• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.5.3.1 Pengertian

1. Kelompok Usaha Bersama (KUBE) tani adalah kelompok warga atau keluarga binaan departemen pertanian yang dibentuk oleh warga atau kelompok binaan departemen pertanian yang telah dibina melalui proses kegiatan perkembangan tata cara bercocok tanam untuk melaksanakan kegiatan peningkatan hasil produksi panen dan usaha perbaikan ekonomi petani dalam semangat kebersamaan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf kesejahteraan social kelompok tani.

2. KUBE tani merupakan metode pendekatan yang terintegrasi dan keseluruhan proses pertanian dalam rangka memperbaiki tingkat kesejahteraan kelompok tani.

3. Pembentukan KUBE tani dimulai dengan proses pembentukan kelompok sebagai hasil bimbingan departemen pertanian melalui PPL (Pembina Penyuluh Lapangan), pelatihan keterampilan berusaha, bantuan stimulans dan pendampingan.

1.5.3.2 Tujuan dan Sasaran

Tujuan KUBE tani diarahkan kepada upaya mempercepat penghapusan kemisikinan kelompok tani, melalui:

1. Peningkatan hasil produksi panen para anggota KUBE secara bersama dalam kelompok

2. Peningkatan pendapatan 3. Pengembangan usaha

4. Peningkatan kepedulian dan kesetiakawanan sosial diantara para anggota KUBE dan dengan masyarakat sekitar.

5. Sasaran Kelompok Usaha Bersama (KUBE) tani adalah anggota dari masing-masing kelompok tani.

1.5.3.3 Proses Pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Tani di Dusun III Desa Pematang Lalang.

Langkah atau kegiatan pokok pembentukan KUBE tani pada kelompok tani adalah : 1. Pelatihan keterampilan berusaha, dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan

praktis berusaha kelompok tani serta kondisi wilayah, termasuk kemungkinan pemasaran dan pengembangan hasil usahanya. Nilai tambah lain dari pelatihan adalah tumbuhnya rasa percara diri dan harga diri kelompok tani untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi dan memperbaiki kondisi kehidupannya.

2. Pemberian bantuan stimulan sebagai modal kerja atau berusaha yang disesuaikan dengan kemampuan kelompok tani dan kondisi setempat. Bantuan ini merupakan hibah (bukan pinjaman atau kredit) akan tetapi diharapkan bagi kelompok tani penerima bantuan untuk mengembangkan dan menggulirkan kepada anggota kelompok tani. 3. Pendampingan, mempunyai peran sangat penting bagi berhasil dan berkembangnya

KUBE tani, mengingat sebagian besar kelompok tani merupakan kelompok yang miskin dan penduduk miskin. Secara fungsional pendamping dilaksanakan oleh Departemen Pertanian dan juga Pemerintah Daerah.

Terdapat 16 kelompok tani di Desa Pematang Lalang Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang, 6 kelompok tani terdapat di dusun III, 5 kelompok tani terdapat di dusun II, dan 5 kelompok tani lainnya terdapat di dusun I.

Ke-16 kelompok tani yang terdapat di Desa Pematang Lalang Kecamatan Percut Sei Tuan ini berada dibawah naungan susunan pengurus gabungan kelompok tani

(GAPOKTAN), Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. Ruang lingkup keanggotaan GAPOKTAN ini meliputi beberapa kelompok tani, yaitu kelompok tani:

A. Rahayu B. Suka Maju C. Bersatu D. Bersama E. Sehati F. Pembangunan G. Nauli H. Sekata I. Rapuli J. Saurdut K. Makmur L. Serasi M. Sempurna N. Sumber Makmur O. Giat Maju

1.5.3.4 Organisasi dan Manejemen 1. Kepengurusan KUBE tani

Pada hakekatnya KUBE dibentuk dari, oleh dan untuk anggota kelompok. Pengurus KUBE dipilih dari anggota kelompok yang mau dan mampu mendukung pengembangan KUBE, memiliki kualitas seperti kesediaan mengabdi, rasa keterpanggilan, mampu mengorganisasikan dan mengkoordinasikan kegiatan anggotanya, mempunyai keuletan,

pengetahuan dan pengalaman yang cukup serta yang penting adalah merupakan hasil pilihan dari anggotanya.

