• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT SEBELUM DAN

4.1 Pengaruh Lokalisasi Terhadap Kehidupan Masyarakat

4.1.2 Pedagang

Para pedagang yang ada di desa Marihat Bukit pada umumnya beretnis Cina, mereka membuka warung besar seperti grosir, tetapi ada juga etnis lain, seperti Batak, Jawa, dan mereka ini membuka warung sampah (kelontong) karena modal yang tidak memadai. Penghasilan para pedagang ini cukup lumanyan, karena para buruh yang bekerja di perkebunan berbelanja di tempat tersebut, mengingat karena jarak desa ke kota cukup jauh, dan alat transportasi yang kurang memadai. Apalagi setelah adanya lokalisasi prostitusi, maka sejak tahun 1971 menunjukkan adanya peningkatan pendapatan para pedagang karena banyaknya para pengunjung yang datang ke desa tersebut.

Meningkatnya para pengunjung yang datang ke lokalisasi pelacuran ini, terlebih- lebih pada tahun 80-an menjadikan masyarakat semakin tertarik untuk berdagang di lokalisasi pelacuran. Hal ini merupakan peluang besar untuk

mendapatkan keuntungan bagi masyarakat dalam mencari uang di lokalisasi pelacuran tersebut.

Melihat kondisi yang demikian, masyarakat luar juga tertarik untuk datang ke dalam lokasi pelacuran tersebut untuk mecari uang. Para pedagang yang datang ketempat ini bukan hanya dari desa Marihat Bukit saja tetapi banyak juga yang datang dari luar daerah untuk menjajahkan barang dagangannya di tempat pelacuran tersebut. Barang yang di dagangkan seperti pakaian- pakaian, emas (perhiasan), makanan, rokok, dan lain sebagainya. Penghasilan yang mereka peroleh sangat menguntungkan. Ibu Tukiem menuturkan sebagai berikut :

“ saya sudah dari tahun 1979 berjualan nasi di tempat ini. Saya tinggal di desa selelah. Saya Cukup puas dengan penghasilan yang saya peroleh dari kompleks pelacuran ini karena dengan ini dapat menambahi penghasilan suami saya yang hanya seorang petani. Walaupun banyak omongan- omongan dari luar terhadap saya tentang pekerjaan ini, karena saya mencari uang di tempat kotor seperti ini. Tapi saya tidak peduli, karena ini demi membantu perekonomian keluarga saya. Toh, sampai sekarang saya masih mendapat uang di tempat ini30

.

Para pedagang yang datang ke dalam lokasi pelacuran tersebut mendapat keuntungan yang cukup lumayan. Walaupun terkadang sistem pembayaran yang dipakai mereka adalah utang. Setelah para pengguna lokalisasi ( pelacur, germo, pengunjung) mendapatkan penghasilan, barulah mereka membayarkan utang mereka kepada para pedagang.

Selain itu terlihat juga bahwa, kerukunan antara pedagang dengan para pelacur cukup baik. Para pedagang tidak merasa malu bekerja atau mencari nafkah di tempat tersebut. Mereka masa bodoh dengan omongan orang yang sering mencelah mereka, seperti mencari nafkah di tempat tersebut dianggap tidak halal.

Adanya lokalisasi prostitusi di desa ini, sangat berpengaruh terhadap pendapatan/ pengahasilan masyarakat setempat maupun masyarakat di luar desa tersebut. Sebagaian masyarakat juga dapat menggantungkan hidupnya di dalam kompleks pelacuran demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

4.1.3 Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat dimanapun berada, namun di desa ini terdapat tingkat pendidikan yang sangat rendah. Hal ini terlihat bahwa banyak terdapat anak- anak yang putus sekolah, bahkan SD saja tidak tamat. Disatu sisi karena faktor kemiskinan keluarga, kenakalan, dan kurangnya perhatian orang tua. Akan tetapi ada juga yang melanjutkan sekolah keluar karena minimnya fasilitas sekolah di desa Marihat Bukit.

Disamping karena faktor yang menyebabkan minimnya tingkat pendidikan, juga terpengaruh oleh berdirinya lokalisasi prostitusi di Marihat Bukit. Mereka tidak mau melanjutkan sekolah karena terpancing dengan mudahnya mencari uang di lokasi prostitusi tersebut. Ada yang memanfaatkan jasa sebagai tukang ojek bagi

anak laki- laki, anak perempuan sebagai tukang cuci, dan pengasuh anak. Karena mereka menganggap lokasi tersebut sebagai sumber penghasilan uang yang cepat.

Dengan adanya lokalisasi prostitusi tersebut cukup berpengaruh kepada masalah pendidikan anak di desa Marihat Bukit, tetapi dengan perkembangan teknologi dan dengan adanya program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah daerah dan masyarakat mencoba menanggulangi masalah ini. Sejak saat itu, pendidikan mulai berkembang dan banyak anak- anak yang sudah bersekolah.

4.1.4 Agama

Sejak zaman dahulu kala para pelacur selalu dikecam atau dikutuk oleh masyarakat, karena tingkah lakunya yang tidak susila, dan dianggap mengotori sakralitas hubungan seks31

Pada tahun 1968 sejak awal berdiri lokalisasi terjadi pertikaian diantara masyarakat, ada masyarakat yang pro (setuju) dan kontra (tidak setuju) terhadap . Mereka disebut sebagai orang- orang yang melanggar norma moral, adat, dan agama.

