PDRB perkapita menunjukkan besarnya pendapatan yang dapat dinikmati oleh setiap penduduk secara rata-rata. Besaran ini merupakan hasil bagi PDRB dengan jumlah penduduk. Dengan melihat pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhan penduduk dapat dilihat peningkatan dalam pendistribusian PDRB per kapita maupun pendapatan regional perkapita
Angka pendapatan perkapita lazim digunakan sebagai salah satu indicator untuk melihat tingkat kesejahteraan penduduk. Namun, hal ini perlu diinterprestasikan secara hati-hati karena angka ini belum memperhitungkan net factor income, yaitu selisih antara income out flow dengan income in flow.
II - 19 Pendapatan perkapita penduduk Kota Palembang dari tahun 2011 hingga tahun 2016 cenderung mengalami peningkatan. PDRB Perkapita penduduk Kota Palembang menurut Lapangan Usaha pada Tahun 2016 sebesar Rp.74.135,20,- sedangkan Tahun 2015 sebesar Rp.68.638,07,- atau bertambah sebesar Rp.5.497,13,- dari tahun sebelumnya..
Tabel 2.11
PDRB Per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku Kota Palembang Tahun 2011-2016 Tahun PDRB Per Kapita ADHB
2011 45.485,08
2012 49.733,84
2013 55.466,71
2014 61.040,59
2015 68.638,07
2016* 74.135,20
Sumber : BPS Kota Palembang 2017 (PDA Tahun 2017) * : Angka sangat sementara/very Preliminary Figures
II - 20 2.1.2.4 Kemiskinan
Indikator kemiskinan di Kota Palembang 5 tahun terakhir (2011 -2016). Secara umum persentase penduduk miskin dari tahun 2010 (15 persen) samapi tahun 2016 mengalami penurunan (12,04 persen)
Tabel 2.12
Jumlah Persentase Penduduk Miskin, Indeks Kedalaman, Indeks Keparahan dan Garis Kemiskinan di Kota Palembang
Tahun 2011-2016 Indikator
Kemiskinan
Tahun
2011 2012 2013 2014 2015 2016 Jumlah
Penduduk 210.000 206.500 206.000 202.310 203.120 191.950 Persentase
Penduduk
Miskin (%) 14,30 13,59 13,36 12,93 12,85 12,04 Indeks
Kedalaman
Kemiskinan 2,87 2,23 2,03 2,26 2,05 2,18 Indeks
Keparahan
Kemiskinan 0,85 0,60 0,46 0,57 0,49 0,53 Garis
Kemiskinan
(Rp/Kap/Bln) 344.939 366.689 392.560 405.037 431.242 456.255 Sumber : BPS Kota Palembang 2017
Pada Tabel 2.12 Terjadi Peningkatan kemiskinan pada Tahun 2016 menjadi 2,18, ini berarti jarak antara penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin melebar/tinggi yang artinya penempatan penduduk miskin tidak merata disuatu tempat.
Beberapa indikator kemiskinan diatas mengacu pada garis kemiskinan yang secara agregat terus meningkat. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh inflasi yang meningkatkan jumlah pengeluaran masyarakat.
Indikator kemiskinan di Kota Palembang 5 (lima) Tahun terakhir cenderung membaik, hal ini searah dengan indikator kesejahteraan rakyat lainnya seperti indikator kesehatan, indikator pendidikan, indikator ketenagakerjaan, kondisi perekonomian dan indikator perumahan.
Meningkatnya pelayanan pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat, melalui berbagai program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kota
II - 21 Palembang tentunya dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat. Selain itu kondisi perekonomian Kota Palembang yang terus tumbuh, menyerap tenaga kerja dari masyarakat local yang pada akhirnya meningkatkan taraf hidup masyarakat Kota Palembang. Kondisi merupakan factor pemicu terus menurunnya ngka kemiskinan di Kota Palembang secara gradual.
2.1.2.5 Pendidikan
2.1.2.5.1 Angka Melek Huruf
Pada tingkat makro, ukuran mendasar dari tingkat pendidikan adalah kemampuan baca tulis penduduk. Secara minimal penduduk harus mempunyai kemampuan membaca dan menulis agar dapat menerima informasi secara tertulis, dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembangunan dan dapat menikmati hasil-hasil pembangunan secara wajar. Sehingga dapat dikatakan kemampuan baca tulis merupakan keterampilan minimum yang dibutuhkan penduduk untuk hidup sejahtera.
Barometer dalam mengukur tingkat keberhasilan pendidikan suatu daerah adalah angka melek huruf. Angka melek huruf didefinisikan sebagai presentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin/huruf lainnya, dimana angka idealnya adalah 100 persen.
