BAB III METODE PENELITIAN
3.6 Instrumen Penelitian
3.6.1 Pedoman Observasi
3.6 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas hasil penelitian. Margono (dalam Zuriah, 2006:168) menyatakan bahwa pada umumnya penelitian akan berhasil dengan baik apabila menggunakan banyak instrumen agar menghasilkan data empiris sebagaimana mestinya.
Penelitian ini menggunakan instrumen yang berupa pedoman wawancara, lembar pedoman observasi dan blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik . Untuk memudahkan peneliti saat terjun ke lapangan, sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti perlu membuat instrumen penelitian sebagai berikut:
3.6.1 Pedoman Observasi
Peneliti melakukan observasi di kelas I SD N 2 Sambi pada saat siswa sedang mengikuti pelajaran olahraga roll depan. Aspek yang diamati oleh peneliti adalah kecemasan aspek fisik siswa kelas I SD N 2 Sambi ketika mengikuti pelajaran olahraga roll depan. Kisi-kisi yang diobservasi peneliti dipaparkan pada tabel 3.2 dibawah ini:
Tabel 3.2 Kisi-kisi Observasi Pelajaran Olahraga Roll Depan
No Item Kisi-Kisi Observasi Objek yang Diamati
1 Anggota tubuh bergetar Tangan siswa banyak gerak ketika mempraktikkan gerakan olahraga roll depan
2 Anggota tubuh dingin Tangan siswa merasa dingin ketika
mempraktikkan gerakan olahraga roll depan
3 Badan berkeringat Baju siswa banyak keringat ketika
mempraktikkan gerakan olahraga roll depan
4 Sulit berbicara Siswa diam/tidak menjawab ketika guru
memberikan pertanyaan
5 Wajah memerah Siswa malu ketika tidak dapat mempraktikkan gerakan olahraga roll depan dengan baik
37 3.6.2 Pedoman Wawancara
Wawancara ditujukan kepada narasumber yaitu guru olahraga SD N 2 Sambi dilakukan oleh peneliti bertujuan untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan skala kecemasan aspek fisik. Wawancara ini berfokus pada sikap yang ditunjukkan oleh siswa kelas I SD N 2 Sambi selama melakukan aktivitas fisik.
3.6.2.1 Wawancara Guru Olahraga SD N 2 Sambi
Pengumpulan data melalui wawancara yang kedua ditujukan kepada guru olahraga. Hal tersebut dilakukan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan kebutuhan guru atas skala serta usaha yang dilakukan guru untuk mengetahui kecemasan yang ditimbulkan pada siswa. Jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak terstruktur. Berikut ini merupakan rencana wawancara dengan guru olahraga SD N 2 Sambi yang dapat dilihat pada tabel 3.3.
