• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDIP (ITET TRIDJAJATI SUMARIJANTO, MBA): Terima kasih Pimpinan

MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK: Lebih banyak perempuan

F- PDIP (ITET TRIDJAJATI SUMARIJANTO, MBA): Terima kasih Pimpinan

Jadi begini Bu. Tadi saya hanya kata ibu bahwa kesetaraan gender itu kalau tidak salah mencapai di segala bidang tapi tadi saya juga mendapat informasi bahwa sekalian menjawab Pak Daulay, kesetaraan gender untuk bidang akademis, perempuan itu menurut data demografi itu sudah lebih tinggi dari laki-laki, katanya. Jadi ini bagaimana ibu, supaya data kita tidak simpang siur. Mungkin ibu juga bisa berkoordinasi dengan demografi di UI itu karena mereka melakukan penelitian. Yang ditanya adalah dari Ibu Menko, profilnya kita itu seperti apa? Bukan hanya jumlah perempuan sekian, ini sekian tapi setiap individu, ada profilnya sehingga bisa dilakukan pemetaan ke arah ekonominya. Ini pemberdayaan itu disitu bu. Jadi banyak perempuan-perempuan kalau sudah menikah dan lain sebagainya, apakah ibu disini sudah melihat bahwa ada 4 pembangunan, mesin pembangunan itu,

physical capital, SDM, SDA, knowledge dan ilmu teknologi itu yang mengajarkan keterampilan, entrepreneurship dan sebagainya. Nah ini bisa dijadikan program yang masuk disini tapi saya belum

lihat, saya baca sekilas, itu saja Pak Daulay. Jadi kita itu sama-samalah setara, begitu lho, tidak separuh-separuh. Masih ada gap, memang tapi ternyata di dalam bidang akademis, perempuan lebih banyak Pak lho Pak dari laki-laki, katanya tapi coba konfirmasi apa betul tapi kalau kita merasa, betul katanya. Jadi bapak jangan. Laki-laki justru sekarang harus berjuang.

KETUA RAPAT:

Lebih banyak perempuan kan? Kalau sudah lebih banyak logikanya berarti soal kesetaraan-kesetaraan dalam bidang pendidikan ini sudah ibu bisa angkat dari program itu dan saya kira itu betul dan saya kan mantan dosen, ibu kan mantan dosen, ibu kan pasti tahu sebetulnya seperti apa faktanya dan di kelas saya biasanya itu malah lebih dari 60% itu perempuannya, yang selama ini. Saya mengajar hampir 14 tahun dan saya tahu maka karena itu, itu mungkin sama bu dengan itu. Saya kira itu ada yang ibu tanggapi dari sini?

MENTERI PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK:

Saya pikir hanya itu Cuma ada beberapa kajian yang belum saya sampaikan. Ada kajian. Jadi ibu saya setuju bu. Saya juga dapat data dari hire education of woman and leadership dari USAID, itu

30

mengatakan bahwa perempuan-perempuan di pendidikan makin maju Pak, makin meningkatkan dibandingkan dengan laki-laki tapi saya belum buktikan dengan data yang konkrit.

