Pelabuhan yang mempunyai fasilitas bangunan pemecah gelombang untuk melindungi pelabuhan atau kolam pelabuhan dari pengaruh gelombang. Sebagian pelabuhan-pelabuhan di dunia adalah pelabuhan buatan dan di Indonesia contohnya adalah Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.
b. Klasifikasi menurut fungsi/jenis pelayanannya:
1. Pelabuhan dagang, hampir semua pelabuhan di Indonesia. 2. Pelabuhan militer, Ujung Surabaya.
3. Pelabuhan ikan, Perigi, Bagan Siapi Api.
4. Pelabuhan minyak, Dumai. Pangkalan Brandan. 5. Pelabuhan industri, Petrokimia Gresik.
6. Pelabuhan turis, Benoa Bali.
7. Pelabuhan untuk menghindari gangguan alam (topan, gelombang) yang biasanya terjadi di Jepang.
8. Pelabuhan umum
c. Klasifikasi menurut jenis pungutan jasa : 1. Pelabuhan yang diusahakan
2. Pelabuhan yang tidak diusahakan 3. Pelabuhan otonom
4. Pelabuhan bebas
Sedangkan fungsi pelayanan transportasi adalah menyediakan akses dan fasilitas tersebut, seperti pelabuhan dan kapal (cruise, kapal layar, boat, dsb.) agar keinginan tersebut dapat terlaksana menjadi suatu aktivitas. Bentuk aktivitas tersebut dapat tercermin pada maksud perjalanan dan pola perjalanan. Oleh karena itulah dalam analisis transportasi informasi mengenai maksud perjalanan dan pola perjalanan menjadi sangat penting.
18
Model umum penawaran (supply) ditujukan untuk mencari / mendapatkan total kapasitas angkut atau kapasitas terpasang yang harus disediakan. Pemodelan penawaran merupakan fungsi dari jumlah armada, kapasitas angkut dan jarak yang ditempuh [Stopford Martin (1988) dalam (Pupella 2007)]
S = f ( Jumlah Kapal x Kapasitas Angkut x Jarak Pelayaran)
S = f ( Q ) ... Dimana: Q = E.fo + E.fr + Ef = Nk x P P = LF x Cp x Rtrip T = Tsea + Tport Dimana:
S = Total penawaran terhadap barang (ton)
Q = Total kapasitas angkut yang dibutuhkan (DWT) Efo= Kapasitas armada kapal yang telah ada (DWT) Efr = Kapasitas armada kapal yang direncanakan (DWT) Ʃs = Permintaan yang tidak dilayani (ton)
Nk = Jumlah kapal (unit)
P = Kapasitas angkut per tahun (ton) Cp = Kapasitas angkut per unit (ton) LF = Faktor muatan (Load factor) Rtrip = Total trip kapal per tahun
Z = Waktu kapal tidak beroperasi (jam)
T = Waktu yang dibutuhkan kapal per trip (jam)
Tsea = Waktu yang dibutuhkan kapal dalam pelayaran (jam) Vs = Kecepatan kapal (knot)
19
2.3 Pelabuhan Marina
Pelabuhan marina adalah pelabuhan khusus yang disediakan untuk kapal pesiar yang dilengkapi dengan prasarana yang dibutuhkan. Infrastruktur yang potensial adalah hal yang paling penting untuk menarik wisatawan. Pelajaran yang dapat diambil dari tulisan-tulisan yang telah ada adalah ketika menguji potensi dari daerah marine resort di negara maju. Memahami pasar yang relatif berkembang dan dapat terus berkembang disebutkan kuncinya adalah potensi dari daerah marina. Langkah pertama dalam menentukan kelayakan dari suatu site bagi pengembangan marina adalah dengan menentukan kelayakan daerah tersebut secara keseluruhan. Masing-masing harus menentukan jenis dan aktivitas pelayaran dan pariwisata yang paling mendukung bagi lingkungan dan daerah di sekitar area tersebut untuk meningkatkan pariwisata bagi wisatawan asing atau kegiatan berwisata bagi wisatawan domestik dalam rangka peningkatan minat wisatawan domestik.
