• Tidak ada hasil yang ditemukan

TNI/POLRI (SRI HARDJENDRO):

KETUA RAPAT :

F. TNI/POLRI (SRI HARDJENDRO):

Mengenai Bab I Ketentuan Umum itu tetap, tetapi F. TNIIPOLRI ingin mengusulkan tambahan poinnya tentang isi ketentuan urn urn dari 9 poin menjadi I 0 point. Yaitu ditambahkannya pengertian tentang subjek hukum intemasional lain. Mengapa ini kita mintakan sebagai usul agar bisa ditambah dengan pengertian ini karena subjek hukum internasional lain muncul di pasal berikutnya yang seakan-akan kita tidak tahu arti dari subjek hukum intemasional lain. Demikian.

4EI

-KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A BAHARUDDIN):

Baik, usulan dari F.TNIIPOLRI ini saya kira sambil rnenunggu pandangan dari ternan-ternan, tetapi yang penting dia tidak masuk di nornor 9 ini, nanti kita masukkan di salah satu isi dari pada pasal-pasal itu.

Dapatkah ini disetujui?

(RAP AT SETUJU)

Kita la..,Yut pada nornor 10 Pasall kami bacakan sesuai RUU:

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan :

1. Perjanjian intemasional adalah perjanjian dalam bentuk dan sebutan apapun, yang diatur oleh huk.um intemasional dan dibuat secara tertuli.s serta rnenimbulkan hak dan kewajiban di bidang hukum publik.

Dari fraksi-fraksi kami Uhat ada beberapa. usuJ perubahan, untuk itu kami persilakan terlebih dahulu kepada F.PDIP.

F .PDIP (SOP HAN SOPHIAAN) : Terima kasih pimpinan.

Sebenamya apa yang dicantumkan dalam Pasal 1 ayat 1 itu rnenurut kami sudah cukup jelas, secara substansial sebenamya tidak ada perubahan, tetapi rnengingat pengalaman-pengalaman masa lalu bahwa banyak peraturan perundang-udangan yang bisa diinterpretasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu, maka kami ingin menegaskan jadi perkataan bagi pihak-pihak yang menandatangani peijanjian yang dimaksud buat kami sebenamya hanyalah penegasan tidak ada bermaksud lain.

Saya kira itu.

KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A BAHARUDDIN):

Baik, itu dari FPDIP. Kami lanjutkan pada F.Reformasi.

F.REFORMASI (HERMAN DATUK R.):

Terirna kasih.

Kita tabu kita lihat apa yang diusulkan FPDIP dengan F.Reformasi itu sebenamya hampir sama. Jadi sebenamya tidak substansial, tapi penegasan ini penting nanti jangan pada akhirnya kita tabu bahwa perjanjian ini terjadi antara siapa dengan siapa, jadi dia mernpunyai kewajiban bersama.

Terirna kasih.

KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Baik, terima kasih.

Kami persilakan selanjutnya dari F.TNI/POLRI.

F.TNI/POLRI (SRI HARDJENDRO):

Untuk F.TNI/POLRI Pasall ini ada usul perubahan mencantumkan secara khusus bentuk dan sebutan perjanjian intemasional yang diatur dalam Undang-undang ini, sehingga tidak mencantumkan pengertian perjanjian intemasional secara umum. Sehingga setelah perubahan Pasal 1 dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan perjanjian intemasional yang diatur dalam undang-undang ini ada dan se:terusnya sebagaimana diatur dalam hukum intemasional.

KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Baik, demikian usul dari. F.TNI/POLRI. Kami lanjutkan FPDKB.

FPDKB (PROF. ASTRID. S):

Terima kasih.

