• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pejabat Desa

Dalam dokumen BAB III INTERPRETASI HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 30-34)

Y : berarti sering juga ya warga yang mempunyai masalah, lalu masalah itu dibawa ke balai desa?

R : ya sering mas, seperti masalah tanah. Lalu seperti kemarin hari itu, disini kan kaya akan sumber air mas, terus kan yang namanya sumber air itu berada diluar wilayah kami (balai desa Wiyurejo) tapi bagaimanapun yang namanya sumber air itu kan dikuasai Negara. Jadi siapapun yang menggunakan kan silahkan saja asal ada ijin dari pihak terkait. Nah disini kasusnya air tersebut diambil oleh PDAM. Padahal itu kan untuk Kop Sae kemudian masyarakat Pujon. Ya kita tidak akan rakus, sebetulnya kita sudah cukup dengan air. Kan PDAM air untuk dijual, mereka punya rencana untuk menambah debit air. Tapi mereka mengatakan kepada warga untuk memperbaiki pipa paralon. Yang ditakutkan masyarakat terutama masyarakat pengguna air irigasi itu kekurangan air. Jadi pada saat mau dipasang, para masyarakat demo ke PDAM, sehingga pemasangan itu tidak jadi dilakukan. Ini salah satu contoh dari konflik=konflik yang pernah ada.

Y : lalu selama ini, apa ada hambatan bapak selama menjabat menjadi sekretaris desa? Kan bapak sudah menjabat selama 18 tahun, apa ada warga yang iri dengan hal ini?

R : kalau soal pergantian sekretaris desa itu para warga tidak mempersoalkan masalah masanya. Cuman masyarakat selama ini kalau yang saya tau ya sejak saya diangkat sebagai sekretaris desa tahun 1993 itu diawal periodenya pak Jiwo pada saat menjabat kepala desa berjalan normal saja. Namun seiring dengan berjalannya waktu di periode kedua ada factor-faktor yang membuat perubahan sikap dari bapak kepala desa. Namanya korps perangkat desa kan hanya beberapa orang, kan kita tau orang itu kan macem-macem, ada orang

Kelompok 7 Desa Wiyurejo 31 yang cari amannya saja. Ada seseorang yang tidak suka dengan jabatan saya yang menghasut kepala desa dengan opini-opini yang negative. Pada saat itu kepala desa menyikapinya kurang bijak, ya itu tadi namanya orang kan macem-macem, namanya kepala desa juga manusia, ada keterbatasan, tidak sempurna. Pada akhirnya kepala desa itu mengambil sikap yang malah merugikan orang lain, bahkan merugikan umum juga. Ya itu kita kembali lagi, manusia itu tidak ada yang sempurna. Walaupun toh yang namanya kepala desa, diapun juga manusia. Ya kembali lagi ke factor manusia itu mas, kita tidak tau jika sekarang mereka teman, besok menjadi lawan. Imbasnya pada waktu perjalanan saya sebagai sekretaris desa memasuki periode ke-2, masyarakat kurang percaya kepada saya, karena saya dinilai tidak bisa bekerja sehingga ada beberapa kelompok-kelompok yang menghendaki saya turun. Mereka juga tidak salah, memang pada waktu itu pembagian kerjanya hanya terpusat pada kepala desa. Saya tidak diberi kewenangan apapun oleh kepala desa. Kepala desa pada saat itu arogan mas, aku kepala desane mau opo. Akhirnya saya bertahan, dengan prinsip saya begini, saya tidak ambil pusing dengan semua itu, saya berpikir begini, saya tidak ada waktu bekerja di kantor sebagai pelayan masyarakat, apalagi kantor ini pada waktu dulu kurang berfungsi mas, jadi perangkat desa itu bekerja di rumah masing-masing. Kalau di kantor kan sepi, gak ada pekerjaan, alat-alat kantor juga tidak ada, dan juga pada waktu itu masyarakat masih senang ke rumah perangkat desa untuk mengurus sesuatu. Dengan berjalannya waktu juga, saya isi jam-jam saya daripada nganggur tidak bisa bekerja dengan efektif, saya manfaatkan waktu untuk bertani. Jadi keseharian saya dipandang masyarakat terkesan santai, kok nyangkul ae gak tau nang kantor. Sehingga masyarakat mempunyai persepsi bahwa saya tidak bisa bekerja. Alasan sebenarnya ya itu tadi mas, ada pembonsaian pembagian kerja dari kepala desa. Terus dengan berjalannya waktu. Walaupun saya gak di kantor mas, namanya perangkat itu kan tetap kita pelayanan dimanapun, termasuk di rumah. Jadi fungsi sebagai perangkat

Kelompok 7 Desa Wiyurejo 32 yang menjadi pelayan, saya melayani warga yang memerlukan bantuan atau pelayanan di rumah saya.