Harus selalu diingat bahwa kapal-kapal layar akan selalu mencari pelabuhan atau dermaga dengan rute perjalanan yang mudah selama 5-7 jam. Jika ada kemungkinan lain untuk berlayar dengan waktu yang lebih lama maka harus ada alasan yang menarik bagi wisatawan untuk menikmati fasilitas yang ada. Pada pengembangan area yang setingkat lebih jauh, pada port of call yang terisolasi akan sangat dibutuhkan penyediaan bahan bakar dan bengkel perbaikan selain dari penyediaan berbagai hal yang menyenangkan.
Nusa Lembongan disamping selalu dikunjungi oleh kapal-kapal kecil dengan bobot lebih kecil dari 7 GT juga dikunjungi oleh kapal-kapal wisata dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Namun, sampai sekarang belum tersedianya fasilitas pelabuhan yang mendukung peningkatan ini. Untuk itu perlu adanya lokasi/resort yang dapat melayani peningkatan jumlah kapal, penumpang, dan barang. Salah satu fasilitas yang populer saat ini adalah marine resort.
Sementara fasilitas wisata pantai masih menjadi hal yang baru bagi negara-negara berkembang, tetapi hal tersebut juga telah menjadikan hal yang layak untuk dikembangkan bagi sektor industri pelabuhan. Kedua kasus tersebut dapat saling melengkapi. Seperti pembangunan fasilitas yang belum ada, tetapi banyak diminati seperti perlengkapan fasilitas wisata atau fasilitas perdagangan
20
pada marine resort yang saling melengkapi dan saling menguntungkan. Penyediaan kombinasi perlengkapan fasilitas tersebut di atas dapat membangkitkan sektor ekonomi dan juga untuk penyebaran/pemerataan infrastruktur dan biaya perawatan.
Pendekatan perencanaan ini membutuhkan tidak hanya dari segi keindahan, tetapi yang paling penting adalah dari segi ekonomi. Kesalahan teknis dalam penentuan tempat untuk aktivitas di air dapat dengan mudah berakhir dengan kegagalan akibat anggaran biaya pembangunan, menyebabkan biaya yang lebih besar, keterlambatan dan kompromi yang menghasilkan ketidaksesuaian dengan keinginan. Dari titik pandang pengembang, hanya satu keinginan adalah memperkecil biaya. Oleh karena itu, sering sekali pendekatan ini tidak hanya kurang bijaksana tetapi berakhir sebagai salah satu keputusan yang paling mahal.
Oleh karena itu konsep perencanaan dengan melakukan penyelidikan awal yang profesional adalah sangat penting. Bagaimana merancang fasilitas rekreasi marina yang dapat mendorong peningkatan wisatawan dan akses, membuat sebagian besar daya tarik hari ini semakin meningkat dengan waterfront dan menawarkan manfaat dalam peningkatan imbalan keuangan
2.3.1 Layout Umum Pelabuhan Marina
Perancangan suatu marina dan komposisinya, tentu saja, sangat tergantung pada tempat dan kondisi daerahnya. Satu keharusan mendapatkan pemahaman
menyeluruh tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan
perancangan suatu marina dan komposisinya, tentu saja, sangat tergantung pada tempat dan kondisi daerahnya. Satu keharusan mendapatkan pemahaman menyeluruh tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan fasilitas, termasuk diantaranya, bagaimanapun tidak terbatas pada, golongan wisatawan atau wisatawan yang saat ini sering pergi ke daerah tersebut atau yang dapat terpikat dengan adanya peningkatan fasilitas bangunan, fasilitas dan layanan yang tersedia, material konstruksi, infrastruktur di darat dan sumber daya operasi; jarak terhadap fasilitas marina lainnya; dan cuaca, geofisika dan kondisi lingkungan.
Infrastruktur existing atau infrastruktur potensial adalah luar biasa pentingnya. Untuk daya tarik wisatawan mancanegara, fasilitas bandara, serta
21
daya tarik maskapai penerbangan, umumnya memegang peranan penting dalam mensukseskan dari suatu tempat. Untuk daya tarik wisatawan mancanegara dan domestik, kemampuan untuk mencapai fasilitas itu adalah paling penting. Jauh-dekatnya jarak dari pusat populasi, walau penting, biasanya waktu tidak sepenting waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke tujuan marine resort baik dari bandara atau pusat populasi penduduk lokal.
