• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pekerjaan Wali Peserta Didik :

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

17. Pekerjaan Wali Peserta Didik :

Tabel 1.2. Data teknis kabel koaksial RG-59

Dari data teknis diatas didapat bahwa kabel RG-59 memiliki impedance 75 ohm, velocity of propagation 66%, maximum operating frequency 1000 MHz,

capacitance 20,6 pF/ft dan maximum operating voltage 2.300 volt.Koaksial kabel RG-59 mempunyai atenuasi/pelemahan 11,48 dB/100 m (pada frekuensi 100 Mhz) atau 22,97 dB/100 m (pada frekuensi 400 Mhz) atau 37,73 dB/100 m (pada frekuensi 1000 Mhz)

b. Kabel Koaksial RG-6

Model kabel berikutnya adalah kabel koaksial RG-6. Model kabel ini dimensinya lebih besar dibandingkan kabel koaksial RG-59. Akan tetapi untuk impedansinya sama yaitu 75 ohm. Penampang kabel RG-6 seperti terlihat pada gambar 1.12di bawah.

18

Tabel 1.3. Data teknis kabel koaksial RG-6

Dari data teknis tabel 1.3 diatas didapat bahwa kabel RG-6 memiliki

impedance 75 ohm, velocity of propagation 65,9%, maximum operating

frequency 3 GHz, capacitance 67,59 pF/m dan maximum operating voltage

2.700 volt.

Koaksial kabel RG-6 mempunyai atenuasi/pelemahan 2,62 dB/100 m (pada frekuensi 10 Mhz) atau 9,51 dB/100 m (pada frekuensi 100 Mhz) atau 36,09 dB/100 m (pada frekuensi 1000 Mhz).

c. Kabel Coaxial RG-187 Miniatur Teflon 75 Ohm

Kabel koaksial RG-187 miniatur 75 Ohm telah berlapis perak, diselubingi tembaga, konduktor kawat baja dengan dielektrik teflon.Kabel koaksial isolasi teflon memberikaan keunggulan dan stabilitas suhu tinggi. RG-187 sering dipasang pada peralatam yang sensitif dengan sistem medis atau aplikasi data link hingga 3GHz. Penampang kabel teflon 75 ohm seperti terlihat pada gambar 1.13di bawah.Data teknis kabel koaksial RG-187 seperti ditunjukkan pada tabel 1.4 di bawah.

19

Tabel 1.4. Data teknis kabel koaksial RG-187

d. Kabel Heliax FSJ1-75

Kabel 1/4” (1/4 inchi) flexible foam dielectric, 75 Ohm memiliki spesifikasi

dan redaman yang berbeda dengan model lain. Kabel model ini sering

disebut dengan kabel Heliax. Gambar kabel heliax 1/4” seperti terlihat pada

gambar 1.14dibawah.

20

Tabel 1.5. Data teknis kabel heliax FSJ1-75

Dari tabel 1.5diatas terlihat bahwa impedansi kabel heliax FSJ1-75 adalah 75 ohm dengan toleransi ± 3 ohm, frekuensi kerja sampai 22 GHz, velocity sebesar 78%, kapasitansi 57 pF/m. Untuk parameter yang lain bisa dilihat pada tabel diatas.

e. Kabel Heliax ½ inchi 75 Ohm

Kabel heliax 1/2" - 75 Ohm mempunyai spesifikasi dan pelemahan kinerja lebih bagus dari kabel-kabel yang sebelumnya. Kabel ini juga sering disebut kabel Heliax LDF4-75A.Kabel Heliax LDF4-75Aseperti terlihat pada

gambar 1.15 di bawah.