Tabel 2.13
Angka Melek Huruf Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kelamin Kota Palembang Tahun 2010-2015 Tahun Laki-Laki Perempuan Total
2010 98,68 98,26 98,47
2011 98,79 95,87 97,34
2012 99,58 98,31 98,94
2013 98,43 96,30 97,33
2014 99,15 97,76 98,46
2015 99,41 99,31 99,36
Sumber : BPS Kota Palembang 2016 (PDA Tahun 2016)
II - 22 Angka Melek Huruf Penduduk Kota Palembang mengalami fluktuasi walaupun tidak signifikan. Pada tahun 2015 Angka Melek Huruf di Kota Palembang mencapai 99,36 persen. Secara gender, pada tahun 2015 di Kota Palembang angka melek huruf laki-laki (99,41 persen) lebih baik dari angka melek huruf perempuan (99,31 persen).
2.1.2.5.2 Angka Rata-Rata Lama Sekolah
Indikator rata-rata lama sekolah (Years Means School) merupakan salah satu indikator komposit yang digunakan oleh pemerintah dalam menghitung Indikator Pembangunan Manusia (IPM). Rata-rata lama sekolah menunjukkan tingkat pendidikan yang mampu dicapai oleh masyarakat disuatu wilayah, dalam hal ini wilayah Kota Palembang. Rata-rata lama sekolah di Kota Palembang terus cenderung mengalami peningkatan dari tahun ketahun sampai tahun 2016. Pada Tabel 2.14 terlihat rata-rata lama sekolah penduduk usia 15 tahun keatas di Kota Palembang pada tahun 2010 sebesar 9,96 dan meningkat menjadi 10,35 pada tahun 2016. Artinya rata-rata penduduk Kota Palembang telah mengenyam pendidikan SLTA kelas 1 (tingkat X).
Tabel 2.14
Rata-rata Lama Sekolah Penduduk Usia 15 Tahun Keatas Kota Palembang Tahun 2010-2016
Tahun Total
2010 9,96
2011 9,98
2012 10,39
2013 10,19
2014 10,36
2015 10,23
2016 10,35
Sumber : BPS Kota Palembang 2017
II - 23 2.1.2.5.3 Angka Partisipasi Kasar
Angka partisipasi kasar menurut jenjang pendidikan mengukur banyaknya penduduk bersekolah lewat suatu jenjang pendidikan dari setiap 100 penduduk usia sekolah. Tabel 2.15 menunjukkan bahwa APK Sekolah Dasar di Kota Palembang tahun 2016 mencapai angka 106,75. Hal ini karena banyaknya anak usia 5-6 tahun yang memasuki pendidikan di SD, juga adanya penduduk berusia diatas 12 tahun yang masih melakukan pendidikan di SD, sehingga banyaknya penduduk yang masih bersekolah di SD jauh lebih besar dibandingkan jumlah penduduk usia 7-12 tahun. Untuk jenjang SLTP, APK sebesar 88,27. Sedangkan angka partisipasi kasar untuk jenjang SMU sebesar 101,77.
Tabel 2.15
Angka Partisipasi Kasar Menurut Jenjang Pendidikan Kota Palembang Tahun 2016
Kelas Total
APK SD (7-12) 106,75 APK SLTP (13-15) 88,27
APK SLTA(16-18) 101,77
Sumber : BPS Kota Palembang 2017 (PDA Tahun 2017)
2.1.2.5.4 Angka Partisipasi Murni
Angka Partisipasi Murni (APM) untuk tiap jenjang pendidikan pada umumnya lebih rendah bila dibanding dengan Angka Partisipasi Kasar (APK). Karena APM merupakan perbandingan antara banyaknya murid pada masing-masing jenjang pendidikan dengan jumlah penduduk kelompok umur untuk jenjang pendidikan bersangkutan (7-12 untuk SD, 13-15 untuk SLTP dan 16-18 untuk SMU).
II - 24 Tabel 2.16
Angka Partisipasi Murni Menurut Jenjang Pendidikan Kota Palembang Tahun 2016
Jenjang Pendidikan Total
SD 89,01
SLTP 61,73
SLTA 60,90
Sumber : BPS Kota Palembang 2017 (PDA Tahun 2017)
Dari Tabel 2.16 dapat dilihat bahwa APM untuk Sekolah Dasar sebesar 89,01 artinya dari jumlah anak usia 7-12 tahun sebanyak 89,01 persen masih bersekolah di SD. Sedangkan APM untuk Tingkat SLTP dan SLTA masing-masing sebesar 61,73 dan 60,90.
