• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN PERILAKU PENYIARAN TELEVISI INDONESIA

Jumat, jam 22.00 – 00.00

PEDOMAN PERILAKU PENYIARAN TELEVISI INDONESIA

A. Pedoman Perilaku Penyiaran

Perkembangan media massa di Indonesia setelah reformasi mengalami peningkatan yang tajam. Jumlah televisi, radio, surat kabar, majalah dan tabloid mengalami kenaikan yang tajam dari sisi jumlah termasuk media lokal. Terbitnya Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan UU No. 32 tahun 2002 merupakan buah nyata dari reformasi yang mengijinkan berbagai media massa untuk terbit atau mengudara. Maraknya perindustrian penyiaran di tanah air, sehingga diperlukan adanya sebuah peraturan untuk menyelenggarakan penyiaran dan menghasilkan kualitas siaran serta mengawasi penyelenggaraan penyiaran yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Maka dibuatlah sebuah peraturan perundang-undangan yang dimuat dalam buku Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) Standar Pedoman Siaran (SPS) yang disahkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) oleh lembaga negara independen pada tahun 2002.

P3SPS ditetapkan agar lembaga penyiaran dapat menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, kontrol, perangkat sosial dan pemersatu bangsa.

Standar program siaran ini sendiri diarahkan agar program siaran dapat menjunjung tinggi dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan negara kesatuan republik Indonesia.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembanga independen negara yang mengawasi, menetapkan dan mengatur penyiaran melalui P3SPS. KPI memiliki kewenangan menyusun dan mengawasi berbagai peraturan penyiaran yang menghubungkan antara lembaga penyiaran, pemerintah dan masyarakat. Kecenderungan adanya pelanggaran yang dibuat media televisi seolah tidak mengindahkan kaidah-kaidah yang telah di berlakukan oleh KPI melalui P3SPS. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir telah terjadi pelanggaran lebih dari 200 kasus pelanggaran yang di muat dalam situs Komisi Penyiaran Indonesia melalui website kpi.go.id yang menjadi bukti bahwa media televisi cenderung melakukan pelanggaran P3SPS

Sama halnya dengan Dewan Kehormatan Kode Etik PRSSNI broadcaster televisi pun membuat panduan dalam berperilaku bagi anggota-anggotanya.

Dalam bagian I Pendahuluan diyatakan bahwa :

Televisi swasta yang tergabung dalam Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) menyadari betul bahwa ada tiga hal pokok yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan jika ingin sukses dalam berbisnis yaitu produk yang baik, manajemen yang baik dan

ETIK PENYIARAN INDONESIA 47 kode etik. Ilmu dan teknologi dapat digunakan untuk mendapatkan produk yang baik.

Ilmu ekonomi dan teori manajemen dapat digunakan untuk menghasilkan manajemen yang baik. Namun dua hal itu saja belumlah cukup. Masih diperlukan satu hal lagi yaitu kode etik. Sebagai fenomena sosial, dunia bisnis tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai sosial masyarakatnya, termasuk didalamnya nilai-nilai-nilai-nilai moral

Beberapa manfaat pedoman perilaku, yaitu:

a. Pedoman perilaku dapat meningkatkan citra dan kredibilitas stasiun atau industri televisi karena telah menjadikan etika sebagai budaya kerja. Bagi industri televisi yang memiliki sumber daya manusia dalam jumlah yang besar, pedoman perilaku secara intern akan mengikat semua orang ke dalam standar etis yang sama.

b. Pedoman perilaku dapat membantu menghilangkan ketidakjelasan etika sehingga dapat terhindar dari ambiguitas moral yang merongrong kinerja stasiun atau industri televisi secara keseluruhan.

c. Pedoman perilaku dapat memperlihatkan bagaimana stasiun atau industri televisi mampu menanggung beban tanggung jawab sosialnya. Dalam konteks ini dapat dilihat bagaimana stasiun atau industri televisi swasta menciptakan kerangka moral yang benar.

d. Pedoman perilaku dapat menjadi sarana menseimbangkan dan mempertemukan kepentingan bisnis di satu pihak dan kepentingan tanggung jawab sosial di lain pihak.

e. Pedoman perilaku dapat menjadi salah satu sarana mengatur diri sendiri (self regulation) sehingga dapat menghindarkan campur tangan dari pihak lain.

Dalam program yang di tayangkan ATVSI menangani secara hati-hati kreatifitas program sehingga tidak sampai mengeksploitasi seksual dan pornografi bagi pemirsa.