Tabel 3.3 Rencana Wawancara dengan Guru olahraga SD N 2 Sambi
No Topik Pertanyaan
1. Apakah guru mengetahui tentang kecemasan?
2. Apakah siswa aktif dalam pelajaran olahraga roll depan?
3. Apakah siswa merasa takut untuk mengikuti pelajaran olahraga roll depan?
4. Apakah siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran olahraga roll depan?
5. Apakah siswa merasa khawatir apabila tidak dapat melakukan apa yang diperintah oleh guru?
3.6.3 Blue-print Penyusunan Skala Kecemasan Aspek Fisik Kelas I Sekolah Dasar
Blue-print skala ditampilkan dalam bentuk tabel yang memuat tentang uraian komponen-komponen yang harus disusun menjadi pernyataan, proporsi pernyataan dalam setiap komponen, dan dalam kasus yang lebih lengkap sebuah blue-print memuat indikator-indikator perilaku dalam setiap komponen (Azwar,
38 2009:23). Peneliti menyusun blue-print dalam dua bentuk yaitu dalam bentuk angka dan dalam bentuk kalimat pernyataan. Blue-print dalam bentuk angka dapat dilihat dalam tabel 3.4 sedangkan blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik yang disusun dalam bentuk kalimat pernyataan dapat dilihat dalam tabel 3.5
Peneliti menyusun kuesioner validasi produk yang diisi oleh ahli psikologi, ahli bahasa, guru kelas I SD N 2 Sambi dan guru PJOK SD N 2 Sambi. Blue-printdalam bentuk angka dapat dilihat dalam tabel 3.4 sedangkan blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik yang disusun dalam bentuk kalimat pernyataan dapat dilihat dalam tabel 3.5
Tabel 3. 4 Blue-print Penyusunan Skala Kecemasan Aspek Fisik Kelas I Sekolah Dasar dalam Bentuk Angka
Aspek No Indikator Item Jumlah Bobot
39 Tabel 3.5 Blue Print Skala Kecemasan Aspek Fisik
Kelas I Sekolah Dasar dalam Bentuk Kalimat Pernyataan
Aspek Indikator
Badan saya tetap tenang ketika mengikuti pelajaran olahraga roll
Saya tetap santai saat mengikuti pelajaran olahraga roll depan
Materi olahraga roll depan tidak membuat badan saya berkeringat
Saya tenang ketika mengikuti pelajaran olahraga roll depan
Pelajaran olahraga roll depan dapat saya ikuti dengan baik
Saya sering ingin buang air kecil ketika mengikuti pelajaran olahraga roll depan
-
Wajah memerah Saya malu ketika tidak dapat menjawab pertanyaan dari guru
Saya percaya diri ketika dapat menjawab pertanyaan dari guru
40 Blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar yang termuat dalam tabel 3.4 dan tabel 3.5 dijadikan pedoman dalam pengembangan produk skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar. Produk yang akan dikembangkan oleh peneliti divalidasi oleh ahli psikologi, ahli bahasa, guru kelas I SD N 2 Sambi dan guru olahraga SD N 2 Sambi.
3.6.4 Validitas dan Reliabilitas 3.6.4.1 Validitas
Suatu instrumen penilaian dikatakan valid apabila instrumen yang digunakan dapat mengukur apa yang hendak diukur (Sukardi, 2008:31). Arikunto (2008:65) mengatakan bahwa ada dua macam validitas yang dapat dicapai oleh sebuah instrumen, yaitu: validitas isi dan validitas konstruk yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Validitas Isi
Instrumen berbentuk non tes harus memiliki validitas isi. Pengujian validitas isi dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara indikator dengan instrumen yang akan dikembangkan. Instrumen dinyatakan valid jika pernyataan yang terdapat di dalam instrumen tersebut sesuai dengan indikator (Widoyoko, 2015:142). Komponen validasi produk dapat dilihat pada tabel 3.6.
41 Tabel 3.6 Komponen Validasi Produk Skala Kecemasan Aspek Fisik
Kelas I Sekolah Dasar
No Komponen Penilaian Skor Catatan
1. Tampilan sampul terlihat menarik. 1 2 3 4 2. Terdapat petunjuk pengerjaan yang jelas
tentang cara pengisian skala.
1 2 3 4
3. Pernyataan pada skala sesuai dengan kisi-kisi atau blue-print penyusunan skala.
1 2 3 4
4. Pernyataan dapat menggali keadaan siswa.
1 2 3 4
5. Ukuran dan jenis huruf pada skala mudah dibaca oleh siswa. 11. Ketepatan penggunaan bahasa
berdasarkan EYD.
1 2 3 4
Para ahli dan guru memberikan penilaian dengan cara melingkari pada skor 1,2,3,atau 4 untuk setiap masing-masing komponen menurut pendapat para ahli dan guru. Hasil penilaian yang diberikan kemudian dihitung dan dianalisis oleh peneliti. Hasil analisis yang didapatkan oleh peneliti dijadikan pedoman untuk melakukan revisi.
Produk yang telah disusun oleh peneliti juga dinilai oleh siswa kelas I SD N 2 Sambi dengan cara mengisi lembar kuesioner tanggapan produk. Lembar tanggapan produk oleh siswa dapat dilihat pada tabel 3.7.