Ini tarnbahan yang kami ajukan ialah karena kami mengingat adanya makin lama makin banyak NJO, NJO yang berger.ak antar negara, yang membuat perjanjian antar negara. Dengan demikian apakah ini masih perdata atau sudah hukum publik, yang jelas antar negara adalah hukum publik, tapi bagaimana masing-masing negara, bagaimana masing-masing pihak mengikat warganya untuk tidak membuat perjar~ian dengan warga negara lain yang katakanlah menyalahi. Jadi saya kira justru dalam masa sekarang itu tendensinya ialah lebih banyak hukum perdata dari pada hukum pid~ma, tendensi me:ngurangi pidana tapi sebaliknya dalam dunia intemasional kita ada masalah ini, bagaimana penandatanganan dari sesuatu katakanlah perjanjian bilateral menjamin bahwa warga-warganya tidak melanggar hukum dari negara lain dengan siapa dia menandatangani. Jadi memang mau tidak mau ini menjadi perdata intemasional, saya tidak tahu bukan ahli hukum ini sudah menjadi perdata intemasional mungkin ini suatu ilmu pengetahuan baru.

Terima kasih.

KETUA RAP AT (DRS. Y ASRIL A. BAHARUDDIN) : T erima kasih.

Karni akan lanjutkan mendengarkan pandangan fraksi-fraksi lainnya. Sebelunya tentu kita nanti akan pikirkan apa ini kita masukk~m lansung ke draft ini atau nanti di.

50

-F.PG (IBRAHIM AMBONG):

Ketua interupsi.

Kami ada usulan kendatipun cuma satu kalimat, tapi itu besar artinya jangan dianggap enteng. Tolong dikasih waktulah untuk kami menjelaskan apa usulan kami ini.

KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Ini karena sesama bus tadi jadi saya lupa ini, dan usulannya sangat kecil tidak terbaca.

Mohon maafF.PG, saya persilakan.

F.PG (IBRAHIM AMBONG):

Terima kasih ketua atas waktu yang diberikan.

Jadi usulan kami kelihatannya sama dengan F.TNI/POLRI persoalannya walaupun dalam pertanyaan yang lain. Jadi yang kami maksud disini agar dijelaskan apa yang disebut dengan perjanjian dalam bentuk dan sebutan apaptm. Karena kami lihat dalam DIM ini tidak ada itu, mungkin ada dalam penjelasau, apakah tidak sebaiknya kalau itu dicantumkan disini karena sepanjang pengetahuan kami itu macam-macam bentuk perjanjian itu pada tingkat tredi ada agreement dan sebagainya. Mohon ditambahkan saja, kami tidak tahu bagaimana penuturannya tetapi sesuai dengan konvensi yang ada dalam hukum internasional barangkali itu perlu kita cantumkan disini.

T erima kasih.

KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A BAHARUDDIN):

Memang sekarang gilirannya FPPP. Jadi silakan.

F.PPP (A. KARMAN!) :

Sebelumnya pasal usul fleksibilitas kemudian saudara FPDKB, sebelum pada fraksi-fraksi saya ingin sebetulnya menawarkan pada pemerintah untuk memberikan penjelasan seperti hal-hal yang tadi masih menjadi pertanyaan dari FPDKB dan sebagainya karena kita memang kaitannya agak mirip dengan usul kita tentang perjanjian swasta tadi. Oleh karena itu apakah dapat usul kami ini untuk ditampung dan dimintak:an penjelasan dari pemerintah.

KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Baik, kami ulangi sebenarnya ada ronde kedua untuk itu, tetapi karena ini ada permintaan, dan tadi sebenamya tidak ada pertanyaan langsung. Saya persilakan pada pemeimtah.

.51

-F.KB (EFFENDI CHOIRI) :

Sebelum pemerintah, saya ingin menambahkan saja sudah saya rancang sebelumnya.

Sebetulnya tidak bermaksud harus sama dengna Golkar atau PDKB tapi sudah saya cantumkan bahwa kita memang membutuhkan ldarifikasi yang lebih jauh. Saya kira itu. Sekarang saya mendukung.

KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN) :

Sekarang Pak Effendi mendukung pendapat Golkar, jadi mohon diklarifikasi oleh pemerintah apakah bisa kita cantumkan disini di dalam bentuk undang-undang atau di penjelasan atau dimana. Kami persilakan.