Fungsi total fasilitas seharusnya tidak hanya untuk Port of Call dan pangkalan untuk explorasi lebih lanjut, tetapi sebagai tempat untuk non-boater untuk juga memiliki atau menikmati pantai. Menentukan dan mengintegrasikan desain yang tepat untuk mengakomodasi tujuan-tujuan yang berbeda akan sangat tergantung pada lokasi dan jenis wisatawan. Fasilitas yang berorientasi wisata di Bali, seperti lokasi pelabuhan Sanur, desainya akan mengarah pada peningkatan infrastruktur dan fungsi pelabuhan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Bali. Pengembangan dan fungsi sangat berbeda dengan fasilitas di Carribbean, demikian juga dengan operasional di Hawai atau di Australia.
Sejumlah pelajaran yang dapat dipelajari dari daerah ini apabila
mempertimbangkan potensi marine resort di negara-negara berkembang.
Pemahaman pasar yang relatif potensial memahami pasar relatif potensial pada marina yang sudah adalah kunci keberhasilan marina. Langkah pertama adalah kesepakatan dalam menentukan pantas tidaknya daerah tersebut untuk pengembangan marina dan sifat sumber daya perairan yang tersedia. Kita harus menentukan apa saja kegiatan kapal/boat dan wisatawan dapat melakukan kegiatan di dalam daerah Bali dan di daerah pelabuhan tersebut. apakah untuk melayani boat jarak dekat atau membutuhkan tempat untuk melakukan wisata dengan jarak yang cukup jauh. Apakah tujuannya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara atau meningkatkan kesempatan untuk rekreasi ataukah untuk menanggapi peningkatan kemakmuran penduduk pribumi.
Apa yang diharapkan pelaut dari marina, adalah serangkaian layanan yang diberikan dalam lingkungan yang menyenangkan:
Tempat tinggal yang memadai dari laut lepas
Layanan Docking: pemeliharaan kapal berkala pada harga dan waktu perbaikan yang wajar.
22
Tambatan dan pengamatan dari kapal
Penyimpanan kapal kecil untuk sementara di darat pada halaman terbuka atau gudang
Parkir mobil yachtsmen ini Perbaikan insedentil Cepat Pemasaran kapal baru dan bekas
Jasa administrasi ataupun swasta (kantor pelabuhan, prakiraan cuaca, pabean, klub, kebutuhan medis, dll).
Pilihan lokasi untuk marina, jika tidak didikte oleh fasilitas rekreasi yang harus diintegrasikan dalam proyek baru, harus berdasarkan hasil dari pertimbangan maritim dan nautical, dengan maksud untuk menyederhanakan sifat alam sehubungan dengan pekerjaan yang harus dilakukan serta untuk menurunkan biaya. Hal ini juga harus bergantung pada pertimbangan lingkungan pelabuhan ke dalam semua perkembangan lain yang sedang berlangsung atau sedang direncanakan di darat, harus dipastikan.
Untuk tujuan perencanaan induk, faktor yang paling penting biasanya menyangkut kondisi gelombang. Disepanjang pantai terbuka, marina umumnya harus dilindungi oleh pemecah gelombang. Di daerah yang lebih terlindungi, sistem lain dapat dipertimbangkan, misalnya pemecah gelombang mengapung.
Pelabuhan sering terdiri dari sebuah pelabuhan luar di mana gelombang masih agak kasar, dan pelabuhan baik inner terlindung di mana tempat berlabuh yang sebenarnya berada. Ketika kisaran pasang surut kecil, pelabuhan dapat dirancang untuk memberikan kedalaman yang cukup untuk menjaga perahu tetap mengapung. Ketika rentang pasang surut besar, sering diterima oleh umum bahwa tempat berlabuh menjadi kering, jika tidak kunci pelayaran yang relatif mahal harus disediakan.
