A. APLIKASI BAGAN KENDALI PROSES 2. Pekerja Pabrik Pekerja membawa peranan penting pada produk yang dihasilkan. Motivasi, konsentrasi dan semangat kerja harus ditingkatkan, karena akan sangat berpengaruh terhadap pekerjaannya dan disiplin kerja mereka. Kedisiplinan pekerja harus diperhatikan. Apakah mereka telah mentaati SSOP yang telah dibuat dan dikeluarkan oleh perusahaan. Kedisiplinan pekerja ini dipengaruhi oleh motivasi dan kebiasaan. Motivasi pekerja dapat ditingkatkan dengan cara memberikan suatu penghargaan serta bonus untuk pekerja yang berprestasi. Masalah kebiasaan sulit untuk diubah. Hal ini hanya bisa diatur oleh peraturan- peraturan yang dibuat oleh manajemen perusahaan dan diharapkan para pekerja mengerti dan mentaati peraturan tersebut. Pihak manajemen perusahaan harus dapat mengendalikan para pekerja dengan memberikan sangsi jika ada yang melanggar peraturan. Pengetahuan pekerja dapat ditentukan dari lama bekerja, latihan yang diberikan, dan tingkat pendidikannya. Semakin lama ia bekerja, semakin banyak pengalamannya dan semakin terampil dalam pekerjaannya. Pendidikan yang cukup akan membantu pekerja untuk cepat memahami segala hal yang menyangkut pekerjaannya, sehingga memudahkan dalam penanganan masalah-masalah yang terjadi. Berikut ini merupakan data hasil dari kuesioner yang dibagikan kepada responden. Data ini digunakan untuk memperkuat faktor-faktor internal perusahaan yang dapat menjadi peluang penyebab tingginya residu antibiotik chloramphenicol. Responden yang mengisi kuesioner adalah para pekerja di PT. Mina Global Mandiri yang bekerja pada bagian sortir, mixing dan filling. Jumlah responden sebanyak 40 orang. Tujuan dari survei ini adalah melihat tingkat kedisiplinan dan pengetahuan responden yang berkaitan dengan residu chloramphenicol. Penelitian survei ini difokuskan pada tingkat pendidikan responden, unit produksi tempat responden bekerja, tingkat pengetahuan tentang SSOP, tingkat disiplin, dan tingkat pengetahuan tentang antibiotik Chloramphenicol yang nantinya akan dideskripsikan menggunakan tabulasi silang. Tingkat pendidikan responden dibagi menjadi 4 kategori yaitu SD, SMP, SMA, dan Diploma. Unit produksi dibagi menjadi 4 kategori yaitu sortir, mixing, filling, dan lain-lain. Unit produksi lain-lain merupakan unit produksi selain sortir, mixing, dan filling. Untuk tingkat pengetahuan responden tentang SSOP dibagi menjadi 3 kategori yaitu tinggi jika responden memiliki nilai 17-21, sedang jika memiliki nilai 12-16, dan rendah jika memiliki nilai 7-11. Untuk tingkat tidak disiplin dibagi menjadi 3 kategori yaitu disiplin jika responden memiliki nilai 13-30, kurang disiplin jika memiliki nilai 31-47, dan disiplin jika memiliki nilai 48-65. Untuk tingkat pengetahuan responden tentang antibiotik chloramphenicol dibagi menjadi 3 kategori yaitu tinggi jika responden memiliki nilai 17-21, sedang jika memiliki nilai 12-16, dan rendah jika memiliki nilai 7-11. Tabel 2 memperlihatkan hasil survei bahwa responden yang menyatakan memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang SSOP adalah 1 responden dengan tingkat pendidikan SD, 19 responden dengan tingkat pendidikan SMP, 16 responden dengan tingkat pendidikan SMA, dan 1 responden dengan tingkat pendidikan Diploma. Jumlah responden yang menyatakan memiliki tingkat pengetahuan sedang tentang SSOP adalah 3 responden dengan tingkat pendidikan SMA. Tabel 2. Tabulasi silang tingkat pendidikan responden dengan tingkat pengetahuan tentang SSOP Tingkat pendidikan responden di PT.MGM Jumlah responden yang menyatakan memiliki pengetahuan tentang SSOP Total Tinggi Sedang SD 1 0 1 SMP 19 0 19 SMA 16 3 19 DIPLOMA 1 0 1 Total 37 3 40 Persentase 92.5 % 7.5 % Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden menyatakan memiliki pengetahuan tinggi tentang SSOP, baik responden dengan tingkat pendidikan SD, SMP, SMA dan Diploma. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sebagian besar (92,5%) karyawan menganggap dirinya mengerti tentang SSOP, sehingga akan melaksanakan SSOP tersebut dengan baik. Karyawan yang menjalani SSOP dengan baik dan benar maka akan mengurangi kemungkinan terkontaminasinya produk terhadap zat atau benda yang tidak diinginkan. Tabel 3 memperlihatkan hasil survei bahwa responden yang menyatakan memiliki tingkat disiplin baik adalah 1 responden dengan tingkat pendidikan SD, 19 responden dengan tingkat pendidikan SMP, 18 responden dengan tingkat pendidikan SMA, dan 1 responden dengan tingkat pendidikan Diploma. Jumlah responden yang menyatakan dirinya kurang disiplin adalah 1 responden tingkat pendidikan SMA. Tabel 3. Tabulasi silang tingkat pendidikan responden dengan tingkat disiplin responden Tingkat pendidikan responden di PT.MGM Jumlah responden berdasarkan tingkat disiplin Total Disiplin Kurang disiplin SD 1 0 1 SMP 19 0 19 SMA 18 1 19 DIPLOMA 1 0 1 Total 39 1 40 Persentase 97.5 % 2.5 % Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas karyawan (97,5%) dari berbagai tingkat pendidikan merasa telah memiliki disiplin baik dalam melakukan pekerjaannya. Dapat diasumsikan bahwa dengan tingkat disiplin yang baik pada karyawan dapat mengurangi kemungkinan kontaminasi yang dilakukan oleh pekerja. Tabel 4 memperlihatkan hasil survey bahwa responden yang menyatakan memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang antibiotik chloramphenicol adalah 14 responden dengan tingkat pendidikan SMP, 15 responden dengan tingkat pendidikan SMA, 1 responden dengan tingkat pendidikan Diploma. Jumlah responden yang menyatakan memiliki tingkat pengetahuan sedang tentang antibiotik chloramphenicol adalah 1 responden dengan tingkat pendidikan SD, 5 responden dengan tingkat pendidikan SMP, dan 3 responden dengan tingkat pendidikan SMA. Jumlah responden yang menyatakan memiliki tingkat pengetahuan rendah adalah 1 responden dengan tingkat pendidikan SMA. Tabel 4. Tabulasi silang tingkat pendidikan responden dengan tingkat pengetahuan tentang antibiotik chloramphenicol. Tingkat pendidikan responden di PT.MGM Jumlah responden yang menyatakan memiliki pengetahuan tentang antibiotik chloramphenicol Total Tinggi Sedang Rendah SD 0 1 0 1 SMP 14 5 0 19 SMA 15 3 1 19 DIPLOMA 1 0 0 1 Total 30 9 1 40 Presentase 75 % 22.5 % 2.5 % Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden menyatakan memiliki pengetahuan tinggi tentang antibiotik chloramphenicol, baik responden dengan tingkat pendidikan SD, SMP, SMA dan Diploma. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sebagian besar (75%) karyawan menganggap dirinya mengerti tentang apa yang dimaksud dengan antibiotik chloramphenicol. Tabel 5 memperlihatkan hasil survei bahwa responden yang menyatakan memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang SSOP adalah 19 responden dari unit produksi sortir, 12 responden dari unit produksi mixing, 3 responden dari unit produksi filling, dan 3 responden dari unit produksi lain-lain. Jumlah responden yang menyatakan memiliki tingkat pengetahuan sedang tentang SSOP adalah 2 responden dari unit produksi mixing, dan 1 responden dari unit produksi lain-lain. Tabel 5. Tabulasi silang unit produksi tempat responden bekerja dengan kategori tingkat pengetahuan responden tentang SSOP Unit produksi tempat karyawan bekerja Jumlah responden yang menyatakan memiliki pengetahuan tentang SSOP Total Tinggi Sedang Sortir 19 0 19 Mixing 12 2 14 Filling 3 0 3 Dll 3 1 4 Total 37 3 40 Presentase 92.5 % 7.5 % Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden (92,5%) dari segala unit produksi menyatakan memiliki pengetahuan tinggi tentang SSOP. Oleh karena itu dapat diasumsikan sebagian besar karyawan melaksanakan SSOP tersebut dengan baik. Sehingga jika SSOP telah dilaksanakan dengan baik maka kemungkinan peluang terkontaminasinya produk dari residu chloramphenicol akan lebih kecil. Tabel 6 memperlihatkan hasil survei bahwa responden yang menyatakan memiliki tingkat disiplin baik adalah 19 responden dari unit produksi sortir, 14 responden dari unit produksi mixing, 2 responden dari unit produksi filling, dan 4 responden dari unit produksi lain-lain. Jumlah responden yang menyatakan dirinya kurang disiplin adalah 1 responden dari unit produksi filling. Tabel 6. Tabulasi silang unit produksi tempat responden bekerja dengan kategori tingkat disiplin responden Unit produksi tempat karyawan bekerja Jumlah responden berdasarkan tingkat disiplin Total Disiplin Kurang disiplin Sortir 19 0 19 Mixing 14 0 14 Filling 2 1 3 Dll 4 0 4 Total 39 1 40 Presentase 97.5 % 2.5 % Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas karyawan (97,5%) dari berbagai