Program kelompok usaha bersama tani itu sendiri dibawah peranan dan tanggung jawab Departeme Pertanian. Dimana PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) merupakan badan yang dikoordinir oleh Departemen Pertanian sebagai badan perwakilan Departemen Pertanian yang berfungsi sebagai konsultan, mediator informasi, serta perpanjangan tangan Pemerintah kepada petani dalam meningkatkan hasil pertanian, guna memperbaiki kehidupan petani yang pra sejahtera menjadi sejahtera. Dimana fungsi PPL adalah sebagai berikut :

1. Sebagai Konsultan

PPL berperan sebagai badan yang memberikan pengarahan-pengarahan dalam usaha peningkatan hasil pertanian serta pemecahan masalah terhadap persoalan-persoaln yang timbul dalam pertanian.

2. Sebagai Mediator Informasi.

PPL berperan sebagai penyedia informasi pengetahuan bagi petani, bagaimana meningkatkan hasil pertanian melalui ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi, yang secara tidak langsung juga meningkatkan pengetahuan petani itu sendiri. Hal ini dilakukan melalui forum terbuka, diskusi-diskusi, seminar ataupun melakukan studi banding.

3. Sebagai Perpanjangan Tangan Pemerintah

Dimana PPL menjembatani penyaluran bantuan yang diberikan oleh pemerintah kepada masyrakat.

Namun, kadang yang terjadi di lapangan, PPL tidak memiliki kemampuan pengetahuan yang cukup dibidangnya, dimana petani dengan kemampuan pengalamannya

dan hanya dengan tingkat pendidikan yang rendah, lebih ahli dibidangnya daripada PPL yang lulusan Perguruan Tinggi yang telah mengecap bangku pendidikan. Hal ini dilihat dengan dilakukannya penanaman padi secara bersamaan dengan waktu dan kondisi tanah yang sama. Dimana dalam 2 petak sawah, petak sawah yang dikerjakan oleh petani, dengan penggunaan pupuk dan peralatan yang terbatas lebih menghasilkan padi yang unggul, dibandingkan dengan petak sawah yang dikerjakan oleh PPL, yang menggunakan peralatan yang lebih memadai, dan dengan pengetahuan yang dimilikinnya.

2. Keanggotaan KUBE

Anggota KUBE adalah kelompok tani sebagai sasaran program yang telah disiapkan. Jumlah anggota untuk setiap KUBE tani berkisar minimal antara 5 sampai 10 orang / KK.

Jumlah kelompok tani ditentukan berdasarkan atas luas areal sawah pertanian, yaitu untuk 40 hektar areal sawah pertanian atau 1000 rante (ketetapan dasar) dikelola oleh satu kelompok tani, dan yang menjadi anggota dalam satu kelompok tani adalah petani-petani yang mengerjakan sawah, dimana sawah yang dikerjakannya termasuk kedalam ketetapan dasar areal sawah pertanian (40 hektar). Misalnya, dalam 40 hektar lahan sawah, ada 15 petani yang menggarap masing-masing sawah yang termasuk kedalam areal 40 hektar lahan sawah, maka dalam hal ini, ke-15 petani tersebut merupakan satu kelompok tani. Karena ketetapan dasar tersebut, seorang petani dapat menjadi anggota 1 atau lebih kelompok tani, hal ini disebabkan karena, bisa saja seseorang petani mengerjakan 5 sawah ditempat yang berbeda-beda lokasinya, dan ke-5 sawah tersebut termasuk kedalam 5 kelompok tani yang berbeda pula. Dengan demikian, secara otomatis, petani tersebut masuk menjadi anggota dari ke 5 kelompok tani tersebut. Pemilik sawah yang tidak mengerjakan sawahnya sendiri

Ketua kelompok Sariman. S Sekretaris Anjur. S Bendahara Jontik Tp.bolon Anggota 48 Anggota Anggota I

atau dengan kata lain menyewakan sawahnya padaorang lain tidak ikut menjadi anggota dari kelompok tani, karena hanya merekan yang mengerjakan sawah sajalah yang mejadi anggota dalam satu kelompok tani, meskipun sawah yang mereka kelola bukanlah milik mereka.

