BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3. Pedagang Kaki Lima (PKL)
Pedagang kaki lima merupakan sektor informal yang keberadaannya senantiasa diabaikan oleh pemerintah kota. PKL dapat ditemukan hampir di seluruh kota dan kebanyakan berada di ruang fungsional kota seperti pusat perdagangan, pusat rekreasi, taman kota, dan tempat-tempat umum yang dapat menarik sejumlah besar penduduk sekitar. Sektor informal menurut Ahmad (2002:73) merupakan kegiatan ekonomi yang bersifat marjinal (kecil-kecilan) yang memiliki beberapa ciri seperti kegiatan yang tidak teratur, tidak tersentuh peraturan, bermodal kecil dan bersifat harian, tempat tidak tetap dan berdiri sendiri, berlaku di kalangan masyarakat yang berpenghasilan rendah, tidak membutuhkan keahlian dan keterampilan khusus, lingkungan kecil, serta tidak mengenal perbankan, pembukuan maupun perkreditan.
Menurut Kadir (2010), keberadaan PKL sebagai sektor informal dalam kegiatan perdagangan menimbulkan suatu dikotomi karena disatu sisi sektor informal mampu menyerap tenaga kerja terutama pada golongan masyarakat yang memilki tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah serta modal kecil. Namun disisi lain sektor ini merupakan sektor yang tidak memiliki legalitas atau perlindungan hukum dan merugikan sektor formal karena menyebabkan permasalahan lingkungan kota. Hal ini terjadi karena pemerintah kota tidak pernah menyediakan ruang bagi PKL dalam Rencana Tata Ruang Kota.
2.3.1. Asal Mula Pedagang Kaki Lima
Istilah pedagang kaki lima konon berasal dari jaman pemerintahan Rafles, Gubernur Jenderal pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu dari kata ”five feet”
yang berarti jalur pejalan kaki di pinggir jalan selebar lima kaki. Ruang tersebut digunakan untuk kegiatan berjualan pedagang kecil sehingga disebut dengan pedagang kaki lima (dalam Widjajanti, 2000:28). Kemudian muncul beberapa ahli yang mengemukakan defenisi dari pedagang kaki lima diantaranya menurut McGee (1977:28) menyebutkan PKL sebagai hawkers adalah orang-orang yang menawarkan barang-barang atau jasa untuk dijual di tempat umum, terutama jalan-jalan trotoar.
2.3.2. Karakteristik Pedagang Kaki Lima
Berdasarkan tipe komoditas yang dijual PKL, MCGee dan Yeung (1977:81) mengelompokkan PKL menjadi empat kategori, yaitu :
a. Makanan yang tidak diproses dan semi olahan. Makanan yang tidak diproses, termasuk makanan mentah seperti daging, buah-buahan atau sayuran. Sedangkan makanan yang semi olahan seperti beras.
b. Makanan siap saji, yakni penjual makanan yang sudah dimasak.
c. Barang bukan makanan , kategori ini terdiri dari barang-barang dalam skala yang luas, mulai dari tekstil hingga obat-obatan.
d. Jasa , yang terdiri dari beragam aktivitas seperti jasa perbaikan sol sepatu dan tukang cukur.
Berdasarkan sifat layanannya, MCGee & Yeung (1977:82-83) mengelompokkan PKL ke dalam tiga tipe, yaitu :
a. Pedagang keliling (mobile), pedagang yang dengan mudah dapat membawa barang daganngannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mulai dari menggunakan sepeda, gerobak atau keranjang.
b. Pedagang semi menetap (semistatic), pedagang ini mempunyai sifat menetap sementara, dimana kios dan tempat usahanya akan berpindah setelah beberapa waktu berjualan di tempat tersebut.
c. Pedagang Menetap (static), sifat layanan pedagang ini memiliki frekuensi menetap yang paling tinggi, dimana lokasi tempat usahanya permanen di suatu tempat seperti di jalan atau ruang-ruang publik dengan membangun kios, maupun jongko.