Salah satu contoh adalah stasiun televisi Trans TV. Trans TV adalah stasiun televisi yang banyak memberikan program-program siaran, dan salah satu program Talk Show Kakek-Kakek Narsis yang dikenal dengan KKN. Talk Show KKN ini tayang perdana pada tanggal 26 september 2011 setiap hari dari Senin - Jum’at pukul 00.00 WIB. Program Talk Show ini hanya sekedar tayangan komedi yang berisi candaan penghibur namun berbuntut seksual, serta tayangan ini banyak menarik perhatian khalayak, khususnya pria dewasa.

Tayangan KKN talk show ini bahkan menjadi salah satu sajian menarik dari anak remaja hinggah ibu-ibu rumah tanggah juga sering menonton acara tersebut. Dalam program Talk

ETIK PENYIARAN INDONESIA 48 Show KKN ini sering menampilkan hal-hal yang berunsur pornografi dengan bintang tamu yang berpenampilan sexy dan perlakuan ketiga host pria yang berkarakter sebagai seorang Kakek-Kakek Narsis serta host perempuan yang sering membicarakan hal-hal yang berunsur pornografi. Bintang tamu di acara ini adalah para artis perempuan, yang berdandan cantik dan berpenampilan sensual.

Gambar 1.1. Gambar adegan host KKN dengan bintang tamu seksi

Dalam tayangan takhayul dan klenik anggota ATVSI (Asosiasi Televisi Swasta Indonesia) menangani tayangan takhayul dan atau klenik sehingga tidak sampai menimbulkan rasa takut berlebihan bagi pemirsa. Anggota ATVSI menghindari eksploitasi secara berlebihan tayangan takhayul dan klenik agar tidak terjadi upaya pengambilan manfaat yang berlebihan, melemahkan iman/menimbulkan unsur syirik serta dan pembodohan masyarakat.

Gambar 1.1. Gambar Program Menembus Mata Bathin di Stasiun Televisi ANTV

ETIK PENYIARAN INDONESIA 49 Menurut Pratiwi dalam (Nizomi, 2018) Banyaknya program penyiaran yang dikeluhkan masyarakat dan juga mendapat teguran KPI membuktikan jika kelayakan isi siaran di Indonesia sebenarnya masih relatif rendah. Permasalahan baru muncul karena meskipun teguran sudah dilayangkan, tayangan yang disediakan masih relatif sama tanpa perubahan yang cukup signifikan. Tayangan Pesbukers tersebut misalnya, dalam sebulan pertama penayangannya sudah memperoleh teguran KPI, dan kemudian sekarang kembali mendapat tegurun. Acara Pesbuker baru-baru ini mendapat teguran dan saksi dari KPI, teguran tersebut diberikan lantaran program “Pesbukers” kedapatan melakukan pelanggaran terhadap peraturan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI tahun 2012. Demikian ditegaskan KPI Pusat dalam surat teguran ke ANTV yang ditandatangani Ketua KPI Pusat, Yuliandre Darwis. Menurut keterangan Yuliandre dalam surat teguran, KPI Pusat menemukan pelanggaran pada program siaran

“Pesbukers” yang tayang pada tanggal 28 Februari 2018 pukul 16.27 WIB. Program siaran tersebut menampilkan seorang wanita (Eli Sugigi) yang berkata kasar “T**” kepada temannya. KPI Pusat menilai muatan tersebut tidak dapat ditampilkan karena memberikan pengaruh buruk terhadap anak-anak dan remaja. Jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas penghormatan terhadap norma kesopanan dan kesusilaan serta perlindungan anak-anak dan remaja,” kata Yuliandre. KPI Pusat memutuskan tayangan tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran KPI Pasal 9 dan Pasal 14 serta Standar Program Siaran KPI Pasal 9 dan Pasal 15 Ayat (1). Dalam kesempatan itu, KPI Pusat menekankan, ANTV agar menjadikan P3 dan SPS KPI tahun 2012 sebagai acuan utama dalam penayangan sebuah program siaran. (RG, 2018)

Gambar 3: Acara Pesbuker

ETIK PENYIARAN INDONESIA 50 Banyaknya program penyiaran yang dikeluhkan masyarakat dan juga mendapat teguran KPI membuktikan jika kelayakan isi siaran di Indonesia sebenarnya masih relatif rendah. KPI merupakan wujud peran serta masyarakat berfungsi mewadahi aspirasi serta mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran harus mengembangkan program-program kerja hingga akhir kerja dengan selalu memperhatikan tujuan yang diamanatkan Undang-undang Nomor 32 tahun 2002 Pasal 3: "Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertaqwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil, dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia".(RG, 2018)

Penyiaran, baik televisi dan radio, menurut UU No. 32 tahun 2002 Pasal 36 Tentang pelaksanaan siaran diarahkan untuk:

1) Isi siaran wajib mengandung informasi, pendidikan, hiburan, dan manfaat untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan, kekuatan bangsa, menjaga persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai agama dan budaya Indonesia.