42 Tabel 3.7 Komponen Lembar Tanggapan Produk oleh
Siswa Kelas I SD N 2 Sambi
No Komponen Penilaian Skor Catatan
1. Tampilan sampul terlihat menarik. 1 2 3 4 2. Terdapat petunjuk pengerjaan yang jelas
tentang cara pengisian skala.
1 2 3 4
3.
Saya dapat menjawab pertanyaan sesuai dengan keadaan yang saya alami.
1 2 3 4
Validitas konstruk memiliki arti bahwa suatu alat ukur dikatakan valid apabila cocok dengan teori variabel yang diukur. Teori tentang sebuah variabel tersebut kemudian dirumuskan menjadi definisi operasional selanjutnya digunakan untuk menentukan indikator yang akan diukur. Indikator tersebut kemudian dijabarkan menjadi instrumen yang berupa pernyataan maupun pertanyaan (Widoyoko, 2015:145).
Berdasarkan uraian di atas, peneliti dalam penelitian ini menggunakan validitas isi dan konstruk, dimana peneliti menyusun sebuah instrumen yang berupa skala kecemasan aspek fisik sesuai dengan indikator kecemasan yang diungkapkan oleh Nevid (2005) dan menguji valid tidaknya pernyataan dalam skala yang telah diisi oleh siswa. Para ahli dan guru melakukan validasi dengan cara mengisi lembar kuesioner validasi.
43 3.6.4.2 Reliabilitas
Reliabilitas merupakan konsistensi dari serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur (Uno, 2010:141). Pengertian reliabilitas juga diungkapkan oleh Yusuf (2014:242) bahwa reliabilitas merupakan konsistensi atau kestabilan skor suatu instrumen penelitian terhadap individu yang sama, dan diberikan dalam waktu yang berbeda. Widoyoko (2015:157) menyatakan bahwa suatu instrumen dikatakan dapat dipercaya (reliable) jika instrumen tersebut memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali. Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa reliabilitas merupakan konsistensi atau kestabilan skor sebuah instrumen apabila instrumen tersebut dites berkali-kali kepada individu dan hasilnya dapat dipercaya. Pada penelitian ini peneliti tidak menghitung reliabilitas instrumen kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar.
3.7 Teknik Analisis Data
Sugiyono (2015:207) mengemukakan bahwa analisis data merupakan kegiatan untuk mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah, dan melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan, tetapi untuk penelitian yang tidak memerlukan rumusan hipotesis, maka langkah terakhir tidak perlu dilakukan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian meliputi analisis data kuantitatif dan analisis data kualitatif. Data kuantitatif adalah data yang berwujud angka-angka sebagai hasil dari pengukuran (Widoyoko, 2015: 21).
44 3.7.1 Analisis Data Kuantitatif
Pada penelitian ini, analisis data kuantitatif dilakukan pada hasil validasi produk oleh ahli dan kuesioner tanggapan produk oleh siswa. Analisis data dilakukan dengan menggunakan skala Likert model empat pilihan jawaban. Setiap skala memiliki kriteria yang berbeda-beda dalam pedoman penilaiannya. Kriteria yang terdapat dalam skala disesuaikan dengan instrumen yang akan dinilai. Skala dan kriteria untuk pedoman penilaian pada instrumen validasi produk dapat dilihat pada tabel 3.8.
Tabel 3. 8 Skala dan Kriteria Pedoman Penilaian Instrumen Validasi Produk Skala Kecemasan Aspek Fisik Kelas I Sekolah Dasar
Skala Kriteria
4 Skala kecemasan layak digunakan tanpa perbaikan 3 Skala kecemasan layak digunakan dengan perbaikan 2 Skala kecemasan kurang layak digunakan dan perlu perbaikan
1 Skala tidak layak digunakan
Skala dan kriteria untuk pedoman penilaian pada instrumen tanggapan produk oleh siswa dapat dilihat pada tabel 3.9.
