• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.4 Pedoman Pemberian Imunisasi

Umur yang tepat untuk mendapatkan imunisasi adalah sebelum bayi

mendapat infeksi dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, berilah

imunisasi sedini mungkin segera setelah bayi lahir dan usahakan melengkapi

imunisasi sebelum bayi berumur 1 tahun. Khusus untuk campak, dimulai segera

setelah anak berumur 9 bulan. Pada umur kurang dari 9 bulan, kemungkinan besar

pembentukan zat kekebalan tubuh anak dihambat karena masih adanya zat

kekebalan yang berasal dari darah ibu (Satgas IDAI, 2008).

Urutan pemberian jenis imunisasi, berapa kali harus diberikan serta jumlah

dosis yang dipakai juga sudah ditentukan sesuai dengan kebutuhan tubuh bayi.

Untuk jenis imunisasi yang harus diberikan lebih dari sekali juga harus

Universitas Sumatera Utara

Untuk lebih jelasnya sebagaimana terdapat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.1 Jadwal Pemberian Imunisasi Pada Bayi Dengan Menggunakan Vaksin DPT dan HB dalam Bentuk Terpisah, Menurut Frekuensi dan Selang waktu serta Umur Pemberian

Vaksin Pemberian Imunisasi

Selang Waktu

Pemberian Umur Keterangan

BCG 1x - 0-11 Bulan Untuk bayi

yang lahir di rumah sakit atau puskesmas Hep-B, BCG dan Polio dapat segera diberikan DPT 3x (Dpt 1,23) 4 Minggu 2-11 Bulan Polio 4x (Pol 1, 2, 3, 4) 4 Minggu 0-11 Bulan Campak 1x - 9-11 Bulan Hep-B 3x (Hep-B 1, 2, 3) 4 Minggu 0-11 Bulan

Sumber : Petunjuk Pelaksanaan Program Imunisasi di Indonesia Tahun 2008

Dari tabel diatas, bahwa pemberian imunisasi pada bayi usia 0-11 bulan

diberikan dengan selang waktu pemberian 4 minggu dengan variasi pemberian

vaksin yang disesuaikan dengan kebutuhan bayi dan tentunya sesuai dengan

tingkat usia bayi yang akan diberikan imunisasi.

Tabel 2.2 Jadwal Pemberian Imunisasi Pada Bayi Dengan Menggunakan Vaksin DPT/HB Kombo

UMUR VAKSIN TEMPAT

Bayi Lahir di Rumah

0 Bulan HB 1 Rumah

1 Bulan BCG, Polio 1 Posyandu*

2 Bulan DPT/HB Kombo 1, Polio 2 Posyandu*

3 Bulan DPT/HB Kombo 2, Polio 3 Posyandu*

4 Bulan DPT/HB Kombo 3, Polio 4 Posyandu*

9 Bulan Campak Posyandu*

Bayi Lahir di RS/RB/Bidan Praktek

0 Bulan HB 1, Polio 1, BCG RS/RB/Bidan

2 Bulan DPT/HB Kombo 1, Polio 2 RS/RB/Bidan#

3 Bulan DPT/HB Kombo 2, Polio 3 RS/RB/Bidan#

4 Bulan DPT/HB Kombo 3, Polio 4 RS/RB/Bidan#

9 Bulan Campak RS/RB/Bidan#

Keterangan :

Universitas Sumatera Utara 2.5 Peranan Suami Dalam Pemberian Imunisasi Pada Bayi

Peranan suami sangat besar bagi ibu dalam mendukung perilaku atau

tindakan ibu dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Suami sebagai orang

terdekat di lingkungan keluarga dan sekaligus pemegang kekuasaan dalam

keluarga yang sangat menentukan dalam pemilihan tempat pelayanan kesehatan

(Depkes RI, 2013). Green (2010) menyebutkan bahwa dukungan keluarga

khususnya suami merupakan salah satu elemen penguat (reinforcing) dalam

penentuan perilaku seseorang dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan. Hal ini

terlihat dari penelitian Soewandijono (2010) yang meneliti tentang faktor-faktor

yang berhubungan dengan pencapaian cakupan imunisasi campak, terbukti bahwa

salah satu faktor yang mempunyai hubungan bermakna dalam pencapaian

cakupan imunisasi campak adalah tingkat peran serta keluarga terutama suami.

2.5.1 Pengetahuan (Knowledge)

Pengetahuan adalah hasil ‘tahu’ dan ini terjadi setelah orang melakukan

penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui

pancaindra manusia, yakni: indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan

raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2012).