Gambar 1.15. Kabel Heliax LDF4-75A

D. Aktifitas Pembelajaran

a. Langkah-langkah pembelajaran :

a. Bacalah dan pahami uraian materi di atas. Catat materi yang belum anda fahami dan coba mencari jawabannya. Untuk mencari jawabannya

21 anda dapat mencarinya via internet, bertanya ke teman sejawat, atau bertanya ke instruktur jika memungkinkan.

b. Carilah 2 macam tipe kabel frekuensi radio (RF) selain yang sudah ada dalam uraian materi di atas. Ringkaslah hasilnya dan buatlah laporan singkatnya. Simpan hasilnya sebagai pengaya bagi anda tentang macam dan tipe kabel frekuensi radio (RF) dan kumpulkan hasilnya ke instruktor atau pengampu diklat.

c. Kabel hasil pencarian pada langkah b di atas, buatlah ringkasan penjelasan penggunaan kabel tersebut yang berkaitan dengan spesifikasi teknis kabel yang ada.

d. Anda diharapkan mencari referensi-referensi yang berkaitan dengan kabel frekuensi radio (RF) sebanyak-banyaknya. Anda dapat menggunakan media internet untuk mencarinya atau media lain yang ada.

E. Latihan/Tugas

1. Uraikan tentang apa yang dimaksud kabel UTP dan STP ! 2. Uraikan pemahaman anda tentang kabel koaksial !

3. Apa yang dimaksud dengan redaman pada kabel koaksial ? 4. Data teknis kabel seperti berikut

22

5. Data teknis redaman suatu kabel seperti berikut

Jika model kabel di atas panjangnya 200 meter, bekerja pada frekuensi 800 MHz, maka besar redamannya adalah ….

F. Rangkuman

Kabel mulai ditemukan saat manusia membutuhkan sebuah alat yang berguna untuk menghubungkan suatu perangkat dengan perangkat lain, dan ditemukan pada awal 1400an.Kabel tembaga contohnya adalah kabel UTP (Unshielded

Twisted Pair) dan STP (Shielded Twisted Pair). Perbedaan dari keduanya adalah

adanya pelindung dan tidak adanya pelindung pada bagian inti konduktornya.

Kabel koaksial ditemukan oleh Oliver Heaviside. Merupakan kabel yang terdiri dari dua buah konduktor, yaitu terletak di tengah yang terbuat dari tembaga keras yang dilapisi dengan isolator dan melingkar di luar isolator pertama dan tertutup oleh isolator luar.

Kabel koaksial terbagi menjadi 2 bagian yaitu kabel koaksial baseband (kabel 50 ohm) yang digunakan untuk transmisi digital dan kabel koaksial broadband (kabel 75 ohm) yang digunakan untuk transmisi analog.

23 Redaman (Atenuasi) adalah hilangnya daya atau sinyal yang dinyatakan dalam desibel, yang biasa ditulis sebagai dB/100 ft pada frekuensi tertentu. Impedansi adalah suatu istilah yang menyatakan rasio tegangan terhadap arus di kabel panjang tak terbatas. Kapasitansi atau kapasitas adalah milik sistem konduktor dan dielektrik yang memungkinkan penyimpanan listrik ketika beda potensial atau tegangan ada antara dua konduktor.

Velocity propagasi, biasa disebut kecepatan, adalah rasio kecepatan aliran arus

listrik di kabel terisolasi dengan kecepatan cahaya. Semua kabel berisolasi memiliki rasio ini dan itu dinyatakan dalam persen.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik

Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan anda tentang menerapkan penggunaan berbagai macam kabel frekuensi radio dan televisi sesuai dengan spesifikasinyamenggunakan daftar periksa di bawah ini:

No Indikator Ya Tidak Bukti

1 Menerangkan penggunaan berbagai macam kabel frekuensi radio dan televisi sesuai dengan spesifikasinya.

2. Tindak Lanjut

a. Buat rencana pengembangan dan implementasi praktikum sesuai standar di lingkungan laboratorium kerja anda.

b. Apakah anda mengimplementasikan rencana tindak lanjut ini sendiri atau berkelompok?

 Sendiri

 Berkelompok – silahkan tulis nama anggota kelompok yang lain dalam tabel di bawah.

