PEMERINTAHIMENTERJ LUAR NEGERJ : Terima kasih
F. PDIP (SOPHAN SOPHIAAN) : Terima kasih pimpinan
Usul perubahan dari FTNI/POLRI yaitu menyangkut jawaban yang perlu kita klarifikasikan dulu kepada pihak pemerintah, apakah yang dimaksud dengan suksesi negara, walaupun F1NI/POLRI tau bahwa itu akan ada pada pasal 20 nanti tetapi klarifikasi mengenai suksesi negara ini perlu dijelaskan dahulu.
Saya kira demikian.
KETUARAPAT(DRS. YASRILA. BAHARUDDIN):
Terima kasih dari FTNI/POLRI.
Kami kern bali lagi pada FPDIP.
F.PDIP (SOPHAN SOPHIAAN) : Terima kasih pimpinan.
Karena berdasarkan kesc~pakatan pertama sebetulnya kami tidak ada usul perubahan ini hanya mengenai kata, tanggung jawab digabungkan menjadi satu, oleh karena itu kita selesaikan di Timus nanti.
Terima kasih.
KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):
Terima kasih dari FPDIP atas pengertiannya.
Kemudian selanjutnya dari FPDKP
FPDKB (PROF. ASTRID. S):
Ini sebetulnya menjawab tidak langsun.g pertanyaan FTNIIPOLRI mengenai suksesi, suksesi ini kan terjadi adanya perubahan dati pimpinan suatu negara, nab karena itu kami sarankan disini ada sedikit peqjelasan apakah akan ditempatkan suatu saran sebagai perubahan dalam politik ketatanegaraan suatu negara atau suatu wilayah yang mau tidak mau terikat sesuai dengan perjanjian antar negara terdahulu. Saya kira ini harus kita hitung juga mengingat keadaan negara kita sekarang begini, jadi kita bisa berhadapan dengan masalah ini entah l 0 tahun yang akan datang begitu. Jadi saya mohon kalau bisa diperjelas yaitu suksesi yang mengakibatkan perubahan politik yang mempakan akibat dari perubahan politik suatu negara.
Terima kasih.
KETUARAPAT(DRS. YASRILA. BAHARUDDIN):
Baik, terima kasih.
Karena ini banyak pertanyaan kami serahkan kepada pemerintah.
MENTER! LUAR NEGERI :
Pada dasarnya mungkin masalah negara dan pemerintahan ini kalau terjemahannya kan kalau orang Amerika bilang pemerintahan itu administration kalau negara itu spag. Nab yang dimaksud disini adalah spag se:hingga kalau kita katakan pemerintahan kita bisa saja berubah pemerintahan tapi tidak herubah negara. Jadi kenapa kita katakan disini negara karena yang dimaksud adalah spag dan terjemahannya suksesion of stag, jadi kalau suksesion of administrarion dari republik ke demokrat, tapi suksesion of staf dari nederlan ke Indonesia urnpamanya itu negaranya sudah lain. Itu yang bisa saya sampaikan. Kalau ada tambahan
PEMERINTAH :
Bisa saya tambahkan bahwa di kalangan PBB juga ada .... convension on station spag in respekabiliti dan disitu didefinisikan ekstation of stag min their plasmen one spag by nother in there spag abiliti ... Jadi yang dimaksud adalah ya tadi oleh Bapak Menteri bahwa dulu Indoensia sebelum merdeka adalah nederlibiti Indonesia mengikuti perjanjian yang negara induknya atau Belanda itu menjadi pihak di intemasional katakan1ah konvensi ILO nomor 19 mengenai kerja paksa, itu kemudian Indonesia jadi merdeka jadi Republik Indonesia. La1u bagaimana dengan perjanjiannya yang sudah ada di waktu penjajahan nah ini harus ada pemyataan negara barn bahwa kita untuk perjanjian ini ... kita terikat, kalau kita untuk yang lain tentu kita ... jadi spag ini lah dimaksudkan. Jadi petjanjian negara menentukan pergantian pemerintah.