2) Isi siaran dari jasa penyiaran televisi, yang diselenggarakan oleh Lembaga Penyiaran Swasta dan Lembaga Penyiaran Publik, wajib memuat sekurang-kurangnya 60% (enam puluh per seratus) mata acara yang berasal dari dalam negeri.

3) Isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran.

4) Isi siaran wajib dijaga netralitasnya dan tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu.

5) Isi siaran dilarang: a) bersifat fitnah, menghasut, menyesatkan dan/atau bohong; b) menonjolkan unsur kekerasan, cabul, perjudian, penyalah-gunaan narkotika dan obat terlarang; atau c) mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan.

6) Isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak

ETIK PENYIARAN INDONESIA 51 hubungan internasional (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran).

Adapun menurut Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia Nomor 01/P/Kpi/03/2012, tentang dasar dan tujuan tentang penyiaran ialah pedoman Perilaku Penyiaran memberi arah dan tujuan agar lembaga penyiaran sebgai berikut:

1. Menjunjung tinggi dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan negara kesatuan republik indonesia;

2. Meningkatkan kesadaran dan ketaatan terhadap hukum dan segenap peraturan perundang-undangan yang berlaku di indonesia;

3. Menghormati dan menjunjung tinggi norma dan nilai agama dan budaya bangsa yang multikultural;

4. Menghormati dan menjunjung tinggi etika profesi yang diakui oleh peraturan perundang-undangan;

5. Menghormati dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi;

6. Menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia;

7. Menghormati dan menjunjung tinggi hak dan kepentingan publik;

8. Menghormati dan menjunjung tinggi hak anak-anak dan remaja;

9. Menghormati dan menjunjung tinggi hak orang dan/atau kelompok masyarakat tertentu; dan

10. Menjunjung tinggi prinsip-prinsip jurnalistik (Pedoman Perilaku Penyiaran P3 Dan Standar Program Siaran SPS).

ETIK PENYIARAN INDONESIA 52 DAFTAR PUSTAKA

Ardan, R. (2019). Special Program. Retrieved from https://www.ardanradio.com/special-program/

Asrianti, S. dan chsan E. A. (2018). Ini Empat Program Siaran yang Nilainya di Bawah Standar.

Bertens, K. (2007). Etika. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Darwis, Y. (2018). Penyiaran Kita. Retrieved from

http://www.kpi.go.id/images/newsletter/2018_NLKPI_Maret_April.pdf

Djamal, H., & Fachruddin, A. (2011). Dasar Dasar Penyiaran. Jakarta: Prenadamedia Group.

Edukasi, S. (2019). Sapa Edu Sesi 1 ( Kak Anggi ). Retrieved from http://suaraedukasi.kemdikbud.go.id/program-acara/

Effendy, O. U. (2003). Ilmu, teori dan filsafat komunikasi (Cetakan Ke). Bandung: PT.

Citra Aditya Bakti.

KPI. (2012). Peraturan KPI.

Mufid, M. (2010). Komunikasi & Regulasi Penyiaran (cetakan ke). 2010: Kencana Perdana Media Group dan UIN Press.

Nizomi, K. (2018). LITERASI MEDIA (Analisis Isi Terhadap Tayangan Televisi Pesbukers). JIPI (Jurnal Ilmu Perpustakaan Dan Informasi), Vol.3 No.1.

RG. (2018). KPI Beri Sanksi “Pesbukers” ANTV. Retrieved March 5, 2019, from http://www.kpi.go.id/index.php/id/umum/38-dalam-negeri/34385-kpi-beri-sanksi-pesbukers-antv

Riswandi. (2013). Dasar Dasar Penyiaran (3rd ed.). Yogyakarta: Graha Ilmu.