Kondisi akses ke pelabuhan harus dipertimbangkan dengan cermat. Layout, tentu saja, harus memastikan perlindungan yang memadai dari saluran masuk (entrance channel) terhadap aksi gelombang dan terhadap pendangkalan. Selanjutnya, layout harus sedemikian rupa sehingga perahu kecil tanpa mesin dapat masuk atau meninggalkan pelabuhan, Yang menyiratkan bahwa saluran harus cukup lebar untuk taktik, setiap kali diperlukan. Selain itu, gerakan kapal
23
harus mampu bergerak tanpa masalah yang tidak semestinya, bahkan selama jam sibuk. Terutama mengingat padatnya lalu lintas di sebagian besar pelabuhan mesin diperlukan untuk kapal-kapal. Uraian diatas menyiratkan bahwa saluran masuk harus berorientasi benar, dan harus memiliki lebar 40 m atau lebih.
2.3.2 Kapal
Kapal, adalah kendaraan pengangkut penumpang dan barang di laut (sungai dan sebagainya) seperti halnya sampan atau perahu yang lebih kecil. Kapal biasanya cukup besar untuk membawa perahu kecil seperti sekoci. Sedangkan dalam istilah Inggris, dipisahkan antara ship yang merupakan kapal yang lebih besar dan sedangkan boat yang lebih kecil. Secara kebiasaannya kapal dapat membawa perahu tetapi perahu tidak dapat membawa kapal. Ukuran sebenarnya dimana sebuah perahu disebut kapal selalu ditetapkan oleh undang-undang dan peraturan atau kebiasaan setempat. Di Indonesia kapal-kapal yang berukuran dibawah 7 GT pengurusan ijin operasinya cukup di wilayah kabupaten atau kota. Kapal-kapal yang melayani rute gugus pulau disamping tersedia kapal penyeberangan milik pemerintah dan kapal pariwisata milik swasta, sebagian besar adalah perahu layar dilengkapi mesin 20 sampai 120 PK dan Speed Boat dengan mesin 500 sampai 900.
1. Pengertian Karakteristik Kapal
Tonase kotor (gross tonnage), disingkat GT adalah perhitungan volume semua ruang yang terletak dibawah geladak kapal ditambah dengan volume ruangan tertutup yang terletak di atas geladak ditambah dengan isi ruangan beserta semua ruangan tertutup yang terletak di atas geladak paling atas (superstructure).
Daya muat adalah berat muatan yang biasa dimuat dalam kapal sampai batas garis muatan atau kapal tenggelam sampai pada batas garis muatan
Brotto Register Ton (BRT) = gross tonnage yaitu jumlah isi kapal seluruhnya.
Netto Register Ton (NRT) merupakan berat brutto dikurangi isi muatan seperti bahan bakar, ruang mesin, tangki air. Jadi NRT adalah ruang yang dapat dijual/disewakan.
24
Dead Weight Tonnage (DWT) adalah selisi antara loaded displacement dengan light displacement merupakan kapasitas muat yang biasa dinyatakan dalam long tons; 1 long tons = 1,016 ton. Sedangkan displacement adalah berat air yang dipindahkan oleh kapal atau dapat juga disebut volume dari kapal yang terletak dibawah air dikalikan BD nya.
Tonase kotor dinyatakan dalam ton yaitu suatu unit volume sebesar 100 kaki kubik yang setara dengan 2,83 kubik meter. Perhitungan tonase kotor dijelaskan di dalam Regulation 3 dari Annex 1 dalam (The International Convention on Tonnage Measurement of Ships, 1969). Tergantung dari dua variabel:
1. V, adalah total volume dalam meter kubik (m³), dan 2. K, adalah faktor pengali berdasarkan volumekapal.
2. Klasifikasi Kapal
Berabad-abad kapal digunakan oleh manusia untuk mengarungi sungai atau lautan yang diawali oleh penemuan perahu. Biasanya manusia pada masa lampau menggunakan kano, rakit ataupun perahu, semakin besar kebutuhan akan daya muat maka dibuatlah perahu atau rakit yang berukuran lebih besar yang dinamakan kapal. Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan kapal pada masa lampau menggunakan kayu, bambu ataupun batang-batang papirus seperti yang digunakan bangsa mesir kuno kemudian digunakan bahan bahan logam seperti besi/baja karena kebutuhan manusia akan kapal yang kuat. Untuk penggeraknya manusia pada awalnya menggunakan dayung kemudian angin dengan bantuan layar, mesin uap setelah muncul revolusi Industri dan mesin diesel serta Nuklir. Beberapa penelitian memunculkan kapal bermesin yang berjalan mengambang di atas air seperti Hovercraft dan Eakroplane. Serta kapal yang digunakan di dasar lautan yakni kapal selam.
3. Kapal Roll-On/Roll-Off
Prinsip pada kapal roll-on/roll-off (roro) adalah bahwa barang-barang yang diangkut ditempatkan diatas trailer atau di rolling stock lainnya, dan trailer rolling stock berikut barang diatasnya (biasanya barang dalam container) ditarik
25
oleh sebuah traktor ke dalam kapal dan sebaliknya melalui sebuah trap pada bagian belakang kapal.
Keuntungan dari angkutan ini adalah bahwa waktu muat/bongkar dapat dipersingkat. Kapal roro dioperasikan untuk ferry service pada trayek-trayek jarak pendek dengan waktu berlayar 24 jam.
Walaupun presentasi daya muat dalam palka sangat rendah, kapal ini memberikan hasil yang terbaik untuk mengangkut barang dari produsen sampai ke konsumen tanpa mengalami hambatan dalam prosedur bongkar/muat dipelabuhan.
4. Kapal Konvensional
Di negara-negara maju kapal-kapal konvensional digunakan untuk pengangkutan barang-barang khusus. Lambat laun tugas dari general cargo liner diambil alih kapal-kapal untuk muatan-muatan khusus (special purpose cargo ships) berkembang sangat cepat.
Mulai tahun 2002 kewenangan pelaksanaan pengukuran dan penerbitan Surat atau sertifikat Kapal yang Gross Tonase (GT) nya kurang dari 7, sebagaimana yang disebutkan dalam surat (MAPEL. Ditjen Hubla No. 196/54/ph bl tanggal 17-04-2002), mengenai kapal dengan ukuran isi kotor kurang dari GT.7 jenis dan bentuk sertifikat kapal dinamakan Pas Kecil diterbitkan oleh Dinas Perhubungan Pemerintah Daerah setempat.
Pendataan kapal pada tahun 2006, terdapat jumlah kapal yang gross tonase (GT) kurang dari 7 sebanyak 410 buah dengan rincian data-data sebagai berikut: (Dishub Kota Denpasar 2006)
a. Di Sanur sebanyak 39 buah b. Di Benoa sebanyak 371 buah
Keseluruhan Jumlah: 410 buah
Kapal atau perahu dikatakan tertambat apabila telah terikat ke obyek tetap seperti dermaga atau obyek terapung seperti dermaga apung. Untuk menambatkan kapal ke dermaga digunakan tali-temali yang dapat menahan kapal dari arus, angin ataupun gelombang yang terjadi perairan. Semakin besar kapal yang ditambatkan diperlukan tali tambat yang lebih banyak, kapal tangker membutuhkan sampai 12 tali tambat, kapal layar membutuhkan 4 sampai 6 tali
26
tambat. Untuk menambatkan kapal ke dermaga awak kapal harus berkoordinasi dengan buruh pelabuhan (kepil) dalam menambatkan tali kapal ke dermaga.
Kapal untuk penyeberangan gugus pulau umumnya berukuran kecil, sehingga tidak membutuhkan bolder yang besar pada saat merapat di dermaga tetapi perlu ditambatkan, agar tidak terbawa oleh arus. Untuk menambatkan kapal di Dermaga, digunakan simpul pada bolder, simpul ini tidak gampang terbuka tetapi mudah untuk dibuka kembali.
Pada Gambar 2.2 ditunjukkan cara melakukan penambatan (mooring) kapal kecil.
Gambar 2.2 Mooring Untuk Kapal Kecil Di Dermaga