Terima kasih.
78
-KETUA
RAP
AT(DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):
Baik, dari pihak pemerintah itulah keterangan dan jawabannya, apakal) masih ada pertanyaan lebih lanjut. Kalau tidak ada maka nomor DIM 17 butir 8.
F.TNI/POLRI (SRI HARDJENDRO):
F.TNI/POLRI meminta klarifikasi itu ada saran perubahan, tetapi dengan sudah diberikan penjelasan maka saran perubahan itu dicabut.
KETUA
RAP
AT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):T erima kasih.
Ini malah jauh lebih maju lagi, jadi bukan sckcdar pcrtanyaan mencabut.
Baik saya ulangi Nomor DIM
17
butir 8 sebagaimana yang telah kami bacakan sesuai dengan RUU ini kami tawarkan untuk dapat disetujui. Dapat disetujui?(RAP
AT SETUJU)Baik, kita sekarang lanjutkan pada DIM 18 butir 8 sesuai dengan RUU adalah sebagai berikut:
Butir 8.
Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang hubungan luar negeri dan politik luar negeri.
Dari fraksi-fraksi kami lihat ada perubahan dan mungkinjuga sekaligus pertanyaan dari FPPP. Untuk itu kami persilakan.
FPPP (AISY AH AMIKI, S.H.) : Saudara Pimpinan.
Pada waktu pemandangan umum kami, kami mempertanyakan tentang dalam pasal-pasal berikutnya menyatakan tentang l.embaga yang dapat dilakukan oleh lembaga negara atau lembaga · pcmerintahan yang kemudian kami pertanyakan apa yang dimaksudka.n dengan lembaga negara, pemerintah waktu itu menjelaskan yang dimaksudkan dengan lembaga negara itu adalah Iembaga tinggi negara itu Presiden, DPR, BPK, MA dan DP A. Kemudian lembaga pemerintah adalah lembaga eksekutif tennasuk di dalamnya Presiden, Departemen maupun non departemen, Pemerintah Daerah dan Bad.an-badan.
Kami ingin mengusulkan supaya kejclasan itu tcntang apa yang dimaksudkan dengan lembaga itu dimasukkan dalam ketentuan umum ini supaya jelas. Karena kalau tidak demikian nanti akan ragu. Disamping itu juga kami ingin menanyakan, seda.ngkan · di angka II kami hilangkan karena tadi sudah hilang mengenai lembaga swasta. Kami ingin mempertanyakan misalnya lembaga-lembaga yang lain. katakanlah misalnya Komnas HAM, itu adalah juga
lembaga yang dibentuk oleh undang-undang dahulu oleh presiden, kemudiah diakui dengan UU Nomor 39 Tahun 1999. Apakah itu Jembaga apa namanya, ia tidak termasuk lembaga negara dan juga tidak memerintah, tapi apakah lembaga seperti itu boleh membuat perjanjian. Ini pertanyaan. Jadi maksud kami ini untuk mempetjelas kedudukan mengenai lembaga negara dan lembaga pemerintah yang dimaksudkan yang dapat membuat peijanjian itu.
T erima kasih.
KETUA RAP AT (DRS. Y ASRIL A. BAHARUDDIN) : Baik, kami langsungkan kepada pihak pemerintah. Silakan.
PEMERINT AHIMENTERI LUAR NEGERI :
Mengenai Korunas HAM dengan sendirinya tidak merupakan lembaga pemerintah, tapi kalau LIPI tennasuk lembaga pemerintah karena merupakan bagian dari pemerintah atau lembaga non departemen. Yang ingin diatur oleh RUU ini adalah pemerintah .... .lembaga negara lembaga pemerintah tennasuk juga yang dipusat maupun di daerah. Jadi dengan sendirinya mengenai Komnas HAM tidak termasuk yang mewakili pemerintah. Tapi kalau LIPI ya.
