• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEKERJAAN BETON K.250 PENUTUP LANTAI 1. Bahan

Dalam dokumen Metode Pekerjaan Irigasi.docx (Halaman 39-44)

IV. PEKERJAAN SHEET PILE BETON

4. PEKERJAAN BETON K.250 PENUTUP LANTAI 1. Bahan

1. Semen

a) Semen yang digunakan harus semen buatan dalam negeri dan kualitasnya sama dengan mutu semen Padang Type 1 atau lebih tinggi kualitasnya. Sesuai SK  –  SNI – S – 04 – 1989 – F dan – 0013 – 81.

b) Semen harus dalam bentuk bubuk yang halus, tidak mengandung gumpalan-gumpalan yang keras.

c) Dalam pengangkutan ke dalam tempat penyimpanan (gudang) di tempat pelaksanaan, harus dijaga agar semen tidak menjadi lembab, semen harus disimpan dengan baik dan dilindungi terhadap cuaca menurut ketentuan / petunjuk direksi.

2. Agregat Halus (pasir)

a) Agregat halus (pasir)dapat berupa pasir alam atau pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu.

b) Pasir halus terdiri dari butir-butir keras, tajam dan bersifat kekal artinya tidak pecah dan hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca seperti terik matahari dan hujan.

c) Pasir harus bebas dari hal yang merugikan misalnya debu, lumpur, pertikel-pertikel lain yang lembut dan bahan organic lainnya. Pasir tidak boleh mengandung lumpur dari 5% berat kering.

d) Pasir harus mempunyai butir-butir yang beraneka ragam besarnya dengan perbandingan jumlah yang baik, ukuran maksimal pasir adalah 5 mm dan minimum 0,25 mm.

3. Agregat Kasar (kerikil pecah)

a) Agregat kasar/kerikil pecah dapat berupa kerikil alam atau batu pecah yang diperoleh dari pecahan batu.

b) Agregat harus terdiri dari butir-butir keras yang tidak berpori dan bersifat kekal artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca.

c) Agregat tidak boleh mengandung zat-zat yang merusak beton seperti zat-zat reaktif alkali. Kerikil tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1% berat kering.

d) Agregat harus terdiri dari butir-butir beraneka ragam besarnya dengan perbandingan yang baik, ukuran maksimum agregat adalah 40 mm dan minimum 5 mm.

4. Air untuk pembuatan dan perawatan beton adalah air bersih yang tidak mengandung minyak, asam, garam, alkali, bahan organik atau bahan lain yang merusak beton. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.

5. Syarat-syarat kualitas bahan lain yang tidak tercantum dalam ketentuan-ketentuan diatas agar mengikuti ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam :

Untuk pasir (sand) sesuai SK SNI – S – 04 – 1989 – F : 6,1

Untuk agregat sesuai SK SNI – S – 04 – 1989 – F dan SNI 009 – 87A

1. Pelaksana harus membuat campuran beton dengan alat pengaduk yang baik dengan kapasitas yang sesuai dengan besarnya volume pekerjaan beton. Alat pengaduk harus mampu mengaduk/mencampur semua bahan-bahan menjadi satu campuran merata tanpa adanya pemisahan.

2. Harus dilengkapi dengan alat-alat pengukur yang teliti serta mendapat pengawasan terhadap setiap bahan yang masuk dalam alat pengaduk.

3. Urutan memasukkan bahan-bahan ke alat pengaduk concrete mixer serta lama mengaduk harus sepengetahuan pengawas. 4. Mengaduk dalam jumlah yang lebih dengan menambah air agar

kekentalan bias bertahan lama tidak diperkenankan.

5. Harus dibuat kubus beton dengan ukuran minimal 10 x 10 x 10 cm.

6. Kekentalan adukan beton diperiksa dengan pengujian Slump, nilai slump (12±2) cm, w/c = 0,56. Dengan persyaratan sebagai berikut :

a) Beton dapat dikerjakan dengan baik b) Tidak terjadi pemisahan dari adukan

c) Mutu beton yang disyaratkan tetap terpenuhi

d) Untuk Beton K-250 Komposisi Material/M3 sekurang-kurangnya sebagai berikut :

Beton K-250

Portland Semen Type I 384 Kg Batu Split/Kerikil 1039 Kg

Pasir Cor 692 Kg

3. Cetakan/Bekisting

Cetakan harus menghasilkan konstruksi akhir yang tampak halus yang mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana,cetakan harus kokoh dan cukup rapat sehingga dapat dicegah kebocoran adukan dan air semen.

a. Bahan cetakan harus dari logam atau kayu yang tidak mudah meresap air dan sebelumnya harus mendapat persetujuan dari pengawas.

b. Pemasangan cetakan harus rapat dan aman untuk mencegah gerakan atau penurunan.

c. Cetakan harus direncanakan sedemikian rupah dan sebelum penempatan beton, permukan dari cetakan harus diberi oli dengan oli yang umum diperdagangkan, sehingga muda dilepas dari beton tanpa menyebabkan kerusakan pada beton.