24

c. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel/laboratorium anda yang mungkin dapat anda ubah atau tingkatkan dengan mengimplementasikan sebuah rencana tindak lanjut.

. . . . . . d. Apakah judul rencana tindak lanjut anda?

. . . . . . e. Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut? . . .

. . . f. Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria

SMART Spesifik Dapat diukur Dapat dicapai Relevan Rentang/Ketepatan Waktu

25

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 : KONEKTOR

FREKUENSI RADIO DAN TELEVISI

A. Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaranini, peserta diharapkan dapat : Menjelaskan macam-macam konektor frekuensi radio dan televisi

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Menerangkan penggunaan berbagai macam konektor frekuensi radio dan televisi sesuai dengan spesifikasinya.

C. Uraian Materi

1. Konektor Frekuensi HF dan VHF

Konektor frekuensi HF dan VHF dibuat pada awal 1930-an, saat teknologi HF/VHF cukup baru. Dahulu VHF yang dalam banyak eksperimen radio amatir, sebagian besar dengan alasan teknik mulai bereksperimen dan bekerja di daerah perbatasan VHF sekitar 1926. Segera setelah itu mulai berkembang ke radio FM dan televisi maka mulai dipakai dan dinamakan kelompok konektor VHF.

Konektor VHF masih memiliki banyak tempat dalam aplikasi di mana konektor RF yang kuat tapi ekonomis diperlukan, tetapi untuk aplikasi serius penggunaannya harus dibatasi di bawah 100 MHz. Tipe N jauh lebih unggul dalam kinerja, dan juga harus dicatat konektor jenis BNC mirip dalam kinerja dengan jenis N, tetapi memiliki kelemahan.Konektor jenis PL-259/SO-239 seperti terlihat pada gambar 2.1 di bawah.

26

Konektor frekuensi HF/VHF jenis PL-259/SO-239 adalah konektor yang paling sering digunakan dan umum ada di pasaran. Karena konektor ini tergolong murah dan mudah dalam pemasangannya, serta frekuensi kerja di band HF dan VHF. Gambar 2.1. di atas memperlihatkan konektor jenis PL-259/SO-239 untuk kabel jenis RG-8. Sedangkan untuk kabel jenis RG-58 yang penampang kabelnya lebih kecil, konektor PL-259/SO-239 seperti terlihat pada gambar 2.3. dibawah.

Gambar 2.2.Konektor PL-259 male untuk kabel RG-58

a. Konektor BNC

Gambar 2.3.Konektor BNC maledanfemale

Konektor BNC seperti terlihat pada gambar 2.3di atas,dapat bekerja pada frekuensi 2 GHz atau lebih tinggi. Nama lain : The "Bayonet Neil - Concelman" atau "Bayonet Navy Connector" atau "Baby Neil Connector", tergantung pada sumber informasi. Karl W. Concelman diyakini telah menciptakan "C" konektor. BNC menggunakan konduktor yang di tempatkan di luar dan beberapa dielektrik plastik pada setiap konektor.

b.

KonektorTNC

27 Konektor TNC seperti gambar 2.4di atasdapat bekerja pada daerah 2 GHz atau lebih tinggi. Konektor TNC merupakan versi threaded dari konektor BNC. Pada konektor jenis TNC ini, untuk menyambungkan dan mengencangkan antara konektor male dan female menggunakan pengunci ulir. Sementara pada konektor tipe BNC menggunakan pengunci hanya dengan memutar dan lock pengunci di lubang.

c.

KonektorF

Konektor F seperti gambar 2.5di bawah, dapat bekerja di frekuensi 250 MHz sampai 1 GHz, Konektor "F" seri terutama digunakan dalam aplikasi kabel dan antena televisi. Biasanya ini digunakan pada karakteristik impedansi 75 ohm.