Kelompok Tani Dusun III Desa Pematang Lalang 1. Nama KUBE : Olo Martani

Kelompok tani olo martani dibantuk pada tanggal 26 januari 2006, dengan jumlah anggota sebanyak 31 orang, yang terdiri dari laki-laki 29 orang, dan wanita sebanyak 2 orang,. Dimana usia dominan dari setiap anggota tani diatas 50 tahun (45,1 %), dengan latar belakang pendidikan mayoritas 45,1% (14 orang), tamatan SLTP, dan 1 orang lulusan akademik (sarjana). Kelompok tani ini merupakan kelompok tani yang paling maju dari 6 kelompok tani yang terdapat di dusun III desa Pematang Lalang.

A. Struktur Organisasi :

B. Kegiatan-kegiatan Yang Telah Dilakukan : 1.Jual beli padi

2.Jual beli pupuk 3.Jual beli pestisida

4.Menyewakan alat-alat mekanisasi (handtractor dan treser) C. Sistem Bagi Hasil :

1.Mendapat laba dari pembelian padi (GKP) 2.Laba dari pupuk dan obat-obatan

3.Laba dari penyewaan alat-alat mekanisasi D. Sarana dan Prasarana Yang Dimiliki : 1.Lantai jemur gabah

2.Gudang padi 3.Handtractor 4.Reser

E. Sarana dan Prasarana Yang Diberikan Oleh Pemerintah : -NIHIL-

F. Manfaat/Keuntungan Yang Didapat Oleh Kelompok : 1.Mendapat laba dari penjualan gabah kering giling

2.Memperoleh laba dari penyewaan alat-alat mekanisasi G. Hambatan-hambatan dalam melakukan KUBE : 1.Sarana transportasi (pengangkutan) yang kurang memadai 2.Alat-alat yang disewakan sering rusak

3.Cuaca yang tidak menentu

2 Nama KUBE : SAUDUR

Kelompok tani saudur dibentuk pada tgl 28 januari 2007, dengan jumlah anggota sebanyak 24 orang, yang terdiri dari 23 orang laki-laki dan 1 orang wanita.

Dimana usia dominan dari setiap anggota kelompok tani diatas 50 tahun (41,6%), dengan latar belakang pendidikan mayoritas 62,5% (15 orang) tamatan SD, dan tidak ada satupun dari anggota tani yang menyelesaikan pendidikannya sampai pada tingkat sarjana. Kelompok tani saudur ini merupakan kelompok tani termuda yang ada di Dusun III,Desa Pematang Lalang.

Ketua kelompok Effendi Surbakti Sekretaris Arfan Bendahara Ismail Anggota 48 Anggota Anggota I A. Struktur Organisasi :

B. Kegiatan-kegiatan Yang Dilakukan : 1.Gotong royong

2.Membentuk tali air cacing C. Sistem Bagi Hasil : 1.Sema 3 kaleng perkanto

D. Sarana dan Prasarana Ya ng Dimiliki : 1.Tali air cacing

2.Irigasi induk

3.Irigasi sekunder dan primer

E. Sarana dan Prasarana Yang Diberikan Oleh Pemerintah : 1.Pupuk NPK

2.Bibit

F. Manfaat/keuntungan Yang Didapat Oleh Kelompok : -NIHIL-

G. Hambatan-hambatan Dalam Melakukan KUBE : 1.Sarana transportasi yang kurang memadai

2.Sering terjadi banjir kiriman dari kota 3.Harga padi sering menurun

Ketua kelompok Parulian Sihombing Sekretaris Panjaitan Bendahara Pasaribu Anggota 48 Anggota Anggota I 3. Nama KUBE : SUMBER MAKMUR

Kelompok tani sumber makmur dibentuk pada tgl 20 januari 2007, dengan jumlah anggota sebanyak 32 orang, yang terdiri dari 27 orang laki-laki, dan 5 orang wanita. Dimana usia dominan dari setiap anggota tani diatas 50 tahun (46,8%), dengan latar belakang pendidikan mayoritas 43,75% (14 orang) tamatan SLTP dan SMU, serta 2 orang lulusan akademik (sarjana).

