• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Landasan teori

4. Pecahan

Pecahan adalah bilangan yang dapat ditulis

dimana a dan b

bilangan bulat dengan syarat b≠0, a bukan merupakan kelipatan dari b atau b bukan faktor dari a.

E. Spesifikasi Produk

Produk pendidikan (Arifin.2011:127) mengandung tiga pengertian

pokok. Pertama, produk tersebut tidak hanya meliputi perangkat keras,

pembelajaran, prosedur dan proses pembelajaran. Kedua, produk tersebut

dapat berarti produk baru atau memodifikasi produk yang sudah ada.

Ketiga, produk yang dikembangkan merupakan produk yang betul-betul

bermanfaat bagi dunia pendidikan.

Produk dalam penelitian ini berupa perangkat pembelajaran.

Perangkat pembelajaran itu terdiri dari:

1. Silabus

Silabus yang dikembangkan memiliki kegiatan belajar yang

mengakomodasi siswa untuk menemukan sendiri model

penyelesaian masalah.

2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

RPP yang dikembangkan memiliki metode pembelajaran dan

kegiatan pembelajaran yang mengakomodasi siswa untuk

menemukan sendiri model penyelesaian masalah

3. Lembar Kegiatan Siswa (LKS)

LKS yang dikembangkan memiliki kegiatan belajar yang dapat

mengakomodasi siswa untuk menemukan sendiri model

penyelesaian masalah secara mandiri maupun berkelompok.

Kalimat perintah dalam LKS juga menuntut siswa untuk dapat

menemukan sendiri model peyelesaian masalah.

4. Bahan ajar

Bahan ajar yang dikembangkan menggunakan gambar-gambar dan

contoh soal yang dapat memunculkan peluang bagi siswa untuk

5. Evaluasi

Bentuk soal evaluasi berupa soal cerita yang bersifat kontekstual

sehingga dapat mendorong siswa menemukan banyak strategi

pemecahan masalah.

F. Pentingnya Pengembangan

Penelitian pengembangan ini penting untuk meningkatkan kualitas

pembelajaran matematika. Penelitian ini dapat membantu guru merancang

dan mengembangkan perangkat pembelajaran yang baik, terutama untuk

yang berhubungan dengan pendekatan PMRI.

G. Kontribusi Hasil Pengembangan

Penelitian pengembangan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi

berbagai pihak, antara lain :

1. Bagi peneliti

Penelitian pengembangan ini dapat memberi pengalaman baru

dalam menggunakan pemodelan dalam menyelesaiakan masalah

pada pembelajaran penjumlahan pecahan dengan pendekatan

PMRI di SD Negeri Tegalrejo 2 tahun pelajaran 2011/2012

2. Bagi siswa

Penelitian pengembangan ini dapat memberikan pengalaman baru

dalam mempelajari materi penjumlahan pecahan menggunakan

3. Bagi guru

Penelitian pengembangan ini dapat dijadikan inspirasi dalam

melakukan penelitian pengembangan khususnya menggunakan

pendekatan PMRI

4. Bagi sekolah

Penelitian pengembangan ini dapat menambah dokumen hasil

penelitian pengembangan khususnya tentang pemodelan dalam

menyelesaikan masalah pada pembelajaran penjumlahan pecahan

dengan pendekatan PMRI di SD Negeri Tegalrejo 2 tahun

8

BAB II

KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian yang Relevan

Pada bagian ini akan dipaparkan mengenai hasil penelitian yang

relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Penelitian pertama

adalah penelitian yang dilakukan oleh saudari Hadziqotul Aizah tahun

2007 dalam Suryanto (2010:182) (skripsi tidak diterbitkan) dengan judul

Kreativitas Siswa dalam Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan PMRI di Kelas IVA SD N Percobaan 2 Depok Sleman. Hasil penelitiannya adalah 1) mampu berpikir lancar dengan banyak memberi alternatif

penyelesaian masalah, memberikan lebih dari satu jawaban dalam soal

terbuka, banyak bertanya mengenai masalah, menyelesaikan masalah

dengan cepat, 2) mampu berpikir luwes dengan memanfaatkan media yang

ada, 3) mampu berpikir orisinil dengan menyelesaikan masalah sendiri

atau berkelompok dan membuat model matematika informal pecahan

dengan kertas dan gambar, 4) mampu mengelaborasi dengan menjelaskan

langkah-langkah baik secara lisan maupun tulisan, 5) mampu menilai

dengan mengambil keputusan dari berbagai pendapat dalam diskusi

kelompok.