Tabel 3. 9 Skala dan Kriteria Pedoman Penilaian pada Instrumen Tanggapan Produk oleh Siswa Kelas I Sekolah Dasar
Skala Kriteria
4 Sangat baik (instrumen sudah layak digunakan tanpa diperbaiki) 3 Baik (instrumen sudah layak digunakan namun perlu diperbaiki) 2 Cukup (instrumen kurang layak digunakan dan perlu diperbaiki)
1 Kurang (instrumen tidak layak digunakan)
Hasil yang diperoleh dari penilaian menggunakan skala Likert model empat pilihan kemudian dilakukan perhitungan agar memperoleh rerata penilaian.
Berikut adalah rumus perhitungan untuk memperoleh rerata penilaian.
45 Rumus 3.1 Rumus Perhitungan Rerata Hasil Penilaian dengan Skala Likert
Rerata hasil dari perhitungan kemudian dikonversikan ke dalam tabel kriteria penilaian ideal menurut Widoyoko (2015:112). Peneliti melakukan modifikasi pada interval disetiap kriteria penskoran dengan menyesuaikan skor maksimal, skor minimal, jumlah pernyataan, dan jumlah responden. Rumus perhitungan jarak interval dapat dilihat pada rumus 3.2.
Rumus 3. 2 Rumus Perhitungan Jarak Interval
Dari rumus pada gambar 3.2 maka dapat dilakukan perhitungan secara kuantitatif untuk memperoleh data kualitatif yang berupa kriteria kelayakan instrumen. Berikut adalah perhitungan untuk menetapkan rentang skor:
Diketahui:
Ditanyakan:
Dijawab:
Gambar 3.1 Rentang Skor
Jarak interval = Skor maksimal – skor minimal Jumlah interval Jarak interval = 4-1
4 Jarak interval = Jarak interval = 0,75
46 Kriteria kelayakan instrumen penilaian ideal dapat dilihat pada tabel 3.10.
Tabel 3. 10 Kriteria Kelayakan Instrumen
Interval Skor Kategori Bobot
>3,25 s/d 4,0 Sangat Baik Keseluruhan instrumen sangat layak digunakan
>2,5 s/d 3,25 Baik Keseluruhan instrumen sudah layak digunakan namun perlu perbaikan
>1,75 s/d 2,5 Cukup Keseluruhan instrumen cukup layak digunakan dan perlu perbaikan
1,0 s/d 1,75 Kurang Keseluruhan instrumen tidak layak digunakan
Tingkat kecemasan yang dialami oleh siswa kelas I sekolah dasar dapat dilihat dari hasil perhitungan jawaban pada skala kecemasan yang diisi oleh siswa kelas I sekolah dasar. Perhitungan pada skala kecemasan adalah sebagai berikut:
skala yang terdiri atas 20 aitem yang setiap aitemnya diberi skor 1 untuk jawaban sangat tidak sesuai (STS), skor 2 untuk jawaban tidak sesuai (TS), skor 3 untuk jawaban sesuai (S), dan skor 4 untuk jawaban sangat sesuai (SS). Rentang minimum-maksimumnya adalah 10x1 = 10 sampai dengan 10x4 = 40, sehingga luas jarak sebarannya adalah 40-10 = 30. Dengan demikian, setiap satuan deviasi bernilai σ = 30/5 = 6.
Peneliti menggolongkan subjek menjadi 5 kategori tingkatan yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi. Tabel tingkat penggolongan yang dipaparkan oleh Azwar dapat dilihat melalui tabel 3.11 di bawah ini.
Tabel 3. 11 Tingkatan Skor (Azwar, 2009:109)
Interval Skor Tingkatan
47 3.7.2 Analisis Data Kualitatif
Data kualitatif adalah data yang menunjukkan kualitas atau mutu sesuatu yang ada, baik keadaan, proses, peristiwa/kejadian lainya dinyatakan dalam bentuk pernyataan. Penilaian kualitas data memuntut kemampuan menilai bagaimana mutu sesuatu. (Widoyoko, 2015:18). Analisis data kualitatif pada penelitian dilakukan pada pengolahan hasil rerata validasi yang dilakukan produk oleh validator dalam bentuk kriteria dan pengolahan hasil pengisian tanggapan produk oleh siswa kelas I SD N 2 Sambi.