A. Struktur Organisasi :

B. Kegiatan-kegiatan Yang Telah Dilakukan : 1.Gotong-royong

2.Bibit bersama 3.Tanam bersama

4.Pemberantasan hama bersama C. Sistem Bagi Hasil :

-NIHIL-

D. Sarana dan Prasarana Yang Dimiliki : 1.Irigasi induk

E. Sarana Dan Prasarana Yang Diberikan Oleh Pemerintah : 1.Bibit varietas cicerang/64

2.Pupuk NPK

F. Manfaat/Keuntungan Yang Didapat Oleh Kelompok : 1.Meningkatkan produksi

G. Hambatan-hambatan Dalam Melakukan KUBE : 1.Irigasi yang kurang memadai

2.Tanggul air asin

3.Kurangnya pembuangan air atau pintu klep

4 Nama KUBE : PEMBANGUNAN

Kelompok tani pembangunan dibentuk pada tgl 20 januari 2007, dengan jumlah anggota terbanyak dari 6 kelompok tani yang terdapat di Dusun III, Desa Pematang Lalang, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, yaitu sebanyak 49 orang, yang terdiri dari 46 orang laki-laki, serta 3 orang wanita. Dimana usia dominan dari setiap anggota tani diatas 50 tahun, dengan latar belakang pendidikan mayoritas 40,8% (120 orang), tamatan SLTP dan tidak ada satupun dari anggota yang menyelesaikan pendidikannya sampai pada tingkat sarjana.

A. Struktur Organisasi :

B. Kegiatan-kegiatan Yang Telah Dilakukan : 1.Usaha jual beli padi (gabah), pribadi

C. Sistem Bagi Hasil : -NIHIL-

D. Sarana Dan Prasarana Yang Dimiliki : 1.Handtractor Ketua kelompok Amin Sianipar Sekretaris Nelson Sihite Bendahara Parulian Simanjuntak Anggota 48 Anggota Anggota I

E. Sarana Dan Prasarana Yang Diberikan Oleh Pemerintah : 1.Bibit

2.Pupuk

3.Saluran irigasi

F. Manfaat/Keuntungan Yang Didapat Oleh Kelompok : 1.Kebersamaan

G. Hambatan-hambatan Dalam Melakukan KUBE : 1.Tidak adanya tali air cacing

2.Kurangnya obat-obatan pembasmi keong

3. Administrasi KUBE

Untuk dapat berjalan dan berkembangnya KUBE dengan baik, maka pengurus maupun pengelola KUBE perlu memiliki catatan atau administrasi yang baik, yang mengatur, pembukuan dan lain sebagainya. Catatan dan administrasi KUBE meliputi antara lain buku anggota, buku peraturan KUBE, pembukuan keuangan / pengelolaan hasil, daftar pengurus dan sebagainya.

Buku Anggota dan Peraturan GAPOKTAN (Gabungan Kelompok Tani) a. Landasan, Azas dan tujuan GAPOKTAN

1. GAPOKTAN berlandaskan Pancasila dan UUD 1945

2. GAPOKTAN berazaskan kekeluargaan dan kegotong-royongan 3. GAPOKTAN bertujuan :

a. Mengembangkan kesejahteraan Anggota khusunya dan masyarakat pada umumnya dalam rangka menggalang terlaksananya masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila

b. Ikut membangun tatanan Perekonomian Nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 c. Meningkatkan pengetahuan anggota melalui penyuluhan, latihan maupun

keterampilan lainnya

d. Menggalang seluruh kebutuhan untuk meningkatkan produksi dan pemasaran produksi dari seluruh anggota dan kendala-kendala yang dihadapi untuk kemudian dipecahkan bersama.

b.Usaha

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka GAPOKTAN menyelenggarakan usaha- usaha sebagai berikut:

1. Kilang padi dan Usaha Prossesing lainnya

2. Mengadakan usaha sarana produksi pertanian dan pemsaran hasil-hasil pertanian

3. Mengadakan usaha lain yang menguntungkan anggota GAPOKTAN, sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang yang berlaku

4. Mengadakan kerjasama dengan pihak lain yang saling menguntungkan dan untuk meningkatkan kesejahateraan anggota.

c. Syarat Keanggotaan

Yang dapat diterima menjadi anggota GAPOKTAN ialah: 1. Kelompok Tani dan LUEP atau Kumpulan Kelompok Tani

