GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
3. Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang a. Kebinamargaan
Panjang jalan yang menjadi kewenangan Pemerintah Kabupaten Blora berdasaran Keputusan Bupati Nomor 620 /232/ 2019 tanggal 14 Pebruari 2019 tentang Penetapan Status Ruas Jalan Kabupaten di Wilayah Kabupaten Blora yakni 1.152,31 km. Status jalan kabupaten mengalami penambahan sebesar 416,15 km. Panjang jalan kabupaten
II - 31 sebelumnya adalah 794,69 km. Penambahan panjang ini sebagian besar berupa jalan di kawasan hutan dengan kondisi hampir semuanya rusak berat. Hal ini menyebabkan kondisi jalan baik secara keseluruhan mengalami penurunan yang cukup besar dari tahun 2016 sebesar 33,59% menjadi 22,29% pada tahun 2020.
Pada tahun 2020, jalan kabupaten dengan kondisi baik sebesar 22,29%, menurun sebesar 25,83% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pembangunan jalan kabupaten yang dilaksanakan pada tahun 2020 dan untuk tahun-tahun mendatang diprioritaskan dengan metode betonisasi (rigid beton). Dengan metode ini diharapkan umur jalan akan lebih lama.
Hal ini yang menyebabkan prosentase kondisi jalan baik peningkatannya tidak terlalu banyak, mengingat kondisi anggaran yang terbatas.
Sementara itu jumlah jembatan yang ada di Kabupaten Blora sebanyak 158 unit dengan panjang 2.500,90 m. Kondisi jembatan baik di Kabupaten Blora tahun 2020 sebesar 86,06 % atau 2.152,3 m dari total panjang jembatan.
b. Sumber Daya Air
Kondisi drainase di Kabupaten Blora menunjukan peningkatan.
Panjang drainase kondisi baik tahun 2016 sebesar 201,5 km meningkat tahun 2020 menjadi 580 km. Kondisi embung dalam keadaan baik di Kabupaten Blora sebanyak 51,67%, sedangkan sisanya dalam kondisi rusak sedang maupun rusak berat. Kabupaten Blora juga memiliki sarana prasarana sumber daya air berupa waduk. Tahun 2020 jumlah waduk di Kabupaten Blora sebanyak 2 unit yaitu Waduk Tempuran dan Waduk Greneng. Waduk ini merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Kondisi kedua waduk tersebut sebesar 90% dalam kondisi yang baik pada tahun 2020.
c. Keciptakaryaan
Persentase jumlah rumah tangga yang mendapatkan akses terhadap air minum melalui SPAM jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi terhadap rumah tangga di Kabupaten Blora sampai dengan tahun 2020 sebesar 89%, kondisi tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu untuk cakupan pelayanan sanitasi sampai dengan tahun 2019 tercapai sebesar 95%.
d. Tata Ruang
Pada bidang tata ruang, Pemerintah Kabupaten Blora telah memiliki dokumen perencanaan tata ruang yang telah ditetapkan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Blora Nomor 18 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Blora Tahun 2011-2031. Perda tersebut saat ini telah dicabut dan diganti dengan Peraturan Daerah Kabupaten Blora Nomor 5 Tahun 2021 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Blora Tahun 2021-2041. Kabupaten Blora juga telah menyusun RDTR kecamatan, yang hingga tahun 2019 telah tersusun sebanyak 11 kecamatan meskipun belum ditetapkan dalam Perda.
II - 32 Sementara itu kecamatan yang belum memiliki RDTR adalah Kecamatan Bogorejo, Sambong, Jati, Jiken dan Banjarejo. Permasalahan penataan ruang yang terjadi antara lain meliputi permasalahan dalam proses penyusunan rencana tata ruang (prosedur penyusunan rencana tata ruang dan prosedur penetapan rencana tata ruang), permasalahan dalam implementasi rencana tata ruang, dan permasalahan dalam pengendalian dan pengawasan pemanfaatan ruang. Untuk mengatasi permasalahan ini memerlukan koordinasi intensif dan peran aktif dari semua stakeholeder terkait.
Secara rinci capaian urusan Pekerjaan Umum dalam kurun waktu tahun 2016-2020 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.22
Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Bidang Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Tahun 2016-2020
No. Indikator Satuan Capaian
2016 2017 2018 2019 2020 irigasi Kabupaten dalam kondisi baik lingkungan (jalan tanah menjadi perkerasan paving blok)
% 50 60 70 80 82
10. Panjang jalan lingkungan
/lokal Km 2.961 2.961 2.961 2.961 2.981
11. Tersedianya informasi mengenai Rencana Tata Ruang (RTR) wilayah kabupaten/kota beserta rencana rincinya melalui peta analog dan serta digital.