2.1.2.6 Kesehatan
2.1.2.6.1 Angka Harapan Hidup
Kesadaran yang semakin meningkat terhadap gizi dan kesehatan diri dan keluarga ikut mempengaruhi peningkatan Angka Harapan Hidup di Kota Palembang. Terlihat dari tabel 2.17 Angka Harapan Hidup dari Tahun 2010 sampai tahun 2016 terus meningkat, pada Tahun 2010 Angka Harapan Hidup sebesar 69,76 dan pada tahun 2016 sebesar 70,05
Tabel 2.17
Angka Harapan Hidup (AHH) Kota Palembang Tahun 2010-2016
Tahun AHH
2010 69,76
2011 69,78
2012 69,79
2013 69,80
2014 69,80
2015 70,00
2016 70,05
Sumber : BPS Kota Palembang 2017
II - 25 2.1.2.6.2 Angka Kematian Ibu
Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Berdasarkan data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, Angka Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sebesar 395 per 100.000. Jumlah kematian ibu tahun 2016 di Kota Palembang, berdasarkan laporan sebanyak 11 orang dari 29.521 kelahiran hidup (Profil Pelayanan Kesehatan Dasar, 2016). Penyebabnya yaitu perdarahan, diikuti oleh emboli paru, suspek syok kardiogenik, eklampsia, suspek TB, hipertensi dalam kehamilan, dan lainnya. Sedangkan target MDG’s tahun 2016 adalah 102/100.000 kelahiran hidup. (Depkes RI, 2010).
2.1.2.6.3 Cakupan Balita Gizi Buruk
Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Dari tabel 2.18 terlihat kasus gizi buruk dari tahun 2012 – 2016. Pada Tahun 2012 kasus gizi buruk ada 17 kasus, pada tahun 2015 ada 14 kasus dan pada tahun 2016 ada 19 kasus. Dari semua kasus gizi buruk yang ada semuanya telah mendapatkan penanganan dan telah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu 100%.
Tabel 2.18
Jumlah Bayi Bergizi Buruk di Kota Palembang Tahun 2012-2016
No Tahun Gizi Buruk
1 2012 17
2 2013 13
3 2014 22
4 2015 14
5 2016 19
Sumber Data : BPS Kota Palembang 2017 (PDA Tahun 2017)
II - 26 2.1.2.6.4 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Kemajuan Pembangunan Manusia di suatu daerah secara umum dapat ditunjukkan dengan melihat perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencerminkan capaian kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi.
Dengan melihat perkembangan angka IPM tiap tahun, kemajuan yang dicapai Kota Palembang dalam pembangunan manusia tidak terlalu signifikan. Walaupun angka IPM Kota Palembang adalah yang tertinggi di Sumatera Selatan. Angka IPM Kota Palembang hanya mengalami sedikit peningkatan dari 76,02 pada tahun 2014 menjadi 76,29 pada tahun 2015. Lambatnya kenaikan IPM ini dapat dipahami, mengingat dampak dari investasi di sektor kesehatan dan pendidikan khususnya terhadap peningkatan indikator penyusunan IPM terlihat secara nyata dalam jangka panjang.
Tabel 2.19
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Palembang Tahun 2010-2015
Tahun IPM
2010 73,33
2011 74,08
2012 74,74
2013 75,49
2014 76,02
2015 76,29
2016 76,59
Sumber : BPS Kota Palembang 2017 (PDA Tahun 2017)
2.1.2.7 Ketenagakerjaan
Angkatan kerja merupakan bagian dari aspekdemografi penduduk yang mempunyai kecenderungan bertambah atau menurun sejalan dengan perubahan yang dialami oleh penduduk itu sendiri. Hal ini terjadi Karena faktor alamiah seperti kelahiran, kematianmaupun
II - 27 perpindahan yang menyebabkan bergesernya pola kependudukan secara keseluruhan.
Tabel 2.20
Persentase Penduduk Usia 15 tahun Keatas Menurut Jenis Kegiatan Utama dan Jenis Kelamin di Kota Palembang
Tahun 2015
Jenis Kegiatan Utama 2015
Laki-laki Perempuan Jumlah I Angkatan Kerja
a. Bekerja 403.217 260.098 663.315 b. Menganggur 45.211 24.595 69.806 JUMLAH 448.428 284.693 733.121 II Bukan Angkatan
Kerja
a. Sekolah 64.466 65.422 129.888
b. Mengurus
Rumah Tangga 9.795 222.222 232.017
c. Lainnya 55.295 15.010 70.305
JUMLAH 129.556 302.654 432.210