PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAHAN DI SEKTOR INDUSTRI
Yuniarti Tri Suwadji Ardhian Kurniawati Malla Dewi Agisty
PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAHAN DISEKTOR INDUSTRI
Penerbit:
PT Sulaksana Watinsa Indonesia Citylofts Sudirman Suites 2327-2329
P
enelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola hubungan kerja antara pemberi kerja dan pekerja rumahan, mengetahui profil pekerja rumahan dan menganalisa langkah-langkah strategis yang diperlukan bagi perlindungan pekerja rumahan di sektor industri di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif dengan mempergunakan kuesioner untuk para informan yang dipilih berdasarkan metode pengambilan sampel snowball sampling di beberapa provinsi di Indonesia, seperti: Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta dan Sumatera Utara. Selain itu, teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, diskusi, observasi lapangan dan dokumentasi digunakan untuk memperkaya analisis data. Alasan mengapa penelitian ini sangat penting yaitu adanya keharusan bagi pemerintah untuk melindungi pekerja rumahan yang telah berkontribusi dalam proses produksi dengan mempertimbangkan tidak hanya untuk penegakan hukum dan aspek ekonomi, tetapi juga dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya yang ada di Indonesia.RUMAHAN DI SEKTOR INDUSTRI
PT Sulaksana Watinsa Indonesia
2016
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta
Pasal 2
1. Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima Miliar rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
PEKERJA RUMAHAN DI SEKTOR INDUSTRI
PT. Sulaksana Watinsa Indonesia 2016
Penulis :
Yuniarti Tri Suwadji, S.E, M.A, M.E Ardhian Kurniawati, S.Si
Malla Dewi Agisty, S.E
Ari Yuliastuti, S.H
ISBN : 978-602-6754-24-0
PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAHAN DI SEKTOR INDUSTRI Copyright © 2016
Penulis : Yuniarti Tri Suwadji, S.E, M.A, M.E Ardhian Kurniawati, S.Si
Malla Dewi Agisty, S.E Ari Yuliastuti, S.H Editor : Drs. Fadjri
Desain Layout : Indoyanu Muhamad
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin dari penulis
Cetakan Pertama diterbitkan dalam Bahasa Indonesia Oleh PT. Sulaksana Watinsa Indonesia
Citylofts Sudirman Suites 2327-2329 Jl. KH Mas Mansyur 121. Jakarta 10220 Telp/Fax. (021) 86614125
Email : [email protected]
Anggota IKAPI No. 499/DKI/14
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola hubungan kerja antara pemberi kerja dan pekerja rumahan, mengetahui profil pekerja rumahan dan menganalisa langkah-langkah strategis yang diperlukan bagi perlindungan pekerja rumahan di sektor industri di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif dengan mempergunakan kuesioner untuk para informan yang dipilih berdasarkan metode pengambilan sampel snowball sampling di beberapa provinsi di Indonesia, seperti:
Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI Jakarta dan Sumatera Utara. Selain itu, teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam, diskusi, observasi lapangan dan dokumentasi digunakan untuk memperkaya analisis data. Alasan mengapa penelitian ini sangat penting yaitu adanya keharusan bagi pemerintah untuk melindungi pekerja rumahan yang telah berkontribusi dalam proses produksi dengan mempertimbangkan tidak hanya untuk penegakan hukum dan aspek ekonomi, tetapi juga dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan budaya yang ada di Indonesia.
Kata Kunci: perlindungan, pekerja rumahan, sektor industri
Abstract
This study aims to identify the labor relation between employers and home workers (HW), to highlight the profile of HBW and to produce government strategic steps to protect HBW in the industrial sector in Indonesia. The research methods used in this paper is qualitative method by utilizing questionnaires for informants who were chosen by addressing snowball sampling method in some selected provinces in Indonesia such as Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, jawa Timur, DKI Jakarta and Sumatera Utara. In addition, data collection techniques with in-depth interview, discussion, observation and documentation are used to enrich the data analysis. The reason why this research is very important is that it is a must for government to protect HBW who have contributed to production process by considering not only to the law enforcement and economic aspects, but also to the social and cultural condition that exist in Indonesia.
Keywords: protection, home workers, industrial sector
Puji Syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas perkenan- Nya buku Studi Perlindungan Pekerja Rumahan di Sektor Industri ini dapat disusun, Penelitian ini diarahkan sebagai salah satu upaya guna mendukung perumusan kebijakan ketenagakerjaan terutama di bidang Pengawasan Ketenagakerjaan.
Studi Perlindungan Pekerja Rumahan di Sektor Industri ini secara umummenjabarkan Pola hubungan kerja antara pemberi kerja dan pekerja rumahan, profil pekerja rumahan dan analisa langkah-langkah strategis yang diperlukan bagi perlindungan hak-hak dasar pekerja rumahan di sektor Industri.
Diharapkan buku ini dapat menjadi media bagi masyarakat dan pemerhati ketenagakerjaan untuk dapat mengetahui gambaran pekerja di sektor informal seperti Pekerja Rumahan.
Terbitnya buku ini diharapkan dapat membantu pengguna data dan informasi ketenagakerjaan sebagai bahan perumusan, kebijakan, programdan kegiatan baik dibidang Pengawasan Ketenagakerjaan maupun bidang lain yang terkait dengan pelaksanaan pengawasan ketenagakerjaan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan buku ini. Kami mengharapkan masukan dan saran yang membangun dari pembaca untuk penyempurnaan buku ini. Semoga buku Studi Perlindungan Pekerja Rumahan di Sektor Industri ini bermanfaat bagi kita semua.
Jakarta, Desember 2015 Tim Penulis
Daftar Isi
ABSTRACT
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR DIAGRAM DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang B. Permasalahan
C. Tujuan dan Kegunaan D. Metodologi Penelitian E. Aspek-aspek yang Diteliti F. Definisi Operasional G. Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Perlindungan B. Pengertian Pekerja Rumahan C. Perlindungan Pekerja Rumahan D. Penelitian Empiris Terdahulu E. Pekerja Rumahan di Negara Lain
BAB III GAMBARAN UMUM DAN PROFIL RESPONDEN A. Pemberi Kerja
B. Perantara
C. Pekerja Rumahan
i iii iv vi vii x 1 1 5 6 6 6 7 8 13 13 18 29 29 42 54 67 81 81
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN
A. Fenomena Hubungan Kerja Rumahan B. Karakteristik Pekerja Rumahan
C. Langkah-langkah Strategis Dalam Rangka Perlindungan Pekerja Rumahan
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan B. Rekomendasi DAFTAR PUSTAKA
93 98 109 111 115 115 117 119 130
Daftar Tabel
Tabel 3.1 Pola Hubungan Kerja Pekerja Rumahan 56
33 35 36 37
38 38
39 40 41 42 43 Diagram 3.1
Diagram 3.2 Diagram 3.3 Diagram 3.4 Diagram 3.5
Diagram 3.6 Diagram 3.7
Diagram 3.8 Diagram 3.9 Diagram 3.10 Diagram 3.11
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Provinsi dan Status Modal Usaha Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Pekerja Tetap Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Pekerja Harian Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Pekerja Borongan Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Pekerja di luar Pabrik Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Pekerja Kontrak Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Menurut Jenis Industri dan Lama Memberdayakan Pekerja Rumahan Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Penghasilan Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jumlah Pemberi kerja Menurut Jenis Industri dan Bentuk Ikatan Perjanjian Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Penyediaan Bahan Produksi Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Penyediaan Alat Produksi Di Daerah Sampel Tahun 2015
Daftar Diagram
Diagram 3.12 Diagram 3.13 Diagram 3.14 Diagram 3.15
Diagram 3.16
Diagram 3.17 Diagram 3.18
Diagram 3.19 Diagram 3.20 Diagram 3.21