PEMERINTAHIMENTERI LUAR NEGERI : Terima kasih.

Menyangkut usulan PDIP dengan menambahkan kalimat bagi pihak-pihak yang menandatangani petjanjian yang dimaksud pada bagian akhir pasal l ayat 1 itu mungkin bisa kita setujui kalau diganti bagi para pihak. Karena tidak selalu memberi .... karena penandatanganan tidak selalu memberikan implikasi keterikatan terhadap petjanjian internasional baik secara bilateral maupun multilaterallebih dari dua pihak.

Itu satu usulan Golkar dan TNIIPOLRI untuk memasukkan semua jenis petjanjian intemasional juga dari pihak kami beranggapan bahwa kurang tepat karena sudah disebutkan dalam bagian umum penjelasan. Devinisi dalam bab ini bertujuan menjelaskan secara umum arti petjanjian intemasional tersebut bagi RUU ini.

Usulan F.Reformasi untuk menambahkaJ1 kata kedua pihak pada akhir kalimat menurut perspektif kami juga kurang tepat mungkin kar·ena secara otomatis perjanjian internasional itu hanya melibatkan pihak -pihak terkait baik secara bilateral maupun multilateral.

Usulan F .PDKB untuk memasukan kata hukum perdata nasional juga agak objeksion karena yang dimaksud dengan perjanjian intemasional ini adalah petjanjian dalarn bidang hukum publik bukan hukum perdata dan diatur oleh hukum intemasional publik sesuai dengan Konvensi Wina 69 berikut Undang-undang Hubungan Luar Negeri Nomor 37 Tahun 1999.

Hubungan antar negara pemerintah didasarkan pada prinsip-prinsip hukum internasional publik.

Itu tanggapan karni. Terima kasih.

KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Baik, atas dasar keterangan dari pemerintah itu saya kembalikan lagi.

52

-F.KB (EFFENDI CHOIR!):

Sebentar pimpinan.

Ini ada yang belum jelas yang saya maksud tadi bukan berarti mendukung pada usulan Golkar yang dicantumkan agar dicantumkan j<~nis-jenis perjanjian intemasional. Tetapi kami ingin klarifikasi pada pemerintah yang dimaksu.d dalam dalam bentuk dan sebutan apapun, ini apa kira-kira yang dimaksud, itu saja.

Terima kasih.

KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN) : Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH/MENTERI LUAR NEGERI :

Dalam penjelasan ada beberapa bentuk perjanjian itu yang telah disebutkan antara lain umpamanya Trade Konvension Agrement Memorandum of Understanding Protokol Cartered Deklaration Final Ex Regional of ... Not Agre(: ... record ... da leter of intent. Jadi ini yang masuk.

KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Baik, dari pemerintah jadi kepada fraksi-.fraksi selain membaca dim ini mudah-mudahan kita bisa sekaligus melihat penjelasannya, karena. disitu sudah ada beberapa penjelasan.

Saya ulangi, kita mulai lagi dari FKB.

F.KB (EFFENDI CHOIR!):

Tetap mer.dukung usulan pemerintah. ini..

KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Baik, tetap. Kemudian dari F.PPP.

F.PPP (A. KARMAN!):

Usul kami mengenai tadi jenis-jenis perjanjian yang akan disebutkan di dalam penjelasan sudah ada, tapi kami ingin supaya mendapatk.an penjelasan disitu apa masing-masing perbedaan itu agak 1ebih diperjelas, ditarnbahkan disitu. Oleh k.arena belum tentu semua anggota DPR memahami mengenai jenis-jenis pet:ianjian ini.

Terima kasih.

53

-FPPP (NY. HJ. AISY AH AMINI, SH) :

Pimpinan, mungkin tadi ole:h PKB juga dikatakan kalimat bentuk dan sebutan itu, itu harus dijelaskan dalam pasal 1 penjelasan, yang dimaksud dengan bentuk dan sebutan pada ayat ini adalah sebagai berikut itu harus ditegaskan.

KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Saya kira usul bagus, jadi di penjelasan nanti lebih dirinci lagi, karena tidak semuanya nanti bisa mengerti mengenai hal ini. Kami lanjutkan dari F.PG.

F.PG (IBRAHIM AMBONG) :

Pada prinsipnya kami setuju dengan pemerintah cuma tadi seperti disampaikan oleh Ibu Aisyah agar dicantumkan itu, penjelasaannya itu tentang jenis dan bentuk itu ya di belakang. Jadi misalnya disini disebutkan agreemen trade convention itu saja disebut, nah penjelasannya menjelaskan tentang jenis~jenis itu.

Terima kasih.

KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Baik, selanjutnya FPDIP.

F.PDIP (SOPHAN SOPHIAAN):

Mengenai Pasal 10, saya kira tidak ada perbedaan pendapat usul perubahan kita dengan usulan pemerintah, hanya masalah kalimat, kalau kami mengusulkan bagi pihak-pihak yang menandatangani, pemerintah mengatakan para pihak. Saya pikir secara substansial sama. Cukup.

KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A. BAI-:IARUDDIN):

Baik, terima kasih FPDIP. Kami lanjutkan ke F.Reformasi.

F.REFORMASI (HERl\I£AN DATUK. R.)

Tadi kami sudah mendengar dari pihak pemerintah intinya sebenarnya sama ada yang terkait disitu. PDIP malah lebih kalimatnya barangkali sudah cukup, jadi kita memahami memang tidak hanya antara dua belah pihalk jadi antara pihak-pihak. Cuma redaksinya barangkali mana yang lebih tepat para pihak: atau pihak-pihak ini kita bicarakan, redaksi yang paling tepat.

Terima kasih.

54

-KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Baik, selanjutnya F.TNLIPOLRI

F.TNIIPOLRI (SRI HARDJENDRO) :

F.TNI/POLRJ masih berpendapat bahwa bentuk-bentuk dari peljanjian intemasional ini perlu dimasukkan dalam pasal dan dijelaskan pada penjelasan di belakang, karena kalau kita lihat di penjelasan RUU ini pasal 1 kan cukup jelas, saya kira perlu ada penjelasan. Karena kalau tidak saya ambil contoh satu peijanjia.n intemasional yang kita lakukan atau Aceh lakukan, itu masuk dimana, Jedah Kemanusiaan di Aceh itu masuk dimana, kalau itu tidak dijelaskan dalam RUU, jadi kami itu berkembang.

Demikian, terima kasih.

KETUA RAP AT (DRS. Y ASRIL A. BAHARUDDIN) : T erima kasih.

Selanjutnya persilakan FPBB.

F.PBB (PROF. YUSUF A. FAISAL):

Terima kasih.

Saya lihat sudah ada persetujuan antara pemerintah dengan PDIP, oleh karena itu PBB tidak ada usul. Terima kasih.

KETUA RAP AT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN) : Terima kasih.

Kita lanjutkan FPDU.

F.PDU (ASNAWI LATIEF):

Saudara pimpinan, pada butir 10 ini kami setuju tambahan yang dijelaskan oleh pihak pemerintah, soal para pihak dan pihak-pihak saya kira bahasa hukum memang para pihak, tapi bahasa sehari-hari memang pihak-pihak ditujukan banyak orang atau multilateral.

Yang kedua kami tidak setuju bahwa dalam peraturan ini jgua mengatur seperti diusulkan PDKB tadi yaitu NJO sebab kalau pemerintah berdasarkan konvensi Wina 69 itu memang perjanjian ini antar pemerintah atau antar negara dan itu menyangkut soal hukum publik saja.

Kalau sumbemya itu saya kira benar pemerintah.

Terima kasih.

KETUA RAPAT (DRS. YASRIL A. BAHARUDDIN):

Silakan F .PDKB.

FPDKB (PROF. ASTRID. S):

Terima kasih Bapak Ketua.