unit produksi merasa memiliki tingkat disiplin yang baik dalam melakukan pekerjaannya. Dapat diasumsikan bahwa dengan tingkat disiplin yang baik, karyawan dapat mengurangi kemungkinan kontaminasi yang dilakukan oleh pekerja. Tabel 7 memperlihatkan hasil survey bahwa responden yang menyatakan memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang antibiotik chloromphenicol adalah 17 responden dari unit produksi sortir, 10 responden dari unit produksi mixing, 2 responden dari unit produksi filling, dan 1 responden dari unit produksi lain-lain. Jumlah responden yang menyatakan memiliki tingkat pengetahuan sedang tentang antibiotik chloromphenicol adalah 2 responden dari unit produksi sortir, 3 responden dari unit produksi mixing, 1 responden dari unit produksi filling, dan 3 responden dari unit produksi lain-lain. Jumlah responden yang menyatakan memiliki tingkat pengetahuan rendah tentang antibiotik chloromphenicol adalah 1 dari unit produksi mixing. Tabel 7. Tabulasi silang unit produksi tempat responden bekerja dengan kategori tingkat pengetahuan responden tentang antibiotik chloramphenicol Unit produksi tempat karyawan bekerja Jumlah responden yang menyatakan memiliki pengetahuan tentang antibiotik chloramphenicol Total Tinggi Sedang Rendah Sortir 17 2 0 19 Mixing 10 3 1 14 Filling 2 1 0 3 Dll 1 3 0 4 Total 30 9 1 40 Presentase 75 % 22.5 % 2.5 % Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden dari segala unit produksi menyatakan memiliki tingkat pengetahuan tinggi tentang antibiotik chloramphenicol. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sebagian besar (75%) responden dari semua unit produksi menganggap dirinya mengerti tentang apa yang dimaksud dengan antibiotik chloramphenicol. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa dilihat dari pendidikan dan unit produksi, mayoritas responden telah memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi tentang SSOP. Dapat dikatakan bahwa responden telah mengerti, memahami SSOP secara baik dan benar. Menurut Winarno (2004), penerapan SSOP yang baik dan benar akan menjaga keamanan pangan dan mutu pada produk yang dihasilkan oleh industri pangan. Penerapan SSOP yang baik dan benar juga merupakan salah satu persyaratan untuk mendapatkan sertifikasi HACCP (Hazzard Analysis Critical Control Points) yang notabene harus dimiliki oleh setiap industri pangan hasil laut (seafood) untuk produk ekspor. Berdasarkan tingkat pendidikan dan unit produksi, mayoritas responden telah memiliki tingkat displin yang baik dengan melaksanakan SSOP yang berlaku di perusahaan. Untuk tingkat pengetahuan responden tentang chloramphenicol, mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan tentang chloramphenicol tinggi. Akan tetapi dari segi pengetahuan terhadap antibiotik sebenarnya mereka tidak begitu paham benar apa itu chloramphenicol dan bahaya- bahayanya. Hal ini dilihat dari jawaban yang diberikan melalui pertanyaan terbuka pada kuisioner seperti pada pertanyaan D nomor 3 pada Lampiran 4, banyak responden yang menjawab akibat residu chloramphenicol adalah dapat menyebabkan kanker dan daya tahan tubuh terganggu. Menurut Saparinto (2002), chloramphenicol dapat dikhawatirkan menyebabkan kematian jika dikonsumsi oleh manusia pada penderita anemia yang berlanjut ke leukimia (aplastic anemia). Dengan demikian diperlukan sosialisasi yang lebih mendalam pada pekerja tentang pengetahuan akan pentingnya meminimalisasikan residu chloramphenicol pada daging rajungan. Berdasarkan hasil kuesioner yang disajikan pada Tabel 3, Tabel 4, Tabel 5, Tabel 6 dan Tabel 7 dapat disimpulkan bahwa pada umumnya para pekerja pabrik menjalankan pekerjaannya dengan memperhatikan aspek sanitas karena mereka paham tentang SSOP dan disiplin dalam bekerja. Para pekerja pabrik pada umumnya juga paham dengan antibiotik chloramphenicol dan bahayanya jika terdapat pada daging rajungan. Dengan demikian kemungkinan penyebab terjadinya kontaminasi antibiotik chloramphenicol pada daging rajungan adalah pekerja pada pemasok bahan baku. Hal ini dapat dilihat dari data hasil analisis daging rajungan yang dipasok suplier (Tabel 8). Dalam dokumen Aplikasi Bagan Kendali Proses Berdasarkan Tingkat Residu Chloramphecinol pada Daging Rajungan di PT. Mina Global Mandiri, Purwakarta (Halaman 68-75)