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Area Pemasaran Hasil Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jenis Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Cara Penentuan Upah Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jenis Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Cara Penentuan Upah Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pemberi Kerja yang Mengikutsertakan Pekerja di Dalam Tempat Kerja pada Program Jaminan Sosial Menurut Kategori Industri Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pemberi Kerja yang Mengikutsertakan Pekerja di Luar Tempat Kerja pada Program Jaminan Sosial Menurut Kategori Industri Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pemberi Kerja yang Menanggung Biaya Pengobatan Menurut Kategori Industri Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pemberi Kerja yang Memberikan Bantuan Sosial Menurut Kategori Industri Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Perantara Menurut Usia dan Pendidikan Terakhir Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Perantara Menurut Status Perkawinan dan Jumlah Anak Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jumlah Perantara Menurut Status Pekerjaan Utama dan Pengalaman Pernah Bekerja di Sektor Formal Di Daerah Sampel Tahun 2015
44 45 46
47
48 49
50 51 52 53
Diagram 3.22 Diagram 3.23
Diagram 3.24 Diagram 3.25 Diagram 3.26 Diagram 3.27 Diagram 3.28 Diagram 3.29 Diagram 3.30 Diagram 3.31
Jumlah Perantara Berdasarkan Jenis Industri dan Sumber Modal Usaha Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Perantara Berdasarkan Jenis Industri dan Jumlah Penghasilan Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Perantara Menurut Jenis Industri dan Bentuk Ikatan Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jumlah Perantara Menurut Jenis Industri dan Penjelasan Pembuatan Produk dari Pemberi Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Perantara Menurut Posisi Perantara dan Pemberian Pelatihan Kepada Pekerja Rumahan Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Perantara Menurut Posisi Perantara dan Penyediaan Bahan Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Perantara Menurut Posisi Perantara dan Penyediaan Peralatan Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Perantara Menurut Area Pemasaran Produk dan Posisi Perantara Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Perantara Menurut Cara Penentuan Upah dan Sistem Pembayaran Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Perantara Menurut Posisi Perantara dan Negosiasi Di Daerah Sampel Tahun 2015
54
55 57 58 58 59 60 61 62 63
Diagram 3.32 Diagram 3.33
Diagram 3.34 Diagram 3.35
Diagram 3.36 Diagram 3.37
Diagram 3.38 Diagram 3.39 Diagram 3.40 Diagram 3.41 Diagram 3.42 Diagram 3.43
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Usia dan Tingkat Pendidikan Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Usia dan Tingkat Pendidikan Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Volume Kerja dan Info Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jumlah Pekerja Rumahan Menurut
Pengetahuan Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Pelatihan Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Cara Mendapatkan Bahan Baku Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Pemberian Peralatan Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015 Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Pelatihan Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Pelatihan Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Waktu Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Pelatihan Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut yang Pernah Bernegosiasi Di Daerah Sampel Tahun 2015
65
66 67
68 69
70 71 72 73 74 75 77
Daftar Diagram
Diagram 3.44 Diagram 3.45 Diagram 3.46 Diagram 4.1 Diagram 4.2 Diagram 4.3
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Kepesertaan Program Jaminan Sosial Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut
Konsekuensi Kesalahan Produk Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jumlah Pekerja Rumahan Menurut Penggunaan Perlengkapan K3 Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jawaban Pemberi Kerja Berdasarkan Jenis Industri dan Pola Hubungan Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jawaban Perantara Kerja Berdasarkan Pola Hubungan Kerja dan Bentuk Ikatan Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015
Jawaban Pekerja Rumahan Berdasarkan Pola Hubungan Kerja dan Bentuk Ikatan Kerja Di Daerah Sampel Tahun 2015
78 79 80 83 84 85
Gambar 1.1 Pola Hubungan Kerja Pekerja Rumahan Gambar 4.1 Pola Hubungan Kerja Rumahan Secara
Langsung
Gambar 4.2 Pola Hubungan Kerja Rumahan Secara Tidak Langsung
Gambar 4.3 Bentuk Perjanjian Kerja Rumahan Gambar 4.4 Isi Perjanjian Kerja Rumahan
Gambar 4.5 Tingkat Keterampilan Untuk Kerja Rumahan Gambar 4.6 Status Permodalan Pemberi Kerja Rumahan Gambar 4.7 Area Pemasaran Produk Kerja Rumahan
Daftar Gambar
4 86 86 88 89 90 91 92
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sektor Industri saat ini semakin terus berkembang. Sifat pekerjaan yang dilakukannya pun bermacam-macam. Ada pekerjaan yang hanya dapat dilakukan di dalam pabrik, namun banyak juga varian produksi yang dapat dikerjakan di luar pabrik mengingat adanya keterbatasan tempat kerja maupun tidak diperlukannya peralatan khusus dalam proses produksi. Adanya sifat pekerjaan yang dapat dilakukan di luar pabrik ini kemudian menyebabkan munculnya fenomena pekerja rumahan yang umumnya masuk pada sektor informal yang tergolong dalam pekerjaan rentan karena tidak mendapatkan hak-hak pekerja sebagaimana halnya pekerja formal.
Di Indonesia, sektor informal merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Berdasarkan data Sakernas tahun 2014, sektor informal masih menunjukan angka yang cukup besar dengan persentase pekerja di sektor informal masih lebih besar dibandingkan dengan sektor formal. Di tahun 2014, jumlah pekerja di sektor informal mencapai 70.677.449 orang. Jumlah tersebut mendekati satu setengah kali lipat jumlah pekerja formal yang tercatat sebanyak 47.492.473 orang.
Informalisasi tenaga kerja industri manufaktur dengan wujud perluasan rantai produksi kepada pekerja-pekerja informal di luar pabrik ini menjadi suatu pilihan untuk mengatasi kesulitan yang terjadi dalam proses produksi. Menurut tinjauan ILO (2013), dengan munculnya rantai pasokan global yang kompleks dan meningkatnya persaingan untuk produksi murah, maka praktek mensubkontrakkan produksi kepada pekerja rumahan menjadi tumbuh secara signifikan di dalam industri manufaktur. Praktek informalisasi tenaga kerja yang mempekerjakan pekerja rumahan bukanlah merupakan suatu fenomena baru di Indonesia dan terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Hal ini ditandai dengan adanya pemindahan pabrik-pabrik padat karya dari wilayah perkotaan ke pedesaan dan menyebabkan permintaan terhadap pekerja informal meningkat (menurut De Ruyter, dkk, 2009 yang dikutip oleh Rahardhika, 2012).
Informalisasi ini pun terus berlanjut di era pasca krisis ekonomi pada tahun 1997. Penelitian Wulandari (2008) di Surabaya menyatakan bahwa informalisasi tenaga kerja telah memaksa pekerja tetap pabrik berpindah kepada industri rumahan. Berdasarkan temuannya, industri rumahan itu dirancang sebagai bagian integral dari industri manufaktur sebelumnya, sehingga menguntungkan pengusaha karena dengan memindahkan pabriknya ke wilayah pedesaan maka pengusaha dapat membayar pekerja dengan lebih murah dan juga tidak perlu menanggung hak-hak pekerja rumahan lainnya.
Informalisasi hubungan kerja yang telah terjadi selama ini, di sisi lain dapat membawa dampak buruk bagi pekerja rumahan.
Berdasarkan pendapat beberapa para ahli, informalisasi disinyalir bisa menjurus kepada terciptanya legalisasi perbudakan modern (legalized modern slavery). Hal ini bisa saja terjadi diantaranya karena adanya pembiaran oleh negara (ketidakhadiran negara) maupun
Pendahuluan
karena adanya konsekuensi dari suatu kebijakan yang tidak dipikirkan (unintended consequences). Selain itu, penerapan fleksibilitas pasar kerja, oleh pekerja dianggap sebagai legitimasi dari praktek kekejaman hukum pasar yang selama ini sudah dipraktekkan oleh banyak pemilik modal; sementara itu, bagi para pemilik modal, kebijakan fleksibilitas pasar kerja diyakini sebagai salah satu kebijakan publik yang akan mendorong minat investor kembali menanamkan modal di Indonesia.
Kebijakan yang dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada akhir tahun 2003 ini yang seyogyanya guna memperluas pasar kerja, namun pada kenyataannya justru malah mempersempit peran pemerintah utamanya terkait pengawasan hubungan kerja antara pekerja dan pemberi kerja.