Tadi saya ingin jadi suatu pertanyaan, ada suatu bidang dalam ilmu hukum yang namanya privet intemasionallow, memang itu privet tetapi apakah itu sama sekali terpisah dari yang ingin dibuat oleh pemerintah, ini sekali lagi mengingat masa depan yang NJO itu masih masuk kemana-mana sehingga kita tidak bisa mengurusi mereka. Jadi saya hanya mengharapkan bahwa kalau kita diperhatikan satu tern pat lah diberikan adanya .... .itu demi privet intemasional low ini, hanya itu saja, sehingga NJO, NJO itu yang semaunya bermain di Republik Indonesia itu bisa terpegang hanya itu saja Pak. Jadi kalau tidak mau pakai istilah perdata tidak apa-apa tapi terkaver juga ada linnya.

Terima kasih, jadi kalau kami terima, kami terima dengan catatan itu, kalau seandainya tidak ada catatan itu maka kami mencatat bahwa maaf saja perjanjian intemasional tidak bisa menjamin menyelesaikan masalah-masalah yang demikian.

Terima kasih.

KETUA RAP AT (DRS. Y ASRIL A. BAHARUDDIN) : Terima kasih Bu.

Jadi kami dari pimpinan mengusulkan hal sebagai berikut. Mengenai nomor 10 ini setelah kita bacakan tadi maka akhir dari ini ditambahkan tadi yang secara umum disetujui adalah bagi para pihak, itu dulu. Dapatkah itu disetujui?

(RAPA T SETUJU)

Kemudian yang kedua rnasih tetap nom or 10, mengenai penjelasan yang diinginkan baik itu dimasukkan di Pasal maupun di dalam penjel.asan keterangan itu, dapatkah kita sepak.ati saya usulkan untuk kita teruskan nanti di Panja p<~mbahasannya supaya itu lebih mendalam.

56

-/c- t:

Sambungan

dari

Kaset

5 : Drs. H. SLAMET EFFENDY YUSUF (F. PG)

Penjelasan umum itu dipindah saj.a yang sini-sini menjadi penjelasan pasal (1). Jadi saya kira itu terima kasih.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat):

Ya kita setujui ini diteruskan, mohon maaf dari Pemerintah silahkan.

Prof. NATABAYA (Pemerinta.h):

Saya ingin mau minta dari pakar hukum untuk bkara sedikit.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat):

Saya persilahkan.

Prof. NATABAYA (Pemerintah) :

Jadi ini ada 3 persoalan. Persoalan pertama perapihan, sudah disetujui. Ada 2 (dua) persoalan kedua adalah mengenai bentuk dan sebutan dan ketiga adalah usul mengenai dalam rangka teknik perundang-undangan, penjelasan umum kepada Pimpinan. Saya akan balik jawab dari Pak yang terhormat saudara saya Pak Slamet ini. Bahwa di dalam ketentuan umum pasal mengenai ketentuan umum, tidak bisa diberikan penjelasan. Itu teknik perundang-undangannya. Jadi semua ketentuan yang ada di dalam ketentuan umum itu tidak bisa diberikan dalam penjelasan pasal perpasal. Oleh karena itu penjelasannya itu ada di dalam penjelasan umum. Di dalam penjelasan umum, itu kita sudah muat mengenai pengertian bentuk dan sebutannya itu. Dikatal<a.n demikian saya bacakan. Perjanjian Internasional yang dimaksud dalam Undang-undang ini adalah setiap perjanjian di dalam hukum publik diatur oleh hukum intemasional dan dibuat oleh pemerintah dengan negara organisasi intemasional atau subyek hukum internasionallain. Bentuk dan nama Perjanjian lnternasional dalam prakteknya cukup beragam antara lain : traded, convention, agrement, memorandum of understanding, protocol, charter, declaration, final act, righment, action of knowledge, agreatmanage, summary record, proses verbal, modus propendy dan letter of intens.

