Nama : TL
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 27 tahun
Waktu : 10.35
Hari/Tanggal : Senin, 23 Juli 2018 Tempat : Di gereja
Agama : Kristen
Jabatan : Anggota Karang Taruna Hasil Wawancara
Pewawancara : Apa yang anda ketahui mengenai toleransi?
Narasumber : Seperti sikap saling menghargai, saling menghormati saling memahami. Jadi meskipun aku dan kamu beda tapi pasti kita ada satu hal yang sama. tidak menjadi hal yang kayak karena beda aku gak mau gitu tidak, karena toleransi kita jadi satu, dan saling memahami.
Pewawancara : Apakah anda menerima perbedaan atau keragaman tersebut? Narasumber : tentu saja saya menerima
Pewawancara : Apa alasannya?
Narasumber : alasannya… mungkin karena beragam itu asyik ya mbak.
21
seseorang bisa bersikap dewasa dan mampu mengurasi sikap egois ya mbak.
Pewawancara : Apa wujud menerima keragaman tersebut?
Narasumber : bersikap sewajarnya jika dalam suatu rapat kita mengalami perbedaan pendapat.
Pewawancara : Bagaimana sikap anda terhadap teman yang berbeda agama? Narasumber : Fine fine aja sih,… saya itu Indonesia, Indonesia ini lahir dengan
keragaman budaya, agama, begitu ragam, pancasila lahir dengan perbedaan saya itu bhinneka tunggal ika, dan itu menghargai semua. Kalau saya menganggap punya saya lebih baik atau saya harus membuat orang lain sama dengan saya, berarti saya bukan Indonesia. Bahkan jika membutuhkan pertolongan jika bisa pasti saya bantu, di agama saya diajarkan “kasihilah musuhmu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri” musuh aja suruh mengasihi lhoo… apalagi tetangga, teman, dll. Begitu pula jika mereka membutuhkan bantuan, karena saya tidak bisa hidup sendiri dan dilingkungan sayapun penuh dengan agama yang lain. Jadi saya merenungkan ”ketika saya tidak bisa sendiri saya butuh orang lain, saya akan melakukan hal yang sama pada orang lain. Saya butuh dibantu orang, berarti saya juga harus membantu orang itu.”
Pewawancara : Bagaimana sikap anda jika dalam suatu kegiatan/lomba anda mendapat satu kelompok dengan orang yang berbeda agama dengan anda?
Narasumber : Ya gakpapa, justru dengan perbedaan itu kita akan mengenal banyak hal yang baru, kalau kita membuka pikiran kita secara positif yang kalau menurut saya pendapat orang atau kelompok yang berbeda dengan kita tidak hanya agama, bisa berbeda suku, keyakinan ataupun ketika kita berbeda kita akan semakin banyak ilmu yang kita dapat. Bahkan kita juga sering berbeda pendapat dengan orang lain. Tapi itu tidak masalah, kita harus menemukan titik yang sama sehingga sama-sam adil. Bukan pendapat saya yang harus diterima tapi bukan pula pendapat mereka yang lebih diterima, tapi kita harus mencari jalan tengah yang terbaik, begitu menurut saya.
Pewawancara : Bagaimana pandangan mbk TL mengenai hak memeluk agama? Narasumber : Setiap orang mempunyai hak, dan itu tidak apa-apa… gimana
ya.. agama itu dari hati masing-masing, tidak bisa dipaksa tidak bisa di doktrin orang itu sudah yakin dengan satu, seperti indonesiakan ada 5 agama yang diakui dan banyak kepercayaan, dan ketika orang itu sudah yakin dengan satu agama itu, ya… orang lain tidak akan mengganggu, dan tidak akan mempengaruhi ketika orang sudah bilang beriman.
Pewawancara : Pernahkan anda diajak untuk masuk keagama lain dari yang anda yakini sekarang?
23
Narasumber : Kebetulan saya belum pernah dan tidak akan pernah, mungkin… Tidak pernah sih, sayakan punya banyak teman yang berbeda agama, ada yang islam, budha, ada katholik, Kristen, saya kristen. Pewawancara : Dan sebaliknya pernahkan anda mengajak teman untuk masuk
keagama yang kamu yakini?
Narasumber : Ummm,,, Pernah… dulu pernah satu kali waktu masih SD ngajak teman saya ke gereja dan percaya sama tuhan Yesus, meskipun anak itu lama tidak ke gereja menurut saya jika mereka sudah percaya dengan tuhan. Ya sudah…. Gitu. tapi anaknya sekarang sudah meninggal karena sakit.
Pewawancara : Selama hidup di Desa Nyamat ini bentuk toleransi yang mbak temui itu seperti apa?
Narasumber : Karena saya tumbuh disini cukup lama, ketika muslim seperti idul fitri, idul adha atau seperti perayaan agama merekapun orang-orang nasrani sebagian dari idul adha, sebagaian dari orang nasrani itu ada yang dapat kebagian daging qurban,. Itu termasuk toleransi menurut saya termasuk keragaman yang baik. Gereja ini misalnya kami meratakan natal, kami juga membagi bingkisan natal untuk tetangga kanan kiri kami. Tapi sekarang saya tidak tahu karena sudah agak lama tidak disini. Terus kemudian ada orang yang hajatan misalnya pernikahan orang Kristen atau islam, tidak ada perbedaan menurut saya orang kan sama menolong dan membantu dan yang Kristen membantu yang Islam dan yang islam membantu
yang Kristen. Dan saling menolong, kalau menurut saya disini tidak terlalu banyak sekat, ketika beraktifitas seperti karang taruna atau dusun begitu sayat tidak melihat sekat sepertinya saya Kristen dan missal kamu budha atau kamu hindu.