Gambar 2.5. Konektor F maledan female

2. Konektor Frekuensi UHF/SHF

Konektor-konektor berikut dapat bekerja di frekuensi UHF maupun SHF dan banyak digunakan dalam aplikasi RF saat ini.

a. Konektor N

Gambar 2.6. Konektor N male

Konektor tipe N 50 Ohm seperti gambar 2.6di atas, dirancang pada tahun 1940 untuk sistem militer yang beroperasi di bawah 5 GHz. Salah satu sumber mengidentifikasi asal-usul nama sebagai berarti "Angkatan Laut". Beberapa sumber lain atribut ke Mr Paul Neil , seorang insinyur RF di Bell

28

Labs. Tipe N menggunakan gasket internal untuk penutup dan ada celah udara antara pusat dan konduktor luar.

b. Konektor 7/16 DIN

Gambar 2.7. Konektor 7/16 DIN maledanfemale

Konektor 7/16 DIN seperti gambar 2.7di atasmerupakan konektor yang relatif baru, lebih populer sebagai interkoneksi yang disebut aplikasi seluler "wireless" dan lainnya, terutama pada menara. Keuntungan utama adalah lebih baik dari konektor tipe N. Mampu bekerja sampai frekuensi 7,5 Ghz, menggunakan gasket karet dan perak atau piringan emas.

c. Konektor SMA

Gambar 2.8. Konektor SMAmale dan female

Konektor SMA seperti gambar 2.8 di atas bekerja pada frekuensi 12 GHz atau lebih. SMA (miniatur A) konektor dirancang oleh Bendix Scintilla

Corporation dan merupakan salah satu yang paling umum digunakan untuk

konektor RF/microwave saat ini. Hal ini dimaksudkan untuk digunakan pada kabel semi-rigid.

Dalam pemasangannya diperlukan ketelitian dan kejelian, jangan sampai kawat inti bengkok ataupun hilang. Hal ini penting agar keamanan perangkat

29 komunikasi yang dipasangi konektor jenis ini aman.Konektor SMA saat ini sudah banyak dipasaran dan harganyapun murah. Tetapi ada kekurangannya yaitu tingkat kepresisian akan mempengaruhi daya tahan dan kinerjanya, dan dapat menyebabkan keausan meningkat ketika dikawinkan dengan konektor lainnya.

Sebagian besar konektor SMA memiliki koefisien refleksi tinggi dibandingkan konektor lain yang tersedia untuk digunakan sampai frekuensi 24 GHz karena kesulitan dielektriknya. Beberapa produsen menilai versi khusus berkualitas tinggi dari konektor SMA yang memenuhi standar konektor SMA setinggi 26,5 GHz.

d. TV Aerial Connector

Gambar 2.9. Konektor aerial TVmale dan female

Gambar 2.9diatas menunjukkan konektor aerial untuk antena televisi. Konektor ini tidak asing bagi kita dan paling banyak digunakan dalam aplikasi antena televisi rumahan. Bentuknya yang sederhana dan mudah dalam pemasangannya membuat konektor ini terpilih untuk aplikasi disambungan/terminal antena televisi. Dengan demikian diharapkan orang awam tentang konektor sekalipun dapat memasangnya.

D. Aktifitas Pembelajaran

1. Langkah-langkah pembelajaran :

a. Bacalah dan pahami uraian materi di atas. Catat materi yang belum anda fahami dan coba mencari jawabannya. Untuk mencari jawabannya anda dapat mencarinya via internet, bertanya ke teman sejawat, atau bertanya ke instruktur jika memungkinkan.

b. Carilah 3 macam tipe konektor frekuensi radio (RF) yang ada di sekitar anda berada. Jelaskan dengan singkat nama, tipe, dan kegunaan dari

30

konektor tersebut. Simpan hasilnya sebagai pengaya bagi anda tentang macam dan tipe konektor frekuensi radio (RF) dan kumpulkan hasilnya ke instruktor atau pengampu diklat.

c. Siapkan konektor F 2 buah dan kabel antena TV (misal kabel tipe 5C) sepanjang 2 meter. Pasang konektor F tersebut di ke dua ujung kabel. Tunjukkan hasilnya ke instruktor atau pengampu diklat.

