• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGELOLA PROYEK 2.1 Pemilik Proyek (Owner)

3.1.1. Pekerjaan Timbunan Tanah dan Pemadatan Tanah

Pekerjaan ini bertujuan untuk menyesuaikan tanah yang semula merupakan tanah rawa menjadi tanah dengan spesifikasi yang dibutuhkan dan memenuhi standar untuk pembangunan sebuah bandara internasional. Kondisi tanah harus memenuhi syarat dan daya dukung untuk konstruksi di atasnya. Pekerjaan timbunan dan pemadatan tanah terdiri dari :

1. Persiapan

Pada proses persiapan mencakup pengukuran lahan, pembuatan gambar kerja, perijinan proyek, dan pembersihan lahan.

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 2. Pekerjaan Galian Awal

Dilakukan pekerjaan galian dengan kedalaman 80 cm menggunakan excavator dengan tujuan membuang tanah rawa. Pekerjaan dilakukan secara bertahap menyesuaikan kapasitas dari peralatan dan tenaga kerja.

Gambar 3.1 Ilustrasi Pekerjaan Galian

(Sumber : Metodologi Pelaksanaan Kerja dan Tahapannya – PT PP (Persero)) 3. Pengeringan Lahan dari Genangan Air Rawa

Proses ini dilakukan dengan cara menggunakan pompa air. 4. Pemasangan Lapisan Geotextile.

Pemasangan geotextile ini bertujuan untuk memberikan perkuatan tanah lunak.

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 5. Pemesanan dan Pendatangan Material Urugan

Material tanah urugan yang digunakan pada proyek ini dipesan menyesuaikan dengan spesifikasi yang sudah memenuhi syarat. Pendatangan material tanah urugan menggunakan transportasi darat berupa dump truck dengan kapasitas 15 ton. Material urugan tanah yang digunakan pada lokasi pekerjaan paved shoulder sedangkan pada lokasi saluran menggunakan hasil keprasan dari apron.

6. Penghamparan Material Tanah Urugan

Penghamparan material urugan membentuk jalan akses untuk excavator untuk melaksanaan pekerjaan galian di area selanjutnya. Penghamparan dilakukan dengan 4 tahap secara berurutan dari layer 1 sampai dengan layer 4 dengan ketinggian pada setiap layer adalah 20 cm, kemudian dilakukan pemadatan.

Gambar 3.3.a Proses Penggalian Tanah di Layer Berikutnya (Sumber : Metodologi Pelaksanaan Kerja dan Tahapannya – PT PP (Persero))

Gambar 3.3.b Proses Melanjutkan Pekerjaan Galian Tanah Seterusnya (Sumber : Metodologi Pelaksanaan Kerja dan Tahapannya – PT PP (Persero))

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 7. Proses Pemadatan Tanah Timbunan

Proses ini dilakukan untuk menghindari penurunan elevasi yang berlebihan dalam proses pelaksanaan proyek. Setelah tanah timbunan dipadatkan dengan sempurna, dilakukan tes kepadatan tanah.

Data teknis pekerjaan timbunan : a. Peralatan :

1) Dump Truck kapasitas 15 ton = 6 Unit

2) Bulldozer = 2 Unit

3) Vibro Roller = 1 Unit

4) Watertank Truck = 1 Unit

b. Volume Pekerjaan

1) Jalan Akses = 18.050 m3

2) Timbunan tanah bekas tambak =189.384 m3 3) Timbunan tanah bekas tambak = 24.383 m3 c. Rencana Waktu Pelaksanaan

1) Jalan Akses = 55 Hari

2) Timbunan Hasil Keprasan = 124 Hari 3) Timbunan Material Tambahan = 60 Hari 3.1.2. Metode Pelaksanaan Instalasi Spun Pile

Spun Pile adalah tipe tiang pancang yang digunakan untuk pekerjaan pemancangan pada lokasi paved shoulder dan exit taxiway timur dan barat. Pihak pelaksana menggunakan Spun Pile karena sifat tanah pada lokasi merupakan tanah lunak atau tanah rawa dan memanfaatkan daya himpit tanah (daya cengkram tanah) untuk menghimpit tiang pancang. Pelaksanaan pekerjaan pemancangan Spun Pile dilakukan pada pukul 22.00 s/d 04.00 dengan 5 jam efektif, hal ini sudah menjadi prosedur dari pihak Proyek Pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang dengan pihak Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang, karena jam operasional bandara closing gate pada pukul 20.00 atau jam delapan malam.