4. Pembesian

1. Semua pekerjaan pembesian harus mengikuti peraturan dan syarat-syarat SNI – 2 –  1971 (PBI) 1971. Besi beton jenis yang tahan las dan kuat tarik minimum 2.200 Kg/cm2(U – 22). Bahan-bahan dan ukuran tulangan harus berdasarkan SNI  –  0663 – 1989 – A, SK SNI – S – 05 – 1989 – F dan SII 0136 – 84.

2. Sebelum besi beton diletakkan pada tempat yang dikehendaki, permukaan besi harus dibersihkan terhadap karat kotoran, lemak atau bahan lain yang tidak dikehendaki. Besi beton harus dijaga agar selalu dalam keadaan yang bersih sampai saat penecoran beton dilakukan.

3. Pembesian harus dikerjakan sebaik mungkin pada posisi yang stabil sedemikian rupa sehingga pada waktu pengecoran, posisi besi beton tidak berubah.

4. Penempatan besi beton harus mendapat persetujuan dari pengawas terlebih dahulu sebelum diadakan pengecoran. Penyedia barang/jasa harus memberitahukan secara tertulis kepada pengawas untuk mengadakan pemeriksaan pekerjaan pembesian, sebelum pengecoran.

5. Tulang pokok digunakan besi ukuran yang disesuaikan dengan gambar bestek.

Diameter besi beton yang dipakai sesuai dengan gambar rencana (hasil pengukuran Ø besi beton dilokasi pekerjaan).

5. Pengecoran

a. Sebelum beton dicor, semua cetakan, pembesian dan bagian-bagian lain harus mendapat persetujuan dari pengawas.

b. Permukaan tempat beton akan dicor harus bebas dari genangan air, lumpur atau puing-puing dan harus dalam keadaan jenuh air. c. Permukaan dari beton yang telah dicor untuk tempat pengecoran

selanjutnya harus bersih dan basah.

d. Beton tidak boleh dicor pada tempat aliran air atau dialiri sampai beton menjadi cukup keras.

e. Beton tidak boleh dicor pada genangan air kecuali atas persetujuan pengawas.

f. Beton tidak boleh dicor sebelum pengawas menyetujui persiapan-persiapan yang telah dikerjakan.

g. Pengecoran beton hanya boleh dilakukan pada waktu pengawas ada ditempat pekerjaan dan penyedia barang/jasa harus memperhatikan dengan baik pekerjaan pengecoran tersebut. h. Beton harus diambil dari pengaduk cetakan secepat mungkin

sedemikian rupa sehingga tidak terjadi pemisahan atau tidak akan mengurangi nilai slump.

i. Penempatan pengecoran harus sedekat mungkin dengan adukan beton agar tidak terjadi pemisahan atas bahan-bahannya. Pengecoran yang berlebihan dan dijatuhkan dari suatu ketinggian yang cukup besar tidak diperbolehkan sebab akan merusak posisi cetakan/besi-besinya.

 j. Beton harus dicor secara lapis, menerus dan hamper mendatar, dengan ketebalan tidak boleh lebih besar dari 30 cm dan harus digetarkan sedemikian rupa hingga padat benar, bebas dari rongga-rongganya dan harus memenuhi seluruh permukaan cetakan dan material sekitarnya.

k. Cara-cara pemadatan dengan alat penggetar harus mendapatkan persetujuan pengawas.

6. Perbaikan

1. Bilamana setelah pembongkaran cetakan ternyata terlihat, bahwa beton tidak sesuai bentuknya dengan gambar atau

menyimpang dari ukuran atau terdapat permukaan-permukaan yang rusak, maka pelaksana harus memperbaiki sesuai dengan petunjuk direksi.

2. Pekerjaan perbaikan beton dimulai segera setelah pembongkaran pada cetakan.

3. Tempat-tempat atau bagian-bagian yang harus diperbaiki harus dibersihkan dari bahan-bahan yang tidak berguna serta harus dalam keadaan basah selama 24 jam, kemudian diisi dengan bahan pengisi agar memenuhi tempat-tempat/bagian-bagian tersebut diatas.

Dalam dokumen Metode Pekerjaan Irigasi.docx (Halaman 39-44)

Dokumen terkait