“Fleksibiltas pasar kerja diartikan sebagai kemudahan upah riil dan tingkat kesempatan kerja untuk menyesuaikan dengan perubahan kondisi dan gejolak dalam perekonomian. Hal ini bergantung pada kemampuan perusahaan untuk merekrut dan memecat pekerja dengan biaya yang relatif rendah, dan pada kemampuan untuk menyesuaikan upah. Dimensi lain dari fleksibilitas pasar kerja adalah kemudahan yang memungkinkan bagi pekerja untuk pindah dari satu perusahaan ke perusahaan yang lain, dari satu industri ke industri yang lain, dan dari satu daerah ke daerah yang lain. Hal tersebut ditentukan oleh akses terhadap informasi mengenai alternatif-alternatif kesempatan kerja, biaya perpindahan, fleksibilitas upah dan tingkat pendidikan pekerja”
(Bappenas, 2003).
Dengan demikian, secara filosofi dapat disimpulkan bahwa dasar timbulnya penerapan fleksibilitas pasar tenaga kerja (Labour Market Flexibility/LMF) adalah menyerahkan hubungan buruh majikan pada mekanisme pasar, dengan sesedikit mungkin campur tangan pemerintah (Hendrastomo, 2010). Mekanisme upah dan kesejahteraan buruh yang kemudian diserahkan oleh negara kepada korporasi mengakibatkan merekalah yang menentukan seberapa besar kesejahteraan buruh. Kondisi dimana terdapat pola hubungan kerja yang fleksibel dan tidak jelas karena mata rantai perintah kerja yang panjang (ada yang langsung maupun tidak langsung) seperti tertera pada gambar 1 di bawah ini menambah rumitnya persoalan pekerja rumahan yang juga berkembang karena adanya penerapan LMF.
Gambar 1.1
Pola Hubungan Kerja Pekerja Rumahan
Pendahuluan
Sumber: ILO, 2013
Keberadaan pekerja rumahan atau home worker (HW) selama ini masih belum mendapatkan perhatian yang selayaknya baik dari pemerintah maupun masyarakat. Keberadaan pekerja rumahan yang tidak nampak perannya sebagai salah satu faktor yang juga ikut berkontribusi dalam proses produksi menjadi terabaikan dan bahkan tidak tercatat secara baik secara statistik maupun kuantitatif sebagai pekerja yang perlu mendapatkan perhatian khususnya dari segi perlindungan hukum dan sosial (Erwina, 2010). Negara sebagai pelindung pekerja, dalam hal ini utamanya pekerja rumahan menjadi kehilangan perannya dikarenakan mudahnya prosedur perekrutan dan pemberhentian pekerja oleh pemberi kerjanya. Pola hubungan kerja yang sangat fleksibel antara pekerja rumahan dengan pengusaha/
pemilik modal tersebut membuat pekerja dalam sektor ini tidak hanya tidak mendapatkan hak-hak dasarnya sebagai pekerja, namun juga perlindungan yang memadai, seperti: perlindungan dari diskriminasi, kebebasan berserikat dan berunding, keselamatan dan kesehatan kerja, pengupahan, jaminan sosial, akses memperoleh pelatihan, usia minimum dan perlindungan persalinan. Adanya pengalihan resiko produksi dari pemberi kerja kepada pekerja rumahan juga menjadi dilematika lainnya yang harus dihadapi para pekerja rumahan.
Disamping itu; Safaria, Riawanti dan Suhanda (2003) menyatakan bahwa tidak adanya kesadaran dari para sub kontraktor yang menghubungkan pemberi kerja kepada pekerja rumahan bahwa unit usaha yang dijalankannya merupakan bagian dari usaha besar menyebabkan tidak adanya kesadaran mereka untuk mengupayakan perlindungan kerja dan jaminan sosial bagi pekerja rumahan kepada para pengusaha/pemilik modal. Hubungan kerja subkontrak dalam praktek kerja rumahan yang masih bersifat informal, menurut mereka juga harus mempertimbangkan skala unit usaha para pengusaha/
pemilik modal, karena unit usaha yang kecil tidak memungkinkan untuk memberikan perlindungan kerja dan jaminan sosial layaknya yang yang diberikan oleh para unit usaha besar. Oleh karena itu, dalam upaya untuk memberikan perlindungan kepada para pekerja rumahan, maka pemerintah perlu memperhatikan dilematika seputar kondisi pekerja rumahan.
Kondisi-kondisi ketidakadilan yang dialami oleh para pekerja rumahan, namun demikian dianggap sebagai hal yang wajar bagi para pekerja rumahan. Pekerja rumahan yang sebagian besarnya adalah perempuan, mengingat peran ganda yang mereka miliki sebagai ibu rumah tangga yang harus mengurus keluarga juga sebagai perempuan yang ingin mengaktualisasikan dirinya, membuat mereka merasa terbantukan melalui jaminan ekonomi dari adanya kerja rumahan ini.
Selain dapat membantu menambah penghasilan keluarga terutama jika suami tidak bekerja, berdasarkan beberapa penelitian terdahulu, motivasi perempuan bekerja di sektor informal meski mendapat beragam ketidakadilan antara lain mereka dapat mengisi waktu luang, memperoleh pengalaman dan masih dapat membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga terutama apabila pekerjaan tersebut dapat dilakukan di rumah setelah mereka selesai melakukan urusan rumah tangga.
Dengan memperhatikan kondisi-kondisi khusus pekerja rumahan yang memiliki karakteristik khas sehingga menjadikan pekerja rumahan itu lebih disukai, maka ILO menerbitkan Konvensi ILO No.
177 Tahun 1996 tentang Kerja Rumahan dan Rekomendasi ILO No.
184 Tahun 1996 tentang Kerja Rumahan. Konvensi dan rekomendasi bagi pekerja rumahan ini ditetapkan guna membantu mereka dalam memperoleh standar kerja yang layak dengan mempertimbangkan
Pendahuluan
ciri khas pekerja rumahan. Sampai dengan saat ini, sudah ada 10 negara yang meratifikasi konvensi tersebut. Meski konvensi ini akan mempromosikan kesetaraan perlakuan antara pekerja rumahan dengan pekerja penerima upah lainnya dengan mempertimbangkan ciri-ciri khusus kerja rumahan untuk pekerjaan yang sama atau serupa yang dilakukan oleh sebuah unit usaha; namun, Indonesia masih belum meratifikasi konvensi ini. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwasanya konvensi ILO ini bisa saja menjadi suatu target kebijakan dalam upaya perlindungan pekerja rumahan ke depannya.
Walaupun Indonesia belum meratifikasi Konvensi ILO tentang Kerja Rumahan dan juga belum ada undang-undang yang secara khusus melindungi pekerja rumahan, banyak pendapat yang mengemukakan bahwa para pekerja rumahan di Indonesia secara umum bisa saja dimasukkan sebagai kategori pekerja menurut Undang-Undang No.
13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, meski Undang-Undang ini tidak menyebutkan kata pekerja rumahan secara eksplisit. Hal ini termaktub dalam beberapa pasal sebagai berikut: Pasal 1 (2) Undang- Undang No. 13 tahun 2003 menyatakan bahwa: “Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat”; Pasal 1 (3) menyebutkan bahwa: “Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”; dan Pasal 1 (30): “Upah adalah hak pekerja/
buruh yang diterima dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan menurut perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundangundangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/
atau jasa yang telah dilakukannya”. Mengacu pada Conditions of Work and Employment Programme”, ILO, Geneva, 2012: negara yang belum
meratifikasi Konvensi ILO 189 dapat menyesuaikan, sebagai berikut:
“Konvensi tersebut bisa diterapkan dengan memperluas atau menyesuaikan undang-undang dan peraturan atau langkah- langkah lain yang telah, atau dengan mengembangkan langkah-langkah baru dan khusus untuk pekerja rumah tangga. Sebagian langkah langkah yang diperlukan di bawah konvensi tersebut bisa dilakukan secara bertahap”.
Selain itu, pekerja rumahan juga dapat dikategorikan dalam bagian dari praktek penempatan tenaga kerja di dalam negeri yang aturan pelaksanaannya mengacu pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Permenakertrans) No. PER.07/MEN/IV/2008 tentang Penenmpatan Tenaga Kerja Pasal 1 Ayat (1): Penempatan Tenaga Kerja adalah proses pelayanan kepada pencari kerja untuk memperoleh pekerjaan dan pemberi kerja dalam pengisian lowongan kerja sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan.