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

Tiang pancang atau spun pile yang digunakan pada proyek ini berdiameter 400 mm dengan panjang 13 m untuk bagian pertama dan 12 m untuk bagian kedua.

Sebelum pekerjaan pemancangan spun pile dilaksanakan terlebih dahulu dilakukan pembongkaran pave shoulder pada tepi runway. Fungsi dari paved shoulder adalah suatu konstruksi untuk menghimpit runway agar daya dukung runway cukup untuk menahan impact atau hantaman dari landing dan take-off pesawat sehingga tidak mengalami pergeseran yang cukup signifikan berakibat buruk pada penerbangan.

Jadi, sebelum prosedur pemancangan spun pile dilakukan, terlebih dahulu dilakukannya pembongkaran paved shoulder sebagai berikut : 1. Persiapan Alat Berat

Alat berat yang diperlukan dalam pekerjaan pembongkaran paved shoulder antara lain : excavator breaker, excavator, dan dump truck.

2. Penghancuran lapisan paved shoulder menggunakan excavator breaker.

3. Pemindahan limbah pembongkaran paved shoulder dengan dump truck.

Gambar 3.4 (a) Pembongkaran Paved Shoulder dan (b) Pembuangan Limbah Pembongkaran

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

Setelah pembongkaran paved shoulder dilaksanakan maka pekerjaan pemancangan spun pile bisa dimulai. Prosedur tetap dalam proses pemancangan tersebut antara lain :

1. Persiapan

Persiapan untuk pekerjaan pemancangan spun pile mencakup pemasangan lampu penerangan dan persiapan alat-alat berat yang akan digunakan dalam pemancangan spun pile.

2. Loading dan peletakan spun pile pada alur yang ditentukan Proses loading ini menggunakan alat berupa Crane yang digunakan mengangkat dan menurunkan spun pile ke atas dan turun dari truck trailer.

Gambar 3.5 Pemindahan spun pile dari lokasi stock ke lokasi pemancangan

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 3. Pemancangan Spun Pile

Pemancangan dilakukan dengan alat Diesel Hammer. Pemancangan spun pile dengan kedalaman ± 25 m dibagi menjadi 2 tahap yaitu pemancangan spun pile pertama dengan panjang 13 m dan spun pile kedua dengan panjang 12 m. Penyambungan spun pile dilakukan dengan cara pengelasan.

Berikut ini adalah gambar ilustrasi dari proses pemancangan spun pile :

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

Gambar 3.6 Proses Pemancangan dan sambungan Spun Pile

(Sumber : Metodologi Pelaksanaan Kerja dan Tahapannya – PT PP (Persero)) Pada gambar di bawah ini dapat dilihat proses pemancangan spun pile yang terjadi di lapangan dimulai dari pemasangan spun pile ke alat diesel hammer (gambar 3.7 (a)), kemudian pemancangan spun pile bagian pertama (gambar 3.7 (b)) yang kemudian dilanjutkan dengan pengelasan (gambar 3.7 (c)).

Gambar 3.7 (a) Pemasangan tiang pancang ke diesel hammer ;(b) tiang pancang pertama yang ditancapkan;

(c) penyambungan tiang pancang 1 dan 2 (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

Gambar 3.8 Proses alur pemancangan

(Sumber : Metodologi Pelaksanaan Kerja dan Tahapannya – PT PP (Persero)) 4. Kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tiang pancang dan

isian tiang dengan beton mutu K-400. Sebelum dilakukan pemotongan dilakukan penggalian tinggi dahulu hingga elevasi yang sudah direncanakan. Pemotongan dilakukan dengan manual dengan bantuan tenaga kerja yang menggunakan alat gerinda.