Ruslan, R. (2001). Etika Kehumasan konsepsi & Aplikasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Ruslan, R. (2017). Mendesain LOGO (3rd editio). (3rd ed.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Soehoet, A. . H. (2002). Etika dan Kode Etik Komunikasi. Jakarta: IISIP.

ETIK PENYIARAN INDONESIA 53 Sugihardiyah, R. (2006). KPID: Tayangan Smack Down Termasuk Tindak Pidana.

Wibowo, F. (2011). Teknik Produksi Program Radio Siaran. Kartasura: Grasia.

ETIK PENYIARAN INDONESIA 54

Glosarium

1. Hasil perkembangan komunikasi yaitu Media salah satu produk pertama media massa bidang penyiaran yaitu radio, kemudian diikuti televisi. Beberapa istilah dibidang penyiaran di antaranya :

 Auditif : Dapat di dengar

 Programming : Pemrograman

 Broadcasting : Penyiaran

 Agent of change : Agen Perubahan

 The talk program : Program Perbincangan

 The talkshow program : Program Talkshow

 One-on-one-show : Bentuk perbincangan penyiar dan narasumber

 Panel discussion : Pewawancara sebagai moderator

 Call in show : Program perbincangan telepon dari pendengar

 News panel : Diskusi panel

 Newsmaker : Menjadi Pusat Perhatian

 Newsman. : Pembaca berita

ETIK PENYIARAN INDONESIA 55

Indeks A

Auditif : 7, 32

Agent of change : 7, 33

B

Broadcasting : 7, 32

C

Call in show : 8, 40

O

One-on-one-show : 8, 40

P

Panel discussion : 8, 40

Programming : 7,32

N

News panel : 8, 40

Newsmaker : 8, 40

T

The talk program : 8, 39 The talkshow program : 8, 39

ETIK PENYIARAN INDONESIA 56 PENULIS

Gan Gan Giantika, S.Sos.,M.M adalah dosen di Universitas Bina Sarana Informatika sejak bulan September 2008. Menyelesaikan jenjang pendidikan Strata Satu (S1) di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jakarta (IISIP) Jakarta tahun 2002, Fakultas Ilmu Komunikasi Jurusan Hubungan Masyarakat dan sudah menyelesaikan jenjang pendidikan Strata dua (S2) Magister Manajemen pada Universitas BSI Bandung tahun 2012. Selain aktif mengajar juga aktif sebagai moderator pada acara orientasi akademik dan seminar motivasi juga aktif sebagai pembicara seminar Kapita Selekta Kewarganegaraan di Universitas Bina Sarana Infomatika. Sebelum aktif di dunia pendidikan penulis bekerja pada bidang Marketing Pemasaran pada Perusahaan swasta dan Pengajar dalam bidang teknologi komputer.

Mareta Puri Rahastine, S.Sn, M.I.Kom wanita kelahiran 15 maret 1988 yang saat ini berprofesi sebagai dosen komunikasi di Universitas Bina Sarana Informatika. pendidikan yg telah ditempuh di Universitas Pasundan Bandung dengan jurusan Desain Komunikasi Visual ( DKV ) lulus pd tahun 2011 dan melanjutkan program pasca sarjana di Universitas Mercu Buana jurusan Komunikasi dg konsentrasi corporate and marketing communication dan lulus pd tahun 2015 lalu. Pengalan bekerja di internal communication di PT. Indosat, tbk pd tahun 2010 sampai 2011, CSR di PT. Jakarta Teknologi Utama Motor ( sinarmas group ) dr tahun 2011 sampai 2017 dan mengajar di UBSI mulai 2012 sampai saat ini.

Iin Soraya, S. Sos, MM lahir di Jakarta 19 September 1985 adalah seorang Dosen Program Studi Periklanan di Universitas Bina Sarana Informatika. Memulai karirnya sebagai dosen di Bina Sarana Informatika sejak 2010.

Penulis menyelesaikan studi Strata Satu (S1) pada tahun 2007 dijurusan Periklanan Fakultas Komunikasi di IISIP Jakarta. Penulis menyelesaikan jenjang pendidikan Strata Dua (S2) Magister Manajemen di Universitas Bina Sarana Informatika Bandung pada tahun 2012. Penulis juga saat ini tergabung mengajar di Universitas Satya Negara dan Universitas Terbuka. Penulis pernah menjadi Copywriting di Agensi Periklanan Trias Outdoor dan pernah menjado Analist di beberapa Bank di Indonesia, sejak tahun 2010 sampai sekarang penulis fokus di dunia pendidikan.

Dokumen terkait