Kondisi khusus yang dialami oleh para pekerja rumahan baik ditinjau dari segi karakteristik, proses produksi dan hasil produksinya patut diduga/ diperkirakan membuat para pekerja rumahan belum memperoleh hak-hak dasar yang sewajarnya diperoleh mereka sebagai pekerja. Sehubungan dengan hal tersebut, guna mewujudkan langkah-langkah strategis untuk melindungi mereka, maka penelitian mengenai perlindungan pekerja rumahan di sektor industri ini menjadi penting untuk dilakukan mengingat makin maraknya praktek pekerja rumahan ini.
Pendahuluan
B. PERMASALAHAN
Berdasarkan kondisi pekerja rumahan di sektor industri yang terjadi di Indonesia sebagaimana dijelaskan pada bab sebelumnya, maka studi ini akan menjawab berbagai permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana fenomena hubungan kerja antara pemberi kerja dan pekerja rumahan di sektor industri;
2. Bagaimana profil pekerja rumahan di sektor industri;
3. Langkah-langkah strategis apa saja yang dapat dilakukan oleh pemerintah guna melindungi hak-hak dasar pekerja rumahan di sektor industri.
C. TUJUAN DAN KEGUNAAN
Tujuan yang ingin dicapai dari kajian ini diantaranya adalah:
1. Mengidentifikasi pola hubungan kerja antara pemberi kerja dan pekerja rumahan di sektor industri;
2. Mengetahui profil pekerja rumahan di sektor industri;
3. Menganalisa Iangkah-langkah strategis yang diperlukan bagi perlindungan hak-hak dasar pekerja rumahan di sektor industri.
Kegunaan dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pihak pemerintah tentang kondisi pekerja rumahan yang marak terjadi di masyarakat. Selanjutnya, rekomendasi berupa bahan masukan hasil analisa langkah-Iangkah strategis dalam upaya merumuskan kebijakan perlindungan pekerja rumahan di sektor industri diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan mereka.
D. METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian mengenai ”Studi Perlindungan Pekerja Rumahan di Sektor Industri” ini ditempuh sesuai dengan beberapa kegiatan sebagai berikut:
1. Ruang Lingkup
Penelitian ini dibatasi hanya pada sektor industri mengingat praktek pekerja rumahan ini merupakan wujud perluasan rantai produksi kepada pekerja-pekerja informal di luar pabrik atau tempat pemberi kerjanya. Adapun fokus dari penelitian ini akan dilakukan pada informan dengan kategori antara lain:
a. Perusahaan/pemilik modal yang mempekerjakan pekerja informal di luar pabrik;
b. Perantara/sub kontraktor/perantara/middle man baik yang hanya sekedar menyalurkan pekerjaan rumahan dari pemberi kerja kepada pekerja rumahan, juga yang turut serta dalam proses produksi;
c. Pekerja yang bekerja bukan di tempat pemberi kerja, melakukan pekerjaan sebagaimana yang dipesan oleh pemberi kerja dan tidak menjual sendiri barang yang diproduksinya melainkan mengembalikan hasil produksi tersebut kepada pemberi kerja/perantara;
d. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkecimpung dalam urusan terkait pekerja rumahan;
e. Hak-hak dasar pekerja yang harus dimiliki.
Pendahuluan
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Dalam ilmu sosial, Hancock, Ockleford, dan Windridge (2009) menjelaskan bahwa pendekatan ini digunakan peneliti sebagai upaya guna mempelajari kondisi alamiah masyarakat, sehingga dapat menangkap dan menjelaskan fenomena sosial yang bersumber dari pemahaman masyarakat tersebut. Dengan pendekatan kualitatif ini maka peneliti akan lebih terfokus pada bagaimana masyarakat atau komunitas dapat memiliki pandangan yang berbeda mengenai realitas yang ada di masyarakat dan menuliskan pengalaman atau data dari masyarakat tersebut yang terkadang tidak dapat diekspresikan secara numerik.
Dalam penelitian ini, pendekatan kualitatif yang digunakan adalah pendekatan eksploratif. Pendekatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi permasalahan-permasalahan seputar pekerja rumahan yang terjadi di masyarakat, sehingga dapat menambah pengetahuan serta pemahaman peneliti terkait dengan perlindungan pekerja rumahan di sektor industri.
3. Subyek Penelitian
Mengingat belum adanya data tercatat seputar pekerja rumahan yang mengakibatkan tidak dapat dibuatnya sampling frame penelitian, maka pemilihan subyek penelitian ini ditentukan dengan sistem bola salju (snowball sampling) dalam batas-batas wilayah penelitian. Hancock, Ockleford, dan Windridge (2009) menjelaskan bahwa dalam snowball sampling ini terdapat keterikatan antara informan yang satu dengan yang lainnya. Dalam penelitian ini istilah yang digunakan untuk subyek penelitian
adalah informan dan informan kunci. Pada dasarnya, kedua istilah tersebut menurut Idrus (2002) memiliki makna yang sama terkait dalam subyek penelitian. Dari kedua jenis informan sesuai dengan snowball sampling yang memiliki keterkaitan antar satu sama lainnya ini, peneliti akan memperoleh informasi mengenai informan itu sendiri dan lingkungan sekitarnya yang menjadi topik penelitian.
Informan kunci akan dapat menjadi jembatan untuk menemukan informan selanjutnya. Dengan demikian informan kunci ini akan dapat membantu peneliti guna menemukan informan yang terdapat pada sektor informal yang terkadang sulit untuk dijangkau. Pihak yang menjadi informan kunci sekaligus narasumber dalam kegiatan penelitian ini adalah pemerintah daerah setempat yang membidangi ketenagakerjaan (Dinas Tenaga Kerja) serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai mitra pekerja rumahan. Dari kedua lembaga inilah kemudian akan digali informasi mengenai keberadaan informan lainnya seperti pemberi kerja, perantara, dan pekerja rumahan di daerah setempat.
4. Teknik Pengumpulan Data
Ada beberapa metode yang dilakukan guna mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif ini, diantaranya adalah wawancara, diskusi, observasi, studi literatur dan menggunakan kuesioner yang mengakomodir beragam pertanyaan terbuka dan tertutup (Hancock, Ockleford, dan Windridge; 2009). Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan mempergunakan teknik wawancara mendalam terhadap informan yang terlibat dalam praktek pekerja rumahan, diantaranya: pelaku pekerja
Pendahuluan
rumahan, pemberi kerja rumahan, serta pihak pemerintah yang terkait dengan praktek pekerja rumahan. Guna menyesuaikan dengan tujuan penelitian ini, maka akan dibuatkan panduan wawancara sehingga terdapat kesesuaian fokus bahasan yang dipertanyakan kepada para informan di lapangan. Selain itu, melalui diskusi yang akan dilakukan dengan para narasumber dan informan kunci dalam penelitian ini. Dari situ akan dapat ditentukan jenis industri unggulan di daerah setempat yang mempekerjakan pekerja rumahan untuk mendapatkan informan sesuai topik penelitian mengingat keterbatasan waktu penelitian di setiap daerah penelitian yang hanya memakan waktu sebanyak tujuh hari di setiap provinsinya.
Observasi langsung ke lapangan juga dilakukan dalam penelitian ini guna meninjau kegiatan proses produksi yang dilakukan dan berinteraksi langsung dengan para pemberi kerja, subkon/
perantara dan pekerja rumahan di rumah-rumah mereka ataupun di tempat lainnya yang bukan merupakan tempat pemberi kerja.
Selain beragam teknik pengumpulan data yang tergolong dalam teknik pengumpulan data primer tersebut, penelitian ini juga akan menggunakan teknik pengumpulan data sekunder dari beragam literatur yang dapat memperkaya analisa penelitian, seperti berbagai peraturan perundang-undangan terkait dengan pekerja rumahan, foto/gambar, tulisan atau pendapat para ahli yang dimuat dalam buku, jurnal, surat kabar, serta bahan tertulis lainnya baik cetak, maupun elektronik.