Y : terakhir pak, bapak tadi mengakatan bahwa bapak lebih mementingkan kepuasan dalam bekerja. Apakah itu berarti bahwa bapak mengesampingkan pendapatan bapak?

R : kadang kan gini mas, sebagai orang yang pada waktu itu saya direkrut menjadi sekretaris desa dengan kondisi ekonomi Wiyurejo serta kondisi ekonomi keluarga saya. Saya anggap saya masuk kesini (balai desa sebagai sekretaris) sebagai peluang awal lah. Karena resikonya orang kuliah di desa seperti saya ini ya, lain dengan kota, kalau di desa ini sekolah apalagi kuliah, wuaduh, tantangannya sudah luar biasa mas. Jangan kuliah, SMA saja, wih dukur tenan to sekolah e, gawe opo. Masyarakat itu begitu, apalagi kuliah. Waktu itu saya itu mungkin di Wiyurejo itu jadi sorotan mungkin karena yang termasuk orang miskin tapi kuliah itu mungkin Cuma saya. Sehingga sorotan masyarakat itu macem-macem, keluargane ngono ae kuliah. Tapi saya gini mas saya punya pemikiran yang lain dari orang-orang itu, saya kuliah bukan berarti saya mencari pekerjaan, tidak itu mas. Saya hanya ingin, istilahnya apa ya, usia di saat saya SMA ini mau ngapain. Saya itu ingin menimba ilmu sebisa mungkin lah, setinggi mungkin sesuai dengan kemampuan saya. Jika perkuliahan saya diukur dari ekonomi bukan logika,rasanya gak mungkin. Tapi saya yakin saja, saya pasti bisa. Terus gini, saya jalani kuliah sampai terakhir, sampai KKN, kemudian saya mendapat tawaran. Kenapa saya ambil saja tawaran menjadi sekretaris desa itu, karena persepsi masyarakat orang itu kalau kuliah sudah pasti dapat pekerjaan yang layak. Terus apalagi kalau sudah kuliah lalu nganggur, masyarakat lebih dingin. Jadi saya piker saya ambil saja, tawaran tidak akan dating untuk kedua kalinya. Disamping itu kita mempunyai penghasilan, disamping itu jika ada hal-hal yang kita dapatkan

Kelompok 7 Desa Wiyurejo 33 dari pekerjaan ini kita nikmati dan syukuri sebagai berkah dari Yang Maha Kuasa, berapapun serta apapun bentuknya.

2. Tokoh agama / Kyai

Lalu dengan tiba-tiba ada warga sekitar yang mengunjungi rumah pak Sarwani. Orang tadi bermaksud meminta ijin karena akan mengadakan pengajian di sekitar rumah pak Sarwani dan mengundang pak Sarwani sebagai pemimpin pengajian. Namun pak Sarwani meminta maaf kepada orang tadi karena tidak bisa menjadi pemimpin pengajian dikarenakan hari itu juga setelah Maghrib beliau harus memimpin pengajian di Desa Ngroto. Dari situlah saya bisa menyimpulkan bahwa keberadaan pak Sarwini sebagai kyai cukup disegani. Lalu saya melanjutkan wawancara saya.

3. PKK

R : Sejak kapan bu jadi ketua PKK ?

A : Seiring bapak menjadi kepala desa?

R : Sejak kapan itu bu?

A : Sejak tahun 2007 mas

R : Itu dipilih atau gimana bu?

A : Jadi ketua penggerak PKK-nya ngikut bapak, karena bapak jadi kepala desa secara otomatis menjadi ketua PKK

Kelompok 7 Desa Wiyurejo 34 Rumusan Masalah Kelima :

Dalam dokumen BAB III INTERPRETASI HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 30-34)

Dokumen terkait