2. Mempunyai kesamaan kepentingan ekonomi dalam lingkup GAPOKTAN

3. Telah menyetujui isi Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan ketentuan- ketentuan GAPOKTAN yang berlaku

1. Kelompok Tani yang akan menjadi anggota GAPOKTAN harus mengajukan surat pemintaan/ permohonan kepada pengurus ( bagi yang tidak ikut dalam musyawarah) 2. Pengurus secara musyawarah mempertimbangkan permohonan tersebut dan

keputusannya harus diberikan dalam waktu paling lama 2 (dua) minggu sejak tanggal permohonan diterima

3. Permohonan yang diterima segera didaftarkan dalam Buku Daftar Anggota.

Keanggotaan GAPOKTAN berakhir bilamana Anggota: 1. Minta berhenti atas kehendak kelompok sendiri

2. Diberhentikan oleh Pengurus GAPOKTAN berdasarkan hasil rapat anggota, karena tidak memenuhi lagi syarat keanggotaan atau berbuat sesuatu yang merugikan GAPOKTAN.

d. Hak dan Kewajiban Anggota

Setiap anggota harus tunduk pada ketentuan dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan keputusan yang diambil dalam pertemuan kelompok/ rapat anggota.

1. Setiap Anggota berhak:

a. Untuk hadir dan berbicara tentang hak-hak yang dirundingkan dalam pertemuan rapat anggota

b. Untuk memilih dan dipilih jadi Pengurus

c. Untuk memberi saran-saran pada Pengurus baik diminta maupun tidak diminta guna perbaikan dan kemajuan GAPOKTAN, baik dalam pertemuan maupun di luar pertemuan kelompok

d. Memperoleh keuntungan dari setiap usaha yang dilakukan Unit Usaha GAPOKTAN yang besarnya ditetapkan berdasarkan musyawarah.

2. Setiap Anggota GAPOKTAN mempunyai kewajiban

a. Untuk hadir dan secara aktif mengambil bahagian dalam pertemuan/ rapat b. Berprtisipasi dalam kegiatan, usaha yang diselenggarakan oleh GAPOKTAN

c. Mengembangkan dan memelihara usaha GAPOKTAN berdasarkan atas azas kekeluargaan

d. Taat pada peraturan yang diputuskan oleh Rapat Anggota. e. Pengurus

1. Pengurus GAPOKTAN dipilih dari dan oleh anggota GAPOKTAN dalam pertemuan/ rapat anggota

2. Yang dapat dipilih menjadi Pengurus GAPOKTAN ialah mereka yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Wakil dari kelompok Tani Anggota yang aktif melaksanakan hak dan kewajibannya b. Mempunyai sifat kejujuran, kepemimpinan dan keterampilan kerja

c. Dapat memimpin dengan baik.

1. Anggota pengurus dipilih untuk masa jabatan 3 (tiga) tahun 2. Pengurus setiap waktu dapat diberhentikan bila terbukti bahwa:

a. Pengurus melakukan kecurangan dan merugikan GAPOKTAN

b. Pengurus baik dalam sikap maupun tindakkannya menimbulkan pertentangan dalam anggota GAPOKTAN dan kegiatan GAPOKTAN

3. Anggota pengurus yang masa jabatannya telah lampau dapat dipilih kembali untuk periode berikutnya

4. Bilaman seseorang Anggota Pengurus berhenti sebelum masa jabatannya lampau, maka pertemuan kelompok/ rapat anggota dapat mengangkat gantinya.

f. Tugas, Hak dan Kewajiban Pengurus 1. Pengurus bertugas untuk:

a. Memimpin GAPOKTAN

b. Menyelenggarakan peraturan-peraturan kelompok

c. Memelihara buku daftar Anggota, daftar Pengurus dan buku organisasi lainnya. 2. Hak Pengurus:

a. Untuk menugaskan/ memanggil anggota kelompok dalam hal kegiatan yang menyangkut GAPOKTAN

b. Mengadakan pertemuan kelompok/ rapat anggota.

