• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

STTDG RWAPS (*)

G. Teknik Analisis data

2) Pedoman Analisis Realisasi Tindak Tutur Direktif Guru

Istilah realisasi tindak tutur direktif guru ini mengacu pada tipe (Flor, 2005) atau strategi Brasdefer (2007) yang terdiri atas tindak tutur langsung atau direct dan tindak tutur tidak langsung atau indirect. Untuk menentukan masing-masing realisasi tindak tutur direktif tersebut digunakan indikator sebagai berikut.

Sumarti, 2015

STRATEGI TIND AK TUTUR D IREKTIF GURU DAN RESPONS WARNA AFEKTIF SISWA Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

Pada dasarnya, tindak tutur direktif merupakan tuturan yang mengandung maksud tertentu dari penutur kepada mitra tutur agar melakukan maksud tersebut. Tindak tutur dengan penanda verba ini dalam realisasinya termasuk dalam tuturan langsung. Padahal, tuturan direktif pun dapat direalisasikan secara tidak langsung. Adapun pedoman analisis realisasi tindak tutur direktif secara garis besar dituliskan dalam tabel pedoman analisis penelitian berikut ini.

Tabel 3.3

Pedoman Analisis Realisasi Tindak Tutur Direktif Guru dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP

Aspek Indikator 1. Realisasi tindak tutur direktif 1.1 Tindak Tutur Langsung

Tindak tutur yang digunakan penutur untuk menyuruh mitra tutur melakukan sesuatu, meliputi menyuruh, meminta, melarang, menyarankan, menanya, dan sebagainya.

1.2 Tindak

Tutur Tidak Langsung

a. Form dan content atau lokusi dan ilokusi tidak sama (= struktur dan fungsi komunikasi memiliki hubungan tidak langsung)

b. Form dan content atau lokusi dan ilokusi tidak sama disertai dengan isyarat, seperti mimik dan gesture (= struktur dan fungsi komunikasi memiliki hubungan tidak langsung)

Selanjutnya, data dari penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik analisis heuristik. Teknik analisis heuristik merupakan proses berpikir seseorang untuk memaknai sebuah tuturan tidak langsung. Di dalam tuturan heuristik sebuah tuturan tidak langsung diinterprestasikan berdasarkan berbagai kemungkinan/dugaan sementara, kemudian dugaan sementara itu disesuaikan dengan fakta-fakta pendukung yang ada dilapangan. Analisis heuristik berusaha mengidentifikasi daya pragmatik sebuah tuturan dengan merumuskan hipotesis-hipotesis dan kemudian mengujinya berdasarkan data-data yang tersedia. Bila

Sumarti, 2015

STRATEGI TIND AK TUTUR D IREKTIF GURU DAN RESPONS WARNA AFEKTIF SISWA Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

hipotesis tidak teruji, akan dibuat hipotesis yang baru. Hipotesis yang dimaksud dalam penelitian ini adalah praanggapan/dugaan sementara. Berikut disajikan bagan analisis heuristik menurut Leech (1983:41).

1. Masalah 2. Hipotesis 3. Pemeriksaan 4. Interpretasi

Pengujian berhasil

(interpretasi default)

Pengujian gagal

Bagan 3.2 Bagan Analisis Heuristik Leech (1983: 41)

Menurut Leech di dalam analisis heuristik analisis berawal dari problema yang di lengkapi proposisi, informasi latar belakang konteks, kemudian dirumuskan hipotesis tujuan. Berdasarkan data yang ada, hipotesis diuji kebenarannya. Bila hipotesis sesuai dengan bukti-bukti kontekstual yang tersedia, berarti pengujian berhasil. Hipotesis diterima kebenarannya dan menghasilkan interprestasi baku yang menunjukkan bahwa tuturan mengandung satuan pragmatik. Jika pengujian gagal maka terjadi karena hipotesis tidak sesuai dengan bukti yang tersedia. Proses pengujian ini dapat berulang-ulang sampai diperoleh hipotesis yang dapat diterima.

Analisis heuristik berusaha mengidentifikasi daya pragmatik sebuah tuturan dengan merukuskan hipotesi-hipotesis kemudian mengujinya berdasarkan data-data konteks yang tersedia. Bila hipotesis tidak teruji akan dibuat hipotesis yang baru. Hipotesis yang dimaksud adalah praanggapan. Berikut disajikan contoh analisis heuristik berdasarkan pandangan Leech (1983).