Data teknis dalam pekerjaan pemancangan spun pile : a. Peralatan

1) Pale driver + Hammer = 2 Unit 2) Trailer 12 ft = 1 Unit

3) Crawler Crane = 1 Unit

b. Jumlah Titik Pemancangan

1) Taxiway timur = 202 titik 2) Taxiway barat = 266 titik c. Waktu (Produktivitas : 6 titik / hari)

1) Taxiway timur = 202 / 6 = 36 hari 2) Taxiway barat = 266 / 6 = 44 hari

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 3.1.3. Pemasangan Cerucuk dan Sesek Bambu

Berikut ini adalah gambar rencana pemasangan cerucuk dan sesek bambu :

Gambar 3.9 Gambar Rencana Pemasangan Cerucuk dan Sesek Bambu (Sumber : Dokumentasi pribadi)

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

Pemasangan cerucuk dan sesek bambu merupakan salah satu tahap dari pembuatan saluran baru pada Proyek Pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang setelah galian tanah. Cerucuk bambu atau pancang bambu yang digunakan yang memiliki diameter ± 10 cm dan panjang 2 m, sedangkan untuk ukuran sesek bambu adalah 1.5 m x 1.5 m.

Gambar 3.10 Cerucuk dan Sesek Bambu (Sumber : Dokumentasi pribadi)

Prosedur pemasangan cerucuk dan sesek bambu pada pekerjaan saluran :

1. Peletakan cerucuk bambu dengan panjang 2 m pada titik yang sudah ditentukan oleh teknisi lapangan menggunakan alat total station.

Gambar 3.11.a Penancapan pancang bambu ke titik (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

2. Setelah cerucuk diletakkan pada titik yang ditentukan, cerucuk bambu ditekan ke dalam tanah menggunakan backhoe.

Gambar 3.11.b Penancapan pancang bambu dengan bantuan excavator (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

3. Setelah seluruh cerucuk bambu masuk ke dalam tanah, permukaan tanah yang sudah ada cerucuk bambunya dilapisi dengan sesek bambu.

Gambar 3.11.c Pelapisan tanah dengan sesek bambu setelah penancapan cerucuk bambu

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 3.2. Peralatan, Alat Berat, dan Bahan

Peralatan, alat berat, dan bahan adalah aspek penting dalam kelangsungan pekerjaan konstruksi. Ketiga aspek penting ini sangat berkesinambungan dalam membangun jalannya suatu proyek baik dari segi mutu, waktu, maupun biaya.

Ditinjau dari fungsi dan kegunaannya alat berat harus mempunyai operator yang menjalankannya. Penggunaan peralatan dan alat berat harus diatur sedemikian rupa sehingga sesuai dengan rencana kegiatan harian / mingguan yang dibuat oleh pihak pelaksana agar tidak terjadi keterlambatan dalam pelaksanaan.

Peralatan dan alat berat yang digunakan dalam Proyek Pengembangan Bandara Internasional Ahmad Yani paket – 2, antara lain :

1. Peralatan

a. Concrete Mixer b. Waterpass

c. Mobil tangki reservoir d. Mesin Jahit Sewn e. Bar Cutter

f. Concrete Vibrator g. Mesin Las

h. Pompa Air

i. Scriber Grider (Manual & Automatic)

j. Besi Pijakan k. Set Uji Slump l. Set Uji Sandcone m. Total Station n. Jack Hammer

o. Garpu Grooving Manual p. Genset 2. Alat Berat a. Diesel Hammer b. Batching Plant c. Excavator d. Excavator Breaker e. Motor Grider f. Mobil Tangki g. Crawler Crane h. Vibroroller i. Dump Truck j. Truk Mixer

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

3. Bahan dan Material Pendukung (Struktur dan Perbaikan Tanah) a. Spun Pile b. Geotextille c. Biotextille d. Besi e. Batu Belah f. Semen

g. Agregat Halus dan Kasar h. Cerucuk Bambu

i. Sesek Bambu

3.2.1. Peralatan

1. Concrete Mixer

Alat ini digunakan untuk mencampur adonan beton untuk pekerjaan lantai, dinding, dan profil saluran.

Gambar 3.12 Pekerjaan Menggunakan Concrete Mixer

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 2. Waterpass

Waterpass digunakan untuk mengukur elevasi permukaan tanah pada bidang tanah.