Penelitian kedua adalah penelitian yang dilakukan saudara Eko

Rusyan Anan Prasetyo dalam Suryanto (2010:180) (skripsi tidak

diterbitkan) dengan judul Peranan Alat Peraga dalam Proses Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Pendekatan Matematika Realistic di Sekolah Dasar. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa peranan

alat peraga dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan realistic

adalah 1) membantu siswa untuk mempermudah memahami suatu konsep

matematika yang diajarkan, 2) menciptakan suasana belajar yang

menyenangkan sehingga menumbuhkan respon positif siswa terhadap

pembelajaran, 3) menciptakan interaksi antara siswa dengan siswa, siswa

dengan guru, 4) menumbuhkan motivasi kepada siswa untuk lebih aktif di

kelas, 5) membantu siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri

dan menemukan sendiri cara penyelesaian masalah dengan metodenya

sendiri.

Penelitian-penelitian tersebut merupakan penelitian yang berkaitan

dengan pendekatan PMRI dan pemodelan yang digunakan siswa untuk

menyelesaikan masalah dalam pembelajaran. Kesimpulan dari kedua

penelitian tersebut menyebutkan bahwa pendekatan PMRI yang digunakan

dalam pembelajaran dapat membantu siswa mampu menemukan sendiri

model penyelesaian masalah dari guru baik secara individu maupun

berkelompok. Setelah melihat hasil penelitian terdahulu, penelitian oleh

peneliti sesuai dengan penelitian terdahulu. Oleh karena itu, penelitian

yang dilakukan peneliti masih relevan dan bermanfaat untuk

dikembangkan.

B. Landasan Teori

1. Perangkat pembelajaran

Trianto (2010:96) menyatakan bahwa perangkat pembelajaran

adalah perangkat yang dipergunakan dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran (RPP), Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Bahan Ajar

dan Evaluasi. Sementara itu, Rusdi (2008) mengungkapkan

perangkat pembelajaran adalah sekumpulan media yang digunakan

dalam proses pembelajaran oleh guru dan siswa Media yang

digunakan yaitu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Buku

Siswa (BS), Buku Pegangan Guru (BPG), Lembar Kegiatan Siswa

(LKS), dan Tes Hasil Belajar. Jadi perangkat pembelajaran adalah

perangkat yang disiapkan oleh guru dan dipergunakan dalam

proses pembelajaran oleh guru maupun siswa.

2. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)

a) Pengertian PMRI

Suryanto (2010:37) menyatakan bahwa Pendidikan

Matematika Realistik (PMRI) adalah pendidikan matematika

sebagai hasil adaptasi dari Realistic Mathematic Education yang diselaraskan dengan kondisi budaya, geografi, dan kehidupan

masyarakat Indonesia. PMRI merupakan salah satu inovasi dalam

pembelajaran matematika. Bagi guru matematika di Indonesia,

penggunaan soal-soal yang berhubungan dengan dunia nyata

(kontekstual) dan penyelesaian masalah dengan eksplorasi,

merupakan hal yang baru. Pembelajaran matematika juga

merupakan kegiatan yang menitikberatkan pada siswa berbeda

dengan model pembelajaran matematika yang masih menggunakan

Matematika adalah hal yang abstrak dan sulit untuk

dipahami. Oleh karena itu PMRI mengupayakan pembelajaran

yang menggunakan hal-hal konkret terlebih dahulu agar siswa

dapat memahami matematika dengan lebih matang. PMRI ini juga

sejalan dengan pembelajaran konstruktivisme, pembelajaran yang

mengupayakan agar siswa membangun sendiri pengetahuannya.

b) Prinsip PMRI

Suryanto (2010:41-43) ada beberapa prinsip yang merupakan dasar

teoritis PMRI, yaitu :

1) Guided reinvention dan progressive mathematization a) Guided Reinvention (penemuan kembali secara

terbimbing)

