangkat sumpah atau janji atau apa saja dalam forumnya masing-masing, nah ini yang dijelaskan sepeti itu, nah kelihatannya dari Bu Ida rnasih berpikir bahwa sumpahnya sumpahnya cukup saj1a sumpah kepada anggota DPRD itu juga otomatis sebagai sumpah anggota MPR sumpah sebagai anggota DPR otomatis sumpah menjadi Anggota MPR, nah tetapi memang ada forumnya masing-masing yang harus dipisahkan dan dibedakan tidak demikian pada waktu sidang DPR dia Anggota DPR walaupun Anggota MPR menurut penjelasan pernerintah dia rnelaksanakan tugas sebagai Anggota DPR, jadi tidak otornatis didalam forum DPR itu ngomong sebagai Anggota MPR dia tetap bicara sebagai Anggota DPR yang tugas fungsi kewajiban tanggungjawabnya diatur Undang-undang sebagai Anggota DPR, ketika dia menjadi Anggota DPD dia melaksanakan fungsi Anggota DPD tetapi bukan melaksanakan forum MPR itu walaupun dia Anggota MPR, nah yang fungsi, tugas, hak, kewajibannya diatur oleh undang-undang sebagai Anggota DPD, nah ketika menjadi Anggota MPR dia dalarn forum MPR yang fungsi, tugas, hak, kewajiban, tanggungjawab,
27
etikanya juga diatur oleh lembaga MPR, jadi dengan demikian ada sesuatu yang dirangkap sama tetapi beda furomnya tersendiri yang harus bisa dipisahkan dan dibedakan, nah apabila kita berpikir sepeti itu memang MPR itu sendiri memang ada aturan dan memang harus didalam briket MPR didalam keranjang MPR nanti ada keranjang DPD, ada keranjang DPR, nah apakah kita bisa sepakati sepeti itu sehingga aturan berkenaan dengan MPR kita atur, aturan berkenaan dengan DPD itu kita atur, aturan yang berkenaan dengan DPRD kita atur walaupun ini mengatur yang mengatur DPR itu anggota yang itu juga rangkap Anggota MPR, nah kalau kita bisa memisahkan sepeti itu saya kira kita akan bisa masuk ya okelah kita sekarang aturan mengenai aturan MPR nanti kita mengatur mengenai soal DPR, nanti kita mengatur soal DPD, jadi tidak terjadi suatu yang saling apa kalau bahasa jawanya worsuh tidak terlalu diacak, apakah kita bisa maju dalam pikiran kita coba mengatur soal MPR itu bagaimana anggotanya kita atur, mengenai DPD nanti juga kita atur, mengenai DPR itu kita atur sehingga berkenaan dengan keanggotaan MPR yang diresmikan dengan keputusan atau dituangkan dalam Keputusan Presiden mengangkat sumpah dan janji dalam forum MPR karena keanggotaannya dia keanggotaan MPR itu kita bisa runtut sepeti itu sehingga kita bisa masuk ini, ini sumbangan pikiran dalam kaitan menyelesaikan persoalan, pemerintah barangkali akan merespons, jadi bisa diterima begitu, ya silahkan.
F.PDU (DRS. H. ASNAWI LATIEF):
Saya mengikuti pembahasan awal memang benar bahwa MPR itu bukan terdiri atas dua lembaga tapi dari anggota-anggota dari dua lembaga yang masing-masing dipilih melalui hasil pemilu tetapi MPR-nya sendiri pernah tidak dibahas dia lembaga atau dia forum atau apa, kalau dia melembaga ya sepeti ini walaupun tidak lagi tidak lembaga tetinggi dia bahwa hak-hak dan wewenangnya sudah dipereteli oleh oleh konstitusi yang baru, sehingga dengan demikian kita tidak akan bahas lagi sidang itu sidang gabungan atau bukan sudah kalau sudah dilembaga kan masalahnya disini sebab Pasal 2 itu memang UUD'45sudah pinal bgitu bunyinya cuma dalam persidangan itu atau MPR-nya sendiri itu kita nyebut apa, memang disitu tidak ada penjelasan lagi, terima kasih.
KETUA PANJA:
Baik barangkali pemerintah.
PEMERINTAH:
Terima kasih, jadi kalau kita melihat sekali lagi Pasal 2 UUD'45 MPR itu jelas memiliki suatu kewenangan tersendiribegitu pula kalau kita mengacu Pasal 8 itu punya tugas wewenang yang berbeda dengan kewenangan yang dimiliki oleh DPR maupun DPD, DPD pun berbeda dengan tugasnya DPR, nah oleh karena itu namanya juga majelis dalam teori apapun organisasi atau administrasi yang dimaksud majelis itu adalah satu lembaga Majelis Muslim Seluruh Indonesia juga satu lembaga berati satu institusi organisasi yang mempunyai tugas, wewenang, kewajiban, hak anggota tersendiri, nah ini saya rasa tidak terlalu sulit atau sangat mudah untuk kita pahami mengenai hal ini, jadi dengan demikian apa yang telah diketengahkan oleh Bapak Ketua Panja maupun juga kemudian yang dari F.PDU yang terhormat itu dengan merujuk Pasal 2 ya sudah selesai disitu, jadi memang artinya memang lembaga jadi tidak perlu dipersoalkan lagi, terima kasih.
