TINJAUAN PUSTAKA
E. PEKERJA RUMAHAN DI NEGARA LAIN
Pekerja Rumahan juga terdapat di berbagai negara yang menerapkan praktek kerja rumahan seperti apa yang terjadi di Indonesia. Ada banyak penelitian yang memaparkan mengenai praktek POS dan dampaknya bagi kesejahteraan pekerja, seperti terlihat pada paparan berikut ini.
1. Pekerja Rumahan di Filipina dan Thailand
Dalam bukunya yang dibuat bekerjasama dengan World Bank mengenai Organitational Characteristic of Rural Textile Industries in East Asia, Hayami (1998) melakukan penelitian terhadap industri garmen pedesaan yang menggunakan model Putting Out System di dua negara, yaitu Filipina dan Thailand. Hasil penelitiannya tersebut menemukan bahwa alasan utama perusahaan garmen di pusat kota mengadopsi model Putting Out System, meskipun kelemahan yang melekat di dalamnya terkait pemeliharaan standar kualitas adalah hal itu dapat mengurangi biaya tenaga kerja, baik dengan menggunakan tenaga kerja pedesaan yang memiliki opportunity cost rendah (rural labor of low opportunity cost) atau dengan menghindari peraturan tenaga kerja yang ketat yang diberlakukan di sektor formal atau keduanya.
2. Pekerja Rumahan di Pakistan
Kasus yang terjadi di Pakistan, Pekerja rumahan perempuan tidak terlihat dan belum diakui, terikat oleh hambatan sosial budaya dan kurang kesadaran akan akses fasilitas ke perlindungan sosial. Permasalahan pekerja rumahan diantaranya adalah upah rendah, kemiskinan permanen, perantara (peran yang sangat substansial karena merupakan penghubung dengan pemberi kerja) mengurangi margin pendapatan, masalah kesehatan, status yang tidak terlihat (tidak diakui sebagai pekerja), dari perspektif gender: bukan sebagai ibu rumah tangga yang hanya bekerja untuk waktu luang tetapi full time, waktu kerja yang panjang serta Hak Asasi Manusia.
Kebijakan yang relevan harus dibuat untuk mengenali pekerja rumahan perempuan, termasuk kebutuhan untuk adanya
kebijakan upah minimum, social security, pelatihan keterampilan yang tepat, pekerjaan yang lebih permanen, upah yang tepat waktu, fasilitas perumahan, serta akses ke pinjaman dan kredit.
Para pekerja rumahan harus diberikan kesempatan untuk memiliki hubungan langsung dengan pasar sehingga mereka dapat menghindari manipulasi dan eksploitasi perantara sehinga dapat meningkatkan margin keuntungan dan pendapatan mereka. Pengusaha dan perantara harus bertanggung jawab dan akuntabel untuk pemeliharaan catatan kerja pekerja rumahan.
Selain itu, peran pengusaha dan perantara untuk memastikan perlindungan hukum dan hak asasi manusia, yang mencakup kondisi kerja, upah, tunjangan dan K3.
3. Pekerja Rumahan di Australia
Di Australia di tahun 1880-an dan 1890-an, ada ekspansi yang cepat dalam industri manufaktur, terlihat dengan peningkatan jumlah perempuan yang bekerja di industri pakaian. Banyak wanita yang bekerja dari rumah dan menjadi target perantara, didekati pemilik pabrik dengan menjanjikan hasil yang cepat dengan biaya yang murah.
Ada masalah kesehatan dan keselamatan kerja yang signifikan terkait dengan pekerjaan rumahan. Syarat dan kondisi kerja (misalnya tingkat upah, jam kerja, tingkat pekerja kontrol atas proses kerja, cakupan legislatif dll) akan berpengaruh secara signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Makalah ini membahas isu-isu yang lebih umum serta merinci bahaya tertentu dan kecelakaan di tempat kerja, dan dampak kesehatan lainnya yang timbul dari bekerja.
Tinjauan Pustaka
Sebuah proyek yang dilakukan oleh The South Australian Working Women’s Centre tahun 1989 menemukan bahwa 31 jenis pekerjaan rumah yang terjadi di Australia Selatan antara lain adalah mengetik, pengolahan kata, menjual dan promosi bekerja dari rumah, mendistribusikan selebaran, penjaga anak, permesinan, seluruh pakaian atau bagian dari pakaian, merajut tangan, pembuatan boneka seperti panda dan beruang, membuat kap lampu, mengolah sayuran misalnya memotong bawang dll.
Hasil survei menunjukkan bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja diluar tempat kerja sangat luas, dan tidak hanya terbatas pada industri pakaian. Literatur menjelaskan berbagai dampak dari pekerjaan rumah pada kesehatan dan keselamatan pekerja. Ada bahaya tertentu terkait dengan proses kerja, Misalnya, Bisinosis (coklat paru) dan asma kronis umumnya oleh pekerja perempuan yang selalu terkena debu kapas. (Pusat Kerja Perempuan, 1986: Schneider De Villegas, 1990).
Sebanyak 71% dari perempuan yang disurvei dalam survei Australia Selatan mengatakan mereka telah mengalami masalah kesehatan dan keselamatan kerja, mulai dari zat-zat beracun, kerja berlebihan, cedera, stres dan kelelahan. Pekerja rumahan sama seperti dengan pekerja lain, membutuhkan perlindungan, penghargaan dan kompensasi kerja, kebutuhan keselamatan dan kesehatan kerja dan hukum hubungan industrial. Pekerjaan rumah sebagai praktek kerja harus dibiarkan lebih terlihat dan tunduk pada pengawasan publik sama seperti praktek kerja lainnya.
Pekerja rumahan harus diberikan jaminan untuk mendapatkan perlindungan yang memadai agar membantu dalam pengurangan penyakit dan kecelakaan kerja.
4. Pekerja Rumahan di India
Pekerja rumahan di India berada dalam kelompok umur 18-50 tahun. Mereka dibantu oleh anak-anak dan anggota yang lebih tua dari keluarga selama waktu luang mereka. Sebagian besar wanita yang sudah menikah melakukan pembuatan layang-layang. Pendapatan keluarga bulanan rata-rata berada di kisaran Rs.1200-5000 per bulan dan jumlah anggota keluarga rata-rata adalah 4 anggota sehingga pendapatan per kapita rata-rata bulanan dari Rs. 250-1200.
Mereka yang bekerja atas dasar sub-kontraktor untuk agen atau dealer menghadapi masalah yang berkaitan dengan pembayaran upah dan tarif mereka. Ditemukan bahwa mayoritas dari mereka menerima pembayaran setahun sekali. Di antara mereka jika meminta pembayaran mereka maka perintah mereka dibatalkan.
Jadi mereka dipaksa untuk bekerja pada tingkat rendah dengan pembayaran yang tidak tentu.
Upah sangat rendah. tarif yang berbeda untuk setiap ukuran layang. Berkisar antara Rs.25 - Rs.50 per 1000 layang-layang. Ini tidak termasuk biaya karet yang digunakan untuk pembuatan layang-layang. Rata-rata seorang wanita dapat membuat 1000-1500 layang-layang dalam satu hari dengan bantuan dari anggota keluarga lainnya.
Tinjauan Pustaka