12. Terlayaninya masyarakat dalam pengurusan izin pemanfaatan ruang sesuai dengan Peraturan
% 100 100 100 100 100
13. Persentase jumlah rumah tangga yang mendapatkan akses terhadap air minum
% 80 81 89,68 88,03
(tanpa poin kontinuit
89
II - 33
No. Indikator Satuan Capaian
2016 2017 2018 2019 2020 melalui SPAM jaringan
perpipaan dan bukan jaringan perpipaan terlindungi terhadap rumah tangga di seluruh kabupaten/kota.
as dan kemudah an akses)
14. Prosentase kesesuaian tata ruang dalam pemanfaatan ruang kaitannya dengan Perda RTRW
% 100 100 100 100 100
Sumber: Sistem Informasi Pemerintah Daerah, 2020
b. Perumahan rakyat dan kawasan permukiman
Capaian kinerja pada urusan Perumahan dan Kawasan Permukiman di Kabupaten Blora pada tahun 2016-2020 dapat dilihat melalui beberapa indikator yaitu: 1) Luas Kawasan Kumuh di Perkotaan, dengan capaian selama lima tahun (2016-2021), mengalami penurunan dari 66,11 Ha pada tahun 2016 menjadi 18,01 Ha pada tahun 2020.
Penurunan luas kawasan kumuh di Kabupaten Blora dilakukan dengan berbagai upaya salah satunya adalah melakukan perbaikan kualitas kawasan permukiman kumuh di perkotaan melalui Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku); 2) Pemakaman umum yang terpelihara di Kabupaten Blora capaian selama 5 tahun terakhir (2016-2020) relatif tetap, yaitu 24 kawasan; 3) Indikator Jumlah Peningkatan Kualitas RTLH juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama 5 tahun terakhir, dari 85 unit di tahun 2017 menjadi 1.278 unit di tahun 2020.
Peningkatan Rumah Tidak Layak Huni di Kabupaten Blora diselesaikan dengan berbagai program seperti bantuan sosial RTLH yang anggarannya bersumber dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah itu sendiri juga sinergi dengan pihak ke-3 dengan kerjasama CSR dengan perusahaan-perusahaan besar. Secara rinci data RTLH Kabupaten Blora dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 2.23
Rumah Tidak Layak Huni Kabupaten Blora Tahun 2016-2020
NO KECAMA
SUDAH TERTANGANI 2019 SUDAH TERTANGANI 2020 BELUM
TERTA
II - 34 Capaian kinerja indikator urusan Perumahan dan Kawasan Permukiman di Kabupaten Blora di tahun 2016 hingga tahun 2020 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.24
Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Perumahan dan Kawasan Permukiman Kabupaten Blora Tahun 2016-2020
No. Indikator Satuan Capaian
2016 2017 2018 2019 2020 1. Luas Kawasan Kumuh
di Perkotaan
Ha 66,11 65,86 29,44 18,01 18,01 2. Pemakaman Umum
yang terpelihara Kawa
san 24 24 24 24 24
3. Jumlah Peningkatan Kualitas RTLH
Unit N.A 85 822 1.770 1.278
4. Penyediaan dan
rehabilitasi rumah yang layak huni bagi korban bencana kabupaten (SPM)
% NIHIL
(BPBD) NIHIL
(BPBD) NIHIL
(BPBD) NIHIL
(BPBD) NIHIL (BPBD)
5. Fasilitasi penyediaan rumah yang layak huni bagi masyarakat yang terkena relokasi program Pemerintah Daerah kabupaten (SPM)
% NIHIL (BPBD)
NIHIL (BPBD)
NIHIL (BPBD)
NIHIL (BPBD)
NIHIL (BPDB)
Sumber: Sistem Informasi Pemerintahan Daerah, 2020
Berdasarkan tabel diatas, capaian Penyediaan dan rehabilitasi rumah yang layak huni bagi korban bencana kabupaten (SPM) dan Fasilitasi penyediaan rumah yang layak huni bagi masyarakat yang terkena relokasi program Pemerintah Daerah kabupaten (SPM) nihil. Hal ini disebabkan pada kurun waktu tahun 2016-2020 tidak terdapat kasus relokasi program Pemerintah Daerah dan tidak terdapat korban bencana yang memerlukan rehabilitasi rumah yang layak huni.
c. Ketentraman, ketertiban umum, dan perlindungan masyarakat
Capaian kinerja pada urusan Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan masyarakat di Kabupaten Blora pada tahun 2016 hingga tahun 2020 dapat dilihat melalui beberapa indikator yaitu: Tingkat penyelesaian pelanggaran K3 (ketertiban, ketentraman, keindahan) dimana persentase capaian selama lima tahun (2016-2020) mengalami peningkatan yaitu dari sebesar 80% tahun 2016 menjadi 85% di tahun 2020; Angka kriminalitas di Kabupaten Blora cenderung meningkat dari sebesar 62 kasus menjadi 135 kasus di Tahun 2020.