KETUA PANJA:
Apa Bu Ida masih minta ingin diendapkan dulu atau kita sudah bisa melihat ini sebagai.
28
F.KB (ORA IDA FAUZIAH):
la saya sekali lagi inikan ada hubungannya dengan DIM 51, jadi kalau misalnya usulnya F.KB misalnya di DIM 51 disetujui maka konsekwensinya kan ada di pasal ini maka saya untuk sementara kita tunggu sampai DIM 51 itu kan ada hubungan dan ada konsekwensi dari DIM 51 itu.
KETUA PANJA:
Saya kira kita bersabar kita untuk kita kan mau bersamaan.
F.PDIP (DIDI SUPRIYANTO):
Biar cepat ketua, jadi sudah dipendirig saja sampai DIM 30 nanti dibahas lagi setefah DIM 51, kita mulai saja 31 saja sekarang.
KETUA PANJA:
Disetujui DIM 31 sampai DIM 50 pembahasannya lebih lanjut diserahkan ke Panja oke banget iki keputusan Pansus tanggal 5 memperhatikan usul F.PPP dibahas di Panja, usul F.PPP bagian kedua Pimpinan MPR, say kira ini akan kalau pikiran ini soal joint session dan apa sidang gabungan apa bukan ini masih belum selesai ini akan berendeng ke belakang semua ini, saya kira sulit untuk kita, yang jelas bahwa pemerintah maupun sebagaian teman-teman fraksi selain
F.KB kelihatannya mana yang baik itu sudah dianu lembaga atinya kalau ini memang sudah menjadi lembaga dan keanggotaannya jelas itu merupakan bukan dua lembaga yang bersidang bersama tetapi MPR itu lembaga tersendiri yang anggota-anggotanya adalah Anggota DPR dan Anggota DPD, jadi bukan persidangan dua lembaga yang bersidang berhadap-hadapan tapi memang ada persidangan namanya lembaga MPR yang bersidang itu anggota-anggota DPR dan anggota-anggota DPD dan kemudian menjadi Anggota MPR, nah saya kira kalau ini masih berpegang pada joint session dengan itu kayaknya belum akan ketemu, jadi barangkali harus ada kesepahaman kita untuk melihat bagaimana konstruksi UUD kita tentnag lembaga-lembaga ini, tadi dijelaskan lembaga atau bukan, forum atau lembaga dijawab dia lembaga bernama Majelis Permusyawaratan Rakyat, siapa angota-anggotanya, anggota-anggotanya dipilih rakyat sebagai Anggtoa DPR dan Anggota DPD, nah ketika dia menjadi Anggota MPR dia Anggota MPR dia tidak membawa-bawa saya Anggota DPR,saya Anggota DPD tidak lagi tapi dia menjadi Anggota MPR dengan segala konsekwensi, administrasi dan sebagainya, jadi ini coba kita pahami sepeti itusehingga kita tidak lagi berpikir ini joi11t session, forum atau apa, ini lembaga yang bersidang dengan kewajiban, tanggungjawab, tugas, kewenangan dan sebagainaya yang berbeda dengan tugas, wewenang, hak, tanggungjawab dari DPD dan juga DPR, jadi lembaga tersendiri yang anggota-anggotanya terdiri dari anggota DPR dan anggota DPD, nah saya kira kalau ini belum selesai kebelakang ini akan sampai kapanpun itu adanya, ya silahkan.
F.PG (ORA HJ. ROSNANIAR):
Terima kasih, saya sangat menghargai usul dari F.KB adik kita Ida dan juga pada hari ini hadir pakar PAH I yal<ni Pak Asnawi ya waktu itu saya juga disitu dahulusangat keras memperjuangka ini, setelah kita bahas beberapa menit pada jam ini kita melihat bahwa Pak Asnawi sudah mulai agak lembut agak memahami hal ini terakhir beliau betanya apakah MPR juga telah dibahas, DPD kita bahas, DPR kita bahas, MPR juga sudah kita bahas disitu kita sepakat bahwa MPR ini merupakan satu lembaga tidak joint session atinya rapat gabungan tetapi betul-betul suatu lembaga sehingga kita susun itu ada pimpinannya, ada hak kewajiban, wewenang dan ada pimpinan oleh karena itu, saya menghimbau lbu Ida supaya marilah kita bersama-sama menyelesaikan ini
29
apabila ini tidak selesai selanjutnya juga tidak bisa dibahas, terima kasih, Assalamu'alaikum Wr. Wb.
KETUA PANJA:
Saya hanya menghimbau tapi kayaknya setelah kita baca kembali ada kaitannya kesitu jadi adanya, mungkin Pak Kohirin.
F.TNl/POLRI (KOHIRIN SUGANDA S. M.Sc): Terima kasih Pimpinan, Yang terhormat Dirjen Otda.
