Ganti Urai di penghujung tahun 1951.
B
tong hanya Rp. 500, setelah dipotong ongkos becak dan makan mie keliling, uang tinggal Rp. 400, sedangkan biaya persalinan untuk kelas I sekitar Rp. 2.100, “ ujar Bachtiar mengenang masa prihatin saat itu. Pernah juga suatu ketika karena rajin mengisi Teka Teki Silang (TTS) di majalah, ia mendapat hadiah yang dikirim melalui wesel pos, yang kalau tidak salah ingat ia mendapatkan hadiah uang sebesar Rp. 500. Pulang dari mengambil wesel di Kantor Pos langsung saja Bachtiar membeli beras dan susu untuk anaknya. Walaupun hidup keras dan penuh tantangan, Alhamdulillah dengan ketabahan dan keikhlasan mereka bisa membina keluarga dengan baik, yang Insya Allah menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh Rahmah.
Menyusul kelahiran anak ketiga yang semula diperkirakan laki-laki ternyata masih harus ’membelikan anting’ lagi karena yang lahir sebagai anak ketiganya, bayi perempuan lagi dan diberi nama Rini Fitrianti, yang lahir menjelang hari Fitri di penghujung bulan puasa.
Setelah mengabdikan diri pada Kinsp Dumai kurang lebih 6,5 tahun, lalu Bachtiar dipindahkan ke Kantor Wilayah (Kanwil) Bea dan Cukai I di Belawan sebagai pemeriksa.
Sebagai pegawai baru atau pindahan, Bachtiar ditempatkan di Tim Penyelesaian Pos Pemberitahuan Umum (PU) Terbuka. Berkat kerja sama dan kemauan kerja serta bimbingan dari seniornya, selama kurang lebih 4 bulan dapat menyelesaikan administrasi PU Terbuka untuk tahun 1976-1982, sampai ke proses lelang. Selama kurang lebih 4 tahun Bachtiar bertugas di Seksi PU yang setiap harinya berkutat dengan permasalahan PU, menghimpun semua aturan-aturan serta mempelajarinya yang akhirnya menjadikan Bachtiar semacam “kon-sultan” tidak resmi.
“Pukulan telak kami rasakan pada waktu keluarnya INPRES IV/85, dimana DJBC dianggap sebagai institusi yang disfunction dan korup. Rasanya tidak tahu lagi muka mau ditaruh dimana,” imbuh Bachtiar. Namun, lanjutnya, dalam kondisi seperti itu kita tidak boleh larut dalam kesedihan dan kegundahan. Kita harus bangkit dan kita harus bisa. Berkat kesungguhan seluruh pimpinan dan aparat Bea Cukai, akhirnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) mampu meyakin-kan pemerintah, bahwa DJBC sudah berubah. Di era itu pulalah putra-putri terbaik DJBC mampu melahirkan UU tentang Kepabeanan dan Cukai yang merupakan titik balik kebangkitan kembali DJBC. Oleh ka-rena itu, kita jangan sampai terperosok dua kali pada lubang yang sama. Sebagai akibat dari Inpres IV, maka struktur kantor berubah dengan dibentuknya Kantor Pelayanan Bea dan Cukai dan Kantor Wilayah tidak lagi sebagai kantor operasional. “Kebetulan saya diangkat seba-gai Kasubsi Hanggar pada KPBC Belawan. Nah, di Medan-lah tepat-nya tahun 1989 lahir seorang putra yang didambakan setelah usia ka-kaknya 8 tahun yang diberi nama Muhammad Rizki Nugraha dan saat ini sudah duduk di semester II Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta,” imbuh Bachtiar yang selama bertugas di Belawan melanjut-kan pendidimelanjut-kan pada Fakultas Ekonomi UISU dan selesai tahun 1988.
Seiring bergulirnya waktu, tahun 1990 awal ia dimutasikan ke KPBC Makassar pada jabatan yang sama. Terus terang, ia merasa sedih sekali, karena selama masa kerja kurang lebih 17 tahun belum pernah bertugas di Pulau Jawa bahkan dari Sumatera langsung ke Sulawesi. Namun demikian, karena merupakan panggilan tugas, ia
laksanakan tugas itu dengan memboyong seluruh keluarga ke Makassar (ketika itu bernama Ujung Pandang).