Cakupan patroli petugas Satpol PP semakin meningkat yaitu dari sebesar 37,5% meningkat menjadi sebesar 56,25%; adapun jumlah Polisi Pamong Praja juga cenderung meningkat dari sejumlah 167 orang menjadi sebanyak 181 orang; jumlah Linmas meningkat dari sjumlah
II - 35 7.273 orang menjadi 7.318 orang; jumlah Pos Kamling tidak mengalami perubahan sejak tahun 2015 yaitu sejumlah 2.559 unit.
Terkait penanggulangan bencana, pencapaian 3 indikator SPM telah mencapai 100%, yaitu indikator: Persentase Warga Negara yang memperoleh layanan informasi rawan bencana; Persentase Warga Negara yang memperoleh layanan pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana; dan Persentase Warga Negara yang memperoleh layanan penyelamatan dan evakuasi korban bencana. Pencapaian 2 indikator juga telah mencapai 100%, yaitu Persentase kecepatan respon kurang dari 24 jam untuk setiap status darurat bencana; dan Persentase petugas yang aktif dalam penanganan darurat bencana. Sementara itu untuk dokumen kebencanaan belum tersusun, meliputi dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB), Rencana Penanggulangan Bencana (RPB), dan Rencana Kontinjensi (Renkon).
Terkait layanan kebakaran yaitu pada indikator Layanan Pemadaman, Penyelamatan dan Evakuasi oleh Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan mengalami kecenderungan menurun yaitu pada tahun 2016 sebesar 75% menurun menjadi sebesar 52,17% pada tahun 2020 dan Layanan Pemadaman yang dilakukan oleh relawan kebakaran (Balakar, Satlakar, dan atau komunitas masyarakat lainnya) yang dibentuk dan/atau dibawah pembinaan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan/Perangkat Daerah baru mencapai 1%.
Capaian kinerja indikator urusan Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan masyarakat di Kabupaten Blora di tahun 2016 hingga tahun 2020 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.25
Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan masyarakat Daerah Kabupaten Blora Tahun
2016-2020
No. Uraian Satuan Tahun
2016 2017 2018 2019 2020 1. Tingkat penyelesaian pelanggaran
K3 (ketertiban, ketentraman, keindahan) di Kabupaten
% 80 80 85 85 85
2. Angka kriminalitas Kasus 62 22 64 151 135
3. Cakupan patroli petugas Satpol PP % 37,5 56,25 56,25 56,25 56,25 4. Jumlah Polisi Pamong Praja Orang 167 198 222 189 181 5. Jumlah Linmas Orang 7.273 7.248 7.248 7.288 7.318 6. Jumlah Pos Siskamling Unit 2.559 2.559 2.559 2.559 2.559 7. Warga Negara yang memperoleh
layanan akibat dari penegakan hukum Perda dan perkada.
% 100
kasus) (0
100 kasus) (0
100 kasus) (0
100 kasus) (0
100 kasus) (0 8. Persentase Warga Negara yang
memperoleh layanan informasi rawan bencana
% 100 100 100 100 100
9. Persentase Warga Negara yang memperoleh layanan pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana (SPM)
% 100 100 100 100 100
10. Persentase Warga Negara yang
memperoleh layanan % 100 100 100 100 100
II - 36
No. Uraian Satuan Tahun
2016 2017 2018 2019 2020 penyelamatan dan evakuasi
korban bencana (SPM) 11. Persentase (%) penyelesaian
dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) sampai dengan dinyatakan sah/legal
% 0 0 0 0 0
12. Persentase (%) penyelesaian dokumen Rencana
Penanggulangan Bencana (RPB) sampai dinyatakan sah/legal
% 0 0 0 0 0
13. Persentase (%) penyelesaian dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon) sampai dinyatakan sah/legal
% 0 0 0 0 0
14. Persentase kecepatan respon kurang dari 24 jam untuk setiap status darurat bencana (%)
% 100 100 100 100 100
15. Persentase (%) jumlah petugas yang aktif dalam penanganan darurat bencana
% 100 100 100 100 100
16. Layanan Pemadaman,
Penyelamatan dan Evakuasi oleh Dinas Pemadam Kebakaran
% 75 76,56 55,67 76,56 52,17
17. Layanan Pemadaman yang
dilakukan oleh relawan kebakaran (Balakar, Satlakar, dan atau komunitas masyarakat lainnya) yang dibentuk dan/atau dibawah pembinaan Dinas Pemadam Kebakaran dan
Penyelamatan/Perangkat Daerah
% 1 1 1 1 1
Sumber: Sistem Informasi Pemerintahan Daerah, 2020
Untuk kegiatan penanggulanagan kebencanaan di Kabupaten Blora terdapat 4 indikator yaitu Jumlah Desa yang mendapat pelatihan simulasi penanggulanan bencana selama lima tahun (2016-2020) terdapat 15 Desa yang sudah dilatih simulasi kebencanaan tetapi pada tahun 2020 mengalami penurunan yaitu hanya 3 yang mendapat simulasi pelatihan kebencanaan. Sedangkan untuk Kelurahan ada sebanyak 10 kelurahan yang telah mendapatkan pelatihan simulasi penanggulanagan bencana dan ada 16 Kecamatan di Tahun 2020.