Prinsip ini memberikan kesempatan bagi siswa

untuk membangun dan menemukan kembali ide-ide dan

konsep-konsep matematis melalui masalah kontekstual

yang realistik (yang dapat dibayangkan atau dipahami

oleh siswa) dengan bimbingan dari guru, selanjutnya

melalui aktivitas, siswa diharapkan dapat menemukan

kembali pengertian (definisi), sifat-sifat matematis

(teorema), dan lainnya, meskipun pengungkapannya

masih dalam bahasa informal (nonmatematis)

b) Progressive mathematization

Setelah membangun dan menemukan kembali

‘pemikiran matematis’. Dikatakan progresif karena terdiri

dari dua langkah berurutan yaitu (1) matematisasi

horizontal (berawal dari masalah kontekstual dan berakhir

pada matematika formal) (2) matematisasi vertikal (dari

matematika formal ke matematika formal yang lebih

tinggi, luas, dan rumit).

2)Didactical phenomenology

Prinsip ini menekankan pada pembelajaran yang

bersifat mendidik dan pentingnya masalah kontekstual

untuk diberikan kepada siswa. Masalah kontekstual yang

diberikan harus mempertimbangkan aspek pada diri siswa

dan harus diselesaikan sendiri oleh siswa.

3)Self-developed model

Pembelajaran diawali dengan menggunakan

masalah kontekstual, maka memungkinkan siswa memiliki

model dan cara sendiri dalam menyelesaikan masalah.

Model tersebut mungkin masih sederhana dan mirip

dengan masalah kontekstualnya.

c) Karakteristik PMRI

Menurut Treffers dalam Wijaya (2012:21-23) menyatakan bahwa

karakteristik PMRI terdiri dari :

1) Penggunaan konteks

Pembelajaran sebaiknya diawali dengan

tujuan agar siswa mudah membayangkan masalah yang

diberikan guru. Siswa dapat dilibatkan secara aktif untuk

mengeksplorasi permasalahan sehingga dapat

meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa dalam

belajar matematika..

2) Penggunaan model untuk matematisasi progresif

Pembelajaran matematika yang abstrak terkadang

membutuhkan model untuk penyampaiannya. Model yang

digunakan dapat bermacam-macam, mulai dari

benda-benda konkret, semi konkret, maupun yang semu. Semua

model tersebut selalu berhubungan dengan masalah konkret

yang dihadapi siswa.

3) Pemanfaatan hasil konstruksi siswa

Siswa diberi kebebasan untuk mengembangkan

strategi pemecahan masalah dan diberi kesempatan untuk

menemukan konsep-konsep matematis di bawah bimbingan

guru. Dari hal di atas diharapkan muncul hasil kerja dan

konstruksi siswa yang bervariasi untuk selanjutnya

digunakan untuk landasan pengembangan konsep

matematika.

Kegiatan yang dilakukan oleh siswa juga perlu

diperhatikan oleh guru. Sumbangan berupa ide, gagasan,

hal-hal yang perlu diperhatikan utuk meningkatkan

pengetahuan siswa.

4) Interaktivitas

Pada proses pembelajaran matematika terdapat

aktivitas sosial. Siswa perlu mengkomunikasikan hasil

kerja dan gagasan mereka kepada orang lain untuk

ditanggapi. Selain itu siswa juga menyimak hasil kerja dan

gagasan siswa lain serta diharapkan untuk menanggapinya.

Hal ini bertujuan agar proses belajar menjadi lebih efektif

dan efisien serta mengembangkan potensi alamiah afektif

siswa atau sikap siswa dalam aktivitas social. Bentuk

interaksi tersebut dapat berupa diskusi, tanya-jawab,

memberi penjelasan, dan komunikasi singkat

5) Keterkaiatan

Matematika merupakan ilmu yang terstruktur.

Keterkaitan antara topik, konsep, operasi sangat kuat,

sehingga memungkinkan adanya integrasi antara topik yang

satu dengan topik yang lain dan jangan dipandang atau

dipelajari sebagai bagian-bagian yang terpisah, tetapi

terjalin satu sama lain sehingga siswa dapat melihat

hubungan antara materi-materi itu secara lebih baik. Jadi

PMRI merupakan salah satu pendekatan di mata pelajaran

matematika. Pendekatan ini menggunakan masalah yang

3. Pemodelan

Pembelajaran matematika masih bersifat abstrak sehingga

memerlukan model. Model itu dapat bermacam-macam, dapat

konkret berupa benda, atau semikonkret berupa gambar atau

skema. Hal ini dimaksudkan sebagai jembatan dari konkret ke

abstrak atau dari abstrak ke abstrak yang lain.