Gambar 3.13 Waterpass

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 3. Mobil Tangki Reservoir

Kendaraan ini berbentuk truk yang mengangkut tangki reservoir, yang kemudian tangki tersebut dihubungkan dengan pipa untuk menyiram tanah yang akan dilalui kendaraan-kendaraan proyek sehingga kondisi tanah tetap padat.

Gambar 3.14 Mobil Tangki Reservoir

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 4. Alat Test California Bearing Ratio (CBR)

Alat ini digunakan untuk melakukan test pada tanah yang telah dipadatkan untuk mengetahui apakah tingkat kepadatan tanah sudah mencapai tingkat kepadatan yang dibutukan.

Gambar 3.15 Alat Test CBR (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 5. Mesin Jahit Sewn

Pada dasarnya alat ini sama dengan mesin jahit pada umumnya. Perbedaannya adalah mesin jahit sewn lebih praktis dan mudah digunakan karena menggunakan tenaga listrik. Alat ini digunakan untuk menggabungkan bahan geotextile.

Gambar 3.16 Mesin Jahit Swen

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 6. Bar Cutter

Alat ini berfungsi untuk memotong benda-benda keras seperti besi tulangan dan beton. Pada proyek ini, bar cutter digunakan untuk memotong besi dowel menjadi bagian kecil-kecil. Bar cutter juga digunakan untuk memotong beton pada bagian yang retak yang kemudian dibongkar dan dilakukan pengecoran kembali.

Gambar 3.17.a Bar Cutter digunakan memotong beton (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

Gambar 3.17.b Bar Cutter yang digunakan memotong dowel (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

7. Concrete Vibrator

Sesuai dengan namanya yaitu concrete vibrator, alat ini berfungsi untuk memberikan getaran pada beton yang masih cair agar cairan beton menjadi padat mengisi rongga-rongga pada cetakan beton. Alat ini terbagi jadi 2 bagiann yaitu main vibrator yang nantinya dicelupkan pada beton dan mesin penggeraknya sebagai sumber tenaga.

Gambar 3.18.a Main Vibrator (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

Gambar 3.18.b Mesin Concrete Vibrator

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 8. Mesin Las

Seperti pada umumnya, mesin las digunakan untuk menyambungkan besi atau baja. Pada proyek ini, mesin las digunakan uktuk menyambungkan 2 batang spun pile.

Gambar 3.19.a Mesin Sumber Tenaga Elektroda (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3.19.b Proses Pengelasan pada Spun Pile

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 9. Waterpump (Mesin Pompa Air)

Mesin pompa air digunakan untuk memindahkan air dari tempat penampungan sementara menuju ke lokasi pekerjaan yang membutuhkan air dengan media selang.

Gambar 3.20 Waterpump

(Sumber :Dokumentasi Pribadi) 10. Scriber Grider (Mesin dan Manual)

Alat ini digunakan untuk meratakan permukaan adonan beton agar permukaan beton menjadi lebih halus dan padat.

Gambar 3.21.a Perkerjaan menggunakan Scriber Grider Mesin (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3.21.b Pekerjaan menggukana Scriber Grider Manual

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 11. Besi Pijakan / Jigar

Alat dibentangkan di atas permukaan beton yang masih cair dengan fungsi sebagai pijakan untuk pekerja yang sedang meratakan permukaan beton.

Gambar 3.22 Pekerjaan Menggunakan Besi Pijakan / Jigar (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

12. Set Uji Slump

Uji slump dilakukan setiap kali truck molen dari pabrik beton sampai dilokasi proyek. Uji slump dilakukan untuk mengetahui kadar air yang terkandung dalam adonan beton apakah sudah sesuai dengan kesepakatan atau belum. Alat-alat yang digunakan untuk uji slump antara lain kerucut abrams, besi penusuk, dan alas.

Gambar 3.23 Set Uji Slump

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 13. Set Uji Sandcone

Uji Sandcone dilakukan untuk mengetahui tingkat kepadatan tanah yang sudah dipadatkan dengan vibroroller.

Gambar 3.24 Set Uji Sandcone

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 14. Total Station

Alat ini digunakan untuk mengukur sudut dan jarak yang diintegrasi dalam satu unit alat ini.