5. Analisis Data
Analisis data dari setiap kegiatan penelitian menyajikan kesimpulan dari sejumlah data yang diperoleh selama di lapangan
dan kemudian hasil tersebut disajikan berdasarkan tujuan utama penelitian. Adapun hasil data yang telah dikumpulkan dalam penelitian ini selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan naratif dengan menyajikan gambaran spesifik dari suatu situasi, latar sosial serta memaparkan hubungan-hubungan yang menjelaskan bagaimana fenomena seputar pekerja rumahan dan perlindungannya terjadi di Indonesia; juga dengan menggunakan metode content analysis dengan menghubungkan hak-hak dasar pekerja yang semestinya diperoleh dengan kemampuan pemberi kerja.
Seorang peneliti harus mengetahui apa yang mereka perlu lakukan dan bagaimana menentukan alat yang akan digunakan dalam penelitiannya mengingat terdapat beragam perangkat lunak statistik yang dapat digunakan guna membantu proses analisis penelitian kualitatif. Khusus untuk penelitian sosial ini, maka peneliti akan menggunakan software SPSS. Adapun keuntungan menggunakan bantuan software komputer tersebut menurut Denzin dan Lincoln (2005) adalah karena adanya beberapa kemampuan sebagai berikut:
a. Membuat catatan-catatan selama di lapangan;
b. Menerjemahkan hasil tinjauan di lapangan ke dalam form kuesioner;
c. Mengedit, mengkoreksi atau merevisi temuan selama di lapangan;
d. Mengkoding kuesioner juga merangkum beragam data, rekaman audio, ataupun dokumentasi lainnya;
e. Menyimpan hasil temuan penelitian;
f. Mudah untuk dicari karena sudah tersegmentasi secara baik;
Pendahuluan
g. Data dapat terkoneksi antar satu sama lain sesuai dengan kebutuhan;
h. Merefleksikan beragam pendapat, teori ataupun metode sebagai dasar guna menganalisa lebih dalam;
i. Menganalisa konten seperti menghitung frekuensi serta mengalokasikan setiap kata maupun kalimat yang akan ditabulasi;
j. Menyajikan data dengan melakukan pemilihan data yang telah terorganisir;
k. Menggambarkan hasil kesimpulan data yang telah teruji dan terverifikasi;
l. Memungkinkan membangun suatu teori dari hasil pengembangan temuan;
m. Memetakan dalam bentuk grafik maupun diagram atas hasil temuan;
n. Melaporkan hasil final temuan di lapangan.
6. Lokasi Penelitian
Studi ini akan dilakukan di tingkat pusat dan daerah. Di tingkat pusat, yang akan menjadi informan adalah para pemangku kebijakan di Kementerian Ketenagakerjaan di beberapa satuan kerja, seperti: Ditjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial, Ditjen Pengawasan Tenaga Kerja, dan Biro Hukum Ketenagakerjaan. Adapun pada tingkat daerah, penelitian ini akan dilakukan di Provinsi D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Sumatera Utara dengan pertimbangan bahwa di enam provinsi tersebut terdapat banyak pekerja informal yang disinyalir mempekerjakan pekerja rumahan mengingat di daerah-daerah tersebut juga banyak terdapat industri pengolahan yang biasanya dalam proses
produksinya melibatkan pekerja rumahan, sehingga diharapkan dapat merepresentasikan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia dalam hal pengaturan perlindungan pekerja rumahan.
E. ASPEK-ASPEK YANG DITELITI
Penelitian ini diutamakan tidak hanya pada penerapan unsur normatif dalam perlindungan pekerja khususnya pekerja rumahan saja, melainkan juga aspek sosial dan budaya yang turut serta mewarnai karakteristik para pekerja rumahan di Indonesia. Adapun aspek-aspek yang akan diteliti dalam studi ini diantaranya:
1. Instansi yang membidangi ketenagakerjaan di daerah dan LSM/Mitra Pekerja Rumahan
a. Implementasi perlindungan pekerja rumahan b. Pelatihan dan Pembinaan
c. Advokasi d. Sosialisasi
2. Perusahaan/Pemberi Kerja a. Identifikasi
1) Status Permodalan: PMA/PMDN atau joint venture;
2) Badan hukum/usaha;
3) Orientasi Bisnis: Dalam negeri atau luar negeri.
b. Aspek Bisnis
1) Permintaan dan persediaan;
2) Supply Chain and Value Chain.
c. Aspek Produksi 1) Bahan Baku;
Pendahuluan
2) Proses Produksi: Mesin/manual;
3) Transportasi dan Pergudangan.
d. Hubungan Kerja
1) Perusahaan: melalui subkon/koordinator perorangan atau langsung ke pekerja rumahan;
2) UKM;
3) Perseorangan.
e. Perjanjian Kerja 3. Pekerja Rumahan
a. Identifikasi;
b. Bahan, alat kerja dan metode kerja;
c. Cara mendapat bahan/alat kerja;
d. Penggunaan waktu kerja;
e. Kesejahteraan (upah dan lainnya seperti THR atau sejenisnya, serta jaminan sosial, sosialisasi program), jumlah upah yang diterima sebulan dibandingkan dengan UMP setempat;
f. Resiko kerja;
g. Preferensi untuk bekerja di rumah;
h. Kesimpulan.
F. DEFINISI OPERASIONAL
Definisi kerja yang digunakan berdasarkan Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan adalah sebagai berikut:
1. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun masyarakat;
2. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain;
3. Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan menurut perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundangundangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah dilakukannya;
4. Pengusaha adalah orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri; orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya; orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia;
5. Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah dan perintah;
6. Perjanjian kerja adalah perjanjian antara pekerja/buruh dengan pengusaha atau pemberi kerja yang memuat syaratsyarat kerja, hak, dan kewajiban para pihak.
Adapun definisi kerja yang bersumber dari Konvensi ILO No.
177 Tahun 1996 tentang Kerja Rumahan yaitu:
1. Kerja rumahan berarti pekerjaan yang dikerjakan seseorang, yang kemudian disebut sebagai pekerja rumahan,
a. Di dalam rumahnya atau di tempat lain pilihannya, selain tempat kerja pemberi kerja;
b. Untuk mendapatkan upah;
Pendahuluan
c. Yang menghasilkan suatu produk atau jasa sebagaimana yang ditetapkan oleh pemberi kerja, terlepas dari siapa yang menyediakan peralatan, bahan atau input lain yang digunakan, kecuali orang ini memiliki derajat otonomi dan kemandirian ekonomi yang diperlukan untuk dianggap sebagai pekerja mandiri menurut undang-undang, peraturan atau putusan pengadilan nasional;
2. Orang-orang dengan status karyawan tidak menjadi pekerja rumahan dalam pengertian Konvensi ini hanya dengan sesekali melaksanakan pekerjaan mereka sebagai karyawan di rumah, bukan di tempat kerja biasa mereka;
3. Pemberi kerja berarti seseorang, perorangan atau badan hukum, yang, secara langsung atau melalui perantara, baik perantara diatur di dalam perundang-undangan nasional ataupun tidak, memberikan kerja rumahan dalam pelaksanaan kegiatan usahanya.
4.
G. SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan studi ini disusun dengan sistematika sebagai berikut ini.
1. Bab Pertama, yang merupakan Bab Pendahuluan, menguraikan latar belakang, permasalahan, tujuan studi, definisi operasional, hasil yang diharapkan, serta sistematika penyajian yang dipergunakan;
2. Bab Kedua yaitu Tinjauan Pustaka yang membahas mengenai landasan hukum mengenai ketentuan hak dasar yang harus diperoleh para pekerja rumahan dan peraturan perundang- undangan yang dapat dijadikan dasar dalam pembuatan peraturan mengenai pekerja rumahan. Selain itu juga
dalam bab ini akan ditelaah mengenai penelitian empiris sebelumnya serta komparasi profil pekerja rumahan di beberapa negara;
3. Bab Ketiga merupakan metodologi penelitian dan gambaran daerah yang menjadi sampel penelitian;
4. Bab Keempat akan dipaparkan mengenai melakukan deskripsi hasil kajian yang ditemukan dalam studi dan analisanya guna pemecahan masalah yang berkaitan dengan perlindungan pekerja rumahan;
5. Bab Kelima sebagai Bab Penutup memuat kesimpulan seluruh hasil pembahasan dari studi yang dilakukan, berikut rekomendasi yang diharapkan dapat bermanfaat bagi keperluan praktis.