Sekaligus menjadi pertanyaan dari TNI/POLRI bahwa jedah kemanusiaan tidak termasuk dalam pengertian Perjanjian Intetnasional menu.rut UU ini, ataupun menurut menurut Hukum Internasional. Oleh karena itu tidak termasuk dalam pengertian ini mengenai jedah kemanusiaan.

Ketiga mengenai dari Ibu, yang terhormat Ibu Astrid bahwa yang kita atur disini Bu, hanya masalah Hukum Intemasional Public. Mengenai privat international law itu sebenamya tunduk kepada hukum negara masing-masing. Sebetulnya pengertian privat interanational law itu adalah pengertian yang salah kaprah. Itu tidak ada Hukum Internasional mengenai privat itu, yang ada adalah Hukum Nasional yang prinsip-prinsipnya mengatur hubungan satu dengan negara yang lain tetapi tunduk itu kepada masing-masing hukum negaranya masing-masing. Tinggal sistimnya, mau tunduk kepada negara Amerika, mau tunduk kepada negara Indonesia itu terserah. Jadi istilahnya itu salah kaprah mengenai privat international law itu, tidak ada hukum internasional privat itu tidak ada. Istilahnya saja.

Yang ada itu hanya ada Hukum Nasional yang mengatur hubungannya dengan negara lain.

Jadi kalau umpamanya ada jual beli antara Indonesia dengan Amerika, yang ngatur tuh terserah perjanjian mereka, joint of law. Apakah mau diatur oleh Hukum Amerika, apakah mau diatur Hukum Indonesia, atau mau diatur negara ketiga. Jadi tidak ada seperti Hukum Intemasional publik yang memang mempunyai konvensi. Nah walaupun demikian, di dalam hukum internasional privat ini ada semacam, ada semacam petunjuk-petunjuk yang dikeluarkan bagi negara-negara untuk mengatur hukumnya itu sesuai dengan masalah-masalah yang mereka atur itu. Umpamanya ada interanational sales of goods, tetapi ini tidak mengingat jadi mereka hanya menunjukkan oh ldta tunduk disana. Jadi tidak merupakan sesuatu yang harus mengikat seperti konvensi maupun treated. Sekian, terimakasih.

Drs. Y ASRIL AN ANT A BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat) : Ada tanggapan dari F. PG, silahkan.

Drs. H. SLAMET EFFENDY YUSUF (F.PG) :

Terima kasih Saudara Menteri dan Pak Natabaya. Mohon keterangan untuk ketentuan umum Bab I itu ada berapa pasal Pak, apa betul terdiri dari 2 (dua) pasal Pak, atau 3 (tiga). 5 (lima) pasal, eh 1 (satu), 2 (dua} pasal pak ya.

Prof. NATABAYA (Pemerintah} : 2 (dua) pak.

Drs. H. SLAMET EFFENDY YUSUF (F.PG} :

Nah, berhubung Beliau ahli dalam soal teori hukumnya dan Beliau mengatakan bahwa ketentuan umum tidak memakai pEmjelasan, say a mau tanya penjelasan pasal2 ( dua)itu Pak, yang ada. Apakah ini melanggar ketentuan tata cara membuat Undang-undang apa ndak, karena Bapak memberi penjelasan dalam soal pasal2 (dua). Jadi maksud saya mungkin kita tidak lagi berpijak kepada teori ya, tetapi pada keperluan kita di dalam melakukan penyusunan Undang-undang ini, s1eperti apa. Sebab kalau kita ikuti jalan pikiran Bapak tadi ya ndak konsisten dalam merancang RUU ini, kar·ena pasal2 (dua) ada penjelasannya. Saya baca penjelasannya pak, sesuai dengan tugas dan fungsinya Menteri memberikan pendapat dan seterusnya. Di ayat (2) yang anu Menteri memberikan penjelasan di ayat (2) masih di Bab I. Yang Bab I itu adalah ketentuan umum, jadi apakah betul teorinya seperti itu, ini say a minta dikelirkan. Jadi jangan seperti kami ini nggak ngerti teori lalu salah, lalu yang ngerti teori tambah salah lagi kalau nyatanya begini begitu lho. Kalau yang nggak ngerti teori masih mending, tetapi kalau yang nggak ngerti teorikan pantas salah, begitu.