Karena di Nyamat sendiri tumbuh dari awalnya memang dominan dari 2 agama yang berbeda, ibaratnya satu keluarga besar yang sebagian Islam, dan sebagian Kristen tapi dalam satu keluarga besar. Banyaknya orang yang asli orang dari Nyamat gak ada bedanya, ya agamamu agamamu agamaku agamaku, tapi kita berjalan bersama dalam konteks desa, dusun, keragaman kayak gitu.
Pewawancara : berarti keluarga merupakan faktor timbulnya toleransi ya mbak? Narasumber :Ya… tentu saja
Pewawancara :Selain itu?
Narasumber :Yang kedua pemerintahan…. Pemerintah di nyamat ini hidrogen perangkat desa yang Islam dan nasrani jadi ketika ada dua agama itu tidak lebioh menonjolkan diri, mereka berjalan tidak beriringan dan kebetulan saya melihat dari saya melihat kelurah disini mementingkan agamanya dan kalau disuruh keagama yang satu ini tidak bisa disini kalau agamamis menurut saya terlalu membawa agamanya malah rakyatnya sendiri yang tidak mau. Dulu di Nyamat juga ada aliran yang namanya pangestu.
25
Almarhum kakek nenek saya dulu pangestu dan pangestu itu tidak masuk di agama tapi merupakan aliran kepercayaan atau kejawen sampai saat ini masih, tapi tidak sebanyak dulu, dia berdoanya sang pangeran dan salah satu itu karena dulu itu lurah pertama Pak Yoso desa pertama itu pangestu,, jadi mereka punya agama KTPnya islam tapi mereka juga punya kepercayaan karena di indonesia KTP kan ada agama dan harus diisi islam, Kristen, budha,dll. Jadi tidak aliran, ada agama aliran akhirnya ada yang ktpnya ditulis islam, Kristen, tapi ikut aliran pangestu. Karena itu orang tua yang masih mengikuti aliran pangestu tidak menuntut anaknya untuk masuk di agama tertentu. Mereka biasane njar ke gitu mbak.
Pewawancara :Apakah orang Islam sudah menecerminkan sikap toleransi? Narasumber : Kalau disini ya…
Tapi kalau sudah terkontaminasi dengan agama lain dan islam kan alirannya juga banyak, ada NU, Muhammadiyah, MTA, dll. tapi saya kurang tahu apa saja, jadi tiodak boleh dipandang islam itu bagaimana, seperti yangs aya bilang tadi jika orang itu tumbuh besar di Nyamat toleransi akan tinggi tetapi kalau orang itu pendatang atau mendapat pasangan dari luar itu ya… maaf mereka itu kurang toleransi,
kalau gak salah muslim dibagi-bagi itu kayak misalnya beberapa orang muslim gak usah jauh-jauhlah Om saya atau bapaknya Trio dari Solo tapi asli nyamat bertumbuh dan bekerja di Solo tapi
muslimnya menurut saya alirannyakan banyak, kayak muhammmadiyah, nu dll. Tapi kok beda sama yang dianut masyarat sini pada umumnya. Saya juga punya temen guru muhammadiyah orang suruh, saya tahu gimana dia beribadah, bagaimana orangnya, karakter, dsb. Karena sudah bertahun-tahun bekerja bersama, orang yang kayak om saya kok l;ai?
Saya juga kurang tahu, mungkin karena doktrin ajaran pemimpinnya masing-masing.
Kemudian ada beberapa yang punya aliran lain , lagi kayak mas Put, mas Joko itukan lain maksudnya beda sama yang nasionalis. Karena saya lihat setahu saya sholat di rumah bisa, kalau mereka kayaknya harus di masjid, saya tidak tahu, saya hanya melihat dari setahu saya katanya bapak-bapak, mereka tidak mau kenduren, kalau menurut saya karena kita tumbuh di Indonesia dengan budaya ya kenduren itu budaya bukan aagama menurut saya harus tetap menjaga budaya kita. Karena seiap orang punya keyakinan masing masing sih…
Jadi tidak bisa dan tidak boleh dipaksa. Nanti suatu saat mereka pasti akan tahu atau kita akan tahu kenapa mereka begitu.
Pewawancara : apa yang menjadi faktor pendukung terciptanya toleransi di Desa Nyamat ini?
Narasumber :Keluaga, semua teman saya toleransi, tuhan baikya… selama ini lingkungan saya semuanya toleransi, sejak saya lahir keluarga jogja
27
bercadar, dulu ketika nikah kita juga datang kesana, ketika kami diundang kamijugadatang, jadikeluarga saya macam-macam, ada yang katholik, Kristen, muslim-muslimnya pun macam-macam ada yang MTA, bercadar ada yang KTP saja
Pewawancara :Apa yang menjadi faktor penghambat terlaksananya implementasi nilai-nilai toleransi pemuda Desa Nyamat?
Narasumber : ketika ada aliran yang tidak mau membuka diri. Jadikalau mereka tidak membuka diri saya juga tidak akan mau masuk. Saya tidak ingin mencoba-coba ya… saya takutnya karena agama kami berbeda nanti kalau mendekat ya.. nek dia merasa berdosa, tapi kalaiu mereka merasa berdosa sayakan juga merasa berdosa. Rasanya ketika mereka membuat benteng sendiri saya coba untukt idak melewatinya, jika ketika saya bertemu hanya hai… hallo… kalau memembuka diri saya akan fine dan baik-baik saja, saya yakin mereka punya sudut pandang sendiri tidak akan sama dan tidak akan bisa dipaksa
PEDOMAN WAWANCARA