Nasib menentukan lain lagi, hanya setahun di Makassar, Bachtiar kemudian dimutasikan ke KPBC Tanjung Priok II sebagai Pejabat Fungsional Pemeriksa Barang (PFPB) yang ketika itu baru saja dimu-lai Customs Fast Release System (CFRS). Setelah bertugas tiga ta-hun di Tanjung Priok, kemudian dimutasikan sekaligus promosi seba-gai Kepala Seksi Aneka Tambang Direktorat Pabean (Kantor Pusat). Di sini ia tertempa lagi untuk meningkatkan kemampuan manajerial, koordinasi dan penyiapan rumusan kebijakan selama kurang lebih tujuh tahun yang akhirnya menghantarkannya untuk promosi eselon III sebagai Kepala Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Balikpapan.
SEMANGAT BELAJAR TIDAK DITENTUKAN USIA
Ketika bertugas di Kantor Pusat DJBC, selain disibukkan dengan tugas-tugas rutin, Bachtiar juga sering ditugaskan ke luar negeri, seperti Singapura, Jepang, Korea dan Kanada. Bahasa rupanya kunci utama untuk berkomunikasi. Mengingat kemampuan bahasa
Inggrisnya yang diakuinya sangat cetek, Bachtiar kembali mencoba belajar dengan mengambil kursus untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris.
“Kursus bahasa Inggris beberapa kali saya ikuti antara lain di LIA, BBC dan yang agak lama di ILP. Kebetulan waktu itu anak nomor dua kursus di tempat yang sama, tapi sudah Level Intermediate 3, sedangkan saya pada Basic I tapi itu justru membuat saya semangat untuk berusaha bisa berbahasa Inggris,” ujarnya.
Memang bisa dikatakan, Bachtiar adalah orang yang tidak pernah berhenti untuk mengasah ilmu baik ilmu umum maupun tentang agama yang dianutnya (Islam) serta filosofi kehidupan dari berbagai sumber. Itu semua ia jalankan karena dirinya banyak menerapkan falsafah dan filosofi yang sekiranya memberikan kebaikan bagi dirinya. “Salah satu topik dalam Buku The Seven Habits adalah asah gergaji atau asah parang. Itulah salah satu pendorong saya untuk selalu menggunakan waktu luang untuk belajar dan belajar lagi,” ujar Bach-tiar yang menerapkan bermacam filosofi dalam hidupya.
Ia bercerita, tentang salah satu filosofinya yaitu asah gergaji atau asah parang. Suatu ketika dua orang pencari kayu pergi ke hutan. Pencari kayu yang kesatu terus menggergaji kayu dari pagi sampai sore tanpa beristirahat. Sebaliknya pencari kayu kedua setiap dua jam sekali berhenti menggergaji. Dan itu dilakukan berulang-ulang hingga hari menjelang sore. Setelah sore hari berhentilah dua orang tadi menggergaji kayu. Diluar dugaan ternyata hasil gergajian kayu lebih banyak diperoleh pencari kayu kedua dibandingkan yang kesatu.
“ Jadi makna dibalik cerita itu, bila pencari kayu kedua yang setiap dua jam sekali berhenti untuk beristirahat (recovery) karena memang kemampuan manusia untuk bekerja menggergaji kayu selama dua jam adalah mencapai puncaknya, sudah lelah dan harus istirahat, nah disitulah ia sambil mengasah parangnya supaya tajam kembali untuk menggergaji kayu. Sebaliknya pen-cari kayu ke satu karena tidak ada istirahatnya, akibatnya parang menjadi majal (tumpul) karena dipakai terus menerus dan hasil yang dicapai pun hanya sedikit,” imbuh Bachtiar. KELUARGA BESAR BACHTIAR. Dalam acara resepsi pernikahan putri ketiganya.
KETIKA MENJADI KAKANWIL XIII DJBC BANDA ACEH. Saat memperingati 2 tahun bencana tsunami di Aceh.
P R O F I L
Dalam kehidupan kita sehari-hari jika sedang sepi tidak ada kerjaan dan ada waktu luang maka kita asah ’parang’ kita ini dengan belajar dan membaca peraturan, sehingga kapanpun kita mendapat tugas atau pekerjaan, maka kita sudah siap. Karena petuah orang-orang tua bahwa kesempatan datang hanya satu kali, maka rebutlah kesempatan itu pada waktu dia datang dan anda sudah siap,” demikian Bachtiar menguraikan makna cerita tadi, disamping masih banyak falsafah yang ia terapkan selama ini.
Hal itu pula, lanjut Bachtiar sejalan dengan Hadits Rasulullah SAW, yakni : Utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi yang artinya ‘Tuntutlah ilmu, sejak dari ayunan sampai liang lahat”. Di dorong oleh hadits tersebut, ia merasa tidak kenal istilah sudah tua dalam menuntut ilmu, ini terbukti pada tahun 1998 dapat menyelesaikan S2 pada FISIP UI Bidang Kekhususan Kebijakan Publik.