Masyarakat desa Marihat Bukit merupakan masyarakat yang beragama dan mempunyai adat istiadat yang cukup baik. Walaupun terdapat agama yang berbeda- beda tetapi hubungan solidaritas antar umat beragama terjalin dengan baik.

kegiatan pelacuran32

32

Wawancara, dengan Bapak Mardiansyah, Marihat Bukit, tanggal 26 Agustus 2007. . Dari warung remang- remang sampai perkembangannya menjadi lokalisasi prostitusi yang berada di sekitar desa tersebut membuat masyarakat menjadi semakin resah dan ketakutan. Hal ini takut akan berpengaruh terhadap masyarakat setempat, yang juga sangat bertentangan baik dalam agama maupun adat- istiadat.

Dalam agama, baik ditinjau dari Alqur’an maupun injil sangat bertentangan, sebagaimana yang dinyatakan dalam Alqur’an surat Al Isra ayat 32, menyebutkan :

“Dan janganlah kamu sekali- kali melakukan perzinahan, sesungguhnya perzinahan itu merupakan suatu perbuatan yang keji, tidak sopan dan jalan yang buruk”.

Sebab perzinahan yaitu persetubuhan antara laki- laki dan perempuan diluar perkawinan itu melanggar kesopanan, merusak keturunan dan, menyebabkan penyakit kotor, menimbulkan persengketaan, ketidakrukunan dalam keluarga, dan malapetaka lainnya.

Dalam buku injil Tuhan berfirman dalam kitab keluaran 20: 14 dan hukum taurat yaitu hukum yang ketujuh yang berbunyi: “ Jangan kamu berbuat jinah”.

Pelacuran merupakan salah satu perjinahan, perjinahan yang dimaksudkan dalam hal ini merupakan persebadanan atau persetubuhan di luar norma- norma pernikahan dan penyimpangan dari norma- norma susila dalam masyarakat.

Tuhan menganuhgrahkan tubuh ini kepada kita untuk tidak disalah gunakan. Kita harus mempergunakan tubuh ini sesuai dengan kehendaknya. Jadi persetubuan yang dilakukan oleh pelacur dengan langganannya adalah suatu dosa terhadap Tuhan.

Dalam Alkitab tibuh kita ini disebut Rumah Roh Kudus. Jadi kalau kita melacur berarti telah mengotori Rumah Roh Kudus. Kita telah berbuat dosa terhadap diri sendiri dan melah merusak anugrah Tuhan yaitu diri sendiri.

“ larilah dari pada zinah! Maka tiap- tiap dosa lain yang dilakukan orang, yaitu dari luar tubuh itu, tetapi orang yang sundal itu, yaitu berdosa kepada diri sendiri. Atau tidakkah kamu mengetahui bahwa tubuhmu itu adalah Rumah Rohu’lkudus yang diam didalam tubuhmu itu yang telah kamu peroleh dari Allah dan bukan kamu bukan milikmu sendiri”( Alkitab 1 Korintus 6 : 18-19, 1963: 226).

Dalam 1 tesalonika 4 : 3 dan 5 Allah berfirman agar kita wajiblah menjauhkan diri dari pada zinah orang- orang yang menurutkan hawa nafsunyya itu adalah orang kafir.

“ Sebab itu wajiblah kamu menjauhkan dirimu dari pada zinah. Bukannya di dalam keinginan hawa nafsu, seperti orang kafir yang tiada mengenal Allah”. ( Alkitab, 1963 : 275)

Dalam 1 korintus 6 : 9- 10 Allah berfirman bahwa orang- orang yang berbuat jinah tidak akan menjadi kerjaan Allah.

Dari kutipan tersebut jelaslah bahwa orang- orang yang melacur itu baik wanita, atau pria sangat bertentangan dengan agama. Perbuatan pelacuran adalah suatu dosa, dosa kepada Allah, dosa kepada diri sendiri, dan dosa sesama manusia.

Dosa terhadap Allah karena bertentangan dengan kehendakNya yaitu firman Tuhan yang berbunyi : Janganlah kamu berbuat zinah. Pelacuran adalah salah satu proses perzinahan.

Dosa terhadap diri sendiri. Dalam alkitab tubuh ini disebut Rumah Rohul kudus. Barang siapa yang melacur, berarti berbuat dosa terhadap diri sendiri dan merusak anugerah Tuhan.

Dosa terhadap sesama manusia. Barang siapa berjinah, lupalah ia bahwa persetubuhan itu mengenai seluruh pribadi sesama bersetubuh. Barang siapa menghampiri seorang pelacur, iapun hanya mencari tubuh pelacur dan merusak pribadi atau jiwa pelacur itu. Pelacuran adalah suatu penghinaan yang kasar terhadap sesama manusia. Di dalam seseorang itu seorang manusia dipakai oleh sesamanya untuk memuaskan keinginan yang egoistis.

Si pemakai pelacur memandang si pelacur bukan manusia, tetapi sebagai bahan nikmat, yang hidup. Sungguhpun ia mengadakan hubungan seksuil, namun bukanlah merupakan suatu persekutuan, dalam arti dalam. Pergaulan dengan laki- laki dan seorang pelacur hanya yang bersifat kekelaminan semata- mata. Si lelaki hanya mencari tempat penggunaan alat kelaminnya, sedangkan si pelacur tidak

menyerahkan prribadinya kepada langganannya tetapi hanya alat kelaminnya. Jadi pelacuran harus diberantas karena merupakan perbuatan dosa.

4.2 Pengaruh Lokalisasi Prostitusi Terhadap Perubahan Ekonomi Sosial dan

Dokumen terkait