Pendahuluan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. PENGERTIAN PERLINDUNGAN
Ada beragam definisi mengenai perlindungan berdasarkan beberapa perspektif. Menurut kamus besar Bahas Indonesia, kata perlindungan berasal dari kata lindung yang artinya mengayomi, mencegah, mempertahankan, dan membentengi. Sedangkan makna perlindungan yang terkandung dalam Peraturan Pemerintah No.2 Tahun 2002 adalah suatu bentuk pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh aparat penegak hukum atau aparat keamanan untuk memberikan rasa aman baik fisik maupun mental, kepada korban dan saksi, dari ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak manapun, yang diberikan pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan atau pemeriksaan di sidang pengadilan.
Khusus bagi perlindungan pekerja rumahan sendiri, di Indonesia, masih belum ada peraturan perundang-undangan yang dapat dijadikan dasarnya. Namun demikian, apabila mengacu pada Pasal 1 angka 4 Undang-Undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Luar Negeri menyebutkan bahwa Perlindungan TKI yaitu segala upaya untuk
Tinjauan Pustaka
melindungi kepentingan calon TKI dalam mewujudkan terjaminnya pemenuhan hak-haknya sesuai dengan peraturan perundang- undangan, baik sebelum, selama, maupun sesudah bekerja. Dengan demikian, sama halnya dengan para TKI yang bekerja di Iuar negeri yang wajib mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah, maka para pekerja rumahan pun berhak mendapatkan perlindungan hukum dari pemerintah. Akan tetapi, karena perlindungan pekerja rumahan ini masih belum ada dasar hukumnya, serta praktek kerja rumahan yang dilakukan oleh para pekerja rumahan ini pelaksanaannya biasanya masih berdasarkan atas asas kekeluargaan dan semata untuk mengisi kekosongan waktu saja sembari melaksanakan tanggung jawab dalam keluarga, maka terkait perlindungan pekerja rumahan ini perlu memperhatikan unsur sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
B. PENGERTIAN PEKERJA RUMAHAN
Menurut Konvensi ILO No. 177 Tahun 1996 tentang Kerja Rumahan definisi kerja rumahan dapat diartikan sebagai pekerjaan yang dikerjakan seseorang, yang kemudian disebut sebagai pekerja rumahan, a. Di dalam rumahnya atau di tempat lain pilihannya, selain tempat
kerja pemberi kerja;
b. Untuk mendapatkan upah;
c. Yang menghasilkan suatu produk atau jasa sebagaimana yang ditetapkan oleh pemberi kerja, terlepas dari siapa yang menyediakan peralatan, bahan atau input lain yang digunakan.
Sedangkan, pemberi kerja adalah seseorang yang memberikan pekerjaan rumahan, baik secara langsung maupun melalui perantara.
Pada awalnya, pemberi kerja untuk menyerahkan sebagian pekerjaannya kepada pihak lain untuk dikerjakan di luar tempat
kerja milik pemberi kerja dengan alasan minimnya ruang untuk melakukan proses produksi. Atas dasar pertimbangan efisiensi biaya produksi serta dalam rangka pemberdayaan masyarakat khususnya di sekitar tempat kerja pemberi kerja, maka kemudian mereka pun memutuskan untuk menyerahkannya kepada pekerja rumahan yang notabene sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang umumnya bersedia dibayar meski tidak sesuai dengan UMR setempat.
C. PERLINDUNGAN PEKERJA RUMAHAN 1. Perlindungan Sosial
Dalam konteks perlindungan sosial tenaga kerja khususnya perlindungan terhadap pekerja rumahan, ada beberapa jenis perlindungan yang dibahas dalam studi ini, seperti:
a. Perlindungan Upah
Berdasarkan Pasal 1 Angka (30) Undang-Undang No.
13 Tahun 2003 menyatakan bahwa upah adalah hak pekerja/
buruh yang diterima dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan menurut perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundangundangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah dilakukannya. Perlindungan upah diberikan kepada pekerja rumahan supaya apa yang mereka kerjakan dalam praktek kerja rumahan ini tidak hanya dapat membawa manfaat bagi dirinya sendiri, melainkan juga untuk keluarganya. Dengan adanya pemberian upah yang cukup layak bagi pekerja rumahan pada gilirannya diharapkan dapat mensejahterakan mereka beserta para keluarganya.
Tinjauan Pustaka
Setiap pekerja, termasuk pekerja rumahan, berhak memperoleh upah atas kerja yang dilakukannya. Pengupahan ini harus cukup untuk menyokong dirinya dan keluarganya, dan tidak boleh dihitung di bawah upah minimum. Pekerja rumahan berhak untuk mendapatkan informasi tentang upahnya dan aturan tentang pemotongan upah sebelum melakukan pekerjaan. Pekerja rumahan berhak untuk menerima upah tersebut secara penuh pada waktu yang telah ditentukan.
b. Jaminan Sosial
Jaminan sosial merupakan salah satu bentuk perlindungan sosial guna memberikan jaminan bagi seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya secara layak. Jaminan sosial bagi diberikan tidak hanya kepada pekerja rumahannya sendiri, tetapi juga untuk anggota keluarganya. Tujuan dari pemberian jaminan sosial ini adalah untuk memberikan kepastian berlangsungnya arus penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti sebagian atau seluruh penghasilan yang hilang. Dengan demikian, melalui kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja yang saat ini dikelola oleh dua badan yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, maka diharapkan pekerja rumahan ke depannya bisa lebih mandiri dan tidak bergantung kepada pihak lain apabila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan kerja, sakit, dan lainnya selama mereka melakukan kerja rumahan.
Pentahapan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan untuk pekerja termasuk juga pekerja rumahan yang bekerja pada pemberi kerja selain penyelenggara negara, maka
berdasarkan Pasal 6 Peraturan Presiden No. 109 Tahun 2013 tentang Penahapan Kepesertaan Program Jaminan Sosial dikelompokkan berdasarkan skala usaha yang terdiri dari:
1) Usaha besar;
2) Usaha menengah;
3) Usaha kecil;
4) Usaha mikro.
Untuk usaha yang berskala besar dan usaha menengah wajib mengikuti program jaminan kecelakaan kerja, program jaminan hari tua, program jaminan pensiun, dan program jaminan kematian; usaha kecil wajib mengikuti program jaminan kecelakaan kerja, program jaminan hari tua, dan program jaminan kematian; serta usaha mikro wajib mengikuti program jaminan kecelakaan kerja dan program jaminan kematian.
Setiap pekerja, terlepas dari statusnya yang sementara, harian lepas atau musiman harus diikutsertakan dalam program jaminan sosial dan menerima kontribusi dari majikan.
2. Perlindungan Teknis
Selain pelindungan sosial sebagaimana dijelaskan di atas, ada juga perlindungan teknis terhadap pekerja rumahan, seperti:
a. Jam kerja di standarkan/fleksibel
Ketentuan umum tentang jam kerja adalah 40 jam seminggu. Pasal 10 s/d Pasal 15 Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan bahwa pekerja
Tinjauan Pustaka
tidak boleh menjalankan pekerjaan lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam seminggu. Bagi pekerja rumahan, ini berarti bahwa pesanan kerja yang diterima tidak boleh melebihi masa kerja 40 jam seminggu, kecuali telah disepakati oleh pekerja dan upah lembur berlaku bagi jam kerja tambahan diluar 40 jam kerja tersebut. Pekerja rumahan berhak menolak pesanan kerja jika itu membuat mereka bekerja untuk waktu kerja yang berlebihan.
b. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Setiap pekerja harus diperlengkapi dengan peralatan untuk melindungi mereka dari kecelakaan kerja. Ini berarti pemberi kerja/perantara berkewajiban untuk melakukan penilaian terhadap keselamatan dan kesehatan kerja terhadap pekerja rumahan dan menyediakan perlengkapan perlindungan yang dibutuhkan dan pelatihan untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja.