FPP (AISYAH AMINI, S.H.):
Baiklah kalau memang demikian kami mempertanyakan apakah tidak lebih baik dibuat demikian sehingga jelas yang dimaksudkan itu, rnungkin diketentuan ini atau setidak-tidaknya nanti di penjelasan pasal terkait kalau memang diperlukan.
KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):
Baik Bu, saya kira silakan pemerintah.
PEMERINTAH/MENTERI LUAR NEGERI :
Memang kami akan usulkan untuk dimasukkan dalam penjelasan dari pasal 4 ayat 1 ini dimana disebutkan nanti lembaga negara adalah siapa saja, lembaga pemerintah siapa saja mengenai mekanisme dan ... dimaksukan dalarn penjelasan Pasla 4 ayat l yang mengatur mengenai lembaga negara dan wakil pemerintah baik departemen maupun non departemen yang mempunyai ... jadi penjelasannya begitu.
KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):
Terima kasih pemerintah.
FPP (AISYAH AMINI, S.H.):
Kami dapat menerima asal nanti kita memahami bahwa ini perlu dibuat rinci. tapi sekalil lagi seperti yang dikemukakan oleh Ibu Astrid kita perlu memikirkan tentang lembaga·lembaga
80
-yang non pemerintah, bagaimana kalau mereka. membuat perjanjian dengan lembaga luar negeri yang serupa ataupun dengan pemerintah luar negeri sebab itu mungkin saja terjadi, mohon kiranya pemerintah dapat mempertimbangkan untuk bagaimana langkah-langkah selanjutnya.
T erima kasih.
KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):
Baik, saya kira ini ada keinginan juga pihak pemerintah bahwa betul pemerintah memang tidak mengatakan bahwa ini tidak diatur karena ini di luar pemerintah, tetapi dampaknya bagi pemerintah bagi bangsa dan negara kehidupan bangsa ini, mereka kalau bikin perjanjian-perjanjian dengan begitu saja yang mengikat nanti berdampak luas pacta kehidupan bangsa nanti kan ini akan berbahaya, paling tidak pokok-pokoknyalah kita atur atau dikoordinasikan dengan pemerintah atau bagaimana, ini usulan pertanyaan dari FPPP. Apakah masih ada us ulan yang lain. kalau tidak ada sebenarnya ada sedikit pe11anyaan kepada pihak pemerintah soal definisi menteri, menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang hubungan luar negeri dan politik luar negeri. Jadi apakah menteri luar negeri ini hanya bertanggung jawab di bidang politik luar negeri saja, politik t~konomi atau bagaimana, saya hanya ingin mendapat keterangan dari pemerintah kenapa khusus kita politik luar negeri saja, politik saja, apa tidak cukup sampai yang membidangi hubungan interna.sional atau hubungan luar negeri supaya lebih luas, karena koordinasinya di GBHN itu kan aralmya pintunya itu satu, jadi jangan nanti seperti dikemukakan oleh pemandangan fraksi-fraksi sebelurnnya ini masing-masaing sektor nanti masing-masing departemen bisa jalan sendiri tanpa koordinasi se:perti yang sudah-sudah. Jadi mohon penjelasan, kalau yang lama pakai standar ini kan tidak ada salahnya, sekarang kita lebih sempurnakan lebih perkuat dalam bahasa koordinasi. Kami mohon keterangan.