E. Latihan/Tugas

1. Berikut adalah gambar konektor ….

2. Konektor Bayonet Navy Connector dapat bekerja sampai frekuensi ….

3. Konektor ini dapat bekerja di frekuensi 250 MHz sampai 1 GHz, banyak digunakan dalam aplikasi kabel dan antena televise. Konektor tersebut adalah ….

4. Konektor ini dirancang pada tahun 1940 untuk sistem militer yang beroperasi di bawah 5 GHz. Konektor yang dimaksud adalah ….

5. Perhatikan gambar konektor dibawah ini

Konektor di atas diaplikasikan pada perangkat ….

F. Rangkuman

Konektor frekuensi HF dan VHF dibuat pada awal 1930-an, saat teknologi HF/VHF cukup baru. Dahulu VHF yang dalam banyak eksperimen radio amatir. Konektor frekuensi HF/VHF jenis PL-259/SO-239 adalah konektor yang paling sering digunakan dan umum ada di pasaran. Karena konektor ini tergolong murah dan mudah dalam pemasangannya, serta frekuensi kerja di band HF dan VHF.

31 Konektor BNC dapat bekerja pada frekuensi 2 GHz atau lebih tinggi. Nama lain : The "Bayonet Neil - Concelman" atau "Bayonet Navy Connector" atau "Baby Neil

Connector". Konektor TNC merupakan versi threaded dari konektor BNC. Ini

membantu mengatasi kebocoran dan masalah stabilitas geometris aplikasi hingga 12 GHz.Konektor "F" seri digunakan dalam aplikasi kabel dan antena televisi.

Konektor SMA ini bekerja pada frekuensi 12 GHz atau lebih. SMA (miniatur A) konektor dirancang oleh Bendix Scintilla Corporation dan merupakan salah satu yang paling umum digunakan untuk konektor RF/microwave saat ini. Penggunaan konektor SMA saat ini dapat anda lihat pada perangkat handy transceiver (HT) yang terkini, terutama HT yang bekerja di frekuensi VHF/UHF.

G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut

1. Umpan Balik

Setelah mempelajari kegiatan pembelajaran ini, periksalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan anda tentang menerapkan penggunaan berbagai macam konektor frekuensi radio dan televisi menggunakan daftar periksa di bawah ini:

No Indikator Ya Tidak Bukti

1 Menerangkan penggunaan

berbagai macam konektor frekuensi radio dan televisi sesuai dengan spesifikasinya

2. Tindak Lanjut

a. Buat rencana pengembangan dan implementasi praktikum sesuai standar di lingkungan laboratorium kerja anda.

b. Apakah anda mengimplementasikan rencana tindak lanjut ini sendiri atau berkelompok?

 sendiri

 Berkelompok – silahkan tulis nama anggota kelompok yang lain dalam tabel di bawah.

32

No : Nama anggota kelompok lainnya (tidak termasuk diri anda)

c. Gambarkan suatu situasi atau isu di dalam bengkel/laboratorium anda yang mungkin dapat anda ubah atau tingkatkan dengan mengimplementasikan sebuah rencana tindak lanjut.

. . . . . . d. Apakah judul rencana tindak lanjut anda?

. . . . . . e. Apakah manfaat/hasil dari rencana aksi tindak lanjut anda tersebut? . . . . . . f. Uraikan bagaimana rencana tindak lanjut anda memenuhi kriteria

SMART Spesifik Dapat diukur Dapat dicapai Relevan Rentang/Ketepatan Waktu

33

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3: TIPE ANTENA

A. Tujuan

Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini, peserta diharapkan dapat : Menjelaskanberbagai macam tipe antena sesuai dengan spesifikasinya.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

Menerangkan penggunaan berbagai macam tipe antena sesuai dengan spesifikasinya.