Sumarti, 2015

STRATEGI TIND AK TUTUR D IREKTIF GURU DAN RESPONS WARNA AFEKTIF SISWA Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

1. Problem (Interpretasi tuturan)

“Aduh..apa ini…istirahat nanti temui Ibu di kantor ya!” (Guru bertutur pada siswa yang telihat kuku tangannya panjang. Ini

baru diketahuinya ketika berkeliling memantau siswa mengerjakan tugas. Beberapa siswa mendekatinya untuk bertanya, saat itulah sang

guru melihat ada dua siswa laki-laki yang kuku tangannya panjang)

2. Hipotesis

(a) Guru tersebut meminta siswanya untuk ke kantor. (b) Guru tersebut kaget melihat tangan siswanya kotor. (c) Guru tersebut marah melihat kuku tangan siswanya panjang. (d) Guru tersebut memerintah siswanya untuk memotong kuku.

3. Pemeriksaan

(a) Guru tersebut kesal ketika melihat kuku tangan siswanya panjang

(b) Guru tersebut ingin memotong kuku tangan siswanya yang panjang tersebut di kantor

(c) Guru tersebut memerintahkan siswa yang kukunya panjang tersebut agar segera dipotong kalau tidak ia yang akan memotongnya nanti di kantor

Sumarti, 2015

STRATEGI TIND AK TUTUR D IREKTIF GURU DAN RESPONS WARNA AFEKTIF SISWA Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu

4a. Pengujisn Berhasil 4.b Pengujian Gagal

5. Interpretasi Default

Bagan 3.3 Contoh Analisis Heuristik

3) Pedoman Analisis Kesantunan Berbahasa

Untuk menganalisasi kesantunan berbahasa ini digunakan parameter Brown dan Levinson (1987) dengan pertimbangan bahwa (1) konteks peristiwa tutur adalah situasi formal sehingga tidak perlu adanya basa-basi, (2) perspektif individu dalam parameter Brown dan Levonson sesuai untuk melihat aspek D dan P pada konteks pembelajaran di kelas antara guru sebagai penutur dan siswa sebagai mitra tutur. Adapun strategi kesantunan berbahasa menurut pandangan ini meliputi kesantunan positif dan kesantunan negatif yang diuraikan berikut ini.

1. Strategi Kesantunan Positif a. memberi perhatian (notice);

b. melebihkan dalam memberikan komentar atau pujian (exaggerate);

c. menegaskan (intensify);

d. menggunakan penanda sebagai anggota kelompok yang sama (use in-group identity markers);

e.mengupayakan kesepakatan (seek agreement); f. menghindari perbedaan pendapat (avoid disagreement);

g.mengisyaratkan kesamaan pandangan (presuppose common ground);

h. menggunakan lelucon (joke);

i.menampilkan pengetahuan penutur dan mempertimbangkan keinginan petutur (assert S‟knowledge and concern for H‟s wants);

Sumarti, 2015

STRATEGI TIND AK TUTUR D IREKTIF GURU DAN RESPONS WARNA AFEKTIF SISWA Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu| perpustakaan.upi.edu 2. Strategi Kesantunan Negatif

j. menawarkan, berjanji (offer, promise); k. bersikap optimis (be optimistic); l. menyertakan penutur dan petutur dalam kegiatan (include both S and H in the activity); m. memberi atau meminta alasan (give reasons); n. menerima atau menampilkan sikap timbal balik atau saling (assume or assert reciprocity); o.memberi hadiah kepada petutur (give gifts to H).

a. menggunakan ujaran tidak langsung (be conventionally indirect);

b. pertanyaan kalimat berpagar (question, hedge); c.bersikap pesimis (be essimistic);

d. meminimalkan tekanan (minimize imposition); e. memberikan penghormatan (give deference); f. meminta maaf (apologize);

g. menghindarkan penggunaan kata „saya‟ dan „kamu‟ (impersonalize S and H: avoid the pronouns „I‟ and „You‟);

h. menyatakan tindakan pengancaman muka sebagai aturan yang bersifat umum (state the

FTA as a general rule); i. nominalisasi (nominalize);

j. menyatakan terus terang penutur berhutang budi kepada petutur (go on records).

Dokumen terkait