BAB V : ANALISIS DATA
TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Pekerjaan Sosial
2. Kriteria dan penentuan masih adanya hak ulayat dan hak-hak yang serupa dari masyarakat hukum adat (Pasal 2 dan 5).
3. Kewenangan masyarakat hukum adat terhadap tanah ulayatnya (Pasal 3 dan 4)
Indonesia merupakan negara yang menganut pluralitas di bidang hukum, dimana diakui keberadaan hukum barat, hukum agama dan hukum adat38. Dalam prakteknya (deskritif) sebagian masyarakat masih menggunakan hukum adat untuk mengelola ketertiban di lingkungannya39
Di tinjau secara preskripsi (dimana hukum adat dijadikan landasan dalam menetapkan keputusan atau peraturan perundangan), secara resmi, diakui keberadaaanya namun dibatasi dalam peranannya
.
40
. Beberapa contoh terkait adalah UU dibidang agraria No.5 / 1960 yang mengakui keberadaan hukum adat dalam kepemilikan tanah41
37
Mahadi, 1991, Uraian Singkat Tentang Hukum Adat, Alumni, Bandung. 38
Soekamto Soerjono, Prof, SH, MA, Purbocaroko Purnadi, Perihal Kaedah Hukum, Citra Aditya Bakti PT, Bandung 1993
39
Moh. Koesnoe, 1979, Catatan-Catatan Terhadap Hukum Adat Dewasa Ini, Airlangga University Press. 40
Tim Dosen UI, Buku A Pengantar hukum Indonesia 41
Djamali Abdoel R, SH, Pengantar hukum Indonesia, Raja Grafindo Persada PT, Jakarta 1993 .
2.6.1. Pengertian42
Social work is the professional activity of helping individuals , groups , or communities to enchance or restore their capacity for social functioning and to create societal conditions favorable to their goals.43
Atau dalam pengertian lain disebutkan “…an art , a science , a profession that helps people to solve personal , group (especially family) , and community problems and to attain satisfying personal , group, and community relationships through social work practice…”.
44
2. Pekerjaan sosial menggunakan pendekatan dualistik , yakni bahwa intervensinya diarahkan kepada orang dan juga lingkungannya. Inilah yang membedakan antara pekerjaan sosial dengan sosiolog , psikolog , konselor dan psikiater.
Pengertian tersebut pada prinsipnya menyebutkan bahwa pekerjaan sosial adalah aktivitas professional , yang ditujukan untuk menolong orang , baik sebagai individu , kelompok , organisasi maupun masyarakat , dalam kerangka meningkatkan atau memperbaiki kemampuan berfungsi sosial mereka dan menciptakan kondisi / lingkungan sosial yang memungkinkan orang tersebut mencapai tujuannya.
2.6.2. Karakteristik
1. Konsep pertolongan dalam pekerjaan sosial adalah menolong orang agar mereka mampu menolong dirinya sendiri (To help people to help themselves).
45
42
Lihat lebih lengkap di Dasar-dasar Pekerjaan Sosial ,hal 43-45. 43
Zastrow ; 1999 hal 5. 44
3. Praktek pekerjaan sosial mengarah pada tiga tingkatan intervensi , yakni :
a. Mikro , yaitu diarahkan untuk menangani permasalahan yang dialami individu dan keluarga.
b. Meso , diarahkan untuk kelompok.
c. Makro , diarahkan untuk organisasi dan masyarakat untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang diinginkan.
4. Ilmu pekerjaan sosial merupakan eclectic sciences , ilmu yang dalam proses pembentukannya mengadaptasi bagian-bagian dan konsep dari disiplin ilmu lainnya.
Untuk lebih memperdalam pemahaman soal pekerjaan sosial memang tidak cukup hanya pengertian dan karakteristik pekerjaan sosial , masih perlu bicara soal tujuan dan fungsi pekerjaan sosial. Berikut akan langsung dibahas secara garis besar mengenai advokasi dalam perspektif pekerjaan sosial.