3. Kewajiban Pengurus:

a. Pengurus berkewajiban memberitahukan tentang segala sesuatu yang menyangkut GAPOKTAN

b. Pengurus diwajibkan untuk memelihara kerukunan diantara anggota dan mencegah segala hal yang menyebabkan timbulnya perselisihan paham

c. Perselisihan yang timbul karena adanya kepentingan khusus atau dalam hubungan sebagai anggota harus diselesaikan oleh Pengurus dengan jalan damai tanpa memihak

d. Pengurus harus melaksanakan segala ketentuan dalam Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga, dan keputusan-keputusan dalam pertemuan kelompok

e. Anggota pengurus GAPOKTAN tidak boleh menjadi pengurus GAPOKTAN lainnya yang sejenis, kecuali untuk gabungan seperti dalam Kelurahan atau dan Kecamatan, Kabupaten/ Kota atau Propinsi.

g. Pembinaan Bimbingan dan Perlindungan

1. Pembinaan merupakan wewenang dan tanggung jawab Pemerintah

2. Pemerintah memberikan bimbingan, kemudahan dan perlindungan kepada GAPOKTAN

3. Dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan kondisi yang mendorong pertumbuhan GAPOKTAN, Pemerintah:

a. Memberikan kesempatan usaha seluas-luasnya kepada GAPOKTAN sesuai dengan kepentingan Anggotanya

b. Memberikan penyuluhan-penyuluhan.

h. Pertemuan Pengurus GAPOKTAN

1. Pertemuan pengurus GAPOKTAN dilaksanakn sekurang-kurangnya satu kali dua minggu atau lebih sesuai dengan kebutuhan

2. Biaya yang timbul dalam pertemuan kelompok diambil dari kas GAPOKTAN, yang berasal dari iuran anggota kelompok dan simpanan anggota dan keuntungan usaha i. Iuran Anggota/ Simpanan Anggota

1. Besarnya iuran anggota/ simpanan anggota ditetapkan berdasarkan musywarah, mufakat anggota kelompok, begitu juga jangka waktu pembayaran

2. Setiap biaya yang keluar dari kas GAPOKTAN ditetapkan berdasarkan persetujuan dari pengurus

3. Pengurus diwajibkan membuat laporan tentang perhitungan dan pertanggung jawaban mengenai keuangan, inventarisasi peralatan, keanggotaan dan hal lain yang dianggap perlu.

j. Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga

Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga hanya dapat dilakukan melalui musyawarah anggota GAPOKTAN.

k. Anggaran Rumah Tangga

1. Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran Dasar ini akan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga

2. Anggaran Rumah Tangga tidak boleh bertentangan dengan Angaran dasar l. Penutup

Anggaran Dasar disyahkan dalam pertemuan GAPOKTAN dan mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

1.5.4 Pertanian Mendukung Pembangunan Berawal dari Desa A. Pembangunan Pedesaan dan Pembangunan Pertanian

Pembangunan pedesaan tidak selalu identik dengan pembangunan pertanian. Persepsi bahwa pedesaan identik dengan pertanian lebih disebabkan karena hingga saat ini lebih dari 50 % rumah tangga di pedesaan, pendapatan utamanya masih bergantung pada sektor pertanian. Persepsi tersebut harus diluruskan agar semua kalangan, khususnya para pengambil kebijakan, sepaham bahwa pembangunan pedesaan mencakup semua aspek pembangunan, seperti pendidikan, infrastruktur publik, kesehatan, perhubungan, dan lain

sebagainya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pembangunan pertanian hanya merupakan salah satu bagian dari pembangunan pedesaaan.

Perlunya kesepahaman tersebut di atas, dilandasi oleh munculnya berbagai permasalahan yang terkait dengan pembangunan pedesaan.

Pertama, belum adanya koordinasi antar berbagai institusi dan pelaksana pembangunan lainnya. Akibatnya pembangunan pedesaan dalam arti yang sebenarnya tidak pernah terwujud dengan baik. Keberhasilan program atau proyek tidak lebih dari keberhasilan potongan-potongan kegiatan pada suatu kelompok masyarakat desa.

Kedua, nuansa ego sektoral dalam perencaan maupun pelaksanaan program atau proyek masih sangat kenta. Akibatnya, potensi sumberdaya, khususnya dana, yang apabila disinergikan cukup besar potensinya menjadi tidak optimal dalam pemanfaatannya.