Menarik memang dari awal kami juga melemparkan masalah ini bahkan waktu itu didepan Pak Seto kami mengatakan kami menganut padhab permanen body dihadapkan kepada bukan hanya Pasal 3 UUD tetapi juga Pasal 7 dan Pasal 8 waktu itu sampai saya mesimulasikan bahwa kontigensi Pasal 7 dan Pasal 8 itu kalau kita tidak punya MPR sebagai sebuah lembaga pemanen body maka akan sulit, Pak Seto waktu itu akhirnya tidak mempermasalhkan kembali antara joint session dan permanen body akan manut tetap1i ingin efesiensi kita hadapkan dengan Pasal 3 saja tugas MPR, apakah efesiensi ini akan diruntut pada sub-sub peona-nya pada pasal-pasalnya antara lain pasal penyumpahan, pasal kepengangkatan, pasal nanti pimpinan saya ingat begitu, jadi saya kira sebenarnya sudah tidak ada masalah antara joint session dan lembaga atau permanen body tetapi maslahnya F.KB akan mengangkat pada tiap-tiap pasal efesiensi karena pada prinsifnya waktu itu Pak Seto hanya anti Pasal 3 saja toh Pasal 7, 8 itu kemungkinan sangat kecil tapi kami berbeda pendapat kemungkinan hal kecilpun kalau terjadi akan terjadi kekosongan lembaga yang ini harus kita juga antisipasi eskip klousul ini juga harus kita jawab dalam undang-undnag ini, demikian pimpinan terima kasih.
KETUA PANJA:
Baik himbauan sudah cukup banyak masih ada 20 menit kalau kita bisa melangkah maju dalam kaitan ini, kalau tidak selesai kebelakangnya kelihatannya nyambung-nyambung gitu loh ya, jadi saya berat melanjutkan sesuatu yang terus berhubungan terus, jadi nanti sesudah Pasal 31 sampai 50 dan seterunya itu ketemu juga itu, atau kita skors saja dulu skors nanti loby barangkali konsultasi kalau ada Pak Seto juga berdua kalau Bu Ida sendiri disini nanti harus mempetanggungjawabkan kepada teman-teman yang lain kita tidak ingin paksakan lebih lanjut tapi kalau kita lanjutkan lagi berkaitan dengan itu lagi menjadi tidak efesien juga kita bicara, saya kira tinggal 20 menit terpaksa kita skors sampai besok biar Pak Seto ada, Bu Ida ya itu jadi saya kira lebih baik kita diskusi kita selesaikan secara adatlah, bagaimana pemerintah, saya ingin sebenarnya ingin efesien kalau bisa sih besok sore malam sudah bekerja karena besok sore kita rapat Bamus yang kemarin beberapa kali tidak terjadi supaya Anggota-anggota Bamus ini bisa menghadiri rapat Bamus pada pukul 14.00 sampai pukul 16.00n atau 17.00 setelah itu bisa masuk ketempat konsinyiring malamnya kalau bisa jangan kosong, malam itu kita entah 2 jam, 3 jam kita lakukan misalnya pukul 20.30 sampai pukul 22.30 atau pukul 23.00 setelah itu istirahat paginya puku 8.30 kita mulai, jumat itu mungkin pukul 8.30 sampai dengan 11.30 itu nanti pukul 13.30 sampai pukul 17.00 tempatnya dimana ininya dimana mungkin pemerintah akan menyampaikan silahkan.
Baik himbauan sudah cukup banyak masih ada 20 menit kalau kita bisa melangkah maju dalam kaitan ini, kalau tidak selesai kebelakangnya kelihatannya nyambung-nyambung gitu loh ya, jadi saya berat melanjutkan sesuatu yang terus berhubungan terus, jadi nanti sesudah Pasal 31 sampai 50 dan seterunya itu ketemu juga itu, atau kita skors saja dulu skors nanti loby barangkali konsultasi kalau ada Pak Seto juga berdua kalau Bu Ida sendiri disini nanti harus mempetanggungjawabkan kepada teman-teman yang lain kita tidak ingin paksakan lebih lanjut tapi kalau kita lanjutkan lagi berkaitan dengan itu lagi menjadi tidak efesien juga kita bicara, saya kira tinggal 20 menit terpaksa kita skors sampai besok biar Pak Seto ada, Bu Ida ya itu jadi saya kira lebih baik kita diskusi kita selesaikan secara adatlah, bagaimana pemerintah, saya ingin sebenarnya ingin efesien kalau bisa sih besok sore malam sudah bekerja karena besok sore kita rapat Bamus yang kemarin beberapa kali tidak terjadi supaya Anggota-anggota Bamus ini bisa menghadiri rapat Bamus pada pukul 14.00 sampai pukul 16.00n atau 17.00 setelah itu bisa masuk ketempat konsinyiring malamnya kalau bisa jangan kosong, malam itu kita entah 2 jam, 3 jam kita lakukan misalnya pukul 20.30 sampai pukul 22.30 atau pukul 23.00 setelah itu istirahat paginya puku 8.30 kita mulai, jumat itu mungkin pukul 8.30 sampai dengan 11.30 itu nanti pukul 13.30 sampai pukul 17.00 tempatnya dimana ininya dimana mungkin pemerintah akan menyampaikan silahkan.