48 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab IV ini berisi uraian tentang penjelasan dari bab sebelumnya. Uraian tersebut terdiri dari (1) hasil dan (2) pembahasan.
4.1 Hasil Penelitian
Subbab ini menguraikan proses penelitian dari persiapan sampai dengan pelaksanaan yang meliputi (1) potensi dan masalah, (2) perencanaan, (3) pengembangan bentuk awal produk, (4) validasi produk, dan (5) uji coba lapangan terbatas.
4.1.1 Potensi dan Masalah
Potensi dan masalah penelitian dan pengembangan diawali dengan kegiatan analisis kebutuhan di SD N 2 Sambi yang bertujuan untuk mendapatkan data tentang pengetahuan guru seputar skala kecemasan. Peneliti melakukan analisis kebutuhan dengan menggunakan teknik wawancara kepada guru olahraga SD N 2 Sambi serta observasi di kelas I SD N 2 Sambi ketika mengikuti pelajaran olahraga roll depan yang terletak di Kota Boyolali. Wawancara dilakukan pada hari sabtu tanggal 04 November 2017 pukul 10.00 WIB. Wawancara tersebut bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi pemahaman guru terhadap skala kecemasan sesuai dengan tujuan yaitu mengetahui kecemasan yang ditimbulkan pada siswa di kelas I SD N 2 Sambi. Observasi dilakukan pada hari sabtu tanggal 04 November 2017 pukul 07.00 WIB. Observasi tersebut bertujuan untuk melihat langsung apakah siswa mengalami kecemasan aspek fisik pada waktu mengikuti pelajaran olahraga roll depan. Hasil dari wawancara dan observasi dapat dijadikan
49 sebagai acuan dalam menyusun skala kecemasan sesuai dengan upaya pencapaian tujuan yang diharapkan dan dapat digunakan untuk merancang suatu produk yang akan dihasilkan yaitu skala kecemasan aspek fisik sesuai yang diharapkan.
4.1.1.1 Identifikasi Masalah
Pada tahap ini peneliti melakukan identifikasi masalah yang berkaitan dengan sikap yang ditunjukkan oleh siswa dalam mengikuti pelajaran olahraga di sekolah. Identifikasi masalah dilakukan melalui observasi dan wawancara. Hasil observasi dan wawancara kemudian dianalisis oleh peneliti.
1. Observasi
Peneliti melakukan observasi pada saat siswa kelas I mengikuti pelajaran olahraga roll depan. Observasi dilakukan pada tanggal 04 November 2017 di kelas I SD N 2 Sambi ketika mengikuti pelajaran olahraga roll depan. Pelajaran olahraga roll depan diikuti oleh seluruh siswa kelas I SD N 2 Sambi. Pedoman observasi yang digunakan oleh peneliti dapat dilihat pada tabel 3.2. Hasil observasi pada saat siswa melakukan pembelajaran olahraga roll depan dapat dilihat melalui tabel 4.1
Tabel 4. 1 Hasil Observasi Pelajaran olahraga Roll Depan
Objek yang Diamati Jawaban Catatan
Tangan siswa banyak gerak ketika memparktikkan roll depan
Ya 4 dari 10 siswa tangannya banyak yang gerak dan juga ada yang gemetar ketika mempraktikkan olahraga roll depan Tubuh siswa dingin ketika
mempraktikkan roll depan
Ya 5 dari 10 siswa tangannya merasa dingin ketika diminta untuk
mempraktikkan gerakan olahraga roll depan
Baju siswa banyak keringat ketika mempraktikkan roll depan
Ya 5 dari 10 siswa baju mereka banyak keringat dikarenakan takut dalam ketika guru memberikan pertanyaan mengenai kesulitan yang dialami ketika mempraktikkan olahraga roll depan Siswa malu ketika tidak dapat Ya 2 dari 10 siswa malu bila tidak dapat
50
mempraktikkan roll depan dengan baik
mempraktikkan gerakan olahraga roll depan dengan baik
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti, diketahui bahwa dalam pelajaran olahraga roll depan, masih ada siswa yang kurang aktif.
