GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH
2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
% 60 35,63 64,11 57,08 44,25
7. Rasio UMK terhadap
KHL (%) % 98,01 99 92,4 95 94
8. Jumlah tenaga kerja yang memperoleh Jamsostek/ BPJS Ketenagakerjaan
Orang 7.500 6.688 6.676 9.116 9.226
Sumber: Sistem Informasi Pemerintahan Daerah, 2020
2. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
Capaian Indeks Pembangunan Gender (IPG) meningkat dari tahun ke tahun 2017 sebesar 83,55 hingga tahun 2019 sebesar 83,96, namun menurun pada tahun 2020 sebesar 83,88. Capaian IPG Kabupaten Blora menempati ranking 35 di Jawa Tengah. Rendahnya IPG dikontribusikan oleh rata-rata lama sekolah perempuan yang baru mencapai 6,30 tahun sedangkan laki-laki telah mencapai 7,40 tahun; angka harapan lama sekolah perempuan sebesar 12,20 tahun, sedangkan laki-laki sebesar 12,93 tahun; dan rata-rata pengeluaran perkapita perempuan hanya 5.841 ribu rupiah atau sepertiga dari laki-laki sebesar 14.004 ribu rupiah. Sementara itu untuk indikator usia harapan hidup lebih tinggi perempuan sebesar 76,21 tahun, dibandingkan laki-laki hanya sebesar 72,54 tahun.
Gambar 2.17 Perkembangan Indeks Pembangunan Gender Kabupaten Blora, Jawa Tengah dan Nasional Tahun 2016-2020
Capaian Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) mengalami peningkatan dari tahun 2015 ke tahun 2018, namun menurun di tahun 2019. Capaian IDG tahun 2020 berada dibawah Jawa Tengah maupun Nasional. Kabupaten Blora berada di ranking 25 dari 35 kabupaten kota di Jawa Tengah. Rendahnya capaian IDG dikontribusikan oleh semua indikator pembentuk yaitu persentase perempuan di legislative (13,33%),
83,55 83,79 83,96 83,88 92,22 91,94 91,95 91,89 92,18
90,82 90,96 90,99 91,07 91,06
82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00 94,00
2016 2017 2018 2019 2020
Blora Jawa Tengah Nasional
II - 43 Perempuan sebagai tenaga Manager, Profesional, Administrasi, Teknisi (39,92 % terendah di Jawa Tengah) dan Sumbangan Perempuan dalam Pendapatan Kerja (34,76%).
Gambar 2.18 Perkembangan Indeks Pemberdayaan Gender Kabupaten Blora, Jawa Tengah dan Nasional Tahun 2016-2020
Capaian IPG dan IDG yang cenderung rendah berada pada persoalan keterampilan dan keberdayaan perempuan. Hal ini dapat disimak dari rata-rata lama sekolah, rata-rata pengeluaran, peresentase perempuan dilegislatif, persentase perempuan yang menduduki jabatan strategis dan sumbangan perempuan dalam pendapatan kerja yang rendah.
Berdasarkan prasyarat pengarusutamaan gender (PUG), dapat ditelusuri persoalan yang masih dihadapi adalah berkaitan dengan kebijakan, kelembagaan, system data gender dan anak, dan partisipasi masyarakat dalam pencapaian kesetaraan dan keadilan gender. Hal ini bisa disimak belum adanya kebijakan responsif gender setingkat Perda, serta belum optimalnya kelompok kerja, maupun focal point di OPD.
Kinerja urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dapat dilihat dari beberapa indikator. Indeks pembangunan gender pada tahun 2016 yaitu 83 meningkat menjadi 83,88 pada tahun 2020. Indeks pemberdayaan Gender Kabupaten Blora cenderung fluktuatif menurun pada tahun 2016 dari 70% menjadi 64,37% pada tahun 2020. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah Kabupaten Blora pada tahun 2020 yaitu mencapai 5%.
Terkait perlindungan perempuan dan anak, data kekerasan anak pada Tahun 2019 sebanyak 7 kasus dan mengalami penurunan kasus pada Tahun 2020 sebanyak 2 kasus, untuk Kasus KDRT pada Tahun 2019 sebanyak 5 kasus dan menglamai penurunan sebanyak 1 Kasus KDRT dan 1 Kasus Kekrasan seksual. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KTP/A dan PPT/PKT di RS Kabupaten Blora mencapai 100%. Pusat Kesejahteraan
70,52 70,72
65,59
64,37 74,89 75,10
74,03
72,18 71,73
71,39
71,74 72,10
75,24
60,00 62,00 64,00 66,00 68,00 70,00 72,00 74,00 76,00 78,00
2016 2017 2018 2019 2020
Blora Jawa Tengah Nasional
II - 44 Sosial Anak Integratif (PKSAI) agar bisa lebih cepat dan bisa melakukan deteksi sejak dini khususnya dalam menangani kekerasan. Selain itu kiprah Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) dalam menangani berbagai kerentanan perempuan dan anak juga tidak dapat disisihkan.