Yang berikut tentang kajian. Berdasarkan pemetaan yang pernah saya katakan, kita sudah mulai membuat peta pemetaan dari Indonesia Timur sampai Indonesia Barat. Indonesia Timur tadi saya katakan bahwa KDRT cukup tinggi secara fisik dan non fisik terutama di Papua nomor satu. Yang kedua perdagangan perempuan, lokalisasi-lokalisasi yang menyebabkan sampai kekerasan dalam rumah tangga, miras, dan juga kawin tanpa izin. Jadi sudah kawin masih punya lagi satu, dua, tiga tanpa izin yang pertama. Itu adalah yang terjadi di Indonesia bagian Timur. Di bagian barat trafficking dan juga masih ada katanya kekerasan dalam rumah tangga tetapi kebanyak psikis. Tidak fisik tapi psikis, itu data-data yang kami sudah dapat dan akan kami pegang untuk bisa masuk membuat program-program strategis termasuk dan saya pakai Kabupaten Mimika sebagai tempat kajian saya sekarang untuk melihat hubungan antara kekerasan dalam rumah tangga dengan miras, kekerasan rumah tangga dengan lokalisasi, kekerasan rumah tangga dengan budaya patriarki. Jadi ada sekitar 10 penelitian yang dibuat di Kabupaten Mimika karena itu perusahaan Freeport dan disitu adalah daerah transit, jadi saya dengan Kementerian sedang membuat proposal memanfaatkan pusat studi wanita di universitas-universitas untuk membantu kami dan juga yang data terbaru yang masuk itu ya kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur yang cukup besar dan itu terjadi paling banyak di Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Nah, ini yang penduduk paling besar, kita konsentrasi ke 3 provinsi ini karena penduduk itu jumlahnya lebih besar. Kalau sampai ini bisa menurun maka akan membantu mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan. Jadi kami pakai Jawa Barat jadi provinsi pilot kita untuk menurunkan angka kekerasan seksual terhadap anak dan juga trafficking dan yang lain-lain. Ketahanan keluarga dan Kabupaten Bogor kita pakai jadi tempat pilot kita juga dalam sistem peradilan pidana anak dimana sistem itu sudah digunakan di Pengadilan Tinggi Cibinong, Kabupaten Bogor. Jadi dimana-mana kita bisa replikasi ke tempat-tempat lain di seluruh Indonesia. Ini membutuhkan biaya yang cukup besar untuk kita bisa mobilisasi kemana-mana, sudah jalan, sudah mulai kelihatannya 2015 ini kebanyakan ke pemetaan itu. Pemetaan-pemetaan dan sudah masuk setiap kemana-mana saya turun lapangan dan sudah kelihatannya mudah-mudahan bisa menjawab persoalan sedikit demi sedikit termasuk kasus Angelina. Kasus Angelina itukan tidak diselesaikan waktu itu katanya sudah selesai. Tahu-tahu saya pergi kesana didiamkan sementara, akhirnya saya muncul dengan P2TP2A, kita Polres, saya minta supaya ada sinergitas antara Polres dengan P2TP2A, akhirnya kerjamasa. Hari berikut Kapolda turun dan terkuat 3 hari kemudian bahwa dia sudah meninggal dan dikuburkan, jadi itu, perlu ada kerjasama yang tadi disampaikan ibu-ibu bahwa P2TP2A ini sudah mulai membangun komitmen untuk berkerja dengan Polres dalam rangka menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Saya pikir itu saja yang bisa saya mungkin jawab. Saya mohon maaf kalau di dalam laporan tidak terlalu rinci yang diinginkan tapi mudah-mudahan yang 2016 ke depan kita bisa membuat yang lebih real sehingga pada pertemuan berikut bisa kita dengan Komisi VIII bisa melihat itu bersama-sama.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Terima kasih Ibu Menteri.

Tadi sudah kita dapatkan jawaban. Tentu jawaban-jawaban ini adalah jawaban-jawaban kebijakan yang sifatnya strategis yang akan dikerjakan. Sementara teknisnya nanti tentu akan kita perdalam lagi dengan rapat-rapat dengan pejabat Eselon I di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kita sudah punya jadwal pada masa persidangan ini. Saya kira di Kementerian juga kami berharap nanti itu lebih diseriusi terutama tentang item-item, program-program yang memang akan dikerjakan sesuai dengan anggaran yang ada itu. Tentu nanti kami berharap

31

bahwa pada saat kita bicara itu sudah ada teknis, bukan lagi hanya bicara soal kebijakan umum yang sebagaimana disampaikan oleh Ibu Menteri tadi itu.

Baik, bapak/ibu/saudara/ibu menteri. Setelah kita mendapatkan jawaban kemudian ada pertanyaan, respon kemudian Ibu Menteri sudah memberikan jawaban dan terhadap hal-hal yang disampaikan Anggota DPR, sekarang ini mari kita coba lihat kesimpulan rapat kita sebelum ditutup. Sudah difotokopi tidak? Ini masukkan dulu ke atas coba, biar dilihat.

Baik, bisa dibacakan iya bu ya? Jadi bisa dilihat atau tadi fotokopinya bagaimana? Ini tidak enak ini kalau tidak begini. Kasih saja satu ke ibu menterinya. Baik, yang lain kami harapakan lihat ke layar dulu sebentar, lagi di fotokopi.

Draft Kesimpulan Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.