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang (over behaviour). Karena dari pengalaman dan

penelitian ternyata perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih

langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian

Universitas Sumatera Utara

dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni (Notoatmodjo,

2012) :

a. Awareness (kesadaran), di mana orang tersebut menyadari dalam arti

mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Di sini sikap

subjek sudah mulai timbul.

c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus

tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik lagi.

d. Trial, di mana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa

yang dikehendaki oleh stimulus.

e. Adoption, di mana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,

kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

Namun demikian, dari penelitian selanjutnya Rogers menyimpulkan

bahwa perubahan perilaku tidak selalu melewati tahap-tahap tersebut. Apabila

penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini, di mana

didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif maka perilaku

tersebut akan bersifat langgeng. Sebaliknya apabila perilaku itu tidak didasari oleh

pengetahuan dan kesadaran akan tidak berlangsung lama. Pengetahuan yang

dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni (Notoatmodjo, 2012):

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat

Universitas Sumatera Utara dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, ‘tahu’ ini

merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk

mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain :

menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan, dan sebagainya.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut

secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan

sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah

dipelajari pada situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat

diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip,

dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek

ke dalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi

tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis dapat

diliat dari penggunaan kata-kata kerja: dapat menggambarkan, membedakan,

memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi

baru dari formulasi-formulasi yang ada.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu

berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan

kriteria-kriteria yang telah ada.

2.5.2 Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang

terhadap suatu stimulasi atau objek, manifestasi sikap tidak dapat langsung dilihat,

tetapi hanya bisa di tafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup, sikap

secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus

tertentu dalam kehidupan sehari-hari. (Notoatmodjo, 2007).

Dalam bagian lain Allport (1954) menjelaskan bahwa sikap itu

mempunyai 3 komponen pokok yaitu : Kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep

terhadap suatu objek, kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek,

kecenderungan untuk bertindak. Komponen ini secara bersama-sama membentuk

sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini,

pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosional memegang peranan penting.

Menurut Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa seperti halnya dengan

Universitas Sumatera Utara

a. Menerima (receiving) diartikan bahwa orang (subjek) mau dan

memper-hatikan stimulus yang diberikan (objek).

b. Merespon (responding) yang berarti memberikan jawaban apabila ditanya,

mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi

dari sikap.

c. Menghargai (valuing) yang berarti mengajak orang lain untuk mengerjakan

atau mendiskusikan suatu masalah.

d. Bertanggung Jawab (responsible) yaitu bertanggung jawab atas segala

sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang

paling tinggi.

Adapun indikator untuk mengetahui tingkat sikap terhadap kesehatan,

antara lain dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a. Sikap terhadap sakit dan penyakit adalah bagaimana penilaian atau pendapat

seseorang terhadap gejala atau tanda-tanda penyakit, penyebab penyakit, cara

penularan penyakit, cara pencegahan penyakit.

b. Sikap tentang cara pemeliharaan dan cara hidup sehat adalah penilaian atau

pendapat seseorang terhadap cara-cara memelihara dan cara-cara

(berperilaku) hidup sehat. Dengan perkataan lain pendapat atau penilaian

terhadap makanan, minuman, olahraga, relaksasi (istirahat) atau istirahat

cukup.

c. Sikap terhadap kesehatan lingkungan adalah pendapat atau penilaian

seseorang terhadap lingkungan dan pengaruhnya terhadap kesehatan

Universitas Sumatera Utara 2.6 Variabel Penelitian

Variabel penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut :

Gambar 2.1 Variabel Penelitian

Berdasarkan variabel penelitian diatas dapat dijelaskan bahwa pemberian

imunisasi dasar lengkap pada baduta berhubungan dengan pengetahuan suami dan

sikap suami sehingga diperlukan pengetahuan dan sikap suami yang baik

mengenai pemberian imunisasi dasar secara lengkap pada baduta.

Variabel Penelitian

- Pengetahuan Suami Tentang Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap - Sikap Suami Tentang Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap

Universitas Sumatera Utara 2.7 Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dikemukakan diatas maka

kerangka konsep dalam penelitian ini adalah :

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan gambar 2.2 diatas, diketahui bahwa karakteristik responden

yang akan digambarkan dalam hasil penelitian ini ialah dilihat dari aspek umur,

pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan, serta pengetahuan dan sikap responden

pemberian imunisasi dasar lengkap pada baduta dan cakupan imunisasi dasar

lengkap pada baduta pada baduta di wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin

Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2016.

Karakteristik Responden  Umur  Pendidikan  Pekerjaan  Penghasilan Pengetahuan Responden terhadap Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap pada

Baduta

Sikap Responden Pemberian Imunisasi

Dasar Lengkap pada Baduta

Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap pada Badutapada

baduta di wilayah kerja Puskesmas Pantai Cermin Kabupaten Serdang Bedagai