MENTER! LUAR NEGERI :
Sebenarnya tugas-tugas Menteri Luar Negeri ini sudah dituangkan juga dalam UU Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1999 Tentang Hubungan Luar Negeri disitu di Pasal 1 hutir 4 disebutkan rnenteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang hubungan luar negeri dan politik luar negeri. Dari sini diambilnya itu, bahwa job deskripsion baru ini tentu akan apa penafsiran dari pacta ini yang diperlukan selruna itu mengacu pacta nasional interes yang ada hubungannya dengan luar negeri. Mungkin kalau memang perlu ditambahkan kita lihat di DIM nomor Wewenang Menteri Luar Negeri telah cliatur dalam tugas dan fungsi departemen luar negeri yang dimuat dalam Pasal 5 Keppres nomo 136 tentang kedudukan tugas dan fungsi susunan organisasi dan tata kerja departemen itu, penetapan kebijakan pelaksanaan kebijakan teknis dan juga pengendalian pe:laksanaannya pengelolaan kekayaan negara serta perumusan dan penyiapan kebijakan umum di bidang politik luar negeri berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, b. pembinaan dan koordinasi pelaksanaan tugas dan administrasi departemen dalam, arti perenc.:maan dan pendayagunaan sumber daya, pengorganisasian serta
hubungan antar lembaga. c. penelitian dan peng~~mbangan proses dalam pelaksanaan tugas serta standarisasi. d. pelaksanaan pendidikan dan pelatihan pengolahan data dan penyajian infonnasi.
e. pelaksanaan pengawasan fungsional.
KETUA RAP AT (DRS. Y ASRIL A. BAHARUDDIN) :
Memang betul yang dibacakan itu kar1 Keppres, tapi kita kan sedang membahas suatu peraturan yang lebih tinggi dari pada itu adalah undang-undang, justru kami ingin memberi bobot yang lebih dalam rangka koordinasi nantinya ke depan tidak mengulangi lagiyang sudah-sudah, sebab ini keinginan dari fraksi-fraksi kemarin sebenamya disitu.Bagaimana yang terbaik nantinya definisi ini bisa disampaikan. Tidak hanya politik saja, kan kemarin itu salah kaprah karena tidak ada ... terlalu sempit, tapi sebelumnya mungkin ada tambahan dari FPDU.
F.PDU (ASNA WI LA TIEF) :
Saya cuma tanya saja kepada saudara menteri apakah ada menteri lain yang memberikan pertimbangan politik dan mengambil langkah-langkah lain yang diperlukan dalam pembuatan perjanjian internasional. Kalau tidak ada kenapa tidak langsung saja menteri luar negeri yang selanjutnya disebut menteri dalam undang-undang ini.
Terima kasih.
KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):
Silakan dari FPDIP.
F.PDIP (PATANIAR! SIAHAAN):
Kami melengkapi pertanyaan, artinya kami berangkat dari pergantian judul tadi dengan tidak menyebut lagi pembuatan, kita mengatakan tentang penetrasional. dalam pikiran kami sebetulnya merupakan seperti undang-undang pokok perjanjian internasional artinya pada semua bentuk hubungan internasional ini. Dalam rangka ini kami memahami bahwa sebetulnya menteri disini bukan menteri a sebetulnya, dia mewakili pemerintah, jadi sebetulnya dia membawa on the hap presiden, sehingga dalam konteks ini justru kami melihat bagaimana nanti kaitannya redaksinya, agar tidak terjadi tumpang tindih tubrukan dengan ada pertemuan organisasi antar menteri penerangan ada perjanjian menteri pendidikan bagaimana kita mengakomodir satu file sehingga seterusnya langsung heres semua. Ini kira-kira yang kami tanyakan pada menteri luar neg en.
T erima kasih.
KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):
Silakan pemerintah.
- 82
-PEMERINT AH/MENTERI LUAR NEGERI :
Barangkali bisa saya sampaikan sebetulnya berbagai peraturan perundang-undangan, ada undang-undang migas itu yang bertanggung jawab adalah Menteri Pertambangan, kemudian Undang-undang Hublu atau undang-undang PI ini adalah ... mungkin ada undang-undang mengenai keamanan nasioan atau ketahanan itu menteri pertahanan. Namun kita juga herus menyadari bahwa setiap perubahan kabinet itu bisa saja menyebut sebutan menteri itu berubah-ubah. Nah untuk menghindari ini maka tidak pernah di dalam peraturan perundang-undangan itu disebutkan menteri luar nege:ri, menteri dalam negeri tapi menteri yang apa bertanggung jawabnya itu, untuk mengantisipasi di masa yang akan datang ada perubahan nama menteri sehingga undang-undang tidak berubah, jadi kata-kata menteri itu barangkali kita bisa melihat diberbagai peraturan perundang-undangan itu tidak pernah disebutkan, misalnya menteri sosial ....
k·9
Ny.