Keamanan kerja dapat diartikan sebagai penjagaan umum terhadap bahaya kecelakaan di tempat kerja, yang melibatkan buruh yang bekerja pada majikan dan terjadi karena adanya sumber-sumber bahaya di tempat kerja.
Sumakmur mengatakan bahwa keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat alat kerja, bahan dan proses pengelolaannya, landasan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan (Sumakmur, 1976: 1).
Pada awalnya keselamatan kerja ini diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (Pasal 1602Bw)
dengan ketentuan mewajibkan majikan untuk mengatur dan memelihara ruangan, alat dan perkakas, di tempat ia menyuruh melakukan pekerjaan sedemikian rupa demikian pula mengenai petunjuk petunjuk sedemikian rupa sehingga buruh terlindung dari bahaya yang mengancam badan, kehormatan dan harta bendanya, sepanjang mengingat sifat pekerjaan selayaknya diperlukan (Imam Soepomo, 1972:
167).
Ruang lingkup keselamatan kerja adalah meliputi setiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap di mana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan di mana terdapat dumber atau sumber-sumber bahaya.
Dalam penerapannya, ada tiga unsur yang terkait dengan keselamatan kerja, yaitu:
(a) tempat di mana dilakukan pekerjaan bagi sesuatu usaha;
(b) adanya tenaga kerja yang bekerja di sana; dan (c) adanya bahaya kerja di tempat itu.
D. PENELITIAN EMPIRIS TERDAHULU
Di Indonesia, ada beberapa peneliti yang sebelumnya telah membuat studi mengenai Putting Out System (POS) yang mana memberdayakan pekerja rumahan. Hasil penelitian Dimitra Liani (2011) mengenai Marjinalisasi Perempuan dalam Putting Out system (POS) dan dampaknya terhadap kesejahteraan keluarga (Kasus Putting Out System (POS) di Desa Jabon Mekar, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat) menemukan bahwa responden
Tinjauan Pustaka
mendapatkan jaminan kerja yang rendah atau kurang baik, sementara pemberi kerja tidak bertanggung jawab atas kecelakaan ataupun penyakit yang timbul pada saat bekerja. Selain itu, Cut Aya Sofia , pada tahun 2008, menganalisa kondisi dan dampak Putting Out System (POS) terhadap rumah tangga pekerja perempuan (Kasus:Usaha Kecil Menengah Industri Tas, Desa Bojongrangkas, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat). Para peneliti dari Pusat Litbang Ketenagakerjaan, Tianggur Sinaga dkk (2009) melakukan penelitian tentang Perlindungan Tenaga Kerja Wanita yang Bekerja dengan Putting Out System (POS). Adapun temuan dari penelitian tersebut adalah tenaga kerja tersebut melakukan pekerjaan melebihi jam kerja normal (40 jam seminggu). responden pekerja menyatakan sering bekerja pada malam hari dan bekerja tanpa diselingi dengan waktu istirahat yang cukup.
Mengusung penelitian mengenai manifestasi perlindungan hukum berkeadilan gender berbasis pemahaman hak dan kewajiban hukum dalam hubungan kerja, Triana Tiani (2013) menemukan bahwa Pekerja rentan dengan berbagai macam penyakit misalnya punggung sakit karena terlalu lama duduk, pegal di badan dan tangan, mata cepat lelah bukan hanya karena asap kompor tetapi juga karena melihat objek terlalu lama, rabun dan bahkan ISPA yang berasal dari asap kompor.
E. PEKERJA RUMAHAN DI NEGARA LAIN
Pekerja Rumahan juga terdapat di berbagai negara yang menerapkan praktek kerja rumahan seperti apa yang terjadi di Indonesia. Ada banyak penelitian yang memaparkan mengenai praktek POS dan dampaknya bagi kesejahteraan pekerja, seperti terlihat pada paparan berikut ini.
1. Pekerja Rumahan di Filipina dan Thailand
Dalam bukunya yang dibuat bekerjasama dengan World Bank mengenai Organitational Characteristic of Rural Textile Industries in East Asia, Hayami (1998) melakukan penelitian terhadap industri garmen pedesaan yang menggunakan model Putting Out System di dua negara, yaitu Filipina dan Thailand. Hasil penelitiannya tersebut menemukan bahwa alasan utama perusahaan garmen di pusat kota mengadopsi model Putting Out System, meskipun kelemahan yang melekat di dalamnya terkait pemeliharaan standar kualitas adalah hal itu dapat mengurangi biaya tenaga kerja, baik dengan menggunakan tenaga kerja pedesaan yang memiliki opportunity cost rendah (rural labor of low opportunity cost) atau dengan menghindari peraturan tenaga kerja yang ketat yang diberlakukan di sektor formal atau keduanya.
2. Pekerja Rumahan di Pakistan
Kasus yang terjadi di Pakistan, Pekerja rumahan perempuan tidak terlihat dan belum diakui, terikat oleh hambatan sosial budaya dan kurang kesadaran akan akses fasilitas ke perlindungan sosial. Permasalahan pekerja rumahan diantaranya adalah upah rendah, kemiskinan permanen, perantara (peran yang sangat substansial karena merupakan penghubung dengan pemberi kerja) mengurangi margin pendapatan, masalah kesehatan, status yang tidak terlihat (tidak diakui sebagai pekerja), dari perspektif gender: bukan sebagai ibu rumah tangga yang hanya bekerja untuk waktu luang tetapi full time, waktu kerja yang panjang serta Hak Asasi Manusia.
Kebijakan yang relevan harus dibuat untuk mengenali pekerja rumahan perempuan, termasuk kebutuhan untuk adanya
kebijakan upah minimum, social security, pelatihan keterampilan yang tepat, pekerjaan yang lebih permanen, upah yang tepat waktu, fasilitas perumahan, serta akses ke pinjaman dan kredit.
Para pekerja rumahan harus diberikan kesempatan untuk memiliki hubungan langsung dengan pasar sehingga mereka dapat menghindari manipulasi dan eksploitasi perantara sehinga dapat meningkatkan margin keuntungan dan pendapatan mereka. Pengusaha dan perantara harus bertanggung jawab dan akuntabel untuk pemeliharaan catatan kerja pekerja rumahan.
Selain itu, peran pengusaha dan perantara untuk memastikan perlindungan hukum dan hak asasi manusia, yang mencakup kondisi kerja, upah, tunjangan dan K3.
3. Pekerja Rumahan di Australia
Di Australia di tahun 1880-an dan 1890-an, ada ekspansi yang cepat dalam industri manufaktur, terlihat dengan peningkatan jumlah perempuan yang bekerja di industri pakaian. Banyak wanita yang bekerja dari rumah dan menjadi target perantara, didekati pemilik pabrik dengan menjanjikan hasil yang cepat dengan biaya yang murah.
Ada masalah kesehatan dan keselamatan kerja yang signifikan terkait dengan pekerjaan rumahan. Syarat dan kondisi kerja (misalnya tingkat upah, jam kerja, tingkat pekerja kontrol atas proses kerja, cakupan legislatif dll) akan berpengaruh secara signifikan terhadap kesehatan dan keselamatan pekerja. Makalah ini membahas isu-isu yang lebih umum serta merinci bahaya tertentu dan kecelakaan di tempat kerja, dan dampak kesehatan lainnya yang timbul dari bekerja.
Tinjauan Pustaka
Sebuah proyek yang dilakukan oleh The South Australian Working Women’s Centre tahun 1989 menemukan bahwa 31 jenis pekerjaan rumah yang terjadi di Australia Selatan antara lain adalah mengetik, pengolahan kata, menjual dan promosi bekerja dari rumah, mendistribusikan selebaran, penjaga anak, permesinan, seluruh pakaian atau bagian dari pakaian, merajut tangan, pembuatan boneka seperti panda dan beruang, membuat kap lampu, mengolah sayuran misalnya memotong bawang dll.
Hasil survei menunjukkan bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja diluar tempat kerja sangat luas, dan tidak hanya terbatas pada industri pakaian. Literatur menjelaskan berbagai dampak dari pekerjaan rumah pada kesehatan dan keselamatan pekerja. Ada bahaya tertentu terkait dengan proses kerja, Misalnya, Bisinosis (coklat paru) dan asma kronis umumnya oleh pekerja perempuan yang selalu terkena debu kapas. (Pusat Kerja Perempuan, 1986: Schneider De Villegas, 1990).