2.6.3. Advokasi Petani dalam Pekerjaan Sosial
Seperti telah dikemukakan diatas , advokasi secara pengertian berada dalam dua faksi besar. Advokasi ‘pembelaan’ seperti yang dikerjakan oleh penegak hukum dan advokasi yang tidak hanya membela tapi juga memajukan , mengemukakan , menciptakan dan merubah46
45
Untuk lebih jelasnya baca Dasar-dasar Pekerjaan Sosial ,hal 35-41. 46
Merubah Kebijakan Publik, Roem Toamtipasang, Mansour Fakih, Toto Raharjo, Pustaka Pelajar, 2001.
cenderung dikonotasikan sebagai upaya ekstrem dari kalangan tertentu khususnya aktivis Ornop maupun Ormas dalam melakukan pendampingan dan pembelaan terhadap kasus – kasus rakyat47
Sejalan perkembangan waktu , pandangan dan pengertian tentang advokasi mulai mengalami pergeseran paradigma. Salah satunya adalah pandangan yang melihat advokasi untuk keadilan sosial . 48 47 idem 48
Buku Pintar Pekerja Sosial jilid 2 , Albert R. Roberts dan Gilbert.cetakan 1.2009.
. Dalam paradigma ini , suatu kegiatan advokasi tidak lagi menempatkan organisasi atau kelompok sebagai ‘pahlawan’ atau ‘bintang’ melaikan suatu proses yang menghubungkan antara berbagai pihak dalam masyarakat melalui terbentuknya berbagai aliansi strategis yang memperjuangkan terciptanya keadilan sosial.
Dalam konteks penanganan masalah atau kasus kegiatan advokasi biasanya dapat dibedakan dalam 2 hal. Pertama , advokasi yang bersifat litigasi dan kedua , advokasi yang bersifat nonlitigasi. Advokasi bersifat litigasi sepenuhnya diartikan sebagai upaya penanganan kasus dengan menempuh jalur hukum dan pengadilan. Sementara advokasi secara nonlitigasi erkaitan erat dengan upaya penanganan kasus melalui jalur lobby dan aksi yang bersifat membangun opini publik , baik yang dilakukan dengan cara aksi demonstrasi , delegasi , unjuk rasa , hingga kampanye baik secara lisan maupun tulisan. Idealnya kedua pendekatan ini dapat saling kuat menguatkan dalam konteks penanganan kasus. Namun , faktanya adalah bahwa kedua kegiatan ini tak selalu seiring sejalan. Karena tak jarang penanganana kasus melalui jalur litigasi kurang mampu mengangkat akar permasalahan yang ada dan terhenti sampai persoalan pidana semata , sementara perdata tidak terangkat ke permukaan.
Ada beberapa tahapan penting yang perlu diketahui berkaitan dengan proses advokasi yang akan dilakukan49
1. Memahami sistem kebijakan publik. . Antara lain :
2. Membentuk lingkar inti. 3. Memilih issu strategis.
4. Merancang sasaran dan strategi. 5. Mengolah data dan informasi. 6. Menggalang sekutu dan pendukung. 7. Mengajukan rancangan tanding. 8. Mempengaruhi pembuat kebijakan. 9. Membentuk pendapat umum. 10.Membangun basis gerakan. 11.Memantau dan menilai program. 12.Evaluasi.
Dalam konteks advokasi kasus tanah yang dialami oleh petani , strategi advokasi yang dapat dilakukan adalah :
a. Membangun konsolidasi dan memperluas aksi perlawanan.
b. Membangun aliansi dengan sektor lainnya untuk mendapatkan dukungan moril maupun materil.
c. Membentuk pendapat umum dalam rangka pembangunan kesadaran dan empati publik tentang persoalan yang dihadapi oleh petani.
49
Makalah DPW SPI SUMUT dengan judul Sebuah Pendekatan dalam Penanganan Kasus Tanah. Dipresentasikan dalam Sekolah HAM di Aula Fisip USU tertanggal 17-18 Mater 2011.
d. Melakukan kampanye dan opini publik di berbagai level. e. Melakukan upaya litigasi dan nonlitigasi.
f. Membangun opini publik tentang pelanggaran HAM oleh staf aparatus dan pihka perkebunan terhadap petani.
Keseluruhan prosedur diatas hanya mungkin dapat dilakukan jika sudah terbangun komitmen dan kesadaran kritis pada komunitas yang ada serta rasa saling percaya dan solidaritas antara sesama petani maupun stakeholder yang tergabung untuk secara bersama sama memperjuangkan nasib petani.