Terdapat 10 siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pelajaran olahraga roll depan. Kesepuluh siswa tersebut terdiri dari 5 siswa laki-laki dan 5 siswa perempuan kelas I SD N 2 Sambi. Pada saat melakukan gerakan dalam olahraga roll depan, siswa terlihat tidak tenang, takut dan gemetar ketika akan mempraktikkan gerakan olahraga roll depan. Hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa siswa kelas I SD N 2 Sambi mengalami kecemasan aspek fisik pada saat mengikuti pelajaran olahraga roll depan.
2. Wawancara
Peneliti melakukan wawancara kepada guru olahraga SD N 2 Sambi.
Wawancara ini dilakukan pada tanggal 04 November 2017. Wawancara yang dilakukan kepada guru olahraga SD N 2 Sambi sesuai dengan pedoman wawancara yang sudah disusun pada tabel 3.3. Transkrip wawancara dengan guru olahraga SD N 2 Sambi dapat dilihat melalui lampiran. Berikut ini adalah hasil wawancara dengan guru olahraga SD N 2 Sambi yang dapat dilihat melalui tabel 4.2.
Tabel 4. 2 Hasil Wawancara dengan Guru Olahraga SD N 2 Sambi
Topik Pertanyaan No Item Hasil Wawancara
Apakah guru mengetahui tentang kecemasan?
1 Guru menjelaskan bahwa kecemasan adalah suatu rasa mengkhawatirkan hal-hal yang belum pasti terjadi, bahkan tetap merasa khawatir meskipun kondisinya sedang baik-baik saja. Orang yang mengalami cemas, juga cenderung membiarkan ketakutan menguasai dirinya.
Apakah siswa aktif dalam pelajaran olahraga roll depan?
2 Guru menjelaskan bahwa siswa kurang aktif dalam mengikuti pelajaran olahraga roll depan. Dikarenakan siswa belum dapat melakukan dengan benar apa yang diminta oleh guru. Hal itu menjadikan siswa kurang bersemangat dalam pelajaran olahraga roll depan.
51 merasakan takut untuk mengulanginya apabila siswa gagal lagi melakukan gerakan roll depan dengan baik dan benar. mempraktikkan gerakan olahraga roll depan dikarenakan siswa melakukan gerakan roll depan dengan kurang baik dan tidak benar. olahraga roll depan siswa rendah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru olahraga, peneliti mengetahui bahwa siswa mengalami kecemasan pada saat siswa tidak dapat melakukan apa yang diminta oleh guru. Berkaitan dengan pelajaran olahraga roll depan, kecemasan siswa muncul ketika siswa diminta untuk memperagakan sebuah gerakan yang dianggap sulit oleh siswa. Hasil wawancara menunjukkan bahwa ada siswa yang mengalami kecemasan dalam mempraktikkan olahraga roll depan.
Kecemasan tersebut dialami oleh siswa tertentu. Siswa yang tidak dapat melakukan apa yang diperintah oleh guru kesulitan dalam melakukan dan mereka kurang aktif dalam mengikuti pelajaran olahraga roll depan. Guru memaparkan bahwa membutuhkan skala kecemasan aspek fisik untuk mengetahui tingkat kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar.
4.1.1.2 Analisis Kebutuhan
Berdasarkan data siswa yang diberikan oleh guru, peneliti mengumpulkan informasi mengenai kesepuluh siswa tersebut. Informasi yang diperoleh peneliti yaitu berupa daftar nama siswa, usia siswa, jenis kelamin, berat badan, dan tinggi badan. Informasi tersebut kemudian dianalisis oleh peneliti. Berkaitan dengan hasil observasi dan wawancara, siswa yang mengalami kecemasan aspek fisik
52 adalah siswa yang belum dapat mempraktikkan gerakan olahraga roll depan dengan baik.