Sebanyak 71% dari perempuan yang disurvei dalam survei Australia Selatan mengatakan mereka telah mengalami masalah kesehatan dan keselamatan kerja, mulai dari zat-zat beracun, kerja berlebihan, cedera, stres dan kelelahan. Pekerja rumahan sama seperti dengan pekerja lain, membutuhkan perlindungan, penghargaan dan kompensasi kerja, kebutuhan keselamatan dan kesehatan kerja dan hukum hubungan industrial. Pekerjaan rumah sebagai praktek kerja harus dibiarkan lebih terlihat dan tunduk pada pengawasan publik sama seperti praktek kerja lainnya.
Pekerja rumahan harus diberikan jaminan untuk mendapatkan perlindungan yang memadai agar membantu dalam pengurangan penyakit dan kecelakaan kerja.
4. Pekerja Rumahan di India
Pekerja rumahan di India berada dalam kelompok umur 18- 50 tahun. Mereka dibantu oleh anak-anak dan anggota yang lebih tua dari keluarga selama waktu luang mereka. Sebagian besar wanita yang sudah menikah melakukan pembuatan layang- layang. Pendapatan keluarga bulanan rata-rata berada di kisaran Rs.1200-5000 per bulan dan jumlah anggota keluarga rata-rata adalah 4 anggota sehingga pendapatan per kapita rata-rata bulanan dari Rs. 250-1200.
Mereka yang bekerja atas dasar sub-kontraktor untuk agen atau dealer menghadapi masalah yang berkaitan dengan pembayaran upah dan tarif mereka. Ditemukan bahwa mayoritas dari mereka menerima pembayaran setahun sekali. Di antara mereka jika meminta pembayaran mereka maka perintah mereka dibatalkan.
Jadi mereka dipaksa untuk bekerja pada tingkat rendah dengan pembayaran yang tidak tentu.
Upah sangat rendah. tarif yang berbeda untuk setiap ukuran layang-layang. Berkisar antara Rs.25 - Rs.50 per 1000 layang- layang. Ini tidak termasuk biaya karet yang digunakan untuk pembuatan layang-layang. Rata-rata seorang wanita dapat membuat 1000-1500 layang-layang dalam satu hari dengan bantuan dari anggota keluarga lainnya.
Tinjauan Pustaka
BAB III
GAMBARAN UMUM DAN PROFIL RESPONDEN
A. PEMBERI KERJA 1. Status Permodalan
Diagram 3.1
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Provinsi dan Status Modal Usaha Di Daerah Sampel Tahun 2015
Sumber: Data primer, diolah
Simpanan pokok, Simpanan Wajib, Simpanan Sukarela dan Pinjaman Bank Perorangan PMA
Perorangan PMDN
Provinsi
Persentase
Jawa TengahJawa Barat Jawa TimurDKI Jakarta
Sumatera UtaraDI Yogyakarta
Gambaran Umum dan Profil Responden
Sebesar 15.8% pengusaha di Provinsi Jawa Tengah memiliki status modal PMA, Sebesar 21.1% Perusahaan di Jawa Barat merupakan PMDN, di Provinsi Jawa Timur 10.5% merupakan perorangan dan 5.3% merupakan simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela dan pinjaman bank. Sebesar 15.8% PMDN dan Komanditer 5.3%, sedangkan di Provinsi D.I Yogyakarta sebesar 21.1% merupakan PMDN.
Menurut asal sumber modalnya maka pemberi kerja bisa dikategorikan kepada beberapa jenis. Sebesar 57.9% diantaranya merupakan PMDN, jumlah ini lebih besar dibandingkan PMA dan perorangaan yang hanya mencapai masing-masing 15.8%. simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela dan pinjaman bank sebesar 5.3% dan komanditer sebesar 5.3%.
Apabila dikelompokkan menurut jenis industri, maka jenis industri makanan dan minuman sebesar 5.3% merupakan PMDN, Industri pakaian jadi sebesar 15.8% merupakan PMDN, 5.3%
merupakan PMA. Kulit, BarangdariKulitdan Alas kaki sebesar 10.5%
merupakan PMA, dan 10.5% merupakan PMDN dan 5.3% merupakan simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela dan pinjaman bank, Industri kayu, barang dari kayu dan gabus rotan dan bambu 10.5% merupakan PMDN dan 5.3% merupakan komanditer, Industri pengolahan produksi lainnya sebesar 15.8% merupakan PMDN, 15.8%
merupakan perorangan.
Jenis industri makanan dan minuman yaitu 5.3%, Industri pakaian jadi sebesar 21.1%, industri Kulit, Barang dariKulitdan Alas kaki sebesar 26.3%, industri kayu, barang dari kayu dan gabus rotan
dan bambu sebesar 15.8%, industri pengolahan produksi lainnya sebesar 31.6%.
2. Jenis Industri
Diagram 3.2
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Pekerja Tetap
Di Daerah Sampel Tahun 2015
Sumber: Data primer, diolah
Jenis industri makanan dan minuman total 8.3% memilik pekerja tetap 10-19 orang, industri pakaian jadi sebesar 16.7% memiliki pekerja tetap 10-19 orang dan 8.3% memiliki pekerja lebih dari 100 orang, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 8.3%
terdiri dari 0-9 orang dan 8.3% terdiri dari 50-59 orang, industri kayu, barang dari kayu dan gabus rotan dan bambu sebesar 8.3% terdiri dari 10-19 orang, 8.3% sebanyak 60-69 orang, industri pengolahan produksi lainnya sebesar 8.3% kurang dari 9 orang, 8.3% 10-19 orang dan 8.3% 80-89 orang.
Makanan dan Minuman Pakaian Jadi
Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki
Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus, Rotan dan Bambu Pengolahan Produksi Lainnya
Gambaran Umum dan Profil Responden
Diagram 3.3
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Pekerja Harian Di Daerah Sampel Tahun 2015
Pemberi kerja pada industri kulit, barang dan kulit dan alas kaki hanya memiliki pekerja harian sebanyak 40-49 orang sebesar 12.5%, industri kayu, barang dari kayu dan Gabus rotan dan bambu memiiki pekerja harian sebesar 12.5% masing di rentang umur 20- 29 orang, 50-59 orang dan lebih dari 100 orang, industri pengolahan produksi lainnya lebih banyak memiliki pekerja 0-9 orang sebesar 25%, sisanya 12,5% masing-masing di dalam rentang umur 30-39 tahun dan lebih dari 100 orang.
Sumber: Data primer, diolah
Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki
Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus, Rotan dan Bambu
Pengolahan Produksi Lainnya
Sumber: Data primer, diolah
Pada industri kayu, barang dari kayu dan gabus, rotan dan bambu pemberi kerja mempekerjakan pekerja borongan antara 10-19 orang dan 20-49 orang, sedangkan industri pengolahan produksi lainnya mempekerjakan pekerja borongan hanya 0-9 orang dan 20-29 orang.
Diagram 3.4
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Pekerja Harian
Di Daerah Sampel Tahun 2015
Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus, Rotan dan Bambu
Pengolahan Produksi Lainnya
Gambaran Umum dan Profil Responden
Diagram 3.6
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Pekerja Kontrak Di Daerah Sampel Tahun 2015
Pemberi kerja lebih banyak mempekerjakan pekerja di luar tempat kerja. Berdasarkan data pada diagram di atas, lebih dari sebanyak 100 orang atau mencapai 57.1% pemberi kerja yang mempekerjakan pekerja di luar tempat kerjanya, dan yang terbanyak terdapat pada Industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 28.6%.
Diagram 3.5
Jumlah Pemberi Kerja Menurut Jenis Industri dan Jumlah Pekerja di Luar Pabrik Di Daerah Sampel Tahun 2015
Sumber: Data primer, diolah
Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus, Rotan dan Bambu
Pengolahan Produksi Lainnya Makanan dan Minuman
Pakaian Jadi
Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki
Pengolahan Produksi Lainnya Pakaian Jadi
Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki