Alasan Kedatangan
5.2. Segmen 2 : Jalan Bulan
5.2.1. Setting
Jalan Bulan atau yang sekarang disebut jalan Martinus Lubis memiliki lebar jalan 10 meter dan merupakan jalan dua arah. Jalan Bulan tidak dilengkapi dengan trotoar dan selokan (gambar 5.17). Beberapa elemen jalan dan fasilitas yang dapat ditemukan berupa lampu jalan setiap 30 meter, beberapa penghijauan, tempat sampah, dan toilet umum. Kondisi jalan Bulan masih bagus dan tidak berlubang hanya saja sering tergenang air saat hujan melanda. Jalan Bulan ini sebenarnya merupakan daerah permukiman yang 60% penduduknya juga membuka usaha di rumahnya seperti toko kelontong, toko beras, dll. (gambar 5.18)
Gambar 5.17. Potongan Jalan Bulan Sumber : Data primer diolah,2014
Penjual-penjual pada jalan Bulan umumnya hanya menggunakan ruang seluas ± 4 – 9 M², tidak seluas ruang yang dibutuhkan oleh penjual di jalan Sutomo dikarenakan kuantiti barang yang mereka jual berbeda. Para penjual memasang tenda mereka di badan jalan, dan sejajar satu sama lainnya, tidak ada yang berjualan di sempadan bangunan. Peralatan yang dibutuhkan oleh penjual di jalan Bulan juga berbeda dengan peralatan yang dibutuhkan oleh penjual di jalan Sutomo. Penjual - penjual di jalan Bulan membutuhkan kit berjualan seperti
Gambar 5.18. Setting fisik jalan Bulan Sumber : Data primer diolah,2014
meja dan tenda untuk menjajarkan barang mereka sehingga pembeli dapat dengan nyaman memilih sayur-mayur yang diperjualkan dan terhindar dari panas terik matahari (gambar 5.19) . Beberapa penjual yang sudah berjualan dari jam 5 pagi juga disediakan lampu oleh PD pasar yang dipasangkan di tenda mereka sebelum para penjual datang. Hanya saja, mereka harus membayar iuaran listrik sebesar Rp 5.000 – Rp 10.000 per harinya jika mereka membutuhkan lampu tersebut. Selain iuran listrik, para penjual juga harus membayar iuran PD Pasar yang termasuk didalamnya uang keamanan dan kebersihan, sama halnya dengan penjual-penjual di Jl. Sutomo.
Sama halnya dengan jalan Sutomo, pada jalan Bulan juga terdapat area-area favorit penjual di mana area-area tersebut selalu lebih ramai daripada area-area lainnya dan penjual di area tersebut berjualan lebih lama daripada penjual lainnya. Area tersebut juga merupakan persimpangan jalan, yaitu persimpangan jalan Bulan dengan jalan Veteran, dan persimpangan jalan Bulan dengan jalan Seram. (gambar 5.20). Kedua area ini dapat dikatakan sebagai area crowding pada jalan Bulan, apalagi pada jam-jam ramai pasar seperti jam 7 pagi.
Universitas
Gambar 5.20. Area crowding pada jalan Bulan Sumber : Data primer diolah,2014
5.2.2. Aktivitas
Aktivitas utama pada jalan Bulan adalah memperjual-belikan sayur mayur dan buah-buahan dalam jumlah yang lebih kecil (eceran). Dikarenakan kuantiti yang dijual berbeda dengan jalan Sutomo, maka aktivitas yang terjadi pun sedikit kurangnya berbeda. Pada jalan Sutomo dapat terlihat lebih banyak penjual daripada pembeli, sedangkan pada jalan Bulan terlihat lebih banyak pembeli daripada penjual. Pada jalan Sutomo, mayoritas dari penjualnya sudah memiliki pembeli tetap dan beberapa diantaranya memesan barang dagangannya melalui telepon dan penjual akan mengirimnya dengan becak barang, sehingga transaksi tatap muka pun tidak terjadi. Penjual dan pembeli di jalan Sutomo juga susah dibedakan dikarenakan pembelinya juga merupakan penjual eceran pada pasar lainnya. Hal yang berbeda terjadi di jalan Bulan dimana setiap pembeli yang datang melakukan tawar menawar dengan penjual, memilih sayur, menimbangnya, dan membayar untuk barang tersebut. Penjual dan pembeli pada jalan Bulan juga mudah dibedakan. (gambar 5.21)
Gambar 5.21. Perbedaan aktivitas di jalan Sutomo dan jalan Bulan Sumber : Data primer diolah,2014
Namun, aktivitas-aktivitas yang terjadi di jalan Bulan tersebut belum terakomodasi sepenuhnya oleh setting fisik jalan Bulan. Hal ini mengakibatkan para pedagang perlu membawa kit/peralatan berdagang mereka masing-masing seperti meja, tenda, kursi, dan timbangan. Namun, kit tesebut tidak akan dibawa pulang setiap harinya oleh pedagang, tetapi dititipkan kepada penduduk setempat atau hanya ditinggalkan di pinggir jalan.
Toko-toko pada Jl.Bulan, yang memiliki fungsi mix-used sebagai toko dan tempat tinggal, sudah beroperasi sekitar jam 3 - 4 dini hari pada waktu yang bersamaan dengan para PKL Jl.Bulan tersebut (gambar 5.22). Para PKL dan pemilik toko juga melakukan interaksi mutualisme yang saling menguntungkan seperti menitipkan kit jualan (kursi, timbangan, tenda, dll) kepada pemilik toko yang dibayar per bulannya. Selain itu, beberapa PKL juga menumpang kamar mandi kepada toko yang berada di sekitar tempat jualannya sehingga ia tidak perlu membayar Rp 1.000,- tiap kali menggunakan toilet umum di Pajak Bulan, yang letaknya juga cukup jauh. Dari jenis barang yang diperjual-belikan oleh para PKL dan toko pun saling terkait dan melengkapi. Barang yang dijual pada toko di Jl.Bulan merupakan bahan pokok kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak, sabun, dll. Di sisi lain, para PKL menjual sayur-mayur, buah-buahan, dan daging, sehingga seluruh kebutuhan pokok pengunjung dapat ditemukan di Pajak Bulan. Dengan begitu aktif dan vitalnya aktivitas-aktivitas yang terjadi di jalan Bulan, maka jalan Bulan dapat dikatakan sudah menjadi sebuah koridor komersil.
Sesuai dengan teori Sarwono (1992), terdapat dua jenis perilaku penyesuaian diri individu terhadap lingkungannya, yang pertama adalah mengubah tingkah laku agar sesuai dengan lingkungannya yang disebut dengan adaptasi dan yang kedua adalah mengubah lingkungan agar sesuai dengan tingkah lakunya yang disebut dengan adjustment. Pada Pajak Bulan, pengguna ruang (penjual,pembeli, dan penduduk) hanya melakukan penyesuaian adaptasi. Adaptasi dapat berupa tindakan langsung maupun penyesuaian mental. Beberapa wujud adaptasi pedagang yang berupa tindakan langsung, antara lain:
Membawa kit/peralatan berdagang yang tidak tersedia di Pajak Bulan, tindakan ini tidak merubah lingkungan karena peralatan tersebut berbentuk tidak permanen dan dapat dibongkar-pasang.
Lampu yang disimpan oleh PD Pasar dan kit dagang yang dititipkan kepada penduduk. Perilaku seperti ini menunjukkan adaptasi penjual terhadap keamanan setempat.
Gambar 5.22. Toko-toko mix-used pada Jl.Bulan
Tetap berjualan dikala hujan, para penjual yang tidak memiliki tenda mengaku hanya menggunakan jas hujan/ meminjam payung.