Ketiga, masih kentalnya kesan masyarakat pedesaan terhadap program atau proyek, yang identik dengan “bantuan pemerintah.” Kondisi tersebut semakin diperparah oleh beragamnya variasi pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan suatu program atau proyek, namun dalam implementasinya kesan “bantuan pemerintah” tetap ada. Akibatnya, upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan secara serius oleh suatu institusi, seringkali mengalami kegagalan karena pada saat yang bersamaan pada lokasi dan waktu yang sama, ada institusi lain yang melaksanakan kegiatan dengan pendekatan “bantuan pemerintah.”

Keempat, desain keberlajutan suatu program atau proyek masih belum banyak dilakukan secaa serius oleh institusi pelaksana. Akibatnya, banyak program atau proyek yang berakhir seiring dengan berakhirnya program atau proyek tersebut.

Akibat lebih lanjut dari permasalahan-permasalahan tersebut, secara umum telah menjadikan kondisi pedesaan menjadi sebagai berikut : (a) mutu dan ketersediaan infrastruktur publik menurun; (b) menurunnya kapasitas kolektif masyarakat desa; (c) meningkatnya potensi konflik akibat tidak meratanya pelaksanaan program atau proyek; (d) keterlibatan pemerintah desa dalam pelaksanaan program atau proyek masih belum optimal; (e) akses masyarakat terhadap pendidikan, akses masyarakat terhadap informasi pertanian juga semakin memburuk.

Belajar dari pengalamam di atas, telah diidentifikasi beberapa faktor kunci yang diyakini dapat mendorong keberhasilan pelaksanaan kegiatan suatu program atau proyek, yaitu : (a) perencanaan dan persiapan harus dibuat dengan baik, terukur dan akurat; (b) lakukan identifikasi potensi desa, baik sumberdaya alam, SDM, infrastruktur dan sosial ekonominya, dengan melibatkan semua komponen masyarakat setempat; (c) menyusun rancangan kegiatan berikut dengan tahapan pelaksanaannya, sesuai dengan hasil identifikasi potensi desa, (d) mengintegrasikan berbagai program yang akan dilaksanakan dalam suatu desa (wilayah) dengan tetap memperhatikan rancangan dan tahapan pelaksanaan yang telah disusun; dan (e) melakukan pendampingan dan penyediaan (supervisi) secara intensif terhadap pelaksanaan program atau proyek.

Pada wilayah pemberdayaan yang berbasis pertanian, ketersediaanya teknologi program, khususnya berbagai program dari lingkup Departemen Pertanian.

B. Saran Pembelajaran untuk Pelaksanaan PUAP

Pada tahun 2008, Departemen Pertanian akan melaksanakan program pembangunan pedesaan, yaitu Peningkatan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP). Program ini akan dilaksanakan di 10.000 desa di seluruh Indonesia. Program ini pada intinya merupakan upaya untuk memberdayakan masyarakat agar mampu menolong dirinya sendiri, melalui peningkatan kemampuannya untuk mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang usaha agribisnis di pedesaan. Di dalam program ini direncanakan disediakan dana Rp. 100 juta untuk setiap desa sebagai sumber modal usaha bagi para petani yang mengembangkan agribisnis di pedesaaan. Desain program ini merupakan kelanjutan, pendalaman, dan penyempurnaan dari program-program pembangunan serupa yang telah dilakukan.

Agar program PUAP dapat terlaksana dan berhasil dengan baik, faktor kunci keberhasilan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat yang telah diuraikan di atas (butir 4), hendaknya dapat diacu. Apabila langkah persiapan dan perencanaan telah dilakukan dengan baik, mengumpulkan dan menganalisis informasi dasar tentang potensi desa merupakan langkah berikutnya yang sangat penting; karena dari langkah ini akan diperoleh informasi potensi desa yang mempunyai prospek untuk dikembangkan. Terkait dengan langkah ini, upaya mensinergikan progam PUAP dengan berbagai program yang telah dan sedang dilakukan, menjadi perlu dilakukan. Dengan melakukan sinergi tersebut, penggalian informasi dasar tidak perlu dilakukan lagi (cukup dengan memanfaatkan data base yang telah ada), sehingga terjadi efisiensi dalam pelaksanaannya.

Dokumen terkait