4.1.2 Perencanaan
Dalam tahap ini diuraikan mengenai perencanaan penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar. Perencanaan ini berdasarkan hasil dari indentifikasi masalah dan analisis kebutuhan pada subbab sebelumnya. Hasil indentifikasi masalah dan analisis kebutuhan menunjukkan bahwa guru membutuhkan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar. Oleh sebab itu, peneliti menyusun sebuah rancangan dalam penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar yang diawali dengan kajian teori yang telah diuraikan pada bab II dan kemudian dilanjutkan dengan penyusunan blue-print skala kecemasan aspek fisik serta penyusunan lembar validasi produk.
4.1.2.1 Penyusunan Blue-Print Skala Kecemasan Aspek Fisik Untuk Siswa Kelas I Sekolah Dasar
Salah satu ahli yang memaparkan tentang indikator kecemasan adalah Jeffrey S. Nevid. Nevid (2005:164) mengatakan bahwa kecemasan dapat dilihat dari tiga aspek yaitu aspek fisik, aspek behavioral (perilaku), dan aspek kognitif.
Setiap aspek memiliki indikator kecemasan masing-masing. Indikator-indikator kecemasan dalam setiap aspek dapat dilihat pada tabel 4.3.
53 Tabel 4.3 Indikator Kecemasan Menurut Nevid (2005:164)
No Aspek Indikator
- Kekencangan pada kulit perut atau dada
- Sensasi dari pita ketat yang mengangkat di sekitar dahi
- Jantung yang berdebar keras atau berdetak kencang
- Sulit bicara - Bernapas pendek
- Jari-jari atau anggota tubuh yang menjadi dingin
- Sensasi seperti tercekik atau tertahan
- Perilaku menghindar - Perilaku melekat - Perilaku terguncang
3. Kognitif (Nevid, 2005:164)
- Merasa terancam oleh orang atau peristiwa yang - Perasaan terganggu akan
ketakutan terhadap sesuatu di masa depan
- Terpaku pada sensasi ketubuhan - Berpikir bahwa semua
terasa membingungkan tanpa bisa diatasis
- Berpikir bahwa semua tidak lagi bisa dikendalikan - Berpikir bahwa dunia
mengalmai keruntuhan
- Khawatir terhadap hal-hal sepele
- Berpikir tentang hal mengganggu yang sama secara berulang-ulang
- Berpikir bahwa harus bisa kabur dari keramaian kalau tidak pasti akan pingsan - Pikiran terasa bercampur
aduk atau kebingungan
- Tidak menemukan sesuatu yang salah
54
secara medis - Khawatir akan ditinggal
sendirian
- Sulit berkonsentrasi
Berdasarkan tabel 4.3 tentang indikator-indikator kecemasan yang dikemukakan oleh Nevid (2005:164), peneliti tidak menggunakan seluruh indikator dalam menyusun produk skala kecemasan aspek fisik. Peneliti memilih indikator-indikator yang mudah diamati dan dirasakan oleh siswa kelas I SD N 2 Sambi. Peneliti hanya menggunakan indikator ciri fisik yaitu 11. Pernyataan yang disusun oleh peneliti terdiri dari 20 aitem pernyataan. 20 aitem pernyataan terdiri dari 12 aitem pernyataan favorable dan 8 aitem pernyataan unfavorable.
Pemilihan indikator tersebut juga merupakan saran dari guru, supaya guru dapat mengamati indikator kecemasan yang dialami oleh siswa kelas I SD N 2 Sambi.
Indikator kecemasan yang telah dipilih oleh peneliti kemudian disusun menjadi sebuah blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar. Blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar dapat dilihat pada tabel 3.4. Blue-print yang telah disusun oleh peneliti mendapatkan kritik dan saran dari guru yang disampaikan secara
Indikator kecemasan yang telah dipilih oleh peneliti kemudian disusun menjadi sebuah blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar. Blue-print penyusunan skala kecemasan aspek fisik untuk siswa kelas I sekolah dasar dapat dilihat pada tabel 3.4. Blue-print yang telah disusun oleh peneliti mendapatkan kritik dan saran dari guru yang disampaikan secara