Ui.
Aisyah Aminy, SH (FPP)Apa yang tidak bolch rninta pcnjcJasan lagi itu adalah dcfinisi karcn.a itu adalah
menjela.'ikan apa, pengertian !!uatu
kata, yatapi bukan ketentuan wnum jadi ada keketiJUan.
Yang kedua, barangkali Ayat ( 1 )nya jangan disebutkan dalam bentuk dan sebutan apapun sebab ini men.imbulkan keraguan, dihilangkan s~ja kalintat itlJ sehingga dengan demikian selesai. P<..'ljanjian InC.emasional adaWt petjanjian yang di.at.ur oleh hukum intemasional dibuat Reeara tet1Uiis. Kemudian dalan• Ayat (2) Jlengesahan itu dalam bentulc ratifikasi segala macam kita sepakat dan ak.a.ndi"bu.at dalam penjeJasan umum. Dengan denllkian selesai masaJah ya ini, terima kasih.
KETIJA RAP AT Silahkan Pemerintah.
PE!\.1ERINT.AH
Jadi mengenai definisi pelJai\JWl intemasiorud itu sebetulnya rujukan kasib.
diharapkan tadi Convention On the Law Treaties 1969. Oleh ~.arena itu disini bunyinya adalah Treaty Iv1eans Agre-ement Concluded The State Form And Government and The International Law \\t'~lh<ir ... Single In.strumenls ur Inlo .... and \\llat.ever ... Particular InveNti(\atkm ... adalalt n•enget,ai hentuk atau natna-t\atna tadi allakah itu deceAAion agrement forever, yang perlus ebetulnya adalal1 justru mated atau subst.ansi perjaryian itu sendiri yang akan menentukan ini baiknya namanya apa treaty convensi atau apa. tapi barangkali bisa saya jclaskan disini m\..--mang konvcnsi dan lrcaly atau &raktal aclalah salu jen1s perjanjian yang tingkatannya terpenting. Oleh karena itu hiRanya treaty dan credentials
ini
selalu kita tetakan pengesahmmya itu kepada DPR. Pcdal\iian sebagai contoh saja pet:janjian intemasional yang lrita anggap penting katakanlah mengenai Timor West yang sudah kita batalkan, kcmudian pcrjaqjian dika.iangan Asia itu ada pcrjanjian atau traktatmengenai kawa'lan beba.'! senjata nuklir atau show tace action nuclear weaton
itu jugasuatu
yang penting ¥..arena itu hams ke DPR. Jadi na.m.ana ini sebetulnya juga suka memberikan kepada para pihtdc Karenakadang-kadang Indonesia
mempunyai pmdapatsem.acam
ini negara lain lain btgi. Padtdlal kftlau bilateral 'biasanya adalah korwm dati pada kedua pihak.K1ta mau mensgunakan nama:nya yang CfJCftk itu atla sdh, tnisalt•ya 'ketja santa tehnik: itu agrement. Dan mengenai masalah itu tadi sepe11ii sudah k.ita setujui kalau dipedu.ka.n definis.i itu atau. pengertian oleh karena itu bisa saja kemudian dimasukan didaJam
penjelasan
umum. Tap d:idalam Pa~al 1 yang ingin kita dcfinisikan pcrjanjian intcmasional itu ada1ah dalam pengertian yang umwn, ketawa itu bi.sa namanya macatn-macam itu benar. Dan itu tidak didefinisibn disini. Jadi perjanjian intemasional sebagai te:tjemahan dati treaties itulah yang ingin kita masukan didalam Pasall dari draft ini. Terima .kasih.
l'·YY.AISYA.H AI\-fiN··y, SH. (FPP)
Sedikit Pimpinan, say a teruskan demikian tapi sekali lagi ~.ita teroskan nanti di Panja dan Timus karena didalam Pasal 1 ayat ( 1) disebutkan bentuk dan sebutan. Sedangkan dalam ptllljelasan umu.m dikatakan ht:nluk dan nnma. Inikan menimbulkan keraguan apa sih hedanya hentuk densan nanla, hentuk dan sebutan) itli Jlet·1u d1N1nkt'Otlkatl. Tet~m kasih.