Senin, 31 Agustus 2015

Setelah mendengarkan penjelasan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia lalu Komisi VIII mengusulkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Komisi VIII DPR RI memahami atas laporan hasil pemeriksaan I tahun 2015 BPK RI atas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dan segera menindaklanjuti rekomendasi temuan BPK RI.

2. Komisi VIII DPR RI mengapresiasi atas opini wajar tanpa pengecualian tahun 2014 terhadap laporan pertanggungjawaban Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. Selanjutnya Komisi VIII DPR RI mengharapkan untuk terus meningkatkan kinerjanya agar opini hasil pemeriksaan BPK tersebut dapat terus dipertahankan pada tahun-tahun berikutnya.

3. Komisi VIII DPR RI dapat memahami, belum sampai pada menyetujui, nanti menyetujuinya pada saat rapat dengan pejabat Eselon I. Dapat memahami. “Komisi VIII DPR Ri dapat memahami Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia tahun 2016 sebesar Rp1.269.331.578.000,-. Selanjutnya Komisi VIII DPR RI mendesak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia untuk merumuskan ulang program dan anggaran yang selanjutnya akan dibahas bersama pejabat Eselon I pada rapat-rapat pembahasan RAPBN 2016.

4. Komisi VIII DPR RI mendesak Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPR RI untuk memperhatikan dan menindaklanjuti pandangan-pandangan Anggota Komisi VIII DPR RI sebagai berikut:

a. Mendesak peningkatan komunikasi dan koordinasi yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI dengan Kementerian/Lembaga terkait seperti Kementerian Sosial dan Kepolisian terkait penanggulangan dan penindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

b. Memperhatikan penyediaan sarana dan prasarana bagi P2TP2A di daerah pada RAPBN 2016 khususnya sarana dan prasarana shelter anak.

c. Menyampaikan RKA-KL untuk masing-masing jenis program, fungsi dan organisasi pada rencana program dan anggaran tahun 2016.

d. Memperhatikan program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak berdasarkan aspirasi daerah.

e. Menyampaikan secara rinci mengenai program kesetaraan gender terkait dengan konsep, target capaian dan progress program yang telah dilakukan.

f. Meningkatkan evaluasi terhadap berbagai program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

32

Demikian usulan kesimpulan. Kami minta tanggapan dari Kementerian PP & PA. Atau saya minta tanggapan dari Anggota dulu.

Silakan.

F-PG (DR. H. DEDING ISHAK, SH., M.Hum):

Saya ini saja, menambahkan, mempertajam. Poin 4, huruf A ini mendesak peningkatan komunikasi dan koordinasi yang dilakukan Kementerian Pemberdayaan Perempudan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dengan kementerian/lembaga terkait seperti Kementerian Sosial Republik Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia, pakai RI, terkait penanggulangan. Kalau menurut saya ini bukan pendidikan lagi, maraknya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Kasus atau kasus kekerasan. Penanggulangan atas tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak, boleh atau kita tekankan memang sudah terjadi darurat anak, darurat kekerasan terhadap perempuan jadi bisa ditekankan disitu dan ini diluar ini bu ya, pertanyaan saya tolong diinikan kepada Pak Kapolri, ibu apa sudah ada kerjasama dengan Kapolri kan? Tolong diingatkan kepada Kapolri, ada aspirasi. Jadi teman-teman satuan reserse yang menangani perempuan dan anak ini agar statusnya ini diperhatikan dan itu supaya inilah berdaya juga begitu. Berdaya dari sisi status kewenangannya, kepangkatan, jumlahnya kemudian juga kesejahteraannya. Jadi artinya harus naik eselon range lah kalau dia eseleon range, kira-kira disitu supaya juga dan jangan dipindah-pindah bu. Karena ini memerlukan keahlian khusus. Jadi tolong diingatkan kepada Pak Kapalri begitu. Jadi bukan sekedarnyalah begitu. Itu saja Pak Ketua.

KETUA RAPAT:

Baik yang lain, Ibu Itet.