Menurut Maaв dalam Wijaya (2012:46-47) menyatakan bahwa alasan penting penggunaaan model :

a. Pemodelan memiliki peran mengembangkan kepekaan

siswa tentang manfaat matematika sehingga mereka

bisa menerapkan konsep matematika dalam kehidupan.

b. Pemodelan merupakan suatu aktivitas yang dapat

menjembatani dunia matematika dengan dunia nyata.

c. Pemodelan merupakan aspek yang penting dalam

pemecahan masalah.

d. Pemodelan membantu siswa memahami dan juga

menguasai konsep matematika dengan lebih mudah.

e. Pemodelan dapat mengembangkan sikap positif siswa

terhadap matematika.

Penggunaan model merupakan hal penting dalam

penemuan dan pembangunan konsep matematika oleh

siswa. Menurut Gravemeijer dalam Wijaya (2012: 47)

menyebutkan bahwa empat level dalam pengembangan

a. Level situasional

Level paling dasar dari pemodelan di mana

pengetahuan dan model masih berkembang dalam

konteks situasi masalah yang digunakan.

b. Level referensial

Pada level ini, siswa membuat model untuk

menggambarkan situasi konteks sehingga hasil

pemodelan pada level ini disebut model dari situasi.

c. Level general

Model yang dikembangkan siswa sudah mengarah

pada pencarian solusi secara matematis dan disebut

model untuk penyelesaian masalah.

d. Level formal

Merupakan tahap perumusan dan penegasan konsep

matematika yang dibangun oleh siswa yang bekerja

dengan menggunakan simbol dan representasi

matematis.

Jadi pemodelan merupakan salah satu karakteristik PMRI.

Karakteristik ini menunjukkan bahwa siswa dapat menemukan

sendiri cara untuk menyelesaikan masalah yang diberikan oleh

guru. Pada karakteristik ini siswa diberikan kebebasan untuk

menentukan cara yang akan digunakan untuk menyelesaikan

4. Pecahan

a. Pengertian Pecahan

Trivieri (1989:53) said that a fraction is a number resulting from the division of one whole number a by

another whole number b, with b ≠ 0, and is written in the

form or a/b or a ÷ b. The whole number a is called the numerator of the fraction. The nonzero whole number b is called the denominator.

Kutipan di atas menyatakan bahwa pecahan adalah

bilangan hasil dari pembagian bilangan bulat a dengan

bilangan bulat b, dengan b ≠ 0, dan ditulis dalam bentuk

atau a/b atau a ÷ b. Bilangan bulat a disebut pembilang dari

pecahan. Bilangan bulat b disebut penyebut. Heruman

(2008: 43) berpendapat bahwa pecahan adalah bagian dari

sesuatu yang utuh. Marsigit (2009: 34) berpendapat bahwa

pecahan adalah bilangan yang dapat dinyatakan dalam

bentuk dengan a, b bilangan bulat, b≠ 0 dan b bukan faktor

dari a. Pecahan adalah bilangan yang ditulis

dimana a dan

b bilangan bulat dengan syarat b≠0, a bukan merupakan

kelipatan dari b dan b bukan faktor dari a.

b. Penjumlahan Pecahan

1) Penjumlahan dua pecahan berpenyebut sama

Pecahan-pecahan yang mempunyai penyebut sama

disebut pecahan serupa. Pecahan dan merupakan

pecahan serupa karena keduanya mempunyai penyebut 7.

a) Add the numerators and write the sum over the like denominator.

b) Simplify, if possible.

Peraturan untuk menjumlahkan pecahan serupa

sebagai berikut.

a) Jumlahkan pembilangnya dan tuliskan di

atas penyebut.

b) Sederhanakan jika memungkinkan.

2) Penjumlahan dua pecahan berbeda penyebut

Pecahan berbeda penyebut disebut pecahan tidak

serupa. Pecahan dan merupakan contoh pecahan tidak

serupa karena keduanya mempunyai penyebut yang

berbeda. Supaya dapat dijumlahkan maka harus

menyamakan penyebutnya. Berikut ini merupakan gambar

penjumlahan pecahan tidak serupa.

Pecahan tidak serupa

Dokumen terkait