C. Uraian Materi

Salah satu bagian penting dari suatu pemancar radio adalah antena.Antena merupakan sebatang logam yang berfungsi menerima getaran listrik dari

transmitter dan memancarkannya sebagai gelombang radio. Antena tersebut

berfungsi pula sebaliknya yaitu menampung gelombang radio dan meneruskan gelombang listrik ke penerima.

Seringkali agar pancarannya cukup besar diterima oleh stasiun lawan bicara, usaha yang dilakukan adalah menaikkan power dengan tanpa memperhatikan faktor-faktor lain tersebut di atas. Memang usaha meperbesar power secara teknis merupakan usaha yang paling mudah, akan tetapi hal ini adalah usaha yang kurang efektif dan cenderung merupakan suatu pemborosan.Selain propagasi dan posisi pemancar ada faktor bandwidth pancaran yang dapat dikatakan bahwa makin sempit bandwidth makin kuatlah pancaran.

1. Tipe Antena Dipole Setengah Gelombang

Sebatang logam yang panjangnya ¼ Lambda (λ) akan beresonansi dengan baik bila ada gelombang radio yang menyentuh permukaannya. Jadi bila pada ujung coax bagian iner disambung dengan logam sepanjang ¼ λ dan outer-nya di

ground, ia akan menjadi antena. Antena semacam ini hanya mempunyai satu

pole dandisebut monopole (mono artinya satu). Apabila outer dari coax tidak di-

ground dan disambung dengan seutas logam sepanjang ¼ λ lagi, menjadi antena

34

terdiri hanya satu kawat saja disebut single wire dipole, bisa juga dengan dua kawat yang ujung-ujungnya dihubungkan dinamakan two wire folded dipole, bisa juga terdiri atas 3 kawat yang ujung-ujungnya disambung dinamakanthree wire folded dipole.

Gambar 3.1. Antena Monopole dan Dipole

Kadang antena belum tentu sesuai impendansinya. Oleh karenanya harus disesuaikan impendasinya. Antena Monopole dan Dipole seperti terlihat pada gambar 3.1 di atas.

Cara me-matching-kan antena yang baik ialah dengan menggunakan alat khusus yaitu Dip Meter dan impendance meter atau dapat juga menggunakan SWR

analyser. Apabila alat tersebut tidak tersedia, matching dilakukan dengan

menggunakan transceiver dan SWR meter. Pemasangan SWR meter saat matching antena seperti terlihat pada gambar 3.2 dibawah ini.

Gambar 3.2. Cara pemasangan SWR meter saat matching antena

Penempatan antena disarankan agak jauh dari kawat telepon dan kawat listrik untuk menghindari timbulnya telephone interference dan televisi interference. Bentangan antena yang sejajar dengan kawat telepon atau kawat listrik dengan jarak kurang dari lima meter akan dapat menimbulkan gangguanpada pesawat

35 telepon, televisi dan perangkat audio lainnya. Makin rendah letak antena, sayap- sayapnya cenderung makin pendek.

Rumus panjang gelombang seperti berikut:

Rumus panjang gelombang dalam meter adalah :

 = dalam meter f = Mhz

Rumus-rumus di atas adalah panjang gelombang di udara. Cepat rambat gelombang listrik pada logam itu lebih kecil, ialah 0.95 kali gelombang radio di udara. Jadi untuk menghitung Lambda antena, rumus tersebut menjadi :

Pola radiasi dari antena dipole di ruang bebas terlihat seperti angka 8, hal ini dikarenakan ada pengaruh dari grounding tanah. Pemasangan antena Dipole dengan ketinggian 1  (1 panjang gelobang) atau lebih dari permukaan tanah dan kemiringan pemasangan dari garis horizontal akan mengubah pola radiasi antena Dipole tersebut, seperti terlihat pada gambar 3.3dibawah.

36

Gambar 3.4memperlihatkan respon antena dipole di ketinggian tertentu saat sudah dipasang di tempatnya.