F-PDIP (ITET TRIDJAJATI SUMARIJANTO, MBA):

Saya masih sama dengan Pak Deding, nomor 4. Apakah tidak sebaiknya bahwa kita Kementerian pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini tidak saja koordinasi dengan Kementerian Sosial dan yang disebutkan disitu tapi berkoordinasi antara lain dengan atau terutama dengan. Terkait, tapi yang terkait tapi seperti itu apa tidak, atau terutama begitu lho, kata-katanya saja mungkin tapi terutama dia berkoordinasi dengan kementerian terkait terutama karena ini masalah kasus anak-anak, mungkin itu ininya saja. Jadi terkait tapi terutama dengan Kepolisian yang tadi yang Pak Deding itu yang nomor 4.

Nomor 3 butir 3, itu rasanya kepanjangan. Dipisah saja, jadi tidak usah pakai selanjutnya, ganti saja nomornya bahwa Komisi VIII mendesak Kementerian dan seterusnya, itu saja. Itu terlalu panjang.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Pindahin saja. Itu di enter saja. Jadi tidak usah pakai kata “selanjutnya”, langsung saja Komisi VIII DPR RI.

Yang lain, Pak Kus? Silakan. F-PAN (DRS. H. KUSWIYANTO, M.Si):

33

Saya yang 4C itu ingin menambah poin, nanti bahasanya bisa disesuaikan bahwa harus punya ukuran standar keberhasilan yang jelas di masing-masing itu standar keberhasilannya apa. Indikator keberhasilan, nanti dirumuskan itu.

Kemudian yang F.

KETUA RAPAT:

Kus, itu saya kira langsung ke F saja, ditambah “Meningkatkan evaluasi terhadap program pemberdayaan perlindungan anak”, itu berdasarkan itu. Kita masukkan ke F begitu, kita lihat. Ditambahkan disitu.

F-PAN (DRS. H. KUSWIYANTO, M.Si):

Terserah nanti bahasanya. Saya menambahkan lagi. Di samping itu kalau mau dimasukkan ke F, nanti saya akan seringkali minta bahwa laporan-laporan ke kita ini yang disampaikan itukan baru bersifat kualitatif. Kita ingin laporan berikutnya itu ditambah dengan hal-hal yang bersifat kuantitatif. Itu dicantumkan disitu. Kalau kualitatif itukan cerita tetapi harapannya harus disertai data-data yang kuantitatif sehingga kita bisa mengukur keberhasilannya itu seberapa karena kasus seperti tadi lho, yang diungkap oleh Pak Ketua bahwa 72% yang poin C yang sudah mendapatkan akta kelahiran. Pertanyaannya begini, itu pekerjaannya Menteri Pemberdayaan Perempuan atau itu berkaitan dengan tugas kementerian yang lain. Ingat saya itu bukan tugasnya pemberdayaan perempuan untuk mengeluarkan akta kelahiran itu tetapi itu tugas yang lain, itu kok bisa masuk kesitu kan begitu. Itukan bukan tugas Menteri Pemberdayaan Perempuan untuk bisa mendorong sampai 72%. Jangan sampai nitip. Kalau memang betul-betul tugas panjenengan apa buktinya? Itukan harus tertuang di dalam mata anggarannya yang kemarin.

Terima kasih. KETUA RAPAT:

Perbaikan redaksional. Coba tadi sudah dimasukkan? Sudah selesai belum? Pak Kus tadi. F-PAN (DRS. H. KUSWIYANTO, M.Si):

Khawatir nanti yang disampaikan kepada kita itu masih kuantitatif lagi, masih cerita lagi. Yang kita maksudkan itu, itu betul-betul terukur itu, betul-betul kualitatif. Katakanlah ini ada kasus sekian, yang sudah bisa diselesaikan sekian. Harapan laporannya begitu lho. Di Jawa Tengah kasus kekerasan ini adalah sekian, yang sudah ditangani sekian, yang sudah berhasil sekian, itukan kita bisa mengukur. Itupun nanti masih bisa ditanyakan lagi, ini yang memberi perlakuan ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan atau yang lainnya sehingga kita bisa tahu bahwa program ini efektif atau tidak.

KETUA RAPAT:

Yang modul-modul, apa semua segala macam ini kita belum pernah lihat. Inikan modul terus yang kita bicarakan disini. Belum pernah kita lihat kan? Mana tahu kita lagi ada macet di jalan kan betul juga kita baca kan ini modul ini. Ada yang lain tidak?

34 Ketua.

KETUA RAPAT:

Silakan Pak Iqbal.