Berdasarkan pola penyebaran aktivitas PKL, Mc.Gee dan Yeung (1977:37-38) mengelompokkan PKL menjadi dua kategori, yaitu:
a. Pola penyebaran mengelompok (focus aglomeration), biasa terjadi pada mulut jalan, disekitar pinggiran pasar umum atau ruang terbuka. Pengelompokkan ini terjadi merupakan suatu pemusatan atau pengelompokan pedagang yang memiliki sifat sama / berkaitan. Pengelompokan pedagang yang sejenis dan saling mempunyai kaitan, akan menguntungkan pedagang, karena mempunyai daya tarik besar terhadap calon pembeli. Aktivitas pedagang dengan pola ini dijumpai
pada ruang-ruang terbuka (taman, lapangan, dan lainnya). Biasanya dijumpai pada para pedagang makanan dan minuman.
b. Pola penyebaran memanjang (linier aglomeration), pola penyebaran ini dipengaruhi oleh pola jaringan jalan. Pola penyebaran memanjang ini terjadi di sepanjang/pinggiran jalan utama atau jalan penghubung. Pola ini terjadi ber-dasarkan pertimbangan kemudahan pencapaian, sehingga mempunyai kesempatan besar untuk mendapatkan konsumen. Jenis komoditi yang biasa diperdagangkan adalah sandang / pakaian, kelontong, jasa reparasi, buah-buahan, rokok/obat-obatan, dan lain-lain.
2.3.3. Pengendalian dan Pengaturan Pedagang Kaki Lima
Keberadaan PKL dapat memberikan keuntungan bagi semua pihak yang bersangkutan apabila PKL tersebut “dikendalikan” dalam suatu peraturan. Daripada berusaha untuk memberantas PKL, akan lebih baik jika membuat suatu peraturan sebagai kepastian untuk PKL sehingga dapat menjadi suatu potensi yang baik. Beberapa keuntungan dari PKL yang telah terkendali, yaitu:
a. Mengurangi pengangguran, PKL menjadi salah satu solusi pekerjaan bagi masyarakat berketerampilan rendah agar tetap mampu menampung beban ekonomi keluarganya.
b. Keramahtamahan PKL, keunikan dari gerobak , suasana terbuka, dan aktivitas yang ditimbulkan menciptakan suasana dengan karakter yang lebih hidup yang tidak dapat ditemukan di toko-toko lain.
c. Mengawasi keamanan di area berjualan serta memberikan petunjuk jalan bagi orang yang masi asing di daerah tersebut.
d. Membangkitkan aktivitas positif pada suatu daerah.
2.3.4. Studi Banding PKL : Free Market
Free market merupakan sebuah area yang dikhususkan untuk para petani menjual barang produksi mereka kepada konsumen secara langsung tanpa campur tangan pemerintah dalam perkembangan, pendistribusian, dan penetapan harganya. Sistem pengoperasiannya ditetapkan berdasarkan permintaan dan penawaran (supply and demand) dalam sektor pasar privat.
1. Jin Tai Road Free Market, Beijing
Sepanjang salah satu jalan utama Beijing di Distrik Chaoyang adalah Jin Tai Road Free Market, pasar yang terorganisir dengan rapi dan berkembang dengan baik. Kios-kios berbaris di sepanjang trotoar di salah satu sisi jalan (gambar 2.3). Terdapat 150 bilik stand untuk para penjual yang mayoritas merupakan pedagang kaki lima, bukan petani. Free market ini beroperasi setiap hari dari pagi hingga siang hari.
2. Hongdae Free Market di Seoul, Korea.
Beroperasi hanya setiap hari sabtu dari jam 13.00 – 18.00 pada bulan Maret sampai November. Berbeda dengan “fleamarket”yang menjual barang bekas, free market ini merupakan pasar yang penuh dengan karya seni seperti lukisan, kerajinan, dll. Hongdae Free market ini juga sudah merupakan salah satu tempat pariwisata di Korea (gambar 2.4).