Gambar 3.4. Respon antena Dipole di ketinggian

Gambar 3.5 di bawah memperlihatkan gambaran pola radiasi antena Dipole jika dipasang di suatu ketinggian dari atas tanah.

Pola respone sudut elevasi antena Dipole jika ditempatkan diketinggian½ panjang gelombang dari atas tanah.

Pola respone sudut elevasi antena Dipole jika ditempatkan diketinggian 1 panjang gelombang dari atas tanah.

Gambar disamping menun-jukkan pola azimuth dari antena Dipole untuk dua ketinggian di sudut elevasi untuk tinggi ½λ di atas tanah pada sudut elevasi 30°

Gambar 3.5. Pola sudut elevasi di ketinggian antena tertentu

Cara mengumpan daya ke antena dipole seperti terlihat pada gambar 3.6dibawah.

37

Gambar 3.6. Mengumpan daya pada antena Dipole

Antena Dipole tidak harus dipasang horizontal dan lurus. Jika lahan tidak memenuhi syarat untuk memasang antena Dipole secara horizontal, maka dapat dipasang sesuai dengan lahan atau tempat yang tersedia. Salah satunya dipasang menyerupai huruf V terbalik (Inverted V Dipole).

Inverted V dipole cukup memerlukan 1 tiang penyangga yang diletakkan di

tengah. Sementara kedua sayap bentangan antenanya ditarik ke bawah arah kanan kiri dari tiang, kemudian dikaitkan dengan sesuatu, yang mempunya ketinggian tertentu dari atas tanah seperti terlihat pada gambar 3.7 di bawah.

Gambar 3.7. Inverted V Dipole

2. Tipe Antena Vertikal

Salah satu antena paling terkenal adalah vertikal, yaitu terdiri dari sebuah radiator vertikal dengan ditambahkan radial ground dibawahnya, terbuat dari kawat konduktor maupun tubing aluminium.

Sebuah antena dengan radiator vertikal single memiliki pola radiasi sama dan tidak ada yang null kesegala arah (omnidirectional), berbeda dengan kebanyakan antena horisontal.

38

Selain hal tersebut diatas, dibandingkan dengan antena horisontal, antena vertikal memiliki masalah berupa ground return loss, ada 2 (dua) macam, yaitu:

near field dan far-field ground lossess. Secara sederhana ground return loss bisa

dijelaskan sebagai berikut, yaitu arus yang hilang pada ground sistem antena vertikal, lebih jelasnya dapat dilihat seperti gambar 3.8dibawah.

Gambar 3.8. Ground Loss

Efek dari ground losses ini adalah berubahnya pola radiasi terutama pada sudut kecil (low elevation angle – biasanya untuk keperluan DX/komunikasi jarak jauh) dan yang paling merugikan adalah berkurangnya gain antenna dibandingkan dengan kondisi idealnya. Sebagai gambaran, berdasarkan ilustrasi pada gambar 3.9dibawah, dibandingkan dengan kondisi idealnya, pada sudut elevasi 10 derajat terjadi pengurangan gain sebesar hampir 6dB, sementara pada sudut elevasi 60 derajat pengurangan sekitar 2dB.

Gambar 3.9. Radiation pattern

Low angle radiation atau sudut radiasi/ elevasi yang kecil, yang cocok digunakan

untuk komunikasi jarak jauh atau DX. Seperti yang kita ketahui, komunikasi dengan gelombang HF (1.8 – 30 MHz) sangat dipengaruhi oleh lapisan ionosfir diatas bumi yang berfungsi layaknya sebuah cermin, dimana gelombang berjalan akibat pantulan dari sumber pemancar ke lapisan ionosfir dan kembali lagi

39 kebumi, demikian seterusnya, sampai dengan sinyal tersebut lenyap akibat redaman yang dialaminya selama perjalanan bolak-balik bumi ke angkasa,

Dokumen terkait