F-PKS (DRS. H. MOHAMMAD IQBAL ROMZI):

Ini terkait dengan 4D, memperhatikan program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak berdasarkan aspirasi daerah. Ini perlu dipertegas tentang aspirasi daerah. Apakah aspirasi daerah yang mungkin dibawakan oleh di pihak legislatif ataupun eksekutif.

KETUA RAPAT:

Sudah paham Pak.

F-PKS (DRS. H. MOHAMMAD IQBAL ROMZI):

Hal-hal yang tercecer melalui jalur eksekutif mungkin karena kami ini jaring asmara. Bentuk memperhatikan itu seperti apa? Mekanisme seperti apa? Apakah Kementerian siap untuk memberikan ruang untuk itu. Kalau tidak, aspirasi ini tidak akan jalan. Ada tidak ruang itu kira-kira seperti ini? Pak Ketua yang saya hormati.

Tadi juga perlu juga ke depan tentang mengapa saya tanyakan terkait tentang gender tadi, bukan kekerasan terhadap perempuan saja, terhadap laki-laki itu ada juga. Maka tadi ini ada contohnya, ada pantunnya Pak ketua.

KETUA RAPAT:

Ini kita kasih hukuman baru keluar. F-PKS (DRS. H. MOHAMMAD IQBAL ROMZI):

Nanti kena hukum saya ibu menteri kalau tidak berpantun. Seperti ini ceritanya.

Berkilau mentari di langit nan bersih Air di bumi mengalir memancar

Kalau isteri menutup garasi Sudilah suami parkir diluar.

Itukan bentuk kekerasan juga ceritanya itukan? Jadi ini jadi perlu dilirik agar ada kesetaraan dalam melihat sebuah kasus itu yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Jadi mungkin disamping memperhatikan program, ditambahkan juga barangnya kegiatan. Programnya mantap, barangkali ada aspirasi, masuk kegiatannya tapi masuk dalam program tersebut. Saya rasa ini perlu ada ruang tidak? Kalau tidak barangkali tidak perlu juga kesimpulan diredam seperti itu.

Terima kasih.

35

KETUA RAPAT:

Insya Allah pantun tadi itu sudah jelas. Soal aspirasi ini sudah jelas. Itu Pak Sesmen dan Ibu

Menteri sudah paham itu jadi tidak perlu dibuat secara eksplisit disitu karena itu tidak boleh ada keputusan yang sektoral. Ini adalah kebijakan nasional, jadi tidak bisa disebutkan Pak soal itu tetapi Pak Sesmen itu sudah paham maksudnya itu jadi kecuali kalau Pak Sesmen keberatan, nanti kita dengar, keberatan tidak? Inikan belum dari mereka Pak. Jadi kalau sudah itu nanti sama kayak yang lain-lain Pak. Saya bisa memahami kegalauan yang ada di hati Pak Iqbal ini dan itu nanti kita akan tanya secara langsung kepada ibu menteri dan Pak Sesmen tetapi tentu ya tidak bisa dimasukkan di dalam keputusan seperti itu atau kesimpulan seperti itu. Oke Pak?

F-PKS (DRS. H. MOHAMMAD IQBAL ROMZI): Jadi tambah “kegiatan”.

KETUA RAPAT:

Tambah “kegiatan”. Bunyinya bagaimana Pak? Langsung to the point Pak. F-PKS (DRS. H. MOHAMMAD IQBAL ROMZI):

“Perhatikan program dan kegiatan”, itu saja, pemberdayaan perempuan. F-PDIP (ITET TRIDJAJATI SUMARIJANTO, MBA):

Pimpinan.

Izin. Saya hanya ingin agak terganggu. Memperhatikan itu, kalau memperhatikan Cuma memperhatikan saja begitu. Apakah ada tindak lanjutnya kadang-kadang kita tidak jelas. Kalau kita langsung saja mengevaluasi sehingga ada tindakan. Bukan memperhatikan tapi mengevaluasi program mana yang harus diteruskan atau di. Kalau memperhatikan, menurut saya lho Pak, barangkali ada yang bisa menjelaskan. Kalau memperhatikan itu hanya memberi perhatian saja tapi apakah ada tindakan lanjut.

KETUA RAPAT:

Usulannya, konkritnya bu.

F-PDIP (ITET TRIDJAJATI SUMARIJANTO, MBA):

Dokumen terkait