84
-KETIJA RAPAT
Baik karena ini tadi membahaa nomor DIM 19, dunana FPG Sdr. Slan1et juga iDgin
menjelaskan suatu
dapatkanini
berartibahwa
Dab I Pasall iniyang
tadi sudah ldta terlma scbaga:imana diutarakan olch Pcmcrintm ta.di ada dapat scmacam pcnjclasan . Ini suatu bagian tertentu. Kcmudian juga Pasal 2 tetap scpe:t1i ini dengan pcnjelasan. Tidak ada perubahan yang seperti usuJkan semula. Kemudian nanti Pasat 3 dan selaqjutnya Dapaktkah pengertian demikian pcnting ada J)Cl'Uelasan karcna yang diingi:nkan agar rakyat mengerti apayang dimasudkan
d.engan ini Adapun tadi itu bentukdan
aebutansaya lci:ra
itu terjemahan yang dl'bacakan oleh Pcmerintah tadi dan itu bahaanya b.isa kita scsuaikan. FPG bagajmana'lSLAMET EFENDY 1:l.JSUF (FPG)
T eritna katdb . Jadi hegitri saja sebenat't,ya tnenurut uya menurut Paaal 2. T>l'bawah JWlti itu juga ak:an ada kata-bta menteri berkali-kali. Jadi berlrti menteri <tisini itu juga barus defenitif itu siapa, jadi kalau memang Ayat ( 1 ), (2) dan seterusnya pada Pasal 1 dan Pasa12 itu·lidak JX.Tlu JX.njclasan posision saja c.ti kct4.nlwm umum. Tapi m<,nk.Ti ini ada1ah definisi, jadi angkat saja apa ~ja yang di penjeluan menjadi fra.qa sehingga nanti tidak perlu pen.ielasan. Sebab kami masih berpendapat bahwa jenis dan bcntuk pcrjaqjia.n itu ada di peqjelasan umum itu tadinya mau
bmi
pjndah 8:\ia men.iadi peqjeJasan Pasal 1 ayat ( 1 )mitu. T adinya kita mau bcrpcndapat scpcrli itu, tapi kan ada argumcn scmacam itu. Apa betul adaargumen
semaca..~ ituya
kita jadikan saja yang Ayat 2 itu dua definis. Karena apa. nanti .:tiba.wah itu kita a.kan terns menerus ketemu denga.n ka.ta menteri. Dan yang dim.aksud dengan mmteri di..'lini adalah yang berurusan dengan masalah-masalah luar negeri. Jadi kila definisikan saja, mwud mentc:ri disini adaJah Menteri.Luar
Negeri at.u menteri yang herurww• dengan 1ua1' negeri dan sebagait1ya. Apa mungkin itu Sdr ketua, pengaturannya itu adalah di misalnya disini agar menteri memberi perdmbaragan poli.tis itu tti ketenluan umum Pasal 2 lalu mmtm akan d:isebul beberapabti
didalam pasal-pasal selatljutnya. Met,tet'iftya itu adalah ya ~fenteti T :t.w· Negerit&Jli
ntenteti yang f4&Y& jel&Alcan tadi lazin di peraturan penmdang-Wldangan ldm ntentcri itu disebutk.an menteri tapi bubn Menteri Pendidibn, Menteri Pertahanan Keam.anan brena itu sebagai contoh dua m1...-ngapa tadi kita scbulkan cukup m<,'Ilk.'li ladi yang tk.-ngan <,"'IIbcl-<,'IDbcl yang hertanggung jawab ma.wah apa. Karena di Kahinet kita Relcanmg tidak mempunyai Menteri Pertahanan dan KeanuuWJ., yang ada. .Menteri Pcrtahanan. Keamanannya. bDaog.Kemudian tadi Menteri Kebudayaan dulu Mendikbut, walaupun D.Ujen Kebudayaan masih disitu tapi scbutannya Mcndiknas sckarang. jadi itulah difcinisi mcntcri itu ada di Pasal 1 butir 9, tapi mengenai kctentuan-ketentuanny.a ada di Pasal 2 dan beberapa pasal selanjutnya. Terima. kasih, mudah-mudahan.