Sementara itu untuk jumlah orang yang dilatih sejak tahun 2016 meningkat dari sebanyak 160 orang menjadi 445 orang di tahun 2020.
Adapun perkembangan datanya dapat diihat sebagai berikut:
Tabel 2.26
Perkembangan Kegiatan Pelatihan dan Simulasi Penanggulangan Bencana BPBD Kabupaten Blora Tahun 2016-2020
No. Indikator Satuan Capaian
2016 2017 2018 2019 2020 1. Jumlah Desa yang mendapat
pelatihan simulasi penanggulanan bencana
Desa 15 12 18 8 3
II - 37
No. Indikator Satuan Capaian
2016 2017 2018 2019 2020 2. Jumlah Kelurahan yang
mendapat pelatihan simulasi penanggulanan bencana
Kelurahan 7 0 3 0 0
3. Jumlah Kecamatan yang mendapat pelatihan simulasi penanggulanan bencana
Keca
matan 4 3 7 7 16
4. Jumlah Orang yang mendapat pelatihan simulasi
penanggulanan bencana
Orang 160 160 320 440 445
Sumber: Sistem Informasi Pemerintah Daerah, 2020
d. Sosial
Kesejahteraan sosial adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial warga negara agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan fungsi sosialnya. Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial adalah upaya yang terarah, terpadu, dan berkelanjutan yang dilakukan Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam bentuk pelayanan sosial guna memenuhi kebutuhan dasar, yang meliputi rehabilitasi sosial, jaminan sosial, pemberdayaan sosial, dan perlindungan sosial. Dalam konsep penyelenggaraan kesejahteraan sosial warga masyarakat tersebut dikenal dengan sebutan Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) dan masyarakat miskin yang menjadi kelompok sasaran pelayanan sosial.
Upaya untuk mengurangi jumlah PPKS di Kabupaten Blora dilakukan dengan berbagai cara. Meskipun demikian persentase PPKS yang mampu tertangani dengan baik memang masih relative sedikit. Dari tahun 2016 sampai tahun 2020 persentase PPKS yang tertangani baru mencapai 2%. Bentuk-bentuk penanganan PPKS antara lain adalah pemberian bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan dasar PPKS, pemberdayaan sosial melalui kelompok usaha bersama (KUBE), pelayanan terhadap penyandang disabilitas, dan juga pelayanan kepada kelompok-kelompok PPKS yang menjadi sasaran dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Blora dalam menangani PPKS juga melibatkan kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan sosial. Persentase wahana kesejahteraan sosial berbasis masyarakat (WKBSM) yang terlibat aktif dalam penyediaan sarana dan prasarana pelayanan kesejahteraan sosial di tahun 2020 mencapai 80%. Angka ini sedikit menurun dibandingkan dengan tahun 2017-2018.
Selain penanganan PPKS dan pemberdayaan PSKS, kewenangan kabupaten dalam urusan sosial adalah penanganan sosial korban bencana, dan pemeliharaan Taman Makam Pahlawan (TMP). Persentase korban bencana yang mendapatkan bantuan sosial di masa tanggap darurat dari tahun 2016-2020 semakin meningkat, dimana pada tahun 2020 capaiannya telah mampu 100%. Sementara itu untuk pemeliharaan TMP, kebutuhan sarana dan prasarana TMP yang memenuhi standar pada tahun 2020 juga baru mencapai 80%.
II - 38 Lebih rinci capaian indikator urusan sosial tersaji dalam tabel berikut.
Tabel 2.27
Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Bidang Sosial Kabupaten Blora Tahun 2016-2020
No. Indikator Satuan Capaian
2016 2017 2018 2019 2020