Pembeli yang menggunakan sepatu boot ke pasar. Perilaku ini merupakan wujud adaptasi pembeli terhadap keadaan pasar yang becek dan kotor.
Wujud adaptasi pengguna ruang yang berupa penyesuaian mental adalah masalah kebisingan dan kekotoran pasar. Sebuah pasar tetap saja tidak akan lepas dari kebisingan dan kekotoran, sehingga pengguna ruang hanya dapat menyesuaikan diri dengan keadaan tersebut dan secara bertahap akan terbiasa dengan lingkungannya.
Penjual-penjual pada jalan Bulan lebih sering melakukan interaksi dengan pembelinya daripada penjual di jalan Sutomo. Hal ini dikarenakan aktivitas ekonomi pada jalan Sutomo yang lebih kompleks dan sibuk sedangkan penjual pada jalan Bulan memiliki waktu yang panjang dan tatap muka yang lebih banyak dengan pembeli-pembelinya. Namun seluruh penjual pada Pajak Bulan memiliki hubungan sosial yang baik dan saling mengenal satu sama lainnya, hal ini sudah terbukti dari hasil kuisioner yang terlampir sebelumnya dalam gambar 5.7. – 5.10.
Person-centered mapping salah satu penjual pada Pajak Bulan dapat dilihat pada gambar 5.23. Pemetaan ini menggambarkan aktivitas seorang pedagang petai eceran yang datang ke pasar jam 4.30 WIB dengan becak barangnya. Penjual tersebut lalu membuka tenda dan mejanya, dan mulai menyusun sayur mayur dagangannya. Sambil mengupas petainya, beberapa
pembeli sudah mulai berdatangan. Pada jam 7 – 8 WIB merupakan puncak kesibukan dari penjual ini. Saat pasar sudah mulai menyepi, penjual pun mulai membereskan barangnya dan. Sekitaran jam 9.30, becak langganannya akan datang, penjual pun menaikkan sisa dagangannya, dan meninggalkan pasar tersebut. Urutan kegiatan seperti ini dilakukan setiap harinya oleh penjual tersebut.
Gambar 5.23. Person-centered Mapping seorang penjual di jalan Bulam.
Universitas
5.2.3. Waktu
Pemetaan perilaku berdasarkan placed-centered mapping pada segmen jalan Bulan ( gambar 5.24, 5.25, 5.26, dan 5.27 ) menggambarkan :
a. Pada durasi 00.00 – 02.00 WIB, aktivitas yang terekam pada jalan Bulan masih sangat minim, hanya beberapa penjual yang terlihat sudah mulai berjualan di ujung jalan Bulan.
b. Pada durasi 05.00 – 07.00 WIB, terlihat kepadatan pasar hampir merata di sepanjang jalan Bulan, tidak terlihat adanya pengelompkan pada area tertentu.
c. Durasi 05.00 – 07.00 WIB, merupakan waktu teramai dan pucak aktivitas dari pasar dibandingkan dengan durasi lainnya. Pembeli yang datang pun umumnya berjalan kaki untuk membeli sayur.
d. Pada durasi 05.00 – 07.00 WIB, tidak ditemukan mobil yang berlalu-lalang pada jalan Bulan ini, jalan ini seperti sudah dikhususkan sebagai pasar tradisional di pagi hari.
e. Pada durasi 10.00 – 12.00 WIB, penjual terkonsentrasi di area persimpangan jalan Veteran dan persimpangan jalan Seram, sisanya sudah mulai menyepi dan bahkan di ujung jalan sudah bersih dari penjual. f. Pada durasi 15.00 – 17.00 WIB, hanya terdapat segelintir penjual yang
masih duduk di bawah tenda. Jalan Bulan pun sudah terlihat lempang dan berfungsi kembali sebagai sirkulasi kendaraan.
Gambar 5.27. Pemetaan perilaku di Jl. Bulan pada durasi 15.00 – 17.00 Sumber : Data primer diolah,2014
BAB VI.