Gambar 3.25 Total Station

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 15. Jack Hammer

Alat ini berfungsi untuk menghancurkan atau membongkar beton yang rusak sehingga dapat dilakukan pengecoran kembali.

Gambar 3.26 Pekerjaan menggunakan Jack Hammer

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 16. Mesin Diesel Genset

Mesin ini berfungsi sebagai sumber tenaga listrik untuk pekerjaan yang membutuhkan tenaga listrik.

Gambar 3.27 Mesin Diesel Genset (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 17. Sprayer

Alat ini digunakan untuk melakukan penyemprotan air pada beton setelah dilakukan grooving.

Gambar 3.28 Sprayer

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 18. Bekisting

Bekisting merupakan cetakan beton yang dibentuk sedemikian rupa sesuai dengan bentuk dan dimensi yang sudah direncanakan. Bekisting yang digunakan pada proyek ini terbuat dari besi sehingga bisa digunakan berkali-kali.

Gambar 3.29 Bekisting besi yang digunakan dalam pengecoran Rigid Pavement

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 3.2.2. Alat Berat

1. Diesel Hammer

Alat ini merupakan komponen utama yang diperlukan dalam pekerjaan pemancangan spun pile.

Gambar 3.30.a Diesel Hammer

(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3.30.b Proses Pemancangan Menggunakan Diesel Hammer

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 2. Batching Plant

Batching Plant merupakan sebuah alat yang digunakan untuk membuat campuran beton dalam jumlah yang besar. Batching Plant terdiri dari beberapa bagian antara lain :

a. Cement silo : Berbentuk tabung besar yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan semen.

b. Belt Confeyor : Berfungsi untuk membawa material ke atas dari bin ke storage bin.

c. Bin : Berfungsi sebagai tempat penyimpanan material berupa agregat kasar dan halus.

d. Storage Bin : Digunakan untuk pemisah fraksi agregat yang digunakan untuk adonan beton.

Gambar 3.31 Batching Plant

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 3. Excavator

Alat yang digunakan untuk menggali tanah dalam volume besar. Pada proyek ini digunakan untuk pekerjaan galian dan urugan tanah.

Gambar 3.32 Excavator

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 4. Excavator Breaker

Berbeda dengan Excavator biasa, Excavator Breaker digunakan untuk menghancurkan benda-benda yang keras seperti beton. Alat ini bekerja dengan memanfaatkan kekuatan hidrolik untuk memberikan tekanan yang besar pada benda yang akan dihancurkan.

Gambar 3.33 Excavator Breaker

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 5. Motor Grider

Alat ini digunakan untuk meratakan permukaan tanah sub-base setelah penghamparan material sub-base.

Gambar 3.34 Motor Grider

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 6. Mobil Tangki Air

Mobil tangki air digunakan untuk mendistribusikan air bersih ke dalam tandon atau penampungan air sementara yang kemudian air dapat digunakan dalam berbagai pekerjaan dalam proyek.

Gambar 3.35 Pengisian Penampungan Air dari Mobil Tangki (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 7. Crawler Crane

Alat ini digunakan untuk pengangkutan atau pemindahan alat / material yang besar dan berat sehingga tidak mungkin menggunakan tenaga manusia.

Gambar 3.36 Crawler Crane

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 8. Vibroroller

Alat ini digunakan untuk memadatkan tanah dengan cara menggilas bidang tanah yang akan diratakan dengan sebuah tabung yang memberikan getaran kepada tanah sehingga tanah menjadi padat.

Gambar 3.37 Vibroroller

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata 9. Dump Truck

Dump Truck biasanya digunakan untuk mengangkut tanah hasil galian untuk dibuang atau digunakan juga untuk mengangkut material.

Gambar 3.38 Dump Truck

(Sumber : Dokumentasi Pribadi) 10. Truk Mixer

Truk Mixer digunakan untuk mengangkut adonan beton dari pabrik beton penyedia menuju lokasi proyek. Kapasitas dari Truk Mixer pun berbeda berkisar antara 6,5 m3 sampai 8 m3.

Gambar 3.39 Truk Mixer

Andre Prasetia (12.12.0016)

Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata

3.2.3. Bahan dan Material Pendukung (Struktur dan Perbaikan

Dokumen terkait