85
-KF.TIJA RAP AT
Cul:up saya kira ketera.ngan ini Pak S.lamet ya. Jadi
apa
naman.ya yang definisi menteri sudah ada di Pasal 1 butir 9, kemudian pe)aksanaannya itu di Pasal2.SLAMET E. YUSUF (FPG) .
Itu pelaksanaan
yang
semacam itu mungldn gak disebar begitu Baja tidak usah harus di Pasal 2. Jadi dalam seluruh proses dalam pembuatan dan pc.ngcsahan perjanjian intcmasionalitu
memang menteri harus memberikan pertimbangan politik. Itu disebar&aUa
diberbagai tempat. Sehingga Bab I itu hanya memuat definisi-definisi, tidak memuat tentang suatu substansi lain selain definisi. Jadi. rwtti saja kita carai tempa1nya dimana.
KETIJA RAP AT
Saya kira Petnerint.all blau UllUJ itti bisa diterima jadi Rab I cuJrup yang defittitri Pasall, kemudia.n yang nanD. bisa dimasukan di Bab ll ditambah pasal atau apa.. Kan ha.nya menjelaskan apa yang meqjadi tugas dari menteri, saya kira begitu, Pemerintah siJahkan.
PR~ffiRlNT AH
Dcngan demikian kaJau memang yang dikeluarkan dad Bah 1 Kctcntuan Umum tadi sudah saya
samt>aikan
kepada usul dari Ibu adalah pasal ini ada di Babn
tapi menaenai pcmbuatan petjanjian. Di Bab mcngcani pcngcsahan masalah ini harus kcluar lagi didalambentuk yang laln.
KEUTARAPAT
Baik disepabti bahwa Pasal 2 dari Bah I ini ditiadabn lalu sub.slaosinya d1pindahkatl apakah itu dimaiftlllcan di Pasal 3 pengesahan dan seb.againya.
EFFENDICIIOIRI (PKD)
Scbcntar Pimpinan. Scsunsgulmya apa kcbcratan GoJbr ka1au misaJnya ini discbut disini kare.na apa. Karena begi:ni. bcgitu Pasal 2 menyebut soal menteri memberikau pertimbangan po1itis artinya salah satu fungsi sebutkan disini kemudian setelah itu tidak disebut akan cukup sekali discbut dan untuk se.lanjumya sudah jcJas sebingga 1idak menyebut berulang-ulang. Pertanyaan saya tadi yang pertama, apa keberatannya sebetulnya kalau disini, itu saya kira. Karena sekali 1agi dengan alasan apabila kalau disebut disini maka kita juga sudah efektifitas didalamm penggunaan bahasa didalam undang-undang ini. Saya
Scbcntar Pimpinan. Scsunsgulmya apa kcbcratan GoJbr ka1au misaJnya ini discbut disini kare.na apa. Karena begi:ni. bcgitu Pasal 2 menyebut soal menteri memberikau pertimbangan po1itis artinya salah satu fungsi sebutkan disini kemudian setelah itu tidak disebut akan cukup sekali discbut dan untuk se.lanjumya sudah jcJas sebingga 1idak menyebut berulang-ulang. Pertanyaan saya tadi yang pertama, apa keberatannya sebetulnya kalau disini, itu saya kira. Karena sekali 1agi dengan alasan apabila kalau disebut disini maka kita juga sudah efektifitas didalamm penggunaan bahasa didalam undang-undang ini. Saya