Keberhasilan Kabupaten Blora dalam pemenuhan hak anak adalah dengan memperolehnya penghargaan Kabupaten Layak Anak tingkat Pratama Tahun 2019 oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, hal tersebut akan terus ditingkatkan statusnya menjadi Nindya melalui rencana pembentukan desa layak anak di semua desa. Secara rinci perkembangan kinerja urusan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 2.30
Capaian Kinerja Pembangunan Urusan Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Blora
Tahun 2016-2020
No. Program/Indikator Satuan Capaian
2016 2017 2018 2019 2020
1. Jumlah Focal point aktif Unit 8 40 41 43 43
2. Indeks Pembangunan Gender
% 83 83,55 83,79 83,96 83,88 3. Indeks Pemberdayaan
Gender % 70 70,52 70,72 65,59 64,37
4. Jumlah pusat Pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan anak (P2TP2A) di tingkat
kecamatan dan kabupaten
Unit 1 4 7 2 2
5. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah
% 4,69 4,9 5,0 5,0 5
6. Persentase SKPD menyusun analisis gender dalam dokumen perencanaan dan penganggaran SKPD
% 20 90 90 90 90
7. Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak
Kasus 5 12 38 13 4
8. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan penanganan pengaduan
% 100 100 100 100 100
9. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan kesehatan oleh tenaga kesehatan terlatih di Puskesmas mampu tatalaksana KTP/A dan PPT/PKT di RS
% 100 100 100 100 100
10. Cakupan layanan bimbingan rohani yang diberikan oleh petugas bimbingan rohani terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu
% 100 100 100 100 100
II - 45
No. Program/Indikator Satuan Capaian
2016 2017 2018 2019 2020 11. Cakupan penegakan hukum
dari tingkat penyidikan sampai dengan putusan engadilan atas kasus-kasus kekerasan terhadap
perempuan dan anak
% 100 100 100 100 100
12. Cakupan perempuan dan anak korban kekerasan yang mendapatkan layanan bantuan hukum
% 100 100 100 100 100
13. Cakupan layanan
pemulangan bagi perempuan dan anak korban kekerasan
% 100 100 100 100 100
14. Cakupan layanan reintegrasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan
% 100 100 100 100 100
15. Cakupan layanan rehabilitasi sosial yang diberikan oleh petugas rehabilitasi sosial terlatih bagi perempuan dan anak korban kekerasan di dalam unit pelayanan terpadu
% 100 100 100 100 100
16. Persentase jumlah tenaga
kerja dibawah umur % 0 0 0 0 0
17. Jumlah Kelompok anak termasuk forum anak yang ada di Kabupaten,
Kecamatan dan desa/kelurahan
Kelom pok
1 4 8 5 16
Sumber: Sistem Informasi Pemerintahan Daerah, 2020
*) angka prediksi
Indikator persentase perempuan di legislative tidak tercapai disebabkan karena penetapan calon legislative perempuan bukan hanya berada pada calon itu sendiri, namun juga keijakan partai politik dan partisipasi masyarakat memilih perempuan sebagai wakil rakyat.
Persoalan lain adalah kualitas anggota legislative perempuan belum terekspose sehingga kinerja anggota legislative belum dapat dinilai oleh masyarakat.
Indikator jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan tidak tercapai disebabkan karena aksesibilitas perempuan terhadap sumber informasi yang terbatas, stereotype bahwa perempuan lemah masih mengakar serta budaya paternalistik yang tidak dihilangkan, sehingga perempuan yang rentan, selalu memposisikan dirinya sebagai kaum lemah yang mudah ditindas.
3. Pangan
Pangan merupakan kebutuhan utama bagi manusia, diantara kebutuhan yang lain, pangan harus terpenuhi agar kelangsungan hidup seseorang dapat terjamin. Ketersediaan pangan di suatu wilayah dipengaruhi oleh produksi, distribusi, akses, stabilitas harga dan konsumsi. Berdasar hasil analisis FSVA (Food Security And Vulnerability Atlas) atau peta ketahanan dan kerentanan pangan yang merupakan hitungan dari komposit antara lain akses ketersediaan pangan, akses
II - 46 pangan dan pemanfaatan pangan di Kabupaten Blora tahun 2019 di dapat bahwa ada beberapa desa yang masih menjadi prioritas dalam penanganan pangan antara lain Desa Gempol dan Desa Tobo Kecamatan Jati, Desa Ngliron dan Desa Bodeh Kecamatan Randublatung.
Dilihat dari aspek ketersediaan pangan di Kabupaten Blora yang dapat dilihat dari produki pangan utama antara lain produksi padi, dan jagung di Kabupaten Blora. Produksi padi pada tahun 2020 sebanyak 517.835 ton, menurun dari tahun 2019 sebanyak 556.438 ton dikarenakan kurangnya curah hujan sehingga banyak petani yang gagal panen). Produksi jagung juga menurun 345.865 ton dari tahun 2019 sebesar 102.937 ton. Produksi kedelai meningkat dari sebesar 3.230 ton pada tahun 2019 menjadi 4.441 ton pada tahun 2020. Produksi ubi kayu meningkat dari 20.745 ton pada tahun 2019 menjadi 42.914 ton.
Produksi kedelai belum memenuhi kebutuhan pangan.
Tingkat konsumsi pangan dapat dilihat dari pencapaian indikator Skor Pola Pangan Harapan (PPH). Skor PPH Kabupaten Blora tahun 2020 meningkat sebesar 5,4% dari tahun 2019, hal ini karena konsumsi masyarakat atas sumber pangan yang cukup beragam. Pencapaian produksi pertanian dan ketahanan pangan merupakan tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yakni menghilangkan kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik serta meningkatkan pertanian berkelanjutan. Secara rinci perkembangan pembangunan bidang pangan di Kabupaten Blora dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.31
Capaian Kinerja Pembangunan Urusan pangan Tahun 2016-2020
No. Indikator Satuan Capaian
2016 2017 2018 2019 2020