Drs. YASRIL AN ANT A BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat} :

Baik Pak, ini sudah mau makan siang Pak, SJamet udah mau marah-marah. Dalam waktu dekat, jadi.

Drs. H. SLAMET EFFENDY YUSUF (F.PG) :

Soalnya kayaknya koq kita bodoh amat gitu lho. Jadi kita tolong dijelaskan ini.

58:

-Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (PIMPINAN RAP AT):

Ada penjelasan cuma memang tidak anggap kita bodoh. Jadi pelan-pelan saya mohon pemerintah untuk menjelaskan pertanyaan ini sebelum kita istirahat.

Prof. NATABAYA (Pemerintah):

Sebetulnya yang ketentuan umum ini, mengenai istilah-istilah ini yang sebetulnya. Justru oleh karena itu, yang istilah-istilah dalam Undang-undang yang dimaksud Perjanjian Pengesahan Surat Kuasa ini, yang tidak memerlukan mengenai penjelasannya itu.

Drs. SLAMET EFFENDY YUSUF (F.PG) :

Interupsi Saudara Ketua, itukan masih dalam satu bab pasal

(1)

dan pasal

{2)

itu. Jadi tidak bisa dikatakan bahwa pasal

(2)

bukan bah

I,

itu tidak bisa.

Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat):

Sebentar Pak Slamet, sedang ada koordinasi disarm dan belum selesai.

Ny. Hj. AISYAH AMINY (F.PPP) :

Memang ini ada kekisruhan sedikit, termasuk dalam pembuatannya. Memangnya pasal (2), itu bukan termasuk ketentuan umum, sebab pengertian ketentuan umum itu adalah apa yang dimaksud dengan surat kepc~rcayaan, apa itu, Jadi ini memang kekeliruan.

Drs. Y ASRIL AN ANT A BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat) : .

Mikenya pak, tolong pak, dimatikan yang itu pak Natabaya, ya silahkan Bu, jadi sudah Bu ya, betul-betul itu.

Ny. Hj. AISYAH AMINY (F.PPP):

Jadi dalam hal ini kita barangkali dulu supaya jelas duduk masalahnya, karena memang ada kekeliruan, mari kita perbaiki, makasih.

Drs. YASRIL ANANT A BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat) : Baik, usulan Pak Slamet terakhir mungkin.

Drs. SLAMET EFFENDY YUSUF (F.PG) :

Ya saya setuju aja kalau dibreak gitu, tetapi ini maaf saya mau minta klarifikasi ya dalam hal ini bahwa Bah I ini terdiri dari berapa pasal. Bab I itu judulnya adalah ketentuan umum.

Setahu saya kalau dibawah satu judul ada ayat-ayat, ayat itu termasuk di dalam bah itu. Tadi dijelaskan bahwa ketentuan umum biasanya menurut teori pembuatan Undang-undang itu tidak pakai penjelasan, kenapa ini pakai penjelasan, ini masalahnya begitu lho, terimakasih.

59

-Drs. YASRIL ANANTA BAHARUDDIN (Pimpinan Rapat):

Saya kira apa yang diingatkan oleh Ibu Aisyah benar pak, mungkin yang pasal (2) Menteri itu ada di tempat lain itu. Karena tidak perlu definisi. (Interupsi : saya kira break saja, Pimpinan break saja, untuk mendinginkan, sebelah kanan saya ini pak. Terimakasih pak, sebelumnya kami memberikan, silahkan.

Prof. Dr. ASTRID S. SUSANTO (F. PDKB) :

Saya interupsi sebentar, justru berkaitan dengan pasal (2) yang harus dipindahkan tadi itu ya

Saya interupsi sebentar, justru berkaitan dengan pasal (2) yang harus dipindahkan tadi itu ya